Sabtu, 28 November 2015

Play Of Destiny Part 12 (Without You)


***
“Lo pergi sebelum lo ketemu Shilla. Fy lo gak mikir..”

“Hushh stop Cak. Gue gak butuh pendapat lo. Gue cuma numpang tinggal disini sampek papa nyiapin gue tiket balik ke Jerman”

Cakka menggelengkan kepalanya menatap sepupunya tersebut. Entah apa yang gadis itu pikirkan, Cakka pun tak sama sekali mengertinya.

“Lalu gimana sama si putra Haling itu. Apa lo yakin lo bisa tanpa dia dan lupain perasaan lo”

Ify terdiam. Ia bahkan tak berpikir apakah mampu ia melupakan pemuda yang ia cintai selama lima tahun itu. Bodoh. Pertanyaan macam apa itu. Mencintai memang mudah, namun melupakan apakah itu hal yang paling di benci ketika harus mencintai. Dan Ify cukup tau itu.

“Gue mudah melupakan dia. Karena dia bukan berarti apa-apa untuk gue setelah ini. Dan mungkin cinta dia bukan lagi apapun buat gue”

Cakka tersenyum sinis mendengar ucapan Ify. Ia tahu sepupunya tersebut berbohong. Namun Cakka hanya berdesis membuat Ify hanya menatapnya tajam. Cakka pun mengendikkan bahunya. Kemudian melenggang pergi setelah sebelumnya ia sempat mengucapkan kalimat yang mampu membuat Ify membeku.

“Hati seseorang itu cuma satu. Kalo lo mainin terus hati tersebut hingga rusak dan tidak lagi berbentuk. Itu artinya lo gak punya hati. Inget jangan lagi-lagi menyakiti hati mereka. Mereka yang tulus mencintai lo. Gue ke rumah sakit dulu. Silahkan beristirahat nona Alyssa”

***

Gue mudah melupakan dia. Karena dia bukan berarti apa-apa untuk gue setelah ini. Dan mungkin cinta dia bukan lagi apapun buat gue

Rio tak lagi berkutik. Pandangannya kosong tak terarah. Satu yang pemuda itu rasakan. Hatinya. Hati yang semuanya utuh hanya demi gadis itu seperti hilang tak berserak. Semua seakan teredam oleh kalimat yang seakan dengan jelas bahwa semua itu keraguan. Di saat Rio ingin maju menegaskan perasaannya. Justru gadis itu malah menarik dirinya menjauh. Kini pemuda itu benar-benar meragukan keyakinannya bahwa gadis itu juga satu rasa dengannya

Shilla menatap Rio yang sedari tadi berdiam di sampingnya. Pandangan gadis itu sendu melihat seberapa hancur perasaan kakaknya tersebut. Shilla menarik Rio mendekat kearahnya. Kemudian merengkuh tubuh kakaknya tersebut. Ia tahu seberapa hancur hati kakaknya ini. Shilla tak tau apa yang terjadi. Hanya yang dapat ia yakini bahwa hancurnya hati kakaknya seiring dengan perasaan kakaknya tersebut pada sahabatnya. Ify Alyssa.

“Shill. Mulai sekarang kita harus melupakan dia. Kita harus belajar agar terbiasa tanpa dia. Karena pada nyatanya dia gak menginginkan kita di hidup dia Shill. Lo ngerti”

Shilla menutup matanya. Tangannya mengenggam erat tangan milik kakaknya. Perlahan kepalanya mengangguk walau dalam hatinya menjerit keras.

“Kak. Kenapa ya nasib kita sama. Sama-sama mencintai tapi gak bisa memiliki”

Rio tersenyum lirih mendengar pertanyaan Shilla. Ia menegakkan tubuhnya. Menangkupkan telapak tangannya pada kedua pipi Shilla. Rio mengusap pipi halus adiknya yang selalu di rindukannya. Shilla mengenggam tangan Rio. Matanya terpejam menikmati usapan kakaknya tersebut.

“Karena gak selamanya yang terlihat indah adalah yang terbaik kita miliki. Lo ataupun gue pasti bisa lewati semua ini. Kita akan dapati seseorang yang sungguh-sungguh pantas kita miliki. Lo harus yakin itu”

Shilla menjatuhkan tubuhnya pada tubuh tegap Rio. Menumpahkan tangisnya pada pemuda yang kini kembali setelah sekian lama di pisahkan waktu.

“Gue akan siap melewati apapun. Asalkan ada lo yang selalu ada di samping gue. Kak lo janji ya jangan tinggalin gue apapun yang terjadi. Cuma lo yang sekarang gue butuhkan. Dan lo satu-satunya yang gue miliki”

Rio tak menjawab. Namun ia semakin erat memeluk tubuh Shilla di dekapannya. Menjawab dengan tegas bukan dengan ucapan. Namun dengan ungkapan rasa melalui hasrat tubuhnya. Shilla tersenyum di pelukan Rio. Kini ia semakin yakin. Dengan Rio, ia mampu memulai hidup baru dan melupakan semua yang kini telah menghilang. Sahabatnya yang kembali berlari dan cintanya yang berkelana pada takdir yang lain.

***
Semilir angin menerpa wajah cantik Ify. Menarikan rambut sebahu itu akibat permainan lembut sang angin. Ify menatap pada hamparan bangunan di hadapannya yang terlihat kecil di matanya. Senyum pedih tak hentinya menghiasi wajahnya. Tak ada air mata, tak ada pandangan kosong. Hanya tatapan sendu dan helaan nafas sesak yang mengiringinya bertahan disini.

Ify tersentak saat titikan air jatuh pada tangannya. Gadis itu mendongak. Entah bagaimana caranya ia tak menyadari kapas kelabu yang telah membumbung di atasnya siap mengeluarkan tetesan air di bawahnya. Ify kembali memusatkan pandangannya kembali ke depan. Membiarkan perlahan tetesan yang semakin bertambah jumlahnya tersebut mengguyur tubuhnya.

Ify memejamkan matanya. Perlahan kepingan memori mulai menari di otaknya. Membuatnya semakin tenggelam pada hujan yang menyelimuti kesendiriannya.

“Lo lucu ya harusnya tuh lo bawa cewek ke tempat yang romantis kek. Ke pantai kah, dinner romantis di kafe atau danau yang di hiasi lampu-lampu. Lah tapi lo malah bawa gue ke tempat gini. Bangunan kosong, kotor, ya sedikit menyeramkan sih. Apa istimewanya coba”

Rio tertawa mendengar ucapan Ify. Ia menggelengkan kepalanya. Dengan tangan terlipat di dada sambil menyenderkan punggungnya pada salah satu pilar pada bangunan tersebut Rio terkekeh sambil memandangi Ify yang merengut lucu di hadapannya
                                     
“Makanya jangan menilai sesuatu dari tampilan dong. Lo aja yang gak tau seberapa spekta nih tempat. Gue berani jamin lo bakal nagih buat balik kesini lagi”

“Oh ya”

“Yap. Sini deh gue tunjukin”Rio menarik tangan Ify menuju tepi bangunan tersebut. Ify meronta saat pemuda itu menariknya mendekati tepi bangunan. Namun Rio langsung membekap mulut Ify dari belakang. Dan mendekati bibirnya tepat di telinga Ify.

“Tutup mata lo dan setelah lo buka mata, gue jamin lo bakal berterima kasih sama gue”

Perlahan Rio membuka tangannya yang menutupi mata Ify. Dengan hitungan ketiga tepat di telinga Ify. Kedua mata yang terpejam itu perlahan terbuka.

Duarrrr.. Duarrr

Mata Ify berbinar melihat pemandangan di hadapannya. Gadis itu menutup bibirnya. Betapa kagum dirinya melihat ledakan-ledakan warna-warni yang menghiasi langit malam ini. Belum lagi perpaduan lampu jalanan dan bangunan-bangunan yang terlihat kecil lainnya yang menghiasi pandangan matanya.

“Happy Birthday Ify Alyssa”

Ify mematung mendengar kalimat yang lagi-lagi di bisikkan tepat di telinganya oleh pemuda itu. Pemuda yang telah memberikannya malam terindah detik ini. Ify membalikkan tubuhnya dan langsung memeluk Rio yang berdiri di belakangnya. Tangisan yang di sertai senyum terpeta di wajah gadis itu.

Rio tersenyum sambil mengusap rambut Ify. Ia tahu bagaimana perasaan gadis itu dan ia bersyukur gadis itu menerima apa yang ia berikan. Rio melepas pelukannya. Tangannya menyentuh kedua pipi tirus Ify. Menghapus jejak air mata di kedua pipi itu. Ify memejamkan matanya menikmati usapan di wajahnya. Senyum manis masih terukir di wajahnya.

“Makasih Yo” Lirih Ify. Rio tersenyum membalas ucapan Ify. Tangannya mengusap lembut rambut gadis itu.

“Lo suka?”

“Apa ekspresi gue kurang jelas? Gue rasa lo tau jawaban pertanyaan lo kalo lo perhatiin ekspresi gue” Rio menggelengkan kepalanya membuat Ify menautkan alisnya.

“Gue gak mau repot-repot menerka. Gue maunya jawaban pasti dari omongan lo. Ngerti Nona?” Ify mendengus mendengar jawaban Rio. Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya ke depan setelah sebelumnya ia mencubit pinggang Rio. “Sakit bego”

“Bodo” Ify berjalan beberapa langkah mendekati tepi bangunan. Perlahan matanya terpejam. Ify menghembuskan nafasnya sejenak. Kemudian ia membuka matanya dan..

“RIOOOO GUE SENENG HARI INI. INI HADIAH TERINDAH DI HARI ULANG TAHUN GUE. THANK YOU SO MUCH BOY. YOU’RE THE BEST FOR ANYTHING. RIOOO GUE SENENG. HUAAAA”

Ify tersenyum setelah mengeluarkan suara sekencang tadi. Perlahan ify memundurkan langkahnya hingga kembali tak berjarak dengan Rio. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan melipat tangannya di dada.

“Ungkapan yang bagus. Lumayanlah. Oke ucapan terima kasih lo gue terima. Sekarang peluk gue” Ify menggelengkan kepalanya. Gadis itu mengendikkan bahunya dan langsung menerjang Rio. Rio terjengkit saat gadis itu sempat-sempatnya mencubit pinggangnya.

“Lo memang cowok yang penuh kejutan. Beruntung gue punya sahabat macam lo dan betapa beruntungnya Shilla punya kakak kayak lo” Rio tersenyum sedikit lirih mendengar ucapan dari gadis di pelukannya itu.

Ya hanya sahabat dan selamanya akan tetap begitu

Ify membuka matanya. Tak ia sadari wajahnya yang basah telah bercampur dengan air matanya. Ia tak peduli dengan dingin yang kembali menerjangnya. Ify tak peduli saat hari beranjak menggelap. Yang ia butuhkan hanyalah waktu terhenti menemaninya melepas rindu akan rasanya yang makin menekan pertahanannya.

“Maafin gue Yo. Gue sudah melanggar janji yang bahkan belum kita ikat sebelumnya. Biarkan gue mencintai lo terus dan gue gak berharap lo bertahan dengan cinta lo”

***
“Apa kak lo mau mengalihkan perusahaan Haling Corp yang di Berlin ke Jakarta. Kak jangan berulah deh. Lo baru dua hari disini. Jangan bikin mama murka”

Rio mengendikkan bahunya. Ia tetap tenggelam pada berkas-berkas di hadapannya tanpa memperhatikan Shilla yang berdiri dengan berkacak tangan pada pinggangnya. Shilla menghembuskan nafasnya merasa ucapannya tak di gubris oleh kakaknya itu.

“Ya elo gak usah khawatir. Segala urusan Haling Corp itu urusan gue. Hak waris yang papa jatuhkan atas Haling Corp atas nama gue. Segala aset Haling Corp itu atas kuasa gue. Jadi mama itu menerima beres segala keuntungan dari perusahaan. Sementara yang menjalankan adalah gue. Jadi itu hak gue mau mengalihkan perusahaan kemana pun”

“Tapi kak..”

“Hushhh. Lo gak ke rumah sakit. Jam berapa ini?” Shilla memanyunkan bibirnya. Ia menjatuhkan dirinya pada sofa yang di bawahnya ada Rio yang sedang fokus dengan laptop dan berkas-berkas yang berserakan pada karpet maupun meja kaca di depan sofa.

“Gue libur”

Rio menghentikan kegiatannya. Melirik sejenak kearah Shilla yang menyenderkan punggungnya pada punggung sofa dengan mata tertutup.

“Berasa bos besar aja lo libur praktek mulu. Tuh rumah sakit gagal buat jadi milik lo. Seenaknya aja lo libur. Di pecat baru tau. Udah untung di kasih praktek sama si Ga..”

Bukkk

Ucapan Rio terhenti begitu hantaman sebuah bantal mendarat pada kepalanya. Rio menatap tajam Shilla yang masih bertahan pada posisi semula tanpa beranjak.

“Nyerocos mulu lo. Urus tuh perusahaan Tuan Haling”

Shilla beranjak. Berjalan menjauhi Rio setelah sempat ia memukul kepala pemuda itu sehingga membuat Rio geram dan membalas Shilla dengan melempar bantal namun sayangnya Shilla sudah berada di tangga menuju kamarnya di lantai dua.

“Shillaaaaa”

***
Sivia menatap Gabriel dari atas ke bawah begitu sebaliknya. Menatap heran penampilan kakaknya yang terlihat santai dengan kaos abu-abu polos dengan di balut jaket coklat yang lengannya di tekuk hingga siku serta celana jins dan sepasang sneakers coklat membalut kakinya.

“Bentar deh kak. Jas dokter lo mana, celana kain putih lo, fantofel dan alat kedokteran mana Kok.. Kok lo pake baju santai amat sih. Lo gak praktek”

Gabriel menggelengkan kepalanya. Tangannya ia masukkan pada saku celana jins-nya dan berjalan menjauhi Sivia setelah sebelumnya ia mengucapkan kalimat yang membuat Sivia menggeram.

“Gue mau jalan sama si Acha”

“Apa? Lo mau jalan sama si monster. Oh my God kak lo yakin?” Gabriel menghentikan langkahnya. Kemudian kepalanya ia anggukkan sebagai jawaban pertanyaan Sivia. Sivia menghela nafas kesal mengetahui jawaban kakaknya.

“Gue ikut”

Gabriel membalikkan tubuhnya. Menautkan alisnya kearah Sivia yang menatapnya tajam.

“Mau rusuh lo. Gak lo anteng di rumah. Jangan ganggu gue. Ngerti” Gabriel langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar rumah. Sivia menegakkan kepalanya dengan tangan terlipat di dada. Senyum licik.. oh salah senyum jahil terukir di wajahnya.

“Siapa bilang gue nurut sama lo kak. Bukan Sivia namanya kalo menyerah. Gak ada yang boleh deketin lo selain Kak shil. Termasuk si monster gila itu” Sivia meniup poninya dan berjalan keluar rumah setelah sebelumnya mengambil sebuah kunci mobilnya

***
Sivia menajamkan pandangannya. Menatap sepasang sejoli yang sedang sibuk melihat bermacam gaun indah yang terpajang di sebuah butik. Tak jarang ia mengernyitkan wajahnya memandang jijik sejoli tersebut. Lebih tepatnya sang gadis yang terkadang terlihat bergelayut manja pada lengan pemuda di sampingnya.

Sivia menundukkan kepalanya. Ia sedikit tersentak saat sebuah kecoa merambati sepatunya. Sivia mengambil kecoa tersebut, kemudian kembali memusatkan pandangan pada sepasang sejoli di sana. Senyum jahil kembali tercipta di wajahnya.

“Eh mas mas. Ehmm mas pegawai toko di sini kan?” Tanya Sivia pada salah seorang Sales Promotion Boy yang bertugas menawarkan brosur baju-baju pada pelanggan yang lewat.

“Iya mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya SPB tersebut. Sivia menganggukkan kepalanya. Ia mendekati bibirnya pada SPB tersebut membisikkan sesuatu. SPB tersebut terlihat menganggukkan kepalanya. Sivia menaruh seekor kecoa yang tadi merambat di sepatunya yang kini telah mati karena di genggam Sivia terlalu kuat kepada SPB tersebut. SPB tersebut meninggalkan Sivia setelah gadis itu menunjukkan sepasang sejoli di sana. tepatnya si gadis manja tersebut. Dan sempat menerima tip dari Sivia.

***
Acha menggelayuti lengan Gabriel dengan manja. Senyumnya terus mengembang semenjak pemuda itu berdiri di depan kamarnya.

“Yel aku mau yang itu deh Yel. Itu kayaknya keren deh kalo aku pake di pertunangan kita. Iya kan?” Gabriel hanya menganggukkan kepalanya.

“Permisi mas mbak. Ada yang bisa saya bantu” Acha dan Gabriel kompak menoleh pada seorang pemuda berseragam yang berdiri dengan senyum ramah di hadapan mereka.

“Nih ini mas saya mau coba baju ini. Tolong ya mas”

Pemuda tersebut tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia menggiring Acha ke ruang ganti untuk mencoba baju dari butik tersebut. Acha masuk pada ruangan tersebut. Belum saja pemuda itu menjauh sebuah teriakan menggema dari ruangan tersebut.

“Huaaaa kecoa sialan. Tolong kecoa tolonggggg” Acha langsung berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan begitu saja baju yang akan ia beli tergeletak di lantai ruang ganti tersebut. Acha langsung berlari ke Gabriel yang menatap heran kearahnya. “Yel kita pergi dari sini”

***
Sivia tertawa puas melihat ekspresi ketakutan Acha. Ia masih ingat rencananya saat ingin mengerjai si Acha.

Mas, nanti mas layani dua orang yang di sana. Terus mas masukin nih kecoa ke kerah baju perempuan yang itu. Nah dia kan nanti pasti ganti baju. Pokoknya mas jalani perintah saya. Masalah tip. Saya akan kasih jadi mas gak usah khawatir.

Sivia kembali berjalan mengendap-endap mengikuti Gabriel kembali yang kini di tarik oleh Acha. Sivia langsung menyembunyikan dirinya pada sebuah pilar di mall tersebut saat keduanya tiba-tiba berhenti. Sivia menyipitkan matanya dan terlihat di sana justru Gabriel yang kini menarik tangan Acha. Sivia menghembuskan nafasnya kesal melihat adegan tersebut.

Sivia memasuki sebuah foodcourt yang sama seperti Gabriel dan Acha. Ia mengawasi keduanya begitu intens. Seorang pelayan menghampiri mereka. Menulis pesanan untuk mereka. Senyum jahil kembali mengembang di wajahnya. Ia pun kembali berjalan setelah pelayan itu kembali ke pantry.

“Mbak. Ini makanan buat pelanggan di meja no 29 ya?”

“Ya mbak. Ada apa ya. Ada yang bisa saya bantu”

Sivia mengembangkan senyumnya. “Ehm saya mau kasih vitamin buat kakak saya. Dia belum minum vitamin. Saya takut nanti kakak saya sakit lagi. Jadi saya mau taruh vitaminnya di makanan dan minumannya. Boleh ya mbak” Pelayan itu menatap Sivia sambil berpikir sedangkan Sivia memasang wajah memohon dengan puppy eyes yang menggoda. Pelayan itu menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Sivia yang bersorak di tempatnya.

Sivia mengalihkan pandangannya mencari sesuatu yang dapat mendukung rencana jahilnya tersebut. Pandangannya terhenti pada beberapa botol tak jauh dari dirinya berada. “Gotcha”

Sivia meraih cuka, bubuk cabe, garam, dan merica bubuk. Semuanya ia masukkan pada orange watermelon dan rice chicken grill di hadapannya. Tentu saja untuk sang gadis di sana. Sivia terkikik geli membayangi yang terjadi jika gadis itu memakan hidangan ala Sivia. “Ulala ini dia masakan ala chef Sivia. ckck. Rasain lo monster. Kuras noh wc sana. hahaha” Sivia memanggil pelayan tadi yang kini kembali dengan hidangan berbeda yang ia yakini milik kakaknya. Dengan tersenyum manis ia menyerahkan kembali racun yang ia buat tadi.

***
Gabriel menggelengkan kepalanya melihat Acha yang sedari tadi bolak-balik kamar mandi di sertai muntah-muntah. Gabriel benar-benar kasihan melihat tubuh lemas Acha yang benar-benar tak lagi berdaya. Gabriel menyipitkan matanya saat pandangannya menangkap seorang gadis yang sepertinya tak asing menurutnya. Lantas ia berdecak kesal menyadari gadis itu.

“Via. Hmm gak salah lagi dia tuh yang dari tadi sabotase si Acha. Ckck keterlaluan. Liat aja lo di rumah Vi”

“Gab. Aduh kita pulang aja yahh. A.. aku mau istirahat” Gabriel mengangguk. Dengan sigap ia langsung memapah tubuh Acha yang lemah.

“Cha apa gak lo ke rumah sakit aja sekalian gue periksa” Acha menggelengkan kepalanya. Ia mencengkeram kuat jaket milik Gabriel.

“Gak usah Gab. Aku istirahat aja. Aku cuma butuh kasur. Aww. Yel sakit perut aku” Gabriel yang bingung dengan keadaan Acha tanpa berbasa-basi ia langsung mengangkat tubuh Acha menuju mobilnya.

“Yang sabar Cha. Gue antar lo ke rumah sakit”

***
Brakk

Sivia terlonjak saat tiba-tiba pintu kamarnya di banting seseorang. Sivia menatap heran kearah pintunya. Di lihat Gabriel berdiri di pintunya dengan tangan yang terlipat di dada. Sivia menatap heran kearah kakaknya tersebut yang menatap tajam kearahnya.
“Apa yang lo lakuin tadi di Mall. Lo budek atau apa sih. Gue suruh diem di rumah apa susahnya” Sivia  mengernyitkan dahinya. Sivia bangkit dari kasurnya. Berjalan pelan ke hadapan Gabriel.

“Gue gak ngelakuin apa-apa. Lo gak liat gue lagi ngapain. Asal nuduh lo”

“Lo fikir lo bisa nipu gue. Lo kan yang bikin Acha sakit? Via”

Sivia menghembuskan nafasnya. Ia berbalik membelakangi Gabriel dan berjalan menuju meja riasnya.

“Memang jelas banget ya itu gue. Yah berarti ketauan deh” Ucap Sivia acuh sambil menyisir rambutnya.

“Apa yang lo lakuin ke Acha Vi. Lo tau dia keracunan setelah gue periksa dia tadi”

“Tapi nyatanya dia masih hidup kan kak. Ya udahlah gak harus lo nyalahin gue. Gue juga ngelakuin ini demi lo”

“TAPI GUE GAK SUKA CARA LO VI” Bentakan Gabriel itu sontak membuat Sivia tersentak. Ia membalikkan tubuhnya kearah Gabriel dan menatap tajam kearah pemuda itu.

“Lo gak suka cara gue. Trus gimana menurut lo dengan cara perempuan gila itu. Merusak hubungan lo dengan Shilla menggunakan kekuasaan, menghancurkan kebahagiaan lo, dan..”

Sivia menutup matanya. Air matanya mulai membumbung di mata sipitnya. Gadis itu berjalan mendekati Gabriel.  “Dan membuat lo hancur dengan kelicikan dia. Gue disini melakukan apa yang dia lakukan terhadap lo. Tapi bedanya gue masih memakai otak dan.. hati”

Gabriel menatap sendu adiknya yang menunduk di hadapannya. Tangannya terulur mengusap rambut adik yang sangat ia sayangi tersebut. “Vi”

Sivia mendongakkan kepalanya. Menatap Gabriel yang menatapnya sendu. Tak disangka air mata yang tadi sempat berakumulasi di matanya kini perlahan keluar menyusuri pipi chubby-nya

“Gue gak mau lo jadi cewek freak yang menggunakan kelicikan untuk dapati apa yang mau lo. Gue gak suka. Gue mau lo tetap jadi Sivia adik gue yang tulus, baik dan rendah hati. Gue mohon Vi berhenti untuk nyakitin Acha. Karena percuma. Rencana lo akan sia-sia. Dan semuanya tidak akan berubah”

“Tapi gue ini adik lo. Gue gak bisa liat kakak gue tersiksa. Sudahlah kak lo gak usah nyakitin diri lo sendiri cuma demi perempuan berhati busuk kayak Acha. Harusnya lo itu berjuang buat Shilla. Gue yakin Shilla masih nunggu lo buat ngeyakinin dia kalo dulu hingga sekarang perasaan lo masih sama”

Gabriel menundukkan kepalanya. Tangannya terkulai lemas di tubuhnya. Gabriel menutup matanya. Menahan keras air matanya agar tidak kembali keluar hanya karena gadis yang ia cintai itu.

“Gue gak bisa. Dia berhak dapet laki-laki yang lebih baik dari gue. Gue sudah memutuskan gue akan menghapus dia dari hidup gue. Gue mohon Vi. Bantu gue. Shilla berhak bahagia dengan kehidupan yang baru” Sivia mengalihkan pandangannya. Sambil menutup air matanya, gadis itu perlahan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk pernyataan Gabriel. Gabriel langsung menarik Sivia ke pelukannya.

Bersamamu adalah anganku. Memilikimu adalah asaku. Namun hidup tanpa bayangmu adalah takdirku.


Bersambung

Minggu, 15 November 2015

Play of Destiny part 11



 
***
Takdir mungkin saat ini sedang meredakan permainannya. Memberikan jeda makhluk tak berkuasa itu kembali berjalan pada jalan yang sesungguhnya. Memberikan pilihan saat keraguan itu datang dan memberikan jalan terang untuk mereka kembali pulang tanpa harus tersandung pada kerikil yang sempat menghadang.

***
Shilla melangkahkan kakinya pada koridor rumah sakit yang masih sepi pengunjung. Hanya beberapa suster dan keluarga pasien yang menginap di sekitar koridor. Tak jarang ia melemparkan senyum saat sapaan menyambut langkahnya.

“Pagi dokter Shilla”

Shilla menghentikan langkahnya. Seorang gadis yang berusia satu tahun lebih muda darinya berdiri di hadapannya sambil tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.

“Pagi Agni” Sapa Shilla. Agni tersenyum mendapat balasan atasannya itu. “Gimana Ag selama saya gak praktek ada hal yang terjadi?” Tanya Shilla sambil berjalan beriringan dengan susternya tersebut. Agni menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

“Sejauh ini saya bisa mengontrol semua Dok. Terlebih lagi Dokter Wijaya sangat membantu selama dokter Shilla tidak bertugas. Pasien pun syukurlah semua dapat beradaptasi tanpa tangan dokter Shilla akhir-akhir ini” Mendengar jawaban dari susternya, Shilla semakin melebarkan senyumnya.

“Tapi dok..”

Shilla menghentikan langkahnya begitu susternya berkata kembali. Shilla menolehkan kepalanya kearah susternya tersebut. Dapat ia lihat susternya tampak sedang memikirkan sesuatu. Shilla terkikik geli melihat raut serius susternya tersebut.

“Ada apa Ag. Apa ada sesuatu”

Agni menganggukkan kepalanya dan mencoba menatap dokternya tersebut. “Tempo hari waktu dokter Shilla tidak ada di tempat ada dua orang yaitu laki-laki dan perempuan mencari dokter. Cuma waktu saya tanya ada keperluan apa mereka tidak menjawab. Katanya mereka tau keberadaan dokter”

Shilla mengernyitkan dahinya. Siapa yang mencarinya? Ada perlu apa pula mereka mencari Shilla? Apa ada sesuatu yang terjadi. Entah apa yang Shilla rasakan hatinya berdegup kencang memikirkannya. Perasaan itu mulai merayapi hatinya. Resah dan rindu.

“Ehmm dok. Saya permisi dulu mau ke ruangan suster” Shilla menganggukkan kepalanya kemudian kembali berjalan namun tanpa di sadarinya tangan mengepal erat di sisi tubuhnya dan keringat dingin mulai mengucur di dahinya.

Langkah Shilla terhenti pada sebuah ruangan yang tertulis “Dr. Gabriel Damanik”. Mata Shilla tak lepas menatap tulisan tersebut. Ia langsung menghapus air mata yang akan turun dari matanya. Ia memejamkan matanya sejenak. Mengatur nafas setelah membuka matanya ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruangannya.

Di dinding yang lain seorang pemuda berjas dokter menatap gadis itu tepat saat gadis itu berdiri di ruangannya. Tatapannya menyendu. Dadanya sungguh sesak. Betapa besar rasa inginnya untuk menarik tubuh itu ke pelukannya. Mencium lembut puncak kepalanya. Menghirup aroma apel yang selalu ia sukai. Sungguh ia merindukannya. Merindukan saat detik berakhir ketika bahagia itu begitu bergempita di dadanya.

Ketika alasan itu membuat aku berhenti memilikimu. Percayalah tak ada satupun alasan yang mampu menguatkanku untuk berhenti mencintaimu. Bahkan saat takdir menyatakan bahwa mencintaimu adalah kesalahan. Namun percayalah penyesalan tidak akan pernah aku ijinkan hadir ketika takdir membiarkanku jatuh dalam cintamu. Meski semuanya berakhir tanpa ujung yang berarti.

***
“Teh Ify ngapain disini. Sudah malem atuh teh. Dingin gak baik untuk kesehatan. Teteh kan dokter masak iya mau sakit. Kasian atuh pasiennya punya dokter yang malah bikin sakit diri sendiri”

Ify tertawa ringan mendengar kalimat yang baru terlontar dari Dea. Kepalanya ia tolehkan menatap gadis berkuncir satu kepang tersebut. Senyum manis ia berikan untuk gadis polos di sampingnya. Ify menggeser tubuhnya dekat dengan Dea. Kemudian meletakkan kepalanya di pundak gadis itu. Dea hanya tersenyum dan merangkul pundak Ify memberikan kehangatan untuk sahabat dari nonanya tersebut.

“Dulu waktu gue kenal lo yang pertama kali mempertemukan lo dengan gue adalah Shilla. Bahkan di tempat ini. Dia memperkenalkan gue dengan cinta yang sesungguhnya. Gue selalu bahagia ketika melihat Shilla dimanja sama bu Inah, bercanda sama lo, main sama anak-anak disini. Gue saat itu mengerti bahwa mencintai itu sederhana. Ketika kita mengerti apa itu ketulusan”

“Teteh dan Teh Shilla adalah orang-orang baik. Bukan seperti orang kota yang sombong bergelimang materi lalu merasa jijik dengan orang-orang kecil seperti kita. Saya senang bisa mengenal kalian yang mau mengerti keadaan kita. Saya sempat bersyukur ibu sempat di pecat oleh keluarga Haling. Karena kalau tidak seperti itu Teh Shilla dan kang Rio tidak akan kemari meminta maaf sama ibu dan saya tidak akan bertemu mereka dan kalau saja itu terjadi saya pun tidak akan bertemu teh Ify”

Ify menegakkan tubuhnya. Menatap tepat pada kedua mata bening Dea. Wajahnya mengusap kedua pipi putih itu dengan wajah yang tersenyum tulus.

“Bagi gue, Shilla dan Rio lo adalah adik kecil yang sangat polos dan harus selalu dijaga. Gue inget saat dulu kita saling berjanji saling menjaga satu sama lain bahkan saat kita berjanji untuk menjaga lo adik kecil kita. Tapi semua itu berakhir karena gue. Gue jahat. Gue bodoh dan..”

“Dan teteh jangan menyalahkan diri sendiri. Saya mohon teh. Semua sudah berakhir. Teh Ify dan kang Rio sudah kembali ke Indonesia untuk menemui teh Shilla. Dan saya yakin Teh Shilla sangat senang.” Ucap Dea dengan senyum merekah di wajahnya membuat Ify mengalihkan pandangannya dan tersenyum pahit.

“Shilla memang harus memaafkan Rio karena Rio adalah kakaknya dan Rio sama sekali gak salah dia adalah korban dari apa yang gue lakukan dulu. Membuat Rio terpisah dari Shilla dan justru gue ikut pergi dari kehidupan Shilla. Shilla gak akan memaafkan gue. Gue bersumpah setelah Rio dan shilla ketemu gue akan pergi menjauh dari mereka”

Dea menggelengkan kepalanya. Gadis itu meraih tangan Ify dan mengenggamnya erat. Ify memandang Dea yang menatapnya dengan pandangan sendu. Matanya terpejam saat ia merasakan usapan lembut di tangannya.

“Teh Ify gak perlu melakukan itu. Saya yakin Teh Shilla akan jauh lebih sedih di bandingkan dulu. Yang dia inginkan bukan hanya kakaknya saja. Tapi sahabatnya dia juga sangat butuhkan”

Ify menatap mata Dea mencari ketulusan di sana. “Lo yakin?”

Dea menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Hidup teh gak selamanya seperti air mengalir di tempat datar. Suatu saat nanti ia akan jatuh ke bawah dan menemukan alur aliran yang baru. Dan yang harus di lakukan oleh air itu adalah mengikuti alurnya sampai ia menemukan hilirnya.” Dea menghentikan ucapannya. Tubuhnya ia dekatkan ke arah ify dan ia rangkul gadis itu

“Sama seperti manusia dalam kehidupan. Suatu saat nanti kita pasti bakal jatuh. Tapi kita harus beradaptasi setelah jatuh itu kita alami. Menjalaninya dan percaya bahwa semua itu adalah bagian yang sudah tertulis di takdir dan setelah itu bahagia itu pasti bakal dateng”

Ify menjatuhkan air matanya. Reflek ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Dea dan menumpahkan tangisnya di sana. Dea mengusap lembut kepala Ify. Ify memejamkan matanya merasakan kehangatan dari pelukan juga lembutnya usapan dari gadis belia di hadapannya. Dea menjauhkan tubuh Ify. Kemudian membingkai wajah tirus itu. Dengan senyum lembut ia mengusap pipi kemerahan Ify. Menghapus air yang meriak di sana.

“Aduh teteh gak usah nangis atuh jelek tau. Liat deh matanya merah terus bengkak. Idungnya juga merah kayak idung badut di pasar malam. Ihhh jelek atuh teh. Kayak monster yang ada di tipi-tipi itu tau Teh. Senyum atuh”

Ify menyunggingkan senyum. Lalu menghapus air matanya. Kemudian tangannya terulur mengusap pipi berisi Dea. Dan dengan isengnya ia mencubit pipi tersebut. Melihat Dea mengaduh dengan tangan yang mengusap pipinya korban cubitan Ify tak lupa juga dengan bibir merengut, melihat reaksi tersebut Ify tertawa lepas bahkan sepertinya lupa bagaimana keresahan yang sempat melingkupi perasaannya tadi.

“Lo mau di cium Daud hah. Mulut lo jangan maju gitu dong de. Itu mengundang Daud dan sebangsanya buat mangsa lo tuh”

“Ihh teteh mah apa tuh. Memang teteh pikir saya makanan di mangsa segala. Ngapain pula sama kang Daud. Saya teh maunya sama Kang Dayat ajalah.Tapi gak papa deh yang penting teh saya bisa liat teteh ketawa lagi. Duh aduh teteh mah geulis. Saya mah gak heran kalo Kang Rio teh klepek-klepek dari dulu sama teteh. Ckckck”

“Apaan sih lo”

“Tuh pipinya teh merah. Uhuk uhuk”

“Deaaa. Lo ya”

Ify langsung menyerang Dea. Menggelitiki pinggang ramping gadis itu sampai gadis itu terjengkit geli hingga terguling di saung tempat mereka tersebut. Tapi satu yang sangat jelas terlihat. Tawa lepas keduanya yang seakan-akan melupakan bagaimana air mata beberapa detik lalu menyesakkan batin satu di antaranya atau bahkan keduanya tanpa tersadari.

Dari pohon kelapa tak jauh dari saung mereka berada Rio mematung menatap mereka. Oh salah lebih tepatnya salah satu gadis di sana. Gadis yang sudah dua tahun menjadi penghuni tetap hatinya begitu pun ia yakini bahwa di hati gadis itu pun tersimpan dirinya. Namun karena keegoisan takdir keinginan hatinya menahan gejolak inginnya untuk memiliki gadis itu.

Rio meringis menatap tawa lepas dari gadis itu. Semuanya kini terlihat kembali di mata Rio. Tawa tulus yang selalu hadir dulu yang entah mengapa justru kini yang selalu ia dapati adalah tawa sinis. Suara lembut yang menggetarkan hatinya malah yang kini sering terdengar adalah suara dingin yang menusuk batinnya. Namun satu yang selalu ia yakini dan ia rasakan tak pernah berubah bahkan dari dulu sekalipun. Rasanya yang ia tau tetap sama besarnya pada gadis itu bahkan yang kini ia sadari rasa itu justru semakin besar dan dalam.

Bahkan saat semua kembali tepat dimata gue. Gue gak tau apa yang pantas gue rasakan. Bahagia atau kehilangan. Gue hanya membutuhkan lo tetap di sisi gue. Membiarkan gue dan perasaan gue yang sudah terlalu bergantung sama lo. Baik atau buruk keadaan lo.

***
Shilla menghentikan kegiatannya saat suara pintu yang di ketuk terdengar di telinganya. Shilla berdehem membuat kode untuk orang di luar sana. Tak lama pintu itu terbuka. Seorang wanita berpakaian putih memasuki ruangannya. Dahi Shilla mengernyit saat ia dapati wajah tak enak suster di hadapannya.

“Ada apa sus. Apa ada pasien yang butuh saya tangani” Tanya Shilla. Suster itu menggelengkan kepalanya. Melangkah maju dan berdiri tepat di samping meja kerja Shilla. Kemudian membungkukan badannya mendekati telinga Shilla.
“Apa?” Shilla terdiam mendadak mendengar bisikan dari suster paruh baya di sebelahnya. Kepalanya ia tolehkan. Memandang tak percaya wajah suster yang berusia lebih tua darinya itu.

Tak lama pintu ruangan Shilla terbuka. Perlahan langkah memasuki ruangannya terdengar di telinganya. Shilla mengeratkan pegangan pada sisi mejanya. Menatap tajam kearah pintunya.

“Shilla” Shilla sontak memejamkan matanya begitu suara baritone yang sudah lama tak ia dengar kembali.

“Ngapain lo kesini”

***
Rio melirik Ify di sampingnya. Berulang kali gadis itu ia lihat menghembuskan nafasnya. Rio tersenyum melihat gadis itu. Tentu saja Ify tak mengetahuinya. Perlahan tangan Rio mengenggam tangan Ify yang mengepal di paha gadis itu. Meremas tangan itu lembut.

Ify menatap kearah tangannya yang di genggam Rio. Matanya terpejam saat pemuda itu meremas tangannya. Ify menatap sendu kearah Rio. Mengabarkan bahwa ia tidak baik-baik saja.

“Apa yang lo takuti” Ucap Rio membuat lagi-lagi Ify menghembuskan nafasnya. Kepalanya menggeleng. Sungguh Ify tidak tau apa yang ia rasakan.

“Gue gak tau”

Rio memutar pundak Ify menghadap kearahnya. Tangannya menyentuh dagu tirus milik Ify. Dan mendongakkan kepala gadis itu agar menatapnya. Ify menatap Rio. Meyakinkan pemuda itu tentang rasa yang melingkupi hatinya. Ia biarkan dahi pemuda itu menyentuh dahi miliknya. Biarkan ia egois saat ini. Hanya pemuda itu yang mampu membuat keresahannya menenang.

Rio terdiam saat ia menyadari reaksi dari gadis di hadapannya. Tidak melawan. Dalam hati Rio bersorak. Ia benar-benar yakin bahwa cintanya pun tidak terlawan oleh gadis itu. Namun ia segera menjauhkan wajahnya begitu ia sadar bahwa bukan saatnya ia terhanyut oleh cintanya.
“Ify yang selama ini gue kenal selalu yakin atas apa yang ia lakukan. Bahkan saat ia bimbang sekalipun. Terbukti saat ia begitu yakin meninggalkan sahabatnya demi laki-laki yang ia cintai. Bukan begitu?”

Sudut bibir Ify terangkat salah satu. Kekehan keluar dari bibirnya. Matanya menatap tajam pemuda yang juga tersenyum miring kearahnya

“Anda terlalu percaya tuan” Ucap Ify sambil melipat tangannya di dada. Rio tertawa kecil melihat ekspresi Ify yang ia kenal selama ia berada di Jerman. Itulah yang selalu membuatnya nyaman.

“Gue selalu senang dengan Ify yang angkuh, terlalu percaya diri, tidak suka di remehkan dan keras di bandingkan Ify yang lemah, terhanyut dengan rasanya dan terlalu takut atas apa yang akan terjadi. Tetaplah menjadi Ify yang gue suka” Ucap Rio lembut sambil menatap tulus kearah Ify. Gadis itu kembali tersenyum angkuh kearah pemuda itu kemudian memukul dada milik Rio dengan kepalan tangannya.

“Dengan senang hati Tuan Haling”

Gue tau ketulusan itu ada. Ketika lo meyakinkan gue dengan keangkuhan lo. Berdiri seakan-akan lo menyatakan hanya lo yang bisa mencintai gue dan hanya gue yang pantas lo cintai. Gue yakin cinta gue pun sama sederhananya seperti lo.

***
“Shilla”

Shilla bangkit dari duduknya. Perlahan melangkahkan kakinya menuju seorang pemuda yang berdiri di ambang pintunya. Menatapnya sendu. Langkah Shilla bergetar. Beningan kaca mulai membungkus kelopak beningnya.

Brukk. Tess

Air matanya tepat jatuh saat lingkupan hangat itu mendekap tubuhnya. Detak jantung keduanya menjadi irama pengiring penyampai rindu untuk mereka. Tumpahan air mata dan isakan menyesakkan menjadi pelengkap kesenduan itu. Keduanya saling menumpahkan rindu yang tak pernah tersampaikan.

“Kak.. Kak Rio”

Rio semakin menenggalamkan kepala Shilla dalam dekapannya. Mengeratkan lingkaran yang ia buat untuk mengukung seseorang yang sangat di rindukkannya. Menyampaikan seberapa dalam rindunya akibat keegoisan yang selalu menahan angannya.

“Aku.. aku kangen kakak”

Shilla memejamkan matanya. Meremas kemeja milik Rio, kakaknya yang begitu ia rindukan dan selalu ia harapkan kehadirannya.

“Kakak juga. Maafin kakak Shilla. Maaf”

Tangis Shilla semakin pecah. Suara baritone yang selalu ia harapkan cepat terlantun di telinganya. Kini semuanya tak lagi seperti angan. Rio melepas pelukannya. Menangkupkan tangannya di kedua pipi tembam Shilla. Menghapus aliran air mata di sana. Sebuah senyum terukir di wajah tampannya.

“Kakak kangen sama kamu. Maafin kakak ya Shil gak pernah berusaha untuk memperjuangkan kamu kembali ke keluarga kita. Tapi di sini bukan hanya kakak berjanji. Tapi kakak akan buktikan kita semua. Kakak, kamu dan mama akan berada di satu atap yang sama. Kamu mau percaya”

Shilla tak menjawab. Namun seulas senyum terukir menghiasi wajahnya. Perlahan tangan kecil milik Shilla menangkup kedua tangan kekar milik Rio. Mengarahkan tangan tersebut mendekat kearah bibirnya. Mengecup tangan tersebut sebagai tanda bakti seorang adik kepada kakaknya.

“Kakak pun tau kan. Aku sayang sama kakak. Kita ini kakak adik mau kita terpisah sejauh manapun darah kita tetap sama. Itulah yang selalu membuat aku tetap percaya kalau kakak akan kembali. Aku gak butuh kakak berjanji apapun. Aku.. aku cuma mau kakak bertahan menjadi kakaknya Ashilla”

Rio tersenyum mendengar ucapan Shilla. Ucapan lembut yang selalu ia rindukan. Rio membungkukan badannya. Mengarahkan puncak kepala Shilla ke wajahnya. Mencium penuh kasih sayang adiknya yang kini telah kembali ia dapatkan. Shilla memejamkan matanya. Merasakan getaran bahagia yang melingkupi dadanya. Sungguh ia bahagia.

***
Ify tersenyum melihat setiap adegan yang tersuguh di hadapannya. Air mata tak henti mengalir di wajahnya. Ingin rasanya ia berlari kemudian menarik gadis tersebut ke pelukannya. Kemudian bertekuk lutut memohon maaf. Namun ketika kesadaran itu kembali ia ingat. Kepalanya ia gelengkan. Perlahan kakinya melangkah mundur. Sebuah senyum masih tertera di wajahnya.

Brukk.

Ify terdiam begitu ia merasakan hantaman pada tubuhnya. Ify membalikkan badannya. Sontak matanya melebar. Tak terkecuali orang yang menabraknya.

“Ify/ Gabriel”

Gabriel mengelengkan kepalanya. Menatap tak percaya gadis mungil di hadapannya. Sementara Ify bergerak gusar di tempatnya.

“Fy kok lo”

“Maaf Yel gue harus pergi”

Ify langsung berlari pergi meninggalkan Gabriel yang menatap punggung ify bingung.

Maaf gue harus kembali menjadi pengecut. Bukan berarti gue takut. Gue mau kembali pada asal gue. Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa bagi kalian. Biarkan gue menanggung kesalahan gue sendiri. Membuat kalian kembali adalah hal terbaik sebagai penebus kesalahan gue. Maaf.. maaf..

***
“Shill lo kangen Ify gak?”

Mendengar nama yang baru saja di sebut kakaknya. Sontak Shilla menegakkan tubuhnya. Menatap tak percaya kakaknya. Shilla menatap mata kakaknya mencari jawaban.

“Dia di sini?” Rio menganggukkan kepalanya. Shilla segera menjauh dari Rio dan berlari menuju luar ruangannya. Kepalanya ia tolehkan untuk mencari objek yang ia butuhkan itu. Shilla kembali membalikkan tubuhnya kearah Rio. Kemudian menggelengkan kepalanya. “Dimana? Dia gak ada kak”

Rio tersentak. Ia langsung berlari menyusul Rio dan segera memutar pandangannya. Oh shit. Nihil. Gadis itu tak terlihat dimana pun.

“Kak Ify kemana kak. Dia gak mungkin pergi lagi kan kak. Dia..”

Shilla memang harus memaafkan Rio karena Rio adalah kakaknya dan Rio sama sekali gak salah dia adalah korban dari apa yang gue lakukan dulu. Membuat Rio terpisah dari Shilla dan justru gue ikut pergi dari kehidupan Shilla. Shilla gak akan memaafkan gue. Gue bersumpah setelah Rio dan shilla ketemu gue akan pergi menjauh dari mereka

Rio menggelengkan kepalanya. Mengusap wajah frustasi. Ia menatap sendu kearah Shilla. Shilla hanya mendesah kecewa saat tatapan tersirat itu ia mengerti.

“Kakak cari Ify dulu. Dia gak bisa pergi gitu aja. Lo diem disini oke.”

Rio langsung berlari meninggalkan Shilla yang menatap punggung Rio lelah. Apa yang terjadi? Kenapa gadis itu harus pergi. Sungguh Shilla sangat merindukannya.

Apapun yang terjadi gue mohon kembali Fy. Gue mohon.

Bersambung

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...