Selasa, 30 Desember 2014

Secret (Part 1)

Cast: Ashilla Zee, Gabriel Stev, Ify Alyssa, Alvin Jonathan, Rio Stevadit

***

"Hikss.. hikss.. hikss Jojo mau kemana? Jangan tinggalin Illa. Illa gak mau sendiri" Rengek seorang anak perempuan kepada seorang bocah laki-laki yang berdiri di hadapannya.

"Ya Illa jangan nangis dong. Aku mau pulang sama mama papa. Mereka pasti marah kalo aku diem disini terus" Ucap bocah laki-laki itu sambil mengelus punggung si gadis kecil yang memeluk tubuhnya.

"Tapi kalo Jojo pergi.. hiks.. Illa sendiri dong. Hiks..Illa ikut Jojo aja deh" Ucap gadis kecil itu.

"Jangan. Nanti yang jagain ibu siapa? Kamu disini aja sama ibu. Jagain ibu buat aku ya lla. Illa mau kan?" Gadis kecil itu terdiam sejenak. Sambil menunduk gadis kecil itu meremas bajunya. "Ini dah buat Illa di pake ya. Jojo juga pake kok. Nanti kalo kita udah gede nanti pasti gak bakal susah. Jojo bakal inget punya Illa, Illa juga harus inget punya Jojo" Ucap bocah kecil bernama Jojo itu sambil memakaikan kalung berbandul bulan sabit ke gadis yang bernama Illa, dan memakaikan kalung berbandul bintang ke dirinya sendiri.

"Liat deh lla, diatas ada bulan sabit, bintangnya banyak lagi. Kita kayak mereka ya. Walaupun bulannya cuma setengah, tapi bintangnya banyak, jadi malamnya gak jadi gelap deh" Mendengar ucapan laki-laki kacil disampingnya ini membuat si gadis  tersenyum malu.

Lihatlah. Mereka saling melengkapi. bahkan disaat salah satu diantaranya akan pergi sekalipun, mereka tetap berusaha saling mengisi. Saling melengkapi kekosongan yang akan terjadi. Dan mereka gak akan tau apa yang terjadi setelahnya. Akankah kekosongan yang ingin mereka isi benar-benar terpenuhi seperti langit malam di atasnya, Ataukah justru mereka saling kehilangan. Dan kekosongan itu benar-benar terjadi. Semuanya hanya rahasia si takdir. Hidup mereka pun juga merupakan bagian itu. Inikah awal segalanya. Ya ini akan terjadi dan semua belum berakhir

***

 Secret Part 1

"Ify. Kamu mau kemana? Kok rapi banget sih" Langkah Ify terhenti saat mamanya bersuara bertanya padanya.

"Hehe mama. Iya ma. Anu Ify biasalah ma sama Rio. Lagian ini kan udah waktunya" Ucap Ify yang membuat mamanya merengut kecewa.

"Emh kamu bisa gak batalin dulu. Soalnya mau ada tamu temen papa kamu"

"yah kok gitu sih ma. Ify kan udah kangen. Ify juga udah janji sama Bu Ratih mau kesana. Rio juga udah nunggu tuh pasti" Ucap Ify dengan raut memelas

"Emh kamu batalin aja dulu sementara, nanti kalo acara selesai kamu boleh deh kesana. Nginep disana pun juga gak masalah. Mama ijinin deh"

"Mama serius. Gak boong kan" Seketika wajah Ify menjadi cerah mendengar kalimat mamanya barusan.

"Aah mama. I Love You" Ucap Ify sambil berlari ke lantai dua.

***

'Halo'

"Halo Yo. Emh lo gak usah jemput gue sekarang ya?"

'Loh kenapa?. Gak jadi, bukannya sudah waktunya ya?"

Ify mendengus sejenak. "Iya keluarga gue mau kedatangan tamu keluarga temen bokap gue. Ayolah Yo, biar gue bisa nginep disana" Ucap Ify memohon, sedang di sebrang sana Rio mencibir.

"Ya udahlah"

Tuutt.. tuut..tuuut

Ify merengut mendengar suara telpon diputus oleh Rio, hey, gak sopan sekali. Huh kalau bukan karena laki-laki itu sahabatnya, sudah di gorok pemuda itu, batinnya.

"Bodo ah, daripada mikirin Rio mending nelpon bu Ratih" Ucap Ify sambil kembali duduk kembali.

'Halo assalamualaikum'

"Wa'alaikum salam bu. Ini Ify"

'Loh neng Ify. Ada apa neng. Kok nelpon'

"Anu bu, Ify gak bisa kesana. Bilang anak-anak ya bu"

'Yah gak jadi ya? Padahal anak-anak udah nunggu ini loh"

"Ya maaf bu. Bilang ke mereka maaf ya bu" Ucap Ify sambil menahan tawa.

'Ya udah neng. Nanti ibu bilangin. Assalamualaikum neng"

"Wa'alaikum salam bu"

'Maafin Ify ya bu udah kerjain ibu sama anak-anak' Batin Ify sambil cekikikan

***

Shilla menunduk da depan sebuah gundukan tanah. Air matanya sama sekali belum berhenti. Sedikit demi sedikit orang-orang disana pergi meninggalkan pemakaman. Yang tersisa hanya gadis itu dan seorang wanita berumur 40-an yang menggandeng seorang anak berumur 5 tahun

"Shill" Shilla menengok ke arah wanita yang memanggil namanya tersebut

"Bude, Shilla harus gimana sekarang. Shilla harus tinggal dimana? Shilla harus apa?' Ucap Shilla sambil terisak

Wanita itu hanya menunduk sambil menatap Shilla miris. Gadis ini..

"Shill apa gak sebaiknya kamu ikuti permintaan terakhir ibumu"

Shilla menunduk. Ia tak berani menatap bude Naimah ini. Ia pun bingung.

"Shilla.."

"Ayah kamu masih hidup Shill"

***


Visit this page: www.obatkistatradisional.net
                         Diananissa ifc

Secret (Sinopsis)

Cast: Ashilla Zee, Gabriel Stev, Ify Alyssa, Alvin Jonathan, Rio Stevadit

***

Aku akan menemukannya. Jawaban atas segala rahasia yang terpendam. Rahasia yang tertutup takdir. Keindahan bahkan kehancurannya akan ku hadapi. Bahagia itu akan teraih, kesedihan itu akan terlupakan. Semua akan lebih berarti

***

Rahasia itu dia. Aku tak tahu mengapa takdir membawanya. Merubah setiap detikku lebih berarti. Aku tak tahu mengapa dia, diantara semua pilihan dia yang membawaku. Yang ku tahu dialah kebahagiaanku

***

Rahasia merubah hidup mereka. Membuat mereka saling membutuhkan. Menghancurkan dinding pembatas kebahagiaan mereka. Semua masih rahasia. Dan mereka akan temukan jawabnya.

***




Visit this page: www.obatkistatradisional.net

                      Diananissa ifc

Selasa, 04 November 2014

Love Of Memory (Short Story)


Ify memandang kagum seorang gadis dihadapannya yang berbalut gaun kebaya putih yang tersenyum manis dihadapannya. Gadis itu, Chelsea tersenyum manis di depan Ify. Ia memutar tubuhnya lalu berkata "Bagaimana ma aku cantik gak" yang hanya di balas usapan lembut keibuan dari Ify. Ify merasa kagum dengan kecantikan Chelsea yang begitu mirip dengan seorang dari masa lalunya yang begitu berarti di hidupnya. Tanpa terasa air matanya menetes jatuh ke tangan Chelsea yang sedang mengenggam tangannya

Chelsea tersentak saat tangannya dirasa dijatuhi setetes air. Ia tak menangis lalu, saat ia mendongak menghadap Ify ia tersentak saat melihat setetes air mata membasahi wajah cantik mamanya

"Ma, mama kenapa? kok mama nangis. Katanya mama bahagia?" Tanya Chelsea. Ify yang tersentak mendengar suara lembut Chelsea yang bertanya padanya langsung menghapus air matanya. Lalu Ify menghela nafas lantas tersenyum. Ia pandangi lekat-lekat wajah Chelsea yang memandang heran mamanya. Merasa belum dapat jawaban apapun dari mamanya Chelsea semakin mempererat genggamannya. "Ma. Kenapa jangan buat aku ragu ma"

"Chel mama cuma gak percaya kalau anak yang mama lahirkan dan besarkan sendiri bisa tumbuh menjadi gadis cantik yang membanggakan. Kamu tahu gak kamu itu begitu mirip dengan sahabat mama di masa lalu dia itu gadis yang cantik seperti kamu sayang"

"Siapa ma?" Tanya Chelsea penasaran. Ify tampak menerawang sejenak. Lalu menatap Chelsea setelah itu tersenyum

"Sini duduk sini" Ucap Ify sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Lalu Ify menerawang sejenak
"Dia itu adalah Ashilla. Sahabat mama yang begitu berarti untuk mama"
***
18 Tahun yang lalu...

"Apa? elo ada latihan sekarang Yel. Tapi kan elo udah janji mau temeni gue sama Ify ke rumah Tante Shanti. Ah elo PHP sama kita" Rajuk seorang gadis di hadapan seorang pemuda. Sedangkan gadis lain yang berada diantara mereka hanya memandang mereka gerah

"Sudah lah Shill kita pergi berdua aja. Wajar Iel kan lagi mau mempersiapkan pertandingan lawan SMA 65 bulan depan" Ucap Ify yang sudah bosan melihat pertengkaran Shilla Gabriel yang gak ada henti-hentinya

"Noh denger Ify aja perhatian sama gue. Lagian kan elo sahabat gue mau gak mau ya elo harus terima kesibukan gue. Sudah ah gue mau berangkat dulu, bye"

Shilla mendengus kesal menghadapi kucrut satu itu. Apa-apaan sudah janji juga

"Sahabat elo noh. Kesel gue" Ify hanya geleng-geleng kepala melihat pertengkaran konyol mereka ini

"Gue udah biasa kali Shill liat elo sama Gabriel berantem. Udah makanan sehari-hari gue tuh" Ucap Ify sambil terkikik geli

"Apaan sih elo Fy. Gak lucu tahu" Ucap Shilla sambil melipat tangannya didada

"Hahahaha" Tawa Ify meledak melihat raut wajah Shilla saat ngambek
~~~

"Apa Shill elo udah jadian sama Rio. Wah elo parah nih gak kasih tau kita iya gak Yel?" Tanya Ify ke Gabriel.

Namun yang ditanya hanya diam tanpa menoleh sedikitpun ke Ify atau Shilla. Tatapan Gabriel kosong. Shilla yang menyadari keanehan Gabriel pun meraih tangan Gabriel berniat bertanya apa yang terjadi. Namun tanpa disangka Gabriel justru malah menyentakkan kasar tangan Shilla. Shilla terkejut dengan perlakuan Gabriel terhadapnya. Bukan hanya Shilla, Ify pun sama terkejutnya

"Yel" Ucap Shilla menyebut nama Gabriel lirih

Gabriel yang mendengar ada yang salah dengan nada suara Shilla menoleh. Astaga, apa yang sudah dilakukannya? Gabriel berniat untuk meraih tangan Shilla yang terkulai lemas di samping tubuhnya. Namun sayang Shilla justru bangkit dan pergi meninggalkan Ify dan Gabriel. Gabriel hanya memandan kosong kepergian Shilla

"Elo bodoh Yel" Gabriel mengernyit mendengar kalimat yang baru keluar dari bibir Ify.
"Elo terlalu bodoh karena membiarkan diri elo sakit sendiri. Gue tahu apa yang terjadi sama perasaan elo terhadap Shilla, tapi elo lihat elo justru malah membuat Shilla benci sama diri elo sendiri. Sekarang Shilla telah memilih Rio dan elo harusnya mau menunggu. Bukan bertindak bodoh yang menyakiti hati Shilla tadi" Ucap Ify sinis. Membuat kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Ify mampu merontokkan keping demi keping hati Gabriel

"Fy. Gue harus apa?" Tanya Gabriel lirih. Ify mengalihkan pandangannya. Ia menggeleng

'Lupain Shilla dan lihat gue Yel'

***

"Jadi Om Gabriel itu cinta sama Tante Shilla dan mama justru malah mencintai Om Gabriel gitu?" Tanya Chelsea saat Ify, mamanya telah selesai menerawang masa lalunya. Ify kembali menatap Chelsea saat gadis itu bertanya padanya. Wanita itu tersenyum, lalu mengangguk.

"Dan mama bertahan?" Tanya gadis itu lagi. Kali ini Ify tak menjawab. Ia diam sejenak. Bertahan? Apa iya dia telah bertahan. dan apa sedalam itukah pertahanannya. " Ma apa yang ada di fikiran mama untuk bertahan mencintai laki-laki yang gak pernah mencintai mama"

"Chel saat kamu mencintai seseorang dengan hati kamu sedalam apapun kamu mencoba mencari alasan mengapa kamu mencintai dia yang akan kamu dapat hanya jawaban mengapa kamu rela terluka demi dia" Ujar Ify sambil menatap dalam mata Chelsea. " Dan seberapa dalam kamu mencari alasan untuk pergi tanpa seseorang yang kamu cintai. Kamu hanya akan mendapat satu alasan mengapa kamu bertahan untuk dia. Karena cinta. Dan semua hanya cinta" Chelsea tertegun.

"Apa sedalam itu cinta mama sama Om Gabriel?" Ify hanya tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala Chelsea

~~~
"Shill... Shill tunggu Shill" Ucap Gabriel sambil mengejar Shilla yang terus berlari menghindar dari pemuda itu. Shilla muak. Ia benci sama keadaan ini. Kenapa pemuda itu tetap saja bodoh

"Shill" Gabriel telah berhasil meraih tangan Shilla dan menariknya sehingga tubuh tegapnya tertabrak tubuh mungil Shilla. Gabriel langsung mendekap tubuh itu tak peduli seberapa keras gadis itu meronta minta dilepas. "Maafin gue" Ucap pemuda itu

Shilla menghentikan aksinya meronta dalam tubuh tegap Gabriel. Ia dongakkan kepalanya menatap pemuda itu. "Kenapa Yel? Kenapa selalu gue yang elo ledek. Kenapa selalu gue yang elo salahin. Kenapa selalu gue yang elo..." Omongan Shilla terhenti saat telunjuk Gabriel berada di bibirnya. Shilla menyentuh jari itu, ia genggam jari itu satu persatu hingga menyentuh telapak tangan Gabriel. "Yel apa gue boleh berharap kalau genggaman ini terbalas?"

Gabriel tertegun mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Shilla. Tangan Gabriel yang lain terangkat dan ia tumpukkan tangan itu digenggaman tangannya dan Shilla. Ia eratkan genggaman itu " Justru gue yang terus berharap tangan elo mau meraih tangan gue seperti tadi" Ucap Gabriel sambil menarik Shilla ke pelukannya


Tanpa mereka sadari sepasang mata memandang mereka penuh luka. Pemilik mata itu tahu tangannya tak akan mampu menggapai tangan pemilik pemuda yang sedang mendekap gadis lain di sana

~~~

"Jadi elo bohong bilang kalau elo udah jadian sama Rio. Jahat elo" Shilla hanya tersenyum di ledek Ify saat ia baru saja selesai menceritakan tentang dirinya bersama Gabriel

"Sekarang elo udah jadian sama Gabriel?" Tanya Ify lagi. Shilla tampak berfikir dengan meletakkan telunjuknya di dagunya.

"Gue yakin kok kalo gue memang sudah resmi sama Gabriel" Ify tahu saat ini ia hanya perlu air untuk membasahi kerongkongannya yang kering karena sedari tadi ia banyak meneguk salivanya karena kekhawatirannya terus melandanya. Oh ayolah kenapa Ify begitu munafik untuk menampakkan wajah marah ke arah Shilla.

"Long last  ya Shill" Ucap Ify sambil tersenyum. Shilla balas senyuman Ify

~~~

Saat ini Shilla dan Gabriel sedang menunggu kedatangan Ify yang katanya ingin bertemu dengan mereka. Tak ada yang namanya aksi saling ledek seperti dulu. Hanya keheningan yang terjadi

"Sorry sudah buat kalian nunggu lama" Ucap Ify yang baru datang membuyarkan lamunan mereka (Shilla-Gabriel)

"Gak masalah kok? Ada apa kok suruh kita nunggu elo"

Ify memasukkan tangannya ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah kertas formulir di hadapan Shilla dan Gabriel. Shilla dan Gabriel saling pandang sama-sama tidak mengerti maksud Ify apa

"Jadi gini lho gue diterima di University of  the Arts London jadi gue bakal ambil Fashion Desaign di sana" Ucap Ify bersemangat

"Elo serius?" Tanya Shilla. Ify mengangguk.

"Tapi kan elo udah janji mau kuliah bareng bertiga" Ucap Gabriel. Sejenak Ify ragu. Namun ini sudah menjadi keputusannya

"Kalian tahu gue itu mau jadi desainer terkenal. Dukung lah" Ucap Ify.

"Ya mau gimana lagi itu impian elo kita bisa apa?" Ujar Gabriel
~~~

Saat ini Shilla berada sedang berada di kamar Ify. Tadi Shilla mendapat kiriman e-mail dari Ify agar ia memberesi semua barang Ify agar bisa dikirim ke London. Namun karena keteledorannya ia tak sengaja menjatuhkan sebuah album foto milik Ify. Album itu jatuh dengan posisi terbuka dan sebuah foto ukuran kecil keluar muncul dari album itu. Shilla ambil foto itu betapa terkejutnya ia karena foto itu adalah sebuah foto yang diambil beberapa bulan lalu.

Shilla masih ingat foto itu ada dirinya bersama Ify yang mengapit Gabriel di tengah. Namun kini foto itu terpotong menyisakan Ify dan Gabriel saja. Lalu dimana fotonya. Tak mau ambil pusing dengan foto itu, Shilla  membalikkan foto itu lagi. Ada tulisannya. Dan seketika air matanya menetes karena di foto itu tertera tulisan...

Aku cuma ingin merasakan sekali berdua tanpa Shilla apa boleh??Shilla menangis karena harus mengerti tulisan itu. Dia bukanlah gadis bodoh yang tak mampu mengartikan sebaris kalimat itu. Sakit, sesak apa begini rasanya? Sejak kapan Fy, sejak kapan? Batinnya bertanya. Saat ini yang Shilla rasakan ada aliran kental dengan bau anyir keluar dari hidungnya, kepalanya terasa berat dan

Bruukk... Semua gelap

~~~

Gabriel terus mengenggam tangan Shilla erat ia khawatir sejak pertama kali ia mendapat telpon dari Tante Vina mama Ify yang sedang panik menemukan tubuh Shilla terkulai di bawah ranjang Ify. Ada apa?

"Fy.. Ify"
Gabriel tersentak saat ia mendengar Shilla yang memanggil nama Ify. Ia eratkan lagi genggaman tangan Shilla. Sempurna, mata Shilla terbuka sempurna

"Shill.."

"Yel aku di mana. Aw kenapa kepala aku berat sih"

"Kamu tenang ada aku disini'

Hueekk.. hueek
Shilla langsung memiringkan kepalanya. Ia muntahkan semua yang ada dalam tubuhnya.
Darah? Shilla memuntahkan darah dan saat itu gelap sudah
~~~

Shilla mengerjapkan matanya. Berat. Ada apa ini

"Shilla" Shilla menolehkan kepalanya menghadap Gabriel.

"Yel aku kenapa?" Tanya Shilla sambil menahan sakit


~~~

'Nona Shilla mengalami kanker lambung. Dan Nona Shilla sudah memasuki stadium kritis sehingga kami tidak bisa berbuat apapun. Jadi kita hanya menunggu waktunya saja'Shilla hanya memandang Gabriel kosong di hadapnnya. Haruskah sekarang? Saat ia baru merasakan kebersamaannya bersama Gabriel. Ia tahu apa yang terjadi pada dirinya selama ini bukanlah hal yang biasa, namun ia cuma ingin menghibur dirinya atas ketakutan yang ia alami

Aku cuma ingin merasakan sekali berdua tanpa Shilla apa boleh??

Kembali Shilla harus diingatkan dengan tulisan yang tertulis di foto yang ia temukan di kamar Ify. Mungkinkah ini jawaban? Jawaban? Shilla rasa ia tak pernah menyimpan pertanyaan apapun. Lalu?

"Shill kamu..."

"Yel kamu mau janji kan sama aku gak akan pernah ninggalin aku sampai waktu memberikan alasan yang tepat akan perpisahan kita" Ucap Shilla memotong ucapan Gabriel

"Shill aku.."

"Janji Yel" Entah apa yang dirasakan Gabriel saat ini. Gabriel tak ingin memperjelas perasaannya. Ia takut. Sungguh.

Melihat Shilla memalingkan wajahnya dari Gabriel membuat Gabriel mendesah.Sudahlah mungkin ini yang terbaik
~~~

Detik terus berjalan meninggalkan waktu yang berlalu menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang telah terurai oleh angin yang berlalu. Tak dapat kembali, tak dapat terubah bahkan terganti. Seiring detik yang berlalu mampu merontokkan kekuatan dan ketegaran setiap manusia yang berdiri di atas bumi. Seperti seorang gadis yang sedang duduk sendiri menatap langit yang telah merubah warnanya menjadi jingga. Semua orang akan kagum dengan keindahan langit itu. Seakan itu merupakan objek terbaik, namun tidak untuk gadis itu. Perputaran waktu menjadikan dia lemah.  Andai ia mampu menghentikan detik yang berjalan pasti ia akan...

"Shill. Kamu ngapain. Gak minum obat?" Gadis itu menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Ia pandangi pemuda yang masih saja tetap setia mendampinginya hingga saat ini

"Ngapain minum obat. Kamu sendiri yang bilang kondisi aku kritis. Kankernya gak bakal hilang jadi"

"Shill. Tolong jangan siksa diri kamu begini. Aku mohon" Shilla menggeleng sambil tersenyum. Lalu ia raih tangan pemuda itu ke genggamannya.

"Aku gak merasa tersiksa. Karena aku punya alasan untuk bahagia. Lain kalo kamu ninggalin aku itu baru aku tersiksa" Ucap Shilla sambil tersenyum. Gabriel hanya diam sambil memandangi gadis yang masih saja mengenggam tangannya. Gadis ini semakin kurus. Penyakit sialan itu telah mengambil kekuatan gadisnya. Gabriel harus bisa mempertahankan gadisnya ini. Biarpun ia egois, ia tak perduli. Shilla miliknya

"Yel ambilin kertas dong" Lamunan Gabriel buyar karena suara lembut Shilla memanggilnya

Gabriel beranjak dari duduknya dan menuju laci di samping bed Shilla. Ia ambil dua carik kertas beserta sebuah pulpen dan ia berikan ke Shilla

"Pake apa?" Tanyanya. Shilla tak menjawab. Gadis itu malah sibuk menulis sesuatu di kertas yang Gabriel beri barusan. Tak lama Shilla memberi kertas itu ke Gabriel lengkap dengan amplop biru dan merah. Merah adalah warna kesukaanya sedangkan Biru kesukaan Ify... Apa mungkin?

" Nanti kamu kasih surat itu ke orang yang menyukai warna amplopnya ya sayang" Ucap Shilla sambil tersenyum.

" Shill ini..."

"Yel temeni aku ya. Aku capek mau tidur. Aku tidur dulu ya sayang I Love You" Ucap Shilla sambil merebahkan tubuhnya kembali

~~~

Gabriel mengerjapkan matanya saat ia merasakan dingin yang menyentuh telapak tangannya. Ia lalu tersadar bahwa tangan Shilla yang semalam mengenggan tangannya erat telah melonggar. Ini apa?

"Shill... Shilla" Panggil Gabriel. Namun yang di panggil tak menyahut. Gabriel lalu menolaeh ke layar detak jantung (Apa sih namanya? Lupa ada yang tau gak?) Tiit... Tiit... Tiiiiit. Layar itu hanya menampilkan garis lurus. Gak.. Gak mungkin

"Shill... Shilla.. Shilla bangun sayang hey ayo dong bangun. Ayolah sayang jangan bercanda. Shilla" Gabriel jatuh terduduk. Shilla tak bangun. Shilla tak menyahut.
***
5 Tahun kemudian...

Ify sudah tiba di Jakarta. Ia tak sabar ingin segera bertemu sahabat-sahabatnya. Ia edarkan pandangannya ke seluruh penjuru bandara. Pandang terhenti pada sosok pemuda yang berdiri memunggunginya.

Deg, Astaga Perasaan ini tumbuh lagi. Ify baru sadar rasa ini tak pernah berubah.

"Yel" Gabriel berbalik. Matanya bertemu dngan mata Gabriel.

"Ayo pulang" Ajak Gabriel, Ify hanya terdiam menurut
~~~

"Lho Yel kenapa berhenti di sini?" Tanya Ify. Gabriel hanya diam. Ia turun dari mobil. Ify mengikuti

"Kita ketemu Shilla." Ify mengerutkan dahi. Ketemu Shilla kok di kuburan

Langkah Ify berhenti saat Gabriel juga berhenti di salah satu makam. Mata Ify melebar saat melihat tulisan di nisan makam itu.

ASHILLA ZAHRANTIARA

Duk. Ify jatuh terduduk di samping makam  Shilla. Gak. Gak mungkin. Tolong siapapun katakan kalu ini mimpi

"Ini surat buat elo" Ify mendongakkan kepalanya saat sebuah surat terulur di depaaannya

Fy, Sorry kalau gue gak pamit pergi. Tapi gue mau minta maaf aja kok sama elo sekaligus mengembalikkan apa yang sudah gue ambil dari elo dulu. Gue udah tahu semua. Perasaan elo ke Gabriel. Dan gue kembalikan Gabriel ke elo. Gue titip dia ya maaf gue udah ambil dia dari elo. Menikahlah dan janji buat kalian sama-sama selamanya

"Fy gue sayang sama Shilla. Gue cinta sama dia dan gue akan menikahi elo untuk dia"

Ify tercengang mendengarnya. Apa? Menikah dengan Gabriel. Astaga

Demi elo Shill..

END
~~~
Epilog

Chelsea memandang dua buah makam di depannya. Sungguh ia tak menyangka kenyataan ini mampu membuat dirinya serasa bermimpi

'Kamu tahu laki-laki yang menikahi mama adalah om Gabriel dan maaf ayahmu gak bisa melihat kamu karena ternyata dia lebih mencintai gadis masa lalunya. Mama harap kamu tidak menyesal Chel'

"Halo tante Shilla, kenalin aku Chelsea. Chelsea gak marah kalo ternyata papa lebih memilih tante, bertahan bersama tante, tidak berjuang untuk mencintai mama dan menerima aku. Aku tahu kalau ternyata papa lebih mencintai tante di banding mama, aku gak marah, bahkan membenci tante pun aku gak akan pernah sanggup" Ucap chelsea sambil mengusap nisan shilla, Air matanya pun tak henti menetes.

Chelsea beralih ke makam sebelah shilla. Tertera disana nama seseorang yang ternyata sangat berarti dihidupnya.

"Halo Pa. Gimana pa.Papa bahagia kan ninggalin mama dan memilih bersama tante Shilla. Chelsea gak marah kok, Chelsea bahagia kalo papa bisa damai disana bersama orang yang papa cintai. oh ya pa,Maafin Chelsea ya gak pernah dateng ke makam papa. Sebentar lagi Chelsea mau nikah. Chelsea minta doa restu ya pa. Maafin Chelsea pa. Chelsea sayang sama papa" Ucap Chelsea sambil memeluk nisan atas nama ' Gabriel Stevent Damanik"

"Gabriel Shilla makasih pernah hidup untuk aku. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk melehirkan malaikat kita. Chelsea adalah malaikat kita bertiga. Dan aku berjanji akan menjaganya demi kita"

~~~

Visit this page: www.obatkistatradisional.net

                        Diananissa ifc

Sabtu, 04 Oktober 2014

Play Of Destiny (Part 7)


Cast : Mario Stevano, Ashilla Zahrantiara, Alyssa Saufika, Gabriel Stevent

***

Kini dia sendiri karena takdir kembali mempermainkan hidupnya. Takdir yang selalu menyiksanya kini semakin menyiksa dirinya. Membiarkannya kembali sendiri. Membiarkan dirinya melewati kehidupannya yang semakin gelap. Sendiri saat ia sudah terbiasa bersama. Takdir kejam? Benar. Kejam, setidaknya untuk dirinya yang sendiri

***

Shilla memasuki rumah sakit dengan senyuman seperti biasa. Seakan ia melupakan bahwa dirinya pernah menangis, bahkan habis menangis. Shilla berjalan dengan penuh keseganan para suster yang melewatinya. Sampai langkahnya terhenti saat seorang suster yang biasa dekat dengannya kini berada disampingnya.

"Pagi dokter Shilla" Sapa suster itu. Shilla membalas sapaan susternya dengan senyuman yang selalu membuat dirinya semakin terlihat cantik. Suster di hadapannya terpana melihat senyuman yang justru membuat hatinya semakin sedih. Dokter dihadapannya ini ternyata tak pandai berakting rupanya.

Shilla mengernyitkan dahinya melihat suster dihadapannya memandang dirinya dengan pandangan yang begitu menyedihkan. Tapi shilla tersinggung. Mungkin memang dirinya terlihat begitu menyedihkan.

"Dokter, di ruangan ada yang sedang menunggu dokter" Shilla kembali mengernyitkan dahinya. Ada yang ingin bertemu dengannya? Siapa? Ada urusan apa? Shilla pun kembali berjalan setelah mengucapkan terima kasih dan melemparkan senyum cantiknya di balik air mata yang membendung

***

Berlin, Jerman

Ify termenung di mejanya. Matanya tak pernah berhenti memandang foto yang menampakkan tiga orang disana. Seorang pemuda berjas yang diapit dua orang gadis berbaju kebaya. Ify kembali meneteskan air mata yang sesungguhnya tak pernah lagi ia tampakkan. Dirinya memang sedih, sakit bercampur rasa bersalah pada seorang gadis yang berdiri disamping pemuda berjas itu.

"Shill, elo di mana. Maafin gue. Maaf karena kebodohan gue elo sampai terpisah sama kakak elo dan elo gak dianggap juga sama nyokap elo, juga gue. Andai gue bisa membalikkan waktu. gak akan pernah gue melakukan kebodohan itu Shill, maafin gue Shilla, maaf" Lirih Ify sambil mengusap salah satu gadis di foto itu.

Flashback*

"Hosh.. hosh.. sudah Fy. Cukup gue capek. hahahaha. elo lucu banget sih Fy. Coba gue bawa kamera, bakal gue jepret lo, guew masukin deh ke twitter lo. buahahahaha"

Ify yang tak terima di tertawakan oleh Shilla mengambil pasir yang telah basah oleh air pantai.

"Shilla. Makan ini, ups"

Ify melebarkan matanya saat ia tahu bahwa ia salah sasaran. Oh Tuhan, astaga itu.

"Buahahahaha. Fy elo gimana sih. Lempar gue aja gak bisa. Kan kasihan abang gue" Ledek Shilla yang semakin membuat Ify kesal.

"Yo aduh, sorry gue gak sengaja. Gue itu sebenernya mau lempar adek lo itu. Liat nih gue. Gara-gara adik elo tuh" Ucap Ify yang lebih pantas dikatakan merajuk.

Rio hanya menggelengkan kepalanya. Lalu ia membaringkan tubuhnya di atas pasir yang telah basah oelh air pantai. Ify yang melihatnya pun menyusul membaringkan tubuhnya di samping kiri Rio. Lalu Shilla yang merasa di abaikan pun meyusul dan membaringkan tubuhnya di samping kanan rio. Shilla memejamkan matanya menikmati desiran ombak yang begitu merdu tertangkap telinganya. membiarkan rambutnya yang tak terikat berlari-lari di wajahnya. Senyuman terlihat begitu indah terpahat di wajahnya. Tak lama ia membuka perlahan matanya. Ia tolehkan kepalany ke arah kakaknya yang melakukan hal serupa sepertinya. Ia juga dapat menebak bahwa Ify juga melakukan hal yang sama

"Kak. Fy. Kalian mau melakukan sesuatu gak?"Tanya Shilla yang membuat Rio dan Ify menoleh ke arah Shilla

"Apa?" Tanya keduanya bersamaan.

"Ngucapin janji persahabatan"

"Gue juga ikutan. Gue kan kakak elo" Ucap Rio yang terlihat keberatan

"Ih iyalah kak. Elo juga. Minggir gue biar ditengah" Ucap Shilla sambil menggeser tubuh Rio membuat si empunya tubuh mendengus dan Ify yang melihatnya tersenyum.

Shilla mengacungkan kedua kelingkingnya. Kelingking kiri ke arah Ify dan kanan kearah Rio.

" Ayo cepet tautin kelingkling kalian ke kelingking gue"

Ify walaupun bingung sudah melingkarkan kelingkingnya di milik Shilla. Kini giliran Rio. Walaupun dengan terpaksa akhirnya ia menautkan kelingkingnya juga milik Shilla.

" Nah ucapin deh janji kalian. Tapi dalam hati. Nanti kalo kalian udah mendapatkan apa yang kalian inginkan, baru kita ucapin bareng-bareng disini, oke"


Gue gak mau kehilangan kalian. Kalian adalah bagian di hati gue, bukan hanya dihidup gue
 

Flashback**

"Shill dan asal elo tahu, gue justru sekarang menyesal karena sudah melanggar janji persahabatan yang gue buat sendiri. Gue malah kehilangan elo. Gue mohon Shill, kembali.  Kembali untuk kakak elo justru sangat sakit karena kehilangan elo, kembali untuk mama elo untuk membuktikkan bahwa elo bukanlah seburuk itu. Dan kembali untu gue Shill. Kembali untuk persahabtan kita,Hiks"

Tanpa Ify sadari. Di balik pintu ruangannya. Rio terduduk lemas. Air matanya pun juga sama derasnya seperti milik Ify. Bahkan hatinya pun lebih merasakan sakit yang bahkan tak mampu ia sembuhkan sendiri

"Maafin kakak Shill. Kakak gak bisa mempertahankan kamu. Kakak gak bisa menepati janji kakak, bukan hanya janji persahabatan kita. Tapi juga janji sebagai seorang kakak untuk kamu" Lirih Rio sambil mengepalkan kedua tangannya menahan emosi pada dirinya sendiri.

Kalau bisa ia ingin menghajar dirinya yang begitu pengecut melepas harta berharga di hidupnya. Harusnya ia yang menjaga Shilla, harusnya ia bisa mempertahankan Shilla. Namun dirinya pun tahu bahwa ia tak pantas untuk menjadi kakak untuk Shilla. Karena dirinya pun lemah dan bodoh.

"Argghh. Sial" Ucap Rio melampiaskan emosinya ke dinding di hadapannya

***

Shilla memasuki ruangannya. Dahinya mengerut saat melihat seorang gadis yang berdiri membelakanginya sambil memegang fotonya bersama Gabriel.

"Elo siapa"

Prangg

"Ups, sorry. Oh ternyata ini yang namanya dokter Ashilla Zahrantiara. Ehm. Oh ya kenalin gue Acha calon tunangan dokter Gabriel Damanik calon pewaris Rozcow Hospital . Dan gue mau memberi tahu ke lo kalau gue akan bertunangan dengan Gabriel minggu depan. So, elo harus dateng karena elo adalah tamu spesial" Ucap gadis yang bernama Acha dengan senyum meremehkan ke arah Shilla.

Shilla mencoba menahan emosinya untuk tidak menampar wajah gadis di hadapannya.

"Oh. Apa gue harus mengucapakan selamat untuk elo karena sudah berhasil mengambil Gabriel dari gue?" Ucap shilla sinis yang membuat gadis dihadapnya tertawa

"Hahahaha. Gue rasa gak perlu karena yang gue mau adalah liat air mata elo mengalir deras di acara pertunangan gue nanti. Oh ya sorry karena gue udah pecahin foto terindah elo itu. Memang pantasnya SAMPAH harus segera dibuang." Ucap Acha sambil menendang pecahan foto Shilla dan Gabriel yang tergeletak di bawah kakinya kearah Shilla. Lalu ia mengambil tas dan bersiap pergi. Namun saat Acha hampir melewati Shilla. Tangannya di cekal oleh Shilla sehingga ia tertarik dan menghadap Shilla

Plakk

"Kalau elo mau liat air mata gue. Gue akan memberi tahu elo dulu gimana cara megeluarkan air mata lo. Dan SESUATU yang elo anggap SAMPAH itu tak lebih busuk dari elo. Dan kalo lo begitu menginginkan air mata gue, sampai kapan pun elo gak akan pernah mendaptkannya. Karena gue bukanlah perempuan lemah seperti apa yang elo kira" Ucap Shilla yang membuat wajah Acha memerah karena emosinya.

"Elo akan menyesal karena menampar gue. Dan elo akan lebih menyesal karena mencoba bermain-main sama gue. Cih" Ucap Acha sambil menghempaskan tangannya dari genggaman Shilla.

Setelah kepergian Acha, Shilla jatuh terduduk di tempatnya. Ia mengambil fotonya yang sudah terlepas dari bingkainya. Air matanya jatu tepat di tautan tangannya dan Gabriel membuat di bagian itu basah. Saat ia usap, bagian itu terobek.

"Argghhh. Gue benci elo Yel. Gue benci elo. Kenapa gue harus jatuh cinta sama elo? Kenapa harus elo yang membantu gue untuk melupakan kak Rio dan Ify? Kenapa harus elo yang masuk ke kehidupan gue? Kenapa harus elo. Gue benci elo Yel. Gue benci"

Aku justru lebih membenci takdir yang mengenalkan aku ke kamu, mengenalkan aku tentang cinta. Dan sekarang takdir justru memisahkan kita. Menciptakan jarak untuk kita. Kenapa kamu gak mau memperjuangkannya Shill, Kenapa?

BERSAMBUNG


Visit this page: www.obatkistatradisional.net

                        Diananissa ifc

Jumat, 05 September 2014

Play Of Destiny Part 6

Cast : Mario Stevano, Ashilla Zahrantiara, Alyssa Saufika, Gabriel Stevent
***
Desau angin menarikan rambut-rambutnya, menyapu halus wajahnya. Malam menemaninyabersama bulan dan bintang dan salju meleburkan butiran putih lembutnya dikulitnya yang tertutup jas dokter kebanggaannya.

Drrt.. drrttt…drrt.. Gadis itu mengambil hp-nya yangada di saku jasnya. Tertera nama Mr. Haling di layar handphonenya.

Where are you? Why is not there at thehospital, said the apartments you have notbeen back. Do not mess outside snowing heavyagain’(bener gak bahasa Inggrisnya)

Ify mendesah. Pemudaini. Pemuda yang sama seperti 2 tahun yang lalu. Sama seperti saat awalpertemuannya di kampusnya bersama Shilla dulu. Pemuda satu-satunya yangberhasil membuat desiran halus dalam dadanya setiap aroma memabukkan itutercium. Selalu menciptakan getaran yang menyesakkan setiap mendengar suaraserak yang terdengar merdu di telinganya. Darahnya membeku sejenak saat menatapmata teduh itu. Tak ada satupun yang berubah darinya kecuali sikapnya yangsemakin dingin terhadapnya        semenjakperpisahan pemuda itu dengan Shilla  
‘Gak perlu loe khawatir sama gue. Gue gak akan matimembeku di sini’
Jelas itu adalah jawaban munafik yang dia berikankepada Tuan Muda Haling tersebut. Ia tahu tak akan ada kata baik apabilaberhubungan dengan pemuda itu. Terkadang cinta perlu menjadi munafik untukmenutupi luka hati.

Ify bangkit dari tempatnya duduk. Ia rapatkan jasnyake tubuhnya. Ify pun berjalan menuju mobilnya. Ia tidak mau semakin terlarutdalam kegalauannya. Ia tau saat ini ia kembali merasakan  galau karena alasan yang sama. Rio dan cinta.Dua kata yang tak pernah lepas dari benaknya

***



Gabriel saat ini berada di taman belakang rumahsakit. Di pangkuannya ada gitar berwarna coklat pemberian Shilla sewaktu ulangtahunnya. Pemuda memandang gitar itu dengan pandangan nanar

Ini buat kamubiar kamu bisa buat lagu yang lebih banyak lagi untuk aku dan kamu nyayiin dehdi depan aku. Pasti so sweet’

Gabriel tersenyum miris mengingat betapa banyaknyakenangan yang tersimpan yang berhubungan dengan gitar ini. Andai ia mampumelawan semua dengan keegoisannya, andai ia memiliki pilihan lain, dan andaiShilla memiliki keegoisan yang sama sepertinya

‘Mungkinkita memang salah. Memaksakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada Yel. Kitaharus sadar sampai kapanpun tidak pernah ada kita. Bahkan sekalipun dipaksakan’

‘Kitaibarat langit dan bumi. Begitu jauh perbedaan itu. Ada dinding tipis pembatasantara kamu dan aku. Dinding itu adalah statusku, masa laluku. Dan kita gakakan pernah bisa menembusnya. Karena perbedaan itu terlalu jauh’

Beda? Hahaha… apa yang beda. Status?Apa karena Gabriel seorang cucu pemilik Rumah Sakit Rozcow Hospital dan calon pemegang saham rumah sakit? MasaLalu? Kalau masa lalu yang menjadi alasan berdirinya dinding itu, kenapaGabriel  memilih seorang Ashilla Haling yangkini tak lagi tersemat nama Haling itu

Jrengg…Jrengg..Jreng

saat terindah saat bersamamu
begitu lelapnya aku pun terbuai

sebenarnya aku t’lah berharap
ku kan memiliki dirimu selamanya

Shilla menghentikan langkahnya saatia mendengar suara petikan gitar di susul suara berat seorang pemuda yangterdengar lirih di telinganya. Tubuhnya tiba-tiba bergetar. Kulitnya mendingin.Shilla begitu mengenali suara ini. Suara yang dulu tak pernah absen ia dengar.Kalau dulu ia mengatakan bahwa suara ini adalah suara terjelek, maka percayalahShilla sangat menyesal mengatakannya karena ia sangat rindu suara ini

segenap hatiku luluh lantak
mengiringi dukaku dan kehilangan dirimu
sungguh ku tak mampu mereda kepedihan hatiku
untuk merelakan kepergianmu

ingin kuyakini cinta takkan berakhir
namun takdir menuliskan kita harus berakhir


Air mata Shilla kembali menetes.Lagu ini begitu menyayat perasaannya. Bukan lagu sendu ini yang ingin iadengar.

“Tante Shilla kenapa? Kok nangis?”
Shilla tersentak saat mendengarsuara anak kecil yang membuyarkan lamunannya. Ia hapus air matanya dan iasunggingkan (?) senyum ke anak kecil itu

“Nggak kok. Tante gak nangis. Oh ya sayingtante mau minta tolong boleh?” Tanya Shilla. Gadis kecil itu tersenyum lalumengangguk

“Boleh kok”

Shilla mengambil sesuatu di sakunya. Amplop biru muda di raihnya dari saujasnya lalu di berikan ke gadis kecil itu “Tolong kasih ke Om Gabriel ya” Gadiskecil itu mengangguk lalu berjalan meninggalkan Shilla di tempat

segenap hatiku luluh lantak
mengiringi dukaku yang kehilangan dirimu
sungguh ku tak mampu tuk mereda kepedihan hatiku
untuk merelakan kepergianmu


(Samsons- Luluh)

Air mata Gabriel mengalir sepanjanglagu yang ia nyanyikan. Ia hapus air matanya saat ia melihat seorang gadiskecil berjalan ke arahnya. Ia tarik kedua sudut bibirnya membentuk senyumterbaik di depan gadis kecil itu

“Om ini buat om dari Tante Shilla”Begitu kata gadis itu saat sudah tiba di depan pemuda itu. Di bukanya amplopbiru itu. Ada debaran tak nyaman saat matanya menangkap tulisan milik Shilla.

Yel lupain aku pliss. Aku tau iniegois banget. Tapi tolong jangan buat aku makin buruk di mata kakek kamu. Aku sudahsering bilang kan ke kamu kalau kamu sama aku itu tidak akan pernah bersatu…

Perlu kamu tahu aku juga beratsekali melepas kamu. Kamulah yang buat aku bangkit dari keterpurukan masalaluku. Kamu telah menghidupkan kembali nyawa yang mati dari ragaku. Tapi kamuhanya bisa menjadi malaikat yang menyelamatkanku sejenak. Bukan malaikat yangharus di miliki. Kamu adalah sosok sempurna yang jauh berbeda jika aku miliki.Kamu berbeda. Bukan, kita berbeda. Jadi kamu harus paham itu

Aku bukan lagi siapa-siapa dalamhidup kamu. Aku cuma orang bagian dari masa lalu kamu. Terima kasih atas cintayang kamu beri untuk aku. Terima kasih karena kamu telah mengijinkan aku untukmemiliki kamu walau cuma sebentar. Bahagialah Yel karena aku yakin kebahagiaansejati kamu telah ada di depan mata kamu
Aku gak bisa lagi bilang I Love Youkarena kamu bukan lagi siapa- siapaku. Tapi terima kasih sebelumnya

Ashilla

Gabriel kembali menangis membacasurat dari Shilla. Sakit. Sakit sekali rasanya saat cinta yang begitu dalamharus terkubur karena keegoisan. Di tempat yang berbeda Shilla juga meneteskanair matanya. Ia melihat begitu rapuhnya Gabriel membaca surat darinya. Tapiapalah yang bisa ia perbuat. Ia bukan siapa-siapa dan ego tak berlaku dalamdunianya bersama Gabriel



BERSAMBUNG

Visit this page: www.obatkistatradisional.net
                            Diananissa ifc

Sabtu, 30 Agustus 2014

Play Of Destiny Part 5

***
Saat hati meminta dia, saat otak memutar memori hanya tentang dia dan saat tubuh menginginkan rengkuhan hanya dari dia, takdir menjauhkannya darinya. Gejolak untuk ingin memiliki begitu besar. Satu yang aku tahu, aku menginginkannya. Dan dia alasanku untuk bertahan

***
Ify tersentak dari lamunannya saat mendengar suara gaduh dari sebrang kamarnya, dari kamar Cakka. Ify mencoba mengacuhkannya. Peduli apa dia tentang semua urusan Cakka. Namun makin lama rasa penasarannya makin besar. Ia pun beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu

Ify kaget dengan koper yang berserakan di depan kamar Cakka. Untuk apa semua koper ini?

“Fy gue berangkat dulu”

“Berangkat? Maksud lo?” Tanya Ify penasaran

Cakka menghembuskan nafas. Mencoba bersabar menghadapi sepupunya itu. “Loh bokap lo gak bilang kalau gue di suruh ke Jakarta untuk menhandle rumah sakit om Irwan di sana?”

Ify mendengus mendengar kalimat Cakka. Ia tak perlu kaget mendengarnya karena ia sudah tahu bagaimana Cakka di mata keluarganya, termasuk papanya.

“Oh papa nyuruh loe handle rumah sakit? Papa cukup adil ternyata menjadikan gue dokter tetap di rumah sakit bokap gue sendiri, sementara lo yang memegang rumah sakit itu. Hn”

Ekspresi Cakka langsung berubah datar. Ia hanya memandang kosong Ify. Ia cukup mengerti maksud Ify. Cukup tahu

“Apa lo keberatan?”

Ify menyeringai sinis. Cukup bodoh, umpatnya

“Apa gue punya hak untuk keberatan atas perintah-tak-terbantah dari papa”Tanya Ify sinis penuh penekanan
“Bahkan gue rasa gue gak berhak di akui jadi anak mereka”

“Fy. Gue”

“GUE ANAK MEREKA KKA. TAPI KENAPA SELALU LOE YANG DAPAT SEMUA DARI MEREKA, KENAPA?”

Air mata Ify mulai turun membasahi wajahnya. Ia sudah tidak tahan akan ketidakadilan ini, menurutnya.

“Fy.."

Entschuldigung, mein Herr Autobereit (permisi tuan mobilnya sudah siap)"
Ify lansung lansung pergi meninggalkan Cakka mencoba mengacuhkannya
***

Ify kembali berdiam diri di kamarnya. Semua sudah merubah jalan pikirnya. Ia lelah. Ia tahu sampai kapanpun ia akan tetap menjadi yang kedua. Semua seakan sudah tertulis di benaknya

Ify menyeka air matanya yang terus turun membasahi wajahnya. Ada gejolak menyakitkan dalam dadanya. Ia benar-benar lelah menjadi yang kedua

Deru mobil yang semakin menjauh terdengar di telinganya. Ia tahu mobil itu yang akan membawa Cakka meninggalkan kota Berlin menuju Jakarta. Ify menghela nafas. Semua sudah membuatnya lelah

***

Cakka memandang kosong kearah luar taksinya.Pikirannya bercabang. Ia terus memikirkan sikap Ify padanya yang saat iniberbeda. Ify sudah berubah. Ify bukan lagi sepupunya yang imut, ramah dan ceria

Saat ini yang Cakka tahu Ify telah menjadi gadis dingin tak berperasaan selain ke pasiennya. Cakka tahu apa yang sudah merubah sepupunya itu. Semua karena putra Haling. Bukan. Cakka bukan menyalahkan putra Haling itu. Ia hanya menerka seberapa besar pengaruh seorang putra Haling terhadap putra Irwan Umari

Cakka menghela nafas saat ia sudah tiba di dibandara. Kembali ia teringat pertengkaran kecilnya bersama Ify beberapa jamyang lalu

Please do not change’
***
Rio memandang nanar foto Shilla yang selalu ia simpan di kamarnya. Ia benar-benar merindukan adiknya itu.
Andai iamampu merobohkan batu yang berdiri kokoh di hati ibunya. Andai ia mampu mempersempit jurang yang membentang antara dirinya dan adiknya. Andai penyakit sialan itu tak hinggap di tubuhnya. Andai penyakit bodoh itu tak ikut campur dalam urusan hidupnya. Dan masih banyak beribu andai yang tersimpan rapi dibenaknya.

Ia tak pernah berfikir akankah ia sanggup melawan takdir ini. Rio benar-benar membenci takdir.

‘kak menurut loe takdir itu adil gak sih?”

“Gue gak tahu Shill. Bukannya setiap orang memiliki jalan takdir yang berbeda. Dan menurut gue hanya orang itu yang mengerti adil atau tidaknya takdir. Benarkan ?’

‘Entahlah.Terus menurut loe gimana sama yang namanya permainan takdir? Loe percaya gak?’

‘Ehm mungkin’

“Gue benar-benar percaya sama yang namanya permainan takdir Shill. Karena saat ini pun kita sedang di permainkan oleh takdir. Bahkan gue benci sama yang namanya takdir. Gue muak sama takdir”

“Gue benci takdir yang sudah pisahin gue sama loe. Gue benci takdir yang sudah buat gue lemah dan gue benci sama takdir yang sudah membuat gue menjadi pengecut, gak berguna. Gue benci diri gue sendiri, gue benci”

Bahkan Rio tak perduli kini ia menjadi sosok bodoh yang selalau meratapi penyesalan yang bahkan ia pun tak pernah sama sekali melakukan kesalahan yang pantas untuk di sesalkan”

“Gue kangen loe dek”
***

Gabriel memandang tajam Sivia di hadapannya. Ia tahu ada yang di sembunyikan Sivia darinya. Hingga saat ini Sivia masih diam tak menjelaskan apapun

Sivia yang tak nyaman di pandang terus oleh kakaknyahanya mangalihkan pandangannya. Ia takut akan pandangan itu. Ia tak suka.

“Mau kakak apaan? Kenapa liatin aku kayak gitu seremtau?”

“Jelasin ke gue Vi” Sivia meneguk ludahnya. Jangan-jangan
“Apa rencana kakek?”

GLEK. Tuh kan benar. Batin Sivia

“Eh. Em Gue… eh loe kenapa tanya itu sih kak? Mana gue tahu rencana kakek apaan” Elak Sivia

“JANGAN BOHONG VI. GUE TAHU LOE, MAMA DAN PAPA MENYEMBUNYIKAN SESUATU DARI GUE” Bentak Gabriel. Sivia yang tak pernah sekalipun di bentak oleh kakaknya hanya memandang tak percaya kearah Gabriel

“Loe kenapa sih kak. Loe mau tahu apa rencana kakek,ha, iya?. Kalau gitu selamat loe dijodohkan sama kakek bulan depan. PUAS LOE”

JDERR. Gak. gak mungkin. Ini ?

"Dan gue, mama dan papa gak bisa nyelamatin loe dan loe gak bisa menolak. Ini perintah”

"Dan satu lagi Shilla juga sudah tahu perjodohin loe. Dan dia putusin loe bukan karena udah gak lagi mencintai loe. Tapi karena permintaan mama. Puas loe?"

BERSAMBUNG

Visit this page: www.obatkistatradisional.net

                        Diananissa ifc

Minggu, 17 Agustus 2014

Play Of Destiny Part 4 (Berakhir)

Seorang pria paruh baya memandang nanar orang-orang di hadapannya. Lelah, khawatir dan takut terpancar dari wajahnya yang menua.
Hhh. Pria itu menghela nafas. Entah sudah berapa kali helaan itu keluar beradu dengan atmosfir ketegangan diruang itu

"Yah"

Pria itu mengalihkan pandangannya menghadap anaknya yang memanggilnya

"Ada apa kek. Kenapa kakek mengumpulkan kami" Kali ini cucu gadisnya yang berbicara.

Hening.

"Aku mau gadis itu meninggalkan cucuku"

Sesak. Tak ada lagi yang mau menjawab pernyataan pria itu

"Ayah. Apa maksud ayah?"

"Cucuku bisa menyelamatkan kita. Tapi tidak dengan gadis itu. Tak ada bantahan. Bulan depan pertunangan cucuku dan Raissa terjadi. Jadi suruh gadis itu untuk segera pergi"

"Gak bisa gitu kek. Kak Iyel gak mungkin meninggalkan Shilla. Mereka saling mencintai kek"

Pria paruh baya itu menatap tajam kearah cucu gadisnya yang menatap keberatan kearahnya. Raut wajah yang tak lagi muda itu mendadak mengeras. Tatapannya menusukmembuat sepasang suami istri di hadapannya saling mengeratkan jari untuk saling menguatkan dan meyakinkan agar semuanya tak semakin rumit.

"Kamu mau tinggal di jalanan, kamu mau makan nasi dan garam. Kakek sudah katakan jangan membantah. Ini demi keluarga kita. Mengerti Sivia Azizah"

Pria itu bangkit dari duduknya berjalan dengan angkuh meninggalkan ketiga orang di belakangnya yang sesaat menghembuskan nafas kasar mereka dengan mata yang saling terpejam lelah

***
Mobil Shilla baru saja tiba. Baru saja Shilla melangkah untuk masuk tiba-tiba ada yang memanggilnya

"Shill"

Shilla menghentikan langkahnya dan berbalik. Shilla terperangah menatap seorang wanita yang berdiri di belakangnya.

"Tante Nita"

Shilla pun menghampiri Nita yang berdiri di belakangnya. Entah apa yang terjadi. Firasatnya merasakan sesuatu yang mengganjal. Shilla mendadak merasa tak tenang

"Boleh tante bicara sama kamu"

Shilla mengangguk dan membiarkan Nita memasuki rumahnya

***
"Tante kok bisa disini. Apa ada yang bisa Shilla bantu"

Wanita itu menunduk sedih. Haruskah sekarang? Wanita itu menggigit bibirnya. Sementara Shilla terus menatap Nita yang tak sama sekali menatap dirinya.

"Maaf Shill"

Shilla mengerutkan keningnya tak mengerti. Hatinya semakin merasa kegelisahan. Shilla terus menatap Nita yang masih menyembunyikan wajahnya yang mengguratkan kecantikannya

"Kok minta maaf Tan? Ada apa?"

"Tante mohon tinggalkan Gabriel"

Prang

Shilla merasa ada yang pecah dalam dirinya. Tinggalkan Gabriel, dalam mimpi pun Shilla tak sudi melakukannya

Tante Nita hanya memandang nanar Shilla yang terdiam tak berkutik dengan pandangan kosong. Tante Nita semakin merasa bersalah

"Gabriel akan bertunangan bulan depan dan tante, om dan Sivia tidak bisa melakukan apapun"

Shilla masih terdiam. Ia tak mampu lagi melakukan apapun selain menangis dalam diam

"Maaf Shill"

Shilla hanya menunduk mencoba menyembunyikan air matanya walau ia tahu itu percuma

Shilla mengangguk

"Baik"

***

Gabriel memandang kosong hadapannya. Ia tak percaya satu tahunnya bersama Shilla harus berakhir dalam waktu lima menit. Tak di pungkiri, sakit itu terasa berdenyut dihati Gabriel.

Rasa itu udah mati Yel. Gak ada lagi cinta buat kamu

Shit. Omong kosong. Mana mungkin gadis itu mengatakan cinta itu hilang.

Denyut menyakitkan itu bukan hanya milik Gabriel. Shilla juga merasakan sakit yang sama. Tanpa pemuda itu ketahui, hati Shilla lah yang paling berdarah. Kehilangan seseorang yang di cintainya tak hanya itu. Dia juga harus merelakan cintamu di renggut orang lain. Namun apa yang bisa ia lakukan. Ia pun tahu semua tak akan lagi sama bila di paksakan. Shilla beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu tak mampu lagi bertahan

Langkah Shilla terhenti saat ada lilitan tangan yang mengurung pinggangnya.

"Jangan pergi" Pertahanan Shilla benar-benar telah runtuh. Pecah sudah tangisnya. Shilla membiarkan saja ia menangis di hadapan Gabriel. Sejenak saja sebelum semuanya benar-benar berakhir ia ingin merasakan sedetik saja ketulusan cinta pemuda itu sebelum ia kehilangan pemuda itu secara utuh

"Maaf"

***
Ify benar-benar panik melihat keadaan Rio yang kembali merasakan sakit di dadanya

"Kenapa bisa?" Tanya Ify ke siapapun yang ada di dekatnya

"Maaf Non. Den Rio yang pergi tiba-tiba dengan meninggalkan obatnya begitu saja"

"Shilla.. Shilla" Ify terjingkat saat ia mendengar suara Rio yang memanggil Shilla

"Gak ada Shilla di sini"

Rio memegangi dadanya "Sakit Fy. Sakit"

"Ck. Makanya jangan sok kuat"

Bersambung...


Kamis, 07 Agustus 2014

Play Of Destiny Part 3 (Kenangan yang Menguar)


 ***

Shilla pun kembali melangkahkan kakinya. Namun saat ia mau mengangkat kakinya untuk melangkah, langkahnya harus terhenti saat ia mendengar suara baritone memanggilnya

“Shilla" Shilla berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Matanya melotot begitu ia tahu bahwa yang memanggilnyaadalah

“Gabriel” Gabriel hanya nyengir di pelototi oleh Shilla seperti itu. Gabriel tahu bahwa sebentar lagi Shilla akan marahpadanya.

“Hehehe, Shilla kamu ngapain kesini?”

“Harusnya aku yang nanya ke kamu ngapain kamu ke sini sayang” Tanya Shilla dengan penekanan kata sayang

“Nyusul kamu lah.” Shilla melengos mendengar jawaban polos yang keluar dari mulut Gabriel. Dea yang tidak mengerti apapun hanya diam sambil memandangi wajah Gabriel yang menurutnya sangat tampan

“Teh Shilla, ini teh siapa. Kasep” Bisik Dea

“Ini?  Dia Gabriel. Pacar aku” Kata Shilla. Dea terkejut mendengar ucapan Shilla

“Apa Pacar?” Shilla mengangguk, Gabriel hanya memasang senyum atau mungkin lebih tepatnya cengiran

“Teh Shilla curang. Udah punya pacar. Mana kasep lagi.”

“Bukannya kamu sudah ada Daud” Dea melotot kearah Shilla mendengar nama Daud di sebut

“Ih, Kok Kang Daud sih. Teh Shilla mah gitu”

“Maaf deh gak lagi” 

“Udah ah katanya mau ke Bu Inah”

“Iya deh”

***

Plakk


“Dasar anak gak tau diri. Kamu mau membunuh Rio”

“Maaf Ma, Shilla gak sengaja. Gak mungkin shilla mau bunuh kakak Shilla sendiri’

“Omong kosong. Kamu lihat Rio. Lagi-lagi dia masuk ke rumah sakit ini dan lagi ia memakai alat sialan itu. Kamu benar-benar anak tidak tau terima kasih”

“Gak ma, Ini bukan salah Shilla. Kak Rio lupa minum obat yang Shilla kasih sehingga dia…”

“Terus kamu mau salahin Rio. Apa ini namanya dokter professional. Cih, Kamu pembunuh”

“Maaf ma”

"Apa ini yang kamu katakan bisa membuat mama bangga? Apa ini buah dari apa yang telah mama berikan? Mulai sekarang jauhi alat-alat itu dari Rio, mengerti"

“Tapi Ma Kak Rio gak bisa bertahan kalau alat-alat itu dilepas”

“Kamu kira saya tidak bisa menyewa alat yang lebih canggih dan dokter yang lebih hebat dari  kamu.?”

“Ma sekali lagi kasih Shilla kesempatan”

“Jauhi Rio”

“Mama!”

Shilla terbangun dari tidurnya saat mimpi itu kembali menggentayangi tidurnya.  Air mata Shilla jatuh saat kembali ia teringat kejadian itu. Shilla menggelengkan kepalanya . Gak boleh, ia  tidak boleh lagi kembali ke  masa lalunya.

“Shilla ada apa” Shilla menghapus air matanya saat ia mendengar suarabaritone menghampirinya.

“Shill. Kamu kenapa. Tadi aku denger kamu…”

“Aku kangen keluargaku Yel” Gabriel melengos mendengar penuturan Shilla.

“Aku tahu kamu udah larang aku untuk ingat itu lagi. Tapi aku gak bisa Yel. Mereka adalah keluargaku aku…”

“Jadi ini alasan kamu kesini. Shill apa aku masih belum bisa bantu kamu untuk melupakan mereka? Jawab Shill”

“Mereka keluarga aku Yel. Bagaimana bisa aku lupain mereka gitu aja. Darah aku mengalir dalam tubuh Kak  Rio dan Mama. Aku…”

“Tapi kamu jangan lupa Shill mereka yang nyuruh kamu untuk pergi dari hidup mereka. Mereka yang..” Ucapan Gabriel terhenti saat ia merasa Shilla semakin terisak

“Aku udah nurut sama kamu untuk membuang semua benda yang berhubungan dengan mereka, bahkan aku mau kamu suruh aku untuk pindah dari rumah aku yang dulu. Tapi kamu gak bisa minta aku untuk membuang rasa sayang aku ke mereka. Rasa ini tersimpan di hati aku Yel”

Gabriel mengepalkan tangannya menahan emosi yang sudah meluap dalam dirinya. Selama ini ia lupa bahwa Shilla memiliki masa lalu yang suatu saat bisa muncul kapanpun. Gabriel menarik Shilla kepelukannya.

“Maaf Shill. Aku gak bermaksud untuk buat kamu makin sakit hati. Tolong percaya sama aku. Aku gak akan ninggalin kamu aku janji”

“Dulu mama dan Kak Rio juga janji sama aku buat gak ninggalin aku. Tapi apa yang terjadi mereka bebar-benar ninggalin aku. Bahkan Ify sahabat aku juga ikut pergi. Aku sulit untuk percaya sama siapapun Yel”

“Termasuk aku? Apa kamu gak yakin kalau aku benar-benar mencintai kamu Shill?” Shilla melepas pelukan Gabriel. Diraihnya wajah pemuda itu dengan kedua tangannya

“Aku akan coba percaya sama kamu Yel. Tolong jangan tinggalin aku” Ucap Shilla.

Diluar kamar Shilla Bu Inah menangis mendengar percakapan Shilla dengan Gabriel. Bu Inah tak menyangka bahwa keluarga Haling menjadi seperti ini, terutama Shilla. Ia sangat menyayangi Shilla dan Rio. Bu Inah sudah menganggap mereka seperti anaknya sendiri.

“Ya Allah kuatkan hati Neng Shilla”

***
mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa dicintai
tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
dalam hidupmu, dalam hidupmu


telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
bahagia untukku, bahagia untukku


reff:
ku ingin kau tahu
diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga hujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya


dan izinkan aku
memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja


Prok…Prok…Prok

Ify membalikkan tubuhnya mencarimasal suara tepukan tangan barusan.

“Kenapa berhenti?” Tanya seorang pemuda

“Sejak kapan loe disitu” Tanya Ify ketus.  Cakka pemuda itu itu hanya mendengus menghadapi sikap sepupunya itu

“Loe gak bisa lembut ya sama gue. Gue ini sepupu loe. Lebih tua dari loe”

“Ganggu loe” Ucap Ify sambil kembali berbalik ke pianonya tadi

“Buat siapa tuh lagu? Buat Rio ya? Prince Haling loe itu? Cinta dalam hati memang betah loe?” Tanya Cakka bertubi-tubi

“Jangan sok tau loe”

Drtt..Drrttt

Ify mengambil hpnya yang bergetar dikantongnya. ‘Haling home’s’ tertera di layar handphonenya

APA? Baik saya akan ke sana?”


"Ada apa?" Tanya Cakka

"Biasa keluarga Haling. Loe pasti ngerti"


"Terus loe mau ke sana?"

"Iya" Cakka hanya menggeleng sambil memandangi punggung Ify yang menjauh

Bersambung..

Selasa, 17 Juni 2014

Play Of Destiny - Part 2 (Angkuh)

***
"APA? KAMU MAU KE INDONESIA" Terdengar suara seorang wanita menggema di sebuah ruangan

"Iya ma, Rio mau meneruskan bisnis Rio di Jakarta aja."

"Kamu pikir mama bodoh Rio. Gak kamu pasti mau menemui wanita itu kan?Gak, mama tidak mengijinkan

"Tante tenang saja Rio tidak akan menemui gadis yang tante maksud" Dua orang tadi menoleh menghadap ke seorang gadis yang tadi menyahut. Terlihat seorang gadis berdiri dia ambang pintu dengan senyum yang selalu terukir diwajah cantiknya

"Ify" Ucap keduanya kompak

***“Maksud kamu apa?”Tanya Mama Rio


“Iya. Maksud Ify, Rio tidak akan menemui Shilla gadis yang tante maksud. Ify akan memastikanitu” Ujar Ify sambil berjalan mendekati Rio dan mamanya.

Mama Riomenyeringai “ Apa kamu yakin anak saya tidak akan menemui anak sialan itu?”

“MAMA.Gadis itu adik Rio Ma”

“Diam kamu.Masih berani kamu anggap gadis itu adik kamu. Jangan gila Rio, gadis itu hampirmembunuhmu” Bentak Mama Rio

Mendengarkata ‘MEMBUNUH’ yang terucap dari mulut mama Rio membuat Ify merasa bersalah.Bukan, bukan gadis itu yang salah, tapi ia. Lalu mengapa Tante Amanda menuduh anak gadisnya itu yang membunuh.

“Shilla gak pernah berniat membunuh Rio, justru dia menjaga Rio dengan baik. Dia selalu berusaha menjalani tugasnya dengan baik ma. Tolong jangan menuduh Shilla seperti itu” Ucap Rio memohon

Dalam hati Tante Amanda sakit melihat anaknya seperti ini. Ibu mana yang tega memisahkandua anak kandungnya seperti itu. Begitupun ia. Tapi ia telah dibutakan amarah,terselimutkan emosi, wanita itu tak mungkin lagi menarik kata-katanya
Kata-kataitu sudah terlanjur terucap, kata-kata itu sudah tidak bisa lagi menghilang, bahkan berubah arti. Semua sudah terlanjur terjadi. Terkadang ia menangismerutuki semua yang terjadi pada keluarganya. Keluarga yang diimpikannya. Namunlagi wanita itu harus menelan mimpinya karena keegoisannya

“Inilah yangherus dia terima Rio. Dia sudah menjadi pembangkang. Dulu papa kamu berharapbahwa kamu dan adik kamu bisa membawa HalingCorp menjadi perusahaan sukses. Namun apa gadis itu memilih menjadi dokteryang bukan sama sekali impian keluarga Haling”

Rio  terus menerawang apa yang terjadi padakeluarganya. Mamanya benar Shilla telah menghancurkan cita-cita keluarganya,namun apakah cita-cita keluarganya lebih penting dari keutuhan yang seharusnyaterjadi di setiap keluarga?

Ify terdiammelihat percakapan yang terjadi di antara ibu dan anak ini. Ini sudah biasa.Ini bukan lagi hal asing untuknya. Bahkan ia pun memiliki julukan untukkeluarga ini. ‘keluarga drama ‘memang cocok untuk mendeskripsikan arti keluarga ini. Terkadang Ify jera denganapa yang terjadi dengan keluarga ini. Ia mau semua segera berakhir.

“Tan, maaf sepertinya Ify harus balik kerumah sakit. Maaf menganggu. Permisi” Pamit Ify. Ia benar-benar jera dengan keluarga ini.

“Ify tunggu,gue ikut loe”

***
Saat ini Rio danIfy sedang berada di halaman belakang rumah sakit tempat Ify bekerja. Sudah 30menit mereka diam. Seakan tidak ada yang mampu mencairkan waktu yang membeku karena mereka

“Terus apa?”Tanya Ify yang sudah terlebih dulu mencairkan waktu yang mendingin itu.
Riomengernyit saat ia merasa ada yang mengganjal dari pertanyaan gadis disampingnya ini.

“Maksud loe?”Tanya Rio bingung. Membuat Ify mengumpat dalam hati. ‘Dasar bodoh’ 

“Kenapa loe ngikutin gue kesini kalau pada akhirnya loe diamin gue kayak gini. Lebih baikgue masuk-“

“Kenapa loeterus mencampuri urusan keluarga gue. Dari dulu bahkan hingga kini loe selalunempel sama keluarga gue” Tanya Rio yang memotong omongan Ify.

“Berani bayar berapa loe ke gue sampai gue sudi mengurusi keluarga drama loe itu?” Tanya Ify sinis. “Gue melakukan ini semua karena Shilla. Gue mau menebus kesalahan gue ke dia”Ify mengjhela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Dan gue yakinloe bukan orang bodoh yang tidak tau maksud arti kata ‘Menebus Kesalahan’,bahkan gue yakin loe begitu mengerti” Jelas Ify yang menekan kata ‘Menebus kesalahan’ yang ia ucapkan tadi.

Mendengarjawaban Ify tadi membuat Rio menghembuskan nafas kecewa. Bukan ini jawaban yangia inginkan.

“Terus perasaan loe?” Tanya Rio yang membuat Ify tersentak. “Perasaan loe dari 2 tahunlalu apa bukan salah satu alasa?”

“Loe masih mau bahas soal perasaan. Loe punya otak gak sih. Loe ngomong seperti di saatyang tidak tepat. Gila loe” Hardik Ify

“Gue hanyangomong fakta akan apa yang terjadi sama persaan loe. Gue tahu apa yang loerasakan” Ucap Rio dengan nada seperti biasanya. Dingin dan acuh

“Loe gak tau apa-apa soal perasaan gue. Jadi berhenti bersikap seakan loe mengerti apa yanggue rasa” Ucap Ify sambil meninggalkan Rio yang terus memandang nanarpunggungnya.

‘Gue tahu perasaan loe,karena itulah yang juga gue rasakan’ Batin Rio
***Shilla melajukan mobilnya dengan kecepatan stabil. Hari ini ia memutuskan untuk tidak pulang kerumahnya. Ia justru melajukan mobilnya ke arah Bogor. Ia tau pasti Gabriel saat ini mencari keberadaannya, namun tadi sebelum ia meninggalkan rumah sakit, iasudah berpesan pada asistennya untuk menyampaikan bahwa ia pergi ke daerah Bogor dan ia juga berpesan agar asistennya menyampaikan agar Gabriel tak perlu menyusulnya

Saat ini ia sudah berada di perkampungan tujuannya. Ia menepikan mobilnya di lapangan yang biasa di gunakan anak-anak bermain sepak bola. Begitu kakinya menyentuh tanah kampungini matanya terpana. Tidak ada yang berubah, batinnya

Ia pun berjalan menyusuri kampung ini. Ia sangat merindukan kampung ini. Ia sudah lupakapan terakhir ia menginjakkan kaki di sini.

“Teh Shilla.Ini bener kalau ini Teh Shilla” Panggil seorang gadis yang menghentikanlangkahnya. Ia melihat seorang gadis yang masih memakai mukena. Sepertinya gadis itu baru selesai sholat Subuh
“Iya ini Dea? Ya ampu De aku kangen sama kamu” Ujar Shilla dengan mata berbinar. Gadis yang ada di depannya dari dulu tak pernah berubah. Tetap cantik dan bahkan iamelihat gadis ini semakin imut

“Ya allah Teh Shilla. Bener ini teh saya. Teteh apa kabar. Wah saya denger Teh Shilla  sekarang jadi dokter hebat ya?” Tanya Dea denganlogat Sunda khasnya

“Ya kamu tahu aja. Oh ya gimana kabar Bu Inah” Tanya Shilla

“ Baik teh. Teh Shilla mau ketemu Bu Inah?” Tanya Dea. Shilla hanya mengangguk. Shilla pun kembali melangkahkan kakinya. Namun saat ia mau mengangkat kakinya untuk melangkah, langkahnya harus terhenti saat ia mendengar suara baritone memanggilnya

“Shilla”






Visit this page: www.obatkistatradisional.net

                         Diananissa ifc

Kamis, 05 Juni 2014

Play Of Destiny -Part 1 (Hope)


***

 Aku berdiri melawan takdir, bertahan di atas takdir, dan berjalan melewati takdir. Takdir yang telah merubah  hidupku. Merusak kepingan kebahagiaan yang telah ku susun di hidupku. Kalau boleh aku meminta, aku ingin waktu berputar walau harus terjebak dalam kubangan kenangan itu, namun itulah kebahagiaanku...

***

Berlin City, Jerman.

Seorang pemuda terlihat duduk di sebuah taman. Pandangannya kosong, tak ada yang mampu mengartikan pandangan itu. Pemuda itu terdiam tak berkutik bahkan salju kota Berlin pun tak mampu mengerakkan saraf -saraf tubuhnya. terdengar suara langkah kaki mendekatinya, namun pemuda itu tetap tak bergeming. Seorang gadis kini beridiri di hadapannya. Namun tetap tak akan pernah bisa merubah objek pandangan pemuda itu.

"Yo, gue boleh duduk sini?" tanya gadis itu. Pemuda itu tak bergeming, namun tubuh bergeser menandakan gadis itu di persilahkan duduk di sampingnya.

"Ada apa?" Tanya pemuda itu dingin. Gadis itu mencelos. Ini sdudah biasa untuknya, setidaknya semenjak ia memutuskan pindah ke kota ini. " Loe mau apa Fy? Mau nyuruh gue balik. Nggak" Sambung pemuda itu lagi dengan nada yang sama. Gadis itu menghembuskan nafas kasar.

"Loe pikir gue jauh - jauh dari rumah sakit nemui loe cuma untuk itu Yo. Gak, gue kesini cuma ingin memastikan keadaan loe masih dalam keadaan bernafas atau tidak. Yah walau gue tau loe udah punya jantung baru, tapi tetep keadaan loe mengkhawatirkan untuk keadaan cuaca sedingin ini. Yah kalau loe gak mau balik ke apartemen loe, itu terserah, gue cuma mau memastikan keadaan loe aja kok. Oh ya satu lagi, jaga jantung itu karna itu bukan milik loe, itu hanya titipan aja" ucap Ify - gadis itu - panjang lebar. Pemuda di samping menghela nafas kasar. Ify tersenyum, apakah pemuda di sampingnya ini menyerah, begitu fikirnya.

"Gimana keadaan Shilla? Apa dia baik - baik aja?" tanya pemuda itu tetap dengan nada dinginnya.

"Gue percaya Shilla baik - baik aja, karena dia ada Gabriel yang menjaga, loe gak usah khawatir. Gue percaya dia baik-"

"Apa dia benci sama gue? Apa dia masih menganggap gue kakaknya?" tanya Rio lagi, memotong ucapan Ify.

"Gue gak yakin Shilla benci sama loe Yo, biar bagaimana pun Shilla adik loe, dia tetap adik loe, gak akan ada yang bisa merubah itu. Dia-"

"Tapi mama sudah mencoret nama Shilla dari keluarga Haling. Apa mungkin Shilla masih menjadi adik gue?Tanya Rio lagi yang memotong kembali ucapan Ify. Ify memutar bola matanya kesal. Sabar Fy, begitu ucapnya dalam hati.

"Yo sekarang gue mau tanya sama loe, apa nama seseorang bisa merubah status dalam keluarga? Apa nama seseorang mampu memisahkan darah yang sudah menyatu. Gak, gak akan. Sekeras apapun mama loe mencoba untuk menghapus nama Shilla gak akan bisa merubah takdir kalau Shilla adalah adik loe. Anak bungsu dari Amanda dan Zeth Haling, Gak akan. Loe harus percaya sama gue" Ucap Ify panjang lebar di hadapan pemuda di sampingnya ini.

"Jadi loe yakin Shilla gak akan membenci gue?" Tanya Rio lagi. Ify menoleh ke arah Rio, ditatapnya wajah tampan pemuda di sampingnya ini. Dua sudut bibirnya terangkat sempurna saat ia melihat binar yang terpancar dari mata pemuda di sampingnya, walau tak begitu ketara. Ify mengangguk yakin.

Dalam hati Rio tersenyum, sedikit harapan itu muncul. "Ya udah Fy, Minggu depan gue ke Indonesia. Loe mau ikut?" Tanya Rio yang sukses membuat Ify terperangah tak percaya

"Mau banget, tapi gak bisa minggu depan. Lo dualuan aja nanti gue susul loe" Rio mengangguk mengerti. Ia benar- benar berharap saat ini dan ia menggantungkan harapan itu dalam hati di saksikan malam salju Berlin.

***

Jakarta. Indonesia

   Seorang gadis berjas putih baru saja keluar dari sebuah ruangan. Begitu ia keluar ia sudah di serbu pertanyaan dari orang - orang yang mungkin dari tadi menunggunya.

"Dok, bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya seorang wanita paruh baya yang tampak kacau. Mungkin sudah lama wanita itu menangis. Gadis yang panggil Dok tadi tersenyum, tangannya terulur ke samping yang di sampingnya itu adalah sebuah pintu ruangan yang tadi ia lewati. 

"Tenang bu, keadaan pasien sudah kembali baik, ibu liat saja secara langsung keadaan anak ibu, silahkan. Ya sudah bu saya mau permisi kembali ke ruangan saya, terima kasih" Ucap gadis itu seraya pergi meninggalkan orang - orang depan ruangan itu. Gadis itu berjalan melewati koridor rumah sakit dengan senyuman yang terus terukir di wajah cantiknya. Tak jarang ada beberapa suster yang menyapanya ramah, iapun juga dengan senang hati menyapa suster - susternya itu.

"Siang dokter Shilla, senyum mulu dari tadi" terdengar suara baritone yang menyapanya. Ia tersenyum begitu tau siapa yang menyapanya hari ini.

"Siang dokter Gabriel, iya dong aku harus selalu senyum, biar pasien - pasien di sini betah sama dokter - dokter yang praktek di sini. Memangnya kamu yang selalu pasang muka jutek. Makanya pasien kamu banyak yang lari ke aku" Jawab Shilla gadis itu sambil tersenyum jahil.

"ye gitu - gitu memangnya aku pacarnya siapa? Lagian ya aku biar jutek seperti yang kamu bilang barusan tapi aku kan dokter terganteng di rumah sakit ini, buktinya kamu mau sama aku" goda Gabriel tak mau kalah. Shilla manyun di goda seperti itu sama Gabriel.

"iya deh aku ngalah sama kamu, ya udah yuk kita ke kantin aja" ajak Shilla sambil menarik jas dokter milik Gabriel. Gabriel menurut saja di tarik seperti ini oleh Shilla.

"Dasar manja"ledek Gabriel 


***

"APA? KAMU MAU KE INDONESIA" Terdengar suara seorang wanita menggema di sebuah ruangan

"Iya ma, Rio mau meneruskan bisnis Rio di Jakarta aja."

"Kamu pikir mama bodoh Rio. Gak kamu pasti mau menemui wanita itu kan? Gak, mama tidak mengijinkan"

"Tante tenang saja Rio tidak akan menemui gadis yang tante maksud"

Dua orang tadi menoleh menghadap ke seorang gadis yang tadi menyahut. Terlihat seorang gadis berdiri dia ambang pintu dengan senyum yang selalu terukir di wajah cantiknya

"Ify" Ucap Rio dan mamanya kompak

BERSAMBUNG



Minggu, 01 Juni 2014

Play Of Destiny- Prolog

Cast: Mario Stevano, Ashilla Zahrantiara, Alyssa Saufika, Gabriel Stevent

***

Ini adalah kisah sederhana tentang sebuah perjuangan, harapan, cinta dan pengorbanan.
Cerita tentang sebuah takdir yang bermain.
Cerita tentang kehidupan lakon yang telah di sutradarai takdir. Yah, kisah klise untuk dipercayai, namun begitu nyata untuk menjadi sebuah mimpi

***
"Kak, gue gak nyangka dengan semua ini. Seperti mimpi"

"Apa ini yang kamu katakan bisa membuat mama bangga? Apa ini buah dari apa yang telah mama berikan? Mulai sekarang jauhi alat-alat itu dari Rio, mengerti"

"Maaf Shill, ini salah gue, gue udah buat dia seperti itu. Maaf, maaf, maaf"

"Kenapa lo pergi Fy. Ini bukan salah lo, bukan, gue mohon kembali, kembali Fy"

"Kamu harus percaya semua ini akan berakhir pasti oke"

***

Takdir yang mempermainkan mereka, ijinkan takdir menghentikannya.


Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...