Tampilkan postingan dengan label Idola Cilik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idola Cilik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juni 2015

Play Of Destiny Part 9 (Harapan)




***
“Ini tiket ke Jakarta” Rio memandangi Ify yang menyodorkan selembar tiket di hadapannya.

“Apa ini?” Tanya Rio heran. Ify tersenyum namun hanya dengan sebelah tarikan membuat Rio mendengus.

“Tante Amanda pergi ke Swiss untuk beberapa bulan setelah dulu lo membentaknya, ya mungkin dia tidak percaya kedua anaknya tidak ada yang mampu ia berikan kasih sayang selayaknya” Rio melirik Ify gadis itu selalu begitu “Keluarga luar biasa. Oke kita kembali ke topik awal gue sudah menyiapkan ini semua setelah gue tahu nyokap lo mau pergi jadi sekarang pun lo bisa ke Indonesia untuk menemui adik lo yang sudah lo tinggalkan itu”

Flashback**

Ify menatap heran tante Amanda yang terlihat termenung di taman rumah sakit. Ini terasa aneh Tante Amanda bisa ada di tempat ini. Dengan ragu Ify mendekati wanita itu walaupun sekelebat ia ingat percecokan di rumah Haling tempo hari yang melibatkan ia masuk ke pertentangan ibu dan anak itu

“Malam tante”

Tante Amanda mendongakkan kepalanya menatap gadis di hadapannya yang berdiri dengan anggun mengenakan jas dokter. Amanda memalingkan wajahnya. Selalu seperti ini melihat dengan jelas gadis yang selalu bersama Rio ini mengenakan jas dokternya selalu berhasil mengingatkannya pada anaknya yang lain yang entah bagaimana saat ini keadannya.

“Tante tumben kesini. Cari Rio? Rio gak kesini Tante, Rio..”

“Apa Rio membenci tante?” Ify mendudukkan tubuhnya di tempat yang tersisa dan memandang wanita di sampingnya dengan senyum sinis.

“Apa tante gak merasa apa yang tante lakukan pada kedua anak tante, bukan hanya pada Rio, tapi anak gadis tante yang hidup sendiri di tempat yang jauh dari ibu yang melahirkannya, jauh dari seorang kakak yang hampir setengah hidupnya ada mendampinginya hidup. Entah ia mampu bertahan dengan keadaannya yang begitu memiriskan. Mungkin bagi Ify bukan hanya Rio yang marah namun gadis itu yang jelas akan jauh membenci tante walaupun Ify tahu sebesar apapun rasa benci Shilla bukan alasan untuk menghapus tante sebagai orang yang mengirimnya disini”

“Shilla seorang gadis yang memiliki ketegaran, mencoba bertahan dengan tujuan hidupnya, harapannya, namun lihatlah tujuan hidupnya justru malah menghancurkan hidup gadis itu”

“Yang Ify tahu Rio bukanlah seorang kakak yang lemah untuk menjaga Shilla di saat sakitnya, dan Shilla bukanlah adik yang sok kuat hanya untuk menyembuhkan kakaknya dengan tangannya sendiri. Mungkin tante tidak pernah menyadari penyakit Rio hadir memang untuk Shilla. Dan cita-cita Shilla adalah tujuan Rio dan Shilla lahir dari rahim tante dan besar di tengah-tengah kehidupan Haling”

Ify menghembuskan nafasnya setelahnya ia mengungkapan apa yang ada di pikirannya.

“Tante butuh waktu Fy maaf. Tante akan ke Swiss sementara waktu maaf atas sikap tante tempo hari yang menampar kamu. Tante..”

Ify langsung meraih tangan Amanda dan menciumnya. Air mata Ify sekietika mengalir saat bibirnya menyentuh tangan wanita ini

“Tante cukup tahu Ify sangat bergantung dengan keluaraga ini sebagai alasan Rio yang gak bisa lepas dari Ify dan seiring berjalannya waktu ify mengenal tante dan rasa sayang itu tumbuh sebagaimana seorang anak yang merindukan ibunya, sekeras apapun tante, seangkuh apapun tante sungguh Ify menyayangi tante seperti Ify menyayangi mama.. Ify..” Tante Manda langsung menarik Ify ke pelukannya. Ify benar-benar merasakan aura seorang ibu yang sebenarnya saat ini pada diri Tante Amanda

Amanda mengusap lembut rambut gadis di pelukannya ini. Sekelebat pandangannya berubah menjadi sosok anaknya yang lain di luar sana

‘Shilla’

Flashback **

Rio melengos memandang gadis di hadapannya. Entah saat ini ia sendiri belum mampu memandang luas sosok gadis ini. Memandang sosok lain yang tak terbaca dalam diri Ify. Begitu pun dirinya yang belum memahami hingga saat ini arti gadis ini di hidupnya.

“Yo ngapain lo melamun. Setiap detik itu berarti apa mau detik-detik lo hilang begitu saja sama seperti dua tahun yang lalu. Oh my God. Gue gak sanggup” Ify melenggang pergi meninggalkan Rio yang berdecih kesal.

“Cih gadis apa sesungguhnya dirimu Fy. Apa masih ify yang dulu kah?”

***
Bu Inah memandang sendu Shilla. Gadis yang ia hormati sekaligus sangat ia sayangi. Sungguh Bu Inah sangat sedih memandang nonanya.
“Non Shilla gak papa kan. Ngomong atuh non. Ibu teh khawatir” Shilla memandang Bu Inah, lalu menyunggingkan senyumnya dan menggeleng.

“Shilla cuma kangen sama ibu, sama Dea, sama Kang Daud sama semuanya. Shilla capek Bu kerja terus Shilla butuh hiburan. Apalagi Shilla kangen buat ke kebun Mang Ecep cobain jambu air Mang Ecep”

Bu Inah memandang nona kecilnya yang kini tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Berapa lama wanita itu tak pernah bermain dengan nonanya, berapa lama wanita itu tak pernah mendengar nada manja nonanya, berapa lama ia sudah tak pernah memeluk penuh kenyamanan bagi nonanya.

“Dan Shilla kangen sama mama dan Kak Rio” Air mata Bu Inah menggenang di pelupuk mata wanita itu. Wanita itu lupa bahwa ia juga memiliki Tuan kecil yang mungkin saat ini telah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan

“Teh Shilla” Shilla menolehkan wajahnya. Seorang gadis berbaju dress kembang-kembang berdiri di pintu dengan senyum yang sangat lebar. Shilla membalas senyum itu

“Dea”

Dea langsung berlari kearah Shilla dan memeluk gadis yang sudah ia anggap kakaknya ini

Aduh teh shilla kumaha damang. Ya ampun teh Dea kangen sama teteh”

“Aku juga kangen sama Dea. Aku pokoknya kangen sama semuanya yang ada disini”

Dea menatap heran Shilla. Pasti ada sesuatu yang mengganjal.

“Teh ikut Dea yuk ke saung. Bu Dea sama teteh ke saung” Bu Inah mengangguk. Dea langsung menarik Shilla keluar dari rumah Bu Inah.

***
Sivia menatap kecewa mamanya. Mamanya tidak mau berbuat apa-apa untuk Gabriel. Padahal Sivia tau mamanya sangat menginginkan Gabriel bersama Shilla. Namun lihatlah kini mamanya.. Entahlah Sivia begitu kecewa.

“Kamu tidak mengerti Siv. Mama gak bisa melakukan apapun. Ini menyangkut masa depan Gabriel di keluarga ini. Mama juga gak mau melawan kakek kamu” Sivia tersenyum sinis. Ia menatap tajam mamanya.

“Mama fikir Kak Gabriel berarti dengan nama Damanik. Sivia bisa menebak kalau Kak Gabriel rela kehilangan gelar Damanik daripada dia  kehilangan sesuatu yang membuat dia mengenal hidupnya. Kak Shil adalah hidup buat Kak Gabriel ma. Kak shil adalah alasan Kak Gabriel mau mengenal dunia yang bukan keinginannya”

“ Mama tau kak Gabriel sangat menentang keras untuk mengenal kedokteran, sementara saat ia mengenal Kak Shilla justru Kak Gabriel belajar mati-matian mengenal istilah itu. Lalu ini hasil yang harus di dapat. Sivia sampai kapanpun Sivia tidak akan mau menerima Kak Gabriel bersama perempuan gila itu cih” Sivia langsung berlari meninggalkan mamanya yang memandang sendu dirinya.

“Tuhan apa yang harus saya lakukan sebagai seorang ibu, istri dan anak untuk keluarga saya Tuhan”

***
Dea menatap Shilla yang memandang lurus hamparan padi di hadapan mereka. Dea memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya, semilir angin menerpa kedua wajah gadis ini.

“Apa yang teh Shilla harapkan, bahkan semua bagi Dea terasa sia-sia teh. Apa yang teteh cari. Bukan kebahagiaan tapi sakit yang terus menerus teteh dapat. Apa teteh tidak menyadarinya”

Shilla tersenyum miris mendengar kalimat yang Dea ucapkan. Ia tak menyangkal semua itu. Tidak sama sekali. Namun semakin ia membenarkan sakit itu justru semakin menekan batinnya.

“Aku hanya kangen sama kak rio dan ify” Shilla tak berbohong itu semua kenyatannya memang itu yang terjadi. Setidaknya saat kebersamaan dirinya dengan pemuda yang bernama Gabriel itu benar-benar berakhir rasa rindunya pada kakak dan sahabatnya kembali menguar.

“Kang Rio dan teh Ify apa akan kembali?” Shilla terdiam. “Dan Nyonya Amanda apakah ia akan bisa menyanyangi teh Shilla seperti seorang ibu yang sesungguhnya” Air mata Shilla langsung menetes. Gadis itu menggeleng.

“Mama”

Dea langsung memeluk tubuh Shilla menenangkan gadis yang sudah dirinya anggap seperti kakaknya. Serapuh ini kah dirimu teh. Semenderita inikah dirimu.

***
Gabriel terdiam. Matanya terus menyusuri lekukan indah seorang gadis yang tercetak indah di selembar foto di genggamannya. Pandangan pemuda itu tak seteduh biasanya. Hanya pandangan kosong penuh kehampaan yang terlihat disana.

“Hey apa kabar kamu” Gabriel mulai menggumam. Ia menatap tepat pada bola mata sosok di foto tersebut. Biasanya bila Gabriel menatap bagian itu. Pemiliknya pasti akan membalas tatapannya jauh lebih dalam dari pandangannya. Namun kini lihatlah.

“Kamu tahu aku kangen sama kamu. Aku berharap ini mimpi Shill. Apa kamu membenciku. Apa kamu bener-bener telah menghapus segalanya tentang aku. Hmm. Bahkan aku pun sulit untuk berpura-pura lupa kalau aku sangat mencintai kamu apa kamu juga. Haha kayaknya enggak deh. Buktinya kamu biarin aku buat bersama dengan gadis lain haha”

Sivia menahan tubuhnya agar tidak terjatuh saat ini. Kakaknya. Kedua tangan Sivia mengepal. Matanya memandang tajam kakaknya yang masih dengan rapuhnya di kamar.

“Semua harus segera berakhir”

***
Ify menatap Rio tajam yang masih terdiam di depan bandara. Ify merutuki kebodohan pemuda di sampingnya.

“Lo mau sampai kapan di sana hah? Lo mau di tinggal pesawat?” Tanya Ify tajam membuat Rio mendecih pada wanita itu.

“Apa kita akan benar-benar ke Indonesia Fy. Ketemu Shilla?” Ify mendengus ia lalu menggeleng sambil menatap tajam Rio.

“Gak gue mau bunuh lo. Cepetan Yo keburu pesawatnya berangkat. Ingat Yo detik terus berjalan. Dan buat lo termasuk gue setiap detik sangatlah berarti untuk saat ini”

Rio masih terdiam. Ify sudah di buat geram oleh sikap bodoh Rio saat ini. Dengan kesal Ify langsung menarik Rio namun tak disangka Rio malah menahan Ify dan menarik Ify ke arahnya dan menabrak tubuh tegapnya. Rio langsung mendekap erat tubuh mungil Ify. Dan mencium puncak kepala gadis itu.

“Makasih Fy. Makasih atas semuanya” Ify mematung di pelukan Rio. Tangannya masih terkulai lemas di samping tubuhnya. Rio semakin menarik tubuh Ify lebih dalam ke pelukannya. Tak peduli dengan waktu yang menunggu mereka dan terus berjalan.

Dengan perlahan Ify mengangkat kedua tangannya. Ia mulai membalas pelukan Rio dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang pemuda itu. Detak jantung Ify semakin bergetar cepat. Sensasi panas mulai menjalar di tubuh gadis itu.

“Sebagai tebusan atas kesalahan gue terhadap kalian” Ucap Ify berbisik di dalam pelukan Rio.

‘Sekaligus sebagai balasan perasaan gue yang mungkin tidak akan pernah berubah bahkan hilang untuk lo Mario’

***
Dua gadis ini saling menatap. Yang satu menatap sangat tajam yang satu lagi menatap sangat acuh membuat siapapun yang memandang mereka jengah.

“Apa yang lo inginkan Cha” Acha tersenyum sinis menatap Sivia

“Yang gue inginkan adalah Gabriel. Dan gue yakin keluarga lo gak akan bisa memberikan lebih untuk gue”Acha tersenyum remeh kea rah Sivia yang dibalas tatapan tajam olehnya.

“Bahkan keluarga lo harus terimakasih sama keluarga gue. Kalo gak ada keluarga gue Rozcow Hospital gak akan ada dan Damanik tidak akan ada artinya” Acha langsung berbalik dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.

“Gue berani bersumpah lo gak akan pernah bisa mendapatkan apapun yang bukan milik lo termasuk kakak gue” Acha menghadap Sivia lalu memiringkan kepalanya.

“Kita liat nanti sayang”

***
Ify memandang Rio yang tertidur di kursi sampingnya. Tangannya tergerak mengusap dahi pemuda itu. Air matanya yang diam-diam terjatuh membuat rasa sesak semakin menghimpit dadanya.

“Apa lo tau Yo perasaan apa yang gue miliki sekarang terhadap lo hmm” Ify terdiam. Matanya terpejam dengan tangan yang menggenggam erat tangan Rio.

 “Rasa itu masih sama bahkan semakin dalam. Jawab Yo apa gue berhak atas perasaan ini. Apa gue pantas meminta balasan dari lo. Gue bukan munafik tapi gue gak mau semakin menyakiti diri kita masing-masing. Maaf”

Ify mencium tangan Rio dan mulai menyenderkan kepalanya di pundak Rio. Tolong jangan usik dirinya. Ijinkan ia melakukan apa yang hatinya minta.

Perlahan mata Rio terbuka. Ia menatap Ify yang tertidur di pundaknya menatap dalam gadis ini. Rio mendekatkan kepalanya ke puncak kepala Ify dan mencium kepala gadis itu. Ia mengusap pipi Ify lembut.

“Bersabarlah Fy. Gue berjanji apabila semua sudah kembali lo akan mendapatkan gue dengan mudah karena gue pun sama seperti lo” Rio mengeratkan genggaman tangannya dengan Ify. Ia menumpukkan kepalanya di atas kepala Ify. Dalam diam Ify tersenyum. Ia mendengar dan merasakan apa yang Rio lakukan.
‘Gue akan selalu menunggunya dan harapan gue gak akan pernah hilang bahkan berakhir Rio. Makasih'

Bersambung.

Selasa, 12 Mei 2015

Before You Loss (Ending)

***
Alvin menatap gadis yang duduk di hadapannya. Gadis yang sangat cantik. Auranya pun begitu membuat Alvin terpesona sesaat.

"Lo ada apa nyuruh gue ketemu lo" Alvin tersadar. Ia menatap gadis di hadapannya penuh rasa penasaran. Entah Alvin sama sekali tidak mampu menebaknya.

"Shilla"

Shilla menatap pria di hadapannya heran.. Pemuda ini menemuinya tadi setelah ia meninggalkan kantor Rio, dan laki-laki itu mengatakan ada suatu hal penting yang menyangkut dirinya dengan rio juga masa lalu Rio yang jujur ingin ssekali ia tahu. Dan akhirnya tibalah mereka disini. Saling berhadapan dan terpisah jarak hanya dengan sebuah meja.

"Alvin. Gue gak ada waktu banyak apa yang ingin lo katakan"

"Shilla gue tau lo adalah gadis yang baik. Dan gue yakin lo tau pasti apa yang seharusnya lo lakukan setelah gue mengungkapkan apa yang gak lo tahu selama ini"

Shilla memandang Alvin. Ia memiringkan kepalanya dan menatap lekat Alvin

"Apa yang gak gue tau?"

"Masa lalu Mario dan Alyssa"

Shilla mengernyitkan dahinya. Apa maksud pemuda di hadapannya. Mario Stevano dia kekasihnya, lalu Ify Alyssa.

Deg..

Jantung Shilla serasa berhenti seketika. Ify dan Alyssa seakan dua kata itu membentuk suatu reaksi yang sangat menyakitkan di hatinya. Shilla menatap Alvin mencoba memastikan apa yang coba ia terka dalam hatinya

"Ify Alyssa?" Tanya Shilla. Alvin menatap Shilla ia tahu wanita di hadapannya saat ini sedang bergetar. Sesungguhnya pemuda itu berat mengatakan semua ini. Ia tahu gadis di hadapannya sangatlah baik namun ini semua demi Ify.

"Gue tau lo kenal siapa dia. Selain karyawan di perusahaan kekasih lo dia adalah masa lalu Rio yang telah tergantikan oleh kehadiran lo" Kata Alvin sambil menatap Shilla yang langsung terdiam dengan tatapan kosong.

"Lo gak boong sama gue. Lo bukan niat buat hancurin hubungan gue sama Rio. Lo.." Shilla menghentikan bicaranya menatap Alvin yang membalas menatapnya. Shilla menyadari bahwa dirinya amatlah kacau. Ify dan Alyssa. Ify Alyssa. Mario.. Haling. Shilla menggeleng sambil menatap Alvin

"Jelasin" Ucap Shilla dingin sambil menatap Alvin kosong. Alvin tersenyum miring membalas tatapan kosong Shilla.

"Ada satu hal yang gak lo sadari bahwa di dekat lo seorang gadis yang selama empat tahun menderita semakin lo buat menderita. Gadis polos, gadis yang teramat baik dan gadis MALANG" Ujar Alvin dengan menekan kata terakhirnya yang berhasil membuat Shilla mendengus.

"Lo cantik Shilla, lo punya segalanya. Bahkan hati lo sangatlah lembut. Lo gak pernah menyadari apa yang sesungguhnya ada di hati lo. Lo gak pernah mencintai Rio. Lo hanya iba, lo hanya kasian dan rasa bersalah lo yang buat lo ingin jauh mengenal Rio namun hati lo hanya menempatkan rio di luar dinding hati saja lo gak pernah mengijinkannya masuk lebih dalam. Itu lah hati lo yang sebenarnya"

Alvin menarik nafasnya lalu kembali menatap Shilla, ia meraih tangan Shilla yang ada di atas meja dan mengusapnya lembut. Tatapan dan senyuman Alvin pun melembut. Shilla melirik tangannya lalu mendongakkan kepalanya hingga tatapan mereka bertemu. Shilla kembali menunduk

"Lalu bagaimana kalau gue gak bisa mengikhlaskan Rio"

Alvin tersenyum lalu mengendikkan bahu. Melihat reaksi Alvin, Shilla pun mengernyitkan dahinya.

"Seperti yang gue bilang hati lo itu sangatlah lembut. Jadi lo akan tau apa yang harus lo lakukan. Yang jelas lo tidak harus memikirkan hati lo sendiri. Karena ini menyangkut banyak hati." Alvin bangkit dari duduknya. Lalu ia berbalik akan beranjak namun langkahnya terhenti saat Shilla memanggilnya.

"Vin. Would you help me" Alvin mengangkat alisnya lalu menatap Shilla yang memasang raut memohon. Perlahan kepala Alvin bergerak ke atas ke bawah dengan senyum yang masih terpampang indah di wajah Chinese pemuda itu. Melihat itu Shilla membalas senyum Alvin tipis sangat tipis. Setelah itu mereka beriringan beranjak dari cafe tersebut

Waktu yang akan menjawab permainan apa lagi yang akan di main kan oleh sang takdir. Akan kah malaikat bersosok pemuda itu berhasil membaikan takdir yang dulu teramat kejam itu. Kita lihatlah nanti.

***
Ify menatap Alvin tak percaya. Pemuda itu gila begitu pikirnya. Sementara Alvin yang di tatap Ify hanya tersenyum tenang. Alvin mendekati Ify. Pemuda itu duduk di samping gadis itu.

"Lo percaya kan sama gue?" Tanya Alvin sambil melirik Ify yang bersedekap dada sambil mengembungkan pipinya dengan bibir mengerucut. Alvin terkikik geli melihat gadis sahabatnya ini. Alvin mengacak rambut Ify membuat gadis itu mendengus

"Tapi Vin ini pasti akan menyakiti mbak Shilla dan tentunya gue. Lo gak mikir itu hah. Gue.."

"Hushh. Percaya sama gue ya. Semua akan baik-baik saja. Bahkan semua akan kembali lagi ke lo. Oke bisa kan percaya sama gue" Ify memalingkan wajah dan mendengus tak lama ia pun mengangguk.

***
Rio menatap Shilla yang terdiam sedari tadi di sofa ruangannya. Terlihat di mata pemuda itu gadisnya nampak memainkan ujung cardigan gadis itu membuat Rio mengernyit bingung. Ada apa dengan gadisnya? Begitu tanyanya dalam hati. Rio pun bangkit dari duduknya. Lalu bersimpuh di hadapan Shilla. Satu tangannya meraih tangan Shilla dan mengusapnya, satu lagi mengacak lembut rambut Shilla.

Shilla menundukkan kepalanya dalam. Shilla bingung apa yang harus ia lakukan. Memang ia menyadari apa yang di katakan pemuda itu benar adanya. Ia sama sekali tidak merasakan apapun pada pemuda di hadapannya. Sayang? Mungkin benar. Namun bukan sayang dalam arti sesungguhnya. Mungkin hanya sayang seorang adik pada kakak pemudanya. Ya sebatas itu.

"Yo" Panggil Shilla membuat Rio menatapnya. "Aku mau tau apa yang kamu rasakan saat bersama Ify" Rio terpaku. Shilla tersenyum namun hanya menarik satu sudut bibirnya saja.

Rio menatap Shilla. Pemuda itu menangkup pipi Shilla. Menatap Shilla dalam dengan sorotan tajam membuat Shilla gusar.

"Apa maksudmu"

"Ify dia adalah orang yang kamu cintai di masa lalumu bahkan saat ini"

***
Ify merutuki jantungnya yang terus memompanya tanpa henti dan membuat akalnya sulit terkendali. Oh my heart please your be calm for me (?). Batin Ify. Ia kembali melirik sosok pemuda yang duduk di hadapannya.

"Iy.. iya pak ada apa pak Rio memanggil saya" Pemuda itu, Rio menatap gadis di depannya.

'Temukan apa yang hatimu cari'

Rio mencoba menatap mata Ify. Mencoba mencari sesuatu di sana. Sedangkan Ify kembali merutuk, namun bukan merutuki jantungnya lagi namun sikap pemuda di depannya yang terus menatapnya.

"Ify.." Ify mendongakkan kepalanya. Apa yang dia dengar tadi. Pemuda itu memanggilnya. Bukan.. bukan dari siapa yang menyebut namanya. Coba kalian dengar pemuda itu memanggil namanya dengan nada yang teramat berbeda. Sangat halus dan seakan menariknya kembali ke pemudanya yang dulu.

"Siapa lo?" Tanya Rio halus namun penuh ketegasan di sana. Ify menunduk. Di matanya telah membumbung air yang siap tergenang sekali ia berkedip.

"Jawab gue. Kenapa lo diam. Siapa lo. Dan apa gue" Ify meneguk ludahnya. Ia berdiri dari duduknya dan mencoba menatap pemuda yang menjadi atasannya.

"Maaf pak. Saya tidak mengerti apa yang anda katakan. Maaf pak kerjaan saya menumpuk. Kalau begitu saya permisi" Belum saja Ify melangkahkan kaki keluar tiba-tiba tubuhnya di tarik dan kini ify merakan ada yang mendekapnya. Ify mencoba melepas pelukan tersebut namun yang ada pelukan itu semakin mengerat.

"Pak tolong lepas saya. Nanti ada karyawan yang masuk terlebih mbak Shilla pasti akan salah sangka. Dan saya tidak.."

Cupp

Ify terpaku saat ia merasakan sentuhan lembut di puncak kepalanya. Dan tubuhnya hampir ambruk saat ia mendengar kalimat yang sangat halus di telinganya.

"Maaf" Ify langsung melepas paksa tubuhnya dari pelukan Rio. Lalu ia berbalik dan pergi dari ruangan itu, namun langkahnya langsung terhenti saat di pintu seorang gadis berdiri dengan senyum yang terlihat sangat tulus.

"Fy kamu mau kemana?"
Melihat Shilla berdiri di hadapannya sontak membuat Ify gusar. Ify mengekor mata melirik Shilla. Terlihat Shilla melangkah maju dan tanpa sadar Ify melangkah mundur. Hingga..

Bughh

Ify merasakan tubuhnya menabrak sesuatu. Dan ia merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Ify menatap pinggangnya lalu mendongak menghadap pemilik tangan yang melingkar di pinggangnya. Rio.

"Fy. Makasih ya atas ketulusan hati lo. Gue kembalikan Rio ke lo"

"Mbak.."

"Gue dan rio gak pernah saling mencintai. Gue dengan rasa bersalah gue dan Rio bersama bayang-bayang lo yang dia lupakan. Dan kami baru menyadari sekarang." Ify terpaku.

"Fy maafkan gue. Ijinkan gue untuk kembali dan bantu gue untuk mengingat lo seutuhnya"

Ify berbalik menghadap Rio. Ia kembali menatap wajah itu, ia berani membalas tatapan itu kembali. Seketika isaknya pecah membuat Rio langsung menarik gadis itu di dekapnya.

"Lo jahat Yo.. lo jahat.. Lo tahu seberapa tersiksanya gue. Gue nunggu lo selama empat tahun yo. Gue percaya lo kembali. Gue percaya lo akan nepati janji lo. Saat lo ninggalin gue secara tiba-tiba apa lo tau seberapa tersiksanya gue Rio. Gue bertahan. Gue percaya lo kembali. Tapi.. Tapi.."

Cupp

Ify kembali terpaku untuk kesekian kalinya saat tiba-tiba Rio membungkam bibirnya dengan lembut. Pinggangnya yang di dekap Rio makin di pererat. Ify merasakan nyaman dengan apa yang di lakukan Rio untuknya. Ingatannya berpuutar pada masa lampau saat pemuda itu melakukan hal yang sama untuk pertama kalinya

"Enghh" Rio melepas bibirnya. Pemuda itu menatap gadis di hadapannya. Rio yakin pada hatinya. Apa yang kini ia rasakan berbeda dengan apa yang selama ini ia rasakan pada Shilla. Ia yakin memang gadis di hadapannya ini memang gadis yang sangat ia cintai.

Rio menghapus air mata Ify. Lalu mengusap pipi lembut gadis yang ia yakini sangat ia cintai. Jarinya menyentuh bibir Ify. Ia mengusap bibir itu lembut. Sungguh pemuda ini merasakan sesuatu yang berujung. Kerinduan dan penantian.

"Aku yakin hanya aku yang merasakan bibir ini dan hanya milik kamu ini satu-satunya yang bisa aku miliki" Ify menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah. Rio langsung menarik kembali Ifynya ke pelukannya.
Tanpa mereka sadari dua pasang mata menatap mereka. Sepasang adam hawa yang telah mengembalikan fungsi hati milik dua insan yang memadu rindu di dalam sana. Sang adam menatap hawa yang tersenyum penuh kelembutan di sampingnya.

"Gue tau lo adalah gadis yang baik dan teramat baik bahkan lo begitu tulus. Gue gak pernah ragu dengan apa yang gue yakini Shilla" Shilla menatap Alvin yang juga menatapnya. Lalu ia tersenyum sinis kea rah pemuda itu.

"Lo yakin dengan apa yang lo nilai. Ckck lo sungguh malang Alvin. Lo teramat malang.."

Jlebb Awww

"Shillaaaaa" Alvin langsung mengejar Shilla dengan tertatih akibat injakan yang ia dapat dari gadis itu. Awas lo kalo dapet gue bakal bales lo gadis iblisss.. Gumam Alvin dalam hati namun sebuah senyuman masih terlukis rapi di wajahnya.

Rio dan Ify yang mendengar teriakan Alvin melepas pelukannya. Lalu rio mendekatkan wajahnya ke Ify.

"Kayaknya kita harus membalas kebaikan mereka deh" ify melotot lalu langsung menyikut pinggang Rio.

"Hahaha. I Love You"

Ify tersenyum lalu mendekatkan wajahnya.

Cupp

"I love you too" Ify langsung berlari setelah mencium pipi rio dan membalas ungkapan cinta pemudanya.

Hahh sungguh kisah rumit yang melelahkan. Penantian yang berawal penderitaan yang teramat panjang dan berakhir dengan sebuah tawa penuh cinta yang teramat merindukan. Terkadang takdir teramat kejam. Namun lihatlah sebuah drama yang sang waktu pertotonkan. Takdir teramat baik dengan ujian kejam dari sebuah kisah yang berataskan takdir. Mungkin kalian tidak akan mengerti karena ini sungguh sulit, namun coba kalian rasakan. Teka-teki abstrak yang akan kalian susun nanti akan memberi jawabannya.

End..

Huaaa akhirnya lunas nih utang. Huhh sudah yaa kelar. Masalah cerbung istirahat dulu oke. Jangan ada yang protes tapi tetep like sama komen oke. Makasi. sekian byeee


Sabtu, 14 Februari 2015

Secret Part 4

Cast: Ashilla Zee, Gabriel Stev,Ify Alyssa, Alvin Jonathan, Rio Stevadit


***
Aku tak bisa menggapai hatinya, menemukan ruang kosong di sela-selanya, aku sulit menemukan diriku dihatinya. Karena ku tahu, tak akan pernah bisa aku menemukan pintu itu yang untuk diriku di hatinya.

***

Rio dengan panik membuka pintu kamar Ify yang tertutup. Ia melihat Ify yang terbaring tertutup selimut dengan mata terpejam, Hmm, Rio berjalan mendekati Ify yang terbaring itu.

"Fy.." Ucap Rio pelan. Ify membukan matanya perlahan, melihat pemuda di depannya membuat ia tersenyum.

"Eh Rio kok lo disini" Ucap Ify dengan suara parau namun tetap terlihat imut di telinga Rio.

"Lo sakit apa" Tanya Rio ketus namun penuh kekhawatiran membuat Ify mendengus. Apa-apaan ini Rio sahabatnya kah?

"Maag gue kambuh" Ucap Ify ketus yang membuat rio mengernyitkan dahinya mendengar jawaban ketus Ify. Rio mengendikan bahunya lalu beranjak dari hadapannya.

"Pasti lo belum makan.Gue terlalu hapal lo" Ify tersenyum mengetahui perhatian Rio terhadapnya.

"Yo..makasih ya" Ucap Ify sambil tersenyum.

Rio membalas senyum Ify dengan mengusap lembut pipi mulus Ify.

"Jangan bandel lagi. Kalo waktunya makan, ya makan, kalo waktunya istirahat, istirahat. Oke" Ify mengangguk dan langsung mengambil mangkuk bubur di tangan Rio.

Setelah bubur Ify habis dandan usai meminumk obat Rio meminta Ify untuk istirahat. Begitu Rio ingin beranjak dari tempatnya, tangannya di digenggam membuat langkahnya terhenti. Rio berbalik dan menatap Ify berniat bertanya maksudnya.

"Lo mau kemana, lo disini aja Yo temeni gue tidur" Ucap Ify sambil menggeser tubuhnya. Rio menghembuskan nafasnya ia pun berbaring di tempat kosong di sampin Ify.

Ify tersenyum. Ia memeluk tubuh Rio disampingnya. Gadis itu tak menyadari, pemuda di sampingnya sangat sulit menahan rasa takut. Takut sesuatu akan terjadi pada dirinya, bahkan keduanya.

"Kita udah lama gak kayak gini. Gue kangen Yo. Gue kangen seperti ini" Ify semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sahabatnya.

"Udah lo tidur aja, biar cepet sembuh. Gue gak kemana-mana." Rio mengusap rambut Ify membuat Ify perlahan menutup matanya.

Rio memandang Ify yang kini sudah tertidur sambil memeluk dirinya, ia mengusap lembut pipi Ify. Lalu ia mendekati kepalanya ke dekat gadis itu, Ia mencium pipi gadis yang terlelap sambil memeluknya, seakan agar gadis itu sadar, cinta pemuda itu bukan cinta hanya sebatas sahabat, bukan.

"Maaf Fy" Bisik Rio di telinga Ify

***

Shilla menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tak sama sekali berani menatap Mbok Iyem yang kini menatap dirinya.

"Mbok yo kamu itu kalo kerja pokus toh nduk" Shilla masih menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah pada mbok Iyem karena dirinya yang tak becus bekerja.

"Enjeh Mbok, Shilla minta maaf yo. Shilla ndak bakal ngelakuin kesalahan lagi"

"Iyo, ora opo-opo. Tapi jangan kamu ulangi lagi yo nduk, untung tadi itu yang kamu tabrak mas Gabriel"

"Enjeh Mbok, Sepurone nggeh" Shilla membungkukan badannya pertanda meminta maaf membuat Mbok Iyem tak tega melihatnya

"Ya udah sana kamu kerja lagi"

"Enjeh Mbok"

***

Shilla memasuki sebuah kamar sambil membawa sebuah lipatan seragam yang begitu rapi. Ia menatap kamar itu. Nuansa brown red memenuhi ruangan ini. Belum lagi bau citrus bercampur mint memenuhi ruangan ini membuat shilla sejenak terhanyut dan merasakan ketenangan di dirinya.

"Ekhem" Shilla terlonjak kaget mendengar deheman di belakangnya. Ia berbalik dan ia lantas tersenyum pada sosok laki-laki tampan di hadapannya.

"Aduh maaf mas, saya.. saya mau nganterin seragam ganti buat mas. Saya minta maaf.." Ucap Shilla sambil menundukkan kepalanya. Gabriel tersenyum melihat tingkah gadis di depannya.

"Sudah.. gak apa. Oh ya lo pembantu baru di sini" Ucap Gabriel sambil memasang wajah bingung. Pasalnya ia tak pernah melihat gadis lain di rumahnya apalagi pembantu yang secantik gadis di depannya ini.

"I.. Iya mas.."

"Gue Gabriel, lo siapa"

Shilla memandang bingung pemuda di depannya. Sudah dua kali pemuda tampan bersikap yang sama terhadapnya. Kemaren laki-laki baik berhati malaikat-begitu shilla menyebutnya- yang sialnya ia lupa nama dan wajah laki-laki itu, dan sekarang lihatlah. Laki-laki tampan ini juga melakukan hal yang sama.

Hey tolong jangan memalukan dirimu sendiri Shilla..

"Sa.. saya Shi.. lla"

"Apa? Sila" Ulang Gabriel yang membuat Shilla menggeleng dan menatap majikan tampannya ini.

"Bukan mas. Saya itu Shilla. S-H-I-L-L-A"

"Oh.."

Brak.. Prang..

Shilla dan Gabriel terlonjak mendengar suara ribut di depan. Alhasil kini lihatlah. Gabriel menarik tangan Shilla sambil berlari keluar kamarnya. Shilla menatap tangannya yang di genggam laki-laki itu. Oh tidak. Ada apa ini. Jantungnya. Plis.. jangan sampai.

***

Alvin menatap mamanya yang kini juga menatap dirinya. Cih. Alvin muak mendapat tatapan itu. Tatapan memohon yang secara tiba-tiba dapat meluruhkan rasanya.

"Mama mohon Vin, jangan seperti ini. Kamu bisa perbaiki semuanya. Kamu bisa menjadi Gabriel yang membanggakan papamu nak"

Alvin mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya memerah.

Brakk.. Prang..

Alvin membanting meja dan langsung menyingkirkan vas bunga di atasnya sehingga pecah.

"MA.." Tante Dania menatap anak sulungnya dengan wajah penuh air mata. "JANGAN PERNAH BANDINGKAN ALVIN DENGAN ANAK KEBANGGAAN KALIAN"  Air mata Tante Dania masih terus mengalir. "DIA ITU PARASIT.. DIA ITU.."

"ALVIN" Alvin menghentikan kalimatnya setelah namanya di sebut. Ia menatap Gabriel yang berdiri di sisi tangga dengan seorang gadis yang tak pernah Alvin liat. Namun satu. Alvin merasakan jantungnya berdetak. Sekilas sesosok gadis kecil dengan poni yang menutupi dahinya dan pipinya yang bulat tiba-tiba terlintas di otak pemuda itu.

'Dia..'

Shilla menatap pemuda yang juga menatap ke arahnya tajam. Jantung gadis itu berdetak hebat. Bahkan ia pun tak dapat merasakan udara yang bisa hirup. Sesak.

Astaga ada apa ini. Sedikit demi sedikit rasa itu berkecamuk di otak keduanya. Meminta agar sekeping ingatan itu muncul. Ck. Alvin sudah lelah. Ia langsung beranjak ke arah kamarnya yang di lantai dua. Alvin merasakan jantungnya langsung berhenti tepat di samping gadis itu. Tak sengaja matanya menatap sebuah kalung yang melingkar di leher gadis itu.

'Gak mungkin, dia..'

Bughh

Alvin memukul tembok di hadapannya.

'Illa'

Sesak itu kini telah merayap di hati keduanya. Akh sial.

***

Dia kembali datang menguar kenangan yang telah terkubur waktu. Membawa semua yang telah berlalu untuk di ungkap. Dirinya bukan tak tau bahwa suatu saat nanti waktu akan mengembalikan semua yang terlewat, tapi mengapa disaat semua masih baik-baik saja dia justru datang merubah haluan yang sebenarnya

***

Shilla memandang kalung berbandul bulan di lehernya. Semua seakan sulit untuk dirinya. Kalung.. bulan.. bintang.. dan Jojo.

"Jojo.. kamu di mana.. kamu masih inget sama aku.. hiks"

Shilla tak menyadari. Sebenarnya kenangan itu sudah berada di dekatnya. Bahkan hanya tinggal ia ia raih, semua akan menjadi nyata..

***

Minggu, 25 Januari 2015

Secret 3

Cast: Ashilla Zee, Gabriel Stev, Ify Alyssa, Alvin Jonathan, Rio Stevadit

***

Secret 3

Rio memandang gadis didepannya yang terlihat ketakutan.

"Hey lo gak apa-apa kan?" Tanya pemuda itu. Sedang si gadis perlahan membuka matanya. Lalu ia menatap pemuda yang berdiri didepannya yang juga menatap dirinya. "Heyy" Panggil Rio yang merasa tak nyaman ditatap wanita di depannya. Sedang wanita itu mengerjap, lalu kini ia kembali menatap dirinya sendiri. Dan lihatlah..

Dirinya masih berpijak di tanah..

Huftt, syukurlah. Kini ia kembali sadar. Lalu wanita itu nyengir. "Oh aku gak apa-apa kok mas. masnya ini gimana toh. Mbok yo kalo nyetir itu diliat. Untung saya ini selamat" Rio tersenyum geli melihat tingkah wanita di depannya. "Loh mas kok ketawa toh, memang ada lucu" Rio menggeleng, lalu mengusap kepala wanita di depannya.

"Nggak kok, lo lucu. Oh ya gue Rio"  Ucap Rio sambil mengulurkan tangannya. Sedang wanita di depannya menatap tangan Rio yang masih terulur bingung. Melihat kebingungan gadis di depannya membuat Rio tersenyum. "Nama lo siapa"

Eh. Gadis itu terkesiap. Ia mengerjapkan matanya sejenak. Lantas kemabali tersenyum lebar sambil menggaruk belakang telinganya.

"Eum nama saya.. Shi.."


"Den Rio"  Rio menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan terlihat wanita paruh baya berdiri di hadapannya, lantas Rio menyunggingkan senyum untuk wanita tersebut

"Eh mbok Natiyem"

"Den Rio mau cari den Alvin ya?"  Rio mengangguk sedangkan mbok iyem memasang wajah sedih sambil menunnduk. "Dari dua hari yang lalu Den Alvin belum belum pulang setelah den Alvin berantem sama tuan. Kemaren aja den Alvin gak ikut acara pertemuan keluarga. Yang dateng cuma tuan, nyonya dan Den Gabriel" Rio hanya mengangguk. "Ya udah den mbok masuk dulu

"Eh tunggu mbok.." Mbok Iyem menghentikan langkahnya, sedangkan Rio kembali menoleh ke arah wanita yang tadi sempat ia lupakan.

"Lo cari alamat rumah ini kan. Sama mbok iyem aja ya. Mbok perempuan ini kayaknya cari rumah ini  tadi rio hampir nabrak dia, rio titip perempuan ini ya mbok"

Mbok Iyem mengangguk walaupun ia terlihat kebingungan. Sedangkan Rio kembali ke mobilnya dan langsung meninggalkan tempat.

***

Shilla menatap kagum rumah yang ia masuki. Astaga aku masuk surga pikirnya. Eh bukan aku masih hidup jadi gak mungkin ini di surga

"Shilla" Shilla kembali mengerjap saat ia mendengar Mbok Iyem memanggil namanya. "Jadi kamu mau kerja disini toh nduk" Shilla mengangguk. "Tapi kamu masih muda, kamu seharusnya.."

Shilla segera menggeleng sambil menyunggingkan senyum pada wanita paruh baya di depannya.

"Tapi saya butuh pekerjaan ini mbok, untuk.. untuk.. ehm.. almarhum ibu saya"

"Ini ada apa ya"  Shilla dan mbok iyem menoleh ke sumber suara, Terlihat di sana seorang wanita berusia 40- an berdiri menatap shilla dan mbok iyem. 'Mbok ini ada apa. Loh dia siapa" Ucap wanita itu sambil menunjuk Shilla yang berdiri di hadapannya. Sedang Shilla yang ditunjuk hanya menundukkan kepala.

"Nuwun sewu nyonya. Dia itu namanya Shilla. Katanya dia mau cari kerja di sini. Gimana nyonya" Ucap mbok Iyem sambil membungkukan badannya.Wanita itu tersenyum lalu mengangguk

"Saya Dania. Selamat datang di keluarga Jonathan" Ucap wanita yang ternyata bernama Dania itu sambil merentangkan tangan menyambut kedatangan Shilla

***

Gabriel menghampiri seorang pemuda yang sedang berdiri sambil merangkul seorang gadis di depan mading. Gabriel menghembuskan nafas sejenak. Apapun yang terjadi ia harus bicara dengan pemuda itu

"Vin" Panggil Gabriel, sedangkan yang di panggil belum menoleh. Gadis yang bersama pemuda itu tadi langsung menyikut pinggang pemuda itu dan menggerakkan dagunya ke arah Gabriel. Pemuda itu berbalik, begitu melihat siapa di dekatnya.

"Huh, ayo Ngel kita pergi" Ucap pemuda itu sambil menarik tangan gadis di depannya, tapi sebelum melangkah Gabriel langsung menahan tangan pemuda itu sebelum bener-bener pergi

"Lo harus pulang Vin" Ucap Gabriel. Alvin, pemuda itu justru malang tersenyum sinis sambil menatap ke arah Gabriel muak. Sedangkan Gabriel tetap dengan tatapan tenamgnya seperti biasa

"Apa lo bilang? Pulang? Hahahaha lo pikir lo siapa, adek gue. Gue gak punya adek sok pahlawan seperti lo" Ucap Alvin sambil menatap tajam Gabriel. Sedangkan Gabriel tak merubah ekspresinya apapun

"Bagaimana lo bisa dianggap sama papa kalo sikap lo seperti ini. Bagaimana lo bisa menjadi anak yang..."

"Hahaha lo mau nyuruh gue seperti lo.Manusia berhati air. Ngalir begitu aja gak mau mencoba yang namanya menikmati hidup. Hidup lo itu terlalu flat. Abu-abu gak berwarna, jadi jangan harap gue bisa tertarik sama hidup lo, mustahil" Ucap Alvin. 

Sebentar Alvin menatap gadis di depannya. Ia menoleh sebentar Alvin menatap ke arah Gabriel, setelah itu ia kembali menatap gadis di depannya. Alvin langsung mencium gadis itu tepat di hadapan Gabriel, sementara Gabriel hanya mendengus. Setelah selesai pada aksinya Alvin langsung pergi sambil menarik gadis yang selalu bersamanya. Sebelum benar-benar pergi Alvin berdiri sejenak di hadapan Gabriel. Ia lalu menatap Gabriel remeh. Ia kembali tersenyum dengan pongahnya.

"Begitu baru namanya hidup" Ucap Alvin setelah itu ia benar-benar meninggalkan Gabriel yang menatap punggungnya menjauh

Alvin ta sadar tak selamanya air selalu mengalir tenang. Terkadang air dapat menjadi sebuah monster pencabut nyawa bagi yang lengah. Alvin pun tak pernah tau bahwa abu-abu bukanlah warna datar. Abu-abu adalah warna. Gabriel hanya tersenyum sebelum ia pergi menuju kelasnya.

***

Rio menatap tajam Ify di depannya yang mengernyitkan dahinya bingung. Apa-apaan sih maksud cowok krucut ini, liatin gue kayak mau makan gue aja, begitu batin Ify

"Eh Yo, lo ngapain sih liatin gue gitu" Ucap Ify. Sementara Rio hanya menghembuskan nafas keras.

"Lo kenapa sih kemaren gak angkat telpon gue. Terus lo kenapa tiba-tiba membatalkan rencana kita ke panti. Lo gak biasanya tau gak sih Fy " Ify hanya menggarukkan kepalnya bingung. Kenapa di bahas lagi sih, batim gadis itu gemas.

"Aduh yo, gue.. emhh gue minta maaf deh. Ini itu keluarga temen bokap gue. Gue kan gak berani buat lawan. Ya elo ngerti dong"

"Tau ah" Rio langsung membelakangi Ify sambil memasang wajah sok ngambeknya.

"Kyaa Rio, iihh lo hadep sini kek gitu. Oke deh. Oke gue janji gak gitu lagi, sumpah, Rio ih" Ucap Ify sambil merengek dan menarik-narik lengan Rio.

Sedangkan tanpa Ify sadari Rio sedang terkikikn geli. Berhasil juga ia mengerjai sahabat gadisnya ini. Ify yang merasa di abaikan langsung menarik tubuh Rio kasar sehingga Rio kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke arah Ify. Rio yang berjarak begitu dekat dengan Ify hanya bisa menatap dalam mata lembut milik Ify. Perlahan Rio mendekati wajah Ify. Jarak di antara wajah mereka hampir habis. Ify yang syok dengan tingkah sahabatnya hanya memejamkan matanya

'Tobat Yo, gue ini Ify, sahabat elo' Racau Ify dalam hati. Rio yang melihat Ify memejamkan matanya hanya menggeleng. Bukan. Bukan saatnya. Ini salah kalau ia melakukannya pada Ify, sahabatnya. Rio dengan jahil lalu menyentil dahi Ify agar gadis itu segera sadar.

Tuk. Aww

Ify langsung membuka matanya sambil mengelus dahinya. Sedangkan Rio terbahak-bahak melihat ekspresi Ify.

"Hahaha, lo ngapain merem Fy. wlek" Ucap Rio sambil berlari menjauhi Ify. Sedangkan Ify hanya berkacak pinggang sambil menghentakkan tanah kesal.

"Rioooo" Teriak Ify sambil beranjak meninggalkan tempat dan berlari menyusul Rio.

Lihatlah takdir masih menyimpan kepercayaan itu untuk mereka, namun bagaimana apabila nama lain menyusup diantara persahabatan mereka. Merubah hati salah satu di antaranya. Akankah semuanya tetap sama.

***

Shilla dengan hati-hati membawa segelas susu di tangannya. Ia tak mau susu ini tumpah setetes pun. Gak akan.

"Shillaaa" Ah sial, Mbok Iyem memanggil namanya segala. Gak susu ini untuk tuan muda rumah ini yang sampai saat ini masih belum ia ketahui siapa dan seperti apa orangnya.

"Shillaaaa" Astaga, lagi-lagi Mbok Iyem memanggil namanya. Aduh bagaimana ini. Susunya harus segera sampek ke kamar tuan muda, namun masalahnya ia lupa dimana kamarnya. Tanpa Shilla sadari seorang pemuda berjalan gontai ke arahnya yang masih berjalan amat hati-hati itu.

Brukk, byurrrr.

Astaga tuh kan susunya tumpah yah ini bagaimana.

"Astaga baju gue" Shilla melebarkan matanya begitu mendengar suara bariton di dekatnya. Oh astaga

***

BERSAMBUNG



Rabu, 21 Januari 2015

Play Of Destiny Part 8C

Play Of Destiny Part 8C (Yang Terungkap Takdir)

***

Shilla memandang kosong hamparan tanaman yang menghias taman kota. Tak peduli dengan riuhnya suasana taman walau malam hari. Tak peduli dengan dua lampu lolipop yang mengapitnya. Pandangannya lurus menatap tanaman yang sama sakali tak terlihat di malam hari walau sudah dihiasi lampu-lampu taman. Tapi percayalah, mata wanita itu sama sekali tak menyiratkan apapun. Mata itu kosong sama seperti pikirannya yang entah kemana meninggalkan seluruh isi kepalanya.

Tanpa wanita itu sadari, tangannya terangkat ke arah dadanya, dalam diam ia menekan dalam dadanya yang terasa kosong. Ah apa secepat itu rasa sakit itu menghilang, Apa secepat itu batinnya sembuh dari luka yang menganga terlalu dalam. Shilla menggeleng dalam diam. Ia yang membuat semua itu hilang. Biarkan.. biarkan seperti ini. Rasa sakit dan luka itu cukap sampai disini menyakiti hidupnya

***

Sivia mengerucutkan bibirnya kesal. Kakinya terus ia hentak-hentakkan ke tanah. Tak lupa dengan kedua tangannya yang bersedekap. Ah sungguh dirinya kesal. Sudah lima belas menit Gabriel meninggalkannya. Ah apaan sih abangnya satu itu.

Plukk..

Sivia melempar kerikil di bawah kakinya sangking kesalnya..

"Aww" Sivia terjingkat setelah mendengar suara pekikan seorang wanita. Yah jangan-jangan tadi ia menendang batu mengenai tante kunti lagi. Atau jangan-jangan..

"Siapa sih yang lempar kerikil gini" Eh tapi tunggu suara wanita itu sepertinya ia kenal. Sivia dengan perlahan mendongakkan kepalanya. Ia melihat seorang wanita berjas dokter duduk di sebuah bangku. Eh tapi tunggu logo jas dokter tersebut seperti ia kenal. Ah jelas ia tahu. Itu logo rozcow hospital. Dan.. Shilla.

Sivia menghembuskan nafas lega begitu tau wanita itu adalah Shilla. Dengan ringan ia berjalan mendekati tempat duduk Shilla.

"Ekhem" Dehem Sivia setelah berada di hadapan Shilla. Shilla menoleh dan sedikit tersentak melihat Sivia ada dihadapannya.

"Sivia" Sivia hanya membalas senyum wanita di hadapannya. Sudah berapa lama ia tak pernah melihat wanita ini secara langsung. Melihat wanita di hadapannya, apalagi menatap kedua mata bening itu. Segumpal rasa bersalah menguar di hatinya.

Shilla pun sama. Ia hanya mampu menatap gadis yang berdiri dihadapannya. Gadis yang dulu selalu ia jadikan sandaran kesedihannya, gadis yang dulu menjadi penutup setiap luka-lukanya.

Brukk

Shilla langsung memeluk tubuh sivia, menutupi air mata yang hampir terjatuh di kedua pipinya. Sedangkan Sivia ternganga, Ia tak menyangka reaksi wanita itu setelah berhadapannya dengannya.

"Kak.." Sivia tak mampu lagi meneruskan kata-katanya.  Sivia membalas pelukan Shilla sambil menutup matanya.

Tanpa mereka sadari seorang laki-laki menatap sendu keduanya di balik pohon. Gabriel menatap dua perempuan yang sangat ia cintai. Bahkan di saat cinta yang harusnya ia lupakan untuk salah satu gadis di sana yang pernah menjadi bagian hidupnya. Hatinya tak akan pernah menutup apapun tentang gadis itu. Sekalipun takdir menarik dirinya jauh dari sisi Shilla, gadis itu

***

Gabriel menatap Shilla yang meringkuk di tempat tidurnya. Tubuh gadis itu tak berhenti bergetar. Mata cantik itu tak henti meneteskan setitik air untuk memebasahi pipi putih itu. Bibirnya tak henti berucap satu nama. salah. dua nama. Dua nama yang teramat penting untuk hidup gadis itu, namun dua nama itulah yang semakin menjatuhkan diri Shilla.

"Shill..." Ucap Gabriel. Ia sudah lelah hanya memandangi Shilla saja. Shilla bisa menolak siapapun untuk hadir di hidupnya. Tapi bukan dengan dirinya.

Shilla masih diam dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir. Tubuhnya bergetar sampai pada akhirnya ia merasakan pelukan di tubuhnya.
I
"Hushh.. sudah Shill. Gue mohon.."Shilla semakin terisak. Bukan.. bukan karena nasib malangnya. Pelukan ini. Pelukan yang ternyata selalu ia harapkan

Shilla melepas tubuhnya dari dekapan Gabriel. Tangannya terangkat membingkai kedua pipi tegas milik pemuda itu.

Brukk

Shilla kembali terjatuh di pelukan pemuda yang sama. Jangan.. tolong jangan buat ia kehilangan pemuda ini.

"Gue.. gue mohon Yel.. hiks.. gue mohon jangan tinggalin gue.. seperti.. seperti.. seperti kak rio dan ify hiks.. hiks" Gabriel dengan lembut mengusap lembut rambut gadis di pelukannya. Gadis yang dalam dia begitu ia cintai. Gadis yang dalam diam ia lindungi. Gadis yang dalam diam pun sebagai alasannya bertahan. Shilla.

"Tolong percaya sama gue.. semua akan baik-baik aja" Ucap Gabriel. Shilla tersenyum tipis di pelukan Gabriel. Ia semakin memperdalam pelukannya di tubuh pemuda itu

***

Sivia menatap Shilla di sampingnya yang kembali terdiam. Tak berapa lama ia mengalihkan pandangannya menatap tangannya di pangkuannya itu.

"Takdir lagi-lagi rebut hal terpenting dalam hidup gue" Sivia tersentak mendengar wanita disampingnya berbicara dengan nada lirih. Nyaris tak terdengar oleh kedua telinganya.

"Gue gak bisa nangis Siv. Rasa sakit apapun sudah buat air mata gue seakan beku" Sivia hanya menunduk. Ia tak mampu menatap mata rapuh wanita yang dulu jadi bagian hidupnya. "Gue bukan menyalahkan takdir. Karena gue juga tau gue dan iyel bukan ditakdirkan di jalan yang sama" Sivia meremas tangannya dan semakin dalammenundukkan kepalanya. "Gue dan Gabriel nggak ditakdirkan untuk saling mengikat janji"

"Kak Shill gak tau apa-apa" Shilla tersenyum miring mendengar kalimat yang baru saja ia dengar barusan. "Iya Kak Shill gak tau seberapa besar kak iyel mencintai lo"

Shilla menggeleng sambil tersenyum, jelas itu senyum yang bukan ia inginkan. Senyum kepedihan.

"Gue percaya Siv karena sebesar apapun rasa abang lo kasih ke gue itu gak akan pernah mengalahkan perasaan gue. Tapi gue sadar kalo perasaan ini gak pernah tertulis dalam takdir. Gue bukan bagian dari hidup Gabriel. Gue bukan,,"

"Stop kak Shilla. Kalo kak Gabriel bukan takdir lo apa mungkin lo bisa ketemu sama kakak gue. Apa mungkin lo bisa.." Sivia menghentikan ucapannya sejenak. "Lupain keluarga dan sahabat lo dulu" Ucap Sivia lirih sambil menunduk.

Shilla terdiam tak lama ia tersenyum. Lagi-lagi senyum paksa khas dirinya. " Ya lo benar. Kakak lo udah bantu gue melupakan keluarga gue juga Ify yang ninggalin gue. Dan saat itu gue merasa sudah menemukan bagian di diri gue yang hilang. Gabriel datang di hidup gue dan dia berhasil ngembaliin sesuatu dalam diri gue yang hilang. Cinta. Gabriel memberikan menumbuhkan cinta di hati gue, tapi ternyata kita terlalu memaksa keadaan dengan mengikat janji, padahal sampai kapanpun janji itu gak akan pernah terikat oleh apapun, karena takdir gak mengijinkannya" Sivia terdiam. Ia hanya menundukkan dalam kepalanya. Kenapa wanita di sampingnya tidak mau mengerti.

'Andai lo punya keegoisan yang sama kak seperti kak Iyel. Gue yakin lo sama abang gue gak akan bisa sejauh ini, bahkan untuk menyamai langkah di jalan yang sama' Lirih Sivia dalam hati.

***

Gabriel menatap gadis di depannya dengan pandangan muak. Kenapa hidupnya yang sulit semakin di persulit oleh kehadiran wanita gila di hadapannya.

"Gab.." Ucap Acha sambil bergelayut manja di lengan Gabriel. " Hey kamu kenapa. Ayo kita berangkat" Ucap Acha dengan nada manja

Gabriel menatap bingung Acha. "Berangkat kemana?" Ucap Gabriel ketus

"Ayo kita pesan undangan, gaun sama tempat untuk pertunangan kita" Gabriel melepas gelayutan tangan Acha

"Tunangan?" Ucap Gabriel dengan mata lebar. Sedang Acha mengangguk sambil kembali menggamit lengan gabriel.

***

"Ma,. kakek mana. Kenapa kakek bisa-bisanya ngambil keputusan sepihak. Iyel gak terima ma"

"Yel kamu sabar dong gak usah pake emosi"

"Tapi ma, kakek, kenapa dia tiba-tiba ambil keputusan buat menentukan pertunangan Gabriel sama Acha tanpa mengatakan apapun ke Iyel" Tante Firda hanya menatap sendu anaknya.

"Yel" Gabriel dan tante Firda menoleh menatap seorang laki-laki paruh baya di depannya. "Jangan harap kamu bisa menjadi cucu Fritz Damanik kalo kamu mncoba menentang perintah kakek" Gabriel menatap orang tua itu. "Bulan depan adalah pertunangan kamu dan Acha, mengerti kamu"

Bersambung

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...