Sabtu, 30 Agustus 2014

Play Of Destiny Part 5

***
Saat hati meminta dia, saat otak memutar memori hanya tentang dia dan saat tubuh menginginkan rengkuhan hanya dari dia, takdir menjauhkannya darinya. Gejolak untuk ingin memiliki begitu besar. Satu yang aku tahu, aku menginginkannya. Dan dia alasanku untuk bertahan

***
Ify tersentak dari lamunannya saat mendengar suara gaduh dari sebrang kamarnya, dari kamar Cakka. Ify mencoba mengacuhkannya. Peduli apa dia tentang semua urusan Cakka. Namun makin lama rasa penasarannya makin besar. Ia pun beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu

Ify kaget dengan koper yang berserakan di depan kamar Cakka. Untuk apa semua koper ini?

“Fy gue berangkat dulu”

“Berangkat? Maksud lo?” Tanya Ify penasaran

Cakka menghembuskan nafas. Mencoba bersabar menghadapi sepupunya itu. “Loh bokap lo gak bilang kalau gue di suruh ke Jakarta untuk menhandle rumah sakit om Irwan di sana?”

Ify mendengus mendengar kalimat Cakka. Ia tak perlu kaget mendengarnya karena ia sudah tahu bagaimana Cakka di mata keluarganya, termasuk papanya.

“Oh papa nyuruh loe handle rumah sakit? Papa cukup adil ternyata menjadikan gue dokter tetap di rumah sakit bokap gue sendiri, sementara lo yang memegang rumah sakit itu. Hn”

Ekspresi Cakka langsung berubah datar. Ia hanya memandang kosong Ify. Ia cukup mengerti maksud Ify. Cukup tahu

“Apa lo keberatan?”

Ify menyeringai sinis. Cukup bodoh, umpatnya

“Apa gue punya hak untuk keberatan atas perintah-tak-terbantah dari papa”Tanya Ify sinis penuh penekanan
“Bahkan gue rasa gue gak berhak di akui jadi anak mereka”

“Fy. Gue”

“GUE ANAK MEREKA KKA. TAPI KENAPA SELALU LOE YANG DAPAT SEMUA DARI MEREKA, KENAPA?”

Air mata Ify mulai turun membasahi wajahnya. Ia sudah tidak tahan akan ketidakadilan ini, menurutnya.

“Fy.."

Entschuldigung, mein Herr Autobereit (permisi tuan mobilnya sudah siap)"
Ify lansung lansung pergi meninggalkan Cakka mencoba mengacuhkannya
***

Ify kembali berdiam diri di kamarnya. Semua sudah merubah jalan pikirnya. Ia lelah. Ia tahu sampai kapanpun ia akan tetap menjadi yang kedua. Semua seakan sudah tertulis di benaknya

Ify menyeka air matanya yang terus turun membasahi wajahnya. Ada gejolak menyakitkan dalam dadanya. Ia benar-benar lelah menjadi yang kedua

Deru mobil yang semakin menjauh terdengar di telinganya. Ia tahu mobil itu yang akan membawa Cakka meninggalkan kota Berlin menuju Jakarta. Ify menghela nafas. Semua sudah membuatnya lelah

***

Cakka memandang kosong kearah luar taksinya.Pikirannya bercabang. Ia terus memikirkan sikap Ify padanya yang saat iniberbeda. Ify sudah berubah. Ify bukan lagi sepupunya yang imut, ramah dan ceria

Saat ini yang Cakka tahu Ify telah menjadi gadis dingin tak berperasaan selain ke pasiennya. Cakka tahu apa yang sudah merubah sepupunya itu. Semua karena putra Haling. Bukan. Cakka bukan menyalahkan putra Haling itu. Ia hanya menerka seberapa besar pengaruh seorang putra Haling terhadap putra Irwan Umari

Cakka menghela nafas saat ia sudah tiba di dibandara. Kembali ia teringat pertengkaran kecilnya bersama Ify beberapa jamyang lalu

Please do not change’
***
Rio memandang nanar foto Shilla yang selalu ia simpan di kamarnya. Ia benar-benar merindukan adiknya itu.
Andai iamampu merobohkan batu yang berdiri kokoh di hati ibunya. Andai ia mampu mempersempit jurang yang membentang antara dirinya dan adiknya. Andai penyakit sialan itu tak hinggap di tubuhnya. Andai penyakit bodoh itu tak ikut campur dalam urusan hidupnya. Dan masih banyak beribu andai yang tersimpan rapi dibenaknya.

Ia tak pernah berfikir akankah ia sanggup melawan takdir ini. Rio benar-benar membenci takdir.

‘kak menurut loe takdir itu adil gak sih?”

“Gue gak tahu Shill. Bukannya setiap orang memiliki jalan takdir yang berbeda. Dan menurut gue hanya orang itu yang mengerti adil atau tidaknya takdir. Benarkan ?’

‘Entahlah.Terus menurut loe gimana sama yang namanya permainan takdir? Loe percaya gak?’

‘Ehm mungkin’

“Gue benar-benar percaya sama yang namanya permainan takdir Shill. Karena saat ini pun kita sedang di permainkan oleh takdir. Bahkan gue benci sama yang namanya takdir. Gue muak sama takdir”

“Gue benci takdir yang sudah pisahin gue sama loe. Gue benci takdir yang sudah buat gue lemah dan gue benci sama takdir yang sudah membuat gue menjadi pengecut, gak berguna. Gue benci diri gue sendiri, gue benci”

Bahkan Rio tak perduli kini ia menjadi sosok bodoh yang selalau meratapi penyesalan yang bahkan ia pun tak pernah sama sekali melakukan kesalahan yang pantas untuk di sesalkan”

“Gue kangen loe dek”
***

Gabriel memandang tajam Sivia di hadapannya. Ia tahu ada yang di sembunyikan Sivia darinya. Hingga saat ini Sivia masih diam tak menjelaskan apapun

Sivia yang tak nyaman di pandang terus oleh kakaknyahanya mangalihkan pandangannya. Ia takut akan pandangan itu. Ia tak suka.

“Mau kakak apaan? Kenapa liatin aku kayak gitu seremtau?”

“Jelasin ke gue Vi” Sivia meneguk ludahnya. Jangan-jangan
“Apa rencana kakek?”

GLEK. Tuh kan benar. Batin Sivia

“Eh. Em Gue… eh loe kenapa tanya itu sih kak? Mana gue tahu rencana kakek apaan” Elak Sivia

“JANGAN BOHONG VI. GUE TAHU LOE, MAMA DAN PAPA MENYEMBUNYIKAN SESUATU DARI GUE” Bentak Gabriel. Sivia yang tak pernah sekalipun di bentak oleh kakaknya hanya memandang tak percaya kearah Gabriel

“Loe kenapa sih kak. Loe mau tahu apa rencana kakek,ha, iya?. Kalau gitu selamat loe dijodohkan sama kakek bulan depan. PUAS LOE”

JDERR. Gak. gak mungkin. Ini ?

"Dan gue, mama dan papa gak bisa nyelamatin loe dan loe gak bisa menolak. Ini perintah”

"Dan satu lagi Shilla juga sudah tahu perjodohin loe. Dan dia putusin loe bukan karena udah gak lagi mencintai loe. Tapi karena permintaan mama. Puas loe?"

BERSAMBUNG

Visit this page: www.obatkistatradisional.net

                        Diananissa ifc

Minggu, 17 Agustus 2014

Play Of Destiny Part 4 (Berakhir)

Seorang pria paruh baya memandang nanar orang-orang di hadapannya. Lelah, khawatir dan takut terpancar dari wajahnya yang menua.
Hhh. Pria itu menghela nafas. Entah sudah berapa kali helaan itu keluar beradu dengan atmosfir ketegangan diruang itu

"Yah"

Pria itu mengalihkan pandangannya menghadap anaknya yang memanggilnya

"Ada apa kek. Kenapa kakek mengumpulkan kami" Kali ini cucu gadisnya yang berbicara.

Hening.

"Aku mau gadis itu meninggalkan cucuku"

Sesak. Tak ada lagi yang mau menjawab pernyataan pria itu

"Ayah. Apa maksud ayah?"

"Cucuku bisa menyelamatkan kita. Tapi tidak dengan gadis itu. Tak ada bantahan. Bulan depan pertunangan cucuku dan Raissa terjadi. Jadi suruh gadis itu untuk segera pergi"

"Gak bisa gitu kek. Kak Iyel gak mungkin meninggalkan Shilla. Mereka saling mencintai kek"

Pria paruh baya itu menatap tajam kearah cucu gadisnya yang menatap keberatan kearahnya. Raut wajah yang tak lagi muda itu mendadak mengeras. Tatapannya menusukmembuat sepasang suami istri di hadapannya saling mengeratkan jari untuk saling menguatkan dan meyakinkan agar semuanya tak semakin rumit.

"Kamu mau tinggal di jalanan, kamu mau makan nasi dan garam. Kakek sudah katakan jangan membantah. Ini demi keluarga kita. Mengerti Sivia Azizah"

Pria itu bangkit dari duduknya berjalan dengan angkuh meninggalkan ketiga orang di belakangnya yang sesaat menghembuskan nafas kasar mereka dengan mata yang saling terpejam lelah

***
Mobil Shilla baru saja tiba. Baru saja Shilla melangkah untuk masuk tiba-tiba ada yang memanggilnya

"Shill"

Shilla menghentikan langkahnya dan berbalik. Shilla terperangah menatap seorang wanita yang berdiri di belakangnya.

"Tante Nita"

Shilla pun menghampiri Nita yang berdiri di belakangnya. Entah apa yang terjadi. Firasatnya merasakan sesuatu yang mengganjal. Shilla mendadak merasa tak tenang

"Boleh tante bicara sama kamu"

Shilla mengangguk dan membiarkan Nita memasuki rumahnya

***
"Tante kok bisa disini. Apa ada yang bisa Shilla bantu"

Wanita itu menunduk sedih. Haruskah sekarang? Wanita itu menggigit bibirnya. Sementara Shilla terus menatap Nita yang tak sama sekali menatap dirinya.

"Maaf Shill"

Shilla mengerutkan keningnya tak mengerti. Hatinya semakin merasa kegelisahan. Shilla terus menatap Nita yang masih menyembunyikan wajahnya yang mengguratkan kecantikannya

"Kok minta maaf Tan? Ada apa?"

"Tante mohon tinggalkan Gabriel"

Prang

Shilla merasa ada yang pecah dalam dirinya. Tinggalkan Gabriel, dalam mimpi pun Shilla tak sudi melakukannya

Tante Nita hanya memandang nanar Shilla yang terdiam tak berkutik dengan pandangan kosong. Tante Nita semakin merasa bersalah

"Gabriel akan bertunangan bulan depan dan tante, om dan Sivia tidak bisa melakukan apapun"

Shilla masih terdiam. Ia tak mampu lagi melakukan apapun selain menangis dalam diam

"Maaf Shill"

Shilla hanya menunduk mencoba menyembunyikan air matanya walau ia tahu itu percuma

Shilla mengangguk

"Baik"

***

Gabriel memandang kosong hadapannya. Ia tak percaya satu tahunnya bersama Shilla harus berakhir dalam waktu lima menit. Tak di pungkiri, sakit itu terasa berdenyut dihati Gabriel.

Rasa itu udah mati Yel. Gak ada lagi cinta buat kamu

Shit. Omong kosong. Mana mungkin gadis itu mengatakan cinta itu hilang.

Denyut menyakitkan itu bukan hanya milik Gabriel. Shilla juga merasakan sakit yang sama. Tanpa pemuda itu ketahui, hati Shilla lah yang paling berdarah. Kehilangan seseorang yang di cintainya tak hanya itu. Dia juga harus merelakan cintamu di renggut orang lain. Namun apa yang bisa ia lakukan. Ia pun tahu semua tak akan lagi sama bila di paksakan. Shilla beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu tak mampu lagi bertahan

Langkah Shilla terhenti saat ada lilitan tangan yang mengurung pinggangnya.

"Jangan pergi" Pertahanan Shilla benar-benar telah runtuh. Pecah sudah tangisnya. Shilla membiarkan saja ia menangis di hadapan Gabriel. Sejenak saja sebelum semuanya benar-benar berakhir ia ingin merasakan sedetik saja ketulusan cinta pemuda itu sebelum ia kehilangan pemuda itu secara utuh

"Maaf"

***
Ify benar-benar panik melihat keadaan Rio yang kembali merasakan sakit di dadanya

"Kenapa bisa?" Tanya Ify ke siapapun yang ada di dekatnya

"Maaf Non. Den Rio yang pergi tiba-tiba dengan meninggalkan obatnya begitu saja"

"Shilla.. Shilla" Ify terjingkat saat ia mendengar suara Rio yang memanggil Shilla

"Gak ada Shilla di sini"

Rio memegangi dadanya "Sakit Fy. Sakit"

"Ck. Makanya jangan sok kuat"

Bersambung...


Kamis, 07 Agustus 2014

Play Of Destiny Part 3 (Kenangan yang Menguar)


 ***

Shilla pun kembali melangkahkan kakinya. Namun saat ia mau mengangkat kakinya untuk melangkah, langkahnya harus terhenti saat ia mendengar suara baritone memanggilnya

“Shilla" Shilla berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Matanya melotot begitu ia tahu bahwa yang memanggilnyaadalah

“Gabriel” Gabriel hanya nyengir di pelototi oleh Shilla seperti itu. Gabriel tahu bahwa sebentar lagi Shilla akan marahpadanya.

“Hehehe, Shilla kamu ngapain kesini?”

“Harusnya aku yang nanya ke kamu ngapain kamu ke sini sayang” Tanya Shilla dengan penekanan kata sayang

“Nyusul kamu lah.” Shilla melengos mendengar jawaban polos yang keluar dari mulut Gabriel. Dea yang tidak mengerti apapun hanya diam sambil memandangi wajah Gabriel yang menurutnya sangat tampan

“Teh Shilla, ini teh siapa. Kasep” Bisik Dea

“Ini?  Dia Gabriel. Pacar aku” Kata Shilla. Dea terkejut mendengar ucapan Shilla

“Apa Pacar?” Shilla mengangguk, Gabriel hanya memasang senyum atau mungkin lebih tepatnya cengiran

“Teh Shilla curang. Udah punya pacar. Mana kasep lagi.”

“Bukannya kamu sudah ada Daud” Dea melotot kearah Shilla mendengar nama Daud di sebut

“Ih, Kok Kang Daud sih. Teh Shilla mah gitu”

“Maaf deh gak lagi” 

“Udah ah katanya mau ke Bu Inah”

“Iya deh”

***

Plakk


“Dasar anak gak tau diri. Kamu mau membunuh Rio”

“Maaf Ma, Shilla gak sengaja. Gak mungkin shilla mau bunuh kakak Shilla sendiri’

“Omong kosong. Kamu lihat Rio. Lagi-lagi dia masuk ke rumah sakit ini dan lagi ia memakai alat sialan itu. Kamu benar-benar anak tidak tau terima kasih”

“Gak ma, Ini bukan salah Shilla. Kak Rio lupa minum obat yang Shilla kasih sehingga dia…”

“Terus kamu mau salahin Rio. Apa ini namanya dokter professional. Cih, Kamu pembunuh”

“Maaf ma”

"Apa ini yang kamu katakan bisa membuat mama bangga? Apa ini buah dari apa yang telah mama berikan? Mulai sekarang jauhi alat-alat itu dari Rio, mengerti"

“Tapi Ma Kak Rio gak bisa bertahan kalau alat-alat itu dilepas”

“Kamu kira saya tidak bisa menyewa alat yang lebih canggih dan dokter yang lebih hebat dari  kamu.?”

“Ma sekali lagi kasih Shilla kesempatan”

“Jauhi Rio”

“Mama!”

Shilla terbangun dari tidurnya saat mimpi itu kembali menggentayangi tidurnya.  Air mata Shilla jatuh saat kembali ia teringat kejadian itu. Shilla menggelengkan kepalanya . Gak boleh, ia  tidak boleh lagi kembali ke  masa lalunya.

“Shilla ada apa” Shilla menghapus air matanya saat ia mendengar suarabaritone menghampirinya.

“Shill. Kamu kenapa. Tadi aku denger kamu…”

“Aku kangen keluargaku Yel” Gabriel melengos mendengar penuturan Shilla.

“Aku tahu kamu udah larang aku untuk ingat itu lagi. Tapi aku gak bisa Yel. Mereka adalah keluargaku aku…”

“Jadi ini alasan kamu kesini. Shill apa aku masih belum bisa bantu kamu untuk melupakan mereka? Jawab Shill”

“Mereka keluarga aku Yel. Bagaimana bisa aku lupain mereka gitu aja. Darah aku mengalir dalam tubuh Kak  Rio dan Mama. Aku…”

“Tapi kamu jangan lupa Shill mereka yang nyuruh kamu untuk pergi dari hidup mereka. Mereka yang..” Ucapan Gabriel terhenti saat ia merasa Shilla semakin terisak

“Aku udah nurut sama kamu untuk membuang semua benda yang berhubungan dengan mereka, bahkan aku mau kamu suruh aku untuk pindah dari rumah aku yang dulu. Tapi kamu gak bisa minta aku untuk membuang rasa sayang aku ke mereka. Rasa ini tersimpan di hati aku Yel”

Gabriel mengepalkan tangannya menahan emosi yang sudah meluap dalam dirinya. Selama ini ia lupa bahwa Shilla memiliki masa lalu yang suatu saat bisa muncul kapanpun. Gabriel menarik Shilla kepelukannya.

“Maaf Shill. Aku gak bermaksud untuk buat kamu makin sakit hati. Tolong percaya sama aku. Aku gak akan ninggalin kamu aku janji”

“Dulu mama dan Kak Rio juga janji sama aku buat gak ninggalin aku. Tapi apa yang terjadi mereka bebar-benar ninggalin aku. Bahkan Ify sahabat aku juga ikut pergi. Aku sulit untuk percaya sama siapapun Yel”

“Termasuk aku? Apa kamu gak yakin kalau aku benar-benar mencintai kamu Shill?” Shilla melepas pelukan Gabriel. Diraihnya wajah pemuda itu dengan kedua tangannya

“Aku akan coba percaya sama kamu Yel. Tolong jangan tinggalin aku” Ucap Shilla.

Diluar kamar Shilla Bu Inah menangis mendengar percakapan Shilla dengan Gabriel. Bu Inah tak menyangka bahwa keluarga Haling menjadi seperti ini, terutama Shilla. Ia sangat menyayangi Shilla dan Rio. Bu Inah sudah menganggap mereka seperti anaknya sendiri.

“Ya Allah kuatkan hati Neng Shilla”

***
mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa dicintai
tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
dalam hidupmu, dalam hidupmu


telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
bahagia untukku, bahagia untukku


reff:
ku ingin kau tahu
diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga hujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya


dan izinkan aku
memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja


Prok…Prok…Prok

Ify membalikkan tubuhnya mencarimasal suara tepukan tangan barusan.

“Kenapa berhenti?” Tanya seorang pemuda

“Sejak kapan loe disitu” Tanya Ify ketus.  Cakka pemuda itu itu hanya mendengus menghadapi sikap sepupunya itu

“Loe gak bisa lembut ya sama gue. Gue ini sepupu loe. Lebih tua dari loe”

“Ganggu loe” Ucap Ify sambil kembali berbalik ke pianonya tadi

“Buat siapa tuh lagu? Buat Rio ya? Prince Haling loe itu? Cinta dalam hati memang betah loe?” Tanya Cakka bertubi-tubi

“Jangan sok tau loe”

Drtt..Drrttt

Ify mengambil hpnya yang bergetar dikantongnya. ‘Haling home’s’ tertera di layar handphonenya

APA? Baik saya akan ke sana?”


"Ada apa?" Tanya Cakka

"Biasa keluarga Haling. Loe pasti ngerti"


"Terus loe mau ke sana?"

"Iya" Cakka hanya menggeleng sambil memandangi punggung Ify yang menjauh

Bersambung..

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...