Sabtu, 30 Mei 2015

Before You Loss (Rify)

***
Saat terindah saat bersamamu
Begitu lelapnya aku pun terbuai

***
“I Love You”

Ify menolehkan pandangan ke Rio, sementara pemuda itu kembali terlihat sibuk memainkan handphonenya. Ify menunduk sambil tersenyum malu

“Yo” Rio menatap Ify. Ia masih menunggu gadisnya itu meneruskan kalimatnya.

“Gue.. Gue ehmm”

“Apaan sih Fy. Lo ngomong jelasin gitu”

Ify hanya mendengus mendengar ucapan Rio yang teramat ketus.

“Ishh lo bias..”

CUPP

Ify terpaku saat tiba-tiba Rio menarik tubuhnya hingga menghadap Rio dan sebuah kecupan. hangat langsung mendarat dengan lembutnya di bibir gadis itu. Rio melepas ciumannya yang hanya sebentar namun mampu membuat sel-sel dalam tubuh Ify mati seketika.

“Ri..ooo” Lirih Ify membuat Rio menatap bingung Ify. Pemuda itu menatap Ify yang masih menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.

“Jangan lo gigit terus bibir lo atau..”

“Atau apa??”

“Lo gue cium lagi”

“Kyaaaa Rio itu ciuman pertama gue bego. Lo ngapain main cium-cium gue. Kan gue gak perawan lagi. Ishh lo bego Rio bego bego bego” Ify meronta sambil memukul lengan Rio terus menerus.

“Berhenti gak atau lo gue abisi sekarang juga” Ify langsung terdiam. Ia memanyunkan bibirnya sambil merutuk dalam hati memiliki kekasih yang seperti Rio ini.

“Ishh nyebelin lo”

Lama keduanya tak memecah hening. Membiarkan hanya hembusan nafas mereka saja yang mengisi kekosongan. Hingga akhirnya Rio memilih memecah hening terlebih dulu.

“Maupun gue harus mendapat ciuman dari lo bukan yang pertama gue pun tidak peduli dan takkan peduli” Ify terpaku. Ia membiarkan Rio mengucapkan semua yang ada dalam otak pemuda itu. Ia percaya pemuda itu sedalam cinta yang ia patri di hatinya.

“Sekalipun banyak laki-laki manapun di luar sana sudah mengambil ciuman kesekian kalinya dari lo. Bahkan sekalipun mereka menyentuh apapun yang lebih dari milik lo gue gak akan peduli. Tidak ada satupun pikiran gue miliki lo karena nafsu maupun hasrat. Namun hati gue yang meminta lo..”

Ify menundukkan kepalanya. Belum mampu ia menatap satu senti pun wajah milik pemudanya. Ia hanya ingin lebih dalam menerka sedalam apa cinta pemuda di sampingnnya. Mampukah rasa pemudanya ini meruntuhkan satu alasan untuknya untuk bertahan.

“Miliki lo tidak sesulit seperti apa yang gue takuti. Mencintai lo bukan seburuk keraguan di hati gue. Dan mempercayai lo tak serumit keingkaran yang sedikit mulai sedikit menjalar di hati gue. Semua hilang karena takdir lo untuk gue. Semua ketakutan gue sirna karena kepercayaan gue yang jauh lebih dalam dari apapun saat ini. Mungkin gue sudah terlanjur tergantung sama lo Alyssa”

Ify menitikkan air matanya. Semua yang kekasihnya katakan tak ada satupun yang pantas untuk di ragukan. Hatinya sudah meronta penuh bahagia. Ify menahan isak bahagianya saat ini. Sulit untuknya untuk mencari celah agar dirinya mampu terlepas dari kekasihnya. Tak ada sedikit pun. Semua seakan tertutup rapat dengan cinta yang begitu besar Ify miliki.

“Apa ada alasan buat gue untuk bisa pergi dari lo Mario?” Rio tersenyum. Ia tak menolehkan wajahnya kearah gadisnya sama seperti gadisnya tadi saat ia berbicara.

“Apa lo yakin ada alasan untuk lo pergi dari gue bahkan berhenti untuk mencintai gue” Ify menggelengkan kepalanya. Ia menggigit bibirnya dan meremas kuat jemarinya.

“Kalau memang tidak ada. Gue pun sama” Kini Rio menolehkan wajahnya menghadap Ify. Begitupun Ify yang juga menatap Rio dengan tatapan begitu dalam penuh cinta.

Ify meraih wajah Rio. Menangkupkan kedua tangannya membingkai lekukan tegas milik kekasihnya. Merekam dalam di setiap sel memorinya atas cetakan indah yang kekasihnya miliki.

Rio meraih tangan Ify yang membingkai wajahnya. Menggenggam erat tangan milik gadisnya. Menegaskan bahwa gadis di hadapannya miliknya dan hanya miliknya dan tercipta hanya untuknya.

“Mau janji buat tidak meninggalkan aku?” Ify mengangguk

“Mau janji untuk menunggu aku bila suatu saat nanti aku harus pergi karena alasan yang lain dan akan kembali untuk kamu” Ify kembali mengangguk.

“Dan mau janji untuk terus dan selalu percaya sama aku apapun yang terjadi”

Ify tidak menjawab dengan gerakkan ataupun ucapan yang nyata, namun Ify langsung merengkuh kepala Rio dan menyatukan bibir pemuda itu dengan bibirnya sebagai jawabannya. Ify membiarkan air matanya mengalir di antara jawaban atas janji-janji yang terikrar dari hatinya.

Ify melepas bibirnya dan langsung terjatuh lemas ke pelukan Rio dan menangis melepas isakan yang ia tahan.

“Aku.. Aku sangat mencintai kamu Yo. Dan aku mohon jangan sekalipun meragukannya dengan alasan apapun” Rio mencium puncak kepala Ify sebagai jawaban permintaan gadisnya. Pemuda itu semakin mengeratkan pelukan kekasihnya.

***
Rio memarkirkan mobil Jeep New Dodge Journey 2400 cc miliknya. Ia memasuki rumahnya, bukan maksudnya istana termegah dari istana-istana megah yang ada. Baru saja Rio melangkah satu langkah memasuki pintu seseorang membungkuk penuh hormat di hadapannya. Orang tersebut memandang tak enak wajah Rio. Rio hanya memasang wajah datar walaupun dalam hati ada sedikit kecemasan di dalamnya.

“Mohon maaf tuan muda saya bukannya lancang terhadap anda, namun saya mendapat perintah dari tuan besar dan nyonya untuk mengemasi barang-barang tuan. Dan semua barang tuan sudah di masukkan ke mobil dan tuan harus pergi sekarang. Mohon maaf Tuan ini merupakan perintah”

Rahang Rio mengeras. Ia mengepalkan kedua tangannya ia kembali melangkahkan kakinya tak peduli dengan pelayan di hadapannya.

“Tuan Rio mau kemana? Sekarang juga Tuan harus bersiap-siap ke Jerman. Tuan besar dan nyonya sudah menunggu Tuan disana”

Rio tidak peduli ia kembali melangkah menuju kamarnya. Belum saja ia menyentuh handle pintu getaran halus dari saku celananya menunda aktivitasnya.

“Ck” Rio berdecak melihat nama yang tertera di handphonenya. “Big Haling”. Rio berdecak dengan menahan emosinya

‘Jangan ada bantahan atau gadis itu akan merasakan kekuasaan Haling sebenarnya’

Rio mengeratkan kepalannya. Ia cukup mengerti maksud Kekuasaan Haling yang di maksud. Rahang Rio mengeras. Ia sungguh tidak mau gadisnya tersakiti oleh siapapun apalagi oleh keluarganya. Rio kembali mengutik handphonenya. Ia mengetikkan beberapa nomer setelah men-dial ia meletakkan handphonenya ke telinganya.

“Gue ke Jerman sekarang. Jaga pacar gue. Jangan sampai dia di sentuh oleh siapapun apalagi di sakiti”

“Gue percaya sama lo Vin”

Setelah itu Rio mengakhiri panggilannya. Ia menatap layar handphonenya yang bergambar dirinya yang sedang mencium lembut kening seorang gadis, Alyssa.

“Maaf. Gue mencintai lo, sangat sangat mencintai lo. Gue mohon tunggu sampai gue kembali”

***
Tiga hari kemudian

Ify menghela nafasnya kasar entah sudah ke berapa kalinya. Ia terus mondar-mandir di beranda rumahnya. Menunggu Rio menjemputnya. Namun ini sudah lewat 15 menit. Dan 30 menit lagi sekolah akan di tutup.

“Ify. Belum berangkat sayang” Ify menggelengkan kepalanya. Ia menghentakkan kakinya kesal.

“Rio belum jemput Ify ma. Padahal ini sudah tiga hari. Rio gak sama sekali jemput Ify. Bahkan Ify pun gak liat dia sama sekali. Rio juga handphonenya sama sekali gak aktif ma. Rio inget gak sih ma sama Ify. Uhh Ify kesel ma”

“Ya udah kamu berangkat sendiri aja lagi. Mau sampai kapan mau nunggu Rio” Ify menghembuskan nafasnya lagi.

“Ya udah ma Ify berangkat. Assalamualaikum” Ify mencium tangan mamanya dan melangkah meningggalkan rumah

“Walaikumsalam”

***
Agni menatap Ify khawatir. Sedari pagi sahabatnya terlihat murung. Agni benar-benar mengkhawatirkan sahabatnya ini.

“Fy lo kenapa? Sakit? “ Ify menggelengkan kepalanya. Agni mengernyitkan dahinya. Ia terus memandang Ify berharap ada sedikit kalimat yang keluar dari sahabatnya ini.

“Rio” Agni mengangguk. Ia sudah sangat paham hal itu. “Tiga hari yang lalu Rio cium gue” Agni melototkan matanya namun ia tetap diam membiarkan Ify meneruskan ceritanya.

Ify terus menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Rio. Dari Rio yang menciumnya, Rio yang mengungkapkan semua yang ada di hati maupun otak pria tersebut. Keraguan Ify yang membuatnya takut akan kehilangan pemudanya itu hingga janji yang sama-sama tersirat di hati keduanya dan terakhir kegundahan Ify karena Rio yang tiba-tiba menghilang

Sebenarnya aku tlah berharap
Ku kan memiliki dirimu selamanya

Agni menghapus air mata Ify yang mulai mengalir. Entah apa yang di rasakan hati Agni. Sesuatu akan terjadi nanti pada sahabatnya

“Gue takut Ag apa yang gue ragukan kemarin terjadi. Gue tau dan yakin Rio mencintai gue. Tapi entah saat ini gue merasa ada yang hilang”

Agni tergugu. Sesuatu yang ia rasakan entah kini sedikit terjawab. Keraguan sahabatnya. Benarkah?? Agni langsung menarik sahabatnya ini kepelukannya memberi ketenangan.

Drrtt.. drrttt.. drrrttt

Ify melepaskan pelukannya dari Agni. Ia merogoh saku seragamnya mengambil handphonenya yang bergetar. Ify mengernyitkan dahinya melihat nomer asing tertera di layar di handphonenya. Seperti bukan nomer Indonesia. Dengan ragu ify menekan tombol hijau dan meletakkan handphone itu ke telinganya

“Halo.”

“Ify” Ify mengeratkan genggaman handphonenya. Suara serak langsung masuk ke gendang telinganya.

“Rio” Terdengar di sana hembusan nafas yang terlihat berat. “Kamu kemana aj..”

“Fy gue mau ngomong sama lo” Ify terdiam. Entah mendengar nada kalimat yang rio ucapkan hati Ify bergetar. Rasa takut itu makin menjalar di hati gadis itu. “Gue mohon jangan katakan apapun sebelum gue selesai ngomong” Ify mengangguk tak peduli pemudanya itu tahu atau tidak. “Maaf” Rio terdiam Ify pun sama ia tidak berbicara sepatah kata pun mengikuti perintah Rio.

“Gue di Jerman”

Air mata Ify langsung terjatuh begitu saja. Keraguan, ketakutan dan rasa yang menghilang selama ini telah terjawab oleh ketiga kalimat itu.

“Gue mencintai lo. Gue mohon tunggu gue sampai kembali. Gue janji gue..”

“Jangan ucapkan janji apapun sebelum lo ada di hadapan gue. Gue akan menepati janji gue apapun yang terjadi bahkan sekalipun lo gak akan kembali. Gue selalu dan akan tetap mencintai lo”

Tuttt.. tuttt.. tutttttt

Ify menutup handphonenya dan langsung terduduk lemas. Ia menelungkupkan wajahnya ke tangan yang ia tumpukkan di meja dan menangis menahan seluruh emosinya.

Agni semakin khawatir manatap sahabatnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat dan pacar sahabatnya ini.

“Fy el,,”

“Mereka sudah tau Ag dan mereka membawa dia pergi jauh. Gue gak tau kapan dia kembali. Tapi apa mungkin dia akan kembali. Apa mungkin dia akan menepati janjinya. Apa mungkin dia akan tetap mencintai gue. Gue takut Ag gue..”

Ify terisak dalam pelukan Agni. Menumpahkan seluruh emosi yang ada.

‘Harusnya gue tahu mereka dan gue tidak akan pernah ada di posisi yang sama. Dan itu cukup membuktikan lo dan gue gak akan pernah jadi satu. Tapi gue gak akan pernah peduli Yo. Gue akan tetap menunggu lo. Sampai pada waktunya elo menepati janji lo’

***
Segenap hatiku luluh lantak
Mengiringi dukaku yang kehilangan dirimu
Sungguh ku tak sanggup ‘tuk meredam
Kepedihan hatiku ‘tuk merelakan kepergianmu

***
Ify terlihat begitu cantik dengan balutan long dress menutupi kaki dengan tali menyilang melingkari leher jenjangnya berwarna peach dengan punggung yang sedikit terbuka. Hari ini adalah acara prom night sekolahnya. Dan ia harus datang tanpa membawa pasangan.

Ify mengambil kunci mobilnya. Ia beranjak dari kamarnya dan memasuki mobil. Ify pun mengendarai mobilnya dengan tenang

Berbulan-bulan Ify mencoba terbiasa dengan keadaannya yang baru. Rio yang meninggalkannya tanpa sebab setelah laki-laki itu mengucapkan janji yang teramat manis. Menepis jauh rasa keraguannya yang menghinggap begitu saja. Setelah semua rasanya hilang dengan lancangnya Rio menghempaskan begitu saja keyakinannya dengan kalimatnya yang memintanya untuk menunggunya kembali. Hahaha bolehkah dirinya tertawa.

Dan kini tepat malam prom night. Dan malam ini pun ia harus datang sendiri. Ia mencoba tenang. Menepis jauh rasa rindu yang mulai mengusik pertahanannya untuk tetap bertahan

Sesampainya di acara prom night. Ify turun dari mobilnya. Perlahan ia memasuki aula sekolah yang sudah ramai oleh teman-temannya. Ternyata ia sudah terlambat. Acara di mulai 15 menit yang lalu. Ify mengendikkan bahunya. Ia pun berjalan untuk mengambil minuman. Karena dirinya merasa sangat haus.

“Fy” ify membalikkan tubuhnya. Terlihat Agni berdiri di belakangnya bersama Cakka. Agni terlihat sangat cantik. Dengan white mini dress selututnya dengan sangat cantik membalut kulit coklat Agni. Dan Cakka yang berdiri di samping Agni jas coklat yang membalut kemeja putih begitu membuat Cakka terlihat sangat tampan.

Pasangan serasi. Batin Ify.

“Ya ampun Fy lo cantik sumpah. Tadi aja lo masuk semua orang pada cengo. Gue aja sampai terpesona loh. Ckck gue heran kenapa sih Rio tiba-tiba ninggalin lo yak. Aww” Cakka mengaduh saat tiba-tiba Agni menginjak kakinya. Cakka tersenyum ke arah Agni yang melotot ke arahnya.

Ify hanya tersenyum melihat perdebatan Agni dan cakka. Sungguh hatinya sudah mulai terbiasa dengan semua ini. Rasa rindunya ia tekan dalam-dalam agar tidak menguar kembali menciptakan rasa sakit lagi yang semakin menyiksa suatu saat nanti.

“Hello guys. Malam ini adalah malam terpenting buat kita ya. Malam perpisahan kita. Huhu gue sedih kenapa coba kita cuma tiga tahun aja SMA nya..”


“Weitsss santai dong Ra, hehe. Oke lah kita mau adain games nih. Jadi ini ada stick dan gue akan lempar secara acak. Siapa yang menangkap stick ini dia harus maju dan harus tampil di depan oke guys..”

“Gue mulai ya. Satu.. Dua.. Tiga..”

Bagai slow motion stick itu melayang secara perlahan. Semua orang berharap cemas semoga bukan salah satu antara mereka yang mendapat stick tersebut.

Happp

Stick tersebut kini ada di genggaman Ify. Ify pun tak sadar semua mata kini menatapnya.

“Hey lo. Siapa ya eumhhh. Ah iya Ify Alyssa ayo dong maju ke depan sini. Sticknya kan di elo. Ayo maju”

Ify hanya tersenyum. Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju panggung. Semua mata memandang kagum pada Ify.

“Mau ngapain nih Fy kira-kira” Ify tidak menjawab. Ia kembali tersenyum. Matanya melirik kearah piano di sudut panggung. Sang pembawa acara pun mengerti”

“Oh oke. Silahkan..” Ify pun melangkahkan kakinya ke piano tersebut. Ify duduk di depan piano. Jari-jarinya mulai menekan satu persatu tuts-tuts piano tersebut. Matanya ia pejamkan..

Selama aku mencari..
Selama aku menanti bayang-bayangmu
Di batas senja..
Matahari membakar rinduku..
Ku malayang. Terbang tinggi..

‘Maupun gue harus mendapat ciuman dari lo bukan yang pertama gue pun tidak peduli dan takkan peduli’

Bersama mega-mega..
Menembus dinding waktu..
Ku terbaring dan pejamkan mata..
Dalam hati kupanggil namamu..
Semoga saja kau dengar dan merasakan..

‘Sekalipun banyak laki-laki manapun di luar sana sudah mengambil ciuman kesekian kalinya dari lo. Bahkan sekalipun mereka menyentuh apapun yang lebih dari milik lo gue gak akan peduli. Tidak ada satupun pikiran gue miliki lo karena nafsu maupun hasrat. Namun hati gue yang meminta lo’

Getaran di hatiku
Yang lama haus akan belaianmu
Seperti saat dulu
Saat-saat pertama
Kau dekap dan kau kecup
Bibir ini dan kau bisikkan kata-kata
Aku cinta kepadamu

‘Mau janji buat tidak meninggalkan aku?’

‘Mau janji untuk menunggu aku bila suatu saat nanti aku harus pergi karena alasan yang lain dan akan kembali untuk kamu’

‘Dan mau janji untuk terus dan selalu percaya sama aku apapun yang terjadi’

Peluhku berjatuhan
Menikmati sentuhan
Perasaan yang teramat dalam
Tlah kau bawa segala yang ku punya
Segala yang ku punya
Segala yang ku punya

‘Gue di Jerman’

Agni menatap dalam Ify di atas panggung sana. Air mata gadis itu mengalir saat kata-kata dalam lagu itu terucap seiring dengan jari-jarinya yang terus menari merangkai nada di atas tuts-tuts itu

"Gue cukup tahu lo merindukannya. Gue mohon jangan menunggu dia lagi Fy kalo lo gak sanggup menepati janji lo sama seperti dia yang mengingkari janjinya. Lo yang terbaik. Dan itu cukup membuktikan segalanya”

***
4 Tahun kemudian..

Disinilah Ify berada. Menatap sendu pemuda yang duduk di hadapannya. Pemuda itu pun sama. Pandangannya tak kalah sendu. Raut wajah keduanya sama-sama tergambar keputus asaan.

”Gue gak tahu apa dia masih mengingat gue. Apa semuanya masih tetap sama bagi dia. Gue bahkan gak tau ingatkah dia sama janji kita dulu. Gue gak tau Vin sampek kapan gue harus nunggu dia. Udah empat tahun semenjak dia bilang bahwa dia ninggalin gue. Gue udah gak tau apa-apa lagi tentang dia”

Alvin menundukkan wajahnya. Ia mengerti jelas perasaan gadis di hadapannya. Alvin meraih tangan Ify dan mengenggamnya memberi kekuatan pada gadis itu. Gadis yang telah ia jaga selama empat tahun atas permintaan sahabatnya dulu. Alvin menghapus air mata yang jatuh dari mata Ify. Dan membelai lembut pipi Ify.

Ify membiarkan saja apa yang di lakukan Alvin. Karena memang hanya Alvin lah yang mampu menenangkannya. Empat tahun ify membiarkan Alvin berada di sisinya. Bukan sebagai pengganti Rio yang sesungguhnya, namun untuk menjaganya dan mendampinginya tetap bertahan hingga kini dan entah sampai kapan.

“Sumpah gue gak tau apa-apa Fy. Gue pun sama seperti elo. Gue gak tau apapun tentang dia setelah empat tahun yang lalu dia nyerahin elo buat gue jaga. Gue gak tau Fy apa yang terjadi. Cuma kalo pun lo mau buat percaya sama dia. Gue yakin di sana dia akan berjuang buat lo. Lo masih percaya sama Rio kan?”

Ify tersenyum sinis. Ia merutuki pertanyaan Alvin yang terdengar sangat bodoh. Sungguh kini Ify meragukan Alvin yang katanya dengan baik menjaganya empat tahun. Tolong siapapun cabut pernyataan bahwa Alvin adalah sahabat yang baik. Ckck

“Otak lo kemana? Gue selama ini bertahan apa itu artinya gue gak percaya sama Rio. Selama ini gue menjaga perasaan gue seutuhnya untuk tetap mencintai Rio setelah hal ini terjadi apa itu pantas di katakan gue gak percaya lagi sama dia. Justru saat ini gue percaya sangat percaya dia akan kembali”

Alvin tersenyum ia mengacak rambut Ify dengan penuh kelegaan luar biasa.

“Yaudah kita pulang yuk. Lo besok kan hari pertama kerja. Masak lo mau buat kesan buruk di perusahaan baru lo” Ify mengangguk ia mengambil tasnya dan berjalan mengikuti Alvin.

***
Ingin ku yakini
Cinta takkan berakhir
Namun takdir menuliskan kita harus berakhir

Ify meletakkan tasnya di meja kerjanya. Belum saja ia duduk ada pesan masuk di komputernya berasal dari operator perusahaan agar semua karyawan berkumpul. Ify mengernyitkan keningnya kenapa semua karyawan harus kumpul? Ada apa?

“Fy ayo kita ke aula. Semua sudah banyak yang kumpul. Ayo Fy”

“Eh tunggu mbak” Ify langsung beranjak dan berjalan di samping Aren, seniornya.

“Mbak, memangnya ada apa sih kok kita di suruh kumpul?” Aren tersenyum. Wanita itu memaklumi ketidak tahuan juniornya. Wanita itu pun mulai menceritakan

“Kamu tahu sejarah perusahaan ini?” Ify menggeleng “Perusahaan ini dari awal di bangun semua karyawan tidak ada yang tau siapa yang mendirikan dan siapa pemiliknya karena peusahaan ini pun sangat menutup rapat profil perusahaan ini. Yang kami tahu perusahaan ini setiap beberapa tahun sekali bergonta-ganti pemimpin. Kami sama sekali tidak mengetahui motif dari semua ini”

“Kami juga tahu suatu saat nanti anak pemilik perusahaan ini akan mengambil alih kepemimpinan disini. Anak tunggal pemilik perusahaan yang sudah empat tahun tinggal di Jerman. Dan sekarang ia kembali ke Indonesia untuk memimpin perusahaan ini lagi" Ify tertegun. Entah mendengar apa yang Aren katakan rasa rindu itu kembali menguar ke hatinya

"Yah Fy kita terlambat. itu Pak Rio sudah datang"

Degg

Ify terpekur. Benar di hadapannya kini muncul sosok yang ia rindukan. Pemudanya. Ify membeku di tempatnya.

"Fy jangan terlalu terpesona ya. Pak rio sudah punya pasangan. Dia sudah tunangan?"

"Apa mbak tunangan?" Aren mengangguk. Matanya melirik ke arah Rio yang di sampingnya berdiri gadis cantik.

"Itu dia Fy" Ify mengikuti arah tunjuk Aren. Seketika tubuhnya terasa lemas seperti di lucuti dari tulang-tulangnya. "Dan sebentar lagi mereka akan menikah"

Brukk

"Ifyyy"

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...