Senin, 21 Maret 2016

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)



Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla menautkan alisnya menunggu gadis itu bicara. Shilla berdehem.

“Ada apa Agni. Masuk aja” Gadis berseragam hijau itu yang merupakan suster sekaligus asisten Shilla itu menggeleng. Agni menundukkan kepalanya membuat Shilla mendesah. Seperti mengerti maksud Agni.

“Dokter Gabriel menunggu dokter di ruangannya..” Agni menghentikan ucapannya. Gadis itu menegakkan tubuhnya menatap atasannya yang terdiam. Agni menghembuskan nafasnya. “Ini soal kepindahan dokter Shilla ke rumah sakit lain”

“Apa?” Shilla menatap Agni yang menundukkan kepalanya. Shilla lantas berdiri dan langsung melenggang meninggalkan Agni tanpa mendengar gadis itu yang terus menyerukan namanya.

***
Brakkk

Gabriel tersentak. Ia lantas menegakkan tubuhnya menatap pintunya yang terbuka dan seorang gadis berjas putih serupa dengannya berdiri menatapnya. Gabriel menundukkan kepalanya. Menahan gejolak dalam dirinya untuk mendekati gadis itu.

“Lo bisa sopan gak. Lo fikir apa hak lo?” Gabriel mendongakkan kepalanya. Menatap Shilla yang berjalan mendekatinya. Gabriel memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya sebelum ia mengucapkan kata di hadapan gadis yang saat ini menatap dirinya.

“Gue yang harusnya nanya ke lo. Apa lo bisa sopan dokter Ashilla. Ini rumah sakit. Dan lo dokter jantung. Kasian pasien lo” Shilla melengos. Menatap Gabriel yang kembali pada aktivitasnya semula.

“Gue di pindah ke rumah sakit lain? Apa maksudnya?”

“Itu perintah dokter Shilla” Shilla menggelengkan kepalanya. Menatap Gabriel yang seakan tak peduli dengan kehadirannya. Shilla mendongakkan kepalanya. Menahan agar tak ada air mata yang jatuh dari kedua matanya.

“Gue harus tahu kehadiran gue di rumah sakit ini udah gak berarti apapun lagi. Gue tunggu surat keterangan kepindahan gue. Dan gue akan sangat berterima kasih sama lo kalo gue mendapatkan rumah sakit yang lebih baik dari rumah sakit ini, Dokter Gabriel Damanik”

Shilla membalikkan tubuhnya. Namun belum ia melangkah sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Sesuatu yang hangat menyergap batinnya. Shilla terpaku merasakan hembusan nafas menerpa tengkuknya. Bahunya memberat. Sesuatu yang tertumpu di pundaknya membuat sesak di dadanya kian terasa.

“Bahkan saat waktu untuk kita udah habis gue gak bisa merasakan di dekat lo lagi Shill. Kenapa lo menjauh. Ini pertanyaan terakhir gue sebelum gue benar-benar melepas segalanya tentang lo. Kenapa lo gak mau mempertahankannya”

Air mata Shilla terjatuh. Isakan keluar dari bibirnya membuat sesak dalam dadanya semakin membuatnya tak mampu untuk sekedar bernafas. Shilla melepas lingkaran tangan Gabriel di pinggangnya. Membalikkan tubuhnya menghadap Gabriel dan langsung memeluk pemuda yang masih sangat ia cintai itu.

Gabriel memejamkan matanya. Merasakan setiap sentuhan yang sangat ia rindukan. Hatinya menghangat. Ia tahu semua masih sama namun itu tak berarti apapun dalam keadaan seperti ini.

Shilla melepas pelukannya. Menundukkan kepalanya dan menatap tangan Gabriel yang masih melingkar di pinggangnya. Shilla melepas tangan Gabriel dari tubuhnya. Mengenggam telapak tangan yang dulu menjadi miliknya. Shilla mencium telapak tangan Gabriel hingga membuat tetesan air matanya jatuh di telapak tangan pemuda itu. Shilla mendongakkan kepalanya. Menatap Gabriel yang terpaku menatapnya.

“Itu pelukan terakhir gue. Itu ciuman terakhir gue di tangan lo. Asal lo tahu Yel rasanya sakit berpura-pura ikhlas melepas sesuatu yang selama ini di anggap menjadi miliknya. Tapi gue gak di kasih pilihan. Melepas ataupun mempertahankan lo itu bagi gue sama-sama menyakitkan karena pada akhirnya takdir gue bukan untuk miliki lo selamanya. Lo udah bahagia. Gue terima dengan perintah lo ataupun kakek lo untuk pergi dari rumah sakit ini. Karena gue rasa gak ada alasan apapun untuk bertahan di sini. Tempat gue bukan di sini”

Shilla menghapus air matanya. Perlahan ia melangkah mundur memperluas jarak antara dirinya dan Gabriel. Langkah Shilla terhenti begitu ia mendengar gumaman dari Gabriel yang membuat hatinya seakan semakin tak berbentuk apapun lagi.

“Kalo gitu mulai saat ini gue bener-bener melepas lo. Bahkan gue akan buang semua perasaan gue untuk lo. Hari ini adalah hari terakhir lo menjadi dokter di rumah sakit ini. Surat keterangan pemindahan lo akan di antar malam nanti. Silahkan bereskan barang-barang lo dan bersiap untuk pergi dari rumah sakit ini.”

Shilla menganggukkan kepalanya dan berbalik memunggungi Gabriel yang menatapnya dengan air mata yang sudah menelusuri wajah tegas pemuda itu. Shilla menyentuh handle pintu ruangan Gabriel, namun belum ia menekan handle pintu itu suara Gabriel kembali terdengar olehnya.

“Kalo lo mau liat gue bener-bener bahagia silahkan datang di acara pertunangan gue dengan Acha seminggu lagi. Undangan untuk lo sudah gue siapkan. Gue mau liat seberapa puas lo liat gue bahagia setelah gue melepas segalanya tentang lo. Gue mau liat seberapa mampu lo bertahan dengan ego lo. Lo orang pertama yang paling gue tunggu Ashilla”

***
Ify menatap Cakka yang sedang berkutat dengan berkas-berkas di hadapan sepupunya itu. Ify mendengus dan duduk di hadapan Cakka membuat pemuda itu mendongak menatap Ify yang sedang memanyunkan bibirnya di hadapan pemuda itu. Ify melempar Cakka dengan tutup pulpen di depannya yang langsung mengenai kepala pemuda itu membuat Cakka dengan kesal menatap Ify yang masih memanyunkan bibirnya.

“Apa?”

Ify melengos. Ia kembali melempar klip kertas kearah Cakka membuat pemuda itu menatapnya tajam. Ify bangkit dari duduknya. Beranjak mendekati Cakka dan duduk di meja kerja Cakka membuat Cakka menyentil paha Ify yang langsung dibalas pukulan di kepala pemuda itu.

“Gue mau protes. Gue gak akan biarin lo kerja dengan tenang sebelum lo jelasin semuanya. Ihh lo dasar ya”

Cakka meletakkan pulpennya dan menutup laptopnya. Ia menatap Ify yang masih dengan rajukkannya. Cakka mengerutkan keningnya, tak mengerti apa yang sepupunya itu katakan.

“Gue gak ngerti Fy. Plis deh lo jangan bertingkah. Turun dari meja gue balik ke ruangan lo atau periksa pasien pertama lo sono. Bukannya mengacaukan kerjaan gue. Ayo  dong Fy”

Ify turun dari meja Cakka. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi meja pemuda itu yang kembali bekutat dengan pekerjaannya tersebut. Ify menduduki sofa frost. Merebahkan kepalanya pada punggung sofa sambil melirik Cakka yang kembali tenggelam pada berkas-berkas di tangan pemuda itu. Ify mendesah.

“Gue gak ngerti Kka. Anak dari keluarga Umari itu gue atau lo. Kenapa justru lo yang papa kasih hak untuk memegang rumah sakit ini bahkan aset rumah sakit ini pun seluruhnya atas nama lo. Sementara gue, gue anaknya tapi gue cuma di jadikan dokter di rumah sakit keluarga gue sendiri. Kadang gue merasa lo sangat beruntung lain dengan gue sebagai anak dari keluarga umari”

Cakka menghentikan kegiatannya. Menatap Ify yang menundukkan kepalanya. Melihat keadaan sepupunya tersebut lantas Cakka pun beranjak dari kursinya. Berjalan mendekati Ify dan duduk di samping gadis itu. Cakka menatap Ify. Pemuda itu menyentuh kedua pundak gadis itu dan memutar menghadapkan kearahnya.

“Gue juga keluarga lo kan? Gue sepupu lo. Darah gue juga mengalir dalam tubuh lo. Gue bukan orang asing dalam hidup lo Fy. Asal lo tau lo sebagai anak om Indra harusnya lo beruntung. Bukan karena om Indra yang kaya tapi karena dia sangat menyayangi lo. Coba lo fikir bagaimana rumah sakit ini lo yang pegang. Setangguh apapun lo tetap orang lain akan berusaha menghancurkan rumah sakit ini. Karena lo cewek. Lagian rumah sakit ini tetep punya lo. Rumah sakit ini juga nantinya akan jatuh di tangan lo. Lo pewaris utama atas seluruh harta Om Indra. Jadi apa yang lo takuti Fy”

“Tapi bukan masalah harta. Tapi masalah kepercayaan. Dari dulu papa selalu percaya sama lo. Sedangkan gue. Papa gak pernah dengerin gue. Bahkan dulu papa lebih memilih tinggal di Berlin daripada nemenin gue di Jakarta. Sampai papa kasih aset rumah sakit ini ke lo. Gue ini anaknya Kka. Apa salah gue menuntut?”

Cakka menggelengkan kepalanya. Tangannya terulur menyentuh puncak kepala Ify. Sementara tangannya yang lain mencengkeram pundak sepupunya tersebut.

“Lo salah mengira bokap lo lebih percaya sama gue karena dia gak sayang sama lo. Justru dia percaya sama gue karena cuma gue yang bisa melindungi lo. Hanya gue yang tidak akan menyakiti lo. Hanya gue yang akan terus ada di samping lo meskipun lo selalu menjauh.” Cakka menghentikan ucapannya. Menatap Ify yang menundukkan kepalanya. Senyum pemuda itu mengembang.

“Dengerin gue Fy. Bokap lo sayang sama lo. Dia mau melakukan yang terbaik meskipun dia gak bisa selalu di samping lo. Dia gak akan memberikan lo harta karena dia tahu lo memiliki cita-cita dan cita-cita lo gak akan bisa di gantikan oleh berapapun harta bokap lo. Ya intinya seperti itu lah Fy.  Lo udah dewasa. Harusnya lo ngerti sama..”

“Bawel lo”

Ify bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati pintu ruangan Cakka dan menyentuh handle pintu putih tersebut. Ify menolehkan kepalanya. Menatap Cakka yang hanya mengamati dirinya. Senyum pemuda itu pun di balasnya dengan dengusan.

“Pasien gue di kamar mana? Dia masih hidup atau menjelang sakaratul maut. Hmm”

Cakka menghendikkan bahunya. Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya kembali. Cakka berdehem dan kembali berkutat dengan berkas-berkas di hadapannya.

“Lo dari sini belok ke kanan terus ada lift masuk ke dalam terus tekan angka satu setelah itu cari meja dengan tulisan recepsionist dan lo bisa tau siapa pasien lo”

“Kampret lo”

Ify keluar dari ruangan Cakka dan membanting pintunya dari luar. Ify terdiam sejenak di depan pintu ruangan Cakka. Mendongak menatap atas pintu ruangan pemuda itu.

“Head Hospital. Moga lo gak freak ya Dr. Cakka Nuraga yang terhormat” Ify menyunggingkan senyumnya. Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya dengan wajah berserinya.

***
“Shill. Kok udah pulang lo?”

Shilla menghentikan langkahnya. Menatap Rio yang menatap dirinya di balik laptop pemuda itu. Shilla menghembuskan nafasnya. Ia berbalik dan melangkah mendekati Rio dan duduk di samping kakaknya tersebut. Shilla merebahkan kepalanya di pundak Rio. Mencoba mengalihkan perasaannya di hadapan kakaknya itu.

“Tugas gue udah selesai. Terus ngapain gue lama-lama di sana”

“Bukannya lo selalu pulang larut. Shill, ada sesuatu yang terjadi. Bilang sama gue Shill. Jangan di tutupi”

Shilla menegakkan tubuhnya. Menghadapkan tubuhnya menatap Rio. Shilla meraih tangan Rio dan mencium tangan pemuda itu.

“Kak, mulai besok lo anterin gue ke rumah sakit ya. Rumah sakit yang berbeda. Rumah sakit yang gak pernah gue bayangkan akan di sana. Gabriel memindahkan gue ke rumah sakit lain. Dan gue mau besok lo yang anterin gue”

“Apa? Gabriel memindahkan lo? Kenapa? Dia..”

“Ini kebijakan rumah sakit kak. Biar bagaimana pun saat ini Gabriel yang menangani semua urusan rumah sakit semenjak dokter Fritz resaign dari sana. Gabriel adalah atasan gue. Mau gue protes bagaimana pun gue gak bisa merubah apa yang jadi hak dia, termasuk menghilangkan gue dari hidup dia”

Rio menatap Shilla yang menundukkan kepalanya. Bahu gadis itu bergetar. Rio langsung menarik Shilla ke pelukannya. Mengusap rambut gadis itu dengan lembut. Rio mencium puncak kepala adiknya membuat bahu Shilla semakin bergetar hebat. Lengannya pun di cengkeram erat oleh gadis itu.

“Seminggu lagi Gabriel akan tunangan. Tapi bukan sama gue. Padahal dulu dia janji cuma gue yang akan dia pasangkan cincin. Cuma gue yang akan dia banggakan di depan semua orang sebagai takdir sejati dia. Tapi dia bohong kak. Dia lupa sama semua itu.” Shilla meremas kaos Rio yang basah oleh air matanya yang ia pun tak menyadari bahwa air itu telah mengaliri wajahnya

 “Dia malah nyuruh gue dateng melihat dia pasang cincin di tangan gadis lain. Lihat dia membanggakan gadis lain sebagai takdirnya di depan semua orang. Gue gak tau harus bagaimana gue mendeskripsikan perasaan gue. Semua ini seakan-akan menyatakan dengan tegas kalau gue memang bukan apa-apa di hidup Gabriel”

***
Shilla menatap hamparan pepohonan di hadapannya. Senyumnya mengembang. Shilla merentangkan kedua tangannya menghirup dalam udara di sekitarnya.

“Nah udah jadi”

Shilla menolehkan kepalanya. Menatap bingung seorang pemuda yang berjongkok sambil menatapnya dengan senyum yang semakin menegaskan ketampanannya. Shilla mengerutkan keningnya menatap pemuda itu yang kini berdiri dan berjalan menghampiri dirinya.

“Ngapain sih Yel?”

Gabriel tak menjawab. Ia terus menatap Shilla hingga membuat gadis itu salah tingkah oleh sikapnya. Shilla tersentak saat tangannya di angkat. Sesuatu yang lembut menyentuh telapak tangannya. Shilla tersenyum menyadari Gabriel mengenggam tangannya dan menciumnya dengan lembut.

“Shilla would you be mine forever. Would you be mother for my children. Would you be part my destiny”Shilla menutup bibirnya menatap tak percaya Gabriel yang masih berjongkok di hadapannya dan mengenggam erat tangannya. Air mata Shilla terjatuh. Shilla terus menatap Gabriel yang menunggu jawabannya. Perlahan senyumnya mengembang. Dengan yakin kepalanya mengangguk membuat Gabriel lantas berdiri dan menariknya ke pelukan pemuda itu.

“Ini beneran Yel, Kamu serius. Kamu.. kamu beneran barusan lamar aku” Gabriel tak menjawab. Ia hanya meraih tangan Shilla yang mengalung di lehernya. Gabriel menunjukkan sebuah benda yang terbuat akar tumbuhan yang di bentuk lingkaran kecil. Perlahan benda itu di masukkan ke jari manis kiri Shilla.

“Aku serius Shill. Aku cinta sama kamu. Aku mau semua makin jelas. Bukan cuma hati kamu yang aku miliki. Tapi segalanya dalam diri kamu juga bisa aku miliki.Aku mau kita menikah. Mempunyai anak. Bahagia bersama keluarga kecil kita. Aku mau cinta kita sejati”

Air mata Shilla dengan cepat terjatuh membasahi wajahnya. Shilla langsung menabrakkan dirinya pada tubuh Gabriel. Menumpahkan tangisnya di dekapan pemuda yang ia cintai itu.

“Aku gak tau aku harus percaya sama kamu atau gak. Tapi saat ini apapun yang kamu katakan sumpah demi apapun itu buat hati aku bahagia. Aku cinta sama kamu Yel. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau kamu ninggalin aku. Aku juga mau cinta kita sejati”

“Hushh aku gak akan ninggalin kamu. Kamu gak akan kehilangan aku. Gak ada alasan untuk aku melepas kamu kecuali gak ada alasan lagi untuk kita berjuang agar hubungan ini tetap bertahan. Tapi aku yakin Shill. Apapun alasannya kamu memang takdir aku. Kamu yang harusnya aku miliki. Cuma kamu yang akan aku pasangkan cincin berlian di jari kamu sebagai pengganti cincin yang aku pasang di jari kamu sekarang. Cuma kamu yang akan di lihat semua orang sebagai takdir aku. Percayalah”

Shilla menatap Gabriel. Tangannya menyentuh wajah tampan pemuda yang sangat ia cintai itu. Tangannya menangkup rahang Gabriel. Mendekatkan wajah itu dekat dengan wajahnya. Hingga hidung keduanya menyatu.

“Aku gak akan janji apapun Yel. Tapi aku akan berusaha untuk menjaga hati kamu. Untuk mengenggam erat cinta kamu. Aku akan berusaha bahwa hati kamu tetap menyatu disini” Shilla meraih tangan Gabriel dan menuntunnya menyentuh dadanya. Senyum Gabriel mengembang. Pemuda itu tak mengatakan apapun dan langsung menghapus jaraknya dengan Shilla.

Shilla memejamkan matanya. Menikmati sentuhan yang Gabriel berikan padanya. Merasakan bibir Gabriel yang dengan lembut menyatu dengan bibirnya. Shilla mengalungkan tangannya di leher Gabriel. Mendorong kepala pemuda itu semakin dalam mencumbunya.

Gabriel melepas ciumannya. Tangannya mengusap wajah Shilla. Menghapus sisa air mata yang membekas di wajah cantik gadisnya. Gabriel mendekatkan wajahnya. Mencium puncak kepala Shilla.

“Janji ya cuma aku yang boleh cium kamu kayak tadi. Apapun yang terjadi jangan coba deket-deket sama cowok lain. Karena sebentar lagi apapun yang ada di diri kamu semua akan jadi milik aku”

“Gabrielll”

***
Ify berjalan memasuki sebuah kafe. Namun tangannya yang menyentuh pegangan pintu kaca kafe itu langsung terhenti saat tangan lain juga berada di sana. Ify mendongakkan kepalanya mencoba melihat siapa pemilik tangan tersebut. Keduanya sama-sama terpaku menatap orang di hadapannya. Bahkan nafasnya keduanya pun sama-sama terhenti sesaat.

“Rio”

Rio tersadar. Ia langsung menarik tangannya dan menjauh dari Ify. Pemuda itu pun berbalik membelakangi Ify yang menatap dirinya. Pemuda itu tak menyadari air mata Ify yang mulai perlahan mengalir di wajahnya. Pemuda itu tetap berjalan menjauhi Ify yang terus menatap langkah pemuda itu yang semakin menjauh.

“Bahkan lo gak berusaha mengejar gue”

Ify tersentak. Ia langsung menolehkan kepalanya menatap ke depan. Kini Rio menghentikan langkahnya. Masih dengan posisi yang sama. Masih memunggungi Ify yang terpaku olehnya. Ify menundukkan kepalanya. Menatap tangannya yang saling bertaut di bawah perutnya.

“Itu artinya apa yang lo bilang sebagai perjuangan lo untuk menyatukan gue dengan adik gue itu gak berarti apapun”

Ify menegakkan kepalanya menatap Rio yang masih terdiam di tempatnya. Ify menghembuskan nafasnya. Perlahan ia berjalan mundur dan membuka pintu kaca kafe dengan mata yang masih terus menatap kearah Rio.

“Lo gak pernah tau hati gue Rio. Lo gak pernah sadar apa yang gue lakukan memang terbaik. Maaf  kalo gue selalu bikin dugaan lo salah. Tapi gue cuma mau baik-baik aja. Gue sayang Shilla. Tapi semua yang terjadi itu karena gue. Dan biarkan gue menebus kesalahan gue atas hidup kalian selama ini. Permisi”

“Gue gak kenal lo Ify” Ify menghentikan langkahnya di ambang pintu. Mendengar lirihan Rio yang teramat dekat olehnya. Ify mendongakkan kepalanya menatap Rio yang kini berdiri di hadapannya. Wajah pemuda itu mengeras. Ify mengalihkan pandangannya.

“Lo gak akan kenal gue Rio. Sampai kapanpun. Karena mulai saat ini gue bukan Ify seperti pertama kali lo kenal gue maupun Ify yang mendampingi lo ketika lo berpisah dengan adik lo. Pertemuan kita hari ini adalah pertemuan terakhir. Setelah ini lo gak akan menemukan gue lagi”

Ify membalikkan tubuhnya dan langsung masuk ke kafe yang ternyata masih sepi itu. Ify mendudukkan dirinya pada sofa sudut kafe dan pandangannya ia arahkan pada seorang pemuda yang menggeram di tempatnya. Ify menutup matanya. Menahan air yang mulai ingin meruntuhkan pertahannya.

“Pada dasarnya memang gue gak akan bisa lepas dari bayangan lo Rio. Karena hati gue yang gak akan pernah bisa lepas begitu aja untuk berhenti mencintai lo. Tapi lo harus ngerti. Gue gak akan pernah bisa lagi menginjakkan langkah gue di hidup kalian karena gue tahu gue memang bukan bagian takdir kalian”

***
“Apa kak? Lo pindah tugaskan Shilla ke rumah sakit lain? Kenapa?”

“Lo gak akan ngerti Vi”

Sivia bangkit dari duduknya. Melangkahkan kakinya berjalan mendekati Gabriel yang merebahkan tubuhnya di kasurnya.

“Pasti karena nenek lampir itu ya”

Sivia ikut merebahkan tubuhnya di samping kakaknya yang memejamkan matanya. Sivia menatap Gabriel dari samping. Perlahan wajahnya berubah sendu. Sementara Gabriel yang berkali-kali mencoba melirik adiknya itu membuka matanya begitu menyadari perubahan wajah adik yang sangat ia sayangi itu.

“Kenapa?” Tanya Gabriel. Tangan Gabriel terulur meyentuh puncak kepala Sivia dan mengusapnya lembut. Matanya tak lepas terus menatap adiknya yang  juga tak henti menatapnya.  Pemuda itu menyunggingkan senyumnya.

“Gue gak tau kak gimana caranya waktu mempermainkan takdir kita. Dulu waktu pertama kali lo bawa Shilla ke hadapan gue. Lo tahu gue udah mulai sayang sama dia. Dia melindungi gue sebagaimana lo menjaga gue. Gue seperti mendapat sahabat, kakak perempuan juga ibu kedua. Gue merasa lo sangat beruntung bisa memiliki perempuan sesempurna Shilla. Gue ingin menjadi dia kak. Gue ingin menjadi Shilla yang sangat lo cintai. Tapi..”

Gabriel mematung. Tak ada reaksi apapun yang pemuda itu tampakkan sebagai jawaban pernyataan  yang adiknya sampaikan. Sementara Sivia ia terus menunggu Gabriel membuyarkan lamunannya. Berharap sesuatu yang dapat merubah kerja otak kakaknya tersebut.

“Jangan pernah sebut namanya lagi. Gue mau mandi”

Gabriel bangkit dari tidurnya. Namun belum saja ia menjauh dari tempat tidur suara Sivia menghentikannya.

“Lo buat hati dan harapan gue hancur. Lo gak bisa mempertahankan dia kak. Bagaimana caranya lo melepas kehancuran dia waktu keluarganya ninggalin dia. Sementara lo. Lo gak ada beda sama keluarganya. Selain lo hancurin hati Shilla. Lo sudah sangat menghancurkan hati gue, kepercayaan gue dan..”

Sivia menghentikan ucapannya. Ia bangkit dari tidurnya dan bangun melangkah mendekati pintu kamarnya.

“Cinta gue”

Sabtu, 09 Januari 2016

Play Of Destiny Part 13 (Rasa Ingin)




***
Rio menatap pada hamparan laut lepas di hadapannya. Menikmati debur ombak yang pecah pada hantaman batu karang. Merasakan kedamaian kicauan burung yang singgah untuk mencari ikan diantara gulungan gelombang di sana. Rio memejamkan matanya saat angin halus menyapu wajahnya. Sejenak rasa rindu akan kehadiran gadis itu menyergap batinnya.

Rio membuka matanya saat sebuah tepukan halus pada pundaknya menyentak kesadarannya. Rio menatap pada gadis di sampingnya yang kini mengambil tempat sangat dekat dengannya. Senyum simpul terhias di wajah tampannya. Rio menghembuskan nafasnya. Dan kini ia secara perlahan mulai menyandarkan kepalanya pada gadis di sampingnya.

“Jadi apa?”

Suara lembut itu mulai bersuara. Rio menatap Shilla di sampingnya yang masih fokus menatap hamparan ombak yang saling berkejaran di hadapan keduanya.

“Gue cuma mau menghabiskan waktu seharian sama adik gue tersayang. Gak papa kan?”

 Shilla tersenyum. Kepalanya mengangguk. Shilla menegakkan tubuhnya sehingga Rio yang menyandarkan kepalanya di pundak Shilla pun kini menegakkan kepalanya menatap Shilla. Shilla menatap wajah Rio. Kakaknya yang dulu meninggalkannya dan selalu di rindukannya. Shilla masih tak percaya di hadapannya saat ini dengan jelas ia bisa menatap kakaknya. Bukan lagi mimpi seperti yang dulu sering ia lewatkan. Setetes air mata jatuh dari kedua matanya.

Rio tersentak melihat kedua cairan yang mulai mengalir di kedua pipi Shilla. Tangan pemuda itu menangkup wajah Shilla. Menghapus air mata adiknya dengan kedua ibu jarinya. Rio mengarahkan kepala Shilla mendekat kearahnya. Mencium puncak kepala Shilla dan memeluk adiknya itu setelah Shilla semakin keras terisak.

“Lo kenapa Shil. Walaupun gue kesel sama lo karena lo tiba-tiba nangis di hari yang mau gue buat spesial untuk kita tapi apapun yang terjadi sama lo gue siap dengerin lo. Gue disini ingin selalu siap ada buat lo. Gue mau nebus kesalahan gue yang hilang dari lo bertahun-tahun. Jadi apapun yang lo mau dari gue bilang Shill”

Shilla menggelengkan kepalanya. Tangan Shilla semakin erat melingkarkan tangannya di leher Rio. Matanya terpejam menikmati kehangatan pelukan seseorang yang selama ini selalu ia harapkan kehadirannya dulu.

“Gue gak minta apa-apa dari lo kak..” Shilla menghentikan ucapannya. Gadis itu menghapus air matanya dan melepas lingkaran tangannya dari leher Rio. Shilla menjauhkan tubuhnya dari Rio. Gadis itu menatap kakaknya yang masih menunggu lanjutan kalimatnya.

“Gue minta lo bawa Ify kembali”

***
“Apa Fy lo mau jadi dokter di rumah sakit tempat gue?”

Ify menganggukkan kepalannya. Tangannya masih memegang beberapa dokumen yang di kirim langsung dari rumah sakitnya di Berlin dulu. “Kenapa? Gak boleh? Biar bagaimanapun rumah sakit itu tetap punya bokap gue. Gue juga tetap punya hak atas rumah sakit itu. Lagipula seharusnya tempat gue ya disini”

Cakka tertawa mendengar ucapan sepupunya yang sontak membuat Ify langsung menatap bingung kearah Cakka. Pemuda berkulit putih itu mendekat kearah Ify. Menepuk pundak gadis itu yang dibalas tatapan tajam oleh Ify.

“Ya ya gue tau maksud lo Fy. Lo tuh gak mau balik ke Berlin karena disana terlalu banyak kenangan lo sama Rio kan dan yang paling utama. Lo gak bisa jauh dari Rio dan lo masih berharap cowok itu nyamperin lo dan bawa lo kembali ke dia juga adiknya. Iya kan?”

Bughh..

Cakka tersentak. Menatap tumpukan berkas di bawah kakinya yang ia yakini adalah benda yang baru saja mendarat di wajahnya. Cakka menatap Ify yang berdiri dengan tatapan tajam kearahnya seakan tatapan itu merupakan ancaman untuknya.

“Lo sembarangan ya kalo ngomong. Apapun alasan gue itu gak penting buat lo. Lagi pula ini juga permintaan papa gue karena gue sekarang di Indonesia. Dan satu lagi. Lebih baik lo jangan pernah mengucapkan nama Rio ataupun Shilla di depan gue. Kalo lo masih mau hidup tenang”

“Nyatanya lo aja masih terlalu mudah mengucapkan nama mereka Fy. Itu artinya lo masih belum sepenuhnya melepaskan diri lo dari bayangan mereka”

Langkah Ify yang menuju ke kamarnya sontak terhenti. Ify terdiam seakan menunggu lanjutan kalimat dari sepupunya tersebut.

“Lo gak akan pernah bisa pergi dari mereka”

Ify membalikkan tubuhnya. Menatap Cakka yang memperhatikan dirinya. Ify mengalihkan wajahnya seakan ia tak ingin Cakka membaca apapun pikirannya yang menurutnya mudah sekali terbaca oleh Cakka. Atau mungkin memang dirinya yang tidak bisa menutupi apa yang tidak seharusnya ditahui.

“Gue mengenal lo bukan beberapa menit yang lalu Ify. Bagi gue setebal apapun topeng lo yang lo yakini topeng terangkuh yang lo miliki. Bagi gue lo tetaplah seorang Ify yang dulu. Perasa yang rapuh juga wanita angkuh yang sangatlah lemah. Bahkan untuk berdiri dengan kakinya sendiri pun lo masih butuh pegangan. Iya kan?”

Ya. Ify membenarkannya. Apapun yang terucap dari Cakka bukanlah sebuah kalimat bermakna yang semata-mata hanya sebagai penghancur dirinya. Semua merupakan sebuah kebenaran yang sampai kapanpun tak akan pernah bisa ia tutupi setidaknya di depan Cakka.

Ify membiarkan setetes air mata jatuh dari kedua matanya. Ify membiarkan Cakka berjalan mendekatinya. Ify membiarkan saat Cakka menghapus air matanya dengan kedua jari pemuda itu dengan lembut. Namun ia tak membiarkan saat pemuda itu beranjak pergi darinya. Ify langsung menjatuhkan dirinya pada tubuh Cakka. Melingkarkan erat tangannya pada leher Cakka. Membiarkan tubuhnya hangat dalam pelukan dalam tubuh tegap sepupunya tersebut.

Cakka mengusap rambut Ify lembut. Beberapa kali mencium puncak kepala Ify. Berusaha menenangkan sepupunya yang mulai merontokkan sisi keangkuhan yang sebenarnya hanya berupa kepalsuan. Cakka melepas lingkaran tangan dari punggung Ify. Menjauhkan tubuh sepupunya darinya. Lalu dengan lembut mendekatkan kepala gadis itu kearahnya. Mencium dahi Ify lembut. Cakka melepaskan ciumannya. Menangkupkan kedua tangannya pada wajah cantik yang nyatanya semakin tirus di hadapannya.

“Fy dengerin gue. Gue gak pernah minta apapun sama lo. Tapi gue mau lo dengerin gue. Gue mau lo kembali seperti dulu. Menjadi Ify sepupu gue yang ceria, selalu menjadikan detiknya sebuah kebahagiaan. Ify yang tidak pernah membiarkan setetes air mata pun menghapus kebahagiaannya. Ify yang selalu menciptakan warna bukan hanya untuknya. Tapi untuk semua orang di dekatnya. Gue mau lo seperti itu Fy. Lo bisa?”

“Apa gue bisa. Sementara sekarang gue merasa untuk menjadi seorang Ify hanya dengan seperti ini. Terlalu banyak Kka hal-hal sulit yang bagi gue terlalu bodoh untuk di hadapi dengan tawa. Tapi gue gak suka air mata. Apa yang harus gue lakuin Kka. Apa mungkin gue harus kembali ke
 masa lalu. Mencoba memilih tidak pernah mengenal mereka. Ngomong ke gue apa yang bisa gue lakuin?”

Cakka mengangkat dagu Ify. Mengarahkan gadis itu untuk menatap matanya. Mengetahui keyakinan yang di cobanya sebagai penguat untuk Ify. Cakka mengusap rambut Ify. Membiarkan gadis di hadapannya merasakan ketenangan yang ia berikan.

“Lupakan apapun yang membuat lo lemah Fy. Gue tau lo bisa. Kalo lo ingin menjadi Ify yang saat ini jadilah Ify yang angkuh. Tidak membiarkan masa lalu menghancurkan kebahagiaannya. Jadilah Ify yang angkuh yang mau bertahan dengan caranya sendiri untuk kebahagiaannya. Lo mau lakuin itu?”

Ify menatap Cakka. Mencari kesungguhan yang pemuda itu ucapkan. Ify menghembuskan nafasnya. Lalu menghapus air matanya dan mengubah ekspresinya seangkuh mungkin. Menegakkan kepalanya. Melipat tangannya di dada dan memasang tatapan tajam. Tak lama senyumnya ia sunggingkan di depan Cakka.

“Gimana ekspresi gue tadi. Udah pas kan?”

Cakka menggeleng yang sontak membuat Ify langsung merubah ekspresinya. Ify menatap Cakka bingung yang membuat pemuda itu tertawa melihat ekspresi Ify yang baru kali ini ia lihat. Mungkin bukan. Ekspresi yang dulu jauh sebelum segalanya merubah gadis itu menjadi gadis bertopeng. Dan kini untuk pertama kalinya tawa tulus seorang kakak muncul dalam diri Cakka.

“Fy.. Ify kalo lo bukan sepupu gue aja udah gue pacarin lo”

“Kayak gue mau sama lo aja. Dihh. Oh ya Kka inget besok lo ke rumah sakit harus sama gue. Inget. Gue tidur dulu. Byee”

Cakka menyentuh pipinya yang tadi sempat di cium oleh Ify. Cakka menatap punggung Ify yang perlahan menghilang masuk ke kamarnya. Senyumnya kembali mengembang. Kali ini Cakka bersumpah ia akan terus menjaga Ify. Ify yang dulu telah kembali dan ia tidak akan membiarkan Ify kembali pergi.

***
Rio menatap Shilla. Meyakinkan apa yang baru saja ia dengar. Kalimat yang baru saja di dengarnya seakan menyentak keras dirinya. Rio bangkit dari duduknya membuat Shilla mendongak menatap bingung kearahnya.

“Gue gak akan lakuin itu”

“Kenapa? Lo gak mau hati lo sakit. Gue tau gimana perasaan kalian. Bukan hanya lo yang cinta sama Ify. Ify juga cinta sama lo tapi apa dengan cara ini kalian bisa baik-baik saja. Kak gue tau mungkin sekarang gue egois. Tapi sekali ini aja kak lo biarkan gue ketemu Ify. Bahkan saat dia bawa lo kembali gue belum mengucapkan terima kasih”

Rio memejamkan matanya saat melihat dengusan Shilla juga saat gadis itu memalingkan pandangannya. Mungkin bisa saja ia melakukannya. Tapi ia tidaklah bodoh. Bisa saja gadis itu langsung melarikan diri saat melihat dirinya. Dan Rio tidak akan sanggup lagi melihat gadis itu menjauh darinya secara jelas. Karena ia tahu hatinya akan semakin berkedut nyeri jika itu terjadi.

“Lupakan Shill. Lupakan Ify. Dia gak lagi butuh kita”

Shilla bangkit dari duduknya. Menghadap langsung Rio dan menatap kakaknya dengan tatapan memohon. Shilla meraih tangan Rio. Mencium tangan itu dengan segala kerendahannya memohon pada kakaknya.

“Ify itu sahabat gue kak. Gue berjuang sama dia dulu bareng-bareng hanya untuk menggapai cita-cita kita sebagai dokter. Hanya Ify yang benar-benar percaya sama gue setelah lo kak. Bagi gue Ify melebihi apapun dari segalanya. bahkan gue gak bisa benci sama dia setelah dia pergi ninggalin gue. Karena gue yakin dia akan kembali dengan memberikan sesuatu yang melebihi apa yang gue inginkan. Termasuk lo”

Shilla menghapus air yang mulai jatuh menetes dari kedua matanya. Shilla mendongakkan kepalanya. Mencoba menghalau air mata yang mulai ingin menyusul membasahi wajahnya.

“Banyak hal yang ingin gue ucapin sama dia. Rasa sakit yang sudah Ify berikan untuk gue gak sebanding dengan pengorbanan yang dia berikan. Karena dia gue bisa menjadi dokter. Karena dia gue jadi mulai percaya dengan apa yang ingin gue capai bahkan saat mama sendiri pun merendahkan apa yang gue inginkan”

Shilla menghentikan ucapannya. Lagi ia menghapus air yang membasahi kedua pipinya. Shilla menghembuskan nafasnya. Mencoba menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.

“Satu lagi yang membuat gue ingin mengucapkan ribuan terima kasih yang gue sendiri pun tahu itu tidak akan pernah sebanding dengan apa yang dia lakukan untuk hidup gue bahkan untuk hidup lo sendiri. Gue yakin jantung yang berdetak dalam tubuh lo itu karena Ify kan kak. Dia yang membuat jantung itu tetap berdetak sementara apa yang bisa gue lakuin. Gue hanya seorang adik yang hanya mempunyai angan besar untuk menciptakan kehidupan untuk kakaknya sendiri, namun justru angan itu juga yang membuat gue hampir kehilangan lo. Gue mohon sekali lagi kak. Gue..”

Rio langsung menarik Shilla ke pelukannya. Menyembunyikan wajah penuh kesakitan yang di perlihatkan adiknya yang justru semakin membuat hatinya menganga. Rio membiarkan kedua matanya meneteskan air di kedua pipinya. Ia biarkan isakan yang selama ini coba ia pendam pecah seiring tangisan yang sama dengan Shilla.

Yang Rio tahu ia pun juga menginginkan gadis itu kembali padanya. Yang Rio tahu dirinya juga menginginkan gadis itu tetap berada pada jangkauan matanya. Setidaknya ia masih sanggup melihat segalanya yang ada pada gadis itu. Namun yang terjadi justru gadis itu menghilang. Bahkan tanpa isyarat apapun seketika gadis yang bernama Ify itu benar-benar pergi darinya.

“Kak kenapa lo gak ngomong. Lo mengabaikan omongan gue dari tadi hah?”

“Gue gak tau harus apa. Gue takut Shill Ify lari lagi waktu dia lihat gue. Yang gue tau dia memang sengaja pergi dari kita termasuk gue”

Shilla menghapus air matanya. Kemudian kembali ia menatap kakaknya. Shilla mendekatkan wajahnya pada telinga Rio. Dan mengucapkan sesuatu yang membuat seketika Rio membeku.

“Lo yang terlalu pengecut untuk mengakui perasaan lo. Lo aja bisa perjuangin gue. Kenapa Ify gak?”

Shilla memundurkan tubuhnya lalu berbalik dan meninggalkan Rio yang menatap sendu punggung Shilla yang memasuki villa tempat menginap mereka.

Rio menghadapkan tubuhnya lagi pada hamparan laut. Pemuda itu berjalan mendekati batuan curam yang di bawahnya terdapat laut yang sedang menghempaskan keras airnya memecah pada batuan karang. Rio menegakkan tubuhnya dan..

“Arghhhhhhh”

***
“Cha” Acha menghentikan langkahnya. Menegakkan tubuhnya dan menunggu orang yang memanggilnya itu berada di dekatnya. Senyum angkuh Acha mengembang saat seorang pemuda berkulit putih dan bermata sipit berdiri di hadapannya.

“Ada apa?” Pemuda itu menghela nafas kasar. Kepalanya menggeleng dengan tatapan tajam yang menurut Acha bukan sebuah siratan yang berarti apapun untuknya.

“Gue gak habis pikir sama isi di otak lo. Hati lo terbuat dari apa sih Cha bisa-bisanya lo berfikir untuk merebut Gabriel dari Shilla dan otomatis merusak hubungan gue sama Sivia. Lo tuh perempuan atau bukan sih. Punya hati gak lo”

“Hushhh, shut up. Lo repot-repot dateng ke apartemen gue cuma mau omongin hal itu aja. Gak penting banget sih lo. Dengerin gue ya Alvin sepupu gue tersayang. Gue bukannya ngerebut Gabriel tapi gue berjuang buat miliki orang yang gue cintai. Gue berjuang untuk kebahagiaan gue sendiri. Dan satu lagi urusan lo sama cewek lo itu bukan urusan gue”

Alvin mencekal tangan Acha yang langsung menghentikan langkah gadis itu. Alvin menarik kasar tangan sepupunya itu agar bisa berhadapan dengannya. Acha menatap sinis Alvin menunggu apa lagi yang akan pemuda itu sampaikan padanya.

“Gue gak tau apa yang di pikirkan oleh seorang pemilik aset terbesar dari Rumah Sakit Retama Hospital yang dimana seluruh dunia pun tahu itu adalah salah satu rumah sakit terbesar di Asia untuk menuruti kelicikan lo. Mereka semua gak pernah tahu ternyata Om Tama salah mendidik putri semata wayangnya yang merupakan calon pewaris seluruh aset Retama Hospital menjadi seorang gadis freak gak berhati kayak lo”

Tawa Acha seketika  menggelegar. Acha menatap Alvin. Gadis itu menyentuh dagu Alvin menundukkan wajah pemuda itu untuk menatap ke wajahnya yang hanya sedagu pemuda itu. Acha mendekatkan wajah cantiknya kearah Alvin. Senyum sinis langsung terukir di wajahnya.

“Peduli apa lo dengan siapa gue. Karena tanpa harta ini pun gue masih bisa mendapatkan kebahagiaan gue dengan cara gue sendiri. Karena lo perlu tahu, gue gak secupu lo Alvin Sindunata Artama”

Acha langsung menghempaskan wajah Alvin menjauh. Tatapannya masih menyirat tajam pada pemuda di hadapannya. Acha membalikkan tubuhnya. Namun baru dua langkah ia berjalan, gadis itu menghentikan langkahnya.

“Satu lagi. Kalo lo menyesal punya sepupu secerdik gue, gue pun lebih menyesal punya sepupu sepecundang lo” Acha kembali berjalan keluar dari apartemennya, sedangkan ditempat yang sama Alvin mematung menatap pintu apartemen Acha yang tertutup. Alvin mendudukkan dirinya pada sofa marun milik Acha. Menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya. Alvin menggosok wajahnya frustasi.

“Apa lagi yang bisa gue lakuin Vi. Gue gak mau kehilangan lo. Kita belum berjuang bahkan memulai pun kita belum melakukannya”

***
“Kak, ehmm sekali lagi gue tanya nih sama lo. Memang lo yakin bener-bener mau nikah sama si cacing gila itu. Jujur loh kak walaupun gue bilang sama lo gue akan belajar nerima dia, tapi tetep gue gak bisa bohong. Gue tuh maunya yang jadi kakak ipar gue itu Shi.. ehm maksudnya siapapun terserah lo yang penting jangan si cacing-cacing itu”

Sivia menghembuskan nafasnya. Dalam hati ia bersyukur dapat mengontrol ucapannya agar nama itu tidak keluar dari bibirnya. Ia mendengus menatap Gabriel yang masih saja menggubris dirinya.

“Namanya Acha Via. Sembarangan lo asal ngubah nama dia. Tau kakek di gantung lo”

Gabriel mendongak membenarkan kemejanya. Menatap pantulan dirinya dalam cermin. Ia mengakui bahwa dirinya memanglah tampan. Walaupun tidak kekar ataupun berotot, namun wajahnya pun tak dapat di ragukan.

Sivia bergidik melihat senyum Gabriel dari cermin. Gadis itu seketika mendengus melihat ekspresi Gabriel yang jujur ia pun seperti tak lagi mengenal sosok kakaknya tersebut.

“Kak nanti istirahat makan siang kita keluar yuk. Kita udah jarang keluar bareng. Boleh ya”

Gabriel membalikkan badannya. Berjalan mendekati Sivia yang menatapnya di atas kasurnya.  Senyum Gabriel mengembang membuat mata Sivia seketika berbinar. Senyum Sivia semakin mengembang melihat anggukan di kepala Gabriel. Seketika gadis itu melompat ke tubuh Gabriel dan memeluk tubuh pemuda itu.

Gabriel langsung terduduk di kasurnya akibat terjangan dari adiknya yang secara tiba-tiba membuatnya belum bersiap menerima terjangan dari tubuh yang lumayan berisi tersebut.

“Heh sadar diri lo. Badan gendut aja seenaknya peluk-peluk orang. Gue ketiban badan lo mampus kali gue. Dasar” Sivia mengusap kepalanya yang baru saja di pukul oleh Gabriel. Gadis itu mendengus dan membalas pukulan kepalanya dengan cubitannya di pinggang Gabriel

“Lo aja yang kerempeng. Buruan kak kita berangkat sekarang. Ntar mampus gue kalo telat. Hari ini ada ujian”

Gabriel bangkit. Mengikuti langkah adiknya itu dengan senyum di wajahnya. Mungkin kini gadis yang akan benar-benar di cintainya hanya mamanya dan adiknya tersebut. Sementara sang gadis masa lalu yang dulu pernah membuatnya membagi hatinya akan coba ia redam dan akan ia coba gantikan dengan nama gadis lain yang akan menjadi kehidupannya kelak.

***
Ify mematut dirinya di cermin. Senyumnya mengembang menatap bayangan dirinya yang berbalut blouse fuschia yang di masukkan di dalam skirt ketat berwarna hitam berbatas lututnya. Mata Ify beralih pada lemarinya yang terdapat jas berwarna putih yang di gantungkannya pada pintu lemarinya tersebut. Kini senyum Ify semakin mengembang. Tatapannya pun yang selama ini memperlihatkan keangkuhannya berubah menjadi berbinar.

“Senyum-senyum mulu lo. Kapan berangkatnya. Ayo buruan. Jangan di liatin mulu tuh jas. Cepetan di bawa”

Ify mengedarkan tatapannya. Menatap seorang pemuda dengan kemeja polos berwarna abu-abu berdiri di dekat pintu. Ify memutar matanya sejenak. Akhirnya ia mengangguk dan berjalan menuju lemarinya mengambil jas yang menggantung di lemari jati tersebut. Memakainya di hadapan Cakka membuat pemuda itu tak dapat menahan senyumnya untuk menghiasi wajah tampannya.

“Lo selalu cantik kok Fy. Kalo gak cantik mana mungkin Rio sampek gak jatuh cinta sama lo” Mata Ify sontak melebar mendengar sebuah nama yang baru di sebut oleh sepupunya tersebut.

“Cakkaaaa” Tawa Cakka sontak menggelegar mendengar rajukan dari gadis di hadapannya. Cakka berjalan mendekati Ify yang masih merajuk di tempatnya. Pemuda itu mengulurkan tangannya menyentuh kepala Ify. Mengusap rambut sepupunya tersebut. Pemuda itu lalu mendekap bahu ify dan menggiring mengikutinya menuju mobil.

”Udah jangan ngambek yang ada pasien lo pada kabur dokter Ify Alyssa” Ify mendengus dan menyempatkan mencubit pinggang Cakka membuat pemuda itu kembali tertawa.

“Kka” Panggil Ify sebelum keduanya memasuki mobil Cakka. Cakka pun menghenikan tangannya yang akan membuka pintu menunggu Ify melanjutkan bicaranya.

“Sorry ya dulu gue gak pernah bersikap respect sama lo. Dan thanks lo mau bantu gue untuk move. Gue harusnya bersyukur punya sepupu tengil macem lo. Dulu malah gue ketusin”

“Nyesel kan lo. Akhirnya. Ya udah buruan masuk. Hari ini gue ada jadwal operasi. Buruan”

Ify mendengus. Menatap tajam Cakka yang sudah masuk di mobilnya. “Baru di baikin balik dah sengaknya. Aishh Om Fadly ngasih apaan sih sama Tante Aretha sampek punya anak kayak Cakka. Ckckck”

Tinn tinnn

Ify terlonjak. Menatap Cakka yang menyembulkan kepalanya dari jendela kemudinya. “Ngapain bengong lagi sih. Buruan Fyyyy”

“Iya iya Kka. Gak sabaran banget sih” Gerutu Ify

***
Bersambung

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...