Jumat, 16 Januari 2015

Play Of Destiny Part 8B

Play Of Destiny Part 8B ( Yang terungkap Takdir)

***

Rio menatap muak wanita di hadapannya. Wanita yang seharusnya ia hormati, namun kini dimatanya tak lagi bernilai apapun selain kekecewaan dan ketidak percayaan. Sungguh Rio benar-benar membenci wanita di hadapannya. Wanita yang dulu pernah ia hormati.

Ify menggenggam tangan Rio erat. Mencoba memberikan kekuatan untuk laki-laki yang sekarang mencoba memperjuangkan yang seharusnya dari dulu laki-laki itu perjuangkan. Ify  percaya pada Rio. Bahkan kepercayaan itu tumbuh sebelum waktu merubah keadaan.

"Hahahaha" Rio masih menatap tajam wanita yang tertawa di depannya. Sedangkan Ify tersentak mendengar tawa yang menggema dari wanita di hadapan mereka.

"Jadi kalian mau tetap menentang saya. Kamu." Ify tersentak saat tiba-tiba Amanda menunjuk dirinya dengan pandangan tajam. "Apa yang kamu perbuat pada anak saya sehingga dia berani menentang saya, ha"

Ify tersenyum miring sambil membalas tatapan Amanda. "Apa ada yang salah?" Tanya Ify membuat Rio menatapnya. Begitu pun Amanda yang semakin menatap gadis itu tajam.

"Saya membantu Rio memperjuangkan kebahagiaannya yang di rebut oleh keegoisan. Saya membantu Rio mendapatkan kebahagiaannya yang di tukar dengan penderitaan secara paksa. Tante memang seorang ibu, tapi tante bukan penentu kebahagiaan Rio. Tante.."

Plakk

"Ify.."

"Saya salah menilai kamu. Saya pikir kamu bisa membantu saya untuk menjauhkan anak saya dari gadis bodoh itu. Tapi ternyata.."

"CUKUP MA.." Teriak Rio penuh emosi yang terpaksa menghentikan pembicaraan mamanya. "Mama.. Mama gak berhak menyentuh Ify.. Mama gak berhak menyakiti dia dan satu lagi. Mama berhenti berpura-pura tidak peduli sama Shilla. Ayo Fy" Rio langsung menarik Ify keluar dari rumahnya.

"RIO.. RIO BERHENTI. DENGER MAMA BELUM SELESAI NGOMONG' Rio terus menarik Ify keluar rumahnya tanpa mendengar teriakan mamanya.

***
"Kak, gue gak nyangka dengan semua ini. Seperti mimpi" Ucap Shilla yang membuat Rio tersenyum senang. Akhirnya perjuangan Shilla 4 tahun kuliah setahun praktek percobaan membuahkan hasil.

"Selamat Shill. Akhirnya lo lulus tes juga" Ucap seorang gadis sambil tersenyum. Shilla menoleh menatap gadis dihadapannya yang berdiri bersama kakaknya sambil tersenyum lebar

"Haha Iya Fy ini juga karena lo" Ucap Shilla sambil merangkul bahu ify. "Lo kan yang selalu support gue. Lo juga kemaren bantuin gue untuk bisa masuk di rumah sakit ini. Gue masih gak nyangka sumpah" Ujar Shilla dengan mata berbinar sambil menggenggam tangan Ify. Sedangkan Ify hanya membalas senyuman.

"Ekhem. Gue berarti gak bantu lo dong shill. Lo terima kasihnya sama Ify mulu sih" Ucap Rio sambil merengut. Sementara Shilla menatap geli kakaknya. Ify terkikik pelan memandangi sikap kakak adik di hadapannya.

"Ya elo kak sama adik sendiri juga pake perhitungan. Kesel ih gue sama lo" Ucap Shilla sambil bersedekap dada.

"Hahaha elo dek. Jangan ngambek. Iya gue bangga sama elo. Gue  percaya dan yakin lo bisa membuktikkan ke mama siapa lo sebenenya. Lo hebat Shill" Ucap Rio sambil mengusap rambut Shilla setelah itu mencium kening adiknya itu.

Ify tersenyum melihat kasih sayang adik kakak di depannya ini. Begitu besar kasih sayang mereka. terkadang gadis itu di buat terharu dengan sikap Rio-Shilla yang berusaha saling melindungi. Kakak adik paling romantis yang Ify kenal ya mereka.

***

Rio memandang sebotol obat ditangannya. Raut wajahnya mengeras. Ia remas kuat-kuat botol itu sehingga terliat garis-garis retak di botol itu.

Ify menundukkan kepalanya di samping tubuh Rio. Ia menyembunyikan matanya yang basah dari pemuda itu. Perih itu masih terasa. Saat dengan ringannya tangan mama Rio menyentuh pipinya.

"Hiks.."  Rio terpaku mendengar suara isakan. Isakan yang sudah lama tak terdengar jelas di telinganya. Isakan dari gadis yang selalu ada di sampingnya

"Elo nangis?" Ify menghentikan tangisnya namun tak merubah posisinya. ia tetap menunduk menyembunyikan wajahnya yang telah basah. "Fy" Panggil Rio lagi, namun yang di panggil tak bergeming

"IFY" Rio dengan emosi menghadapkan tubuh Ify ke arahnya. Namun Ify masih tak mau menatap Rio. Rio langsung menarik tubuh Ify ke pelukannya, dan Ify langsung terisak di pelukan Rio.

"Sakit Yo" Lirih Ify di pelukan Rio. Rio semakin mendekap tubuh Ify yang terisak. Ia letakkan dagunya di puncak kepala Ify sambil mengusap lembut rambut Ify. " Tamparan nyokap lo gak sebanding apa-apa daripada hati gue" Raut wajah Rio mengeras. "Gue yang bersalah. Gue yang menyebabkan semua ini terjadi. Gue Yo. Bukan Shilla"

***

Ify dengan paniknya menatap resah handphone di genggeman. Sedari tadi ia terus menghubungi nomer Shilla namun tetap tidak diangkat.

Ceklek

Ify menegakkan tubuhnya saat pintu ruangan di belakangnya terbuka.

"Mbak Ify. Kemana dokter Shilla. Saudara Rio harus segera di tangani. Kami tidak bisa berbuat apa-apa tanpa instruksi dari dokter Shilla" Ucap wanita paruh baya berjas dokter dengan wajah panik. Ify semakin di buat gusar oleh keadaan ini. Shilla.. ayo dong lo kemana sih. kakak lo.. Batin Ify bergumam.

"Dokter Amira. Saya mohon lakukan yang terbaik untuk Rio sementara waktu sampai Shilla dateng. Saya akan terus mencoba menghubungi Shilla" Dokter Mira sudah mau menjawab namun ia kembali menutup mulutnya saat Ify kembali berbicara. "Percaya sama dok. Saya yakin Shilla pasti akan datang. Dia tidak akan membiarkan kakaknya tersiksa. Dia pasti akan melakukan yang terbaik" Ucap Ify meyakinkan. Dokter Mira hanya menghembuskan nafas lalu mengangguk

"Baik. Sementara ini saya akan memasang alat penekan jantung sementara waktu. Alat itu sementara waktu akan menahan jantung saudara Rio agar tidak berdetak terlalu cepat. Begitu dokter Shilla datang saya akan langsung melepas alat itu"

"Lakukan apapun dok" Ucap Ify sambil memohon

***

Shilla dengan raut wajah penuh kekhawatiran dengan air yang menggumpal di matanya terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Tak peduli dengan umpatan yang keluar dari mulut orang-orang yang ditabraknya. Tidak peduli dengan dadabya yang sesak, tak peduli dengan langkahnya yang semakin gontai. Pikirannya hanya tentang Rio, cuma untuk Rio.

Matanya semakin mengabur saat di hadapannya terlihat sosok gadis berdiri dengan wajah cemas.

"Fy" Ify langsung menangkap tubuh Shilla yang hampir terjatuh di hadapannya

"Shilla lo gak apa-apa" Tanya Ify khawatir. Shilla mengenggam lengan Ify kuat dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.

"Kak Rio Fy.. Kak Rio.. Kak Rio kenapa hiks. Kenapa dokter Mira memasang alat penekan jantung.. Kenapa sama Rio fy, jawab gue"

Ify menundukkan kepalanya. Tak beranii menatap mata Shilla. Sementara Shilla memalingkan wajahnya sambil memejamkan matanya.

"Dokter Shilla" Shilla dan Ify memalingkan wajahnya menghadap suster yang memanggilnya. "Pasien.. pasien kembali kritis"

***

Shilla menatap takut wajah seorang wanita di depannya. Air matanya terus terjatuh di kedua matanya. sesak di dadanya semakin menyiksa.

Seorang wanita paruh baya menatap Shilla tajam. "KAMU" Tubuh Shilla menegang. "APA YANG KAMU LAKUKAN PADA ANAK SAYA" Air mata Shilla semakin deras mengalir. "KAMU INGIN MEMBUNUH ANAK SAYA"

"Ma.."

"SAYA BUKAN MAMA KAMU" 

"Ma Shilla minta maaf. Shilla" Amanda memalingkan wajahnya. "Shilla sayang sama kak Rio"

Amanda tersenyum miring sambil menatap shilla

"Sayang"

"Ma.. Aku minta maaf" Ucap Shilla memohon

“Dasar anak gak tau diri. Kamu mau membunuh Rio”

“Maaf Ma, Shilla gak sengaja. Gak mungkin shilla mau bunuh kakak Shilla sendiri’

“Omong kosong. Kamu lihat Rio. Lagi-lagi dia masuk ke rumah sakit ini dan lagi ia memakai alat sialan itu. Kamu benar-benar anak tidak tau terima kasih”

“Gak ma, Ini bukan salah Shilla. Kak Rio lupa minum obat yang Shilla kasih sehingga dia…”

“Terus kamu mau salahin Rio. Apa ini namanya dokter professional. Cih, Kamu pembunuh”

“Maaf ma”

"Apa ini yangkamu katakan bisa membuat mama bangga? Apa ini buah dari apa yang telah mama berikan? Mulai sekarang jauhi alat-alat itu dari Rio, mengerti"

“Tapi Ma Kak Rio gak bisa bertahan kalau alat-alat itu dilepas”

“Kamu kira saya tidak bisa menyewa alat yang lebih canggih dan dokter yang lebih hebat dari  kamu.?”

“Ma sekali lagi kasih Shilla kesempatan”

“Jauhi Rio"

Brukk

Bersambung 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...