Sabtu, 31 Oktober 2015

Yang Tak Teraba

***
 Ketika mencintai hanya satu hati. Menorehkan rasa bukan untuk terbalaskan. Selalu menjadi alasan saat air mata tak mampu lagi bertahan dan jatuh melukiskan sakit yang tak lagi tertahankan.

***
Pemuda itu menatap gadis di sampingnya. Gadis yang entah sudah berapa lama bertahan menatap segerombolan pemuda yang sedang berlarian merebut sebuah bola yang terus menggelinding dari satu kaki ke kaki yang lain. Pemuda itu mendesah. Kepalanya mendongak menatap langit yang beradu pada kokohnya matahari yang memanasi bumi.

Gadis itu menolehkan kepalanya ke sisi kirinya. Masih sama seperti beberapa jam yang lalu saat pemuda itu mendatangi dirinya dan duduk di bangku yang sama dengannya. Namun gadis itu masih enggan untuk sekedar berucap. Kembali ia menggerakkan kepalanya ke depan. Menatap seorang pemuda yang masih bergumul pada pemuda-pemuda lainnya hanya untuk berebut satu buah bola. Pemuda berkulit putih yang ia tahu telah menjadi penghuni tetap di bagian hatinya. Entah di bagian yang mana. Yang ia tahu bagian itu adalah bagian yang tak terjangkau oleh apapun dan kekal di sana
.
“Fy..” Gadis itu menegakkan tubuhnya. Menatap pemuda di sebelahnya yang tadi menyebut namanya. Kedua alisnya bertaut menunggu kalimat lanjutan dari pemuda di sampingnya

“Sudah siang Fy. Lo gak mau pulang. Dari pagi lo hanya duduk di sini menunggu dan menatap Alvin terus. Lo gak capek”

Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya. Menolehkan kepalanya menghadap pemuda berkulit coklat di sampingnya. Kemudian menggelengkan kepalanya. Cukup. Ia rasa itu adalah jawaban yang mampu mewakili bibirnya berucap.

 Rio menghembuskan nafasnya. Ia sudah tau bahwa ini lah yang ia dapat saat bibirnya berani berkata pada gadis di sebelahnya. Gadis yang ia tahu terlalu menutup mata untuk melihat sesuatu yang lebih indah dan nyata untuk ia lihat. Selalu menutup telinga hanya untuk mendengar alunan detakan hati lain untuknya. Tapi pada nyatanya gadis itu terlalu jauh hanya untuk sekedar ia cekal tangannya. Karena gadis itu terlalu lincah bermain pada dunia yang ia ciptakan sendiri.

 “Gak ada kata capek untuk dia Yo. Gak akan pernah ada”

Rio memejamkan matanya. Menahan gertakan rasanya yang semakin menyentak menyakitkan di hatinya saat kalimat itu mengalun dari bibir gadis itu. Iya gak akan pernah ada kata capek. Sama seperti dirinya yang tidak akan pernah capek untuk menanti gadis di sebelahnya.

“Ya sudah gue beli minuman sama roti ya. Lo kan daritadi diem terus disini. Gue tahu lo belum makan ataupun minum. Tunggu ya” Gadis itu menganggukkan kepalanya. Matanya menatap punggung Rio yang mulai berjarak darinya

***
“Mas semua dua puluh ribu. Mas.. Halo.. mas”

 “Eh iya mbak. Oh berapa mbak”

“Dua puluh ribu mas” Ucap seorang pelayan toko tersebut. Rio langsung mengambil dompetnya dan mengeluarkan dua buah kertas uang sepuluh ribuan. Pelayan itu menerimanya sambil tersenyum ia berlalu setelah sebelumnnya sempat ia membungkukan badannya.

Rio membalikkan tubuhnya. Berjalan ringan keluar dari toko itu sambil membawa sekantong kresek minuman dan makanan untuk Ify. Sambil bersenandung pemuda itu melangkah ringan kearah Ify yang masih sama seperti beberapa menit sebelum ia meninggalkan gadis itu.

Rio menghentikan langkahnya. Diam sejenak menatap gadis yang diam-diam ia cintai itu. Tangannya mengepal menatap gadis itu yang terdiam kaku melihat pandangan seorang pemuda berkulit putih sedang bercengkerama mesra dengan seorang gadis berpipi chubby di salah satu kursi beton di sisi lapangan. Rio memejamkan matanya. Rasa sakit itu kian keras mencubit hatinya. Bolehkan ia berkata bahwa ia saat ini jauh lebih menyedihkan di banding gadis yang menyendiri di sana.

 Rio membuka matanya. Menghirup nafas sebanyak mungkin dan mencoba berjalan santai untuk menutupi rasa yang ada di hatinya.

***

Ify menutup matanya erat saat semua terjadi begitu saja di depan matanya. Masih terekam jelas di ingatannya saat pemuda itu berjalan dengan senyum merekah kearah seorang gadis yang langsung menyambut pemuda itu dengan senyum yang sangat manis. Dengan gerakan lembut gadis itu langsung mengusap peluh di dahi pemudanya. Sementara pemuda itu merespon dengan usapan lembut dikepala gadis itu. Sebuah kecupan ringan mendarat indah di dahi gadis bertubuh gempal di sana. Membuat Ify nyaris berteriak.

Tangan Ify yang terkepal di sisi tubuh gadis itu perlahan bergerak. Menyentuh dadanya. Menekan pada rasa yang terus meronta di sana. Ify kembali menatap kearah pasangan pemuda berkulit putih dengan gadis bertubuh gempal di sana. Melihat rajukan manja sang gadis di lengan pemuda itu ingin rasanya Ify menarik rambut gadis itu menjauh dari pemudanya.

 “Sudah tau sakit hati masih aja sok kuatin diri liat adegan norak kayak gitu” Ify menegakkan tubuhnya saat suara itu mengisi kekosongan yang ia ciptakan sendiri

“Apa ada yang salah?” Rio menggelengkan kepalanya. Menatap lurus kearah yang sama seperti gadis di sampingnya.

 “Kalau lo mau nangis kenapa gak nangis aja. Percuma lo tahan air mata lo itu gak akan merubah semuanya. Alvin akan tetap menjadi Alvin. Begitu juga dengan Via. Mereka tetap akan seperti itu tidak akan pernah berubah menjadi Alvin juga lo”

 “Dan percuma juga gue nangis karena semuanya tidak akan merubah apa yang sudah terjadi. Dia gak akan pernah menoleh. Dia gak akan mengerti alasan gue menangis dan dia gak akan mau menghapus air mata gue. Jadi mana yang lebih menyakitkan Rio”

Setidaknya ada gue di sini Fy yang selalu ada untuk lo dan mengerti semua di diri lo.

 “Apa cinta butuh mengerti saat ia membutuhkan alasan. Menangis saat lo mencintai seseorang bukan pertanda kelemahan lo untuk bertahan Fy. Menangis berarti menumpahkan rasa yang sudah tidak lagi mampu lo pendam. Gak selamanya cinta sepihak seperti lo itu terus bertahan di dalam kemunafikan. Karena gak selamanya yang tertutupi pantas untuk di simpan. Lo belum makan. Gue beliin roti sama minuman. Lo makan kalo lo masih mau jadi cewek muna”

***
Taukah dia bahwa yang tersakiti jauh lebih sakit saat semua yang ia berikan tak lagi terpandang indah dan berarti. Kesia-siaan yang sudah tak bernilai yang sesungguhnya itu berdasar pada rasa yang telah teredam di hatinya. Sakit itu terasa seperti puluhan jarum yang menancap kokoh di sana. Hati yang selalu indah mengukir namanya

***
Duk duk duk

Suara bola yang beradu pada lantai menggema merdu di ruangan itu. Irama yang menemani kesenduan seorang pemuda berkulit coklat yang begitu tenang memantulkan bola oranye itu. Tak jarang pemuda itu melempar benda tersebut ke sebuah keranjang yang berdiri kokoh di sudut ruangan.

 Bughh

Bola itu terpental menjauh dan jatuh kembali tanpa menyentuh lubang di tengahnya. Shit.

 “Rio. Lo di sini. Ngapain bolos pelajaran sih. Pak Indra tadi nyariin lo. Karena lo gak ada dia nulis alpha di absen lo. Demen banget lo bolos. Apa sih yang lo dapet dari bolos. Hah? Eh malah diem gue di cuekin lagi. Hey bro denger gak sih gue ngomong”

Rio menghentikan kegiatannya. Melempar bola itu ke sudut ruangan tersebut, meninggalkannya dan berjalan kearah seorang pemuda lainnya yang berdiri di pinggir lapangan sambil melipat tangan di dada. Rio menatap pemuda itu. Kemudian melengos pergi meninggalkan pemuda itu.

“Cukup Vin. Lo jangan cari gue lagi. Gue butuh menenangkan diri” Alvin menepuk pundak Rio. Menghentikan langkah Rio yang sebelumnya ingin ia mulai. Alvin menarik pundak itu. Menghadapkan pemuda berkulit coklat itu ke arahnya.

 “Lo kenapa Yo. Kenapa sikap lo jadi seperti ini ke gue. Apa gue ada salah sama lo?”

 Rio mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar di sisi tubuhnya. Menahan gejolak emosi yang mulai merambat di dirinya. Alvin menatap kedua tangan Rio yang mengepal itu. Rasa heran muncul di dirinya

“Gue udah kenal lo tujuh tahun Yo. Apa ada alasan untuk lo menyimpan sesuatu yang gak gue tau. Kenapa sikap lo jadi dingin ke gue. Apa gue boleh nanya hal itu ke lo”

Rio menatap Alvin. Matanya menatap tajam kea rah pemuda bermata sipit itu. Alvin yang tidak mengerti tatapan tajam Rio pun mendesah. Ia beranjak pergi meninggalkan sahabatnya itu setelah sebelumnya menepuk pundak sahabat semasa kecilnya dulu

“Apapun yang terjadi sama lo. Gue gak akan pernah nyerah untuk menjadi sahabat lo bro”

Alvin melangkahkan kakinya menjauh. Namun langkahnya sempat terhenti saat ia mendengar kalimat dingin menggema di ruangan basket tersebut

 “Berhenti menyakiti Ify kalo lo masih menganggap gue sahabat lo Alvin”

***
Alvin menatap gadis itu diam-diam. Gadis berdagu tirus yang secara tidak langsung membentengi jaraknya dengan sahabatnya. Ify. Nama yang di sebut oleh Rio dengan begitu datar sarat emosi masih terekam jelas di ingatannya. Sesuatu yang sesungguhnya ia sendiri pun tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, Rio dan Ify yang seakan-akan begitu berkaitan erat. Sungguh Alvin tak mengerti hal itu.

 “Al..”

 Alvin menolehkan kepalanya. Seorang gadis berkulit putih dan berpipi chubby berdiri di sisinya. Menatap heran kearahnya. Gadis itu duduk di bangku kosong di sebelahnya. Menatap lembut tepat di matanya. Alvin memasang senyum terbaik untuk gadis tercintanya itu. Menghalau sedikitnya beban yang sempat menghimpitnya walau hanya sejenak.

“Kamu kenapa Al”

 “Gak papa sayang. Kamu gak istirahat hmm?” Sivia menggelengkan kepalanya. Tangannya melingkar di lengan Alvin. Mendekap dengan manja pemuda yang ia cintai itu.

“Gak. Gimana aku mau istirahat. Kamu aku panggil dari tadi gak denger. Kamu liatin apa sih?” Tanya Sivia dengan suara lembut. Alvin tersenyum mendengarnya. Suara lembut yang selalu menjadi candu untuknya. Betapa ia mencintai gadisnya saat ini. Semua.. semua yang ada di diri gadis tersebut.

“Ya udah kita ke kantin aja. Kasian kalo kamu gak makan nanti mama kamu marah lagi sama aku”

 Mereka pun beranjak. Melangkah bersama dengan tangan saling bertaut. Diiringi dengan tatapan iri dan kagum dari semua orang termasuk gadis itu. Ify.

Drttt.. drtt.. Drtt

 Ify mengambil handphone di sakunya. Sebuah pesan singkat yang langsung membuat matanya melebar. Temuin gue nanti sepulang sekolah di taman belakang. Alvin

***

 Diam. Hanya itu yang mereka lakukan sedari tadi. Hanya bunyi desauan angin yang menemani mereka. Detik terus berjalan. Namun sepatah kata pun tak ada yang berani menguar dari bibir mereka. Desahan nafas terus saja menjadi pengisi suara mereka. Debaran jantung dari salah satu diantaranya bagaikan alarm bagi sang pemilik agar semua cepat berakhir, namun apalah guna semua itu. Hanya kebungkaman yang terus mengukung keduanya.

“Fy. Apa kabar?” Ify menegakkan tubuhnya. Suara berat itu menyapa telinganya untuk pertama kalinya. Entah apa yang terjadi pada hatinya. Sorakan kebahagiaan menggema gempita di sana. Bolehkah ia egois sejenak. Ya hanya sejenak. Setidaknya beberapa menit atau bahkan detik ke depan.

“Ya gue baik dan akan selalu baik” Alvin menoleh kearah Ify. Menampilkan senyum manis yang selalu menjadi alasan untuk Ify tetap terlena dalam mimpinya. Hanya itu. Bukankah memang cinta itu sederhana.

 “Gue rasa Rio berhasil menjaga lo ya” Ungkap Alvin membuat Ify menatap bingung ke arahnya.

“Kok Rio?”

“Buktinya dia begitu protect menjaga lo. Bahkan dia menjadikan alasan kerenggangan hubungan gue dan dia karena gue menyakiti lo. See”

Ify membeku seketika mendengar ungkapan Alvin. Dalam hati ia merutuk keras pada Rio yang dengan lancangnya ikut campur urusan hatinya.

 “Gue gak tau apapun”

Alvin tersenyum di tempatnya. Alvin memandang Ify di sampingnya. Entah apa yang ada di dalam diri gadis itu. Alvin pun tak mengerti. Ada rasa dalam dirinya untuk menelisik lebih jauh tentang gadis di sampingnya. Namun ia sadar ada benteng yang harus ia jaga pertahanannya. Yaitu perasaan yang selalu terpusat pada kekasihnya. Ia tak ingin kehadiran gadis di sampingnya mengalihkan semua yang ia miliki. Kini Alvin rasa semua harus berakhir. Persahabatannya dengan Rio maupun kaitannya dengan dirinya, gadis di sampingnya ataupun Rio. 

“Rio bilang ke gue agar berhenti menyakiti lo. Apa lo memang benar-benar tersakiti oleh gue. Katakan aja. Gue tau lo adalah gadis yang baik. Dan lo gak akan pernah mau menyakiti orang lain. Tapi bukan berarti lo harus jadi perempuan munafik hanya untuk menutupi sesuatu yang memang sudah terjadi. Apapun yang berkaitan dengan gue. Gue gak suka hal itu”

 Ify meremas kedua telapak tangannya. Taukah kalian apa yang kini Ify rasakan sumpah demi apapun ia takut. Sebuah rasa yang tak pernah ia bayangkan itu ia rasakan saat bersama pemuda yang ia cintai. Sekali lagi Ify merutuki apapun yang kini terjadi. Termasuk kelancangan dari pemuda itu. Rio.

“Memang apa yang lo fikirkan tentang gue. Lo bahkan gak tau apapun tentang gue Alvin. Sementara lo tiba-tiba datang ke hadapan gue. Seakan-akan lo menuntut apa yang gue rasakan agar gue mengatakannya ke lo. Apa lo berhak?”

 “Gue berhak jika itu menyangkut tentang gue..”

“Tapi lo gak tau apapun tentang gue bagaimana lo bisa mengerti gue”

Alvin meremas rambutnya. Mengusap kasar wajahnya. Sungguh dalam waktu singkat apa yang ia bayangkan semua musnah hanya karena keras kepala dari gadis yang membuatnya terjebak di sini.

 Ify menghembuskan nafasnya kasar. Tak ia sangka saat pertama kalinya ia berbicara dengan pemuda yang selalu ia angankan justru yang terjadi adu mulut penuh emosi menjadi pengisi di antara mereka. Dengan menahan kesal Ify bangkit dari duduknya. Berjalan beberapa langkah meninggalkan Alvin yang masih menangkupkan wajahnya.

“Mau kemana lo?” Ify menghentikan langkahnya begitu suara itu bergumam. Ify memejamkan matanya sekali lagi. Tangannya perlahan menyentuh dadanya. Menekan dalam rasa yang bermenit-menit lalu ia tahan.

 “Pulang” Jawabnya dengan suara parau. Alvin menatap langkah kaki Ify yang perlahan menjauh.

“Gue mohon Fy apapun yang gue lakukan sama lo gue minta maaf tapi tolong kembalikan Rio ke gue. Kembalikan dia seperti Rio tujuh tahun yang lalu gue mohon Fy”

Ify yang mendengar ucapan Alvin menutup bibirnya di balik pohon pinus. Menggigit bawah telapak tangannya untuk menahan isaknya keluar. Sungguh Ify tak pernah sadar mencintai Alvin adalah hal tersulit untuknya. Disaat semua yang mulai terjadi saat ini justru kehadirannya lah yang menjadi pusat dari sebuah kesalahan yang terjadi. Benarkah seperti ini cintanya yang hanya satu hati itu. Belum puaskah waktu menghimpitnya dengan berbagai luka di hatinya?

***
 Cintanya bukan cinta yang biasa. Bukan cinta yang Tuhan anugerahkan untuk di rasakan kebahagiaannya. Bukan cinta yang hadir untuk di dekap sebagai penyalur kehangatan. Cintanya bukan cinta yang biasa. Cinta itu cinta sendiri. Hanya ia yang memiliki. Hanya ia yang merasakannya dan mungkin hanya ia yang mempertahankannya.

***
 Langkah Ify terhenti saat sebuah tangan menarik tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya pada sebuah dada bidang. Ify hafal aroma ini. Dengan aroma musk bercampur water gloss yang seketika membuat siapapun terlena saat menghirupnya. Memberikan ketenangan jiwa yang bergejolak menjadi seirama kembali.

 Ify meremas kuat baju yang ia yakini milik Rio. Menumpahkan segala air mata di dada bidang itu. Memperdalam kepalanya mencari kehangatan juga ketenangan. Sungguh yang ia butuhkan hanyalah ketenangan. Dan Ify tak peduli apapun itu tentang siapa dan bagaimana yang menenangkannya.

“Maafin gue Fy”

Tangisan Ify terhenti. Merekam secara baik ucapan yang baru saja bergumam. Ify mendongakkan kepalanya. Menatap Rio yang juga menatap dirinya dengan pandangan yang ia pun tak mengerti. Ify memejamkan matanya saat tangan kokoh itu mengusap lembut matanya yang berair. Ify menikmatinya. Entah apa yang ia rasakan. Perasaan nyaman yang selalu ia bayangkan jika suatu saat nanti bisa berada di posisi yang sama jika bersama Alvin, mungkin. Namun pada nyatanya yang ada di hadapannya, yang menatap dirinya, dan yang merengkuh tubuhnya adalah laki-laki asing yang entah bagaimana caranya bisa masuk kehidupannya. Ify pun tak mengerti dan ia tak ingin mengerti.

“Gue marah sama lo Yo. Gue kecewa” Lirih Ify. Rio yang mendengarnya semakin mengeratkan genggamannya pada bahu Ify. Menatap gadis itu penuh memohon.

“Gue tau dan gue terima semua itu. Gue minta maaf Fy. Gue gak bisa liat lo begini terus tersiksa sama perasaan lo sendiri”

Ify menggelengkan kepalanya. Sambil menundukkan kepalanya ia memejamkan matanya. Menetralisir perasaannya yang ia rasa kacau saat ini.

“Ini perasaan gue Rio. Ini udah pilihan gue. Gue berani mencintai seseorang gue juga harus siap menghadapi resikonya. Cinta yang gue punya bukan cinta biasa. Gue mencintai seseorang tanpa orang itu tau, tanpa orang itu membalasnya. Jadi gue harus siap merasakan bagaimana sakitnya. Dan harus siap menghadapinya. Jadi gue mohon Rio jangan lakukan ini sama gue. Jalani hidup lo yang seharusnya. Jangan anggap gue adalah wanita rapuh. Karena nyatanya gue bisa bertahan sama perasaan gue sendiri. Gue..”

 “Hushh. Sudah cukup. Lo sudah cukup untuk bicara lagi. Gue minta maaf. Gue janji gue akan pergi dan gak akan mengusik apapun mengenai jalan hidup lo. Gue janji”

 Rio kembali menarik tubuh Ify. Mendekap erat tubuh mungil gadis yang ia cintai sama seperti cinta gadis itu terhadap Alvin. Cinta yang tak biasa. Cinta yang hanya ia yang tahu. Hanya ia yang memilikinya dan dirinyalah yang selalu mempertahankan rasanya sendiri saat sakit melandanya. Rio mengusap lembut rambut gadis itu. Biarkan ia egois. Menuruti ego yang selalu ia tahan saat bersama gadis itu. Mencintai Ify bukanlah sebuah dosa. Jadi ijinkan dia mengambil kesempatan yang hanya sejenak itu saat ini saja.

***

 Kehadirannya tak lagi terasa. Masih teringat jelas saat ia memeluk diriku erat. Mengelus lembut rambutku. Masih terasa hingga kini kehangatannya. Namun apa yang terjadi. Saat pelukan itu kian berjarak. Bayangannya perlahan menghilang. Aku mengingatnya saat langkah itu perlahan menjauh. Dan kini aku tak lagi tau dimana ia dan bagaimana keadaanya. Apakah yang terjadi terhadapnya. Sungguh aku tak mengerti dan jujur aku merindukan hadirnya.

 ***
 Ify menatap kursi kosong di sampingnya. Kursi yang ia tahu telah di tinggali pemiliknya beberapa minggu yang lalu. Ify tak tahu apa yang terjadi pada pemuda itu.

Gue janji gue akan pergi dan gak akan mengusik apapun mengenai jalan hidup lo. Gue janji.

Ify tersentak saat sebuah bayangan kalimat terngiang di memorinya. Keringat dingin mengucur di dahinya.

 Brakk.

Ify terperanjat. Pintu kelas secara kasar di dobrak oleh seseorang. Seorang pemuda berlari kearah Ify. Ify menautkan alisnya saat pemuda itu berlari dan menghindari hilir mudik siswa lainnya. Ify tergugu. Getaran itu sudah tidak ada lagi. Mungkinkah

“Fy. Rio Fy.. Rio” Tubuh Ify menegang mendengar nama itu. Matanya langsung melirik kearah Alvin. Menatap pemuda itu yang menatapnya panic

“Ri.. Rio kenapa?”

“Dia kecelakaan..” Tubuh Ify kaku seketika. Aliran darah mendadak berhenti saat ini. Oh God apa yang terjadi. Ada apa terhadap dirinya saat ini

***
Cintanya tulus, ada dan nyata. Namun cinta itu menyendiri. Berjuang agar tetap tumbuh dan kekal di sana. Namun ternyata hatinya berdusta. Kini cinta itu telah lelah. Perlahan ia meninggalkan rumahnya dan kini cinta itu tak lagi teraba dan nyata

 ***
 Kedua orang itu mematung. Menatap kosong ke layar flat yang menempel di ruangan itu. Deru nafas memburu mengiringi hening yang mereka ciptakan. Sementara itu gadis lain di sana menutup erat telinganya saat ucapan demi ucapan disana tanpa di sadari menyudutkan keberadaannya.

Alvin menatap sendu sosok pemuda di balik layar itu. Rasa sakit seakan memelintir hatinya. Alvin menutup matanya erat. Memendam lebih dalam lagi air mata yang hampir menumpuk di matanya. Sungguh kalimat itu bagaikan tamparan baginya.

Sementara ia. Gadis yang selalu di sebut di setiap kata sosok di sana. Hatinya menciut. Rasa sakit itu kian menyiksa. Sakit yang ia rasakan kini seperti pengakumulasian rasa sakitnya yang terdahulu.

“Fy apa boleh gue bilang kalau sakit yang gue rasakan lebih sakit dari lo. Sakit saat gue merasakan semua yang gue lakukan dulu untuk lo terasa sia-sia karena gue seperti tersingkir begitu saja hanya karena Alvin”

Ify menegakkan tubuhnya. Air matanya tak henti turun menghiasi wajah tirusnya. Sementara Alvin. Ia mengenggam erat tangan dingin Sivia di sampingnya. Mereka sama-sama menutup mata berharap tidak ada lagi kata-kata kejujuran dari pemuda itu.

 “Mungkin dulu gue ingin egois saat pertama kalinya gue melihat lo nangis saat tahu bahwa Alvin jadian sama Sivia. Rasa benci itu perlahan muncul. Gue gak bisa liat orang yang gue cintai sakit secara bertubi-tubi. Maaf bro mungkin gue egois sama lo. Membawa perasaan gue ke persahabatan kita. Tapi gue gak bisa nahan. Rasanya gue mau bunuh lo Vin setiap gue menghapus air mata Ify”

Alvin menundukkan kepalanya. Air mata itu perlahan membasahi kedua pipinya.

 Klik. Brak

Ify dan Alvin mendongakkan kepalanya. Menatap Sivia yang terduduk lemah di bawah meja tv sambil mengenggam remote. Alvin bangkit dari duduknya. Berjalan perlahan mendekati kekasihnya yang masih menangis di sana.

 “Maaf Vi. Maaf.”

“Fy bilang sama gue seberapa sakit lo selama ini. Seberapa terlukanya lo mencintai Alvin. Jawab gue Fy jawab”

Ify menutup matanya. Isakannya kian mengeras. Tangannya mengepal erat. Rasa sesak itu semakin menghimpitnya. Ify hanya butuh dia. Ify butuh Rio.

“Sudah Vi sudah. Sebaiknya kita pulang. Kamu istirahat ya”

“tapi Al”

“Hushhh. Sudah pulang aja. Via lo gak perlu khawatir lagi. Perasaan gue sama Alvin sudah hilang. Vin bawa Via. Dia butuh istirahat” Alvin mengangguk. Setelah mengangkat tubuh kekasihnya ia berjalan perlahan meninggalkan rumah Ify. Sebelumnya ia sempat menoleh kearah gadis itu. Menatap sebagai tanda mohon maaf dan terima kasih. Perlahan keduanya menghilang

Ify terduduk lemah di tempatnya. Sambil mendekap erat sebuah CD di tangannya, air mata it uterus mengalir. Di iringi dengan isakan lemah yang menyakitkan.

 “Lo tau Rio. Gue jatuh cinta sama lo. Lo berhasil menutup mat ague dari Alvin. Tapi apa yang terjadi. Kenapa lo pergi. Lo jahat Rio lo jahat. Disaat lo berhasil membuat gue menoleh kearah lo, justru lo tinggalin gue. Ini hukuman dari lo hah. Jawab gue Yo. Riooo…”

 ***

Cintanya yang tulus telah menghilang secara nyata. Namun percayalah. Di dalam hatinya rasa itu terus tumbuh dan berkembang disana walau tetap sampai kapanpun cinta itu tak akan pernah teraba. .

END

Selasa, 20 Oktober 2015

Play of Destiny (Kebimbangan)


*** 
Ify menatap punggung Rio yang berjalan beberapa langkah di depannya. Pandangannya tak sedikitpun beralih dari pemuda itu. Rio yang merasa ia berjalan sendiri pun menghentikan langkahnya. Menatap heran di samping kanannya yang kini tidak ada siapapun. Rio membalikkan tubuhnya. Terlihat di sana Ify yang berjalan mematung. Rio menggelengkan kepalanya lalu berjalan kembali kea rah Ify dan meraih tangan gadis itu.

“Lo ngapain bengong hah? Ini tuh Jakarta banyak hal yang akan terjadi kalau lo gak fokus nona” Bisik Rio di telinga Ify membuat tubuh Ify menegang. Ah sial.

“Ishh apa-apaan sih lo. Lo ngapain disini. Bukannya tadi di depan gue?”

“Nah kan ketahuan lo lagi bengong. Ckck lo bukannya mikir kita mau kemana setelah ini juga”
Ify mendengus mendengar kalimat santai dari pemuda di hadapannya. Dengan kesal ia pun langsung menjitak kepala Rio.

Awww

“Lo bukannya terima kasih sama gue udah siapin tiket buat ke Jakarta masih aja ya lo sempat-sempatnya. Ishh”

“Siapa juga yang minta” Mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir Rio sontak membuat langkah Ify terhenti. Dengan mata melotot ia menatap garang Rio yang berjalan santai di depannya. Dengan emosi ia melepas boots-nya dan melempar benda itu kea rah Rio.

Happ. Dengan sigap Rio langsung menangkap boots Ifyyang hampir mendarat mulus di kepalanya. Dengan santai ia pun berjalan ke arah Ify yang masih menatapnya sambil menatapnya tajam. Rio langsung meletakkan sepatunya di bawah kaki Ify sambil berjongkok. Dengan lembut Rio mengangkat kaki Ify dan memasukkannya pada boots milik gadis itu. Ify tertegun melihatnya. Dalam hati ia merutuki dadanya yang terus memberontak di sana.

“Lo lulus sekolah kan. Sepatu itu tempatnya di kaki bukan di kepala nona Alyssa” Ucap Rio sambil berlalu meninggalkan Ify yang masih mematung di tempatnya. Namun lagi-lagi Rio membalikkan tubuhnya saat ia merasakan jalan sendiri lagi. Sambil mendecak kesal ia pun langsung menarik tangan ify mengikutinya.

'lo selalu mudah mainin hati gue Yo. Good job boy'

***
“Teh hati-hati ya di jalan. Nyetirnya jangan ngebut. Bahaya. Lagipula ini udah hampir maghrib nanggung kenapa gak besok aja balik ke Jakartanya”

Shilla tersenyum. Ia mengambil tangan Dea, mengenggam sambil mengelus bermaksud untuk menenangkan gadis itu.

“Aku gak papa kok Dea. Kamu gak usah khawatir aku gak pernah ngebut kok. Begini-begini aku juga masih sayang sama nyawa aku. Kamu gak usah khawatir ya. Lagi pula kalo aku gak cepet balik gimana sama pasien aku hmm. Oh ya aku titip Bu Inah ya”

Dea memanyunkan bibirnya. Dengan berat ia menganggukkan kepalanya. Dea langsung menabrakkan dirinya ke tubuh mungil Shilla. Memeluk erat tubuh gadis yang sudah sangat ia sayangi itu melebihi apapun yang ia punya.

“Teh inget ya. Sesedih apapun teteh saya siap buat selalu ada di sisi teteh. Inget satu hal teh. Kita selalu di hadapkan pilihan saat takdir datang. Menghadapinya atau lari. Tapi teteh sudah memilih yang kedua. Dan alangkah lebih baiknya teteh kembali ke takdir itu dan mencoba menghadapinya. Bisa kan teh?”

Shilla menganggukkan kepalanya. Dengan lembut ia mengusap rambut Dea. Gadis yang selalu ia butuhkan saat waktu kejam menyiksanya.

“Ya udah kalo gitu aku berangkat ya. Aku titip ibu. Bilang sama ibu terimakasih sudah mau nerima aku di saat aku lagi butuh kalian. Ibu juga kamu”

Dea menganggukan kepalanya. Ia langsung memeluk tubuh Shilla sekali lagi. Biarkan. Ia masih ingin memberikan ketenangan untuk nona mudanya yang sangat ia sayang.

“Hati-hati Teh Shilla” Shilla tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu masuk ke mobilnya dan mengemudikan mobilnya dengan tenang

***
”Maaf dokter Shilla hari ini gak masuk. Dia ijin katanya ada urusan di luar kota di desa gitu. Ehmm kalo gak salah di daerah bogor. Kalian ini siapa ya. Apa ada urusan sama dokter Shilla biar saya nanti sampaikan”

Rio menggelengkan kepalanya. Dengan menyunggingkan senyumnya ia mengibaskan tangannya pada seorang suster muda di hadapannya juga Ify.

“Gak usah sus. Saya tau kok itu dimana. Emhh kami bukan siapa-siapa kok. Kami cuma mau ketemu sama dokter Shilla saja. Ada sedikit urusan”

Suster itu menganggukkan kepalanya. Setelah membungkukan badannya, suster muda itu pun mengundurkan diri dari hadapan Rio dan Ify.

Rio menatap Ify. Gadis itu sudah terlihat lelah. Wajar saja setelah tiba di bandara mereka langsung mencari alamat rumah sakit tempat Shilla praktek. Namun yang ada gadis itu sedang tidak di tempat. Rio menghembuskan nafasnya. Rio pun mau mengucapkan sebuah kalimat, namun belum saja kalimat itu terucap sudah terpotong oleh ify yang sudah terlebih dulu berbicara.

“Gak salah lagi pasi dia di rumah Bu Inah. Ya sudah Yo kita langsung ke Bogor sekarang”

“Tapi Fy..”

“No no no. Gak ada penolakan. Kita sudah jauh-jauh ke Jakarta. Gue bahkan mengorbankan pasien gue di Jerman demi shilla. Dan gue gak mau membuang waktu lagi. Ayo Yo. Keburu gak ada waktu lagi”

Rio ingin menolak namun lagi-lagi ify berbicara mengurungkan niat Rio. “Kita sama-sama berjuang demi Shilla Yo. Dan apapun kita harus rela korbankan. Gue bahkan sudah gak perduli apapun lagi sebelum gue lihat Shilla dan meminta maaf sama dia. Gue mohon Yo”

Rio mengurutkan dahinya. Ia pun menghembuskan nafasnya sejenak. Kemudian dengan berat hati ia pun menganggukan kepalanya

***
Shilla menatap lurus kedepan. Riak air menjadi alunan merdu yang menemani kesendiriannya di kolam renang rumahnya. Angin malam dengan lembut menyapu wajahnya, menarikan rambutnya yang ikal di bawah.

Shilla mendongakkan kepalanya ke langit. Tiba-tiba ia di buat tertegun oleh hamparan titik putih di langit kelabu di atasnya. Senyum pedih mengembang di wajahnya. Sekelebat bayangan masa lalu mengusik ketenangannya.

“Aku tuh mau kita itu seperti bintang?” Ucap Gabriel sambil menyandarkan kepala Shilla di pundaknya. Shilla mendongakkan kepalanya menghadap Gabriel. Menautkan kedua alisnya bertanda menuntut kejelasan

“Kamu liat deh mereka tuh kecil-kecil loh. Tapi mereka berkumpul menjadi satu membentuk sebuah cahaya di kegelapan. Dan liat dengan cahaya mereka yang tidak sebanding sama gelapnya langit. Mereka tetep jadi pusat perhatian semua orang bahkan banyak yang berharap untuk hidup mereka sama bintang-bintang itu”

“Seperti kamu kan?” Gabriel tertawa kecil mendengar pertanyaan singkat dari gadisnya. Dengan lembut ia mengusap rambut gadisnya itu dan meletakkan dagunya di puncak kepala Shilla. Dengan lembut Gabriel semakin menarik dalam tubuh mungil Shilla ke tubuh tegap miliknya

“Aku mau cinta kita seperti mereka. Gak perlu sebesar apapun kita saling mencintai, yang aku mau sekecil apapun cinta kita tetep ada kesempurnaan. Yaitu saling percaya, saling jujur dan terakhir saling melengkapi kekurangan. Sama seperti langit malam sama bintang”

“Hemhh”

“Langit yang gelap membutuhkan cahaya dari mereka. Dan bintang yang kecil itu butuh kegelapan agar cahaya mereka terlihat terang”

Mendengar ucapan Gabriel membuat tawa kecil keluar dari bibir Shilla. Gadis itu semakin memperdalam tubuhnya di pelukan pemudanya.

“Aku rasa aku sudah seperti malam kok. Sudah sangat sempurna karena sudah memiliki bintang sendiri. yaitu kamu. Makasih sayang”

Gabriel menganggukkan kepalanya. Dengan lembut ia mencium puncak kepala Shilla. “Aku cinta kamu”

Air mata Shilla mengalir deras. Isakan tangisnya menjadi temannya malam ini. Bayangkan ia baru saja merasa bahwa semua yang di katakan oleh pemuda itu seperti sebuah anugerah yang seketika menjadi bumerang kini

“Ternyata gak selamanya bintang itu setia sama malam. Buktinya bintang hadir tapi mereka terlihat jauh dari malam. Hmmhh kalau tau begini aku gak perlu mengatakan bahwa aku adalah malam yang sempurna. Karena nyatanya malam sudah kehilangan jauh dari bintang. Sama seperti kita”

Shilla menekuk kakinya. Memeluk erat keduanya dan menenggelamkan wajahnya di sana.

“Apa pantas aku katakan bahwa janji kamu kosong. Apa pantas. Pada kenyataannya kamu gak pernah menjanjikan apapun untuk aku tapi sekarang aku seperti merasa menginginkan ucapan kamu di tepati sekarang. Aku butuh kamu Yel. Aku sangat membutuhkan kamu”

***
Dea menatap tak percaya dua sosok pemuda pemudi yang berdiri tepat di hadapannya. Ia tak percaya atas apa yang kini ia lihat. Berulang kali kepalanya ia gelengkan untuk meyakinkan bahwa yang ia lihat memanglah sebuah bayangan. Namun ternyata ia salah. Objek yang ia harapkan bayangkan itu tidak memudar bahkan menghilang. Justru semakin terlihat nyata.

“Saha atuh neng. Kok gak di ajak masuk” Terdengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Di susul suara derap langkah yang semakin mendekat.

“Neng saha? Kok di biarin. Kalian teh.. Astaghfirullah kalian?”

“Aa Rio? Teh Ify?”

Rio menatap ke dua wanita di hadapannya. Dengan senyum ia membungkukan tubuhnya dan mencium tangan seorang wanita paruh baya. Di susul oleh Ify yang melakukan hal sama kemudian di lanjutkan dengan mencium kedua pipi seorang gadis yang berusia dua tahun di bawahnya.

“Nak Rio? Non Ify kalian teh?”

“Malam bu” Ucap Rio sambil menatap lembut kearah Bu Inah. Tiba-tiba tubuh Rio hampir limbung akibat sebuah terjangan tiba-tiba yang langsung mengurung tubuhnya. Di susul suara isakan dari dalam pelukannya. Ify yang melihat Dea menangis di pelukan Rio hanya mampu menutup bibirnya . Menahan tangis yang hampir menyeruak dari kedua matanya.

“Ya allah ini beneran kalian. Ini.. Ini bener Nak Rio. Ya Allah. Ibu gak nyangka kalian”

Ify langsung menabrakkan tubuhnya pada tubuh ringkih Bu Inah. Tangisnya pecah di sana. Bu Inah dengan lembut mendekap penuh kasih sayang gadis. Gadis yang sudah ia anggap anak sama seperti nonanya. Shilla.

“maafin Ify bu sudah jahat selama ini sama Shilla. Ify.. ify sudah”

“Hushh sudah non sudah. Jangan menyalahkan diri sendiri. Semua teh sudah terjadi. Non Shilla sekarang baik-baik saja non. Jadi gak ada yang perlu di khawatirkan”

“tapi bu..”

“Sudah sekarang lebih baik aden sama non masuk ya. Sudah malam. Kita ngobrol di dalam dalam saja”

Ify mengangguk. Ia pun masuk di susul Rio yang berjalan di belakangnya sambil mendekap Dead an sesekali mengusap air mata gadis itu

***
Sivia menatap sendu Gabriel yang terlelap di hadapannya. Isak tangis ia coba tahan. Bagaimana tidak. Kakaknya tidur sambil memeluk foto Shilla. Mendekap erat foto itu seperti sebuah tubuh yang bernyawa. Jujur Sivia takut pada keadaan kakaknya ini.

Drttt.. drtttt.. Drttt..

Sivia meraih handphonenya. Menatap sebuah pesan singkat yang tertera di sana.

From: Kodok sipit

Vi aku tau apa yang terjadi sekarang sama Gabriel. Maaf aku gak bisa ada di sana untuk membantu kamu. Aku bener-bener sibuk. Tapi aku akan usaha gimana agar aku bisa ke Jakarta nemuin kamu sama Gabriel. Dan membantu Gabriel biar gak terpuruk. Tunggu aku ya

Sivia tersenyum miring saat membaca pesan itu. Dengan sigap ia langsung membalas pesan itu.

To: Kodok sipit

Memang apa sih yang bisa kamu lakuin Vin. Sudahlah kamu selesain aja urusan kamu gak usah pikirin aku sama Gabriel. Yang Gabriel mau adalah Shilla kembali. Dan yang gue butuhkan adalah sepupu lo yang licik itu pergi dan gak lagi ngusik hidup keluarga gue.

Send. Sivia langsung bangkit dari tempat tidur Gabriel. Berdiri di dinding depan kamar Gabriel. Merosotkan tubuhnya di sana dan memeluk lutut sebagai penyangga dagunya. Air matanya mengalir deras. Ini yang membuat hati Via semakin sakit. Bukan hanya yang terjadi pada kakaknya. Dirinya pun sama. Kehidupannya secara serentak merusak jalan yang berusaha ia bangun. Kebahagiaannya. Dan semua hilang akibat seseorang.

Acha.

Tangan Via mengepal di atas lututnya. Rasa sakit semakin bertambah bukan hanya akibat dari gadis itu yang merusak kebahagiaan kakaknya. Namun kenyataan yang semakin menyentaknya. Gadis itu memilik hubungan darah dengan pria yang ia cintai kini. Sungguh kini ia merasakan seluruh tubuhnya mati rasa akibat semua sakit yang beradu di sana.

Tangis Via semakin kencang setelah ia merasakan sebuah tangan yang langsung mengunci tubuhnya. Mendekap erat tubuhnya memberikan ketenangan langsung untuknya. Tubuh tegap itu semakin memperdalam pelukannya. Membuat Sivia berangsur menghilang dari sakit yang sempat membelenggunya.

“Sudah Vi. Cup cup cup. Gue gak papa. Gak perlu lo bebani lagi segalanya karena gue. Mulai saat ini gue sudah memutuskan untuk menjalani semua yang sudah terjadi. Termasuk perjodohan gue dengan Acha”

“Tapi kak..”

“Hushhh sudah. Gak perlu lagi lo pikirin itu. Sekarang lebih baik lo pikirkan bagaimana lagi hubungan lo sama Alvin. Jangan di korbankan. Apapun bisa di pertahankan bila ada perjuangan”

Sivia melepas pelukannya dari tubuh Gabriel. Ia menatap tajam mata kakaknya itu. “Kalo bisa di di pertahankan, kenapa lo gak berjuang untuk Shilla” Ucapnya tajam.

Mendengar kalimat dari adiknya membuat Gabriel tertawa. Lebih tepatnya menertawai dirinya sendiri.

“Terkecuali gue. Gak ada lagi yang bisa di pertahankan dari gue ataupun Shilla. Karena toh pada akhirnya sekuat apapun gue menarik Shilla. Dia akan semakin mengulur dirinya menjauh dari gue. Terus apa yang harus bisa gue pertahanin Via. Gak ada”

Via langsung mendekap tubuh tegap kakaknya itu. Menumpahkan seluruh tangisnya di sana. Sedangkan Gabriel. Ia hanya tersenyum miris untuk dirinya sendiri.

‘Memang pada kenyataannya gak ada lagi yang pantas kita pertahankan. Semua gak lagi sama seperti dulu. Bahkan jalan kita pun tak lagi sama’

***
“Semuanya berubah setelah kalian pergi. Non Shilla bukan lagi perempuan yang ibu kenal. Semua berubah. Non Shilla sudah seperti patung hidup. Bernafas tapi tak ada lagi tujuan untuk dia bergerak”

Ify menundukkan kepalanya mendengar ucapan Bu Inah. Seperti itukah yang terjadi setelah semua yang ia lakukan dulu. Ify semakin keras merutuki dirinya.

“Non shilla terlihat sangat hancur sekali. Den Rio yang di bawa paksa oleh Nyonya di tambah lagi non Ify yang pergi tanpa meninggalkan pesan apapun membuat non Shilla sangat terlihat hancur. Ibu sakit ngelihatnya Den. Setiap malam Ibu selalu berdoa supaya non Shilla bisa kembali lagi. Ibu selalu berdoa supaya kalian datang lagi di kehidupan non Shilla. Tapi semuanya teh Cuma harapan kosong”

Rio memejamkan matanya sambil meresapi setiap kata yang keluar dari bibir Bu inah. Entah apa yang terjadi pada hatinya. Mendengar setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu seperti sebuah jarum yang langsung menusuknya.

Rio melirik Ify di sampingnya. Gadis itu kini terlihat berbeda. Gadis itu kembali seperti Ify yang dulu. Terlihat lemah dan rapuh. Dengan lembut Rio menarik tubuh mungil Ify ke pelukannya. Mengusap lembut rambutnya. Menyalurkan kehangatan untuk gadis yang diam- diam ia cintai itu.

“Tapi semua teh berakhir setelah kehadiran Den Gabriel. Saya teh sempet seneng non Shilla bisa kembali bahagia karena dia merasa di cintai kembali. Tapi ternyata semua berubah. Sekarang non Shilla sudah kembali lagi seperti saat kalian pergi. Ibu bener-bener hancur melihatnya. Ibu gak tau lagi apa yang harus ibu lakukan. Ibu sakit melihatnya. Ibu..”

“Bu maafin Ify.. Maafin Ify. Semua terjadi itu karena keegoisan Ify. Ify egois akibat ketakutan Ify. Ify..”

Bu Inah langsung menarik tubuh Ify yang tadi sempat berlutut setelah melepas pelukan Rio. Memeluk erat dan dalam gadis yang merupaka sahabat dari nonanya. Sementara Rio. Pemuda itu mengurut keningnya frustasi. Kini ia dan Ify sudah di Indonesia. Lantas apa yang harus ia lakukan untuk memperjuangkan adiknya kembali ke pelukannya.

Bersambung

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...