Rabu, 21 Januari 2015

Play Of Destiny Part 8C

Play Of Destiny Part 8C (Yang Terungkap Takdir)

***

Shilla memandang kosong hamparan tanaman yang menghias taman kota. Tak peduli dengan riuhnya suasana taman walau malam hari. Tak peduli dengan dua lampu lolipop yang mengapitnya. Pandangannya lurus menatap tanaman yang sama sakali tak terlihat di malam hari walau sudah dihiasi lampu-lampu taman. Tapi percayalah, mata wanita itu sama sekali tak menyiratkan apapun. Mata itu kosong sama seperti pikirannya yang entah kemana meninggalkan seluruh isi kepalanya.

Tanpa wanita itu sadari, tangannya terangkat ke arah dadanya, dalam diam ia menekan dalam dadanya yang terasa kosong. Ah apa secepat itu rasa sakit itu menghilang, Apa secepat itu batinnya sembuh dari luka yang menganga terlalu dalam. Shilla menggeleng dalam diam. Ia yang membuat semua itu hilang. Biarkan.. biarkan seperti ini. Rasa sakit dan luka itu cukap sampai disini menyakiti hidupnya

***

Sivia mengerucutkan bibirnya kesal. Kakinya terus ia hentak-hentakkan ke tanah. Tak lupa dengan kedua tangannya yang bersedekap. Ah sungguh dirinya kesal. Sudah lima belas menit Gabriel meninggalkannya. Ah apaan sih abangnya satu itu.

Plukk..

Sivia melempar kerikil di bawah kakinya sangking kesalnya..

"Aww" Sivia terjingkat setelah mendengar suara pekikan seorang wanita. Yah jangan-jangan tadi ia menendang batu mengenai tante kunti lagi. Atau jangan-jangan..

"Siapa sih yang lempar kerikil gini" Eh tapi tunggu suara wanita itu sepertinya ia kenal. Sivia dengan perlahan mendongakkan kepalanya. Ia melihat seorang wanita berjas dokter duduk di sebuah bangku. Eh tapi tunggu logo jas dokter tersebut seperti ia kenal. Ah jelas ia tahu. Itu logo rozcow hospital. Dan.. Shilla.

Sivia menghembuskan nafas lega begitu tau wanita itu adalah Shilla. Dengan ringan ia berjalan mendekati tempat duduk Shilla.

"Ekhem" Dehem Sivia setelah berada di hadapan Shilla. Shilla menoleh dan sedikit tersentak melihat Sivia ada dihadapannya.

"Sivia" Sivia hanya membalas senyum wanita di hadapannya. Sudah berapa lama ia tak pernah melihat wanita ini secara langsung. Melihat wanita di hadapannya, apalagi menatap kedua mata bening itu. Segumpal rasa bersalah menguar di hatinya.

Shilla pun sama. Ia hanya mampu menatap gadis yang berdiri dihadapannya. Gadis yang dulu selalu ia jadikan sandaran kesedihannya, gadis yang dulu menjadi penutup setiap luka-lukanya.

Brukk

Shilla langsung memeluk tubuh sivia, menutupi air mata yang hampir terjatuh di kedua pipinya. Sedangkan Sivia ternganga, Ia tak menyangka reaksi wanita itu setelah berhadapannya dengannya.

"Kak.." Sivia tak mampu lagi meneruskan kata-katanya.  Sivia membalas pelukan Shilla sambil menutup matanya.

Tanpa mereka sadari seorang laki-laki menatap sendu keduanya di balik pohon. Gabriel menatap dua perempuan yang sangat ia cintai. Bahkan di saat cinta yang harusnya ia lupakan untuk salah satu gadis di sana yang pernah menjadi bagian hidupnya. Hatinya tak akan pernah menutup apapun tentang gadis itu. Sekalipun takdir menarik dirinya jauh dari sisi Shilla, gadis itu

***

Gabriel menatap Shilla yang meringkuk di tempat tidurnya. Tubuh gadis itu tak berhenti bergetar. Mata cantik itu tak henti meneteskan setitik air untuk memebasahi pipi putih itu. Bibirnya tak henti berucap satu nama. salah. dua nama. Dua nama yang teramat penting untuk hidup gadis itu, namun dua nama itulah yang semakin menjatuhkan diri Shilla.

"Shill..." Ucap Gabriel. Ia sudah lelah hanya memandangi Shilla saja. Shilla bisa menolak siapapun untuk hadir di hidupnya. Tapi bukan dengan dirinya.

Shilla masih diam dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir. Tubuhnya bergetar sampai pada akhirnya ia merasakan pelukan di tubuhnya.
I
"Hushh.. sudah Shill. Gue mohon.."Shilla semakin terisak. Bukan.. bukan karena nasib malangnya. Pelukan ini. Pelukan yang ternyata selalu ia harapkan

Shilla melepas tubuhnya dari dekapan Gabriel. Tangannya terangkat membingkai kedua pipi tegas milik pemuda itu.

Brukk

Shilla kembali terjatuh di pelukan pemuda yang sama. Jangan.. tolong jangan buat ia kehilangan pemuda ini.

"Gue.. gue mohon Yel.. hiks.. gue mohon jangan tinggalin gue.. seperti.. seperti.. seperti kak rio dan ify hiks.. hiks" Gabriel dengan lembut mengusap lembut rambut gadis di pelukannya. Gadis yang dalam dia begitu ia cintai. Gadis yang dalam diam ia lindungi. Gadis yang dalam diam pun sebagai alasannya bertahan. Shilla.

"Tolong percaya sama gue.. semua akan baik-baik aja" Ucap Gabriel. Shilla tersenyum tipis di pelukan Gabriel. Ia semakin memperdalam pelukannya di tubuh pemuda itu

***

Sivia menatap Shilla di sampingnya yang kembali terdiam. Tak berapa lama ia mengalihkan pandangannya menatap tangannya di pangkuannya itu.

"Takdir lagi-lagi rebut hal terpenting dalam hidup gue" Sivia tersentak mendengar wanita disampingnya berbicara dengan nada lirih. Nyaris tak terdengar oleh kedua telinganya.

"Gue gak bisa nangis Siv. Rasa sakit apapun sudah buat air mata gue seakan beku" Sivia hanya menunduk. Ia tak mampu menatap mata rapuh wanita yang dulu jadi bagian hidupnya. "Gue bukan menyalahkan takdir. Karena gue juga tau gue dan iyel bukan ditakdirkan di jalan yang sama" Sivia meremas tangannya dan semakin dalammenundukkan kepalanya. "Gue dan Gabriel nggak ditakdirkan untuk saling mengikat janji"

"Kak Shill gak tau apa-apa" Shilla tersenyum miring mendengar kalimat yang baru saja ia dengar barusan. "Iya Kak Shill gak tau seberapa besar kak iyel mencintai lo"

Shilla menggeleng sambil tersenyum, jelas itu senyum yang bukan ia inginkan. Senyum kepedihan.

"Gue percaya Siv karena sebesar apapun rasa abang lo kasih ke gue itu gak akan pernah mengalahkan perasaan gue. Tapi gue sadar kalo perasaan ini gak pernah tertulis dalam takdir. Gue bukan bagian dari hidup Gabriel. Gue bukan,,"

"Stop kak Shilla. Kalo kak Gabriel bukan takdir lo apa mungkin lo bisa ketemu sama kakak gue. Apa mungkin lo bisa.." Sivia menghentikan ucapannya sejenak. "Lupain keluarga dan sahabat lo dulu" Ucap Sivia lirih sambil menunduk.

Shilla terdiam tak lama ia tersenyum. Lagi-lagi senyum paksa khas dirinya. " Ya lo benar. Kakak lo udah bantu gue melupakan keluarga gue juga Ify yang ninggalin gue. Dan saat itu gue merasa sudah menemukan bagian di diri gue yang hilang. Gabriel datang di hidup gue dan dia berhasil ngembaliin sesuatu dalam diri gue yang hilang. Cinta. Gabriel memberikan menumbuhkan cinta di hati gue, tapi ternyata kita terlalu memaksa keadaan dengan mengikat janji, padahal sampai kapanpun janji itu gak akan pernah terikat oleh apapun, karena takdir gak mengijinkannya" Sivia terdiam. Ia hanya menundukkan dalam kepalanya. Kenapa wanita di sampingnya tidak mau mengerti.

'Andai lo punya keegoisan yang sama kak seperti kak Iyel. Gue yakin lo sama abang gue gak akan bisa sejauh ini, bahkan untuk menyamai langkah di jalan yang sama' Lirih Sivia dalam hati.

***

Gabriel menatap gadis di depannya dengan pandangan muak. Kenapa hidupnya yang sulit semakin di persulit oleh kehadiran wanita gila di hadapannya.

"Gab.." Ucap Acha sambil bergelayut manja di lengan Gabriel. " Hey kamu kenapa. Ayo kita berangkat" Ucap Acha dengan nada manja

Gabriel menatap bingung Acha. "Berangkat kemana?" Ucap Gabriel ketus

"Ayo kita pesan undangan, gaun sama tempat untuk pertunangan kita" Gabriel melepas gelayutan tangan Acha

"Tunangan?" Ucap Gabriel dengan mata lebar. Sedang Acha mengangguk sambil kembali menggamit lengan gabriel.

***

"Ma,. kakek mana. Kenapa kakek bisa-bisanya ngambil keputusan sepihak. Iyel gak terima ma"

"Yel kamu sabar dong gak usah pake emosi"

"Tapi ma, kakek, kenapa dia tiba-tiba ambil keputusan buat menentukan pertunangan Gabriel sama Acha tanpa mengatakan apapun ke Iyel" Tante Firda hanya menatap sendu anaknya.

"Yel" Gabriel dan tante Firda menoleh menatap seorang laki-laki paruh baya di depannya. "Jangan harap kamu bisa menjadi cucu Fritz Damanik kalo kamu mncoba menentang perintah kakek" Gabriel menatap orang tua itu. "Bulan depan adalah pertunangan kamu dan Acha, mengerti kamu"

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...