Kamis, 17 Desember 2015

Secret Part 5



 Setahun lalu aku post cerbung ini dan baru bisa lanjut sekarang. Alhamdulillah baru dapet hidayah. Kalo mau baca dari awal bisa klik di salah satu label aja. Sekian makasi. Silahkan di baca dan tinggalkan komentar ya kawan. Dahhh

***
“Kak Ifyyyyy” Ify terperangah melihat segerombolan anak-anak yang berhambur menyambut kedatangannya. Ify tertawa melihat anak-anak tersebut yang saling tarik dan mendorong hanya untuk dapat memeluknya.

“Heyy hey kalian gak adil. Masak cuma Kak Ify doang yang di peluk. Kak Rio enggak ya. Ah ngambek ah. Mainan sama jajannya kakak buang aja”

“JANGANNNN” Ucap mereka serempak. Sebagian mereka yang tidak dapat menggapai tubuh Ify pun berpaling mengerubungi Rio yang berdiri dengan berkantong-kantong tas karton yang berisi mainan dan beberapa makanan.

“Ah curang lo pake ngancem segala. Mau jadi koruptor hah sudah mengajarkan suap menyuap. Dasar” Ucap Ify ketus dengan tatapan tajam kearah Rio yang sibuk membagikan barang-barang bawaannya pada bocah-bocah di hadapannya.

“Enak aja. Mereka tuh pinter lagi memilih yang lebih modal. Apaan lo gak bawa apa-apa ke mereka. Anak kecil itu polos Ify, gak cukup hanya dengan pelukan” Sahut Rio masih dengan aktivitasnya. Tak jarang ia melirik ke Ify yang mengerucutkan bibirnya.

Bughhh

Rio tersentak. Ia menatap sebuah boneka yang tergeletak di hadapannya. Rio mengedarkan pandangannya. Seorang anak perempuan berkepang dua dengan tubuh gempal berdiri sambil menggelayuti leher Ify. Anak tersebut menatap tajam Rio dengan muka memerah dan pipi mengembung yang sangat menggemaskan. Rio maupun Ify terkikik pelan melihat raut anak tersebut.

“Kak Iyo jahat. Kak Iyo gak boleh kayak gitu sama kak Ipi. Nanti kalo kak Ipi nangis gimana?”
Seorang anak laki-laki yang tadi sedang berada di pangkuan Rio pun beranjak. Ia berdiri seakan membentengi Rio dan temannya yang lain menghadap bocah itu.

“Ihh Icha tau yang jahat. Kasian tau kak Rio di lempar boneka. Nanti kalo jadi jelek gimana. Kan kasian nanti jadi Davi yang paling ganteng jadinya”

“Huuuu” Terdengar suara sorakan menyahuti ucapan Davi. Ify dan Rio pun mendekat. Bibir mereka masing-masing mengembang melihat keceriaan yang terpeta di wajah polos malaikat kecil di hadapan mereka.

“Temen-temen. Bu Ratih mana. Itu.. Itu Afi kejang-kejang” Ify maupun Rio menegang mendengar ucapan seorang anak. Disusul suara keterkejutan anak-anak yang lain.

“Yo..” Lirih Ify. Rio menatap mereka. Akhirnya Rio pun langsung melangkah meninggalkan yang lain dan mencari Afi di kamarnya.

“Anak-anak kalian gak usah panik ya. Afi sudah sama Kak Rio. Lebih baik kalian cari Bu Ratih bilang kalo disini ada kak Ify sama Kak Rio” Ucap Ify lembut membuat kepala mereka bergerak mematuhi ucapan gadis itu. Tak lama mereka pun berpencar saling memisahkan diri. Ify pun sama ia langsung beranjak dan menyusul Rio di kamar Afi.

***
Alvin menatap sebuah bingkai foto yang terpajang di hadapannya. Bingkai yang di dalamnya tergambar seorang gadis kecil berponi dengan pipi gembulnya yang dengan rona merah menampakkan wajah yang menggemaskan. Tangan Alvin meraih bingkai tersebut. Jarinya dengan lembut mengusap wajah di foto itu. Menelusuri setiap senti ukiran wajah yang hingga kini di matanya tetaplah yang paling sempurna.

Kini bayangan Alvin mulai berkelana. Memorinya justru menampakkan wajah seorang gadis cantik yang berdiri menatapnya dengan pandangan arti tersembunyi. Kalung bulan sabit yang entah semakin mengacaukan pikirannya. Mata Alvin memerah. Menatap tajam benda yang ia genggam di tangannya.

“Arghhh”

Pranggg

Suara erangan di susul suara pecahan pada bingkai foto yang di banting keras mengacaukan suasana hening kamar Alvin yang meremang. Kini mata Alvin tertuju pada sebuah kalung berbandul bintang yang tergeletak begitu saja di meja belajarnya. Dengan emosi Alvin menarik kalung itu pada kedua sisi yang berbeda. Dan..

Tringg

Bandul itu terlepas. Alvin melempar kalung yang telah menjadi dua bagian itu pada tong sampah di dekatnya. Dengan keadaan hatinya yang memanas, pemuda itu mengacak rambutnya emosi.

“Apa itu lo, hah. Apa iya lo sudah datang ke hidup gue. Kenapa? Kenapa sekarang lo datang? Kenapa gak dulu saat gue butuh lo ada di sisi gue. Saat hati gue masih mengenal dengan ketulusan. Kenapa harus sekarang? Semuanya gak lagi sama. Semua sudah berbeda, termasuk hati gue. Arghhh”

***
“Hai” Shilla mendongakkan kepalanya. Gabriel berdiri di hadapannya dengan dua buah cangkir teh hangat. Pemuda itu menyodorkan secangkir ke hadapannya.

“Lo belum tidur?” Tanya Gabriel sambil menyesap teh hangat di tangannya. Shilla menggelengkan kepalanya. Ia menyodorkan sebuah rajutan  di tangannya pada Gabriel.

“Saya ndak biasa tidur sebelum menyelesaikan rajutan ini Mas” Ucapnya. Gabriel menganggukkan kepalanya. Gabriel meletakkan cangkir di sebelahnya. Tangannya menopang dagunya sambil menatap Shilla yang serius menjalin benang-benang itu menjadi sebuah hasil rajut tangannya.

“Shil. Gue boleh nanya sesuatu gak?” Shilla menolehkan kepalanya ke Gabriel. Kedua alisnya bertaut menandakan ketidakmengertian maksud pemuda di sampingnya.

“Monggo mas”

“Elo gak sekolah?” Tangan Shilla mendadak terhenti mendengar pertanyaan Gabriel. Shilla menatap Gabriel dari sudut matanya. Mendadak Shilla menjadi merasa canggung duduk bersama majikan mudanya ini.

“Enggak mas. Saya, saya udah gak sekolah. Namanya aja anak dari janda yang cuma kerjanya nyuci sama gosok baju tetangga. Mana ada sekolah yang biayanya cukup hanya dari hasil cuci sama gosok doang mas” Ucap Shilla dengan senyum yang mengembang, namun sorot matanya yang tadi berbinar berubah sendu.

“Gimana kalo sekolah sama gue aja”

“Ha? Wah mas gak usah bercanda toh. Kalo saya sekolah di tempat mas saya bayar pake apa. Gaji saya aja belum tentu cukup” Gabriel tertawa mendengar ucapan Shilla. Tangannya mengusap rambut Shilla lembut.

“Lo tenang aja. Gue akan bilang sama mama. Gue yakin mama akan mengijinkan lo sekolah sama gue, oke. Eitss no comment. Sekarang lo balik ke kamar, besok kan lo harus bangun siapin sarapan”

Shilla mengangguk. Ia pun berdiri dan berjalan masuk ke rumah. Senyum mengembang di wajahnya. Tangannya menyentuh dadanya. Sedari tadi jantungnya tidak berhenti berdetak ketika bersama Gabriel beberapa detik yang lalu.

Owalah Shilla, Shilla nanti kamu bisa-bisa jantungan gini terus. Duh duh.. Gusti..
***
Ify terus memandangi sebuah foto di hadapannya. Senyumnya mengembang. Seorang pemuda yang beberapa hari lalu baru di kenalnya namun langsung seketika menambat hatinya. Mungkinkah ia jatuh cinta dengan pemuda itu.

“Kak Ify” Ify menolehkan pandangannya. Seorang gadis berusia tak jauh darinya berjalan mendekatinya. Gadis itu langsung mengambil tempat di samping Ify dan langsung memandangi gadis berusia dua tahun di atasnya itu.

“Nesya”

“Kakak kenapa kok dari tadi Nesya perhatiin kak Ify senyum-senyum terus. Hayooo kenapa hayooo” Goda Nesya. Ify menatap Nesya salah tingkah. Dengan jahilnya ia menyentil hidung gadis itu membuat sang empunya mengerang akibat ulah Ify. “Iihh Kak Ify”

“Lagian kamu masih bocah pikirannya. Oh ya Nes gimana si Afi. Dia baik-baik aja?” Tanya Ify mengalihkan pembicaraan, namun tetap tersirat kekhawatiran.

“Afi akhir-akhir ini memang sering begitu kak. Kita semua khawatir, apalagi aku. Tapi ibu bilang sama kita kalo Afi baik-baik aja, tapi Nesya gak percaya. Pasti ada sesuatu yang ibu sembunyiin”

Nesya menundukkan kepalanya. Jarinya sibuk memainkan ujung dress selututnya. Ify langsung menarik gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu ke pelukannya. Mengusap lembut rambut gadis polos di hadapannya.

“Kamu jangan gitu Nes. Biar bagaimanapun Bu Ratih itu tetap ibu kalian juga ibu kak Ify. Apapun yang terjadi kita harus selalu percaya sama beliau. Mungkin memang benar kalau Afi baik-baik aja. Udah ya jangan nangis”

“Kak, Nesya belum siap buat ninggalin panti. 15 tahun Nesya besar di sini. Merasakan bagaimana mempunyai seorang ibu, memiliki banyak saudara dan memiliki kakak seperti Kak Ify ataupun Kak Rio. Nesya belum siap. Nesya tau waktu Nesya gak lama lagi di Panti ini. Tiga tahun lagi Nesya akan keluar dari Panti. Menjalani hidup sebagaimana orang-orang pada umumnya. Jujur kak, Nesya belum siap”

“Nes siapa bilang kamu harus pergi. Panti ini rumah kamu. Di sini ada keluarga kamu. Kemana pun kamu pergi, suatu saat nanti kamu pasti akan kembali lagi ke sini. Di sini lah tempat kamu pulang” Ify menegakkan tubuh Nesya. Tangannya menangkup wajah gadis itu. Mengusap lembut kulit putih gadis yang ia sayangi sebagai adiknya tersebut. “Hidup kamu itu ya seperti ini. Bagaimana pun nanti kamu gak bisa ninggalin hidup kamu yang sekarang. Ngerti”

Nesya tersenyum. Tangannya meraih tangan Ify di wajahnya. Mengenggam dan mencium tangan Ify.

“Kak Ify mau janji apapun yang terjadi jangan tinggalin Nesya ya” Ify tak menjawab, namun ia hanya menyunggingkan senyumnya pada Nesya membuat gadis itu kembali menjatuhkan dirinya dalam pelukan Ify

***
Shilla memelankan langkahnya. Sudah beberapa kali selama ia melangkah gadis itu membuang nafasnya. Shilla menatap pintu kamar dihadapannya dengan gugup.

“Shill”  Shilla terlonjak kaget saat sebuah suara memanggil namanya. Shilla pun menoleh dan menatap seorang pemuda berdiri di hadapannya.

“Oh mas Gabriel saya kira siapa” Ucap Shilla gugup. Gabriel mengusap rambut Shilla lembut membuat rona merah terpancar di pipi putihnya.

“Lo ngapain di depan kamar Alvin”

Shilla menunduk. Tangannya terangkat memperlihatkan sebuah nampan yang berisi susu putih dan semangkuk sup yang asapnya masih mengepul. Gabriel mengangguk, tangannya menepuk pundak Shilla membuat gadis itu terlonjak.

“Woo hati-hati dong. Tuh mangkuk jatuh isinya bisa tumpah di kaki kita loh Shil. Bahaya, bisa-bisa kita di perban berdua” Ucap Gabriel sambil terkikik membuat Shilla menundukkan kepalanya malu.

Ceklek.

Gabriel menghentikan tawanya. Menatap pintu di hadapannya yang terbuka. Seorang pemuda berwajah datar muncul dari balik pintu tersebut. Gabriel menatap Alvin yang menatap kearahnya juga Shilla dengan pandangan dingin.

Sementara Shilla menundukkan kepalanya. Entah apa yang terjadi, tubuhnya mendadak bergetar. Tiba-tiba hati Shilla meronta ingin sekali menatap pemuda dingin di hadapannya, namun matanya berdusta. Kini yang terjadi tubuhnya seperti beku tak mampu hanya untuk sekedar berucap

“Shill, itu Alvin di depan lo” Bisik Gabriel. Shilla mengangguk namun kepalanya masih tetap menunduk.

“Mas i.. ini sarapan buat mas Al.. vin”

Alvin terdiam di depan kamarnya. Menatap gadis di hadapannya yang sedang menyodorkan nampan berisi makanannya. Alvin melengos, ia pun mengalihkan pandangannya dan mulai berjalan meninggalkan Shilla yang terpaku di tempatnya dan Gabriel yang mendengus melihat sikapnya.

Gabriel melirik Shilla. Entah apa yang ia rasakan. Melihat sikap Alvin terhadap Shilla mampu membuat emosinya yang selama ini selalu ia coba pendam seakan meluap tak tertahan lagi.

“Saya.. saya ke belakang mas. Permisi” Ucapan Shilla sontak membuyarkan lamunannya. Gabriel menatap punggung Shilla yang makin lama makin menghilang.

“Sebenarnya lo ini siapa sih Shill. Apa yang lo perbuat terhadap perasaan gue”

Sementara Shilla, entah apa yang terjadi pada dirinya. Mendapat perlakuan sedingin itu dari Alvin seakan perasaannya sakit. Sakitnya sungguh bukan sekedar sakit seperti tersayat. Bukan hanya sakit karena luka berdarah. Sakitnya jauh lebih sakit dari hatinya yang tertekan oleh sesaknya udara. Shilla menghentikan langkahnya. Menghapus air mata yang entah sejak kapan terjatuh.

“Kamu tuh harus sadar Shil. Siapa kamu dan dimana kamu” Batinnya meronta.

***
“Dania”

Dania menolehkan kepalanya. Seorang wanita paruh baya berdiri di ruangannya. Dania terpaku melihat wanita tersebut.

“Ibu” Wanita paruh baya itu tersenyum kearahnya. Bukan sebuah senyum yang dapat mengundang orang lain untuk membalasnya. Melainkan sebuah senyum yang seakan mengintimidasi siapapun yang mendapatkannya.

“Kenapa? kamu kaget saya disini?” Dania menggelengkan kepalanya. Ia berjalan kearah wanita itu dan mencium tangan wanita yang merupakan mertuanya tersebut.

“Bagaimana cucu saya? Apa dia baik-baik saja tinggal bersamamu”

“Alvin baik-baik saja bu. Cuma beberapa hari lalu dia berantem sama Mas Hardi” Ucap Dania sambil menggiring mertuanya itu duduk pada sofa ruangannya. Lalu berjalan ke mejanya menuju intercom dan memencet sebuah tombol kecil di sana. “Bawa secangkir teh hangat tanpa gula ke ruangan saya segera”

“Bagaimana mereka tidak berantem kalau suamimu itu hanya peduli pada anakmu saja. Sementara Alvin dia adalah anaknya”

“Alvin juga anakku bu” Sanggah Dania membuat wanita paruh baya itu mendesis. Romi, wanita itu menatap menantunya yang tidak menatap kearahnya. Senyum angkuhnya kembali hadir di wajahnya yang tak lagi muda itu.

“Sampai kapanpun anakku tetaplah anakku. Bahkan menantuku pun selamanya tetap satu. Aku heran dengan keputusan Hardi yang menikahimu yang seakan itulah hal terbaik untuk membunuhku perlahan”

Dania mendongakkan kepalanya. Menahan air mata yang seakan siap tumpah jika sedetik saja ia mengedip.

“Aku gak tau apa salah aku, apa salah Gabriel sehingga ibu dan Alvin gak bisa menerima aku. Aku mencintai Hardi tulus. Begitu pun Alvin, dia, dia adalah anakku Bu. Aku menghormati ibu bukan hanya sebatas mertuaku. Ibu adalah ibuku”

Romi beranjak dari duduknya. Menatap Dania yang sudah menangis di tempatnya. Romi mengalihkan pandangannya. Lalu perlahan melangkah meninggalkan Dania yang terisak di tempatnya.

“Bagaimana bisa aku mempercayaimu jika kamu dan anakmu itu tetap bertahan di sini dengan gelimangan harta Hardi juga Raina. Jangan lupa Dania. Perusahaan ini adalah milik menantuku. Dan sampai kapanpun aku tidak akan berbaik hati padamu jika kamu masih menegakkan tubuhmu di atas kekakuan Raina. Ingat itu”

Dania merosot dari tempatnya. Terisak dengan perasaan sakit yang sungguh menyiksa batinnya. Dania tak peduli saat seorang karyawannya melihat dirinya yang hancur. Biar mereka menyadari bahwa inilah dirinya. Sosok wanita yang mencoba tegar untuk mempertahan rumah tangga yang ia tahu itu semua berdiri di atas sebuah kesalahan.

Gabriel langsung berlari menuju mamanya yang sedang terisak di sofa gading ruangannya. Gabriel tak perlu berpikir panjang saat melihat tubuh wanita yang di sayanginya tersebut bergetar di sertai isakan yang begitu membuat hatinya bergetar sakit.

“Sudah ma cukup. Ada Gabriel disini. Kita lewati semuanya dengan sabar ya ma. Gabriel yakin Oma tidak akan lama membenci kita. Karena hati oma tetaplah hati seorang ibu. Dan yang Gabriel tau hati seorang ibu itu lembut melebihi dari kapas. Seperti hati mama”

Dania semakin terisak keras membuat Gabriel semakin dalam mendekap ibunya tersebut. Gabriel menegakkan tubuh Dania. Menangkupkan kedua tangannya pada wajah Dania yang sudah penuh air mata. Gabriel mengusapkan jarinya pada kedua pipi wanita yang sangat ia cintai itu.

 Dania menatap putranya. Air matanya tak henti mengalir membasahi wajahnya yang masih terlihat cantik. Sumpah demi apapun pelukan Gabriel adalah pelukan terhangat yang selalu ia rasakan. Usapan Gabriel pada wajahnya adalah usapan terlembut yang seakan membuai perasaannya. Rasa sayangnya pada putra yang ia besarkan penuh cinta seorang diri dari saat Gabriel berusia 3-17 tahun adalah saat dimana semuanya masih terlihat indah, hingga pada akhirnya Dania bertemu dengan suaminya saat ini.

“Sekarang kita pulang ya ma. Mama istirahat di rumah. Biar kerjaan mama Gabriel teruskan di rumah. Ayo ma”

Gabriel mengangkat tubuh mamanya. Mengalungkan tangan mamanya pada lehernya. Gabriel mendekap pinggang mamanya dengan hati-hati. Gabriel sadar bahwa kehadirannya adalah sebuah kekuatan bagi mamanya. Apapun yang terjadi Gabriel bersumpah, ia akan terus menjaga mamanya itu. Tak akan ia biarkan siapapun menyentuh apalagi menyakiti wanita kesayangannya.

***
Rio memandang wajah Ify dari spion kecil di hadapannya. Rio mendesah, gadis itu begitu dekat untuk sekedar di pandang namun begitu jauh untuknya meraih hati gadis yang ia cintai atas kata sahabat itu. Rio dapat merasakan saat ia dengan mudah dapat memeluk tubuh Ify. Dapat mencium gadis itu. Selalu merasakan kehangatan tubuhnya. Namun semua itu tak berarti baginya bila ia pun tak dapat memiliki hati Ify.

“Aryo Mahesa apa lo denger ucapan gue tadi?” Rio tersentak. Ia menolehkan kepalanya menatap Ify yang memandangnya tajam di sertai bibir mungil gadis itu yang mengerucut.

“Eh apa Fy? Eh iya.. tadi lo ngajak gue ngomong? Apaan sih”

Ify mencibir mengetahui reaksi Rio terhadapnya. Sumpah demi apapun hatinya benar-benar dongkol setengah mati saat ia panjang lebar bercerita tapi ujung-ujungnya lawan bicaranya hanya memasang wajah bodoh bertanya apa yang ia ucapkan. Rasanya Ify ingin menendang Rio keluar dari mobil pemuda itu. Tapi kalo di tendang Ify tidak akan memiliki korban crimenya dong. Aishh.

“Gak itu loh tadi gue lagi ngobrol sama angin. Eh gue oon udah tau angin di ajak ngobrol, ya udah tuh angin lewat aja di depan gue”

“Apaan sih Fy. Gak lucu deh. Gue udah serius nanya”

“Liat noh si Sule kalo mau ngelucu” Jawab ify membuat Rio menggelengkan kepalanya. Rio mendengus saat ia mengetahui gadis itu justru sibuk mengotak-atik handphonenya tanpa meliriknya sekalipun.

“Fy beli ice cream yuk” Sejenak Ify menghentikan kegiatannya. Menatap Rio memastikan apa yang ia dengar semua bukanlah khayalannya.

“Choco cream with capuchino sauce bertabur choco chip with double cone” Bisik Rio di telinga Ify yang membuat gadis itu terdiam dan beberapa kali mengecap lidahnya. Rio menyeringai melihat reaksi Ify atas ucapannya.

“Rio kalau sampek lo berhenti di depan rumah gue, gue akan pastikan malam ini tidur lo gak bakal tenang, ngerti” Ancam Ify membuat Rio terkikik sambil mencubit hidung mancung Ify membuat gadis itu meronta.

“Asal lo gak ngambek lagi beb” Ucapnya menggoda Ify yang membuat gadis itu merengut, tak lama gadis itu tersenyum dengan paksa di kedua sudut bibirnya sambil mengangguk dan mencubit kedua pipi Rio.

“Gue gak ngambek kok. hehe” Rio tersenyum dengan sikap Ify terhadapnya. Rio melirik Ify. Dalam hati ia bersyukur dapat menikmati secara puas wajah indah gadis yang di cintainya itu.

Kalaupun dengan mencintai lo tanpa lo tahu pun bisa menjadikan gue alasan lo selalu bahagia. Gue rela menjalani cinta walaupun hanya setengah hati gue yang merasakannya. Karena bagi gue mencintai lo sederhana. Ketika dunia seakan berputar menciptakan suatu keajaiban yang selalu membuat lo tersenyum. Itulah ingin gue selalu. Mencintai lo sesuka gue tanpa lo tahu namun dapat menikmati senyum yang hanya untuk gue.

***
Bersambung

Sabtu, 05 Desember 2015

Hilang dan Berganti (Short Story)


***
“Yiat deh aku cantik kan. Kata tante Pia anak peyempuan itu pasti cantik. Kayak bunda. Tante Pia biang kayo bunda itu cantik banget. Kayak aku.” Ucap seorang bocah perempuan berkuncir dua dengan baju pink mengembang di bawahnya. Bocah tersebut tampak memainkan roknya. Memutar tubuhnya di hadapan cermin. Memperlihatkan tubuhnya yang mungil mengibaratkan dirinya bak princess

“Iihhh Ify gak boleh gitu dong. Liat deh aku. Aku tuh ganteng. Tau gak kata papa aku, aku ini mirip loh sama papa kamu, namanya sama kayak aku, Rio. Trus aku gak cadel kayak kamu. Wlek Ify jelek”

Tak mau kalah. Seorang bocah laki-laki yang berusia sama dengan bocah perempuan itu mengunggulkan dirinya. Merasa bahwa hanya dirinyalah yang paling sempurna. Tentunya karena fasihnya bocah tersebut mengucapkan huruf “R” dan “L”.

“Huaaa tante Pia om Apin, Iyo jahat. Huaaa hiksss hiksss”

“Ify jelek, Ify cadel, Ify jelek, Ify cadel”

“Loh loh ada apa ini. Loh Ify kok kamu nangis”

Ify, Sang bocah perempuan itu mendongakkan kepalanya. Menatap seorang wanita yang berdiri di pintu kamar bermain mereka. Bocah cantik tersebut lantas berdiri dan berlari kearah wanita tersebut. Kemudian melingkarkan tangan mungilnya pada pinggang ramping wanita itu.

Via, wanita itu tersenyum menatap tingkah lucu bocah cantik di hadapannya. Via mengusap rambut bocah yang terkuncir lucu tersebut. Lantas membawanya pada gendongannya. Di bawanya Ify menuju kursi berupa bola raksasa di tengah ruangan yang disana juga berdiri si bocah laki-laki yang sedari tadi sibuk bermain mobil-mobilan yang di jalankan pada dinding di kedua tangannya.

“Rio, kamu ngapain Ify kok dia nangis. Rio hentikan permainan kamu. Liat mama”

Rio bocah tersebut menolehkan kepalanya. Menolehkan wajahnya pada Via, mamanya. Rio menundukkan kepalanya melihat raut wajah mamanya yang terlihat marah padanya. Rio mendongakkan kepalanya saat ia melihat seorang pria yang kini berdiri di pintu ruangan bermainnya. Rio lantas beranjak dari tempatnya dan berlari menuju pria itu dan bersembunyi di belakangnya. Tangan mungilnya melingkar di pinggang pria itu.

“Papa. Mama marah-marah. Rio takut” Ucap bocah tampan tersebut. Pria itu menatap istrinya yang mendekap erat tubuh mungil sang gadis kecil yang terlihat terisak. Pria tersebut menghela nafas melihat tatapan yang di isyaratkan oleh istrinya tesebut.

“Vin, bawa Rio kesini” Alvin, laki-laki tersebut melepaskan rengkuhan mungil di pinggangnya. Membalikkan tubuhnya dan berlutut di hadapan jagoan kecilnya tersebut. Tangannya mengusap rambut ikal putranya, kemudian mencubit kedua pipi merah yang mengembung milik putranya tersebut.

“Ke mama yuk” Rio menggelengkan kepalanya dengan bibir mengerucut. Tangannya memainkan rambut papanya. Alvin mendekatkan bibirnya pada telinga Rio, membisikkan sebuah kalimat.

“Kamu katanya jagoan. Jagoan itu harus berani mengakui kesalahan loh. Harus minta maaf  kalo salah. Kamu gak kasian sama Ify. Memangnya kamu mau mama kamu lebih sayang sama Ify” Rio membulatkan matanya. Matanya menatap takut kearah mamanya yang menatap kearahnya dan papanya. Matanya kembali mengarah pada sang papa. Kepalanya menggeleng cepat. Ia menjauhkan tubuhnya dari papanya dan berlari  kearah mamanya.

“Ify.. Ify maafin Rio. Ify jangan marah sama Rio. Ify mau main lagi ya sama Rio. Ify cantik kayak bundanya Ify sama mamanya Rio. Nanti Rio ajarin Ify ngomong R sama L. Ify jangan marah ya”

Ify menegakkan tubuhnya. Menatap heran bocah laki-laki di hadapannya. Kemudian matanya menatap kearah wanita yang mendekapnya. Dilihat wanita itu menganggukkan kepalanya. Ify kembali menatap Rio. Kemudian dengan bibir mengerucut dan tangan yang bersedekap di dada kepalanya ia palingkan dari Rio.

“Yahhh. Mama papa. Ify marah sama Rio”

Via menatap Ify di pangkuannya. Tangannya mengusap lembut rambut halus Ify. Via mendekatkan bibirnya pada wajah gadis lucu tersebut.

“Sayang dengerin tante ya. Katanya kamu mau jadi princess. Princess itu bukan pemarah lo. Dia itu pemaaf juga selalu minta maaf kalo salah. Princess itu cantiknya bukan cuma wajah tapi..” Via menghentikan kalimatnya. Tangannya meraih tangan mungil Ify. Mengarahkan tangan mungil itu ke dada gadis kecil di hadapannya. “Hatinya juga harus cantik sayang”

Ify menatap wajah Via yang tersenyum di wajah cantik wanita tersebut. Tangan mungilnya meraih wajah Via. Mengelus pipi wanita itu. Via mengenggam lembut tangan Ify dan mengecupnya penuh sayang. “Benen tante”

Via menganggukkan kepalanya. Ify merosot dari pangkuan Via. Berjalan kearah Rio yang memainkan bajunya dengan kepala menunduk.

“Iyo. Ipi maafin Iyo deh. Ipi juga mau maen agi sama Iyo”

“Bener”

Ify menganggukkan kepalanya. “Tapi Iyo janji mau ajain Ipi bian gak cade agi. Janji”

Ify mengajukan kelingkingnya di hadapan Rio. Rio dengan senyum polosnya menyambut kelingking Ify “Janji”

Via melirik Alvin. Senyumnya mengembang pada laki-laki yang di cintainya tersebut. Menatap suaminya yang menatap kearah anaknya dan.. bayangan masa lalunya dulu.

***
Duk duk duk

Suara pantulan bola menggema pada lapangan yang kini terlihat sepi. Seorang pemuda berkulit putih tampak menggiring bola berkulit orange itu menuju sebuah keranjang yang berdiri pada ujung lapangan.

“Yee masuk. Alvin kamu hebat sayang. Ayo Vin masukin lagi bolanya”

Alvin, pemuda itu menatap ke pinggir lapangan. Tersenyum pada seorang gadis berdagu tirus yang memandangnya penuh binar. Alvin melempar bolanya ke sembarang arah. Kemudian berlari kecil kearah gadis itu yang menatapnya sebal.

“Kok udahan” Tanya gadis itu dengan suara merajuk. Pemuda itu terkekeh. Mengacak rambut kekasihnya dan menyempatkan mencium kepala gadis yang ia cintai itu.

“Kamu tega liat aku kecapekan. Liat nih badan aku udah keringatan Ify sayang. Aku haus. Kamu gimana sih jadi pacar kok gak peka banget”

Ify menundukkan kepalanya. Memelintir baju seragamnya. “Maaf deh. Ya udah nih minum. Sini aku bersihin muka kamu”

Ify mengambil sebuah handuk kecil pada ransel Alvin di sampingnya. Tangannya dengan lembut mengarahkan handuk tersebut pada wajah tampan Alvin. Mengusap penuh sayang wajah pemudanya. Alvin menatap Ify dalam. Senyumnya tak henti mengembang. Menikmati wajah cantik gadisnya adalah hal yang selalu membuatnya seperti candu. Selalu ingin, ingin dan terus ingin melakukannya.

Ify semakin menundukkan wajahnya. Menyembunyikan wajahnya yang memerah karena gugup akibat tatapan intens Alvin. Ify mendongakkan kepalanya saat Alvin dengan lembut menyentuh dagunya mengarahkan agar menatapnya lurus kearah pemuda itu. Ify reflek menutup matanya saat ia merasakan wajah Alvin mendekat kearahnya. Dapat ia rasakan hembusan hangat menerpa wajahnya. Ify melingkarkan tangannya pada leher pemuda itu. Hidung mereka saling bersentuhan.

“Ekhem” Mereka tersentak. Ify maupun Alvin menarik diri mereka masing-masing. Ify menundukkan wajahnya merasa malu kepergok orang lain sedang, sial. Sementara Alvin menatap tajam orang yang telah menganggu waktunya tersebut.

“Sorry bro. Bukannya maksud ganggu. Liat situasi dong. Hehe. Oh ya Fy, lo di cari Via tuh di perpus. Ekhem”

“Riooo, ish sial” Rio, pemuda itu terkekeh melihat raut kesal sahabatnya. “Awas lo kalo berduaan sama Via gue ganggu” Rio melirik Alvin. Menggoda sahabatnya tersebut yang hanya mendengus.

“Ehmm Vin aku cari Via dulu ya” Alvin menganggukkan kepalanya, menatap gadis mungil yang berlari kecil sembari menundukkan kepalanya.

“Yo, kita one by one. Siapa yang banyak poinnya. Dia kudu di traktir sepacar-pacarnya”

“Oke siapa takut” Rio langsung mengambil bola basket dari tangan Alvin dan menggiringnya menuju ring. Alvin langsung menyusul pemuda itu untuk merebut bola berkulit orange tersebut.

***
Via menatap heran Ify yang sedari tadi hanya memanyunkan bibirnya dengan omelan kecil yang sedikit mengganggunya.

“Lo kenapa sih Fy. Muka lo duhh “ Ify menatap tajam Via. Tangannya terlipat dengan bibir mengerucut membuat Via tak tahan untuk tidak terkekeh.

“Lo tuh kalo cari pacar yang bermutu kek dikit. Apaan gak bersyukur punya pacar kayak lo. Dia selalu gue sama Alvin”

“Rio?” Ify memutar bola matanya. Mendengus dan menatap kesal kearah sahabatnya tersebut.

“Menurut lo?”

Via menggelengkan kepalanya. Matanya kembali terfokus pada buku di hadapannya yang sempat ia abaikan.

“Fy, lusa hari anniv kita loh. Lo inget kan?” Ify menolehkan kepalanya kearah Via. Menautkan alisnya untuk berpikir. Tak berapa lama kedua mata coklatnya tersebut melebar.

“Astaga gue lupa, yah gue belum siapin apa-apa buat Alvin. Gimana dong” Via tersenyum mendengar ucapan Ify. Ia menyingkirkan buku di hadapannya setelah sebelumnya ia lipat pada halaman terakhir bacaannya.

“Lo kayak gak tau Alvin aja. Bukannya dari dulu dia selalu ngajak kita berempat duduk di atap gedung, trus lilin satu di tengah sama snack. Bukannya kita sesederhana itu dari dulu.”

Ify mendesah kecewa. Yang di katakan sahabatnya sesungguhnya memang benar yang terjadi. Namun apa salah bila hatinya meminta lebih. Bukan hanya sekedar duduk, membicarakan nostalgia yang indah namun telah terlewat. Ify jujur dalam hatinya bahwa ia jenuh.

“Arti anniv dalam hubungan kita masing-masing bukan sekedar senang Fy. Itu adalah kedewasaan dalam hubungan kita sama pasangan kita. Walaupun sederhana bukan jadi masalah dalam menjalin hubungan lebih baik lagi. Yang mencintai itu hati bukan ego. Ketika lo mencintai pasangan lo dengan sederhana, apapun akan mampu lo lewati dengan sederhana juga. Sana gih sudah di jemput Alvin”

Ify menganggukkan kepalanya. Bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekati Alvin yang berdiri di pintu perpusatakaan dengan senyum. Ify membalas canggung senyum Alvin. Ia hanya diam ketika pemuda itu mencium keningnya begitu dirinya telah sampai di hadapan kekasihnya itu.

“Fy kita pulang sekarang ya. Habis ini aku ada latihan sama anak basket buat pertandingan lusa”

Ify menganggukkan kepalanya. Senyumnya getir mendengar ucapan lantang kekasihnya. Basket dan dirinya gak akan bisa sama dalam hidup Alvin. Dan ia cukup tahu akan itu.

***
“Maaf Yo, aku gak bisa pulang bareng kamu. Aku sama Dea mau ke rumah Agni buat ngurus proposal pertandingan basket sekolah. Gak papa kan Yo”

“Oh gitu. Ya udah gak papa. Jangan pulang malem, jangan lupa makan. Maag kamu bahaya kalo kamu lewati semenit aja” Ucap Rio posesif membuat Via memutar bola matanya. Kepalanya mengangguk. Rio tersenyum melihat punggung Via yang menjauh.

Rio berjalan meninggalkan koridor sekolah. Langkahnya sontak terhenti saat ia melihat pintu menuju tangga atap sekolah terbuka. Entah dorongan darimana langkah Rio dengan ringan berjalan menaiki satu-satu tangga tersebut. Matanya menangkap seorang gadis di pinggir sana duduk sambil memandang lurus ke depan.

“Fy”

Ify mengalihkan pandangannya. Alisnya terangkat saat ia melihat seorang pemuda berdiri di sampingnya. “Rio?”

“Lo ngapain di sini? Sendirian lagi. Alvin mana? Kok lo gak pulang?” Ify tertawa kecil begitu mendengar rentetan pertanyaan beruntun dari Rio. Kepalanya menghadap Rio yang kini telah mengambil posisi sama dengannya. Duduk dengan kaki terjuntai di tepi atap.

“Lo nanya gak mau santai deh. Gue lagi males pulang. Sepi di rumah. Gue gak sendirian, ada lo tuh. Alvin. Dia lagi latihan buat pertandingan besok”

Rio menganggukkan kepalanya. Ia mengalihkan pandangannya ke depan mengikuti arah pandang Ify. Helaan nafas menghiasi kebungkaman di antara keduanya. Hingga suara deheman membuyarkan keheningan mereka.

“Besok apa kita bisa merayakan anniv kita seperti dulu Fy?” Ify menolehkan kepalanya kearah Rio. Kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke semula.

“Apa ada ketidakmungkinan itu Yo” Lirih Ify. Rio menundukkan kepalanya. Matanya terpejam menikmati terpaan angin yang mengusap wajahnya. Perlahan kepalanya bergerak kekanan-kiri menjawab pertanyaan Ify. Ify tersenyum lirih.

Ify memejamkan matanya. Menahan air matanya yang ia rasa ingin mendesak keluar. Ify segera menghapusnya setelah setetes berhasil meluncur dari matanya.

“Gue tidak akan menghalau bagaimana pun waktu itu berjalan Fy. Karena pada nyatanya kita tidak akan pernah menghentikan permainan takdir. Kalau pada nyatanya semua terhenti atau bahkan terganti gue ikhlas menjalaninya”

Ify menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan matanya mengalirkan sepasang tetes air yang mengaliri kedua pipinya. Rio menolehkan matanya menghadap Ify. Menghapus air mata yang mengalir di wajahnya. Menikmati pahatan sempurna yang berhasil mengasingkan perputaran waktu dan terhenti tepat di detik saat mata itu tenggelam dalam pandangannya.

***
Via menatap nanar sebuah pesan dari handphone- nya. Air mata menembus mata cantiknya. Sungguh sakit ia membaca pesan tersebut. Via memejamkan matanya. Mengeratkan kepalan pada tangannya.

Aku gak maksa kamu biar bisa dateng kok sayang. Gak papa selesaikan aja tugas kamu. Aku gak papa sendiri. Ada Ify sama Alvin kok di sini.Happy anniv sayang. Aku sayang kamu. Love you darling.

“Vi. lo ngapain di sini. Kenapa gak pulang. Lo gak dateng. Rio pasti nunggu lo”

Via menggelengkan kepalanya. Tangannya menghapus air mata yang sedari tadi membasahi wajahnya, mengacaukan perasaannya.

“Lo sendiri ngapain di sini. Bukannya pertandingan sudah selesai karena lo gak lolos babak selanjutnya. Bukannya segera kesana. Lo gak kasian sama Ify. Dia pasti nunggu lo”

“Gue tau dia kecewa sama gue. Dan gue gak mau ngeliat dia makin kecewa kalo gue tiba-tiba dateng dan dia tau kalo gue gagal. Gue..”

“Apa kita terlalu jahat Vin sama mereka. Gue sadar kalo kita ini bukan lagi seperti dulu”

“Mereka pasti ngerti” Ucap Alvin sambil mengusap rambut Via. Memberikan ketenangan untuk gadis itu. Sementara hatinya sendiri menjerit keras namanya. Nama gadis yang sangat ia cintai tersebut. Ilfyna Raysa.

***
Rio mengenggam tangan Ify. Mengusap lembut tangan kekasih sahabatnya tersebut. Memberikan kehangatan untuk tangan dingin gadis itu. Rio terpaku melihat wajah di hadapannya. Cantik. Rio tersentak. Detak jantungnya tiba-tiba memburu. Bayangan-bayangan saat Ify bersama Alvin terputar di otaknya. Sakit, mendadak dadanya sakit.

Gue jatuh cinta sama Ify. Batinnya bertanya. Matanya terus menatap lekat wajah itu.

“Fy apa lo masih bertahan sama Alvin?” Ify tersentak. Ia menatap Rio di hadapannya. Memastikan pertanyaan yang baru saja keluar dari bibir pemuda itu

“Ngapain lo tanya hal itu?”

“Ada celah Fy buat lo dapetin hati lo yang kosong. Jangan munafik. Mana ada cewek yang tahan pacaran sama cowok yang cintanya terbagi sama sebuah bola. Apa lo udah gak ada artinya lagi buat Alvin”

Ify segera menarik kasar tangannya saat ia merasa begitu mendengar ungkapan Rio yang terdengar merendahkannya. Ia menggelengkan kepalanya sambil menatap Rio.

“Gue cuma ngomong fakta. Dan lo harus tau kita ini sama. Dan kita sebaiknya saling melengkapi”

Ify langsung bangkit dari duduknya. Mengambil tas selempangnya dan berjalan menjauhi Rio. Rio yang di tinggal gadis itu segera bangkit dan menyusul. Rio mencekal tangan Ify. Menarik tangannya hingga langkah gadis itu terpaksa terhenti.

“Lo kenapa sih Fy? Apa salah sama omongan gue. Gue..”

“Gue sudah ada Alvin. Dan harusnya lo sadar lo itu ada Via” Mendengar ucapan Ify sontak Rio tersenyum, namun bukan senyum tulus yang selama ini selalu di tampakkan pemuda itu di saat hari biasanya.

“Alvin? Mana? Bukannya dia lebih cinta hidupnya dengan basket daripada lo. Fy dengerin gue ya. Gue sayang sama lo”

Plak

Rio mengusap pipinya yang memanas akibat tamparan tangan Rio. Ia menatap Ify tak percaya. Sementara Ify sudah mulai menggenangkan aliran dari mata coklatnya.

“Lo tuh gila Yo. Gue. Akhhh. Lo punya Via gimana caranya lo bisa sayang sama gue. Gue gak bisa”

“Fy dengerin gue. Kita itu sama. Lo ataupun gue terabaikan. Apa salahnya kalo kita saling melengkapi. Fy, percuma kita jalani hubungan kita masing-masing kalo gak ada rasa. Gue tau ini mungkin salah. Tapi cinta gak akan salah Fy asal lo bisa percaya sama gue”

Ify menggelengkan kepalanya. Mengalihkan tangan Rio yang menyentuh kedua pipinya. Air matanya kian deras mengalir di wajahnya.

“Lo sadar dong. Alvin itu sahabat lo. Gimana caranya bisa lo sayang sama pacar sahabat lo sendiri. Lo picik Rio. Gue benci sama lo”

Ify langsung pergi meninggalkan Rio, namun Rio tetap mengejar dan menarik tangan Ify makin keras sehingga gadis itu terhempas kearahnya. Entah setan apa yang sedang mempengaruhi otak Rio, pemuda itu langsung mencengkeram tangan Ify. Mendekatkan kepala gadis itu kearahnya dan langsung menyentuh bibir mungil gadis itu dengan bibirnya secara kasar.

Ify memejamkan matanya erat. Rasanya bukan hanya bibirnya yang terasa sakit karena gigitan dari Rio yang membuat robekan di bibirnya hingga berdarah. Hatinya pun sama. Sakit. Terasa begitu kuat remasan di hatinya membuatnya sesak tak karuan. Air mata kini mengalir deras di pipinya. Setelah sekian lama Rio melepas bibirnya. Menatap Ify yang beringsut lemah dengan isakan yang membuatnya sungguh menyesal.

“Fy gu.. gue minta maaf” Ify menatap tajam Rio.

Plak.

Lagi tamparan mendarat di pipi pemuda itu. “ Brengsek. Gue benci lo Rio. GUE BENCI LO”

Ify langsung bangkit mendorong Rio yang ingin mendekatinya lagi. Ia berlari dengan air mata yang deras dan tak henti mengalir. Tangannya meremas dadanya. Sakit itu kian menyiksa dirinya.

Alvin. Via. Rasanya ia ingin menenggalamkan dirinya. Mengenyahkan keberadaannya dari dua orang yang ia sayangi. Sungguh Ify sangat menyesal.

“Maaf.. maaf”

***
“Sayang, kamu kenapa sih kok diem aja. Kamu sakit. Bilang sama aku. Kita pulang aja ya kalo kamu sakit biar aku minta ijin ke guru piket”

Ify tetap diam. Pandangannya kosong menatap ke depan. Tak ia pedulikan keberadaan Alvin yang mengkhawatirkan dirinya.

“Fy, kamu marah sama aku karena aku gak bisa dateng tadi malam. Aku minta maaf aku..”

Ucapan Alvin terhenti saat tiba-tiba Ify memeluknya. Alvin mematung saat tubuh gadis itu bergetar. Disusul dengan isakan yang semakin membuatnya bingung. Alvin menjauhkan tubuh Ify. Mencengkeram lembut kedua bahu gadis itu. Tangannya menangkup wajah Ify yang menunduk. Alvin menyentuh dagu Ify, mengusap wajah tirus itu yang kini telah banjir oleh aliran air mata

Ify memejamkan matanya. Merasakan kelembutan usapan tangan Alvin pada wajahnya. Tiba-tiba bayangan itu. Bayangan yang membuatnya merasakan sakit bukan hanya tubuhnya yang ia siksa semalam untuk menghilangkan sentuhan laki-laki itu, namun juga hatinya.

Alvin kembali menarik Ify kepelukannya. Mencium puncak kepala gadis yang ia cintai itu. Sungguh dalam hatinya ia menjerit sakit melihat air mata yang terus tanpa henti menghiasi wajah gadisnya. Belum lagi wajah gadis itu yang ia lihat memucat. Di tambah lingkaran hitam di sekitar wajahnya yang membuat hatinya terasa di sayat-sayat benda tumpul tiada henti.

“Vin. A.. aku mohon ja.. jangan tinggal.. tinggalin aku. Aku sayang kamu Vin. Aku mohon ja.. jangan tinggalin aku apa.. pun yang terjadi”

Alvin mengangguk. Mencium berkali-kali puncak kepala Ify. Alvin terus mengeratkan pelukannya pada gadisnya. Membiarkan gadis itu perlahan tertidur di dekapannya.

***
“Kamu suka sama Ify?” Rio menolehkan pandangannya dari dua sejoli yang saling mendekap di sana. Menatap Via yang juga menatap kearah pasangan tersebut dengan sendu. Rio mendekati Via menyentuh tangan gadis itu, namun Via langsung menepisnya.

“Aku..”

“Apa yang terjadi semalam? Kenapa Ify sampai begitu. Apa yang terjadi Rio. Aku tau ada sesuatu yang kamu sembunyikan tentang Ify. Iya kan?” Rio menundukkan kepalanya. Tak berani menatap Via yang ia yakini menatapnya dengan luka.

“Aku liat kejadian semalam”

“Apa?”

***
Via mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata. Berulang kali matanya tak fokus terbagi antara jam tangannya juga jalan yang di laluinya. Ia tau ia sudah terlambat. Biar pun ia dapat cacian dari Ify maupun Rio ia tak peduli. Yang penting mobilnya segera tiba di tempat yang benar-benar sangat ia inginkan untuk menginjaknya saat ini.

Mobil Via memasuki kawasan sebuah cafe. Tempat yang berbeda malam ini untuk merayakan hari spesial hubungannya dengan kekasihnya. Bukan hanya dirinya dan Rio, namun sahabatnya juga sedang merayakannya malam ini.

Mobil Via mendadak berhenti saat matanya menatap seorang gadis yang nampak berjalan terburu-buru keluar cafe. Di susul seorang pemuda yang begitu ia kenal. Entah apa yang terjadi membuat Via mengurungkan niatnya untuk turun dan menemui mereka.

Via menurunkan kaca mobilnya. Beruntung saat ini tempat ini tidak begitu ramai sehingga samar-samar ia bisa menangkap percakapan dua sepasang di sana. Via memejamkan matanya saat ia melihat pemuda itu yang tak lain adalah Rio sedang menyetuh wajah Ify. Ia tahu gadis itu sedang menangis saat ini. Entah apa yang mereka bicarakan namun melihat reaksi Ify yang langsung menampar Rio, ia yakin ada sesuatu yang salah.

Dua orang itu kembali berdebat, lalu Ify yang kini pergi namun lagi-lagi Rio menahan gadis itu, menariknya dan..

Air mata Via meluncur membasahi wajahnya. Dengan jelas ia melihat semua itu. Kekasihnya, pemuda yang sangat ia cintai mencium dengan kasar bibir sahabatnya. Tangan Via terangkat menyentuh bibirnya. Bersama Rio, pemuda itu bahkan dirinya selalu menjaga agar apapun yang mereka miliki tetap utuh. Namun malam ini seakan semua yang telah ia jaga seakan luruh menghancurkan apa yang ia miliki.

Via menekan dadanya dalam saat ia melihat tubuh Ify yang beringsut lemah di tanah. Isakannya pecah menemaninya merasakan kepedihan yang ia dapat saat ini. Via mengalihkan pandangannya saat Ify berlari melewati mobilnya dengan tangisan yang jujur menyakiti hatinya.

Via menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok mobil. Tangannya meremas frustasi rambutnya. Sungguh seakan perasaannya luluh tak lagi utuh

***
“Gue tau disini salah gue yang gak bisa menjaga agar ruang itu ada di antara kita. Tapi apa lo bisa menjaga hati lo. Trus siapa yang harus di salahkan. Gue? Ya gue memang salah gak bisa meluangkan waktu sedikit aja untuk lo. Tapi apa pantas apa yang selama ini usaha untuk gue pertahankan. Cinta kita, hubungan kita juga kepercayaan yang selama ini kita jaga untuk tetap utuh tiba-tiba hancur hanya karena keegoisan”

Rio meremas rambutnya. Memukul secara frustasi kepalanya. Mendengar kata per kata yang meluncur dari bibir kekasihnya yang seakan menghakiminya telak.

“Itu cuma kesalahan. Aku khilaf. Tolong percaya Vi”

Via terkekeh. Menatap sinis kearah Rio. Ucapan konyol yang seakan ingin membuatnya merobek dada Rio. Melihat terbuat dari apa hati yang ada di tubuh pemuda itu.

“Khilaf? Lo bilang khilaf. Kenapa gak lo perkosa Ify sekalian di depan gue Rio. Kenapa cuma sebatas ini lo nyakiti gue. Gue gak butuh jawaban dari mulut munafik lo. Kalo memang gue gak berarti apa-apa buat lo gue akan siap pergi”

“Via” Langkah Via terhenti saat sesuatu melingkar di pinggangnya. Air mata kini jatuh membasahi kedua pipi chubbynya. Via memejamkan matanya saat Rio membalikkan tubuhnya menghadap pemuda itu. Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Via.

Rio menatap gadis di hadapannya. Gadis yang dulu di cintainya. Gadis yang dulu dengan bangga ia miliki. Dan gadis yang telah ia khianati oleh egonya.

“Gue minta maaf. Lo adalah gadis baik. Dan gue gak cukup pantas untuk miliki lo. Tapi lo harus tau gue berhak di hukum apapun atas kesalahan gue tapi tolong jangan tinggalin gue. Gue mohon Vi”

Via menggelengkan kepalanya. Menyingkirkan tangan Rio di wajahnya. Kini pandangannya tak lagi setajam tadi, justru kini terlihat sendu bahkan mengiba.

“Gimana caranya gue gak ninggalin lo kalo ternyata hati lo gak ada lagi di tempatnya. Gue gak tau apa sefatal ini kesalahan gue sampek buat lo berpaling. Sumpah demi apapun lo bukan hanya hancurin kepercayaan gue. Tapi hati gue secara singkat lo buat jadi hilang. Brengsek lo bener-bener brengsek, lo gak punya hati Rio. Arghh”

Via langsung mendorong Rio hingga pemuda itu menghantam dinding di dekat mereka. Tak peduli dengan seruan-seruan yang memanggil namanya. Via tetap pergi menembus gerombolan siswa yang lalu lalang di hadapannya.

Rio memejamkan matanya saat kata itu kembali terngiang di telinganya. Dua gadis yang pernah dan kini ada di hatinya sama-sama mengiangkan kata tersebut. Brengsek. Ia dirinya sadar bahwa seperti itulah dirinya. Namun adakah salah kalau sudah hati yang meminta. Rio mengepalkan tangannya. Dengan emosi yang sudah tak lagi tertahan  ia memukul dinding di sebelahnya dengan erangan yang tak tertahan lagi.

***
Di sinilah mereka berada. Kebungkaman yang hadir di antara mereka seakan menipiskan udara untuk mereka sekedar menghirup untuk bernafas.Tatapan mereka sama-sama kosong. Wajah mereka sama-sama kosong dan satu lagi, hati mereka sama-sama hancur.

“Gue putus sama Rio Fy”

Bagai hujaman yang tepat menghunus hatinya, Ify mematung. Tubuhnyaa seakan kaku tak mampu lagi untuk sekedar bergerak. Air mata yang baru beberapa jam lalu terhenti mengalir kini mulai kembali mengairi wajahnya. Isakan kepedihan kembali menjadi lagu yang mengalun di bibirnya.

“Ma.. Maaf” Lirih Ify. Via mencengkeram dadanya mendengar suara serak Ify. Via tak tahan lagi, ia langsung menarik tubuh ringkih Ify ke pelukannya.

“Kenapa lo sekacau ini Fy. Kenapa. Bahkan lo gak salah di sini. Lo sama sekali gak salah. Lo gak perlu merasa sekacau ini. Gue gak akan menghakimi lo, karena gue tau Rio yang maksa.”

Kedua gadis itu kembali mengeluarkan tangisnya. Menyalurkan kekuatan yang sepertinya mereka rasa tidak lagi tersisa sedikit pun.

“Gue..”

Via melepas pelukannya. Tangannya mengenggam tangan Ify yang bergetar. Via mengecup tangan sahabatnya itu. Memberi sebuah keyakinan juga kekuatan.

“Lo cinta sama Rio?” Ify terdiam. Ia menarik tangannya dari genggaman Via. Via menarik sebelah bibirnya mengetahui reaksi Ify. Perlahan kepalanya mengangguk mengerti jawaban dari isyarat jawaban atas pertanyaannya.

“Gue tau lo maupun Rio saling membutuhkan tanpa kalian sadari. Terutama lo. Perempuan mana yang gak akan luluh saat ciuman pertamanya di ambil oleh seorang pemuda. Apalagi pemuda itu bilang kalo dia sayang sama perempuan itu. Lo gak bisa bohong lagi Fy. Mungkin lo deket sama Rio hanya hitungan hari. Tapi cinta karena kebutuhan bisa aja datang saat lo baru buka mata lo. Dan gue gak akan pernah melarang jika itu terjadi”

Via menghentikan ucapannya. Melirik Ify dari sudut matanya. Via kembali mengalihkan pandangannya saat ia melihat tatapan kosong terpancar dari mata cantik sahabatnya.

“Tapi satu yang harus lo tau. Lo masih punya Alvin. Dia yang mencintai lo, dia yang menjaga lo dan dia yang mempertahankan apa yang lo punya agar tetap terjaga tanpa tersentuh sedikitpun. Dan lo tau gimana rasanya saat upaya lo tiba-tiba rusak. Hmm ya lo akan tau bagaimana perasaan gue sekarang. Mantapkan hati lo fy. Hanya Alvin yang menjaga lo agar tetap terjaga dan utuh sampai kapanpun dan Rio yang selalu menggantikan posisi saat hati lo kosong. Gue pergi”

Ify menutup matanya. Tak ia biarkan air mata kembali membasahi wajahnya. Ia sudah lelah. Sungguh. Kini ia harus memantapkan hatinya. Ify langsung beranjak dan pergi meninggalkan tempatnya berada.

***
Langkah Ify terhenti saat ia merasakan sebuah rengkuhan yang melingkar di pinggangnya. Ify menutup matanya saat aroma itu mengusik penciumannya. Tangannya terkepal. Ify memejamkan matanya erat. Menghalau air matanya yang kembali ingin mendesak keluar.

“Maaf” Ify mengalihkan pandangannya saat suara itu menyapa pendengarannya.

“Cukup Yo. Lepas tangan lo” Rio menggelengkan kepalanya. Tangannya makin mengerat di pinggang Ify membuat Ify semakin sulit mengeksplor udara agar masuk ke paru-parunya.

“Gak akan sebelum kamu bilang kamu gak akan tinggalin aku. Aku cinta sama kamu Fy gue cinta”

Rio membalikkan tubuh Ify kearahnya. Tangannya terulur menangkup wajah tirus Ify. “Bilang sama aku kalo kamu juga cinta sama aku”

“Gak. Lo terlalu berharap. Gue cuma cinta sama Alvin. Lo denger. Sekarang lo pergi dari hadapan gue”

Rio mendesis. Menatap tajam kearah Ify yang memalingkan wajahnya. Tangannya mengarahkan wajah Ify agar menatapnya. Rio menahan egonya agar tidak melakukan hal keji seperti kejadian malam itu. Ia gak sanggup. Sungguh ia takkan sanggup melihat raungan kesakitan Ify. Mata penuh air mata yang menatapnya kecewa. Rio akan pastikan itu adalah hal terakhir terjadi pada Ify.

“Fy kamu itu cintanya itu sama aku Ify. Hey dengerin aku. Kita ini saling mencintai. Kamu belum menyadarinya karena Alvin yang masih di hidup kamu. Aku rela kalo harus nunggu kamu Fy. Yang penting kamu harus tau kalau kamu cintanya sama aku. Aku rela harus liat kamu sama Alvin, tapi..”

Plak..

Ucapan Rio terhenti. Lagi-lagi tangan mulus Ify mendarat di rahang tegasnya. Namun Rio tak peduli seberapa sakit tamparan Ify yang ia butuhkan hanya gadis yang saat ini ia cintai itu.

Brukk..

Tubuh Rio menegang saat tiba-tiba tubuhnya di hantam sesuatu. Ia menatap Ify. Gadis itu.. gadis itu memeluknya. Tangan Rio yang terkulai perlahan terangkat. Melingkarkan tangannya pada punggung Ify. Rio memejamkan matanya saat mendengar isakan gadis yang kini ia cintai.

“Lo brengsek Rio. Gue jahat. Kita breng..”

Cupp

Rio menghentikan ucapan Ify dengan ciumannya. Pemuda itu mencium lembut bibir gadis yang ia cintai kini. Mendorong kepala itu agar lebih dalam. Rio memejamkan matanya saat air mata itu kembali keluar dari mata cantik Ify. Dengan masih bibir yang saling menempel, tangan Rio dengan lembut mengusap mata Ify.

Ify membalas ciuman Rio. Mendorong leher Rio agar lebih dalam mencumbunya. Menarik rambut pemuda itu. Biarkan dia egois. Dirinya tau bahwa ini adalah kesalahan. Membiarkan orang lain menyentuhnya sementara selama ini orang yang mengisi kehidupannya selalu menjaga dirinya. Menjaga apapun yang ia miliki tetap utuh dan tak tersentuh.

Rio melepas ciumannya dan kembali menarik Ify ke pelukannya. Mencium puncak kepala Ify. Ify masih menangis di pelukan Rio. Mereka seakan lupa di mana kini berada. Tak peduli dengan tatapan jijik, tatapan sinis dan berbagai cibiran dari orang yang melihatnya. Ify semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Rio. Meremas seragam pemuda yang baru ia cintai dengan sadar itu.

***
“Ify..” Ify maupun Rio tersentak dan melepas pelukan mereka. Mereka mengarahkan pandangannya pada seorang pemuda yang berdiri di belakang Ify. Tubuh gadis itu bergetar. Hal ini lah yang ia takutkan.

“Al.. Alvin” Alvin menggelengkan kepalanya. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal erat pada sisi tubuhnya. Dengan emosi Alvin menarik tangan Ify membawa gadis itu mendekat kearahnya.

“Hey bro tolong jangan kasar. Ify kesakitan”

Alvin menghentikan kegiatannya. Menatap tajam Rio yang ingin mendekat kearahnya dan Ify.

“Bullshit”

Bughh

“ALVINNN” Alvin terus memukul wajah Rio yang sudah tersungkur di tanah. Pemuda itu tak peduli dengan Ify yang terus meronta. Ia pun menghiraukan gerombolan orang-orang yang kini telah mengumpul mengitarinya. Dalam benak Alvin membunuh pemuda di hadapannya adalah keinginannya.

Srett. Plak..

Alvin membeku. Tarikan kasar pada bahunya di susul sebuah tamparan yang mendarat mulus pada pipinya membuat hatinya serasa berkedut. Mata sipitnya memandang tak percaya sosok gadis yang terlihat bergetar memandang tangannya.

“Fy. Kamu..”

Ify beringsut lemah pada kaki Alvin. Memeluk kaki pemuda itu dengan air mata yang semakin deras mengalir. Hatinya sungguh sakit melihat apa yang terjadi di detik yang terlalu cepat terjadi. Rancauan bernada lirih terus keluar dari bibir tipis itu. Membuat keadaan seakan kelu.

“Vin maaf maaf, Vin maafin aku. Maaf”

Alvin memandang Ify yang memeluk kakinya. Air mata pemuda itu untuk pertama kalinya mengalir karena gadis itu. Alvin beringsut di hadapan Ify. Dengan lembut tangannya mengusap pipi Ify penuh oleh aliran air mata.

Ify langsung lemas merasakan sentuhan jari-jari Alvin yang lembut. Tubuhnya makin bergetar. Melihat air mata di wajah Alvin membuat dada Ify terasa sesak. Dengan sisa tenaganya ia langsung jatuh ke pelukan Alvin. Mendekap erat pemuda yang telah ia sakiti terlalu dalam.

“Fy apa kamu cinta sama Rio” Ify memejamkan matanya begitu suara lembut itu terdengar di telinganya. Ify tak menjawab namun wajahnya semakin ia tenggelamkan pada dada bidang  Alvin. Tanganny meremas seragam pemuda itu yang telah basah oleh keringat.

Alvin tersenyum menyadari kebungkaman Ify yang justru adalah jawaban talak baginya juga hatinya. “Kenapa? Apa kamu lupa kemarin kamu nyuruh aku supaya gak tinggalin kamu. Tapi kenapa justru kamu yang ninggalin aku. Apa sebesar itu kesalahan aku. Apa gak ada arti lagi aku buat kamu Fy. Fy jawab sayang”

Alvin menggeram. Ify tetap diam dan terisak di pelukannya. Matanya masih menatap Rio yang menatap kearahnya dan Ify. Terlihat di sana pancaran kecewa di mata sipitnya itu.

“Sakit Fy rasanya kamu melakukan ini sama sahabat yang sudah aku anggap adik. Kamu yang sangat aku cintai dan dia..”

“Vin maaf aku mohon maafin aku. Hukum aku aja Vin jangan kamu ungkapin perasaan kamu. Hukum aku. Aku mohon Vin”

Alvin melepas rengkuhannya. Menangkupkan tangannya pada kedua pipi tirus Ify. Dahinya ia sentuhkan pada dahi gadis itu.

“Ya sudah hukuman kamu aku akan tinggalin kamu. Silahkan pergilah sama Rio. Bukannya ini yang kamu mau”

Ify terdiam. Mendongak menatap Alvin. Mencari kesungguhan dari mata pemuda itu. “Kamu mau lepas aku”

“Bukannya itu yang kamu mau?” Alvin melepas tangannya dari wajah Ify. Menjauhkan jaraknya dari gadis itu.

“Vin”

 Alvin bangkit berdiri. Berjalan meninggalkan Ify yang terdiam lemas di tempatnya. Alvin berjalan menghampiri Rio yang tersungkur lemah akibat pukulannya. Tangannya terulur menunggu tangannya di sambut pemuda itu.

Rio mendongak. Menatap tangan yang terulur di hadapannya. Mengetahui itu tangan milik sahabatnya, tangannya terangkat menyambut tangan milik Alvin.

Kini kedua sahabat itu saling berhadapan. Rio yang menundukkan kepalanya dan Avin yang menatapnya dengan tatapan kecewa namun masih tersirat persahabatan. Rio tersentak saat pundaknya di tepuk oleh seseorang. Matanya menatap Alvin yang tersenyum kearahnya.

“Gue mundur bro. Silahkan bawa ify. Bahagiakan dia. Jaga dia dan miliki dia dengan baik. Lo beruntung di cintai dia sehingga dia memilih menghapus gue. Jangan biarkan dia terluka. Sedikit aja gue liat dia nangis karena lo, jangan salahkan gue jika gue yang akan rebut dia kembali”

Alvin menarik tangannya. Mundur perlahan dan berbalik meninggalkan dua orang di belakanganya yang menatapnya dengan tatapan penyesalan.

Rio segera menyadarkan dirinya. Menolehkan kepalanya ke Ify yang masih menatap punggung Alvin yang telah menghilang. Perlahan langkah kaki Rio mendekat ke gadis cantik itu. Menarik tubuh mungil itu mendekat kearahnya dan mendekap gadis yang di cintainya

“Lupakan dia. Kita jalani takdir kita yang baru. Jangan bohongi hati kamu Fy. Kamu milik aku”

Ify terdiam. Ia biarkan tubuh pemuda itu menenggelamkan tubuh mungilnya. Kehangatan perlahan menjalar dari tubuh gadis itu. Senyum yang entah sudah berapa lama tidak menghiasi wajahnya kini dengan indah terukir di wajah cantik itu.

“Aku tau perasaan kita berawal dari kesalahan. Tapi aku mohon Rio yakinkan aku bahwa kamu memang yang terbaik aku miliki. Bukan hanya dengan sebuah rasa, namun semua yang ada di diri kamu adalah milik aku”

Rio tak menjawab. Ia justru mencium puncak kepala gadis itu berkal-kali sebagai jawaban bibirnya. Biarkan kini hatinya yang menjawab. Tak akan ia biarkan bibirnya berucap. Mengikrarkan dusta-dusta yang lain yang justru bukan lagi menyakiti hatinya. Justru hati yang lain yang juga merasakan sakit dari bibirnya nanti.

Saat semua yang nyata perlahan memudar. Menghilangkan sesuatu yang sesungguhnya indah dan abadi jika di jaga. Jangan pernah mengelakkan saat takdir mulai menjalankan naskah kehidupannya. Saat yang indah dan yang nyata itu perlahan memudar dan menghilang. Takdir telah menggantikannya yang lebih dari segalanya dan ada.

***
Epilog

“Saya terima nikahnya Navia Elsya dengan mas kawin tersebut tunai”

“Bagaimana saksi”

“Sah”

Suara tepukan tangan dan sorakan gembira menghiasi ruangan serba putih tersebut. Berbagai ucapan suka cita menjadi gema pelengkap suasana hangat yang begitu sempurna menjadi sejukan hati. Seorang gadis yang terbaring lemah dengan masker oksigen dan selang infuse yang tertancap di tangannya begitu haru melihat suasana yang melegakan batinnya.

“Fy”

Gadis itu tersentak. Suara bariton yang begitu ia kenali membuyarkan lamunannya. Ify, gadis itu menatap seorang pemuda yang berdiri di hadapannya. Senyumnya makin mengembang begitu melihat sesuatu yang di dekap di tubuh pemuda itu. Tangannya terulur mengusap sesuatu itu.

“Anak aku” Ucapnya lirih. Semua mata di ruang itu tertuju pada Ify. Wajah bahagia yang seakan menarik dimensi seluruh orang yang menatapnya. “Bunda sayang sama kamu nak. Baik-baik sama ayah ya”

“Fy. Kamu..”

“Alvin, Via selamat ya. Kalian harus baik-baik. Via jaga kandungan kamu. Dia pasti akan jadi teman yang baik buat anak aku. Aku yakin bentar lagi dia akan lahir” Ucapan Ify terhenti. Matanya yang sedari tadi menatap Via yang terus mengusap perutnya yang membesar. Kini mata Ify beralih pada Alvin yang berdiri di samping Via. Merangkul pinggang gadis itu walaupun Ify tau mata pemuda itu masih menatapnya dalam seperti dulu.

“Vin kamu harus belajar mencintai Via. Dia adalah perempuan yang sangat baik. Ingat bayi dalam perut Via adalah anak kamu. Apapun yang terjadi di masa lalu aku mohon lupakan. Ingat Via dan anak itu. Mereka sangat butuh kamu”

Kini mata Ify beralih ke sampingnya. Menatap pemuda yang dengan lembut mnggendong buah hatinya.

“Rio” Rio menatap Ify. Tangannya yang satu meraih tangan gadis yang setahun lalu telah di nikahinya ini. “Aku titip anak kita ya. Aku udah capek. Aku pengen istirahat. Yo cintai anak kita seperti kamu mencintai aku. Janji” Rio menganggukkan kepalanya. Entah apa yang terjadi kini ia hanya ingin memandangi wajah perempuan yang sangat ia cintai.

Alvin dan Via mendekati ranjang Ify. Menatap wajah orang yang berarti dalam hidup mereka. Jantung mereka terasa semakin cepat berdetak. Rasa takut kini perlahan menggerayangi hati mereka. Perlahan mata Ify tertutup.

Tittttttttttttt

Semua orang dalam ruangan itu tersentak. Sontak semua manatap layar datar di samping ranjang Ify. Reflek semua orang di sana terduduk lemas melihat garis lurus terpampang di layar itu. Orang-orang berbaju putih yang secara spontan mengotak-atik berbagai alat agar bias merubah garis lurus itu menjadi garis naik turun pun semua hanya meletakkan secara pasrah alat tersebut ke tempatnya.

Seorang wanita berbaju suster melangkah mendekati ranjang Ify. Perlahan suster itu menyentuh selimut putih dan mengangkatnya hingga mendekati leher Ify.

“Jangannn” Tangan wanita itu terhenti. Menatap Rio yang menggelengkan kepalanya. Perlahan Rio berdiri. Menatap wajah cantik Ify yang sudah terlelap nyaman. Air mata pemuda itu mengalir membasahi wajahnya. Tangannya terulur mengusap dahi Ify. Dengan bergetar Rio mendekati wajah Ify. Mencium bibir gadis yang sangat ia cintai itu.

“Sayang aku akan kasih nama anak kita seperti kamu gak papa ya. Biar aku selalu inget kamu sekaligus anak kita. Biar aku juga kalo inget kamu cukup liat wajah anak kita boleh kan sayang. Liat deh anak kita mirip banget sama kamu. Dia cantik kayak kamu. Fy aku gak akan tahan kamu pergi, tapi tolong inget satu hal. Jangan tinggalin aku. Tolong tunggu aku sampek aku bisa jemput kamu. Mau ya”

Rio tersenyum, saat melihat lengkungan di bibir gadisnya. Lagi Rio mendekati wajah Ify. Mencium puncak kepala gadis itu.

Alvin tak mengalihkan pandangannya. Matanya terus menatap tubuh Ify yang telah kaku. Tak ia pungkiri rasa itu tetap sama. Hingga kini tak ada secelah pun yang hilang.

Sivia tersenyum miris menatap Alvin yang baru menjadi suaminya. Pemuda yang dulu dengan kekhilafannya menodai dirinya dengan emosi di sertai racauan nama sahabatnya. Bahkan hingga benih dalam rahim Via sudah siap lahir dan cintanya pada pemuda itu telah meluas di dasar hatinya. Tak ia pungkiri rasa yang melekat dalam hati pemuda itu pada gadis yang saat ini terbaring kaku dan di peluk erat oleh tubuh pria di sampingnya itu lah yang sepenuhnya mengisi hati sang suami.

***
“Ma.. mama”

Via terlonjak. Matanya ia alihkan pada Rio yang menatapnya bingung. “Ada apa sayang”

“Itu tadi Ify di jemput sama ayahnya. Katanya mau ke makam bundanya Ify. Kata papa, mama ikut gak” Via tersenyum. Perlahan tangannya terulur. Mengusap rambut ikal putranya.

“Iya deh mama ikut. Kamu kesana dulu ya. Temui papa sama om Rio. Mama siap-siap dulu.

“Sip mama”

***
17 tahun kemudian..

Seorang gadis berbaju hitam berjongkok. Menatap gundukan tanah merah yang sudah di penuhi oleh taburan bunga di hadapannya. Tangannya mengusap sebuah nisan di hadapannya. Senyumnya tak henti mengembang

“Bunda, bunda tau gak aku dapet beasiswa di Jerman bun. Aku seneng banget Bun. Oh ya Bun. Bunda tau gak kalo tadi Rio nembak Ify. Ify terima aja soalnya kalo boleh Ify jujur Ify suka sama Rio dari jaman SMP dulu. Tapi..”

Ify, Gadis itu menghentikan ucapannya. Tangannya terulur mencabut rumput-rumput liar yang merusak makam mamanya “Ayah gak bolehin katanya tunggu Ify sampek lulus kuliah. Nyebelin kan Bun. Ify ini kan udah dewasa masak kalo ngambil keputusan berdasarkan ayah dulu. Gak adil kan Bun”

“Oh Ya Bunda aku pulang dulu yah. Rio udah nunggu aku tuh. Dadah Bund. Jangan lupa datang ke mimpi aku ya Bund. Aku mau cerita banyak sama Bunda. Bye. Muachhh”

Ify pun bangkit dari jongkoknya. Perlahan ia melangkah ringan mendekati seorang pemuda yang berdiri di dekat motor cagiva merah. Setibanya Ify di sana, pemuda itu membalas senyum Ify dan menyempatkan mencium kening gadis itu.

“Pulang sekarang” Ify mengangguk. Rio naik ke motornya, di susul Ify yang naik di motornya dan melingkarkan tangannya di pinggang pemuda itu. Ify menolehkan kepalanya ke makam bundanya sekali lagi. Senyumnya mengembang saat ia melihat seorang wanita berbaju putih berdiri di belakang nisan bundanya. Tangannya melambai membalas lambaian wanita itu terhadapnya.

Kamu terlahir jadi gadis yang cantik. Makasih Rio kamu sudah membesarkan buah hati kita dengan cinta. Aku nunggu saat itu tiba. Kamu dan anak kita menjemputku dan kita lewati waktu bersama.

Sayang bunda janji bunda akan menemui kamu. Sabar ya sayang, Love You..


End..

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...