Minggu, 25 Januari 2015

Secret 3

Cast: Ashilla Zee, Gabriel Stev, Ify Alyssa, Alvin Jonathan, Rio Stevadit

***

Secret 3

Rio memandang gadis didepannya yang terlihat ketakutan.

"Hey lo gak apa-apa kan?" Tanya pemuda itu. Sedang si gadis perlahan membuka matanya. Lalu ia menatap pemuda yang berdiri didepannya yang juga menatap dirinya. "Heyy" Panggil Rio yang merasa tak nyaman ditatap wanita di depannya. Sedang wanita itu mengerjap, lalu kini ia kembali menatap dirinya sendiri. Dan lihatlah..

Dirinya masih berpijak di tanah..

Huftt, syukurlah. Kini ia kembali sadar. Lalu wanita itu nyengir. "Oh aku gak apa-apa kok mas. masnya ini gimana toh. Mbok yo kalo nyetir itu diliat. Untung saya ini selamat" Rio tersenyum geli melihat tingkah wanita di depannya. "Loh mas kok ketawa toh, memang ada lucu" Rio menggeleng, lalu mengusap kepala wanita di depannya.

"Nggak kok, lo lucu. Oh ya gue Rio"  Ucap Rio sambil mengulurkan tangannya. Sedang wanita di depannya menatap tangan Rio yang masih terulur bingung. Melihat kebingungan gadis di depannya membuat Rio tersenyum. "Nama lo siapa"

Eh. Gadis itu terkesiap. Ia mengerjapkan matanya sejenak. Lantas kemabali tersenyum lebar sambil menggaruk belakang telinganya.

"Eum nama saya.. Shi.."


"Den Rio"  Rio menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan terlihat wanita paruh baya berdiri di hadapannya, lantas Rio menyunggingkan senyum untuk wanita tersebut

"Eh mbok Natiyem"

"Den Rio mau cari den Alvin ya?"  Rio mengangguk sedangkan mbok iyem memasang wajah sedih sambil menunnduk. "Dari dua hari yang lalu Den Alvin belum belum pulang setelah den Alvin berantem sama tuan. Kemaren aja den Alvin gak ikut acara pertemuan keluarga. Yang dateng cuma tuan, nyonya dan Den Gabriel" Rio hanya mengangguk. "Ya udah den mbok masuk dulu

"Eh tunggu mbok.." Mbok Iyem menghentikan langkahnya, sedangkan Rio kembali menoleh ke arah wanita yang tadi sempat ia lupakan.

"Lo cari alamat rumah ini kan. Sama mbok iyem aja ya. Mbok perempuan ini kayaknya cari rumah ini  tadi rio hampir nabrak dia, rio titip perempuan ini ya mbok"

Mbok Iyem mengangguk walaupun ia terlihat kebingungan. Sedangkan Rio kembali ke mobilnya dan langsung meninggalkan tempat.

***

Shilla menatap kagum rumah yang ia masuki. Astaga aku masuk surga pikirnya. Eh bukan aku masih hidup jadi gak mungkin ini di surga

"Shilla" Shilla kembali mengerjap saat ia mendengar Mbok Iyem memanggil namanya. "Jadi kamu mau kerja disini toh nduk" Shilla mengangguk. "Tapi kamu masih muda, kamu seharusnya.."

Shilla segera menggeleng sambil menyunggingkan senyum pada wanita paruh baya di depannya.

"Tapi saya butuh pekerjaan ini mbok, untuk.. untuk.. ehm.. almarhum ibu saya"

"Ini ada apa ya"  Shilla dan mbok iyem menoleh ke sumber suara, Terlihat di sana seorang wanita berusia 40- an berdiri menatap shilla dan mbok iyem. 'Mbok ini ada apa. Loh dia siapa" Ucap wanita itu sambil menunjuk Shilla yang berdiri di hadapannya. Sedang Shilla yang ditunjuk hanya menundukkan kepala.

"Nuwun sewu nyonya. Dia itu namanya Shilla. Katanya dia mau cari kerja di sini. Gimana nyonya" Ucap mbok Iyem sambil membungkukan badannya.Wanita itu tersenyum lalu mengangguk

"Saya Dania. Selamat datang di keluarga Jonathan" Ucap wanita yang ternyata bernama Dania itu sambil merentangkan tangan menyambut kedatangan Shilla

***

Gabriel menghampiri seorang pemuda yang sedang berdiri sambil merangkul seorang gadis di depan mading. Gabriel menghembuskan nafas sejenak. Apapun yang terjadi ia harus bicara dengan pemuda itu

"Vin" Panggil Gabriel, sedangkan yang di panggil belum menoleh. Gadis yang bersama pemuda itu tadi langsung menyikut pinggang pemuda itu dan menggerakkan dagunya ke arah Gabriel. Pemuda itu berbalik, begitu melihat siapa di dekatnya.

"Huh, ayo Ngel kita pergi" Ucap pemuda itu sambil menarik tangan gadis di depannya, tapi sebelum melangkah Gabriel langsung menahan tangan pemuda itu sebelum bener-bener pergi

"Lo harus pulang Vin" Ucap Gabriel. Alvin, pemuda itu justru malang tersenyum sinis sambil menatap ke arah Gabriel muak. Sedangkan Gabriel tetap dengan tatapan tenamgnya seperti biasa

"Apa lo bilang? Pulang? Hahahaha lo pikir lo siapa, adek gue. Gue gak punya adek sok pahlawan seperti lo" Ucap Alvin sambil menatap tajam Gabriel. Sedangkan Gabriel tak merubah ekspresinya apapun

"Bagaimana lo bisa dianggap sama papa kalo sikap lo seperti ini. Bagaimana lo bisa menjadi anak yang..."

"Hahaha lo mau nyuruh gue seperti lo.Manusia berhati air. Ngalir begitu aja gak mau mencoba yang namanya menikmati hidup. Hidup lo itu terlalu flat. Abu-abu gak berwarna, jadi jangan harap gue bisa tertarik sama hidup lo, mustahil" Ucap Alvin. 

Sebentar Alvin menatap gadis di depannya. Ia menoleh sebentar Alvin menatap ke arah Gabriel, setelah itu ia kembali menatap gadis di depannya. Alvin langsung mencium gadis itu tepat di hadapan Gabriel, sementara Gabriel hanya mendengus. Setelah selesai pada aksinya Alvin langsung pergi sambil menarik gadis yang selalu bersamanya. Sebelum benar-benar pergi Alvin berdiri sejenak di hadapan Gabriel. Ia lalu menatap Gabriel remeh. Ia kembali tersenyum dengan pongahnya.

"Begitu baru namanya hidup" Ucap Alvin setelah itu ia benar-benar meninggalkan Gabriel yang menatap punggungnya menjauh

Alvin ta sadar tak selamanya air selalu mengalir tenang. Terkadang air dapat menjadi sebuah monster pencabut nyawa bagi yang lengah. Alvin pun tak pernah tau bahwa abu-abu bukanlah warna datar. Abu-abu adalah warna. Gabriel hanya tersenyum sebelum ia pergi menuju kelasnya.

***

Rio menatap tajam Ify di depannya yang mengernyitkan dahinya bingung. Apa-apaan sih maksud cowok krucut ini, liatin gue kayak mau makan gue aja, begitu batin Ify

"Eh Yo, lo ngapain sih liatin gue gitu" Ucap Ify. Sementara Rio hanya menghembuskan nafas keras.

"Lo kenapa sih kemaren gak angkat telpon gue. Terus lo kenapa tiba-tiba membatalkan rencana kita ke panti. Lo gak biasanya tau gak sih Fy " Ify hanya menggarukkan kepalnya bingung. Kenapa di bahas lagi sih, batim gadis itu gemas.

"Aduh yo, gue.. emhh gue minta maaf deh. Ini itu keluarga temen bokap gue. Gue kan gak berani buat lawan. Ya elo ngerti dong"

"Tau ah" Rio langsung membelakangi Ify sambil memasang wajah sok ngambeknya.

"Kyaa Rio, iihh lo hadep sini kek gitu. Oke deh. Oke gue janji gak gitu lagi, sumpah, Rio ih" Ucap Ify sambil merengek dan menarik-narik lengan Rio.

Sedangkan tanpa Ify sadari Rio sedang terkikikn geli. Berhasil juga ia mengerjai sahabat gadisnya ini. Ify yang merasa di abaikan langsung menarik tubuh Rio kasar sehingga Rio kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke arah Ify. Rio yang berjarak begitu dekat dengan Ify hanya bisa menatap dalam mata lembut milik Ify. Perlahan Rio mendekati wajah Ify. Jarak di antara wajah mereka hampir habis. Ify yang syok dengan tingkah sahabatnya hanya memejamkan matanya

'Tobat Yo, gue ini Ify, sahabat elo' Racau Ify dalam hati. Rio yang melihat Ify memejamkan matanya hanya menggeleng. Bukan. Bukan saatnya. Ini salah kalau ia melakukannya pada Ify, sahabatnya. Rio dengan jahil lalu menyentil dahi Ify agar gadis itu segera sadar.

Tuk. Aww

Ify langsung membuka matanya sambil mengelus dahinya. Sedangkan Rio terbahak-bahak melihat ekspresi Ify.

"Hahaha, lo ngapain merem Fy. wlek" Ucap Rio sambil berlari menjauhi Ify. Sedangkan Ify hanya berkacak pinggang sambil menghentakkan tanah kesal.

"Rioooo" Teriak Ify sambil beranjak meninggalkan tempat dan berlari menyusul Rio.

Lihatlah takdir masih menyimpan kepercayaan itu untuk mereka, namun bagaimana apabila nama lain menyusup diantara persahabatan mereka. Merubah hati salah satu di antaranya. Akankah semuanya tetap sama.

***

Shilla dengan hati-hati membawa segelas susu di tangannya. Ia tak mau susu ini tumpah setetes pun. Gak akan.

"Shillaaa" Ah sial, Mbok Iyem memanggil namanya segala. Gak susu ini untuk tuan muda rumah ini yang sampai saat ini masih belum ia ketahui siapa dan seperti apa orangnya.

"Shillaaaa" Astaga, lagi-lagi Mbok Iyem memanggil namanya. Aduh bagaimana ini. Susunya harus segera sampek ke kamar tuan muda, namun masalahnya ia lupa dimana kamarnya. Tanpa Shilla sadari seorang pemuda berjalan gontai ke arahnya yang masih berjalan amat hati-hati itu.

Brukk, byurrrr.

Astaga tuh kan susunya tumpah yah ini bagaimana.

"Astaga baju gue" Shilla melebarkan matanya begitu mendengar suara bariton di dekatnya. Oh astaga

***

BERSAMBUNG



Rabu, 21 Januari 2015

Play Of Destiny Part 8C

Play Of Destiny Part 8C (Yang Terungkap Takdir)

***

Shilla memandang kosong hamparan tanaman yang menghias taman kota. Tak peduli dengan riuhnya suasana taman walau malam hari. Tak peduli dengan dua lampu lolipop yang mengapitnya. Pandangannya lurus menatap tanaman yang sama sakali tak terlihat di malam hari walau sudah dihiasi lampu-lampu taman. Tapi percayalah, mata wanita itu sama sekali tak menyiratkan apapun. Mata itu kosong sama seperti pikirannya yang entah kemana meninggalkan seluruh isi kepalanya.

Tanpa wanita itu sadari, tangannya terangkat ke arah dadanya, dalam diam ia menekan dalam dadanya yang terasa kosong. Ah apa secepat itu rasa sakit itu menghilang, Apa secepat itu batinnya sembuh dari luka yang menganga terlalu dalam. Shilla menggeleng dalam diam. Ia yang membuat semua itu hilang. Biarkan.. biarkan seperti ini. Rasa sakit dan luka itu cukap sampai disini menyakiti hidupnya

***

Sivia mengerucutkan bibirnya kesal. Kakinya terus ia hentak-hentakkan ke tanah. Tak lupa dengan kedua tangannya yang bersedekap. Ah sungguh dirinya kesal. Sudah lima belas menit Gabriel meninggalkannya. Ah apaan sih abangnya satu itu.

Plukk..

Sivia melempar kerikil di bawah kakinya sangking kesalnya..

"Aww" Sivia terjingkat setelah mendengar suara pekikan seorang wanita. Yah jangan-jangan tadi ia menendang batu mengenai tante kunti lagi. Atau jangan-jangan..

"Siapa sih yang lempar kerikil gini" Eh tapi tunggu suara wanita itu sepertinya ia kenal. Sivia dengan perlahan mendongakkan kepalanya. Ia melihat seorang wanita berjas dokter duduk di sebuah bangku. Eh tapi tunggu logo jas dokter tersebut seperti ia kenal. Ah jelas ia tahu. Itu logo rozcow hospital. Dan.. Shilla.

Sivia menghembuskan nafas lega begitu tau wanita itu adalah Shilla. Dengan ringan ia berjalan mendekati tempat duduk Shilla.

"Ekhem" Dehem Sivia setelah berada di hadapan Shilla. Shilla menoleh dan sedikit tersentak melihat Sivia ada dihadapannya.

"Sivia" Sivia hanya membalas senyum wanita di hadapannya. Sudah berapa lama ia tak pernah melihat wanita ini secara langsung. Melihat wanita di hadapannya, apalagi menatap kedua mata bening itu. Segumpal rasa bersalah menguar di hatinya.

Shilla pun sama. Ia hanya mampu menatap gadis yang berdiri dihadapannya. Gadis yang dulu selalu ia jadikan sandaran kesedihannya, gadis yang dulu menjadi penutup setiap luka-lukanya.

Brukk

Shilla langsung memeluk tubuh sivia, menutupi air mata yang hampir terjatuh di kedua pipinya. Sedangkan Sivia ternganga, Ia tak menyangka reaksi wanita itu setelah berhadapannya dengannya.

"Kak.." Sivia tak mampu lagi meneruskan kata-katanya.  Sivia membalas pelukan Shilla sambil menutup matanya.

Tanpa mereka sadari seorang laki-laki menatap sendu keduanya di balik pohon. Gabriel menatap dua perempuan yang sangat ia cintai. Bahkan di saat cinta yang harusnya ia lupakan untuk salah satu gadis di sana yang pernah menjadi bagian hidupnya. Hatinya tak akan pernah menutup apapun tentang gadis itu. Sekalipun takdir menarik dirinya jauh dari sisi Shilla, gadis itu

***

Gabriel menatap Shilla yang meringkuk di tempat tidurnya. Tubuh gadis itu tak berhenti bergetar. Mata cantik itu tak henti meneteskan setitik air untuk memebasahi pipi putih itu. Bibirnya tak henti berucap satu nama. salah. dua nama. Dua nama yang teramat penting untuk hidup gadis itu, namun dua nama itulah yang semakin menjatuhkan diri Shilla.

"Shill..." Ucap Gabriel. Ia sudah lelah hanya memandangi Shilla saja. Shilla bisa menolak siapapun untuk hadir di hidupnya. Tapi bukan dengan dirinya.

Shilla masih diam dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir. Tubuhnya bergetar sampai pada akhirnya ia merasakan pelukan di tubuhnya.
I
"Hushh.. sudah Shill. Gue mohon.."Shilla semakin terisak. Bukan.. bukan karena nasib malangnya. Pelukan ini. Pelukan yang ternyata selalu ia harapkan

Shilla melepas tubuhnya dari dekapan Gabriel. Tangannya terangkat membingkai kedua pipi tegas milik pemuda itu.

Brukk

Shilla kembali terjatuh di pelukan pemuda yang sama. Jangan.. tolong jangan buat ia kehilangan pemuda ini.

"Gue.. gue mohon Yel.. hiks.. gue mohon jangan tinggalin gue.. seperti.. seperti.. seperti kak rio dan ify hiks.. hiks" Gabriel dengan lembut mengusap lembut rambut gadis di pelukannya. Gadis yang dalam dia begitu ia cintai. Gadis yang dalam diam ia lindungi. Gadis yang dalam diam pun sebagai alasannya bertahan. Shilla.

"Tolong percaya sama gue.. semua akan baik-baik aja" Ucap Gabriel. Shilla tersenyum tipis di pelukan Gabriel. Ia semakin memperdalam pelukannya di tubuh pemuda itu

***

Sivia menatap Shilla di sampingnya yang kembali terdiam. Tak berapa lama ia mengalihkan pandangannya menatap tangannya di pangkuannya itu.

"Takdir lagi-lagi rebut hal terpenting dalam hidup gue" Sivia tersentak mendengar wanita disampingnya berbicara dengan nada lirih. Nyaris tak terdengar oleh kedua telinganya.

"Gue gak bisa nangis Siv. Rasa sakit apapun sudah buat air mata gue seakan beku" Sivia hanya menunduk. Ia tak mampu menatap mata rapuh wanita yang dulu jadi bagian hidupnya. "Gue bukan menyalahkan takdir. Karena gue juga tau gue dan iyel bukan ditakdirkan di jalan yang sama" Sivia meremas tangannya dan semakin dalammenundukkan kepalanya. "Gue dan Gabriel nggak ditakdirkan untuk saling mengikat janji"

"Kak Shill gak tau apa-apa" Shilla tersenyum miring mendengar kalimat yang baru saja ia dengar barusan. "Iya Kak Shill gak tau seberapa besar kak iyel mencintai lo"

Shilla menggeleng sambil tersenyum, jelas itu senyum yang bukan ia inginkan. Senyum kepedihan.

"Gue percaya Siv karena sebesar apapun rasa abang lo kasih ke gue itu gak akan pernah mengalahkan perasaan gue. Tapi gue sadar kalo perasaan ini gak pernah tertulis dalam takdir. Gue bukan bagian dari hidup Gabriel. Gue bukan,,"

"Stop kak Shilla. Kalo kak Gabriel bukan takdir lo apa mungkin lo bisa ketemu sama kakak gue. Apa mungkin lo bisa.." Sivia menghentikan ucapannya sejenak. "Lupain keluarga dan sahabat lo dulu" Ucap Sivia lirih sambil menunduk.

Shilla terdiam tak lama ia tersenyum. Lagi-lagi senyum paksa khas dirinya. " Ya lo benar. Kakak lo udah bantu gue melupakan keluarga gue juga Ify yang ninggalin gue. Dan saat itu gue merasa sudah menemukan bagian di diri gue yang hilang. Gabriel datang di hidup gue dan dia berhasil ngembaliin sesuatu dalam diri gue yang hilang. Cinta. Gabriel memberikan menumbuhkan cinta di hati gue, tapi ternyata kita terlalu memaksa keadaan dengan mengikat janji, padahal sampai kapanpun janji itu gak akan pernah terikat oleh apapun, karena takdir gak mengijinkannya" Sivia terdiam. Ia hanya menundukkan dalam kepalanya. Kenapa wanita di sampingnya tidak mau mengerti.

'Andai lo punya keegoisan yang sama kak seperti kak Iyel. Gue yakin lo sama abang gue gak akan bisa sejauh ini, bahkan untuk menyamai langkah di jalan yang sama' Lirih Sivia dalam hati.

***

Gabriel menatap gadis di depannya dengan pandangan muak. Kenapa hidupnya yang sulit semakin di persulit oleh kehadiran wanita gila di hadapannya.

"Gab.." Ucap Acha sambil bergelayut manja di lengan Gabriel. " Hey kamu kenapa. Ayo kita berangkat" Ucap Acha dengan nada manja

Gabriel menatap bingung Acha. "Berangkat kemana?" Ucap Gabriel ketus

"Ayo kita pesan undangan, gaun sama tempat untuk pertunangan kita" Gabriel melepas gelayutan tangan Acha

"Tunangan?" Ucap Gabriel dengan mata lebar. Sedang Acha mengangguk sambil kembali menggamit lengan gabriel.

***

"Ma,. kakek mana. Kenapa kakek bisa-bisanya ngambil keputusan sepihak. Iyel gak terima ma"

"Yel kamu sabar dong gak usah pake emosi"

"Tapi ma, kakek, kenapa dia tiba-tiba ambil keputusan buat menentukan pertunangan Gabriel sama Acha tanpa mengatakan apapun ke Iyel" Tante Firda hanya menatap sendu anaknya.

"Yel" Gabriel dan tante Firda menoleh menatap seorang laki-laki paruh baya di depannya. "Jangan harap kamu bisa menjadi cucu Fritz Damanik kalo kamu mncoba menentang perintah kakek" Gabriel menatap orang tua itu. "Bulan depan adalah pertunangan kamu dan Acha, mengerti kamu"

Bersambung

Jumat, 16 Januari 2015

Play Of Destiny Part 8B

Play Of Destiny Part 8B ( Yang terungkap Takdir)

***

Rio menatap muak wanita di hadapannya. Wanita yang seharusnya ia hormati, namun kini dimatanya tak lagi bernilai apapun selain kekecewaan dan ketidak percayaan. Sungguh Rio benar-benar membenci wanita di hadapannya. Wanita yang dulu pernah ia hormati.

Ify menggenggam tangan Rio erat. Mencoba memberikan kekuatan untuk laki-laki yang sekarang mencoba memperjuangkan yang seharusnya dari dulu laki-laki itu perjuangkan. Ify  percaya pada Rio. Bahkan kepercayaan itu tumbuh sebelum waktu merubah keadaan.

"Hahahaha" Rio masih menatap tajam wanita yang tertawa di depannya. Sedangkan Ify tersentak mendengar tawa yang menggema dari wanita di hadapan mereka.

"Jadi kalian mau tetap menentang saya. Kamu." Ify tersentak saat tiba-tiba Amanda menunjuk dirinya dengan pandangan tajam. "Apa yang kamu perbuat pada anak saya sehingga dia berani menentang saya, ha"

Ify tersenyum miring sambil membalas tatapan Amanda. "Apa ada yang salah?" Tanya Ify membuat Rio menatapnya. Begitu pun Amanda yang semakin menatap gadis itu tajam.

"Saya membantu Rio memperjuangkan kebahagiaannya yang di rebut oleh keegoisan. Saya membantu Rio mendapatkan kebahagiaannya yang di tukar dengan penderitaan secara paksa. Tante memang seorang ibu, tapi tante bukan penentu kebahagiaan Rio. Tante.."

Plakk

"Ify.."

"Saya salah menilai kamu. Saya pikir kamu bisa membantu saya untuk menjauhkan anak saya dari gadis bodoh itu. Tapi ternyata.."

"CUKUP MA.." Teriak Rio penuh emosi yang terpaksa menghentikan pembicaraan mamanya. "Mama.. Mama gak berhak menyentuh Ify.. Mama gak berhak menyakiti dia dan satu lagi. Mama berhenti berpura-pura tidak peduli sama Shilla. Ayo Fy" Rio langsung menarik Ify keluar dari rumahnya.

"RIO.. RIO BERHENTI. DENGER MAMA BELUM SELESAI NGOMONG' Rio terus menarik Ify keluar rumahnya tanpa mendengar teriakan mamanya.

***
"Kak, gue gak nyangka dengan semua ini. Seperti mimpi" Ucap Shilla yang membuat Rio tersenyum senang. Akhirnya perjuangan Shilla 4 tahun kuliah setahun praktek percobaan membuahkan hasil.

"Selamat Shill. Akhirnya lo lulus tes juga" Ucap seorang gadis sambil tersenyum. Shilla menoleh menatap gadis dihadapannya yang berdiri bersama kakaknya sambil tersenyum lebar

"Haha Iya Fy ini juga karena lo" Ucap Shilla sambil merangkul bahu ify. "Lo kan yang selalu support gue. Lo juga kemaren bantuin gue untuk bisa masuk di rumah sakit ini. Gue masih gak nyangka sumpah" Ujar Shilla dengan mata berbinar sambil menggenggam tangan Ify. Sedangkan Ify hanya membalas senyuman.

"Ekhem. Gue berarti gak bantu lo dong shill. Lo terima kasihnya sama Ify mulu sih" Ucap Rio sambil merengut. Sementara Shilla menatap geli kakaknya. Ify terkikik pelan memandangi sikap kakak adik di hadapannya.

"Ya elo kak sama adik sendiri juga pake perhitungan. Kesel ih gue sama lo" Ucap Shilla sambil bersedekap dada.

"Hahaha elo dek. Jangan ngambek. Iya gue bangga sama elo. Gue  percaya dan yakin lo bisa membuktikkan ke mama siapa lo sebenenya. Lo hebat Shill" Ucap Rio sambil mengusap rambut Shilla setelah itu mencium kening adiknya itu.

Ify tersenyum melihat kasih sayang adik kakak di depannya ini. Begitu besar kasih sayang mereka. terkadang gadis itu di buat terharu dengan sikap Rio-Shilla yang berusaha saling melindungi. Kakak adik paling romantis yang Ify kenal ya mereka.

***

Rio memandang sebotol obat ditangannya. Raut wajahnya mengeras. Ia remas kuat-kuat botol itu sehingga terliat garis-garis retak di botol itu.

Ify menundukkan kepalanya di samping tubuh Rio. Ia menyembunyikan matanya yang basah dari pemuda itu. Perih itu masih terasa. Saat dengan ringannya tangan mama Rio menyentuh pipinya.

"Hiks.."  Rio terpaku mendengar suara isakan. Isakan yang sudah lama tak terdengar jelas di telinganya. Isakan dari gadis yang selalu ada di sampingnya

"Elo nangis?" Ify menghentikan tangisnya namun tak merubah posisinya. ia tetap menunduk menyembunyikan wajahnya yang telah basah. "Fy" Panggil Rio lagi, namun yang di panggil tak bergeming

"IFY" Rio dengan emosi menghadapkan tubuh Ify ke arahnya. Namun Ify masih tak mau menatap Rio. Rio langsung menarik tubuh Ify ke pelukannya, dan Ify langsung terisak di pelukan Rio.

"Sakit Yo" Lirih Ify di pelukan Rio. Rio semakin mendekap tubuh Ify yang terisak. Ia letakkan dagunya di puncak kepala Ify sambil mengusap lembut rambut Ify. " Tamparan nyokap lo gak sebanding apa-apa daripada hati gue" Raut wajah Rio mengeras. "Gue yang bersalah. Gue yang menyebabkan semua ini terjadi. Gue Yo. Bukan Shilla"

***

Ify dengan paniknya menatap resah handphone di genggeman. Sedari tadi ia terus menghubungi nomer Shilla namun tetap tidak diangkat.

Ceklek

Ify menegakkan tubuhnya saat pintu ruangan di belakangnya terbuka.

"Mbak Ify. Kemana dokter Shilla. Saudara Rio harus segera di tangani. Kami tidak bisa berbuat apa-apa tanpa instruksi dari dokter Shilla" Ucap wanita paruh baya berjas dokter dengan wajah panik. Ify semakin di buat gusar oleh keadaan ini. Shilla.. ayo dong lo kemana sih. kakak lo.. Batin Ify bergumam.

"Dokter Amira. Saya mohon lakukan yang terbaik untuk Rio sementara waktu sampai Shilla dateng. Saya akan terus mencoba menghubungi Shilla" Dokter Mira sudah mau menjawab namun ia kembali menutup mulutnya saat Ify kembali berbicara. "Percaya sama dok. Saya yakin Shilla pasti akan datang. Dia tidak akan membiarkan kakaknya tersiksa. Dia pasti akan melakukan yang terbaik" Ucap Ify meyakinkan. Dokter Mira hanya menghembuskan nafas lalu mengangguk

"Baik. Sementara ini saya akan memasang alat penekan jantung sementara waktu. Alat itu sementara waktu akan menahan jantung saudara Rio agar tidak berdetak terlalu cepat. Begitu dokter Shilla datang saya akan langsung melepas alat itu"

"Lakukan apapun dok" Ucap Ify sambil memohon

***

Shilla dengan raut wajah penuh kekhawatiran dengan air yang menggumpal di matanya terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Tak peduli dengan umpatan yang keluar dari mulut orang-orang yang ditabraknya. Tidak peduli dengan dadabya yang sesak, tak peduli dengan langkahnya yang semakin gontai. Pikirannya hanya tentang Rio, cuma untuk Rio.

Matanya semakin mengabur saat di hadapannya terlihat sosok gadis berdiri dengan wajah cemas.

"Fy" Ify langsung menangkap tubuh Shilla yang hampir terjatuh di hadapannya

"Shilla lo gak apa-apa" Tanya Ify khawatir. Shilla mengenggam lengan Ify kuat dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.

"Kak Rio Fy.. Kak Rio.. Kak Rio kenapa hiks. Kenapa dokter Mira memasang alat penekan jantung.. Kenapa sama Rio fy, jawab gue"

Ify menundukkan kepalanya. Tak beranii menatap mata Shilla. Sementara Shilla memalingkan wajahnya sambil memejamkan matanya.

"Dokter Shilla" Shilla dan Ify memalingkan wajahnya menghadap suster yang memanggilnya. "Pasien.. pasien kembali kritis"

***

Shilla menatap takut wajah seorang wanita di depannya. Air matanya terus terjatuh di kedua matanya. sesak di dadanya semakin menyiksa.

Seorang wanita paruh baya menatap Shilla tajam. "KAMU" Tubuh Shilla menegang. "APA YANG KAMU LAKUKAN PADA ANAK SAYA" Air mata Shilla semakin deras mengalir. "KAMU INGIN MEMBUNUH ANAK SAYA"

"Ma.."

"SAYA BUKAN MAMA KAMU" 

"Ma Shilla minta maaf. Shilla" Amanda memalingkan wajahnya. "Shilla sayang sama kak Rio"

Amanda tersenyum miring sambil menatap shilla

"Sayang"

"Ma.. Aku minta maaf" Ucap Shilla memohon

“Dasar anak gak tau diri. Kamu mau membunuh Rio”

“Maaf Ma, Shilla gak sengaja. Gak mungkin shilla mau bunuh kakak Shilla sendiri’

“Omong kosong. Kamu lihat Rio. Lagi-lagi dia masuk ke rumah sakit ini dan lagi ia memakai alat sialan itu. Kamu benar-benar anak tidak tau terima kasih”

“Gak ma, Ini bukan salah Shilla. Kak Rio lupa minum obat yang Shilla kasih sehingga dia…”

“Terus kamu mau salahin Rio. Apa ini namanya dokter professional. Cih, Kamu pembunuh”

“Maaf ma”

"Apa ini yangkamu katakan bisa membuat mama bangga? Apa ini buah dari apa yang telah mama berikan? Mulai sekarang jauhi alat-alat itu dari Rio, mengerti"

“Tapi Ma Kak Rio gak bisa bertahan kalau alat-alat itu dilepas”

“Kamu kira saya tidak bisa menyewa alat yang lebih canggih dan dokter yang lebih hebat dari  kamu.?”

“Ma sekali lagi kasih Shilla kesempatan”

“Jauhi Rio"

Brukk

Bersambung 


Rabu, 07 Januari 2015

Play Of Destiny Part 8A


Cast : Mario Stevano, Ashilla Zahrantiara, Alyssa Saufika, Gabriel Stevent

Play Of Destiny Part 8 ( Yang terungkap Takdir)

***
 Berlin, Jerman.

Rio memandang  salju dihadapannya dengan pandangan kosong. Pikirannya entah mengawang kemana. Tak ada lagi yang mampu ia gapai di hidupnya. Semua hancur karena takdir. Takdir sialan yang membuat hidupnya terpecah menjadi sebuah puzzle yang tak terbentuk. Bagaimana ia bisa menyusunnya apabila ia pun tak tahu kemana kepingannya yang lain berada..

"Shilla.." Gumam pemuda itu. "Maafin kakak.. Maaf" Lirih pemuda itu lagi.

Ify menunduk menyembunyikan air mata yang hampir mencair dari kedua matanya. Sakit itu masih ada walau dua tahun berlalu. Pemuda itu tetap rapuh. Pemuda itu butuh kekuatannya. Lalu kemana Ify bisa mencari kekuatan pemuda bodoh itu.

Ify menghembuskan nafas dalam-dalam. Seakan ia membutuhkan seluruh oksigen yang ada. Ify memejamkan mata sejenak. Kembali ia menghembuskan nafas. Setelahnya ia berjalan meninggalkan tempatnya menuju tempat Rio berada. Kembali Ify memejamkan matanya. Dalam hati ia pun terus merapal. Mengungkapkan kalimat ketegaran baginya untuk menghadapi pemuda yang berjarak tiga langkah di depannya.

Ify berhenti melangkah saat tiba-tiba ia mendengar lirihan dari rio

"Gue mau sendiri Fy" Ify mencibir. Ia memicing di balik punggung rio. Melihat pemuda itu tak sama sekali menoleh ke arahnya ia mendengus kasar.

"Lo masih mau diam aja disini? Katanya mau perjuangin Shilla? kakak macem apa lo" Ucap Ify sinis. Rio mendengus.

"Gue capek Fy" Ucap rio lelah

Ify mengendikkan bahunya. Ia tak peduli rio pun menolak kehadirannya. ia duduk di samping rio yang terus menunduk.

"Lo tau gak Fy seberapa mama membenci shilla.Mama selalu menuntut gue dan Shilla jadi anak yang bisa di andalkan untuk jadi penerus perusahaan Haling corp. Tapi sayang Shilla lebih mencintai kedokterannya. Dia selalu mencoba menjadi yang terbaik sebagai seorang dokter. Dia selalu membuktikan kalau dia bisa sembuhin penyakit sialan gue ini. Tapi ternyata karena penyakit ini gue pisah sama dia. Mama membenci dia dan elo pun harus ninggalin dia sendiri"

***

Terlihat seorang wanita yang sudah berumur 40- an namun masih terlihat cantik menatap seorang gadis berusia 17 tahun dengan pandangan murka. Terlihat wanita itu memandang si gadis dengan pandangan penuh amarah. Sedangkan si gadis menatap wanita paruh baya dengan pandangan penuh keyakinan. Walaupun gadis itu tau tubuhnya bergetar menghadapi wanita di hadapannya.

"Ma. Shilla mohon ma. Kasih Shilla kesempatan sekali aja. Shilla gak minta apapun, Shilla cuma minta mama kasih shilla kesempatan. Shilla lakuin ini juga demi kak Rio. Shilla mau Kak Rio sembuh ma"

Wanita itu menatap shilla kembali. Bukan lagi tatapan amarah, namun tatapan itu lebih ke memohon. Shilla memalingkan wajahnya, Entah ia tak sanggup menatap mata mamanya.

"Mama mohon jangan paksa mama."
 

***

Rio menatap shilla yang terlihat gusar di depannya. Rio hanya menggelengkan kepalanya melihat Shilla yang masih dengan emosi di hadapannya,

"Mama itu apaan deh kak. Nyebelin banget. Gue udah sampek mohon-mohon loh. Ihh gue kesel kak. Gue itu pengen mama itu ngerti apa yang gue mau, apa yang selama ini jadi harapan gue. Gue pengen lo sembuh dengan tangan gue sendiri" Ucap shilla dengan bibir mengerucut dan berkacak pinggang.

"Lo sih Shill gue kan udah bilang mama gak bakal setuju. makanya jangan ngeyel gue bilangin. Mama cuma mau kita nerusin perusahaan Shill."

Shilla berhenti mondar-mandir di depan rio. Kini giliran ia menatap Rio sambil memicing mata

"Gue bukan elo kak. Gue punya cita-cita. Dan gue mau raih cita-cita gue. Gue gak bisa harus seperti elo kak. Gue cuma mau hidup sebagai Shilla. Bukan seperti robot yang bisa di kendalikan. Gue mau.."

"STOP SHILL" Ucapan Shilla terhenti saat tiba-tiba Rio membentaknya. Shilla menatap Rio yang juga menatap dirinya dengan pandangan tajam.

"Stop" Ucapan Rio semakin merendah nadanya. " Gue gak suka lo banding-bandingi seperti itu" Rio menatap Shilla yang kini menunduk. "Gue tetep Rio. Kakak lo. Bukan robot seperti yang elo.."

"Bukan gitu kak. Gue bukan nganggep lo robot. Gue.."

"Shill dengerin kakak. Kakak harap kamu mau menuruti keinginan mama. Mama cuma mau kita jadi penerus perusahaan. Mama cuma ingin kita sukses kedepannya" Ucap Rio penuh kelembutan. Ia usap rambut adiknya lembut penuh perhatian. Berharap adiknya mengerti apa yang sebenernya terjadi.

"Dan mama gak mau liat kak rio sembuh. Mama lebih memilih materi di bandingin anaknya yang sakit, kakak mau bilang kalo kak rio rela mati demi harta mama. Iya kak" Ucap Shilla dengan nada bergetar. Ia mencengkeram erat tangan kakaknya. Air mata itu sudah nampak jelas di kedua matanya.

Rio terdiam. Ia tahu bahwa Shilla melawan mamanya demi dirinya. Tapi yang menjadi kakak adalah dirinya bukan Shilla. Ia pun tak mau adiknya berkorban demi dirinya yang tak berguna.

"Kak, Shilla mohon bantu Shilla. Ini juga bukan demi Shilla. Ini demi kakak, demi mama demi keluarga kita. Shilla mohon kak" Rio memejamkan matanya. Entah apa yang ada di pikirannya hingga kepalanya mengangguk. Dan begitu ia membuka mata Shilla langsung memeluk dirinya, hampir membuat tubuhnya terhuyung ke belakang

***

Amanda menatap putranya tak percaya.Wanita elegan itu tak bisa berpikir apa yang sebenarnya ada di pikiran putranya sehingga anak itu memohon padanya. Seharusnya Rio mengerti bahwa ia tak suka di lawan, di bantah. Wanita itu menatap Rio yang juga menatap dirinya dengan memohon. Sama seperti putrinya kemarin. Namun wanita itu tak bisa memungkiri bahwa dirinya lebih menyayangi putranya ini di banding kan putrinya yang lain.

Bukan. Amanda bukan berarti tidak menyayangi Shilla. Wanita itu pun juga menyayangi putri satu-satunya itu. Namun sebuah alasan yang membuat dirinya lebih memberikan kasih sayangnya kepada Rio, putra sulungnya. Pun ia tahu bahwa Shilla bisa mandiri tanpa dirinya. Bahkan putrinya pun bisa melawan perintahnya.

"Ma. Rio mohon. kasih Shilla kepercayaan seperti mama memberikan kepercayaan ke Rio. Ma, Shilla melakukan semua ini pun demi Rio. Jangan meragukan Shilla kalau mama menyayangi Rio. Rio mohon ma" Amanda menatap tangannya yang sekarang di dekap erat oleh Rio. " Kalaupun mama tidak bisa melakukannya demi Shilla sendiri juga untuk mama, setidaknya mama melakukannya demi Rio"

Amanda mengangguk. Benar-benar ia tak percaya pada dirinya yang dengan mudahnya mengambil keputusan yang tak terduga.

"Katakan pada anak itu. Kesempatan hanya sekali. Kalau anak itu tidak bisa membuktikan bahwa dia melakukannya demi kamu. Jangan salahkan mama kalau mama bisa melakukan lebih pada anak itu" 

Rio mengangguk. Dalam hati ia senang mamanya mau mendengar keinginannya. Ah Shilla pasti bahagia atas keputusan mamanya. Rio makin tak sabar melihat senyum kebahagiaan di bibir adiknya

Tanpa Rio dan Amanda sadari. Di balik pintu kamar Amanda, Shilla tersenyum miris lebih kepada dirinya. Ya. Mamanya melakukan semua ini demi kakaknya bukan demi dirinya sendiri

***

Ify menatap Rio yang menunduk. Gadis itu tahu pemuda di sampingnya bukanlah pemuda yang dikenalnya tujuh tahun lalu. Pemuda itu sudah berubah menjadi lebih rapuh. Gadis itu menekan dadanya dalam diam. Sakit. Ya disini sakit. Sakit karena ia terus memasang topeng ketidak pedulian pada pemuda itu. Sakit karena ia harus berpura-pura semuanya masih baik-baik saja. Sakit karena ia harus menekan dalam-dalam rasa yang dulu hampir terungkap. Ify langsung menghampus air matanya yang hampir terjatuh dari kedua matanya.

"Gue benci takdir Fy. Gue benci.." Ify tertawa, Lebih tepatnya menertawai keadaan. Kalau ia bisa, ia ingin merasakan rasa yang sama terhadap takdir. Tapi sayang dirinya tak bisa melakukannya. Ia pun tak dapat berpikir bahwa ini pun bagian takdir.

"Hahaha. Apa lo bilang yo. Benci sama takdir. Apa hak lo" Tanya ify sinis. Lihatlah gadis itu pun masih bisa membohongi dirinya bahwa ia gadis yang memiliki hati yang tebal di hadapan pemuda di sampingnya ini.

"Apa ada yang salah? Kebahagiaan gue ditukar gitu aja dengan kesakitan. Gue menderita sendiri. Gue sulit tertawa lagi seperti dulu. Bahkan gue pun lupa gimana caranya bisa bahagia. lebih baik gue mati Fy kalau pada akhirnya gue kehilangan adik gue satu-satunya. lo tau Shilla adalah kebahagiaan gue. Selama ini gue bertahan pun karena dia"

Ify tak bisa menyangkal apapun. Apa yang di katakan pemuda itu benar. kebahagiaannya adalah adiknya. Namun semua belum benar-benar hilang.

" Lo salah kalo saat ini lo membenci takdir karna itu artinya lo membenci kemungkinan yang tersembunyi dalam takdir. Dan elo gak akan pernah mampu menerima apapun keindahan yang sempat ditukar oleh takdir yo. Jadi gue mohon yo. Jangan membenci hidup lo. Cukup dengan lo perjuangin apa yang seharusnya lo pertahankan" Ucap Ify penuh kelembutan. Bukan seperti Ify yang penuh kemunafikan juga keangkuhan.

Rio terpana mendengar kalimat Ify. Ini Ifynya yang dulu. Ifynya yang dalam diam pun ia harapkan kembali. Rio tersenyum tipis mendengar kelembutan suara Ify kembali ia dengar. Ternyata bukan hanya adiknya saja yang ia rindukan. Gadis yang selalu bersamanya pun juga ternyata ia rindukan. Kelembutan yang dulu Ify miliki.

"Fy" Ify menoleh ke arah ke arah Rio. "Lo mau bantu gue?" Tanya Rio penuh keyakinan. "Gue mohon" Ucap Rio sambil mendekap tangan Ify yang sempat terkulai di pangkuan gadis itu.

"A.. Apa Yo" Ify merutuki dirinya, Ada apa sih dalam diri gadis itu hingga ia menjadi seperti ini. Ahh lo bodoh Fy. Rutuk Ify dalam hati.

Rio menatap dalam mata Ify. Berharap Ify pun percaya bahwa ia sungguh-sungguh.

"Bantu gue fy. Bantu gue untuk mendapatkan apa yang harusnya gue perjuangkan dan bantu gue untuk mempertahankannya"

Bersambung


Visit this page: www.obatkistatradisional.net
                         Diananissa ifc

Minggu, 04 Januari 2015

Secret Part 2

Cast: Ashilla Zee, Gabriel Stev, Ify Alyssa, Alvin Jonathan, Rio Stevadit

***
Shilla menatap secarik kertas di hadapannya. Di kertas tersebut tertera sebuah alamat . Shilla mendekap kertas itu, Menimang penuh kepastian. Mencari jawaban yang harusnya tak perlu ia ragukan kembali

'Ayah kamu masih hidup Shill'

Kembali kalimat itu menggema di telinganya. Apa yang sebenarnya terjadi? Setelah ia kehilangan sosok seorang ayah. Berjuang berdua bersama ibunya. Mencoba tegar walau dalam hati air matanya tak mampu lagi tertampung.

'Kamu tidak akan pernah bisa menyalahkan hidup nak. Gak selamanya hidup itu mulus. Terkadang kamu harus melangkah di atas kerikil-kerikil. Walau sakit percayalah nak kamu akan mampu melewatinya'

Setetes air mata menetes dari kedua mata coklat beningnya. Air mata yang entah sejak kapan ia pendam. Sesak itu kembali. Rasa yang selalu ingin ia coba lupakan. Kenapa takdir harus memeberikan ia alasan merasakan kembali sesak juga sakit itu.

" Bu apa mungkin ayah merupakan kerikil yang harus shilla lewati. Kenapa belum cukup dengan shilla kehilangan ibu kenapa harus seseorang yang aku anggap sudah tidak ada harus hadir, kenapa bu, hiks"

Shilla menghempaskan tubuhnya ke sofa buntut milik bude Naimah. Ia tutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menyembunyikan isaknya. Shilla kembali mendongakkan kepalanya ssat ia merasa ada yang menduduki tempat di sebelahnya

"Shill" Shilla terdiam, ia tak menyahut, namun matanya menatap wajah bude Naimah dalam. Entah dirinya serasa tak sanggup mendengar kalimat dari bibir budenya, takut semakin menambah kenyataan yang tak akan sanggup ia terima lagi.

"Shilla, bude minta maaf. Bude tau kamu kecewa. Bude hanya.."

"Shilla.. Shilla ngerti bude.. Shilla hanya gak percaya bahwa semua akan sesulit ini"

Bude Naimah semakin mendekatkan dirinya ke sisi Shilla. Ia tarik tubuh shilla ke dekapannya.

"Maafkan bude Shill" Shilla memejamkan matanya membiarkan air matanya semakin deras membasahi pipi putihnya

***

Rio memandang resah handphonenya. Sedari tadi ia terus mengharapkan sebuah panggilan dari sahabatnya. Oh shit, Hingga saat ini belum ada ada tertera nama Ify di handphonenya. Sudah selepas dua jam panggilan terakhir yang Ify lakukan terhadapnay mengatakan bahwa gadis itu tidak bisa memenuhi jadwal kunjungannya ke panti asuhan bersamanaya sesuai jadwal

Drrtt.. drrttt..drrtt

Rio tersentak saat sebuah getaran halus menyelusup membuyarkan lamunannya. Bibirnya tertarik melihat sebuah nama yang ia tunggu sedari tadi

My Guardian

"Hufft" Desahnya sebelum ia mengangkat handphonenya

"Halo Fy"

'Halo Yo. Aduh sorry nih yo. Kayaknya kita gak jadi deh" Sontak mata Rio melebar. Apa? Gak jadi?

"Eh..eh tunggu Fy maksud lo apaan gak jadi. Lo gak lagi bercanda kan?" Tanya Rio panik.

Terdengar suara helaan nafas dari sebrang sana.

'Gue gak bercanda kok. Lagian ada sesuatu yang gak bisa ditinggal. Sekaliiii aja yo. Gak apa kan lagian gue udah bilang ke bu Ratih kok'

"Terserah lo" Ketus Rio

Tuutt..tuuut..tuutttt

Rio langsung memutus panggilan. Kebiasaan Ify yang takpernah bisa ia terima, selalu menjadikan dirinya nomer dua

"Sial.."

***

Seorang pemuda terlihat begitu nikmat memandang hamparan berbagai macam bunga dihadapannya. Disampingnya terlihat seorang gadis bertubuh mungil pun memandang objek yang sama. Gadis itu tak pernah berhenti tersenyum. Gadis itu pun tak dapat menghentikan debaran jantungnya semenjak berada bersama pemuda disampingnya. Ajaib, seketika perasaan itu muncul secara tiba-tiba di hati gadis ini. Saat telapak tangannya bersentuhan dengan telapak pemuda disampingnya ini.

Gadis itu menatap pemuda disampingnya. Masih dengan senyum yang sama.

"Gab" Pemuda yang dipanggil Gab itu menoleh. Seketika gadis itu terpana. Astaga pemuda ini.

"Iya ada apa Fy?" Ify masih tak sadar. Ia masih memandang wajah pemuda dihadapannya.

"Hei. Fy elo masih hidup kan"

Seketika Ify tersadar, Setelah itu ia nyengir kikuk di hadapan gabriel, pemuda dihadapannya in.

"Sorry Gab. Emh elo gak pulang. Gue rasa keluarga kita sudah selesai deh urusannya" Ucap Ify sambil merutuk dalam hati.

'Aihh lo bodoh banget kenapa nyuruh dia pulang sih' Batin Ify merutuk

"Emang elo mau gue pulang, yakin. Elo aja gak berhenti liatin gue dari tadi" Ify sedikit bersyukur saat ini tak ada lampu yang langsung dapat menyorot keduanya. Ia biosa menjamin bahwa pipinya kini memerah.

Gabriel terkekeh melihat reaksi Ify yang barus ia goda.

"Gue bercanda, ini gue baru di sms sama mama untuk pulang. Ayo" Ucap Gabriel sambil mengacak rambut Ify sebelum ia berdiri. Sedang Ify masih terpaku di tempat sambil memegang kedua pipinya.

"Astaga Gabriel" Ucap Ify sambil tersenyum

***

Shilla menatap alamat di carik kertas yang ia bawa.

"Bener gak ya?" Tanya Shilla ke dirinya sendiri

Ia memutar pandangannya hingga ia tak sadar ada sebuah mobil yang melaju kencang.

Tiiinn..tiinnn

*** 

Visit this page: www.obatkistatradisional.net

                        Diananissa ifc

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...