***
“Lo
pergi sebelum lo ketemu Shilla. Fy lo gak mikir..”
“Hushh
stop Cak. Gue gak butuh pendapat lo. Gue cuma numpang tinggal disini sampek
papa nyiapin gue tiket balik ke Jerman”
Cakka
menggelengkan kepalanya menatap sepupunya tersebut. Entah apa yang gadis itu
pikirkan, Cakka pun tak sama sekali mengertinya.
“Lalu
gimana sama si putra Haling itu. Apa lo yakin lo bisa tanpa dia dan lupain
perasaan lo”
Ify
terdiam. Ia bahkan tak berpikir apakah mampu ia melupakan pemuda yang ia cintai
selama lima tahun itu. Bodoh. Pertanyaan macam apa itu. Mencintai memang mudah,
namun melupakan apakah itu hal yang paling di benci ketika harus mencintai. Dan
Ify cukup tau itu.
“Gue
mudah melupakan dia. Karena dia bukan berarti apa-apa untuk gue setelah ini.
Dan mungkin cinta dia bukan lagi apapun buat gue”
Cakka
tersenyum sinis mendengar ucapan Ify. Ia tahu sepupunya tersebut berbohong.
Namun Cakka hanya berdesis membuat Ify hanya menatapnya tajam. Cakka pun
mengendikkan bahunya. Kemudian melenggang pergi setelah sebelumnya ia sempat
mengucapkan kalimat yang mampu membuat Ify membeku.
“Hati
seseorang itu cuma satu. Kalo lo mainin terus hati tersebut hingga rusak dan
tidak lagi berbentuk. Itu artinya lo gak punya hati. Inget jangan lagi-lagi
menyakiti hati mereka. Mereka yang tulus mencintai lo. Gue ke rumah sakit dulu.
Silahkan beristirahat nona Alyssa”
***
Gue
mudah melupakan dia. Karena dia bukan berarti apa-apa untuk gue setelah ini.
Dan mungkin cinta dia bukan lagi apapun buat gue
Rio
tak lagi berkutik. Pandangannya kosong tak terarah. Satu yang pemuda itu
rasakan. Hatinya. Hati yang semuanya utuh hanya demi gadis itu seperti hilang
tak berserak. Semua seakan teredam oleh kalimat yang seakan dengan jelas bahwa
semua itu keraguan. Di saat Rio ingin maju menegaskan perasaannya. Justru gadis
itu malah menarik dirinya menjauh. Kini pemuda itu benar-benar meragukan
keyakinannya bahwa gadis itu juga satu rasa dengannya
Shilla
menatap Rio yang sedari tadi berdiam di sampingnya. Pandangan gadis itu sendu
melihat seberapa hancur perasaan kakaknya tersebut. Shilla menarik Rio mendekat
kearahnya. Kemudian merengkuh tubuh kakaknya tersebut. Ia tahu seberapa hancur
hati kakaknya ini. Shilla tak tau apa yang terjadi. Hanya yang dapat ia yakini
bahwa hancurnya hati kakaknya seiring dengan perasaan kakaknya tersebut pada
sahabatnya. Ify Alyssa.
“Shill.
Mulai sekarang kita harus melupakan dia. Kita harus belajar agar terbiasa tanpa
dia. Karena pada nyatanya dia gak menginginkan kita di hidup dia Shill. Lo
ngerti”
Shilla
menutup matanya. Tangannya mengenggam erat tangan milik kakaknya. Perlahan
kepalanya mengangguk walau dalam hatinya menjerit keras.
“Kak.
Kenapa ya nasib kita sama. Sama-sama mencintai tapi gak bisa memiliki”
Rio
tersenyum lirih mendengar pertanyaan Shilla. Ia menegakkan tubuhnya.
Menangkupkan telapak tangannya pada kedua pipi Shilla. Rio mengusap pipi halus
adiknya yang selalu di rindukannya. Shilla mengenggam tangan Rio. Matanya
terpejam menikmati usapan kakaknya tersebut.
“Karena
gak selamanya yang terlihat indah adalah yang terbaik kita miliki. Lo ataupun
gue pasti bisa lewati semua ini. Kita akan dapati seseorang yang
sungguh-sungguh pantas kita miliki. Lo harus yakin itu”
Shilla
menjatuhkan tubuhnya pada tubuh tegap Rio. Menumpahkan tangisnya pada pemuda
yang kini kembali setelah sekian lama di pisahkan waktu.
“Gue
akan siap melewati apapun. Asalkan ada lo yang selalu ada di samping gue. Kak
lo janji ya jangan tinggalin gue apapun yang terjadi. Cuma lo yang sekarang gue
butuhkan. Dan lo satu-satunya yang gue miliki”
Rio
tak menjawab. Namun ia semakin erat memeluk tubuh Shilla di dekapannya.
Menjawab dengan tegas bukan dengan ucapan. Namun dengan ungkapan rasa melalui
hasrat tubuhnya. Shilla tersenyum di pelukan Rio. Kini ia semakin yakin. Dengan
Rio, ia mampu memulai hidup baru dan melupakan semua yang kini telah
menghilang. Sahabatnya yang kembali berlari dan cintanya yang berkelana pada
takdir yang lain.
***
Semilir
angin menerpa wajah cantik Ify. Menarikan rambut sebahu itu akibat permainan
lembut sang angin. Ify menatap pada hamparan bangunan di hadapannya yang
terlihat kecil di matanya. Senyum pedih tak hentinya menghiasi wajahnya. Tak
ada air mata, tak ada pandangan kosong. Hanya tatapan sendu dan helaan nafas
sesak yang mengiringinya bertahan disini.
Ify
tersentak saat titikan air jatuh pada tangannya. Gadis itu mendongak. Entah
bagaimana caranya ia tak menyadari kapas kelabu yang telah membumbung di
atasnya siap mengeluarkan tetesan air di bawahnya. Ify kembali memusatkan
pandangannya kembali ke depan. Membiarkan perlahan tetesan yang semakin
bertambah jumlahnya tersebut mengguyur tubuhnya.
Ify
memejamkan matanya. Perlahan kepingan memori mulai menari di otaknya.
Membuatnya semakin tenggelam pada hujan yang menyelimuti kesendiriannya.
“Lo
lucu ya harusnya tuh lo bawa cewek ke tempat yang romantis kek. Ke pantai kah,
dinner romantis di kafe atau danau yang di hiasi lampu-lampu. Lah tapi lo malah
bawa gue ke tempat gini. Bangunan kosong, kotor, ya sedikit menyeramkan sih.
Apa istimewanya coba”
Rio
tertawa mendengar ucapan Ify. Ia menggelengkan kepalanya. Dengan tangan
terlipat di dada sambil menyenderkan punggungnya pada salah satu pilar pada
bangunan tersebut Rio terkekeh sambil memandangi Ify yang merengut lucu di
hadapannya
“Makanya jangan menilai sesuatu dari
tampilan dong. Lo aja yang gak tau seberapa spekta nih tempat. Gue berani jamin
lo bakal nagih buat balik kesini lagi”
“Oh ya”
“Yap. Sini deh gue tunjukin”Rio menarik
tangan Ify menuju tepi bangunan tersebut. Ify meronta saat pemuda itu
menariknya mendekati tepi bangunan. Namun Rio langsung membekap mulut Ify dari
belakang. Dan mendekati bibirnya tepat di telinga Ify.
“Tutup mata lo dan setelah lo buka mata,
gue jamin lo bakal berterima kasih sama gue”
Perlahan Rio membuka tangannya yang
menutupi mata Ify. Dengan hitungan ketiga tepat di telinga Ify. Kedua mata yang
terpejam itu perlahan terbuka.
Duarrrr.. Duarrr
Mata Ify berbinar melihat pemandangan di
hadapannya. Gadis itu menutup bibirnya. Betapa kagum dirinya melihat
ledakan-ledakan warna-warni yang menghiasi langit malam ini. Belum lagi
perpaduan lampu jalanan dan bangunan-bangunan yang terlihat kecil lainnya yang
menghiasi pandangan matanya.
“Happy Birthday Ify Alyssa”
Ify mematung mendengar kalimat yang
lagi-lagi di bisikkan tepat di telinganya oleh pemuda itu. Pemuda yang telah
memberikannya malam terindah detik ini. Ify membalikkan tubuhnya dan langsung
memeluk Rio yang berdiri di belakangnya. Tangisan yang di sertai senyum terpeta
di wajah gadis itu.
Rio tersenyum sambil mengusap rambut
Ify. Ia tahu bagaimana perasaan gadis itu dan ia bersyukur gadis itu menerima
apa yang ia berikan. Rio melepas pelukannya. Tangannya menyentuh kedua pipi
tirus Ify. Menghapus jejak air mata di kedua pipi itu. Ify memejamkan matanya
menikmati usapan di wajahnya. Senyum manis masih terukir di wajahnya.
“Makasih Yo” Lirih Ify. Rio tersenyum
membalas ucapan Ify. Tangannya mengusap lembut rambut gadis itu.
“Lo suka?”
“Apa ekspresi gue kurang jelas? Gue rasa
lo tau jawaban pertanyaan lo kalo lo perhatiin ekspresi gue” Rio menggelengkan
kepalanya membuat Ify menautkan alisnya.
“Gue gak mau repot-repot menerka. Gue
maunya jawaban pasti dari omongan lo. Ngerti Nona?” Ify mendengus mendengar
jawaban Rio. Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya ke depan setelah sebelumnya
ia mencubit pinggang Rio. “Sakit bego”
“Bodo” Ify berjalan beberapa langkah
mendekati tepi bangunan. Perlahan matanya terpejam. Ify menghembuskan nafasnya
sejenak. Kemudian ia membuka matanya dan..
“RIOOOO GUE SENENG HARI INI. INI HADIAH
TERINDAH DI HARI ULANG TAHUN GUE. THANK YOU SO MUCH BOY. YOU’RE THE BEST FOR
ANYTHING. RIOOO GUE SENENG. HUAAAA”
Ify tersenyum setelah mengeluarkan suara
sekencang tadi. Perlahan ify memundurkan langkahnya hingga kembali tak berjarak
dengan Rio. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan melipat tangannya di dada.
“Ungkapan yang bagus. Lumayanlah. Oke
ucapan terima kasih lo gue terima. Sekarang peluk gue” Ify menggelengkan
kepalanya. Gadis itu mengendikkan bahunya dan langsung menerjang Rio. Rio
terjengkit saat gadis itu sempat-sempatnya mencubit pinggangnya.
“Lo memang cowok yang penuh kejutan.
Beruntung gue punya sahabat macam lo dan betapa beruntungnya Shilla punya kakak
kayak lo” Rio tersenyum sedikit lirih mendengar ucapan dari gadis di pelukannya
itu.
Ya hanya sahabat dan selamanya akan
tetap begitu
Ify membuka matanya. Tak ia sadari
wajahnya yang basah telah bercampur dengan air matanya. Ia tak peduli dengan
dingin yang kembali menerjangnya. Ify tak peduli saat hari beranjak menggelap.
Yang ia butuhkan hanyalah waktu terhenti menemaninya melepas rindu akan rasanya
yang makin menekan pertahanannya.
“Maafin gue Yo. Gue sudah melanggar
janji yang bahkan belum kita ikat sebelumnya. Biarkan gue mencintai lo terus
dan gue gak berharap lo bertahan dengan cinta lo”
***
“Apa kak lo mau mengalihkan perusahaan
Haling Corp yang di Berlin ke Jakarta. Kak jangan berulah deh. Lo baru dua hari
disini. Jangan bikin mama murka”
Rio mengendikkan bahunya. Ia tetap
tenggelam pada berkas-berkas di hadapannya tanpa memperhatikan Shilla yang
berdiri dengan berkacak tangan pada pinggangnya. Shilla menghembuskan nafasnya
merasa ucapannya tak di gubris oleh kakaknya itu.
“Ya elo gak usah khawatir. Segala urusan
Haling Corp itu urusan gue. Hak waris yang papa jatuhkan atas Haling Corp atas nama
gue. Segala aset Haling Corp itu atas kuasa gue. Jadi mama itu menerima beres
segala keuntungan dari perusahaan. Sementara yang menjalankan adalah gue. Jadi
itu hak gue mau mengalihkan perusahaan kemana pun”
“Tapi kak..”
“Hushhh. Lo gak ke rumah sakit. Jam
berapa ini?” Shilla memanyunkan bibirnya. Ia menjatuhkan dirinya pada sofa yang
di bawahnya ada Rio yang sedang fokus dengan laptop dan berkas-berkas yang
berserakan pada karpet maupun meja kaca di depan sofa.
“Gue libur”
Rio menghentikan kegiatannya. Melirik
sejenak kearah Shilla yang menyenderkan punggungnya pada punggung sofa dengan
mata tertutup.
“Berasa bos besar aja lo libur praktek
mulu. Tuh rumah sakit gagal buat jadi milik lo. Seenaknya aja lo libur. Di
pecat baru tau. Udah untung di kasih praktek sama si Ga..”
Bukkk
Ucapan Rio terhenti begitu hantaman
sebuah bantal mendarat pada kepalanya. Rio menatap tajam Shilla yang masih
bertahan pada posisi semula tanpa beranjak.
“Nyerocos mulu lo. Urus tuh perusahaan
Tuan Haling”
Shilla beranjak. Berjalan menjauhi Rio
setelah sempat ia memukul kepala pemuda itu sehingga membuat Rio geram dan
membalas Shilla dengan melempar bantal namun sayangnya Shilla sudah berada di
tangga menuju kamarnya di lantai dua.
“Shillaaaaa”
***
Sivia menatap Gabriel dari atas ke bawah
begitu sebaliknya. Menatap heran penampilan kakaknya yang terlihat santai
dengan kaos abu-abu polos dengan di balut jaket coklat yang lengannya di tekuk
hingga siku serta celana jins dan sepasang sneakers coklat membalut kakinya.
“Bentar deh kak. Jas dokter lo mana,
celana kain putih lo, fantofel dan alat kedokteran mana Kok.. Kok lo pake baju
santai amat sih. Lo gak praktek”
Gabriel menggelengkan kepalanya.
Tangannya ia masukkan pada saku celana jins-nya dan berjalan menjauhi Sivia
setelah sebelumnya ia mengucapkan kalimat yang membuat Sivia menggeram.
“Gue mau jalan sama si Acha”
“Apa? Lo mau jalan sama si monster. Oh
my God kak lo yakin?” Gabriel menghentikan langkahnya. Kemudian kepalanya ia
anggukkan sebagai jawaban pertanyaan Sivia. Sivia menghela nafas kesal
mengetahui jawaban kakaknya.
“Gue ikut”
Gabriel membalikkan tubuhnya. Menautkan
alisnya kearah Sivia yang menatapnya tajam.
“Mau rusuh lo. Gak lo anteng di rumah.
Jangan ganggu gue. Ngerti” Gabriel langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan
keluar rumah. Sivia menegakkan kepalanya dengan tangan terlipat di dada. Senyum
licik.. oh salah senyum jahil terukir di wajahnya.
“Siapa bilang gue nurut sama lo kak.
Bukan Sivia namanya kalo menyerah. Gak ada yang boleh deketin lo selain Kak
shil. Termasuk si monster gila itu” Sivia meniup poninya dan berjalan keluar
rumah setelah sebelumnya mengambil sebuah kunci mobilnya
***
Sivia menajamkan pandangannya. Menatap
sepasang sejoli yang sedang sibuk melihat bermacam gaun indah yang terpajang di
sebuah butik. Tak jarang ia mengernyitkan wajahnya memandang jijik sejoli
tersebut. Lebih tepatnya sang gadis yang terkadang terlihat bergelayut manja
pada lengan pemuda di sampingnya.
Sivia menundukkan kepalanya. Ia sedikit
tersentak saat sebuah kecoa merambati sepatunya. Sivia mengambil kecoa
tersebut, kemudian kembali memusatkan pandangan pada sepasang sejoli di sana.
Senyum jahil kembali tercipta di wajahnya.
“Eh mas mas. Ehmm mas pegawai toko di
sini kan?” Tanya Sivia pada salah seorang Sales Promotion Boy yang bertugas
menawarkan brosur baju-baju pada pelanggan yang lewat.
“Iya mbak. Ada yang bisa saya bantu?”
Tanya SPB tersebut. Sivia menganggukkan kepalanya. Ia mendekati bibirnya pada
SPB tersebut membisikkan sesuatu. SPB tersebut terlihat menganggukkan
kepalanya. Sivia menaruh seekor kecoa yang tadi merambat di sepatunya yang kini
telah mati karena di genggam Sivia terlalu kuat kepada SPB tersebut. SPB
tersebut meninggalkan Sivia setelah gadis itu menunjukkan sepasang sejoli di
sana. tepatnya si gadis manja tersebut. Dan sempat menerima tip dari Sivia.
***
Acha menggelayuti lengan Gabriel dengan
manja. Senyumnya terus mengembang semenjak pemuda itu berdiri di depan
kamarnya.
“Yel aku mau yang itu deh Yel. Itu
kayaknya keren deh kalo aku pake di pertunangan kita. Iya kan?” Gabriel hanya
menganggukkan kepalanya.
“Permisi mas mbak. Ada yang bisa saya
bantu” Acha dan Gabriel kompak menoleh pada seorang pemuda berseragam yang
berdiri dengan senyum ramah di hadapan mereka.
“Nih ini mas saya mau coba baju ini.
Tolong ya mas”
Pemuda tersebut tersenyum dan
menganggukkan kepalanya. Ia menggiring Acha ke ruang ganti untuk mencoba baju
dari butik tersebut. Acha masuk pada ruangan tersebut. Belum saja pemuda itu
menjauh sebuah teriakan menggema dari ruangan tersebut.
“Huaaaa kecoa sialan. Tolong kecoa
tolonggggg” Acha langsung berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan begitu
saja baju yang akan ia beli tergeletak di lantai ruang ganti tersebut. Acha
langsung berlari ke Gabriel yang menatap heran kearahnya. “Yel kita pergi dari
sini”
***
Sivia tertawa puas melihat ekspresi
ketakutan Acha. Ia masih ingat rencananya saat ingin mengerjai si Acha.
Mas, nanti mas layani dua orang yang di
sana. Terus mas masukin nih kecoa ke kerah baju perempuan yang itu. Nah dia kan
nanti pasti ganti baju. Pokoknya mas jalani perintah saya. Masalah tip. Saya
akan kasih jadi mas gak usah khawatir.
Sivia kembali berjalan mengendap-endap
mengikuti Gabriel kembali yang kini di tarik oleh Acha. Sivia langsung
menyembunyikan dirinya pada sebuah pilar di mall tersebut saat keduanya
tiba-tiba berhenti. Sivia menyipitkan matanya dan terlihat di sana justru
Gabriel yang kini menarik tangan Acha. Sivia menghembuskan nafasnya kesal
melihat adegan tersebut.
Sivia memasuki sebuah foodcourt yang
sama seperti Gabriel dan Acha. Ia mengawasi keduanya begitu intens. Seorang
pelayan menghampiri mereka. Menulis pesanan untuk mereka. Senyum jahil kembali
mengembang di wajahnya. Ia pun kembali berjalan setelah pelayan itu kembali ke
pantry.
“Mbak. Ini makanan buat pelanggan di
meja no 29 ya?”
“Ya mbak. Ada apa ya. Ada yang bisa saya
bantu”
Sivia mengembangkan senyumnya. “Ehm saya
mau kasih vitamin buat kakak saya. Dia belum minum vitamin. Saya takut nanti
kakak saya sakit lagi. Jadi saya mau taruh vitaminnya di makanan dan
minumannya. Boleh ya mbak” Pelayan itu menatap Sivia sambil berpikir sedangkan
Sivia memasang wajah memohon dengan puppy eyes yang menggoda. Pelayan itu
menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Sivia yang bersorak di tempatnya.
Sivia mengalihkan pandangannya mencari
sesuatu yang dapat mendukung rencana jahilnya tersebut. Pandangannya terhenti
pada beberapa botol tak jauh dari dirinya berada. “Gotcha”
Sivia meraih cuka, bubuk cabe, garam,
dan merica bubuk. Semuanya ia masukkan pada orange watermelon dan rice chicken
grill di hadapannya. Tentu saja untuk sang gadis di sana. Sivia terkikik geli
membayangi yang terjadi jika gadis itu memakan hidangan ala Sivia. “Ulala ini
dia masakan ala chef Sivia. ckck. Rasain lo monster. Kuras noh wc sana. hahaha”
Sivia memanggil pelayan tadi yang kini kembali dengan hidangan berbeda yang ia
yakini milik kakaknya. Dengan tersenyum manis ia menyerahkan kembali racun yang
ia buat tadi.
***
Gabriel menggelengkan kepalanya melihat
Acha yang sedari tadi bolak-balik kamar mandi di sertai muntah-muntah. Gabriel
benar-benar kasihan melihat tubuh lemas Acha yang benar-benar tak lagi berdaya.
Gabriel menyipitkan matanya saat pandangannya menangkap seorang gadis yang
sepertinya tak asing menurutnya. Lantas ia berdecak kesal menyadari gadis itu.
“Via. Hmm gak salah lagi dia tuh yang
dari tadi sabotase si Acha. Ckck keterlaluan. Liat aja lo di rumah Vi”
“Gab. Aduh kita pulang aja yahh. A.. aku
mau istirahat” Gabriel mengangguk. Dengan sigap ia langsung memapah tubuh Acha
yang lemah.
“Cha apa gak lo ke rumah sakit aja
sekalian gue periksa” Acha menggelengkan kepalanya. Ia mencengkeram kuat jaket
milik Gabriel.
“Gak usah Gab. Aku istirahat aja. Aku
cuma butuh kasur. Aww. Yel sakit perut aku” Gabriel yang bingung dengan keadaan
Acha tanpa berbasa-basi ia langsung mengangkat tubuh Acha menuju mobilnya.
“Yang sabar Cha. Gue antar lo ke rumah
sakit”
***
Brakk
Sivia terlonjak saat tiba-tiba pintu
kamarnya di banting seseorang. Sivia menatap heran kearah pintunya. Di lihat
Gabriel berdiri di pintunya dengan tangan yang terlipat di dada. Sivia menatap
heran kearah kakaknya tersebut yang menatap tajam kearahnya.
“Apa yang lo lakuin tadi di Mall. Lo
budek atau apa sih. Gue suruh diem di rumah apa susahnya” Sivia mengernyitkan dahinya. Sivia bangkit dari
kasurnya. Berjalan pelan ke hadapan Gabriel.
“Gue gak ngelakuin apa-apa. Lo gak liat
gue lagi ngapain. Asal nuduh lo”
“Lo fikir lo bisa nipu gue. Lo kan yang
bikin Acha sakit? Via”
Sivia menghembuskan nafasnya. Ia
berbalik membelakangi Gabriel dan berjalan menuju meja riasnya.
“Memang jelas banget ya itu gue. Yah
berarti ketauan deh” Ucap Sivia acuh sambil menyisir rambutnya.
“Apa yang lo lakuin ke Acha Vi. Lo tau
dia keracunan setelah gue periksa dia tadi”
“Tapi nyatanya dia masih hidup kan kak.
Ya udahlah gak harus lo nyalahin gue. Gue juga ngelakuin ini demi lo”
“TAPI GUE GAK SUKA CARA LO VI” Bentakan Gabriel
itu sontak membuat Sivia tersentak. Ia membalikkan tubuhnya kearah Gabriel dan
menatap tajam kearah pemuda itu.
“Lo gak suka cara gue. Trus gimana
menurut lo dengan cara perempuan gila itu. Merusak hubungan lo dengan Shilla
menggunakan kekuasaan, menghancurkan kebahagiaan lo, dan..”
Sivia menutup matanya. Air matanya mulai
membumbung di mata sipitnya. Gadis itu berjalan mendekati Gabriel. “Dan membuat lo hancur dengan kelicikan dia.
Gue disini melakukan apa yang dia lakukan terhadap lo. Tapi bedanya gue masih
memakai otak dan.. hati”
Gabriel menatap sendu adiknya yang
menunduk di hadapannya. Tangannya terulur mengusap rambut adik yang sangat ia
sayangi tersebut. “Vi”
Sivia mendongakkan kepalanya. Menatap
Gabriel yang menatapnya sendu. Tak disangka air mata yang tadi sempat
berakumulasi di matanya kini perlahan keluar menyusuri pipi chubby-nya
“Gue gak mau lo jadi cewek freak yang
menggunakan kelicikan untuk dapati apa yang mau lo. Gue gak suka. Gue mau lo
tetap jadi Sivia adik gue yang tulus, baik dan rendah hati. Gue mohon Vi
berhenti untuk nyakitin Acha. Karena percuma. Rencana lo akan sia-sia. Dan
semuanya tidak akan berubah”
“Tapi gue ini adik lo. Gue gak bisa liat
kakak gue tersiksa. Sudahlah kak lo gak usah nyakitin diri lo sendiri cuma demi
perempuan berhati busuk kayak Acha. Harusnya lo itu berjuang buat Shilla. Gue
yakin Shilla masih nunggu lo buat ngeyakinin dia kalo dulu hingga sekarang
perasaan lo masih sama”
Gabriel menundukkan kepalanya. Tangannya
terkulai lemas di tubuhnya. Gabriel menutup matanya. Menahan keras air matanya
agar tidak kembali keluar hanya karena gadis yang ia cintai itu.
“Gue gak bisa. Dia berhak dapet
laki-laki yang lebih baik dari gue. Gue sudah memutuskan gue akan menghapus dia
dari hidup gue. Gue mohon Vi. Bantu gue. Shilla berhak bahagia dengan kehidupan
yang baru” Sivia mengalihkan pandangannya. Sambil menutup air matanya, gadis
itu perlahan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk pernyataan Gabriel.
Gabriel langsung menarik Sivia ke pelukannya.
Bersamamu adalah anganku. Memilikimu
adalah asaku. Namun hidup tanpa bayangmu adalah takdirku.
Bersambung