Sabtu, 14 Februari 2015

Secret Part 4

Cast: Ashilla Zee, Gabriel Stev,Ify Alyssa, Alvin Jonathan, Rio Stevadit


***
Aku tak bisa menggapai hatinya, menemukan ruang kosong di sela-selanya, aku sulit menemukan diriku dihatinya. Karena ku tahu, tak akan pernah bisa aku menemukan pintu itu yang untuk diriku di hatinya.

***

Rio dengan panik membuka pintu kamar Ify yang tertutup. Ia melihat Ify yang terbaring tertutup selimut dengan mata terpejam, Hmm, Rio berjalan mendekati Ify yang terbaring itu.

"Fy.." Ucap Rio pelan. Ify membukan matanya perlahan, melihat pemuda di depannya membuat ia tersenyum.

"Eh Rio kok lo disini" Ucap Ify dengan suara parau namun tetap terlihat imut di telinga Rio.

"Lo sakit apa" Tanya Rio ketus namun penuh kekhawatiran membuat Ify mendengus. Apa-apaan ini Rio sahabatnya kah?

"Maag gue kambuh" Ucap Ify ketus yang membuat rio mengernyitkan dahinya mendengar jawaban ketus Ify. Rio mengendikan bahunya lalu beranjak dari hadapannya.

"Pasti lo belum makan.Gue terlalu hapal lo" Ify tersenyum mengetahui perhatian Rio terhadapnya.

"Yo..makasih ya" Ucap Ify sambil tersenyum.

Rio membalas senyum Ify dengan mengusap lembut pipi mulus Ify.

"Jangan bandel lagi. Kalo waktunya makan, ya makan, kalo waktunya istirahat, istirahat. Oke" Ify mengangguk dan langsung mengambil mangkuk bubur di tangan Rio.

Setelah bubur Ify habis dandan usai meminumk obat Rio meminta Ify untuk istirahat. Begitu Rio ingin beranjak dari tempatnya, tangannya di digenggam membuat langkahnya terhenti. Rio berbalik dan menatap Ify berniat bertanya maksudnya.

"Lo mau kemana, lo disini aja Yo temeni gue tidur" Ucap Ify sambil menggeser tubuhnya. Rio menghembuskan nafasnya ia pun berbaring di tempat kosong di sampin Ify.

Ify tersenyum. Ia memeluk tubuh Rio disampingnya. Gadis itu tak menyadari, pemuda di sampingnya sangat sulit menahan rasa takut. Takut sesuatu akan terjadi pada dirinya, bahkan keduanya.

"Kita udah lama gak kayak gini. Gue kangen Yo. Gue kangen seperti ini" Ify semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sahabatnya.

"Udah lo tidur aja, biar cepet sembuh. Gue gak kemana-mana." Rio mengusap rambut Ify membuat Ify perlahan menutup matanya.

Rio memandang Ify yang kini sudah tertidur sambil memeluk dirinya, ia mengusap lembut pipi Ify. Lalu ia mendekati kepalanya ke dekat gadis itu, Ia mencium pipi gadis yang terlelap sambil memeluknya, seakan agar gadis itu sadar, cinta pemuda itu bukan cinta hanya sebatas sahabat, bukan.

"Maaf Fy" Bisik Rio di telinga Ify

***

Shilla menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tak sama sekali berani menatap Mbok Iyem yang kini menatap dirinya.

"Mbok yo kamu itu kalo kerja pokus toh nduk" Shilla masih menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah pada mbok Iyem karena dirinya yang tak becus bekerja.

"Enjeh Mbok, Shilla minta maaf yo. Shilla ndak bakal ngelakuin kesalahan lagi"

"Iyo, ora opo-opo. Tapi jangan kamu ulangi lagi yo nduk, untung tadi itu yang kamu tabrak mas Gabriel"

"Enjeh Mbok, Sepurone nggeh" Shilla membungkukan badannya pertanda meminta maaf membuat Mbok Iyem tak tega melihatnya

"Ya udah sana kamu kerja lagi"

"Enjeh Mbok"

***

Shilla memasuki sebuah kamar sambil membawa sebuah lipatan seragam yang begitu rapi. Ia menatap kamar itu. Nuansa brown red memenuhi ruangan ini. Belum lagi bau citrus bercampur mint memenuhi ruangan ini membuat shilla sejenak terhanyut dan merasakan ketenangan di dirinya.

"Ekhem" Shilla terlonjak kaget mendengar deheman di belakangnya. Ia berbalik dan ia lantas tersenyum pada sosok laki-laki tampan di hadapannya.

"Aduh maaf mas, saya.. saya mau nganterin seragam ganti buat mas. Saya minta maaf.." Ucap Shilla sambil menundukkan kepalanya. Gabriel tersenyum melihat tingkah gadis di depannya.

"Sudah.. gak apa. Oh ya lo pembantu baru di sini" Ucap Gabriel sambil memasang wajah bingung. Pasalnya ia tak pernah melihat gadis lain di rumahnya apalagi pembantu yang secantik gadis di depannya ini.

"I.. Iya mas.."

"Gue Gabriel, lo siapa"

Shilla memandang bingung pemuda di depannya. Sudah dua kali pemuda tampan bersikap yang sama terhadapnya. Kemaren laki-laki baik berhati malaikat-begitu shilla menyebutnya- yang sialnya ia lupa nama dan wajah laki-laki itu, dan sekarang lihatlah. Laki-laki tampan ini juga melakukan hal yang sama.

Hey tolong jangan memalukan dirimu sendiri Shilla..

"Sa.. saya Shi.. lla"

"Apa? Sila" Ulang Gabriel yang membuat Shilla menggeleng dan menatap majikan tampannya ini.

"Bukan mas. Saya itu Shilla. S-H-I-L-L-A"

"Oh.."

Brak.. Prang..

Shilla dan Gabriel terlonjak mendengar suara ribut di depan. Alhasil kini lihatlah. Gabriel menarik tangan Shilla sambil berlari keluar kamarnya. Shilla menatap tangannya yang di genggam laki-laki itu. Oh tidak. Ada apa ini. Jantungnya. Plis.. jangan sampai.

***

Alvin menatap mamanya yang kini juga menatap dirinya. Cih. Alvin muak mendapat tatapan itu. Tatapan memohon yang secara tiba-tiba dapat meluruhkan rasanya.

"Mama mohon Vin, jangan seperti ini. Kamu bisa perbaiki semuanya. Kamu bisa menjadi Gabriel yang membanggakan papamu nak"

Alvin mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya memerah.

Brakk.. Prang..

Alvin membanting meja dan langsung menyingkirkan vas bunga di atasnya sehingga pecah.

"MA.." Tante Dania menatap anak sulungnya dengan wajah penuh air mata. "JANGAN PERNAH BANDINGKAN ALVIN DENGAN ANAK KEBANGGAAN KALIAN"  Air mata Tante Dania masih terus mengalir. "DIA ITU PARASIT.. DIA ITU.."

"ALVIN" Alvin menghentikan kalimatnya setelah namanya di sebut. Ia menatap Gabriel yang berdiri di sisi tangga dengan seorang gadis yang tak pernah Alvin liat. Namun satu. Alvin merasakan jantungnya berdetak. Sekilas sesosok gadis kecil dengan poni yang menutupi dahinya dan pipinya yang bulat tiba-tiba terlintas di otak pemuda itu.

'Dia..'

Shilla menatap pemuda yang juga menatap ke arahnya tajam. Jantung gadis itu berdetak hebat. Bahkan ia pun tak dapat merasakan udara yang bisa hirup. Sesak.

Astaga ada apa ini. Sedikit demi sedikit rasa itu berkecamuk di otak keduanya. Meminta agar sekeping ingatan itu muncul. Ck. Alvin sudah lelah. Ia langsung beranjak ke arah kamarnya yang di lantai dua. Alvin merasakan jantungnya langsung berhenti tepat di samping gadis itu. Tak sengaja matanya menatap sebuah kalung yang melingkar di leher gadis itu.

'Gak mungkin, dia..'

Bughh

Alvin memukul tembok di hadapannya.

'Illa'

Sesak itu kini telah merayap di hati keduanya. Akh sial.

***

Dia kembali datang menguar kenangan yang telah terkubur waktu. Membawa semua yang telah berlalu untuk di ungkap. Dirinya bukan tak tau bahwa suatu saat nanti waktu akan mengembalikan semua yang terlewat, tapi mengapa disaat semua masih baik-baik saja dia justru datang merubah haluan yang sebenarnya

***

Shilla memandang kalung berbandul bulan di lehernya. Semua seakan sulit untuk dirinya. Kalung.. bulan.. bintang.. dan Jojo.

"Jojo.. kamu di mana.. kamu masih inget sama aku.. hiks"

Shilla tak menyadari. Sebenarnya kenangan itu sudah berada di dekatnya. Bahkan hanya tinggal ia ia raih, semua akan menjadi nyata..

***

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...