***
“Ini tiket ke Jakarta” Rio memandangi Ify yang
menyodorkan selembar tiket di hadapannya.
“Apa ini?” Tanya Rio heran. Ify tersenyum namun hanya
dengan sebelah tarikan membuat Rio mendengus.
“Tante Amanda pergi ke Swiss untuk beberapa bulan
setelah dulu lo membentaknya, ya mungkin dia tidak percaya kedua anaknya tidak
ada yang mampu ia berikan kasih sayang selayaknya” Rio melirik Ify gadis itu
selalu begitu “Keluarga luar biasa. Oke kita kembali ke topik awal gue sudah
menyiapkan ini semua setelah gue tahu nyokap lo mau pergi jadi sekarang pun lo bisa
ke Indonesia untuk menemui adik lo yang sudah lo tinggalkan itu”
Flashback**
Ify
menatap heran tante Amanda yang terlihat termenung di taman rumah sakit. Ini
terasa aneh Tante Amanda bisa ada di tempat ini. Dengan ragu Ify mendekati
wanita itu walaupun sekelebat ia ingat percecokan di rumah Haling tempo hari
yang melibatkan ia masuk ke pertentangan ibu dan anak itu
“Malam
tante”
Tante
Amanda mendongakkan kepalanya menatap gadis di hadapannya yang berdiri dengan
anggun mengenakan jas dokter. Amanda memalingkan wajahnya. Selalu seperti ini
melihat dengan jelas gadis yang selalu bersama Rio ini mengenakan jas dokternya
selalu berhasil mengingatkannya pada anaknya yang lain yang entah bagaimana
saat ini keadannya.
“Tante
tumben kesini. Cari Rio? Rio gak kesini Tante, Rio..”
“Apa
Rio membenci tante?” Ify mendudukkan tubuhnya di tempat yang tersisa dan
memandang wanita di sampingnya dengan senyum sinis.
“Apa
tante gak merasa apa yang tante lakukan pada kedua anak tante, bukan hanya pada
Rio, tapi anak gadis tante yang hidup sendiri di tempat yang jauh dari ibu yang
melahirkannya, jauh dari seorang kakak yang hampir setengah hidupnya ada
mendampinginya hidup. Entah ia mampu bertahan dengan keadaannya yang begitu
memiriskan. Mungkin bagi Ify bukan hanya Rio yang marah namun gadis itu yang
jelas akan jauh membenci tante walaupun Ify tahu sebesar apapun rasa benci
Shilla bukan alasan untuk menghapus tante sebagai orang yang mengirimnya disini”
“Shilla
seorang gadis yang memiliki ketegaran, mencoba bertahan dengan tujuan hidupnya,
harapannya, namun lihatlah tujuan hidupnya justru malah menghancurkan hidup
gadis itu”
“Yang
Ify tahu Rio bukanlah seorang kakak yang lemah untuk menjaga Shilla di saat
sakitnya, dan Shilla bukanlah adik yang sok kuat hanya untuk menyembuhkan
kakaknya dengan tangannya sendiri. Mungkin tante tidak pernah menyadari
penyakit Rio hadir memang untuk Shilla. Dan cita-cita Shilla adalah tujuan Rio
dan Shilla lahir dari rahim tante dan besar di tengah-tengah kehidupan Haling”
Ify
menghembuskan nafasnya setelahnya ia mengungkapan apa yang ada di pikirannya.
“Tante
butuh waktu Fy maaf. Tante akan ke Swiss sementara waktu maaf atas sikap tante
tempo hari yang menampar kamu. Tante..”
Ify
langsung meraih tangan Amanda dan menciumnya. Air mata Ify sekietika mengalir
saat bibirnya menyentuh tangan wanita ini
“Tante
cukup tahu Ify sangat bergantung dengan keluaraga ini sebagai alasan Rio yang
gak bisa lepas dari Ify dan seiring berjalannya waktu ify mengenal tante dan
rasa sayang itu tumbuh sebagaimana seorang anak yang merindukan ibunya, sekeras
apapun tante, seangkuh apapun tante sungguh Ify menyayangi tante seperti Ify menyayangi
mama.. Ify..” Tante Manda langsung menarik Ify ke pelukannya. Ify benar-benar
merasakan aura seorang ibu yang sebenarnya saat ini pada diri Tante Amanda
Amanda
mengusap lembut rambut gadis di pelukannya ini. Sekelebat pandangannya berubah menjadi
sosok anaknya yang lain di luar sana
‘Shilla’
Flashback **
Rio melengos memandang gadis di hadapannya. Entah saat
ini ia sendiri belum mampu memandang luas sosok gadis ini. Memandang sosok lain
yang tak terbaca dalam diri Ify. Begitu pun dirinya yang belum memahami hingga
saat ini arti gadis ini di hidupnya.
“Yo ngapain lo melamun. Setiap detik itu berarti apa
mau detik-detik lo hilang begitu saja sama seperti dua tahun yang lalu. Oh my
God. Gue gak sanggup” Ify melenggang pergi meninggalkan Rio yang berdecih
kesal.
“Cih gadis apa sesungguhnya dirimu Fy. Apa masih ify
yang dulu kah?”
***
Bu Inah memandang sendu Shilla. Gadis yang ia hormati
sekaligus sangat ia sayangi. Sungguh Bu Inah sangat sedih memandang nonanya.
“Non Shilla gak papa kan. Ngomong atuh non. Ibu teh
khawatir” Shilla memandang Bu Inah, lalu menyunggingkan senyumnya dan
menggeleng.
“Shilla cuma kangen sama ibu, sama Dea, sama Kang Daud
sama semuanya. Shilla capek Bu kerja terus Shilla butuh hiburan. Apalagi Shilla
kangen buat ke kebun Mang Ecep cobain jambu air Mang Ecep”
Bu Inah memandang nona kecilnya yang kini tumbuh
dewasa menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Berapa lama wanita itu tak
pernah bermain dengan nonanya, berapa lama wanita itu tak pernah mendengar nada
manja nonanya, berapa lama ia sudah tak pernah memeluk penuh kenyamanan bagi
nonanya.
“Dan Shilla kangen sama mama dan Kak Rio” Air mata Bu
Inah menggenang di pelupuk mata wanita itu. Wanita itu lupa bahwa ia juga
memiliki Tuan kecil yang mungkin saat ini telah tumbuh menjadi pemuda yang
sangat tampan
“Teh Shilla” Shilla menolehkan wajahnya. Seorang gadis
berbaju dress kembang-kembang berdiri di pintu dengan senyum yang sangat lebar.
Shilla membalas senyum itu
“Dea”
Dea langsung berlari kearah Shilla dan memeluk gadis
yang sudah ia anggap kakaknya ini
“Aduh teh shilla kumaha damang. Ya ampun teh Dea kangen sama teteh”
“Aku juga kangen sama Dea. Aku pokoknya kangen sama
semuanya yang ada disini”
Dea menatap heran Shilla. Pasti ada sesuatu yang
mengganjal.
“Teh ikut Dea yuk ke saung. Bu Dea sama teteh ke
saung” Bu Inah mengangguk. Dea langsung menarik Shilla keluar dari rumah Bu
Inah.
***
Sivia menatap kecewa mamanya. Mamanya tidak mau
berbuat apa-apa untuk Gabriel. Padahal Sivia tau mamanya sangat menginginkan
Gabriel bersama Shilla. Namun lihatlah kini mamanya.. Entahlah Sivia begitu
kecewa.
“Kamu tidak mengerti Siv. Mama gak bisa melakukan
apapun. Ini menyangkut masa depan Gabriel di keluarga ini. Mama juga gak mau melawan
kakek kamu” Sivia tersenyum sinis. Ia menatap tajam mamanya.
“Mama fikir Kak Gabriel berarti dengan nama Damanik.
Sivia bisa menebak kalau Kak Gabriel rela kehilangan gelar Damanik daripada
dia kehilangan sesuatu yang membuat dia
mengenal hidupnya. Kak Shil adalah hidup buat Kak Gabriel ma. Kak shil adalah
alasan Kak Gabriel mau mengenal dunia yang bukan keinginannya”
“ Mama tau kak Gabriel sangat menentang keras untuk
mengenal kedokteran, sementara saat ia mengenal Kak Shilla justru Kak Gabriel
belajar mati-matian mengenal istilah itu. Lalu ini hasil yang harus di dapat.
Sivia sampai kapanpun Sivia tidak akan mau menerima Kak Gabriel bersama
perempuan gila itu cih” Sivia langsung berlari meninggalkan mamanya yang
memandang sendu dirinya.
“Tuhan apa yang harus saya lakukan sebagai seorang
ibu, istri dan anak untuk keluarga saya Tuhan”
***
Dea menatap Shilla yang memandang lurus hamparan padi
di hadapan mereka. Dea memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya, semilir
angin menerpa kedua wajah gadis ini.
“Apa yang teh Shilla harapkan, bahkan semua bagi Dea
terasa sia-sia teh. Apa yang teteh cari. Bukan kebahagiaan tapi sakit yang
terus menerus teteh dapat. Apa teteh tidak menyadarinya”
Shilla tersenyum miris mendengar kalimat yang Dea
ucapkan. Ia tak menyangkal semua itu. Tidak sama sekali. Namun semakin ia
membenarkan sakit itu justru semakin menekan batinnya.
“Aku hanya kangen sama kak rio dan ify” Shilla tak
berbohong itu semua kenyatannya memang itu yang terjadi. Setidaknya saat
kebersamaan dirinya dengan pemuda yang bernama Gabriel itu benar-benar berakhir
rasa rindunya pada kakak dan sahabatnya kembali menguar.
“Kang Rio dan teh Ify apa akan kembali?” Shilla
terdiam. “Dan Nyonya Amanda apakah ia akan bisa menyanyangi teh Shilla seperti seorang
ibu yang sesungguhnya” Air mata Shilla langsung menetes. Gadis itu menggeleng.
“Mama”
Dea langsung memeluk tubuh Shilla menenangkan gadis
yang sudah dirinya anggap seperti kakaknya. Serapuh ini kah dirimu teh.
Semenderita inikah dirimu.
***
Gabriel terdiam. Matanya terus menyusuri lekukan indah
seorang gadis yang tercetak indah di selembar foto di genggamannya. Pandangan
pemuda itu tak seteduh biasanya. Hanya pandangan kosong penuh kehampaan yang
terlihat disana.
“Hey apa kabar kamu” Gabriel mulai menggumam. Ia
menatap tepat pada bola mata sosok di foto tersebut. Biasanya bila Gabriel
menatap bagian itu. Pemiliknya pasti akan membalas tatapannya jauh lebih dalam
dari pandangannya. Namun kini lihatlah.
“Kamu tahu aku kangen sama kamu. Aku berharap ini
mimpi Shill. Apa kamu membenciku. Apa kamu bener-bener telah menghapus
segalanya tentang aku. Hmm. Bahkan aku pun sulit untuk berpura-pura lupa kalau
aku sangat mencintai kamu apa kamu juga. Haha kayaknya enggak deh. Buktinya
kamu biarin aku buat bersama dengan gadis lain haha”
Sivia menahan tubuhnya agar tidak terjatuh saat ini.
Kakaknya. Kedua tangan Sivia mengepal. Matanya memandang tajam kakaknya yang
masih dengan rapuhnya di kamar.
“Semua harus segera berakhir”
***
Ify menatap Rio tajam yang masih terdiam di depan
bandara. Ify merutuki kebodohan pemuda di sampingnya.
“Lo mau sampai kapan di sana hah? Lo mau di tinggal
pesawat?” Tanya Ify tajam membuat Rio mendecih pada wanita itu.
“Apa kita akan benar-benar ke Indonesia Fy. Ketemu
Shilla?” Ify mendengus ia lalu menggeleng sambil menatap tajam Rio.
“Gak gue mau bunuh lo. Cepetan Yo keburu pesawatnya
berangkat. Ingat Yo detik terus berjalan. Dan buat lo termasuk gue setiap detik
sangatlah berarti untuk saat ini”
Rio masih terdiam. Ify sudah di buat geram oleh sikap
bodoh Rio saat ini. Dengan kesal Ify langsung menarik Rio namun tak disangka
Rio malah menahan Ify dan menarik Ify ke arahnya dan menabrak tubuh tegapnya.
Rio langsung mendekap erat tubuh mungil Ify. Dan mencium puncak kepala gadis
itu.
“Makasih Fy. Makasih atas semuanya” Ify mematung di
pelukan Rio. Tangannya masih terkulai lemas di samping tubuhnya. Rio semakin
menarik tubuh Ify lebih dalam ke pelukannya. Tak peduli dengan waktu yang
menunggu mereka dan terus berjalan.
Dengan perlahan Ify mengangkat kedua tangannya. Ia
mulai membalas pelukan Rio dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang
pemuda itu. Detak jantung Ify semakin bergetar cepat. Sensasi panas mulai
menjalar di tubuh gadis itu.
“Sebagai tebusan atas kesalahan gue terhadap kalian”
Ucap Ify berbisik di dalam pelukan Rio.
‘Sekaligus
sebagai balasan perasaan gue yang mungkin tidak akan pernah berubah bahkan
hilang untuk lo Mario’
***
Dua gadis ini saling menatap. Yang satu menatap sangat
tajam yang satu lagi menatap sangat acuh membuat siapapun yang memandang mereka
jengah.
“Apa yang lo inginkan Cha” Acha tersenyum sinis
menatap Sivia
“Yang gue inginkan adalah Gabriel. Dan gue yakin
keluarga lo gak akan bisa memberikan lebih untuk gue”Acha tersenyum remeh kea
rah Sivia yang dibalas tatapan tajam olehnya.
“Bahkan keluarga lo harus terimakasih sama keluarga
gue. Kalo gak ada keluarga gue Rozcow
Hospital gak akan ada dan Damanik tidak akan ada artinya” Acha langsung
berbalik dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.
“Gue berani bersumpah lo
gak akan pernah bisa mendapatkan apapun yang bukan milik lo termasuk kakak gue”
Acha menghadap Sivia lalu memiringkan kepalanya.
“Kita liat nanti sayang”
***
Ify memandang Rio yang tertidur di kursi sampingnya.
Tangannya tergerak mengusap dahi pemuda itu. Air matanya yang diam-diam
terjatuh membuat rasa sesak semakin menghimpit dadanya.
“Apa lo tau Yo perasaan apa yang gue miliki sekarang
terhadap lo hmm” Ify terdiam. Matanya terpejam dengan tangan yang menggenggam
erat tangan Rio.
“Rasa itu masih
sama bahkan semakin dalam. Jawab Yo apa gue berhak atas perasaan ini. Apa gue
pantas meminta balasan dari lo. Gue bukan munafik tapi gue gak mau semakin
menyakiti diri kita masing-masing. Maaf”
Ify mencium tangan Rio dan mulai menyenderkan
kepalanya di pundak Rio. Tolong jangan usik dirinya. Ijinkan ia melakukan apa
yang hatinya minta.
Perlahan mata Rio terbuka. Ia menatap Ify yang
tertidur di pundaknya menatap dalam gadis ini. Rio mendekatkan kepalanya ke
puncak kepala Ify dan mencium kepala gadis itu. Ia mengusap pipi Ify lembut.
“Bersabarlah Fy. Gue berjanji apabila semua sudah
kembali lo akan mendapatkan gue dengan mudah karena gue pun sama seperti lo”
Rio mengeratkan genggaman tangannya dengan Ify. Ia menumpukkan kepalanya di
atas kepala Ify. Dalam diam Ify tersenyum. Ia mendengar dan merasakan apa yang
Rio lakukan.
‘Gue
akan selalu menunggunya dan harapan gue gak akan pernah hilang bahkan berakhir
Rio. Makasih'
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar