Kamis, 11 Juni 2015

Before You Loss Bag 2

Title: Before You Loss
Author: Tria Novita Sari
Cast: Mario Haling, Ify Alyssa, Ashilla Zee, Alvin Jonathan.
Genre: Love, sad, romance and sacrifice

***
Hitam bukan dirimu
Putih juga bukan dirimu
Semu ku melihatmu
Tak bercahaya seperti memudar

*** 
Ify mengerjapkan matanya. Ia merasakan semua terasa begitu berat, bahkan untuk sekedar membuka matanya. Ify mencoba menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang masuk ke kornea matanya.

“Heyy kamu udah sadar?” Ify menatap seorang gadis yang berdiri di sampingnya. Ify mencoba mengingat siapa gadis di hadapannya
.
“Ehh kam.. mu siap.. pa?” Gadis itu tersenyum. Ia menyodorkan tangannya.

“Aku Shilla, tunangan Rio” Ify terdiam. Rasa yang entah pantas di sebut apa kini mulai menjalar di bagian hatinya.

Sakit, Kecewa dan tidak percaya.

“Aku khawatir lo sama kamu. Kamu gak apa-apa kan. Lebih baik kamu pulang aja deh. Biar aku ijinin kamu ke Rio. Rio juga di sini baru kan seharusnya dia punya rasa toleransi dan menghargai ke karyawan-karyawannya.

Ify hanya tersenyum. Namun percayalah dalam diam ia menekan semua rasa sakitnya. Kini ia tau bahwa semua benar-benar tidak berarti, bahkan penantiannya. Gadis di hadapannya ini adalah bukti atas semua ke-tidak-berartian- semua ini.

“Aku Ify”

“Ify? Kok nama kamu kayak gak asing ya. Bentar-bentar. Aha aku ingat. Nama kamu dulu pernah di sebut-sebut oleh Rio tiga tahun yang lalu setelah dia sadar dari komanya”

Ify terperangah. Ia menatap Shilla yang terlihat menerawang. Raut gadis itu pun kini terlihat berubsh. Penyesalan.

“Empat tahun yang lalu gue gak sengaja menabrak Rio saat dia baru tiba di Jerman. Sejak saat itu Rio mengalami koma. Gue sangat merasa bersalah, apalagi keluarga Rio yang sama sekali tidak menyalahkan gue semenjak saat itu rasa bersalah gue makin menjadi. Sampai pada akhirnya satu tahun kemudian Rio sadar dari komanya. Dan dari saat pertama ia sadar dia hanya mengingat satu nama yaitu gadis bernama Ify”

“Dokter menyatakan bahwa Rio amnesia akibat kecelakaan itu gue merasa bersalah, seiring berjalannya waktu Rio sudah mulai melupakan gadis itu. Oleh karena itu orang tua Rio malah meminta gue untuk makin mendekatkan diri ke Rio. Semenjak saat itu kami pun dekat, pacaran hingga akhirnnya tunangan dan gue sekarang sangat mencintai Rio”

Ify menjatuhkan air matanya. Rasanya sudah ada tidak ada lagi nyawa yang bertahan di tubuhnya seakan nyawanya sendiri entah meninggalkan raganya kemana.

“Fy. Kamu kenapa kok nangis. Kamu gak apa-apa kan” Suara lembut Shilla membuyarkan lamunannya. Ia tersenyum kea rah Shilla sambil mengusap air matanya

“Gak papa mbak. Saya cuma terharu sama cerita mbak.” Ify terdiam. Ia menatap wanita di hadapannya. Ada sebuah pertanyaan yang sangat ingin ia tahu jawabannya hanya sekedar sebagai penegasan arti dari semua penantiannya selama ini. Adakah sia-sia?

“Mbak. Apa Pak Rio itu udah bisa melupakan mantannya itu”

‘huh mantankah?’

Shilla tersenyum. Ia kembali menerawang mencoba mencerna jawaban yang sebenarnya terjadi dan benar-benar ia tahu, Tak lama ia kembali menatap Ify terrsenyum ke arahnya lalu menggeleng

“Tidak sama sekali. Aku yakin Rio gak sepenuhnya sayang sama aku. Mencintai aku sama seperti dia mencintai gadis itu. Melupakan segalanya yang berhubungan dengan gadis itu. Tapi satu yang selalu aku ingat dan selalu menjadi alasan aku bertahan bersama dia untuk memahami apa perasaanya. Janjinya yang dia ucapakan untukku”

‘Lalu bagaimana dengan janji yang dia pernah kasih buat aku. Sementara dia udah mengucapkan janji ke wanita yang lain. Sakit ya Tuhan. Sakit’

“Fy kamu gak papa kan. Muka kamu pucat. Lebih baik kamu pulang aja. Aku..”

“Gak usah mbak.. Aku di jemput sama temen aku” Shilla mengangguk. Ify pun meraih handphonenya dan menekan dial pada nomer yang sudah tertera di handphonenya.

“Vin jemput gue ya”

***
Alvin menatap Ify yang terus menunduk. Air mata gadis itu tak sama sekali berhenti. Alvin mendekati Ify di kasurnya dan duduk di samping gadis itu. Alvin menarik tubuh Ify mendekatinya dan langsung Alvin rengkuh tubuh itu dan mengusap lembut rambut Ify. Seketika Ify benar-benar terisak di pelukan Alvin

“Semuanya berakhir Vin.. hiks hiks. Dia.. dia kembali hikss dan dan dia hikss” Ify mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Alvin. Tubuhnya benar-benar bergetar.

Alvin menumpukkan dagunya di kepala Ify. Tangannya terus mengusap punggung gadis itu. Alvin mengerti ia sudah cukup paham semuanya. Ia sudah tahu bahwa pemuda itu telah kembali, pemuda itu kembali untuk mengurusi perusahaan keluarganya namun sungguh Alvin tak menyangka pemuda itu kembali ternyata memiliki tujuan lain, yaitu untuk semakin menyakiti dan melukai lebih dalam gadis di pelukannya ini.

Alvin menjauhkan tubuh Ify lalu ia berdiri dan siap melangkah, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan lain dengan erat memeluk lengannya.

“Dia gak salah Vin” Alvin menatap wajah Ify yang terlihat sangat lelah. Namun Alvin kembali memalingkan wajahnya. Ini sedah tekadnya.

“Gue mohon jangan. Karena.. karena..”

“KARENA APA FY” Ify menunduk. Air matanya terus mengalir. Kepalanya menggeleng. Membuat Alvin semakin emosi. Alvin menyentuh pundak Ify dan mencengkram pundak gadis itu. Ify merasakan sakit di kedua pundaknya akibat cengkraman Alvin sangat keras.

“Apa yang akan elo lakukan. Lo masih diam dengan semua ini. Jawab Fy. Tatap gue. Fy tatap gue dan jelasin semuanya atau..”

“Semua percuma Vin. Dia sudah lupa sama gue. Dia sudah tidak sama sekali mengingat apapun tentang gue. Dia.. dia amnesia” Alvin langsung mendekap tubuh Ify yang hampir terjatuh. Lalu Alvin langsung mengangkat tubuh Ify ke kasur dan meletakkannya.

“Maafin gue Fy. Tapi gue janji gue akan mengembalikan dia ke elo. Karena dia seutuhnya akan tetap milik lo” Alvin mencium kening Ify dan menyelimuti tubuh Ify. Beranjak dan meninggalkan Ify yang terlelap dalam kelelahannya.

Cinta aku mencinta
Kamu yang aku mau
Namun tak tepat waktu
Ku sudah jera dalam percintaan

***
Mungkin aku sudah lelah untuk menunggunya. Dan saat ini mungkin adalah jawaban yang sang waktu berikan untukku agar bisa mempelajari takdir bahwa memang sesungguhnya dia bukan untukku

Ify menatap pria di hadapannya setegar mungkin. Sudah satu bulan ia belajar untuk membiasakan dirinya menahan rasanya sendiri dan kini lihatlah tidak terlalu buruk bukan.

“Pak Rio ini ada berkas-berkas yang harus bapak tanda tangani. Ini adalah berkas dari beberapa perusahaan yang akan melakukan survey lapangan dengan perusahaan kami. Ini adalah pengajuan beberapa tempat yang menjadi rujukan beberapa tersebut. Bagaimana pak apakah ada yang perlu dipelajari atau disetujui langsung”

Percayalah saat ini jantung Ify bergetar sangat dahsyat. Bahkan waktu seakan berjalan sangat lambat saat dirinya mencoba bersikap formal pada atasannya yang sesungguhnya.
Namun satu yang ia tau dirinya dapat menikmati waktunya yang sempat hilag dulu.

Cklek

Ify merapikan pakaiannya dan menegakkan tubuhnya

“Sayang kamu.. eh ada Ify. Hayy Fy ehmm kalian masih ada urusan kalo iya aku keluar aja deh dulu”

“Eh eh emhh enggak usah mbak. Saya cuma ngantar berkas aja. Ya sudah saya permisi. Mari mbak Shilla” Shilla mengangguk. Gadis itu menatap punggung Ify yang menghilang seiring pintu yang tertutup

“Ify cantik ya sayang, selain itu dia baik dan polos. Entah kenapa ada sesuatu yang buat aku gak bisa sedikitpun acuh dengan dia”

Rio menatap Shilla sejenak. Gadis itu terlihat menerawang dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya. Setelah itu Rio kembali berkutat pada berkas-berkas di hadapannya yang baru saja Ify letakkan

“Bukannya kamu memang selalu begitu tidak bisa sama sekali bersikap tidak peduli sama orang lain. Sama seperti dua tahun yang lalu” Shilla menarik dua sudut bibirnya dan menatap Rio yang kini berdiri mendekatinya. Rio pun langsung menarik tubuh Shilla ke pelukannya dan mencium puncak kepala gadis itu.

“Jangan pernah berubah sayang. Aku mencintai kamu yang selalu bisa di cintai oleh semua orang. I Love You” Shilla mengangguk dalam pelukan Rio

‘Tapi melihat dia ada rasa yang berbeda Yo. Seperti rasa bersalah’ Ucap Shilla dalam hati sambil mengeratlan lingkaran tangannya di pinggang Rio

‘Dan aku takut bila suatu saat nanti aku harus melepas kamu dan mengembalikanmu ke seseorang. Apa mungkin itu akan terjadi’

***
Salam hangat untuk cintamu
Aku yang kandas dan patah hati
Biarlah orang menganggap lemah
Aku tak mau bercinta lagi

“Yo mungkin saat ini adalah saat yang memang tepat untuk melupakan lo Yo. Dan lo tahu gue sama sekali tidak pernah menyesal mencintai lo dan pernah ada di hati lo. Tapi memang mungkin lo gue gak akan pernah ada di takdir yang sama. Keinginan gue dan kenyataan takdir yang terjadi hanya akan menutup kenyataan bahwa lo memang sulit tergapai”

“Shilla dia mungkin memang yang terbaik untuk lo. Dia adalah gadis yang sangat baik. Dan gue yakin lo gak salah mencingtai dia” Bibir Ify tertarik membentuk senyuman. “Lo segalanya dan lo selalu berarti untuk gue. Itu artinya kebahagiaan lo segalanya yang berarti untuk gue”

Engkau yang dulu pernah ku cinta
Namun terlanjur kau bersamanya
Dan ku terluka oleh cintanya kini kau hadir
Ku sudah jera

“Walaupun gue sakit atas empat gue yang tersia-sia tapi bukan sama sekali alasan gue untuk berhenti mencintai lo”

“Setelah lo pun kembali semua seakan mimpi. Lo bukan kembali untukl gue dan itu gak berarti apa-apa untuk gue walaupun gue tau bahwa keyakinan gue lo kembali terbukti namun keinginan gue untuk kembali ke lo bagai mimpi Yo”

“Mungkin lo akan jadi yang terakhir untuk gue Yo. I love You”

***
Alvin menatap gadis yang duduk di hadapannya. Gadis yang sangat cantik. Auranya pun begitu membuat Alvin terpesona sesaat.

“Lo ada apa nyuruh gue ketemu lo” Alvin tersadar. Ia menatap gadis di hadapannya penuh rasa penasaran. Entah Alvin sama sekali tidak mampu menebaknya.

“Shilla”

Shilla menatap pria di hadapannya heran.. Pemuda ini menemuinya tadi setelah ia meninggalkan kantor Rio, dan laki-laki itu mengatakan ada suatu hal penting yang menyangkut dirinya dengan rio juga masa lalu Rio yang jujur ingin ssekali ia tahu. Dan akhirnya tibalah mereka disini. Saling berhadapan dan terpisah jarak hanya dengan sebuah meja.

“Alvin. Gue gak ada waktu banyak apa yang ingin lo katakan”

“Shilla gue lo adalah gadis yang baik. Dan gue yakin lo tau pasti apa yang seharusnya lo lakukan setelah gue mengungkapkan apa yang gak lo tahu selama ini”

Shilla memandang Alvin. Ia memiringkan kepalanya dan menatap lekat Alvin

“Apa yang gak gue tau?”

“Masalalu Mario Stevano dan Ify Alyssa”

Bersambung

Huaaa selesai. masih ada satu part lagi. Maaf typo. Makasih udah sabar menunggu *Plak kayak ada yang nunggu aja hihi. Tolong jangan begal gue ya pemirsah. Terimakasih en si yu neks tem bayyy

Backsong (Jera of Agnes Monica)

Selasa, 09 Juni 2015

Play Of Destiny Part 9 (Harapan)




***
“Ini tiket ke Jakarta” Rio memandangi Ify yang menyodorkan selembar tiket di hadapannya.

“Apa ini?” Tanya Rio heran. Ify tersenyum namun hanya dengan sebelah tarikan membuat Rio mendengus.

“Tante Amanda pergi ke Swiss untuk beberapa bulan setelah dulu lo membentaknya, ya mungkin dia tidak percaya kedua anaknya tidak ada yang mampu ia berikan kasih sayang selayaknya” Rio melirik Ify gadis itu selalu begitu “Keluarga luar biasa. Oke kita kembali ke topik awal gue sudah menyiapkan ini semua setelah gue tahu nyokap lo mau pergi jadi sekarang pun lo bisa ke Indonesia untuk menemui adik lo yang sudah lo tinggalkan itu”

Flashback**

Ify menatap heran tante Amanda yang terlihat termenung di taman rumah sakit. Ini terasa aneh Tante Amanda bisa ada di tempat ini. Dengan ragu Ify mendekati wanita itu walaupun sekelebat ia ingat percecokan di rumah Haling tempo hari yang melibatkan ia masuk ke pertentangan ibu dan anak itu

“Malam tante”

Tante Amanda mendongakkan kepalanya menatap gadis di hadapannya yang berdiri dengan anggun mengenakan jas dokter. Amanda memalingkan wajahnya. Selalu seperti ini melihat dengan jelas gadis yang selalu bersama Rio ini mengenakan jas dokternya selalu berhasil mengingatkannya pada anaknya yang lain yang entah bagaimana saat ini keadannya.

“Tante tumben kesini. Cari Rio? Rio gak kesini Tante, Rio..”

“Apa Rio membenci tante?” Ify mendudukkan tubuhnya di tempat yang tersisa dan memandang wanita di sampingnya dengan senyum sinis.

“Apa tante gak merasa apa yang tante lakukan pada kedua anak tante, bukan hanya pada Rio, tapi anak gadis tante yang hidup sendiri di tempat yang jauh dari ibu yang melahirkannya, jauh dari seorang kakak yang hampir setengah hidupnya ada mendampinginya hidup. Entah ia mampu bertahan dengan keadaannya yang begitu memiriskan. Mungkin bagi Ify bukan hanya Rio yang marah namun gadis itu yang jelas akan jauh membenci tante walaupun Ify tahu sebesar apapun rasa benci Shilla bukan alasan untuk menghapus tante sebagai orang yang mengirimnya disini”

“Shilla seorang gadis yang memiliki ketegaran, mencoba bertahan dengan tujuan hidupnya, harapannya, namun lihatlah tujuan hidupnya justru malah menghancurkan hidup gadis itu”

“Yang Ify tahu Rio bukanlah seorang kakak yang lemah untuk menjaga Shilla di saat sakitnya, dan Shilla bukanlah adik yang sok kuat hanya untuk menyembuhkan kakaknya dengan tangannya sendiri. Mungkin tante tidak pernah menyadari penyakit Rio hadir memang untuk Shilla. Dan cita-cita Shilla adalah tujuan Rio dan Shilla lahir dari rahim tante dan besar di tengah-tengah kehidupan Haling”

Ify menghembuskan nafasnya setelahnya ia mengungkapan apa yang ada di pikirannya.

“Tante butuh waktu Fy maaf. Tante akan ke Swiss sementara waktu maaf atas sikap tante tempo hari yang menampar kamu. Tante..”

Ify langsung meraih tangan Amanda dan menciumnya. Air mata Ify sekietika mengalir saat bibirnya menyentuh tangan wanita ini

“Tante cukup tahu Ify sangat bergantung dengan keluaraga ini sebagai alasan Rio yang gak bisa lepas dari Ify dan seiring berjalannya waktu ify mengenal tante dan rasa sayang itu tumbuh sebagaimana seorang anak yang merindukan ibunya, sekeras apapun tante, seangkuh apapun tante sungguh Ify menyayangi tante seperti Ify menyayangi mama.. Ify..” Tante Manda langsung menarik Ify ke pelukannya. Ify benar-benar merasakan aura seorang ibu yang sebenarnya saat ini pada diri Tante Amanda

Amanda mengusap lembut rambut gadis di pelukannya ini. Sekelebat pandangannya berubah menjadi sosok anaknya yang lain di luar sana

‘Shilla’

Flashback **

Rio melengos memandang gadis di hadapannya. Entah saat ini ia sendiri belum mampu memandang luas sosok gadis ini. Memandang sosok lain yang tak terbaca dalam diri Ify. Begitu pun dirinya yang belum memahami hingga saat ini arti gadis ini di hidupnya.

“Yo ngapain lo melamun. Setiap detik itu berarti apa mau detik-detik lo hilang begitu saja sama seperti dua tahun yang lalu. Oh my God. Gue gak sanggup” Ify melenggang pergi meninggalkan Rio yang berdecih kesal.

“Cih gadis apa sesungguhnya dirimu Fy. Apa masih ify yang dulu kah?”

***
Bu Inah memandang sendu Shilla. Gadis yang ia hormati sekaligus sangat ia sayangi. Sungguh Bu Inah sangat sedih memandang nonanya.
“Non Shilla gak papa kan. Ngomong atuh non. Ibu teh khawatir” Shilla memandang Bu Inah, lalu menyunggingkan senyumnya dan menggeleng.

“Shilla cuma kangen sama ibu, sama Dea, sama Kang Daud sama semuanya. Shilla capek Bu kerja terus Shilla butuh hiburan. Apalagi Shilla kangen buat ke kebun Mang Ecep cobain jambu air Mang Ecep”

Bu Inah memandang nona kecilnya yang kini tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Berapa lama wanita itu tak pernah bermain dengan nonanya, berapa lama wanita itu tak pernah mendengar nada manja nonanya, berapa lama ia sudah tak pernah memeluk penuh kenyamanan bagi nonanya.

“Dan Shilla kangen sama mama dan Kak Rio” Air mata Bu Inah menggenang di pelupuk mata wanita itu. Wanita itu lupa bahwa ia juga memiliki Tuan kecil yang mungkin saat ini telah tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan

“Teh Shilla” Shilla menolehkan wajahnya. Seorang gadis berbaju dress kembang-kembang berdiri di pintu dengan senyum yang sangat lebar. Shilla membalas senyum itu

“Dea”

Dea langsung berlari kearah Shilla dan memeluk gadis yang sudah ia anggap kakaknya ini

Aduh teh shilla kumaha damang. Ya ampun teh Dea kangen sama teteh”

“Aku juga kangen sama Dea. Aku pokoknya kangen sama semuanya yang ada disini”

Dea menatap heran Shilla. Pasti ada sesuatu yang mengganjal.

“Teh ikut Dea yuk ke saung. Bu Dea sama teteh ke saung” Bu Inah mengangguk. Dea langsung menarik Shilla keluar dari rumah Bu Inah.

***
Sivia menatap kecewa mamanya. Mamanya tidak mau berbuat apa-apa untuk Gabriel. Padahal Sivia tau mamanya sangat menginginkan Gabriel bersama Shilla. Namun lihatlah kini mamanya.. Entahlah Sivia begitu kecewa.

“Kamu tidak mengerti Siv. Mama gak bisa melakukan apapun. Ini menyangkut masa depan Gabriel di keluarga ini. Mama juga gak mau melawan kakek kamu” Sivia tersenyum sinis. Ia menatap tajam mamanya.

“Mama fikir Kak Gabriel berarti dengan nama Damanik. Sivia bisa menebak kalau Kak Gabriel rela kehilangan gelar Damanik daripada dia  kehilangan sesuatu yang membuat dia mengenal hidupnya. Kak Shil adalah hidup buat Kak Gabriel ma. Kak shil adalah alasan Kak Gabriel mau mengenal dunia yang bukan keinginannya”

“ Mama tau kak Gabriel sangat menentang keras untuk mengenal kedokteran, sementara saat ia mengenal Kak Shilla justru Kak Gabriel belajar mati-matian mengenal istilah itu. Lalu ini hasil yang harus di dapat. Sivia sampai kapanpun Sivia tidak akan mau menerima Kak Gabriel bersama perempuan gila itu cih” Sivia langsung berlari meninggalkan mamanya yang memandang sendu dirinya.

“Tuhan apa yang harus saya lakukan sebagai seorang ibu, istri dan anak untuk keluarga saya Tuhan”

***
Dea menatap Shilla yang memandang lurus hamparan padi di hadapan mereka. Dea memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya, semilir angin menerpa kedua wajah gadis ini.

“Apa yang teh Shilla harapkan, bahkan semua bagi Dea terasa sia-sia teh. Apa yang teteh cari. Bukan kebahagiaan tapi sakit yang terus menerus teteh dapat. Apa teteh tidak menyadarinya”

Shilla tersenyum miris mendengar kalimat yang Dea ucapkan. Ia tak menyangkal semua itu. Tidak sama sekali. Namun semakin ia membenarkan sakit itu justru semakin menekan batinnya.

“Aku hanya kangen sama kak rio dan ify” Shilla tak berbohong itu semua kenyatannya memang itu yang terjadi. Setidaknya saat kebersamaan dirinya dengan pemuda yang bernama Gabriel itu benar-benar berakhir rasa rindunya pada kakak dan sahabatnya kembali menguar.

“Kang Rio dan teh Ify apa akan kembali?” Shilla terdiam. “Dan Nyonya Amanda apakah ia akan bisa menyanyangi teh Shilla seperti seorang ibu yang sesungguhnya” Air mata Shilla langsung menetes. Gadis itu menggeleng.

“Mama”

Dea langsung memeluk tubuh Shilla menenangkan gadis yang sudah dirinya anggap seperti kakaknya. Serapuh ini kah dirimu teh. Semenderita inikah dirimu.

***
Gabriel terdiam. Matanya terus menyusuri lekukan indah seorang gadis yang tercetak indah di selembar foto di genggamannya. Pandangan pemuda itu tak seteduh biasanya. Hanya pandangan kosong penuh kehampaan yang terlihat disana.

“Hey apa kabar kamu” Gabriel mulai menggumam. Ia menatap tepat pada bola mata sosok di foto tersebut. Biasanya bila Gabriel menatap bagian itu. Pemiliknya pasti akan membalas tatapannya jauh lebih dalam dari pandangannya. Namun kini lihatlah.

“Kamu tahu aku kangen sama kamu. Aku berharap ini mimpi Shill. Apa kamu membenciku. Apa kamu bener-bener telah menghapus segalanya tentang aku. Hmm. Bahkan aku pun sulit untuk berpura-pura lupa kalau aku sangat mencintai kamu apa kamu juga. Haha kayaknya enggak deh. Buktinya kamu biarin aku buat bersama dengan gadis lain haha”

Sivia menahan tubuhnya agar tidak terjatuh saat ini. Kakaknya. Kedua tangan Sivia mengepal. Matanya memandang tajam kakaknya yang masih dengan rapuhnya di kamar.

“Semua harus segera berakhir”

***
Ify menatap Rio tajam yang masih terdiam di depan bandara. Ify merutuki kebodohan pemuda di sampingnya.

“Lo mau sampai kapan di sana hah? Lo mau di tinggal pesawat?” Tanya Ify tajam membuat Rio mendecih pada wanita itu.

“Apa kita akan benar-benar ke Indonesia Fy. Ketemu Shilla?” Ify mendengus ia lalu menggeleng sambil menatap tajam Rio.

“Gak gue mau bunuh lo. Cepetan Yo keburu pesawatnya berangkat. Ingat Yo detik terus berjalan. Dan buat lo termasuk gue setiap detik sangatlah berarti untuk saat ini”

Rio masih terdiam. Ify sudah di buat geram oleh sikap bodoh Rio saat ini. Dengan kesal Ify langsung menarik Rio namun tak disangka Rio malah menahan Ify dan menarik Ify ke arahnya dan menabrak tubuh tegapnya. Rio langsung mendekap erat tubuh mungil Ify. Dan mencium puncak kepala gadis itu.

“Makasih Fy. Makasih atas semuanya” Ify mematung di pelukan Rio. Tangannya masih terkulai lemas di samping tubuhnya. Rio semakin menarik tubuh Ify lebih dalam ke pelukannya. Tak peduli dengan waktu yang menunggu mereka dan terus berjalan.

Dengan perlahan Ify mengangkat kedua tangannya. Ia mulai membalas pelukan Rio dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang pemuda itu. Detak jantung Ify semakin bergetar cepat. Sensasi panas mulai menjalar di tubuh gadis itu.

“Sebagai tebusan atas kesalahan gue terhadap kalian” Ucap Ify berbisik di dalam pelukan Rio.

‘Sekaligus sebagai balasan perasaan gue yang mungkin tidak akan pernah berubah bahkan hilang untuk lo Mario’

***
Dua gadis ini saling menatap. Yang satu menatap sangat tajam yang satu lagi menatap sangat acuh membuat siapapun yang memandang mereka jengah.

“Apa yang lo inginkan Cha” Acha tersenyum sinis menatap Sivia

“Yang gue inginkan adalah Gabriel. Dan gue yakin keluarga lo gak akan bisa memberikan lebih untuk gue”Acha tersenyum remeh kea rah Sivia yang dibalas tatapan tajam olehnya.

“Bahkan keluarga lo harus terimakasih sama keluarga gue. Kalo gak ada keluarga gue Rozcow Hospital gak akan ada dan Damanik tidak akan ada artinya” Acha langsung berbalik dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.

“Gue berani bersumpah lo gak akan pernah bisa mendapatkan apapun yang bukan milik lo termasuk kakak gue” Acha menghadap Sivia lalu memiringkan kepalanya.

“Kita liat nanti sayang”

***
Ify memandang Rio yang tertidur di kursi sampingnya. Tangannya tergerak mengusap dahi pemuda itu. Air matanya yang diam-diam terjatuh membuat rasa sesak semakin menghimpit dadanya.

“Apa lo tau Yo perasaan apa yang gue miliki sekarang terhadap lo hmm” Ify terdiam. Matanya terpejam dengan tangan yang menggenggam erat tangan Rio.

 “Rasa itu masih sama bahkan semakin dalam. Jawab Yo apa gue berhak atas perasaan ini. Apa gue pantas meminta balasan dari lo. Gue bukan munafik tapi gue gak mau semakin menyakiti diri kita masing-masing. Maaf”

Ify mencium tangan Rio dan mulai menyenderkan kepalanya di pundak Rio. Tolong jangan usik dirinya. Ijinkan ia melakukan apa yang hatinya minta.

Perlahan mata Rio terbuka. Ia menatap Ify yang tertidur di pundaknya menatap dalam gadis ini. Rio mendekatkan kepalanya ke puncak kepala Ify dan mencium kepala gadis itu. Ia mengusap pipi Ify lembut.

“Bersabarlah Fy. Gue berjanji apabila semua sudah kembali lo akan mendapatkan gue dengan mudah karena gue pun sama seperti lo” Rio mengeratkan genggaman tangannya dengan Ify. Ia menumpukkan kepalanya di atas kepala Ify. Dalam diam Ify tersenyum. Ia mendengar dan merasakan apa yang Rio lakukan.
‘Gue akan selalu menunggunya dan harapan gue gak akan pernah hilang bahkan berakhir Rio. Makasih'

Bersambung.

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...