Selasa, 09 Juni 2015

Play Of Destiny Part 9 (Harapan)




***
“Ini tiket ke Jakarta” Rio memandangi Ify yang menyodorkan selembar tiket di hadapannya.

“Apa ini?” Tanya Rio heran. Ify tersenyum namun hanya dengan sebelah tarikan membuat Rio mendengus.

“Tante Amanda pergi ke Swiss untuk beberapa bulan setelah dulu lo membentaknya, ya mungkin dia tidak percaya kedua anaknya tidak ada yang mampu ia berikan kasih sayang selayaknya” Rio melirik Ify gadis itu selalu begitu “Keluarga luar biasa. Oke kita kembali ke topik awal gue sudah menyiapkan ini semua setelah gue tahu nyokap lo mau pergi jadi sekarang pun lo bisa ke Indonesia untuk menemui adik lo yang sudah lo tinggalkan itu”

Flashback**

Ify menatap heran tante Amanda yang terlihat termenung di taman rumah sakit. Ini terasa aneh Tante Amanda bisa ada di tempat ini. Dengan ragu Ify mendekati wanita itu walaupun sekelebat ia ingat percecokan di rumah Haling tempo hari yang melibatkan ia masuk ke pertentangan ibu dan anak itu

“Malam tante”

Tante Amanda mendongakkan kepalanya menatap gadis di hadapannya yang berdiri dengan anggun mengenakan jas dokter. Amanda memalingkan wajahnya. Selalu seperti ini melihat dengan jelas gadis yang selalu bersama Rio ini mengenakan jas dokternya selalu berhasil mengingatkannya pada anaknya yang lain yang entah bagaimana saat ini keadannya.

“Tante tumben kesini. Cari Rio? Rio gak kesini Tante, Rio..”

“Apa Rio membenci tante?” Ify mendudukkan tubuhnya di tempat yang tersisa dan memandang wanita di sampingnya dengan senyum sinis.

“Apa tante gak merasa apa yang tante lakukan pada kedua anak tante, bukan hanya pada Rio, tapi anak gadis tante yang hidup sendiri di tempat yang jauh dari ibu yang melahirkannya, jauh dari seorang kakak yang hampir setengah hidupnya ada mendampinginya hidup. Entah ia mampu bertahan dengan keadaannya yang begitu memiriskan. Mungkin bagi Ify bukan hanya Rio yang marah namun gadis itu yang jelas akan jauh membenci tante walaupun Ify tahu sebesar apapun rasa benci Shilla bukan alasan untuk menghapus tante sebagai orang yang mengirimnya disini”

“Shilla seorang gadis yang memiliki ketegaran, mencoba bertahan dengan tujuan hidupnya, harapannya, namun lihatlah tujuan hidupnya justru malah menghancurkan hidup gadis itu”

“Yang Ify tahu Rio bukanlah seorang kakak yang lemah untuk menjaga Shilla di saat sakitnya, dan Shilla bukanlah adik yang sok kuat hanya untuk menyembuhkan kakaknya dengan tangannya sendiri. Mungkin tante tidak pernah menyadari penyakit Rio hadir memang untuk Shilla. Dan cita-cita Shilla adalah tujuan Rio dan Shilla lahir dari rahim tante dan besar di tengah-tengah kehidupan Haling”

Ify menghembuskan nafasnya setelahnya ia mengungkapan apa yang ada di pikirannya.

“Tante butuh waktu Fy maaf. Tante akan ke Swiss sementara waktu maaf atas sikap tante tempo hari yang menampar kamu. Tante..”

Ify langsung meraih tangan Amanda dan menciumnya. Air mata Ify sekietika mengalir saat bibirnya menyentuh tangan wanita ini

“Tante cukup tahu Ify sangat bergantung dengan keluaraga ini sebagai alasan Rio yang gak bisa lepas dari Ify dan seiring berjalannya waktu ify mengenal tante dan rasa sayang itu tumbuh sebagaimana seorang anak yang merindukan ibunya, sekeras apapun tante, seangkuh apapun tante sungguh Ify menyayangi tante seperti Ify menyayangi mama.. Ify..” Tante Manda langsung menarik Ify ke pelukannya. Ify benar-benar merasakan aura seorang ibu yang sebenarnya saat ini pada diri Tante Amanda

Amanda mengusap lembut rambut gadis di pelukannya ini. Sekelebat pandangannya berubah menjadi sosok anaknya yang lain di luar sana

‘Shilla’

Flashback **

Rio melengos memandang gadis di hadapannya. Entah saat ini ia sendiri belum mampu memandang luas sosok gadis ini. Memandang sosok lain yang tak terbaca dalam diri Ify. Begitu pun dirinya yang belum memahami hingga saat ini arti gadis ini di hidupnya.

“Yo ngapain lo melamun. Setiap detik itu berarti apa mau detik-detik lo hilang begitu saja sama seperti dua tahun yang lalu. Oh my God. Gue gak sanggup” Ify melenggang pergi meninggalkan Rio yang berdecih kesal.

“Cih gadis apa sesungguhnya dirimu Fy. Apa masih ify yang dulu kah?”

***
Bu Inah memandang sendu Shilla. Gadis yang ia hormati sekaligus sangat ia sayangi. Sungguh Bu Inah sangat sedih memandang nonanya.
“Non Shilla gak papa kan. Ngomong atuh non. Ibu teh khawatir” Shilla memandang Bu Inah, lalu menyunggingkan senyumnya dan menggeleng.

“Shilla cuma kangen sama ibu, sama Dea, sama Kang Daud sama semuanya. Shilla capek Bu kerja terus Shilla butuh hiburan. Apalagi Shilla kangen buat ke kebun Mang Ecep cobain jambu air Mang Ecep”

Bu Inah memandang nona kecilnya yang kini tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Berapa lama wanita itu tak pernah bermain dengan nonanya, berapa lama wanita itu tak pernah mendengar nada manja nonanya, berapa lama ia sudah tak pernah memeluk penuh kenyamanan bagi nonanya.

“Dan Shilla kangen sama mama dan Kak Rio” Air mata Bu Inah menggenang di pelupuk mata wanita itu. Wanita itu lupa bahwa ia juga memiliki Tuan kecil yang mungkin saat ini telah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan

“Teh Shilla” Shilla menolehkan wajahnya. Seorang gadis berbaju dress kembang-kembang berdiri di pintu dengan senyum yang sangat lebar. Shilla membalas senyum itu

“Dea”

Dea langsung berlari kearah Shilla dan memeluk gadis yang sudah ia anggap kakaknya ini

Aduh teh shilla kumaha damang. Ya ampun teh Dea kangen sama teteh”

“Aku juga kangen sama Dea. Aku pokoknya kangen sama semuanya yang ada disini”

Dea menatap heran Shilla. Pasti ada sesuatu yang mengganjal.

“Teh ikut Dea yuk ke saung. Bu Dea sama teteh ke saung” Bu Inah mengangguk. Dea langsung menarik Shilla keluar dari rumah Bu Inah.

***
Sivia menatap kecewa mamanya. Mamanya tidak mau berbuat apa-apa untuk Gabriel. Padahal Sivia tau mamanya sangat menginginkan Gabriel bersama Shilla. Namun lihatlah kini mamanya.. Entahlah Sivia begitu kecewa.

“Kamu tidak mengerti Siv. Mama gak bisa melakukan apapun. Ini menyangkut masa depan Gabriel di keluarga ini. Mama juga gak mau melawan kakek kamu” Sivia tersenyum sinis. Ia menatap tajam mamanya.

“Mama fikir Kak Gabriel berarti dengan nama Damanik. Sivia bisa menebak kalau Kak Gabriel rela kehilangan gelar Damanik daripada dia  kehilangan sesuatu yang membuat dia mengenal hidupnya. Kak Shil adalah hidup buat Kak Gabriel ma. Kak shil adalah alasan Kak Gabriel mau mengenal dunia yang bukan keinginannya”

“ Mama tau kak Gabriel sangat menentang keras untuk mengenal kedokteran, sementara saat ia mengenal Kak Shilla justru Kak Gabriel belajar mati-matian mengenal istilah itu. Lalu ini hasil yang harus di dapat. Sivia sampai kapanpun Sivia tidak akan mau menerima Kak Gabriel bersama perempuan gila itu cih” Sivia langsung berlari meninggalkan mamanya yang memandang sendu dirinya.

“Tuhan apa yang harus saya lakukan sebagai seorang ibu, istri dan anak untuk keluarga saya Tuhan”

***
Dea menatap Shilla yang memandang lurus hamparan padi di hadapan mereka. Dea memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya, semilir angin menerpa kedua wajah gadis ini.

“Apa yang teh Shilla harapkan, bahkan semua bagi Dea terasa sia-sia teh. Apa yang teteh cari. Bukan kebahagiaan tapi sakit yang terus menerus teteh dapat. Apa teteh tidak menyadarinya”

Shilla tersenyum miris mendengar kalimat yang Dea ucapkan. Ia tak menyangkal semua itu. Tidak sama sekali. Namun semakin ia membenarkan sakit itu justru semakin menekan batinnya.

“Aku hanya kangen sama kak rio dan ify” Shilla tak berbohong itu semua kenyatannya memang itu yang terjadi. Setidaknya saat kebersamaan dirinya dengan pemuda yang bernama Gabriel itu benar-benar berakhir rasa rindunya pada kakak dan sahabatnya kembali menguar.

“Kang Rio dan teh Ify apa akan kembali?” Shilla terdiam. “Dan Nyonya Amanda apakah ia akan bisa menyanyangi teh Shilla seperti seorang ibu yang sesungguhnya” Air mata Shilla langsung menetes. Gadis itu menggeleng.

“Mama”

Dea langsung memeluk tubuh Shilla menenangkan gadis yang sudah dirinya anggap seperti kakaknya. Serapuh ini kah dirimu teh. Semenderita inikah dirimu.

***
Gabriel terdiam. Matanya terus menyusuri lekukan indah seorang gadis yang tercetak indah di selembar foto di genggamannya. Pandangan pemuda itu tak seteduh biasanya. Hanya pandangan kosong penuh kehampaan yang terlihat disana.

“Hey apa kabar kamu” Gabriel mulai menggumam. Ia menatap tepat pada bola mata sosok di foto tersebut. Biasanya bila Gabriel menatap bagian itu. Pemiliknya pasti akan membalas tatapannya jauh lebih dalam dari pandangannya. Namun kini lihatlah.

“Kamu tahu aku kangen sama kamu. Aku berharap ini mimpi Shill. Apa kamu membenciku. Apa kamu bener-bener telah menghapus segalanya tentang aku. Hmm. Bahkan aku pun sulit untuk berpura-pura lupa kalau aku sangat mencintai kamu apa kamu juga. Haha kayaknya enggak deh. Buktinya kamu biarin aku buat bersama dengan gadis lain haha”

Sivia menahan tubuhnya agar tidak terjatuh saat ini. Kakaknya. Kedua tangan Sivia mengepal. Matanya memandang tajam kakaknya yang masih dengan rapuhnya di kamar.

“Semua harus segera berakhir”

***
Ify menatap Rio tajam yang masih terdiam di depan bandara. Ify merutuki kebodohan pemuda di sampingnya.

“Lo mau sampai kapan di sana hah? Lo mau di tinggal pesawat?” Tanya Ify tajam membuat Rio mendecih pada wanita itu.

“Apa kita akan benar-benar ke Indonesia Fy. Ketemu Shilla?” Ify mendengus ia lalu menggeleng sambil menatap tajam Rio.

“Gak gue mau bunuh lo. Cepetan Yo keburu pesawatnya berangkat. Ingat Yo detik terus berjalan. Dan buat lo termasuk gue setiap detik sangatlah berarti untuk saat ini”

Rio masih terdiam. Ify sudah di buat geram oleh sikap bodoh Rio saat ini. Dengan kesal Ify langsung menarik Rio namun tak disangka Rio malah menahan Ify dan menarik Ify ke arahnya dan menabrak tubuh tegapnya. Rio langsung mendekap erat tubuh mungil Ify. Dan mencium puncak kepala gadis itu.

“Makasih Fy. Makasih atas semuanya” Ify mematung di pelukan Rio. Tangannya masih terkulai lemas di samping tubuhnya. Rio semakin menarik tubuh Ify lebih dalam ke pelukannya. Tak peduli dengan waktu yang menunggu mereka dan terus berjalan.

Dengan perlahan Ify mengangkat kedua tangannya. Ia mulai membalas pelukan Rio dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang pemuda itu. Detak jantung Ify semakin bergetar cepat. Sensasi panas mulai menjalar di tubuh gadis itu.

“Sebagai tebusan atas kesalahan gue terhadap kalian” Ucap Ify berbisik di dalam pelukan Rio.

‘Sekaligus sebagai balasan perasaan gue yang mungkin tidak akan pernah berubah bahkan hilang untuk lo Mario’

***
Dua gadis ini saling menatap. Yang satu menatap sangat tajam yang satu lagi menatap sangat acuh membuat siapapun yang memandang mereka jengah.

“Apa yang lo inginkan Cha” Acha tersenyum sinis menatap Sivia

“Yang gue inginkan adalah Gabriel. Dan gue yakin keluarga lo gak akan bisa memberikan lebih untuk gue”Acha tersenyum remeh kea rah Sivia yang dibalas tatapan tajam olehnya.

“Bahkan keluarga lo harus terimakasih sama keluarga gue. Kalo gak ada keluarga gue Rozcow Hospital gak akan ada dan Damanik tidak akan ada artinya” Acha langsung berbalik dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.

“Gue berani bersumpah lo gak akan pernah bisa mendapatkan apapun yang bukan milik lo termasuk kakak gue” Acha menghadap Sivia lalu memiringkan kepalanya.

“Kita liat nanti sayang”

***
Ify memandang Rio yang tertidur di kursi sampingnya. Tangannya tergerak mengusap dahi pemuda itu. Air matanya yang diam-diam terjatuh membuat rasa sesak semakin menghimpit dadanya.

“Apa lo tau Yo perasaan apa yang gue miliki sekarang terhadap lo hmm” Ify terdiam. Matanya terpejam dengan tangan yang menggenggam erat tangan Rio.

 “Rasa itu masih sama bahkan semakin dalam. Jawab Yo apa gue berhak atas perasaan ini. Apa gue pantas meminta balasan dari lo. Gue bukan munafik tapi gue gak mau semakin menyakiti diri kita masing-masing. Maaf”

Ify mencium tangan Rio dan mulai menyenderkan kepalanya di pundak Rio. Tolong jangan usik dirinya. Ijinkan ia melakukan apa yang hatinya minta.

Perlahan mata Rio terbuka. Ia menatap Ify yang tertidur di pundaknya menatap dalam gadis ini. Rio mendekatkan kepalanya ke puncak kepala Ify dan mencium kepala gadis itu. Ia mengusap pipi Ify lembut.

“Bersabarlah Fy. Gue berjanji apabila semua sudah kembali lo akan mendapatkan gue dengan mudah karena gue pun sama seperti lo” Rio mengeratkan genggaman tangannya dengan Ify. Ia menumpukkan kepalanya di atas kepala Ify. Dalam diam Ify tersenyum. Ia mendengar dan merasakan apa yang Rio lakukan.
‘Gue akan selalu menunggunya dan harapan gue gak akan pernah hilang bahkan berakhir Rio. Makasih'

Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...