Jumat, 05 September 2014

Play Of Destiny Part 6

Cast : Mario Stevano, Ashilla Zahrantiara, Alyssa Saufika, Gabriel Stevent
***
Desau angin menarikan rambut-rambutnya, menyapu halus wajahnya. Malam menemaninyabersama bulan dan bintang dan salju meleburkan butiran putih lembutnya dikulitnya yang tertutup jas dokter kebanggaannya.

Drrt.. drrttt…drrt.. Gadis itu mengambil hp-nya yangada di saku jasnya. Tertera nama Mr. Haling di layar handphonenya.

Where are you? Why is not there at thehospital, said the apartments you have notbeen back. Do not mess outside snowing heavyagain’(bener gak bahasa Inggrisnya)

Ify mendesah. Pemudaini. Pemuda yang sama seperti 2 tahun yang lalu. Sama seperti saat awalpertemuannya di kampusnya bersama Shilla dulu. Pemuda satu-satunya yangberhasil membuat desiran halus dalam dadanya setiap aroma memabukkan itutercium. Selalu menciptakan getaran yang menyesakkan setiap mendengar suaraserak yang terdengar merdu di telinganya. Darahnya membeku sejenak saat menatapmata teduh itu. Tak ada satupun yang berubah darinya kecuali sikapnya yangsemakin dingin terhadapnya        semenjakperpisahan pemuda itu dengan Shilla  
‘Gak perlu loe khawatir sama gue. Gue gak akan matimembeku di sini’
Jelas itu adalah jawaban munafik yang dia berikankepada Tuan Muda Haling tersebut. Ia tahu tak akan ada kata baik apabilaberhubungan dengan pemuda itu. Terkadang cinta perlu menjadi munafik untukmenutupi luka hati.

Ify bangkit dari tempatnya duduk. Ia rapatkan jasnyake tubuhnya. Ify pun berjalan menuju mobilnya. Ia tidak mau semakin terlarutdalam kegalauannya. Ia tau saat ini ia kembali merasakan  galau karena alasan yang sama. Rio dan cinta.Dua kata yang tak pernah lepas dari benaknya

***



Gabriel saat ini berada di taman belakang rumahsakit. Di pangkuannya ada gitar berwarna coklat pemberian Shilla sewaktu ulangtahunnya. Pemuda memandang gitar itu dengan pandangan nanar

Ini buat kamubiar kamu bisa buat lagu yang lebih banyak lagi untuk aku dan kamu nyayiin dehdi depan aku. Pasti so sweet’

Gabriel tersenyum miris mengingat betapa banyaknyakenangan yang tersimpan yang berhubungan dengan gitar ini. Andai ia mampumelawan semua dengan keegoisannya, andai ia memiliki pilihan lain, dan andaiShilla memiliki keegoisan yang sama sepertinya

‘Mungkinkita memang salah. Memaksakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada Yel. Kitaharus sadar sampai kapanpun tidak pernah ada kita. Bahkan sekalipun dipaksakan’

‘Kitaibarat langit dan bumi. Begitu jauh perbedaan itu. Ada dinding tipis pembatasantara kamu dan aku. Dinding itu adalah statusku, masa laluku. Dan kita gakakan pernah bisa menembusnya. Karena perbedaan itu terlalu jauh’

Beda? Hahaha… apa yang beda. Status?Apa karena Gabriel seorang cucu pemilik Rumah Sakit Rozcow Hospital dan calon pemegang saham rumah sakit? MasaLalu? Kalau masa lalu yang menjadi alasan berdirinya dinding itu, kenapaGabriel  memilih seorang Ashilla Haling yangkini tak lagi tersemat nama Haling itu

Jrengg…Jrengg..Jreng

saat terindah saat bersamamu
begitu lelapnya aku pun terbuai

sebenarnya aku t’lah berharap
ku kan memiliki dirimu selamanya

Shilla menghentikan langkahnya saatia mendengar suara petikan gitar di susul suara berat seorang pemuda yangterdengar lirih di telinganya. Tubuhnya tiba-tiba bergetar. Kulitnya mendingin.Shilla begitu mengenali suara ini. Suara yang dulu tak pernah absen ia dengar.Kalau dulu ia mengatakan bahwa suara ini adalah suara terjelek, maka percayalahShilla sangat menyesal mengatakannya karena ia sangat rindu suara ini

segenap hatiku luluh lantak
mengiringi dukaku dan kehilangan dirimu
sungguh ku tak mampu mereda kepedihan hatiku
untuk merelakan kepergianmu

ingin kuyakini cinta takkan berakhir
namun takdir menuliskan kita harus berakhir


Air mata Shilla kembali menetes.Lagu ini begitu menyayat perasaannya. Bukan lagu sendu ini yang ingin iadengar.

“Tante Shilla kenapa? Kok nangis?”
Shilla tersentak saat mendengarsuara anak kecil yang membuyarkan lamunannya. Ia hapus air matanya dan iasunggingkan (?) senyum ke anak kecil itu

“Nggak kok. Tante gak nangis. Oh ya sayingtante mau minta tolong boleh?” Tanya Shilla. Gadis kecil itu tersenyum lalumengangguk

“Boleh kok”

Shilla mengambil sesuatu di sakunya. Amplop biru muda di raihnya dari saujasnya lalu di berikan ke gadis kecil itu “Tolong kasih ke Om Gabriel ya” Gadiskecil itu mengangguk lalu berjalan meninggalkan Shilla di tempat

segenap hatiku luluh lantak
mengiringi dukaku yang kehilangan dirimu
sungguh ku tak mampu tuk mereda kepedihan hatiku
untuk merelakan kepergianmu


(Samsons- Luluh)

Air mata Gabriel mengalir sepanjanglagu yang ia nyanyikan. Ia hapus air matanya saat ia melihat seorang gadiskecil berjalan ke arahnya. Ia tarik kedua sudut bibirnya membentuk senyumterbaik di depan gadis kecil itu

“Om ini buat om dari Tante Shilla”Begitu kata gadis itu saat sudah tiba di depan pemuda itu. Di bukanya amplopbiru itu. Ada debaran tak nyaman saat matanya menangkap tulisan milik Shilla.

Yel lupain aku pliss. Aku tau iniegois banget. Tapi tolong jangan buat aku makin buruk di mata kakek kamu. Aku sudahsering bilang kan ke kamu kalau kamu sama aku itu tidak akan pernah bersatu…

Perlu kamu tahu aku juga beratsekali melepas kamu. Kamulah yang buat aku bangkit dari keterpurukan masalaluku. Kamu telah menghidupkan kembali nyawa yang mati dari ragaku. Tapi kamuhanya bisa menjadi malaikat yang menyelamatkanku sejenak. Bukan malaikat yangharus di miliki. Kamu adalah sosok sempurna yang jauh berbeda jika aku miliki.Kamu berbeda. Bukan, kita berbeda. Jadi kamu harus paham itu

Aku bukan lagi siapa-siapa dalamhidup kamu. Aku cuma orang bagian dari masa lalu kamu. Terima kasih atas cintayang kamu beri untuk aku. Terima kasih karena kamu telah mengijinkan aku untukmemiliki kamu walau cuma sebentar. Bahagialah Yel karena aku yakin kebahagiaansejati kamu telah ada di depan mata kamu
Aku gak bisa lagi bilang I Love Youkarena kamu bukan lagi siapa- siapaku. Tapi terima kasih sebelumnya

Ashilla

Gabriel kembali menangis membacasurat dari Shilla. Sakit. Sakit sekali rasanya saat cinta yang begitu dalamharus terkubur karena keegoisan. Di tempat yang berbeda Shilla juga meneteskanair matanya. Ia melihat begitu rapuhnya Gabriel membaca surat darinya. Tapiapalah yang bisa ia perbuat. Ia bukan siapa-siapa dan ego tak berlaku dalamdunianya bersama Gabriel



BERSAMBUNG

Visit this page: www.obatkistatradisional.net
                            Diananissa ifc

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...