Sabtu, 30 Mei 2015

Before You Loss (Rify)

***
Saat terindah saat bersamamu
Begitu lelapnya aku pun terbuai

***
“I Love You”

Ify menolehkan pandangan ke Rio, sementara pemuda itu kembali terlihat sibuk memainkan handphonenya. Ify menunduk sambil tersenyum malu

“Yo” Rio menatap Ify. Ia masih menunggu gadisnya itu meneruskan kalimatnya.

“Gue.. Gue ehmm”

“Apaan sih Fy. Lo ngomong jelasin gitu”

Ify hanya mendengus mendengar ucapan Rio yang teramat ketus.

“Ishh lo bias..”

CUPP

Ify terpaku saat tiba-tiba Rio menarik tubuhnya hingga menghadap Rio dan sebuah kecupan. hangat langsung mendarat dengan lembutnya di bibir gadis itu. Rio melepas ciumannya yang hanya sebentar namun mampu membuat sel-sel dalam tubuh Ify mati seketika.

“Ri..ooo” Lirih Ify membuat Rio menatap bingung Ify. Pemuda itu menatap Ify yang masih menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.

“Jangan lo gigit terus bibir lo atau..”

“Atau apa??”

“Lo gue cium lagi”

“Kyaaaa Rio itu ciuman pertama gue bego. Lo ngapain main cium-cium gue. Kan gue gak perawan lagi. Ishh lo bego Rio bego bego bego” Ify meronta sambil memukul lengan Rio terus menerus.

“Berhenti gak atau lo gue abisi sekarang juga” Ify langsung terdiam. Ia memanyunkan bibirnya sambil merutuk dalam hati memiliki kekasih yang seperti Rio ini.

“Ishh nyebelin lo”

Lama keduanya tak memecah hening. Membiarkan hanya hembusan nafas mereka saja yang mengisi kekosongan. Hingga akhirnya Rio memilih memecah hening terlebih dulu.

“Maupun gue harus mendapat ciuman dari lo bukan yang pertama gue pun tidak peduli dan takkan peduli” Ify terpaku. Ia membiarkan Rio mengucapkan semua yang ada dalam otak pemuda itu. Ia percaya pemuda itu sedalam cinta yang ia patri di hatinya.

“Sekalipun banyak laki-laki manapun di luar sana sudah mengambil ciuman kesekian kalinya dari lo. Bahkan sekalipun mereka menyentuh apapun yang lebih dari milik lo gue gak akan peduli. Tidak ada satupun pikiran gue miliki lo karena nafsu maupun hasrat. Namun hati gue yang meminta lo..”

Ify menundukkan kepalanya. Belum mampu ia menatap satu senti pun wajah milik pemudanya. Ia hanya ingin lebih dalam menerka sedalam apa cinta pemuda di sampingnnya. Mampukah rasa pemudanya ini meruntuhkan satu alasan untuknya untuk bertahan.

“Miliki lo tidak sesulit seperti apa yang gue takuti. Mencintai lo bukan seburuk keraguan di hati gue. Dan mempercayai lo tak serumit keingkaran yang sedikit mulai sedikit menjalar di hati gue. Semua hilang karena takdir lo untuk gue. Semua ketakutan gue sirna karena kepercayaan gue yang jauh lebih dalam dari apapun saat ini. Mungkin gue sudah terlanjur tergantung sama lo Alyssa”

Ify menitikkan air matanya. Semua yang kekasihnya katakan tak ada satupun yang pantas untuk di ragukan. Hatinya sudah meronta penuh bahagia. Ify menahan isak bahagianya saat ini. Sulit untuknya untuk mencari celah agar dirinya mampu terlepas dari kekasihnya. Tak ada sedikit pun. Semua seakan tertutup rapat dengan cinta yang begitu besar Ify miliki.

“Apa ada alasan buat gue untuk bisa pergi dari lo Mario?” Rio tersenyum. Ia tak menolehkan wajahnya kearah gadisnya sama seperti gadisnya tadi saat ia berbicara.

“Apa lo yakin ada alasan untuk lo pergi dari gue bahkan berhenti untuk mencintai gue” Ify menggelengkan kepalanya. Ia menggigit bibirnya dan meremas kuat jemarinya.

“Kalau memang tidak ada. Gue pun sama” Kini Rio menolehkan wajahnya menghadap Ify. Begitupun Ify yang juga menatap Rio dengan tatapan begitu dalam penuh cinta.

Ify meraih wajah Rio. Menangkupkan kedua tangannya membingkai lekukan tegas milik kekasihnya. Merekam dalam di setiap sel memorinya atas cetakan indah yang kekasihnya miliki.

Rio meraih tangan Ify yang membingkai wajahnya. Menggenggam erat tangan milik gadisnya. Menegaskan bahwa gadis di hadapannya miliknya dan hanya miliknya dan tercipta hanya untuknya.

“Mau janji buat tidak meninggalkan aku?” Ify mengangguk

“Mau janji untuk menunggu aku bila suatu saat nanti aku harus pergi karena alasan yang lain dan akan kembali untuk kamu” Ify kembali mengangguk.

“Dan mau janji untuk terus dan selalu percaya sama aku apapun yang terjadi”

Ify tidak menjawab dengan gerakkan ataupun ucapan yang nyata, namun Ify langsung merengkuh kepala Rio dan menyatukan bibir pemuda itu dengan bibirnya sebagai jawabannya. Ify membiarkan air matanya mengalir di antara jawaban atas janji-janji yang terikrar dari hatinya.

Ify melepas bibirnya dan langsung terjatuh lemas ke pelukan Rio dan menangis melepas isakan yang ia tahan.

“Aku.. Aku sangat mencintai kamu Yo. Dan aku mohon jangan sekalipun meragukannya dengan alasan apapun” Rio mencium puncak kepala Ify sebagai jawaban permintaan gadisnya. Pemuda itu semakin mengeratkan pelukan kekasihnya.

***
Rio memarkirkan mobil Jeep New Dodge Journey 2400 cc miliknya. Ia memasuki rumahnya, bukan maksudnya istana termegah dari istana-istana megah yang ada. Baru saja Rio melangkah satu langkah memasuki pintu seseorang membungkuk penuh hormat di hadapannya. Orang tersebut memandang tak enak wajah Rio. Rio hanya memasang wajah datar walaupun dalam hati ada sedikit kecemasan di dalamnya.

“Mohon maaf tuan muda saya bukannya lancang terhadap anda, namun saya mendapat perintah dari tuan besar dan nyonya untuk mengemasi barang-barang tuan. Dan semua barang tuan sudah di masukkan ke mobil dan tuan harus pergi sekarang. Mohon maaf Tuan ini merupakan perintah”

Rahang Rio mengeras. Ia mengepalkan kedua tangannya ia kembali melangkahkan kakinya tak peduli dengan pelayan di hadapannya.

“Tuan Rio mau kemana? Sekarang juga Tuan harus bersiap-siap ke Jerman. Tuan besar dan nyonya sudah menunggu Tuan disana”

Rio tidak peduli ia kembali melangkah menuju kamarnya. Belum saja ia menyentuh handle pintu getaran halus dari saku celananya menunda aktivitasnya.

“Ck” Rio berdecak melihat nama yang tertera di handphonenya. “Big Haling”. Rio berdecak dengan menahan emosinya

‘Jangan ada bantahan atau gadis itu akan merasakan kekuasaan Haling sebenarnya’

Rio mengeratkan kepalannya. Ia cukup mengerti maksud Kekuasaan Haling yang di maksud. Rahang Rio mengeras. Ia sungguh tidak mau gadisnya tersakiti oleh siapapun apalagi oleh keluarganya. Rio kembali mengutik handphonenya. Ia mengetikkan beberapa nomer setelah men-dial ia meletakkan handphonenya ke telinganya.

“Gue ke Jerman sekarang. Jaga pacar gue. Jangan sampai dia di sentuh oleh siapapun apalagi di sakiti”

“Gue percaya sama lo Vin”

Setelah itu Rio mengakhiri panggilannya. Ia menatap layar handphonenya yang bergambar dirinya yang sedang mencium lembut kening seorang gadis, Alyssa.

“Maaf. Gue mencintai lo, sangat sangat mencintai lo. Gue mohon tunggu sampai gue kembali”

***
Tiga hari kemudian

Ify menghela nafasnya kasar entah sudah ke berapa kalinya. Ia terus mondar-mandir di beranda rumahnya. Menunggu Rio menjemputnya. Namun ini sudah lewat 15 menit. Dan 30 menit lagi sekolah akan di tutup.

“Ify. Belum berangkat sayang” Ify menggelengkan kepalanya. Ia menghentakkan kakinya kesal.

“Rio belum jemput Ify ma. Padahal ini sudah tiga hari. Rio gak sama sekali jemput Ify. Bahkan Ify pun gak liat dia sama sekali. Rio juga handphonenya sama sekali gak aktif ma. Rio inget gak sih ma sama Ify. Uhh Ify kesel ma”

“Ya udah kamu berangkat sendiri aja lagi. Mau sampai kapan mau nunggu Rio” Ify menghembuskan nafasnya lagi.

“Ya udah ma Ify berangkat. Assalamualaikum” Ify mencium tangan mamanya dan melangkah meningggalkan rumah

“Walaikumsalam”

***
Agni menatap Ify khawatir. Sedari pagi sahabatnya terlihat murung. Agni benar-benar mengkhawatirkan sahabatnya ini.

“Fy lo kenapa? Sakit? “ Ify menggelengkan kepalanya. Agni mengernyitkan dahinya. Ia terus memandang Ify berharap ada sedikit kalimat yang keluar dari sahabatnya ini.

“Rio” Agni mengangguk. Ia sudah sangat paham hal itu. “Tiga hari yang lalu Rio cium gue” Agni melototkan matanya namun ia tetap diam membiarkan Ify meneruskan ceritanya.

Ify terus menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Rio. Dari Rio yang menciumnya, Rio yang mengungkapkan semua yang ada di hati maupun otak pria tersebut. Keraguan Ify yang membuatnya takut akan kehilangan pemudanya itu hingga janji yang sama-sama tersirat di hati keduanya dan terakhir kegundahan Ify karena Rio yang tiba-tiba menghilang

Sebenarnya aku tlah berharap
Ku kan memiliki dirimu selamanya

Agni menghapus air mata Ify yang mulai mengalir. Entah apa yang di rasakan hati Agni. Sesuatu akan terjadi nanti pada sahabatnya

“Gue takut Ag apa yang gue ragukan kemarin terjadi. Gue tau dan yakin Rio mencintai gue. Tapi entah saat ini gue merasa ada yang hilang”

Agni tergugu. Sesuatu yang ia rasakan entah kini sedikit terjawab. Keraguan sahabatnya. Benarkah?? Agni langsung menarik sahabatnya ini kepelukannya memberi ketenangan.

Drrtt.. drrttt.. drrrttt

Ify melepaskan pelukannya dari Agni. Ia merogoh saku seragamnya mengambil handphonenya yang bergetar. Ify mengernyitkan dahinya melihat nomer asing tertera di layar di handphonenya. Seperti bukan nomer Indonesia. Dengan ragu ify menekan tombol hijau dan meletakkan handphone itu ke telinganya

“Halo.”

“Ify” Ify mengeratkan genggaman handphonenya. Suara serak langsung masuk ke gendang telinganya.

“Rio” Terdengar di sana hembusan nafas yang terlihat berat. “Kamu kemana aj..”

“Fy gue mau ngomong sama lo” Ify terdiam. Entah mendengar nada kalimat yang rio ucapkan hati Ify bergetar. Rasa takut itu makin menjalar di hati gadis itu. “Gue mohon jangan katakan apapun sebelum gue selesai ngomong” Ify mengangguk tak peduli pemudanya itu tahu atau tidak. “Maaf” Rio terdiam Ify pun sama ia tidak berbicara sepatah kata pun mengikuti perintah Rio.

“Gue di Jerman”

Air mata Ify langsung terjatuh begitu saja. Keraguan, ketakutan dan rasa yang menghilang selama ini telah terjawab oleh ketiga kalimat itu.

“Gue mencintai lo. Gue mohon tunggu gue sampai kembali. Gue janji gue..”

“Jangan ucapkan janji apapun sebelum lo ada di hadapan gue. Gue akan menepati janji gue apapun yang terjadi bahkan sekalipun lo gak akan kembali. Gue selalu dan akan tetap mencintai lo”

Tuttt.. tuttt.. tutttttt

Ify menutup handphonenya dan langsung terduduk lemas. Ia menelungkupkan wajahnya ke tangan yang ia tumpukkan di meja dan menangis menahan seluruh emosinya.

Agni semakin khawatir manatap sahabatnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat dan pacar sahabatnya ini.

“Fy el,,”

“Mereka sudah tau Ag dan mereka membawa dia pergi jauh. Gue gak tau kapan dia kembali. Tapi apa mungkin dia akan kembali. Apa mungkin dia akan menepati janjinya. Apa mungkin dia akan tetap mencintai gue. Gue takut Ag gue..”

Ify terisak dalam pelukan Agni. Menumpahkan seluruh emosi yang ada.

‘Harusnya gue tahu mereka dan gue tidak akan pernah ada di posisi yang sama. Dan itu cukup membuktikan lo dan gue gak akan pernah jadi satu. Tapi gue gak akan pernah peduli Yo. Gue akan tetap menunggu lo. Sampai pada waktunya elo menepati janji lo’

***
Segenap hatiku luluh lantak
Mengiringi dukaku yang kehilangan dirimu
Sungguh ku tak sanggup ‘tuk meredam
Kepedihan hatiku ‘tuk merelakan kepergianmu

***
Ify terlihat begitu cantik dengan balutan long dress menutupi kaki dengan tali menyilang melingkari leher jenjangnya berwarna peach dengan punggung yang sedikit terbuka. Hari ini adalah acara prom night sekolahnya. Dan ia harus datang tanpa membawa pasangan.

Ify mengambil kunci mobilnya. Ia beranjak dari kamarnya dan memasuki mobil. Ify pun mengendarai mobilnya dengan tenang

Berbulan-bulan Ify mencoba terbiasa dengan keadaannya yang baru. Rio yang meninggalkannya tanpa sebab setelah laki-laki itu mengucapkan janji yang teramat manis. Menepis jauh rasa keraguannya yang menghinggap begitu saja. Setelah semua rasanya hilang dengan lancangnya Rio menghempaskan begitu saja keyakinannya dengan kalimatnya yang memintanya untuk menunggunya kembali. Hahaha bolehkah dirinya tertawa.

Dan kini tepat malam prom night. Dan malam ini pun ia harus datang sendiri. Ia mencoba tenang. Menepis jauh rasa rindu yang mulai mengusik pertahanannya untuk tetap bertahan

Sesampainya di acara prom night. Ify turun dari mobilnya. Perlahan ia memasuki aula sekolah yang sudah ramai oleh teman-temannya. Ternyata ia sudah terlambat. Acara di mulai 15 menit yang lalu. Ify mengendikkan bahunya. Ia pun berjalan untuk mengambil minuman. Karena dirinya merasa sangat haus.

“Fy” ify membalikkan tubuhnya. Terlihat Agni berdiri di belakangnya bersama Cakka. Agni terlihat sangat cantik. Dengan white mini dress selututnya dengan sangat cantik membalut kulit coklat Agni. Dan Cakka yang berdiri di samping Agni jas coklat yang membalut kemeja putih begitu membuat Cakka terlihat sangat tampan.

Pasangan serasi. Batin Ify.

“Ya ampun Fy lo cantik sumpah. Tadi aja lo masuk semua orang pada cengo. Gue aja sampai terpesona loh. Ckck gue heran kenapa sih Rio tiba-tiba ninggalin lo yak. Aww” Cakka mengaduh saat tiba-tiba Agni menginjak kakinya. Cakka tersenyum ke arah Agni yang melotot ke arahnya.

Ify hanya tersenyum melihat perdebatan Agni dan cakka. Sungguh hatinya sudah mulai terbiasa dengan semua ini. Rasa rindunya ia tekan dalam-dalam agar tidak menguar kembali menciptakan rasa sakit lagi yang semakin menyiksa suatu saat nanti.

“Hello guys. Malam ini adalah malam terpenting buat kita ya. Malam perpisahan kita. Huhu gue sedih kenapa coba kita cuma tiga tahun aja SMA nya..”


“Weitsss santai dong Ra, hehe. Oke lah kita mau adain games nih. Jadi ini ada stick dan gue akan lempar secara acak. Siapa yang menangkap stick ini dia harus maju dan harus tampil di depan oke guys..”

“Gue mulai ya. Satu.. Dua.. Tiga..”

Bagai slow motion stick itu melayang secara perlahan. Semua orang berharap cemas semoga bukan salah satu antara mereka yang mendapat stick tersebut.

Happp

Stick tersebut kini ada di genggaman Ify. Ify pun tak sadar semua mata kini menatapnya.

“Hey lo. Siapa ya eumhhh. Ah iya Ify Alyssa ayo dong maju ke depan sini. Sticknya kan di elo. Ayo maju”

Ify hanya tersenyum. Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju panggung. Semua mata memandang kagum pada Ify.

“Mau ngapain nih Fy kira-kira” Ify tidak menjawab. Ia kembali tersenyum. Matanya melirik kearah piano di sudut panggung. Sang pembawa acara pun mengerti”

“Oh oke. Silahkan..” Ify pun melangkahkan kakinya ke piano tersebut. Ify duduk di depan piano. Jari-jarinya mulai menekan satu persatu tuts-tuts piano tersebut. Matanya ia pejamkan..

Selama aku mencari..
Selama aku menanti bayang-bayangmu
Di batas senja..
Matahari membakar rinduku..
Ku malayang. Terbang tinggi..

‘Maupun gue harus mendapat ciuman dari lo bukan yang pertama gue pun tidak peduli dan takkan peduli’

Bersama mega-mega..
Menembus dinding waktu..
Ku terbaring dan pejamkan mata..
Dalam hati kupanggil namamu..
Semoga saja kau dengar dan merasakan..

‘Sekalipun banyak laki-laki manapun di luar sana sudah mengambil ciuman kesekian kalinya dari lo. Bahkan sekalipun mereka menyentuh apapun yang lebih dari milik lo gue gak akan peduli. Tidak ada satupun pikiran gue miliki lo karena nafsu maupun hasrat. Namun hati gue yang meminta lo’

Getaran di hatiku
Yang lama haus akan belaianmu
Seperti saat dulu
Saat-saat pertama
Kau dekap dan kau kecup
Bibir ini dan kau bisikkan kata-kata
Aku cinta kepadamu

‘Mau janji buat tidak meninggalkan aku?’

‘Mau janji untuk menunggu aku bila suatu saat nanti aku harus pergi karena alasan yang lain dan akan kembali untuk kamu’

‘Dan mau janji untuk terus dan selalu percaya sama aku apapun yang terjadi’

Peluhku berjatuhan
Menikmati sentuhan
Perasaan yang teramat dalam
Tlah kau bawa segala yang ku punya
Segala yang ku punya
Segala yang ku punya

‘Gue di Jerman’

Agni menatap dalam Ify di atas panggung sana. Air mata gadis itu mengalir saat kata-kata dalam lagu itu terucap seiring dengan jari-jarinya yang terus menari merangkai nada di atas tuts-tuts itu

"Gue cukup tahu lo merindukannya. Gue mohon jangan menunggu dia lagi Fy kalo lo gak sanggup menepati janji lo sama seperti dia yang mengingkari janjinya. Lo yang terbaik. Dan itu cukup membuktikan segalanya”

***
4 Tahun kemudian..

Disinilah Ify berada. Menatap sendu pemuda yang duduk di hadapannya. Pemuda itu pun sama. Pandangannya tak kalah sendu. Raut wajah keduanya sama-sama tergambar keputus asaan.

”Gue gak tahu apa dia masih mengingat gue. Apa semuanya masih tetap sama bagi dia. Gue bahkan gak tau ingatkah dia sama janji kita dulu. Gue gak tau Vin sampek kapan gue harus nunggu dia. Udah empat tahun semenjak dia bilang bahwa dia ninggalin gue. Gue udah gak tau apa-apa lagi tentang dia”

Alvin menundukkan wajahnya. Ia mengerti jelas perasaan gadis di hadapannya. Alvin meraih tangan Ify dan mengenggamnya memberi kekuatan pada gadis itu. Gadis yang telah ia jaga selama empat tahun atas permintaan sahabatnya dulu. Alvin menghapus air mata yang jatuh dari mata Ify. Dan membelai lembut pipi Ify.

Ify membiarkan saja apa yang di lakukan Alvin. Karena memang hanya Alvin lah yang mampu menenangkannya. Empat tahun ify membiarkan Alvin berada di sisinya. Bukan sebagai pengganti Rio yang sesungguhnya, namun untuk menjaganya dan mendampinginya tetap bertahan hingga kini dan entah sampai kapan.

“Sumpah gue gak tau apa-apa Fy. Gue pun sama seperti elo. Gue gak tau apapun tentang dia setelah empat tahun yang lalu dia nyerahin elo buat gue jaga. Gue gak tau Fy apa yang terjadi. Cuma kalo pun lo mau buat percaya sama dia. Gue yakin di sana dia akan berjuang buat lo. Lo masih percaya sama Rio kan?”

Ify tersenyum sinis. Ia merutuki pertanyaan Alvin yang terdengar sangat bodoh. Sungguh kini Ify meragukan Alvin yang katanya dengan baik menjaganya empat tahun. Tolong siapapun cabut pernyataan bahwa Alvin adalah sahabat yang baik. Ckck

“Otak lo kemana? Gue selama ini bertahan apa itu artinya gue gak percaya sama Rio. Selama ini gue menjaga perasaan gue seutuhnya untuk tetap mencintai Rio setelah hal ini terjadi apa itu pantas di katakan gue gak percaya lagi sama dia. Justru saat ini gue percaya sangat percaya dia akan kembali”

Alvin tersenyum ia mengacak rambut Ify dengan penuh kelegaan luar biasa.

“Yaudah kita pulang yuk. Lo besok kan hari pertama kerja. Masak lo mau buat kesan buruk di perusahaan baru lo” Ify mengangguk ia mengambil tasnya dan berjalan mengikuti Alvin.

***
Ingin ku yakini
Cinta takkan berakhir
Namun takdir menuliskan kita harus berakhir

Ify meletakkan tasnya di meja kerjanya. Belum saja ia duduk ada pesan masuk di komputernya berasal dari operator perusahaan agar semua karyawan berkumpul. Ify mengernyitkan keningnya kenapa semua karyawan harus kumpul? Ada apa?

“Fy ayo kita ke aula. Semua sudah banyak yang kumpul. Ayo Fy”

“Eh tunggu mbak” Ify langsung beranjak dan berjalan di samping Aren, seniornya.

“Mbak, memangnya ada apa sih kok kita di suruh kumpul?” Aren tersenyum. Wanita itu memaklumi ketidak tahuan juniornya. Wanita itu pun mulai menceritakan

“Kamu tahu sejarah perusahaan ini?” Ify menggeleng “Perusahaan ini dari awal di bangun semua karyawan tidak ada yang tau siapa yang mendirikan dan siapa pemiliknya karena peusahaan ini pun sangat menutup rapat profil perusahaan ini. Yang kami tahu perusahaan ini setiap beberapa tahun sekali bergonta-ganti pemimpin. Kami sama sekali tidak mengetahui motif dari semua ini”

“Kami juga tahu suatu saat nanti anak pemilik perusahaan ini akan mengambil alih kepemimpinan disini. Anak tunggal pemilik perusahaan yang sudah empat tahun tinggal di Jerman. Dan sekarang ia kembali ke Indonesia untuk memimpin perusahaan ini lagi" Ify tertegun. Entah mendengar apa yang Aren katakan rasa rindu itu kembali menguar ke hatinya

"Yah Fy kita terlambat. itu Pak Rio sudah datang"

Degg

Ify terpekur. Benar di hadapannya kini muncul sosok yang ia rindukan. Pemudanya. Ify membeku di tempatnya.

"Fy jangan terlalu terpesona ya. Pak rio sudah punya pasangan. Dia sudah tunangan?"

"Apa mbak tunangan?" Aren mengangguk. Matanya melirik ke arah Rio yang di sampingnya berdiri gadis cantik.

"Itu dia Fy" Ify mengikuti arah tunjuk Aren. Seketika tubuhnya terasa lemas seperti di lucuti dari tulang-tulangnya. "Dan sebentar lagi mereka akan menikah"

Brukk

"Ifyyy"

Bersambung..

Selasa, 12 Mei 2015

Before You Loss (Ending)

***
Alvin menatap gadis yang duduk di hadapannya. Gadis yang sangat cantik. Auranya pun begitu membuat Alvin terpesona sesaat.

"Lo ada apa nyuruh gue ketemu lo" Alvin tersadar. Ia menatap gadis di hadapannya penuh rasa penasaran. Entah Alvin sama sekali tidak mampu menebaknya.

"Shilla"

Shilla menatap pria di hadapannya heran.. Pemuda ini menemuinya tadi setelah ia meninggalkan kantor Rio, dan laki-laki itu mengatakan ada suatu hal penting yang menyangkut dirinya dengan rio juga masa lalu Rio yang jujur ingin ssekali ia tahu. Dan akhirnya tibalah mereka disini. Saling berhadapan dan terpisah jarak hanya dengan sebuah meja.

"Alvin. Gue gak ada waktu banyak apa yang ingin lo katakan"

"Shilla gue tau lo adalah gadis yang baik. Dan gue yakin lo tau pasti apa yang seharusnya lo lakukan setelah gue mengungkapkan apa yang gak lo tahu selama ini"

Shilla memandang Alvin. Ia memiringkan kepalanya dan menatap lekat Alvin

"Apa yang gak gue tau?"

"Masa lalu Mario dan Alyssa"

Shilla mengernyitkan dahinya. Apa maksud pemuda di hadapannya. Mario Stevano dia kekasihnya, lalu Ify Alyssa.

Deg..

Jantung Shilla serasa berhenti seketika. Ify dan Alyssa seakan dua kata itu membentuk suatu reaksi yang sangat menyakitkan di hatinya. Shilla menatap Alvin mencoba memastikan apa yang coba ia terka dalam hatinya

"Ify Alyssa?" Tanya Shilla. Alvin menatap Shilla ia tahu wanita di hadapannya saat ini sedang bergetar. Sesungguhnya pemuda itu berat mengatakan semua ini. Ia tahu gadis di hadapannya sangatlah baik namun ini semua demi Ify.

"Gue tau lo kenal siapa dia. Selain karyawan di perusahaan kekasih lo dia adalah masa lalu Rio yang telah tergantikan oleh kehadiran lo" Kata Alvin sambil menatap Shilla yang langsung terdiam dengan tatapan kosong.

"Lo gak boong sama gue. Lo bukan niat buat hancurin hubungan gue sama Rio. Lo.." Shilla menghentikan bicaranya menatap Alvin yang membalas menatapnya. Shilla menyadari bahwa dirinya amatlah kacau. Ify dan Alyssa. Ify Alyssa. Mario.. Haling. Shilla menggeleng sambil menatap Alvin

"Jelasin" Ucap Shilla dingin sambil menatap Alvin kosong. Alvin tersenyum miring membalas tatapan kosong Shilla.

"Ada satu hal yang gak lo sadari bahwa di dekat lo seorang gadis yang selama empat tahun menderita semakin lo buat menderita. Gadis polos, gadis yang teramat baik dan gadis MALANG" Ujar Alvin dengan menekan kata terakhirnya yang berhasil membuat Shilla mendengus.

"Lo cantik Shilla, lo punya segalanya. Bahkan hati lo sangatlah lembut. Lo gak pernah menyadari apa yang sesungguhnya ada di hati lo. Lo gak pernah mencintai Rio. Lo hanya iba, lo hanya kasian dan rasa bersalah lo yang buat lo ingin jauh mengenal Rio namun hati lo hanya menempatkan rio di luar dinding hati saja lo gak pernah mengijinkannya masuk lebih dalam. Itu lah hati lo yang sebenarnya"

Alvin menarik nafasnya lalu kembali menatap Shilla, ia meraih tangan Shilla yang ada di atas meja dan mengusapnya lembut. Tatapan dan senyuman Alvin pun melembut. Shilla melirik tangannya lalu mendongakkan kepalanya hingga tatapan mereka bertemu. Shilla kembali menunduk

"Lalu bagaimana kalau gue gak bisa mengikhlaskan Rio"

Alvin tersenyum lalu mengendikkan bahu. Melihat reaksi Alvin, Shilla pun mengernyitkan dahinya.

"Seperti yang gue bilang hati lo itu sangatlah lembut. Jadi lo akan tau apa yang harus lo lakukan. Yang jelas lo tidak harus memikirkan hati lo sendiri. Karena ini menyangkut banyak hati." Alvin bangkit dari duduknya. Lalu ia berbalik akan beranjak namun langkahnya terhenti saat Shilla memanggilnya.

"Vin. Would you help me" Alvin mengangkat alisnya lalu menatap Shilla yang memasang raut memohon. Perlahan kepala Alvin bergerak ke atas ke bawah dengan senyum yang masih terpampang indah di wajah Chinese pemuda itu. Melihat itu Shilla membalas senyum Alvin tipis sangat tipis. Setelah itu mereka beriringan beranjak dari cafe tersebut

Waktu yang akan menjawab permainan apa lagi yang akan di main kan oleh sang takdir. Akan kah malaikat bersosok pemuda itu berhasil membaikan takdir yang dulu teramat kejam itu. Kita lihatlah nanti.

***
Ify menatap Alvin tak percaya. Pemuda itu gila begitu pikirnya. Sementara Alvin yang di tatap Ify hanya tersenyum tenang. Alvin mendekati Ify. Pemuda itu duduk di samping gadis itu.

"Lo percaya kan sama gue?" Tanya Alvin sambil melirik Ify yang bersedekap dada sambil mengembungkan pipinya dengan bibir mengerucut. Alvin terkikik geli melihat gadis sahabatnya ini. Alvin mengacak rambut Ify membuat gadis itu mendengus

"Tapi Vin ini pasti akan menyakiti mbak Shilla dan tentunya gue. Lo gak mikir itu hah. Gue.."

"Hushh. Percaya sama gue ya. Semua akan baik-baik saja. Bahkan semua akan kembali lagi ke lo. Oke bisa kan percaya sama gue" Ify memalingkan wajah dan mendengus tak lama ia pun mengangguk.

***
Rio menatap Shilla yang terdiam sedari tadi di sofa ruangannya. Terlihat di mata pemuda itu gadisnya nampak memainkan ujung cardigan gadis itu membuat Rio mengernyit bingung. Ada apa dengan gadisnya? Begitu tanyanya dalam hati. Rio pun bangkit dari duduknya. Lalu bersimpuh di hadapan Shilla. Satu tangannya meraih tangan Shilla dan mengusapnya, satu lagi mengacak lembut rambut Shilla.

Shilla menundukkan kepalanya dalam. Shilla bingung apa yang harus ia lakukan. Memang ia menyadari apa yang di katakan pemuda itu benar adanya. Ia sama sekali tidak merasakan apapun pada pemuda di hadapannya. Sayang? Mungkin benar. Namun bukan sayang dalam arti sesungguhnya. Mungkin hanya sayang seorang adik pada kakak pemudanya. Ya sebatas itu.

"Yo" Panggil Shilla membuat Rio menatapnya. "Aku mau tau apa yang kamu rasakan saat bersama Ify" Rio terpaku. Shilla tersenyum namun hanya menarik satu sudut bibirnya saja.

Rio menatap Shilla. Pemuda itu menangkup pipi Shilla. Menatap Shilla dalam dengan sorotan tajam membuat Shilla gusar.

"Apa maksudmu"

"Ify dia adalah orang yang kamu cintai di masa lalumu bahkan saat ini"

***
Ify merutuki jantungnya yang terus memompanya tanpa henti dan membuat akalnya sulit terkendali. Oh my heart please your be calm for me (?). Batin Ify. Ia kembali melirik sosok pemuda yang duduk di hadapannya.

"Iy.. iya pak ada apa pak Rio memanggil saya" Pemuda itu, Rio menatap gadis di depannya.

'Temukan apa yang hatimu cari'

Rio mencoba menatap mata Ify. Mencoba mencari sesuatu di sana. Sedangkan Ify kembali merutuk, namun bukan merutuki jantungnya lagi namun sikap pemuda di depannya yang terus menatapnya.

"Ify.." Ify mendongakkan kepalanya. Apa yang dia dengar tadi. Pemuda itu memanggilnya. Bukan.. bukan dari siapa yang menyebut namanya. Coba kalian dengar pemuda itu memanggil namanya dengan nada yang teramat berbeda. Sangat halus dan seakan menariknya kembali ke pemudanya yang dulu.

"Siapa lo?" Tanya Rio halus namun penuh ketegasan di sana. Ify menunduk. Di matanya telah membumbung air yang siap tergenang sekali ia berkedip.

"Jawab gue. Kenapa lo diam. Siapa lo. Dan apa gue" Ify meneguk ludahnya. Ia berdiri dari duduknya dan mencoba menatap pemuda yang menjadi atasannya.

"Maaf pak. Saya tidak mengerti apa yang anda katakan. Maaf pak kerjaan saya menumpuk. Kalau begitu saya permisi" Belum saja Ify melangkahkan kaki keluar tiba-tiba tubuhnya di tarik dan kini ify merakan ada yang mendekapnya. Ify mencoba melepas pelukan tersebut namun yang ada pelukan itu semakin mengerat.

"Pak tolong lepas saya. Nanti ada karyawan yang masuk terlebih mbak Shilla pasti akan salah sangka. Dan saya tidak.."

Cupp

Ify terpaku saat ia merasakan sentuhan lembut di puncak kepalanya. Dan tubuhnya hampir ambruk saat ia mendengar kalimat yang sangat halus di telinganya.

"Maaf" Ify langsung melepas paksa tubuhnya dari pelukan Rio. Lalu ia berbalik dan pergi dari ruangan itu, namun langkahnya langsung terhenti saat di pintu seorang gadis berdiri dengan senyum yang terlihat sangat tulus.

"Fy kamu mau kemana?"
Melihat Shilla berdiri di hadapannya sontak membuat Ify gusar. Ify mengekor mata melirik Shilla. Terlihat Shilla melangkah maju dan tanpa sadar Ify melangkah mundur. Hingga..

Bughh

Ify merasakan tubuhnya menabrak sesuatu. Dan ia merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Ify menatap pinggangnya lalu mendongak menghadap pemilik tangan yang melingkar di pinggangnya. Rio.

"Fy. Makasih ya atas ketulusan hati lo. Gue kembalikan Rio ke lo"

"Mbak.."

"Gue dan rio gak pernah saling mencintai. Gue dengan rasa bersalah gue dan Rio bersama bayang-bayang lo yang dia lupakan. Dan kami baru menyadari sekarang." Ify terpaku.

"Fy maafkan gue. Ijinkan gue untuk kembali dan bantu gue untuk mengingat lo seutuhnya"

Ify berbalik menghadap Rio. Ia kembali menatap wajah itu, ia berani membalas tatapan itu kembali. Seketika isaknya pecah membuat Rio langsung menarik gadis itu di dekapnya.

"Lo jahat Yo.. lo jahat.. Lo tahu seberapa tersiksanya gue. Gue nunggu lo selama empat tahun yo. Gue percaya lo kembali. Gue percaya lo akan nepati janji lo. Saat lo ninggalin gue secara tiba-tiba apa lo tau seberapa tersiksanya gue Rio. Gue bertahan. Gue percaya lo kembali. Tapi.. Tapi.."

Cupp

Ify kembali terpaku untuk kesekian kalinya saat tiba-tiba Rio membungkam bibirnya dengan lembut. Pinggangnya yang di dekap Rio makin di pererat. Ify merasakan nyaman dengan apa yang di lakukan Rio untuknya. Ingatannya berpuutar pada masa lampau saat pemuda itu melakukan hal yang sama untuk pertama kalinya

"Enghh" Rio melepas bibirnya. Pemuda itu menatap gadis di hadapannya. Rio yakin pada hatinya. Apa yang kini ia rasakan berbeda dengan apa yang selama ini ia rasakan pada Shilla. Ia yakin memang gadis di hadapannya ini memang gadis yang sangat ia cintai.

Rio menghapus air mata Ify. Lalu mengusap pipi lembut gadis yang ia yakini sangat ia cintai. Jarinya menyentuh bibir Ify. Ia mengusap bibir itu lembut. Sungguh pemuda ini merasakan sesuatu yang berujung. Kerinduan dan penantian.

"Aku yakin hanya aku yang merasakan bibir ini dan hanya milik kamu ini satu-satunya yang bisa aku miliki" Ify menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah. Rio langsung menarik kembali Ifynya ke pelukannya.
Tanpa mereka sadari dua pasang mata menatap mereka. Sepasang adam hawa yang telah mengembalikan fungsi hati milik dua insan yang memadu rindu di dalam sana. Sang adam menatap hawa yang tersenyum penuh kelembutan di sampingnya.

"Gue tau lo adalah gadis yang baik dan teramat baik bahkan lo begitu tulus. Gue gak pernah ragu dengan apa yang gue yakini Shilla" Shilla menatap Alvin yang juga menatapnya. Lalu ia tersenyum sinis kea rah pemuda itu.

"Lo yakin dengan apa yang lo nilai. Ckck lo sungguh malang Alvin. Lo teramat malang.."

Jlebb Awww

"Shillaaaaa" Alvin langsung mengejar Shilla dengan tertatih akibat injakan yang ia dapat dari gadis itu. Awas lo kalo dapet gue bakal bales lo gadis iblisss.. Gumam Alvin dalam hati namun sebuah senyuman masih terlukis rapi di wajahnya.

Rio dan Ify yang mendengar teriakan Alvin melepas pelukannya. Lalu rio mendekatkan wajahnya ke Ify.

"Kayaknya kita harus membalas kebaikan mereka deh" ify melotot lalu langsung menyikut pinggang Rio.

"Hahaha. I Love You"

Ify tersenyum lalu mendekatkan wajahnya.

Cupp

"I love you too" Ify langsung berlari setelah mencium pipi rio dan membalas ungkapan cinta pemudanya.

Hahh sungguh kisah rumit yang melelahkan. Penantian yang berawal penderitaan yang teramat panjang dan berakhir dengan sebuah tawa penuh cinta yang teramat merindukan. Terkadang takdir teramat kejam. Namun lihatlah sebuah drama yang sang waktu pertotonkan. Takdir teramat baik dengan ujian kejam dari sebuah kisah yang berataskan takdir. Mungkin kalian tidak akan mengerti karena ini sungguh sulit, namun coba kalian rasakan. Teka-teki abstrak yang akan kalian susun nanti akan memberi jawabannya.

End..

Huaaa akhirnya lunas nih utang. Huhh sudah yaa kelar. Masalah cerbung istirahat dulu oke. Jangan ada yang protes tapi tetep like sama komen oke. Makasi. sekian byeee


Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...