Shilla menolehkan kepalanya menatap
pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi
pintunya. Shilla menautkan alisnya menunggu gadis itu bicara. Shilla berdehem.
“Ada apa Agni. Masuk aja” Gadis berseragam
hijau itu yang merupakan suster sekaligus asisten Shilla itu menggeleng. Agni
menundukkan kepalanya membuat Shilla mendesah. Seperti mengerti maksud Agni.
“Dokter Gabriel menunggu dokter di
ruangannya..” Agni menghentikan ucapannya. Gadis itu menegakkan tubuhnya
menatap atasannya yang terdiam. Agni menghembuskan nafasnya. “Ini soal
kepindahan dokter Shilla ke rumah sakit lain”
“Apa?” Shilla menatap Agni yang
menundukkan kepalanya. Shilla lantas berdiri dan langsung melenggang
meninggalkan Agni tanpa mendengar gadis itu yang terus menyerukan namanya.
***
Brakkk
Gabriel tersentak. Ia lantas menegakkan
tubuhnya menatap pintunya yang terbuka dan seorang gadis berjas putih serupa
dengannya berdiri menatapnya. Gabriel menundukkan kepalanya. Menahan gejolak
dalam dirinya untuk mendekati gadis itu.
“Lo bisa sopan gak. Lo fikir apa hak
lo?” Gabriel mendongakkan kepalanya. Menatap Shilla yang berjalan mendekatinya.
Gabriel memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya sebelum ia mengucapkan
kata di hadapan gadis yang saat ini menatap dirinya.
“Gue yang harusnya nanya ke lo. Apa lo
bisa sopan dokter Ashilla. Ini rumah sakit. Dan lo dokter jantung. Kasian
pasien lo” Shilla melengos. Menatap Gabriel yang kembali pada aktivitasnya
semula.
“Gue di pindah ke rumah sakit lain? Apa
maksudnya?”
“Itu perintah dokter Shilla” Shilla
menggelengkan kepalanya. Menatap Gabriel yang seakan tak peduli dengan
kehadirannya. Shilla mendongakkan kepalanya. Menahan agar tak ada air mata yang
jatuh dari kedua matanya.
“Gue harus tahu kehadiran gue di rumah
sakit ini udah gak berarti apapun lagi. Gue tunggu surat keterangan kepindahan
gue. Dan gue akan sangat berterima kasih sama lo kalo gue mendapatkan rumah
sakit yang lebih baik dari rumah sakit ini, Dokter Gabriel Damanik”
Shilla membalikkan tubuhnya. Namun belum
ia melangkah sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Sesuatu yang hangat
menyergap batinnya. Shilla terpaku merasakan hembusan nafas menerpa tengkuknya.
Bahunya memberat. Sesuatu yang tertumpu di pundaknya membuat sesak di dadanya
kian terasa.
“Bahkan saat waktu untuk kita udah habis
gue gak bisa merasakan di dekat lo lagi Shill. Kenapa lo menjauh. Ini
pertanyaan terakhir gue sebelum gue benar-benar melepas segalanya tentang lo.
Kenapa lo gak mau mempertahankannya”
Air mata Shilla terjatuh. Isakan keluar
dari bibirnya membuat sesak dalam dadanya semakin membuatnya tak mampu untuk
sekedar bernafas. Shilla melepas lingkaran tangan Gabriel di pinggangnya.
Membalikkan tubuhnya menghadap Gabriel dan langsung memeluk pemuda yang masih
sangat ia cintai itu.
Gabriel memejamkan matanya. Merasakan
setiap sentuhan yang sangat ia rindukan. Hatinya menghangat. Ia tahu semua
masih sama namun itu tak berarti apapun dalam keadaan seperti ini.
Shilla melepas pelukannya. Menundukkan
kepalanya dan menatap tangan Gabriel yang masih melingkar di pinggangnya.
Shilla melepas tangan Gabriel dari tubuhnya. Mengenggam telapak tangan yang
dulu menjadi miliknya. Shilla mencium telapak tangan Gabriel hingga membuat
tetesan air matanya jatuh di telapak tangan pemuda itu. Shilla mendongakkan
kepalanya. Menatap Gabriel yang terpaku menatapnya.
“Itu pelukan terakhir gue. Itu ciuman
terakhir gue di tangan lo. Asal lo tahu Yel rasanya sakit berpura-pura ikhlas
melepas sesuatu yang selama ini di anggap menjadi miliknya. Tapi gue gak di
kasih pilihan. Melepas ataupun mempertahankan lo itu bagi gue sama-sama
menyakitkan karena pada akhirnya takdir gue bukan untuk miliki lo selamanya. Lo
udah bahagia. Gue terima dengan perintah lo ataupun kakek lo untuk pergi dari
rumah sakit ini. Karena gue rasa gak ada alasan apapun untuk bertahan di sini.
Tempat gue bukan di sini”
Shilla menghapus air matanya. Perlahan
ia melangkah mundur memperluas jarak antara dirinya dan Gabriel. Langkah Shilla
terhenti begitu ia mendengar gumaman dari Gabriel yang membuat hatinya seakan
semakin tak berbentuk apapun lagi.
“Kalo gitu mulai saat ini gue
bener-bener melepas lo. Bahkan gue akan buang semua perasaan gue untuk lo. Hari
ini adalah hari terakhir lo menjadi dokter di rumah sakit ini. Surat keterangan
pemindahan lo akan di antar malam nanti. Silahkan bereskan barang-barang lo dan
bersiap untuk pergi dari rumah sakit ini.”
Shilla menganggukkan kepalanya dan
berbalik memunggungi Gabriel yang menatapnya dengan air mata yang sudah
menelusuri wajah tegas pemuda itu. Shilla menyentuh handle pintu ruangan
Gabriel, namun belum ia menekan handle pintu itu suara Gabriel kembali
terdengar olehnya.
“Kalo lo mau liat gue bener-bener
bahagia silahkan datang di acara pertunangan gue dengan Acha seminggu lagi.
Undangan untuk lo sudah gue siapkan. Gue mau liat seberapa puas lo liat gue
bahagia setelah gue melepas segalanya tentang lo. Gue mau liat seberapa mampu
lo bertahan dengan ego lo. Lo orang pertama yang paling gue tunggu Ashilla”
***
Ify menatap Cakka yang sedang berkutat
dengan berkas-berkas di hadapan sepupunya itu. Ify mendengus dan duduk di
hadapan Cakka membuat pemuda itu mendongak menatap Ify yang sedang memanyunkan
bibirnya di hadapan pemuda itu. Ify melempar Cakka dengan tutup pulpen di
depannya yang langsung mengenai kepala pemuda itu membuat Cakka dengan kesal
menatap Ify yang masih memanyunkan bibirnya.
“Apa?”
Ify melengos. Ia kembali melempar klip
kertas kearah Cakka membuat pemuda itu menatapnya tajam. Ify bangkit dari duduknya.
Beranjak mendekati Cakka dan duduk di meja kerja Cakka membuat Cakka menyentil
paha Ify yang langsung dibalas pukulan di kepala pemuda itu.
“Gue mau protes. Gue gak akan biarin lo
kerja dengan tenang sebelum lo jelasin semuanya. Ihh lo dasar ya”
Cakka meletakkan pulpennya dan menutup
laptopnya. Ia menatap Ify yang masih dengan rajukkannya. Cakka mengerutkan
keningnya, tak mengerti apa yang sepupunya itu katakan.
“Gue gak ngerti Fy. Plis deh lo jangan
bertingkah. Turun dari meja gue balik ke ruangan lo atau periksa pasien pertama
lo sono. Bukannya mengacaukan kerjaan gue. Ayo
dong Fy”
Ify turun dari meja Cakka. Ia
membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi meja pemuda itu yang kembali bekutat
dengan pekerjaannya tersebut. Ify menduduki sofa frost. Merebahkan
kepalanya pada punggung sofa sambil melirik Cakka yang kembali tenggelam pada
berkas-berkas di tangan pemuda itu. Ify mendesah.
“Gue gak ngerti Kka. Anak dari keluarga
Umari itu gue atau lo. Kenapa justru lo yang papa kasih hak untuk memegang
rumah sakit ini bahkan aset rumah sakit ini pun seluruhnya atas nama lo.
Sementara gue, gue anaknya tapi gue cuma di jadikan dokter di rumah sakit
keluarga gue sendiri. Kadang gue merasa lo sangat beruntung lain dengan gue
sebagai anak dari keluarga umari”
Cakka menghentikan kegiatannya. Menatap
Ify yang menundukkan kepalanya. Melihat keadaan sepupunya tersebut lantas Cakka
pun beranjak dari kursinya. Berjalan mendekati Ify dan duduk di samping gadis
itu. Cakka menatap Ify. Pemuda itu menyentuh kedua pundak gadis itu dan memutar
menghadapkan kearahnya.
“Gue juga keluarga lo kan? Gue sepupu
lo. Darah gue juga mengalir dalam tubuh lo. Gue bukan orang asing dalam hidup
lo Fy. Asal lo tau lo sebagai anak om Indra harusnya lo beruntung. Bukan karena
om Indra yang kaya tapi karena dia sangat menyayangi lo. Coba lo fikir
bagaimana rumah sakit ini lo yang pegang. Setangguh apapun lo tetap orang lain
akan berusaha menghancurkan rumah sakit ini. Karena lo cewek. Lagian rumah
sakit ini tetep punya lo. Rumah sakit ini juga nantinya akan jatuh di tangan
lo. Lo pewaris utama atas seluruh harta Om Indra. Jadi apa yang lo takuti Fy”
“Tapi bukan masalah harta. Tapi masalah
kepercayaan. Dari dulu papa selalu percaya sama lo. Sedangkan gue. Papa gak
pernah dengerin gue. Bahkan dulu papa lebih memilih tinggal di Berlin daripada
nemenin gue di Jakarta. Sampai papa kasih aset rumah sakit ini ke lo. Gue ini
anaknya Kka. Apa salah gue menuntut?”
Cakka menggelengkan kepalanya. Tangannya
terulur menyentuh puncak kepala Ify. Sementara tangannya yang lain mencengkeram
pundak sepupunya tersebut.
“Lo salah mengira bokap lo lebih percaya
sama gue karena dia gak sayang sama lo. Justru dia percaya sama gue karena cuma
gue yang bisa melindungi lo. Hanya gue yang tidak akan menyakiti lo. Hanya gue
yang akan terus ada di samping lo meskipun lo selalu menjauh.” Cakka
menghentikan ucapannya. Menatap Ify yang menundukkan kepalanya. Senyum pemuda
itu mengembang.
“Dengerin gue Fy. Bokap lo sayang sama
lo. Dia mau melakukan yang terbaik meskipun dia gak bisa selalu di samping lo.
Dia gak akan memberikan lo harta karena dia tahu lo memiliki cita-cita dan
cita-cita lo gak akan bisa di gantikan oleh berapapun harta bokap lo. Ya
intinya seperti itu lah Fy. Lo udah
dewasa. Harusnya lo ngerti sama..”
“Bawel lo”
Ify bangkit dari duduknya. Berjalan
mendekati pintu ruangan Cakka dan menyentuh handle pintu putih tersebut. Ify
menolehkan kepalanya. Menatap Cakka yang hanya mengamati dirinya. Senyum pemuda
itu pun di balasnya dengan dengusan.
“Pasien gue di kamar mana? Dia masih
hidup atau menjelang sakaratul maut. Hmm”
Cakka menghendikkan bahunya. Ia pun
bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya kembali. Cakka berdehem
dan kembali berkutat dengan berkas-berkas di hadapannya.
“Lo dari sini belok ke kanan terus ada
lift masuk ke dalam terus tekan angka satu setelah itu cari meja dengan tulisan
recepsionist dan lo bisa tau siapa pasien lo”
“Kampret lo”
Ify keluar dari ruangan Cakka dan
membanting pintunya dari luar. Ify terdiam sejenak di depan pintu ruangan
Cakka. Mendongak menatap atas pintu ruangan pemuda itu.
“Head Hospital. Moga lo gak freak ya Dr.
Cakka Nuraga yang terhormat” Ify menyunggingkan senyumnya. Lalu ia kembali
melanjutkan langkahnya dengan wajah berserinya.
***
“Shill. Kok udah pulang lo?”
Shilla menghentikan langkahnya. Menatap
Rio yang menatap dirinya di balik laptop pemuda itu. Shilla menghembuskan
nafasnya. Ia berbalik dan melangkah mendekati Rio dan duduk di samping kakaknya
tersebut. Shilla merebahkan kepalanya di pundak Rio. Mencoba mengalihkan
perasaannya di hadapan kakaknya itu.
“Tugas gue udah selesai. Terus ngapain
gue lama-lama di sana”
“Bukannya lo selalu pulang larut. Shill,
ada sesuatu yang terjadi. Bilang sama gue Shill. Jangan di tutupi”
Shilla menegakkan tubuhnya. Menghadapkan
tubuhnya menatap Rio. Shilla meraih tangan Rio dan mencium tangan pemuda itu.
“Kak, mulai besok lo anterin gue ke
rumah sakit ya. Rumah sakit yang berbeda. Rumah sakit yang gak pernah gue
bayangkan akan di sana. Gabriel memindahkan gue ke rumah sakit lain. Dan gue
mau besok lo yang anterin gue”
“Apa? Gabriel memindahkan lo? Kenapa?
Dia..”
“Ini kebijakan rumah sakit kak. Biar
bagaimana pun saat ini Gabriel yang menangani semua urusan rumah sakit semenjak
dokter Fritz resaign dari sana. Gabriel adalah atasan gue. Mau gue protes
bagaimana pun gue gak bisa merubah apa yang jadi hak dia, termasuk
menghilangkan gue dari hidup dia”
Rio menatap Shilla yang menundukkan
kepalanya. Bahu gadis itu bergetar. Rio langsung menarik Shilla ke pelukannya. Mengusap
rambut gadis itu dengan lembut. Rio mencium puncak kepala adiknya membuat bahu
Shilla semakin bergetar hebat. Lengannya pun di cengkeram erat oleh gadis itu.
“Seminggu lagi Gabriel akan tunangan.
Tapi bukan sama gue. Padahal dulu dia janji cuma gue yang akan dia pasangkan
cincin. Cuma gue yang akan dia banggakan di depan semua orang sebagai takdir
sejati dia. Tapi dia bohong kak. Dia lupa sama semua itu.” Shilla meremas kaos
Rio yang basah oleh air matanya yang ia pun tak menyadari bahwa air itu telah
mengaliri wajahnya
“Dia malah nyuruh gue dateng melihat dia
pasang cincin di tangan gadis lain. Lihat dia membanggakan gadis lain sebagai
takdirnya di depan semua orang. Gue gak tau harus bagaimana gue mendeskripsikan
perasaan gue. Semua ini seakan-akan menyatakan dengan tegas kalau gue memang
bukan apa-apa di hidup Gabriel”
***
Shilla menatap hamparan pepohonan di
hadapannya. Senyumnya mengembang. Shilla merentangkan kedua tangannya menghirup
dalam udara di sekitarnya.
“Nah udah jadi”
Shilla menolehkan kepalanya. Menatap
bingung seorang pemuda yang berjongkok sambil menatapnya dengan senyum yang
semakin menegaskan ketampanannya. Shilla mengerutkan keningnya menatap pemuda
itu yang kini berdiri dan berjalan menghampiri dirinya.
“Ngapain sih Yel?”
Gabriel tak menjawab. Ia terus menatap
Shilla hingga membuat gadis itu salah tingkah oleh sikapnya. Shilla tersentak
saat tangannya di angkat. Sesuatu yang lembut menyentuh telapak tangannya.
Shilla tersenyum menyadari Gabriel mengenggam tangannya dan menciumnya dengan
lembut.
“Shilla would you be mine forever. Would
you be mother for my children. Would you be part my destiny”Shilla menutup
bibirnya menatap tak percaya Gabriel yang masih berjongkok di hadapannya dan
mengenggam erat tangannya. Air mata Shilla terjatuh. Shilla terus menatap
Gabriel yang menunggu jawabannya. Perlahan senyumnya mengembang. Dengan yakin
kepalanya mengangguk membuat Gabriel lantas berdiri dan menariknya ke pelukan
pemuda itu.
“Ini beneran Yel, Kamu serius. Kamu..
kamu beneran barusan lamar aku” Gabriel tak menjawab. Ia hanya meraih tangan
Shilla yang mengalung di lehernya. Gabriel menunjukkan sebuah benda yang
terbuat akar tumbuhan yang di bentuk lingkaran kecil. Perlahan benda itu di
masukkan ke jari manis kiri Shilla.
“Aku serius Shill. Aku cinta sama kamu.
Aku mau semua makin jelas. Bukan cuma hati kamu yang aku miliki. Tapi segalanya
dalam diri kamu juga bisa aku miliki.Aku mau kita menikah. Mempunyai anak.
Bahagia bersama keluarga kecil kita. Aku mau cinta kita sejati”
Air
mata Shilla dengan cepat terjatuh membasahi wajahnya. Shilla langsung
menabrakkan dirinya pada tubuh Gabriel. Menumpahkan tangisnya di dekapan pemuda
yang ia cintai itu.
“Aku
gak tau aku harus percaya sama kamu atau gak. Tapi saat ini apapun yang kamu
katakan sumpah demi apapun itu buat hati aku bahagia. Aku cinta sama kamu Yel.
Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau kamu ninggalin aku. Aku juga mau cinta
kita sejati”
“Hushh
aku gak akan ninggalin kamu. Kamu gak akan kehilangan aku. Gak ada alasan untuk
aku melepas kamu kecuali gak ada alasan lagi untuk kita berjuang agar hubungan
ini tetap bertahan. Tapi aku yakin Shill. Apapun alasannya kamu memang takdir
aku. Kamu yang harusnya aku miliki. Cuma kamu yang akan aku pasangkan cincin
berlian di jari kamu sebagai pengganti cincin yang aku pasang di jari kamu
sekarang. Cuma kamu yang akan di lihat semua orang sebagai takdir aku.
Percayalah”
Shilla
menatap Gabriel. Tangannya menyentuh wajah tampan pemuda yang sangat ia cintai
itu. Tangannya menangkup rahang Gabriel. Mendekatkan wajah itu dekat dengan
wajahnya. Hingga hidung keduanya menyatu.
“Aku
gak akan janji apapun Yel. Tapi aku akan berusaha untuk menjaga hati kamu.
Untuk mengenggam erat cinta kamu. Aku akan berusaha bahwa hati kamu tetap
menyatu disini” Shilla meraih tangan Gabriel dan menuntunnya menyentuh dadanya.
Senyum Gabriel mengembang. Pemuda itu tak mengatakan apapun dan langsung
menghapus jaraknya dengan Shilla.
Shilla
memejamkan matanya. Menikmati sentuhan yang Gabriel berikan padanya. Merasakan
bibir Gabriel yang dengan lembut menyatu dengan bibirnya. Shilla mengalungkan
tangannya di leher Gabriel. Mendorong kepala pemuda itu semakin dalam mencumbunya.
Gabriel
melepas ciumannya. Tangannya mengusap wajah Shilla. Menghapus sisa air mata
yang membekas di wajah cantik gadisnya. Gabriel mendekatkan wajahnya. Mencium
puncak kepala Shilla.
“Janji
ya cuma aku yang boleh cium kamu kayak tadi. Apapun yang terjadi jangan coba
deket-deket sama cowok lain. Karena sebentar lagi apapun yang ada di diri kamu
semua akan jadi milik aku”
“Gabrielll”
***
Ify
berjalan memasuki sebuah kafe. Namun tangannya yang menyentuh pegangan pintu
kaca kafe itu langsung terhenti saat tangan lain juga berada di sana. Ify
mendongakkan kepalanya mencoba melihat siapa pemilik tangan tersebut. Keduanya
sama-sama terpaku menatap orang di hadapannya. Bahkan nafasnya keduanya pun
sama-sama terhenti sesaat.
“Rio”
Rio
tersadar. Ia langsung menarik tangannya dan menjauh dari Ify. Pemuda itu pun berbalik
membelakangi Ify yang menatap dirinya. Pemuda itu tak menyadari air mata Ify
yang mulai perlahan mengalir di wajahnya. Pemuda itu tetap berjalan menjauhi
Ify yang terus menatap langkah pemuda itu yang semakin menjauh.
“Bahkan
lo gak berusaha mengejar gue”
Ify
tersentak. Ia langsung menolehkan kepalanya menatap ke depan. Kini Rio
menghentikan langkahnya. Masih dengan posisi yang sama. Masih memunggungi Ify
yang terpaku olehnya. Ify menundukkan kepalanya. Menatap tangannya yang saling
bertaut di bawah perutnya.
“Itu
artinya apa yang lo bilang sebagai perjuangan lo untuk menyatukan gue dengan
adik gue itu gak berarti apapun”
Ify
menegakkan kepalanya menatap Rio yang masih terdiam di tempatnya. Ify
menghembuskan nafasnya. Perlahan ia berjalan mundur dan membuka pintu kaca kafe
dengan mata yang masih terus menatap kearah Rio.
“Lo
gak pernah tau hati gue Rio. Lo gak pernah sadar apa yang gue lakukan memang
terbaik. Maaf kalo gue selalu bikin
dugaan lo salah. Tapi gue cuma mau baik-baik aja. Gue sayang Shilla. Tapi semua
yang terjadi itu karena gue. Dan biarkan gue menebus kesalahan gue atas hidup
kalian selama ini. Permisi”
“Gue
gak kenal lo Ify” Ify menghentikan langkahnya di ambang pintu. Mendengar
lirihan Rio yang teramat dekat olehnya. Ify mendongakkan kepalanya menatap Rio
yang kini berdiri di hadapannya. Wajah pemuda itu mengeras. Ify mengalihkan
pandangannya.
“Lo
gak akan kenal gue Rio. Sampai kapanpun. Karena mulai saat ini gue bukan Ify
seperti pertama kali lo kenal gue maupun Ify yang mendampingi lo ketika lo
berpisah dengan adik lo. Pertemuan kita hari ini adalah pertemuan terakhir.
Setelah ini lo gak akan menemukan gue lagi”
Ify
membalikkan tubuhnya dan langsung masuk ke kafe yang ternyata masih sepi itu. Ify
mendudukkan dirinya pada sofa sudut kafe dan pandangannya ia arahkan pada
seorang pemuda yang menggeram di tempatnya. Ify menutup matanya. Menahan air
yang mulai ingin meruntuhkan pertahannya.
“Pada
dasarnya memang gue gak akan bisa lepas dari bayangan lo Rio. Karena hati gue yang
gak akan pernah bisa lepas begitu aja untuk berhenti mencintai lo. Tapi lo
harus ngerti. Gue gak akan pernah bisa lagi menginjakkan langkah gue di hidup
kalian karena gue tahu gue memang bukan bagian takdir kalian”
***
“Apa
kak? Lo pindah tugaskan Shilla ke rumah sakit lain? Kenapa?”
“Lo
gak akan ngerti Vi”
Sivia
bangkit dari duduknya. Melangkahkan kakinya berjalan mendekati Gabriel yang
merebahkan tubuhnya di kasurnya.
“Pasti
karena nenek lampir itu ya”
Sivia
ikut merebahkan tubuhnya di samping kakaknya yang memejamkan matanya. Sivia
menatap Gabriel dari samping. Perlahan wajahnya berubah sendu. Sementara
Gabriel yang berkali-kali mencoba melirik adiknya itu membuka matanya begitu
menyadari perubahan wajah adik yang sangat ia sayangi itu.
“Kenapa?”
Tanya Gabriel. Tangan Gabriel terulur meyentuh puncak kepala Sivia dan
mengusapnya lembut. Matanya tak lepas terus menatap adiknya yang juga tak henti menatapnya. Pemuda itu menyunggingkan senyumnya.
“Gue
gak tau kak gimana caranya waktu mempermainkan takdir kita. Dulu waktu pertama
kali lo bawa Shilla ke hadapan gue. Lo tahu gue udah mulai sayang sama dia. Dia
melindungi gue sebagaimana lo menjaga gue. Gue seperti mendapat sahabat, kakak
perempuan juga ibu kedua. Gue merasa lo sangat beruntung bisa memiliki
perempuan sesempurna Shilla. Gue ingin menjadi dia kak. Gue ingin menjadi
Shilla yang sangat lo cintai. Tapi..”
Gabriel
mematung. Tak ada reaksi apapun yang pemuda itu tampakkan sebagai jawaban pernyataan yang adiknya sampaikan. Sementara Sivia ia
terus menunggu Gabriel membuyarkan lamunannya. Berharap sesuatu yang dapat merubah
kerja otak kakaknya tersebut.
“Jangan
pernah sebut namanya lagi. Gue mau mandi”
Gabriel
bangkit dari tidurnya. Namun belum saja ia menjauh dari tempat tidur suara
Sivia menghentikannya.
“Lo
buat hati dan harapan gue hancur. Lo gak bisa mempertahankan dia kak. Bagaimana
caranya lo melepas kehancuran dia waktu keluarganya ninggalin dia. Sementara
lo. Lo gak ada beda sama keluarganya. Selain lo hancurin hati Shilla. Lo sudah
sangat menghancurkan hati gue, kepercayaan gue dan..”
Sivia
menghentikan ucapannya. Ia bangkit dari tidurnya dan bangun melangkah mendekati
pintu kamarnya.
“Cinta
gue”