Minggu, 04 Januari 2015

Secret Part 2

Cast: Ashilla Zee, Gabriel Stev, Ify Alyssa, Alvin Jonathan, Rio Stevadit

***
Shilla menatap secarik kertas di hadapannya. Di kertas tersebut tertera sebuah alamat . Shilla mendekap kertas itu, Menimang penuh kepastian. Mencari jawaban yang harusnya tak perlu ia ragukan kembali

'Ayah kamu masih hidup Shill'

Kembali kalimat itu menggema di telinganya. Apa yang sebenarnya terjadi? Setelah ia kehilangan sosok seorang ayah. Berjuang berdua bersama ibunya. Mencoba tegar walau dalam hati air matanya tak mampu lagi tertampung.

'Kamu tidak akan pernah bisa menyalahkan hidup nak. Gak selamanya hidup itu mulus. Terkadang kamu harus melangkah di atas kerikil-kerikil. Walau sakit percayalah nak kamu akan mampu melewatinya'

Setetes air mata menetes dari kedua mata coklat beningnya. Air mata yang entah sejak kapan ia pendam. Sesak itu kembali. Rasa yang selalu ingin ia coba lupakan. Kenapa takdir harus memeberikan ia alasan merasakan kembali sesak juga sakit itu.

" Bu apa mungkin ayah merupakan kerikil yang harus shilla lewati. Kenapa belum cukup dengan shilla kehilangan ibu kenapa harus seseorang yang aku anggap sudah tidak ada harus hadir, kenapa bu, hiks"

Shilla menghempaskan tubuhnya ke sofa buntut milik bude Naimah. Ia tutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menyembunyikan isaknya. Shilla kembali mendongakkan kepalanya ssat ia merasa ada yang menduduki tempat di sebelahnya

"Shill" Shilla terdiam, ia tak menyahut, namun matanya menatap wajah bude Naimah dalam. Entah dirinya serasa tak sanggup mendengar kalimat dari bibir budenya, takut semakin menambah kenyataan yang tak akan sanggup ia terima lagi.

"Shilla, bude minta maaf. Bude tau kamu kecewa. Bude hanya.."

"Shilla.. Shilla ngerti bude.. Shilla hanya gak percaya bahwa semua akan sesulit ini"

Bude Naimah semakin mendekatkan dirinya ke sisi Shilla. Ia tarik tubuh shilla ke dekapannya.

"Maafkan bude Shill" Shilla memejamkan matanya membiarkan air matanya semakin deras membasahi pipi putihnya

***

Rio memandang resah handphonenya. Sedari tadi ia terus mengharapkan sebuah panggilan dari sahabatnya. Oh shit, Hingga saat ini belum ada ada tertera nama Ify di handphonenya. Sudah selepas dua jam panggilan terakhir yang Ify lakukan terhadapnay mengatakan bahwa gadis itu tidak bisa memenuhi jadwal kunjungannya ke panti asuhan bersamanaya sesuai jadwal

Drrtt.. drrttt..drrtt

Rio tersentak saat sebuah getaran halus menyelusup membuyarkan lamunannya. Bibirnya tertarik melihat sebuah nama yang ia tunggu sedari tadi

My Guardian

"Hufft" Desahnya sebelum ia mengangkat handphonenya

"Halo Fy"

'Halo Yo. Aduh sorry nih yo. Kayaknya kita gak jadi deh" Sontak mata Rio melebar. Apa? Gak jadi?

"Eh..eh tunggu Fy maksud lo apaan gak jadi. Lo gak lagi bercanda kan?" Tanya Rio panik.

Terdengar suara helaan nafas dari sebrang sana.

'Gue gak bercanda kok. Lagian ada sesuatu yang gak bisa ditinggal. Sekaliiii aja yo. Gak apa kan lagian gue udah bilang ke bu Ratih kok'

"Terserah lo" Ketus Rio

Tuutt..tuuut..tuutttt

Rio langsung memutus panggilan. Kebiasaan Ify yang takpernah bisa ia terima, selalu menjadikan dirinya nomer dua

"Sial.."

***

Seorang pemuda terlihat begitu nikmat memandang hamparan berbagai macam bunga dihadapannya. Disampingnya terlihat seorang gadis bertubuh mungil pun memandang objek yang sama. Gadis itu tak pernah berhenti tersenyum. Gadis itu pun tak dapat menghentikan debaran jantungnya semenjak berada bersama pemuda disampingnya. Ajaib, seketika perasaan itu muncul secara tiba-tiba di hati gadis ini. Saat telapak tangannya bersentuhan dengan telapak pemuda disampingnya ini.

Gadis itu menatap pemuda disampingnya. Masih dengan senyum yang sama.

"Gab" Pemuda yang dipanggil Gab itu menoleh. Seketika gadis itu terpana. Astaga pemuda ini.

"Iya ada apa Fy?" Ify masih tak sadar. Ia masih memandang wajah pemuda dihadapannya.

"Hei. Fy elo masih hidup kan"

Seketika Ify tersadar, Setelah itu ia nyengir kikuk di hadapan gabriel, pemuda dihadapannya in.

"Sorry Gab. Emh elo gak pulang. Gue rasa keluarga kita sudah selesai deh urusannya" Ucap Ify sambil merutuk dalam hati.

'Aihh lo bodoh banget kenapa nyuruh dia pulang sih' Batin Ify merutuk

"Emang elo mau gue pulang, yakin. Elo aja gak berhenti liatin gue dari tadi" Ify sedikit bersyukur saat ini tak ada lampu yang langsung dapat menyorot keduanya. Ia biosa menjamin bahwa pipinya kini memerah.

Gabriel terkekeh melihat reaksi Ify yang barus ia goda.

"Gue bercanda, ini gue baru di sms sama mama untuk pulang. Ayo" Ucap Gabriel sambil mengacak rambut Ify sebelum ia berdiri. Sedang Ify masih terpaku di tempat sambil memegang kedua pipinya.

"Astaga Gabriel" Ucap Ify sambil tersenyum

***

Shilla menatap alamat di carik kertas yang ia bawa.

"Bener gak ya?" Tanya Shilla ke dirinya sendiri

Ia memutar pandangannya hingga ia tak sadar ada sebuah mobil yang melaju kencang.

Tiiinn..tiinnn

*** 

Visit this page: www.obatkistatradisional.net

                        Diananissa ifc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...