Kamis, 17 Desember 2015

Secret Part 5



 Setahun lalu aku post cerbung ini dan baru bisa lanjut sekarang. Alhamdulillah baru dapet hidayah. Kalo mau baca dari awal bisa klik di salah satu label aja. Sekian makasi. Silahkan di baca dan tinggalkan komentar ya kawan. Dahhh

***
“Kak Ifyyyyy” Ify terperangah melihat segerombolan anak-anak yang berhambur menyambut kedatangannya. Ify tertawa melihat anak-anak tersebut yang saling tarik dan mendorong hanya untuk dapat memeluknya.

“Heyy hey kalian gak adil. Masak cuma Kak Ify doang yang di peluk. Kak Rio enggak ya. Ah ngambek ah. Mainan sama jajannya kakak buang aja”

“JANGANNNN” Ucap mereka serempak. Sebagian mereka yang tidak dapat menggapai tubuh Ify pun berpaling mengerubungi Rio yang berdiri dengan berkantong-kantong tas karton yang berisi mainan dan beberapa makanan.

“Ah curang lo pake ngancem segala. Mau jadi koruptor hah sudah mengajarkan suap menyuap. Dasar” Ucap Ify ketus dengan tatapan tajam kearah Rio yang sibuk membagikan barang-barang bawaannya pada bocah-bocah di hadapannya.

“Enak aja. Mereka tuh pinter lagi memilih yang lebih modal. Apaan lo gak bawa apa-apa ke mereka. Anak kecil itu polos Ify, gak cukup hanya dengan pelukan” Sahut Rio masih dengan aktivitasnya. Tak jarang ia melirik ke Ify yang mengerucutkan bibirnya.

Bughhh

Rio tersentak. Ia menatap sebuah boneka yang tergeletak di hadapannya. Rio mengedarkan pandangannya. Seorang anak perempuan berkepang dua dengan tubuh gempal berdiri sambil menggelayuti leher Ify. Anak tersebut menatap tajam Rio dengan muka memerah dan pipi mengembung yang sangat menggemaskan. Rio maupun Ify terkikik pelan melihat raut anak tersebut.

“Kak Iyo jahat. Kak Iyo gak boleh kayak gitu sama kak Ipi. Nanti kalo kak Ipi nangis gimana?”
Seorang anak laki-laki yang tadi sedang berada di pangkuan Rio pun beranjak. Ia berdiri seakan membentengi Rio dan temannya yang lain menghadap bocah itu.

“Ihh Icha tau yang jahat. Kasian tau kak Rio di lempar boneka. Nanti kalo jadi jelek gimana. Kan kasian nanti jadi Davi yang paling ganteng jadinya”

“Huuuu” Terdengar suara sorakan menyahuti ucapan Davi. Ify dan Rio pun mendekat. Bibir mereka masing-masing mengembang melihat keceriaan yang terpeta di wajah polos malaikat kecil di hadapan mereka.

“Temen-temen. Bu Ratih mana. Itu.. Itu Afi kejang-kejang” Ify maupun Rio menegang mendengar ucapan seorang anak. Disusul suara keterkejutan anak-anak yang lain.

“Yo..” Lirih Ify. Rio menatap mereka. Akhirnya Rio pun langsung melangkah meninggalkan yang lain dan mencari Afi di kamarnya.

“Anak-anak kalian gak usah panik ya. Afi sudah sama Kak Rio. Lebih baik kalian cari Bu Ratih bilang kalo disini ada kak Ify sama Kak Rio” Ucap Ify lembut membuat kepala mereka bergerak mematuhi ucapan gadis itu. Tak lama mereka pun berpencar saling memisahkan diri. Ify pun sama ia langsung beranjak dan menyusul Rio di kamar Afi.

***
Alvin menatap sebuah bingkai foto yang terpajang di hadapannya. Bingkai yang di dalamnya tergambar seorang gadis kecil berponi dengan pipi gembulnya yang dengan rona merah menampakkan wajah yang menggemaskan. Tangan Alvin meraih bingkai tersebut. Jarinya dengan lembut mengusap wajah di foto itu. Menelusuri setiap senti ukiran wajah yang hingga kini di matanya tetaplah yang paling sempurna.

Kini bayangan Alvin mulai berkelana. Memorinya justru menampakkan wajah seorang gadis cantik yang berdiri menatapnya dengan pandangan arti tersembunyi. Kalung bulan sabit yang entah semakin mengacaukan pikirannya. Mata Alvin memerah. Menatap tajam benda yang ia genggam di tangannya.

“Arghhh”

Pranggg

Suara erangan di susul suara pecahan pada bingkai foto yang di banting keras mengacaukan suasana hening kamar Alvin yang meremang. Kini mata Alvin tertuju pada sebuah kalung berbandul bintang yang tergeletak begitu saja di meja belajarnya. Dengan emosi Alvin menarik kalung itu pada kedua sisi yang berbeda. Dan..

Tringg

Bandul itu terlepas. Alvin melempar kalung yang telah menjadi dua bagian itu pada tong sampah di dekatnya. Dengan keadaan hatinya yang memanas, pemuda itu mengacak rambutnya emosi.

“Apa itu lo, hah. Apa iya lo sudah datang ke hidup gue. Kenapa? Kenapa sekarang lo datang? Kenapa gak dulu saat gue butuh lo ada di sisi gue. Saat hati gue masih mengenal dengan ketulusan. Kenapa harus sekarang? Semuanya gak lagi sama. Semua sudah berbeda, termasuk hati gue. Arghhh”

***
“Hai” Shilla mendongakkan kepalanya. Gabriel berdiri di hadapannya dengan dua buah cangkir teh hangat. Pemuda itu menyodorkan secangkir ke hadapannya.

“Lo belum tidur?” Tanya Gabriel sambil menyesap teh hangat di tangannya. Shilla menggelengkan kepalanya. Ia menyodorkan sebuah rajutan  di tangannya pada Gabriel.

“Saya ndak biasa tidur sebelum menyelesaikan rajutan ini Mas” Ucapnya. Gabriel menganggukkan kepalanya. Gabriel meletakkan cangkir di sebelahnya. Tangannya menopang dagunya sambil menatap Shilla yang serius menjalin benang-benang itu menjadi sebuah hasil rajut tangannya.

“Shil. Gue boleh nanya sesuatu gak?” Shilla menolehkan kepalanya ke Gabriel. Kedua alisnya bertaut menandakan ketidakmengertian maksud pemuda di sampingnya.

“Monggo mas”

“Elo gak sekolah?” Tangan Shilla mendadak terhenti mendengar pertanyaan Gabriel. Shilla menatap Gabriel dari sudut matanya. Mendadak Shilla menjadi merasa canggung duduk bersama majikan mudanya ini.

“Enggak mas. Saya, saya udah gak sekolah. Namanya aja anak dari janda yang cuma kerjanya nyuci sama gosok baju tetangga. Mana ada sekolah yang biayanya cukup hanya dari hasil cuci sama gosok doang mas” Ucap Shilla dengan senyum yang mengembang, namun sorot matanya yang tadi berbinar berubah sendu.

“Gimana kalo sekolah sama gue aja”

“Ha? Wah mas gak usah bercanda toh. Kalo saya sekolah di tempat mas saya bayar pake apa. Gaji saya aja belum tentu cukup” Gabriel tertawa mendengar ucapan Shilla. Tangannya mengusap rambut Shilla lembut.

“Lo tenang aja. Gue akan bilang sama mama. Gue yakin mama akan mengijinkan lo sekolah sama gue, oke. Eitss no comment. Sekarang lo balik ke kamar, besok kan lo harus bangun siapin sarapan”

Shilla mengangguk. Ia pun berdiri dan berjalan masuk ke rumah. Senyum mengembang di wajahnya. Tangannya menyentuh dadanya. Sedari tadi jantungnya tidak berhenti berdetak ketika bersama Gabriel beberapa detik yang lalu.

Owalah Shilla, Shilla nanti kamu bisa-bisa jantungan gini terus. Duh duh.. Gusti..
***
Ify terus memandangi sebuah foto di hadapannya. Senyumnya mengembang. Seorang pemuda yang beberapa hari lalu baru di kenalnya namun langsung seketika menambat hatinya. Mungkinkah ia jatuh cinta dengan pemuda itu.

“Kak Ify” Ify menolehkan pandangannya. Seorang gadis berusia tak jauh darinya berjalan mendekatinya. Gadis itu langsung mengambil tempat di samping Ify dan langsung memandangi gadis berusia dua tahun di atasnya itu.

“Nesya”

“Kakak kenapa kok dari tadi Nesya perhatiin kak Ify senyum-senyum terus. Hayooo kenapa hayooo” Goda Nesya. Ify menatap Nesya salah tingkah. Dengan jahilnya ia menyentil hidung gadis itu membuat sang empunya mengerang akibat ulah Ify. “Iihh Kak Ify”

“Lagian kamu masih bocah pikirannya. Oh ya Nes gimana si Afi. Dia baik-baik aja?” Tanya Ify mengalihkan pembicaraan, namun tetap tersirat kekhawatiran.

“Afi akhir-akhir ini memang sering begitu kak. Kita semua khawatir, apalagi aku. Tapi ibu bilang sama kita kalo Afi baik-baik aja, tapi Nesya gak percaya. Pasti ada sesuatu yang ibu sembunyiin”

Nesya menundukkan kepalanya. Jarinya sibuk memainkan ujung dress selututnya. Ify langsung menarik gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu ke pelukannya. Mengusap lembut rambut gadis polos di hadapannya.

“Kamu jangan gitu Nes. Biar bagaimanapun Bu Ratih itu tetap ibu kalian juga ibu kak Ify. Apapun yang terjadi kita harus selalu percaya sama beliau. Mungkin memang benar kalau Afi baik-baik aja. Udah ya jangan nangis”

“Kak, Nesya belum siap buat ninggalin panti. 15 tahun Nesya besar di sini. Merasakan bagaimana mempunyai seorang ibu, memiliki banyak saudara dan memiliki kakak seperti Kak Ify ataupun Kak Rio. Nesya belum siap. Nesya tau waktu Nesya gak lama lagi di Panti ini. Tiga tahun lagi Nesya akan keluar dari Panti. Menjalani hidup sebagaimana orang-orang pada umumnya. Jujur kak, Nesya belum siap”

“Nes siapa bilang kamu harus pergi. Panti ini rumah kamu. Di sini ada keluarga kamu. Kemana pun kamu pergi, suatu saat nanti kamu pasti akan kembali lagi ke sini. Di sini lah tempat kamu pulang” Ify menegakkan tubuh Nesya. Tangannya menangkup wajah gadis itu. Mengusap lembut kulit putih gadis yang ia sayangi sebagai adiknya tersebut. “Hidup kamu itu ya seperti ini. Bagaimana pun nanti kamu gak bisa ninggalin hidup kamu yang sekarang. Ngerti”

Nesya tersenyum. Tangannya meraih tangan Ify di wajahnya. Mengenggam dan mencium tangan Ify.

“Kak Ify mau janji apapun yang terjadi jangan tinggalin Nesya ya” Ify tak menjawab, namun ia hanya menyunggingkan senyumnya pada Nesya membuat gadis itu kembali menjatuhkan dirinya dalam pelukan Ify

***
Shilla memelankan langkahnya. Sudah beberapa kali selama ia melangkah gadis itu membuang nafasnya. Shilla menatap pintu kamar dihadapannya dengan gugup.

“Shill”  Shilla terlonjak kaget saat sebuah suara memanggil namanya. Shilla pun menoleh dan menatap seorang pemuda berdiri di hadapannya.

“Oh mas Gabriel saya kira siapa” Ucap Shilla gugup. Gabriel mengusap rambut Shilla lembut membuat rona merah terpancar di pipi putihnya.

“Lo ngapain di depan kamar Alvin”

Shilla menunduk. Tangannya terangkat memperlihatkan sebuah nampan yang berisi susu putih dan semangkuk sup yang asapnya masih mengepul. Gabriel mengangguk, tangannya menepuk pundak Shilla membuat gadis itu terlonjak.

“Woo hati-hati dong. Tuh mangkuk jatuh isinya bisa tumpah di kaki kita loh Shil. Bahaya, bisa-bisa kita di perban berdua” Ucap Gabriel sambil terkikik membuat Shilla menundukkan kepalanya malu.

Ceklek.

Gabriel menghentikan tawanya. Menatap pintu di hadapannya yang terbuka. Seorang pemuda berwajah datar muncul dari balik pintu tersebut. Gabriel menatap Alvin yang menatap kearahnya juga Shilla dengan pandangan dingin.

Sementara Shilla menundukkan kepalanya. Entah apa yang terjadi, tubuhnya mendadak bergetar. Tiba-tiba hati Shilla meronta ingin sekali menatap pemuda dingin di hadapannya, namun matanya berdusta. Kini yang terjadi tubuhnya seperti beku tak mampu hanya untuk sekedar berucap

“Shill, itu Alvin di depan lo” Bisik Gabriel. Shilla mengangguk namun kepalanya masih tetap menunduk.

“Mas i.. ini sarapan buat mas Al.. vin”

Alvin terdiam di depan kamarnya. Menatap gadis di hadapannya yang sedang menyodorkan nampan berisi makanannya. Alvin melengos, ia pun mengalihkan pandangannya dan mulai berjalan meninggalkan Shilla yang terpaku di tempatnya dan Gabriel yang mendengus melihat sikapnya.

Gabriel melirik Shilla. Entah apa yang ia rasakan. Melihat sikap Alvin terhadap Shilla mampu membuat emosinya yang selama ini selalu ia coba pendam seakan meluap tak tertahan lagi.

“Saya.. saya ke belakang mas. Permisi” Ucapan Shilla sontak membuyarkan lamunannya. Gabriel menatap punggung Shilla yang makin lama makin menghilang.

“Sebenarnya lo ini siapa sih Shill. Apa yang lo perbuat terhadap perasaan gue”

Sementara Shilla, entah apa yang terjadi pada dirinya. Mendapat perlakuan sedingin itu dari Alvin seakan perasaannya sakit. Sakitnya sungguh bukan sekedar sakit seperti tersayat. Bukan hanya sakit karena luka berdarah. Sakitnya jauh lebih sakit dari hatinya yang tertekan oleh sesaknya udara. Shilla menghentikan langkahnya. Menghapus air mata yang entah sejak kapan terjatuh.

“Kamu tuh harus sadar Shil. Siapa kamu dan dimana kamu” Batinnya meronta.

***
“Dania”

Dania menolehkan kepalanya. Seorang wanita paruh baya berdiri di ruangannya. Dania terpaku melihat wanita tersebut.

“Ibu” Wanita paruh baya itu tersenyum kearahnya. Bukan sebuah senyum yang dapat mengundang orang lain untuk membalasnya. Melainkan sebuah senyum yang seakan mengintimidasi siapapun yang mendapatkannya.

“Kenapa? kamu kaget saya disini?” Dania menggelengkan kepalanya. Ia berjalan kearah wanita itu dan mencium tangan wanita yang merupakan mertuanya tersebut.

“Bagaimana cucu saya? Apa dia baik-baik saja tinggal bersamamu”

“Alvin baik-baik saja bu. Cuma beberapa hari lalu dia berantem sama Mas Hardi” Ucap Dania sambil menggiring mertuanya itu duduk pada sofa ruangannya. Lalu berjalan ke mejanya menuju intercom dan memencet sebuah tombol kecil di sana. “Bawa secangkir teh hangat tanpa gula ke ruangan saya segera”

“Bagaimana mereka tidak berantem kalau suamimu itu hanya peduli pada anakmu saja. Sementara Alvin dia adalah anaknya”

“Alvin juga anakku bu” Sanggah Dania membuat wanita paruh baya itu mendesis. Romi, wanita itu menatap menantunya yang tidak menatap kearahnya. Senyum angkuhnya kembali hadir di wajahnya yang tak lagi muda itu.

“Sampai kapanpun anakku tetaplah anakku. Bahkan menantuku pun selamanya tetap satu. Aku heran dengan keputusan Hardi yang menikahimu yang seakan itulah hal terbaik untuk membunuhku perlahan”

Dania mendongakkan kepalanya. Menahan air mata yang seakan siap tumpah jika sedetik saja ia mengedip.

“Aku gak tau apa salah aku, apa salah Gabriel sehingga ibu dan Alvin gak bisa menerima aku. Aku mencintai Hardi tulus. Begitu pun Alvin, dia, dia adalah anakku Bu. Aku menghormati ibu bukan hanya sebatas mertuaku. Ibu adalah ibuku”

Romi beranjak dari duduknya. Menatap Dania yang sudah menangis di tempatnya. Romi mengalihkan pandangannya. Lalu perlahan melangkah meninggalkan Dania yang terisak di tempatnya.

“Bagaimana bisa aku mempercayaimu jika kamu dan anakmu itu tetap bertahan di sini dengan gelimangan harta Hardi juga Raina. Jangan lupa Dania. Perusahaan ini adalah milik menantuku. Dan sampai kapanpun aku tidak akan berbaik hati padamu jika kamu masih menegakkan tubuhmu di atas kekakuan Raina. Ingat itu”

Dania merosot dari tempatnya. Terisak dengan perasaan sakit yang sungguh menyiksa batinnya. Dania tak peduli saat seorang karyawannya melihat dirinya yang hancur. Biar mereka menyadari bahwa inilah dirinya. Sosok wanita yang mencoba tegar untuk mempertahan rumah tangga yang ia tahu itu semua berdiri di atas sebuah kesalahan.

Gabriel langsung berlari menuju mamanya yang sedang terisak di sofa gading ruangannya. Gabriel tak perlu berpikir panjang saat melihat tubuh wanita yang di sayanginya tersebut bergetar di sertai isakan yang begitu membuat hatinya bergetar sakit.

“Sudah ma cukup. Ada Gabriel disini. Kita lewati semuanya dengan sabar ya ma. Gabriel yakin Oma tidak akan lama membenci kita. Karena hati oma tetaplah hati seorang ibu. Dan yang Gabriel tau hati seorang ibu itu lembut melebihi dari kapas. Seperti hati mama”

Dania semakin terisak keras membuat Gabriel semakin dalam mendekap ibunya tersebut. Gabriel menegakkan tubuh Dania. Menangkupkan kedua tangannya pada wajah Dania yang sudah penuh air mata. Gabriel mengusapkan jarinya pada kedua pipi wanita yang sangat ia cintai itu.

 Dania menatap putranya. Air matanya tak henti mengalir membasahi wajahnya yang masih terlihat cantik. Sumpah demi apapun pelukan Gabriel adalah pelukan terhangat yang selalu ia rasakan. Usapan Gabriel pada wajahnya adalah usapan terlembut yang seakan membuai perasaannya. Rasa sayangnya pada putra yang ia besarkan penuh cinta seorang diri dari saat Gabriel berusia 3-17 tahun adalah saat dimana semuanya masih terlihat indah, hingga pada akhirnya Dania bertemu dengan suaminya saat ini.

“Sekarang kita pulang ya ma. Mama istirahat di rumah. Biar kerjaan mama Gabriel teruskan di rumah. Ayo ma”

Gabriel mengangkat tubuh mamanya. Mengalungkan tangan mamanya pada lehernya. Gabriel mendekap pinggang mamanya dengan hati-hati. Gabriel sadar bahwa kehadirannya adalah sebuah kekuatan bagi mamanya. Apapun yang terjadi Gabriel bersumpah, ia akan terus menjaga mamanya itu. Tak akan ia biarkan siapapun menyentuh apalagi menyakiti wanita kesayangannya.

***
Rio memandang wajah Ify dari spion kecil di hadapannya. Rio mendesah, gadis itu begitu dekat untuk sekedar di pandang namun begitu jauh untuknya meraih hati gadis yang ia cintai atas kata sahabat itu. Rio dapat merasakan saat ia dengan mudah dapat memeluk tubuh Ify. Dapat mencium gadis itu. Selalu merasakan kehangatan tubuhnya. Namun semua itu tak berarti baginya bila ia pun tak dapat memiliki hati Ify.

“Aryo Mahesa apa lo denger ucapan gue tadi?” Rio tersentak. Ia menolehkan kepalanya menatap Ify yang memandangnya tajam di sertai bibir mungil gadis itu yang mengerucut.

“Eh apa Fy? Eh iya.. tadi lo ngajak gue ngomong? Apaan sih”

Ify mencibir mengetahui reaksi Rio terhadapnya. Sumpah demi apapun hatinya benar-benar dongkol setengah mati saat ia panjang lebar bercerita tapi ujung-ujungnya lawan bicaranya hanya memasang wajah bodoh bertanya apa yang ia ucapkan. Rasanya Ify ingin menendang Rio keluar dari mobil pemuda itu. Tapi kalo di tendang Ify tidak akan memiliki korban crimenya dong. Aishh.

“Gak itu loh tadi gue lagi ngobrol sama angin. Eh gue oon udah tau angin di ajak ngobrol, ya udah tuh angin lewat aja di depan gue”

“Apaan sih Fy. Gak lucu deh. Gue udah serius nanya”

“Liat noh si Sule kalo mau ngelucu” Jawab ify membuat Rio menggelengkan kepalanya. Rio mendengus saat ia mengetahui gadis itu justru sibuk mengotak-atik handphonenya tanpa meliriknya sekalipun.

“Fy beli ice cream yuk” Sejenak Ify menghentikan kegiatannya. Menatap Rio memastikan apa yang ia dengar semua bukanlah khayalannya.

“Choco cream with capuchino sauce bertabur choco chip with double cone” Bisik Rio di telinga Ify yang membuat gadis itu terdiam dan beberapa kali mengecap lidahnya. Rio menyeringai melihat reaksi Ify atas ucapannya.

“Rio kalau sampek lo berhenti di depan rumah gue, gue akan pastikan malam ini tidur lo gak bakal tenang, ngerti” Ancam Ify membuat Rio terkikik sambil mencubit hidung mancung Ify membuat gadis itu meronta.

“Asal lo gak ngambek lagi beb” Ucapnya menggoda Ify yang membuat gadis itu merengut, tak lama gadis itu tersenyum dengan paksa di kedua sudut bibirnya sambil mengangguk dan mencubit kedua pipi Rio.

“Gue gak ngambek kok. hehe” Rio tersenyum dengan sikap Ify terhadapnya. Rio melirik Ify. Dalam hati ia bersyukur dapat menikmati secara puas wajah indah gadis yang di cintainya itu.

Kalaupun dengan mencintai lo tanpa lo tahu pun bisa menjadikan gue alasan lo selalu bahagia. Gue rela menjalani cinta walaupun hanya setengah hati gue yang merasakannya. Karena bagi gue mencintai lo sederhana. Ketika dunia seakan berputar menciptakan suatu keajaiban yang selalu membuat lo tersenyum. Itulah ingin gue selalu. Mencintai lo sesuka gue tanpa lo tahu namun dapat menikmati senyum yang hanya untuk gue.

***
Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...