Setahun lalu aku post cerbung ini dan baru bisa lanjut sekarang. Alhamdulillah baru dapet hidayah. Kalo mau baca dari awal bisa klik di salah satu label aja. Sekian makasi. Silahkan di baca dan tinggalkan komentar ya kawan. Dahhh
***
“Kak
Ifyyyyy” Ify terperangah melihat segerombolan anak-anak yang berhambur
menyambut kedatangannya. Ify tertawa melihat anak-anak tersebut yang saling
tarik dan mendorong hanya untuk dapat memeluknya.
“Heyy
hey kalian gak adil. Masak cuma Kak Ify doang yang di peluk. Kak Rio enggak ya.
Ah ngambek ah. Mainan sama jajannya kakak buang aja”
“JANGANNNN”
Ucap mereka serempak. Sebagian mereka yang tidak dapat menggapai tubuh Ify pun
berpaling mengerubungi Rio yang berdiri dengan berkantong-kantong tas karton
yang berisi mainan dan beberapa makanan.
“Ah
curang lo pake ngancem segala. Mau jadi koruptor hah sudah mengajarkan suap
menyuap. Dasar” Ucap Ify ketus dengan tatapan tajam kearah Rio yang sibuk
membagikan barang-barang bawaannya pada bocah-bocah di hadapannya.
“Enak
aja. Mereka tuh pinter lagi memilih yang lebih modal. Apaan lo gak bawa apa-apa
ke mereka. Anak kecil itu polos Ify, gak cukup hanya dengan pelukan” Sahut Rio
masih dengan aktivitasnya. Tak jarang ia melirik ke Ify yang mengerucutkan
bibirnya.
Bughhh
Rio
tersentak. Ia menatap sebuah boneka yang tergeletak di hadapannya. Rio
mengedarkan pandangannya. Seorang anak perempuan berkepang dua dengan tubuh
gempal berdiri sambil menggelayuti leher Ify. Anak tersebut menatap tajam Rio
dengan muka memerah dan pipi mengembung yang sangat menggemaskan. Rio maupun
Ify terkikik pelan melihat raut anak tersebut.
“Kak
Iyo jahat. Kak Iyo gak boleh kayak gitu sama kak Ipi. Nanti kalo kak Ipi nangis
gimana?”
Seorang anak laki-laki yang tadi sedang
berada di pangkuan Rio pun beranjak. Ia berdiri seakan membentengi Rio dan
temannya yang lain menghadap bocah itu.
“Ihh
Icha tau yang jahat. Kasian tau kak Rio di lempar boneka. Nanti kalo jadi jelek
gimana. Kan kasian nanti jadi Davi yang paling ganteng jadinya”
“Huuuu”
Terdengar suara sorakan menyahuti ucapan Davi. Ify dan Rio pun mendekat. Bibir
mereka masing-masing mengembang melihat keceriaan yang terpeta di wajah polos
malaikat kecil di hadapan mereka.
“Temen-temen.
Bu Ratih mana. Itu.. Itu Afi kejang-kejang” Ify maupun Rio menegang mendengar
ucapan seorang anak. Disusul suara keterkejutan anak-anak yang lain.
“Yo..”
Lirih Ify. Rio menatap mereka. Akhirnya Rio pun langsung melangkah meninggalkan
yang lain dan mencari Afi di kamarnya.
“Anak-anak
kalian gak usah panik ya. Afi sudah sama Kak Rio. Lebih baik kalian cari Bu
Ratih bilang kalo disini ada kak Ify sama Kak Rio” Ucap Ify lembut membuat
kepala mereka bergerak mematuhi ucapan gadis itu. Tak lama mereka pun berpencar
saling memisahkan diri. Ify pun sama ia langsung beranjak dan menyusul Rio di
kamar Afi.
***
Alvin
menatap sebuah bingkai foto yang terpajang di hadapannya. Bingkai yang di
dalamnya tergambar seorang gadis kecil berponi dengan pipi gembulnya yang
dengan rona merah menampakkan wajah yang menggemaskan. Tangan Alvin meraih
bingkai tersebut. Jarinya dengan lembut mengusap wajah di foto itu. Menelusuri
setiap senti ukiran wajah yang hingga kini di matanya tetaplah yang paling
sempurna.
Kini
bayangan Alvin mulai berkelana. Memorinya justru menampakkan wajah seorang
gadis cantik yang berdiri menatapnya dengan pandangan arti tersembunyi. Kalung
bulan sabit yang entah semakin mengacaukan pikirannya. Mata Alvin memerah.
Menatap tajam benda yang ia genggam di tangannya.
“Arghhh”
Pranggg
Suara
erangan di susul suara pecahan pada bingkai foto yang di banting keras
mengacaukan suasana hening kamar Alvin yang meremang. Kini mata Alvin tertuju
pada sebuah kalung berbandul bintang yang tergeletak begitu saja di meja
belajarnya. Dengan emosi Alvin menarik kalung itu pada kedua sisi yang berbeda.
Dan..
Tringg
Bandul
itu terlepas. Alvin melempar kalung yang telah menjadi dua bagian itu pada tong
sampah di dekatnya. Dengan keadaan hatinya yang memanas, pemuda itu mengacak
rambutnya emosi.
“Apa
itu lo, hah. Apa iya lo sudah datang ke hidup gue. Kenapa? Kenapa sekarang lo
datang? Kenapa gak dulu saat gue butuh lo ada di sisi gue. Saat hati gue masih
mengenal dengan ketulusan. Kenapa harus sekarang? Semuanya gak lagi sama. Semua
sudah berbeda, termasuk hati gue. Arghhh”
***
“Hai”
Shilla mendongakkan kepalanya. Gabriel berdiri di hadapannya dengan dua buah
cangkir teh hangat. Pemuda itu menyodorkan secangkir ke hadapannya.
“Lo
belum tidur?” Tanya Gabriel sambil menyesap teh hangat di tangannya. Shilla
menggelengkan kepalanya. Ia menyodorkan sebuah rajutan di tangannya pada Gabriel.
“Saya
ndak biasa tidur sebelum menyelesaikan rajutan ini Mas” Ucapnya. Gabriel
menganggukkan kepalanya. Gabriel meletakkan cangkir di sebelahnya. Tangannya
menopang dagunya sambil menatap Shilla yang serius menjalin benang-benang itu
menjadi sebuah hasil rajut tangannya.
“Shil.
Gue boleh nanya sesuatu gak?” Shilla menolehkan kepalanya ke Gabriel. Kedua
alisnya bertaut menandakan ketidakmengertian maksud pemuda di sampingnya.
“Monggo
mas”
“Elo
gak sekolah?” Tangan Shilla mendadak terhenti mendengar pertanyaan Gabriel.
Shilla menatap Gabriel dari sudut matanya. Mendadak Shilla menjadi merasa
canggung duduk bersama majikan mudanya ini.
“Enggak
mas. Saya, saya udah gak sekolah. Namanya aja anak dari janda yang cuma
kerjanya nyuci sama gosok baju tetangga. Mana ada sekolah yang biayanya cukup
hanya dari hasil cuci sama gosok doang mas” Ucap Shilla dengan senyum yang
mengembang, namun sorot matanya yang tadi berbinar berubah sendu.
“Gimana
kalo sekolah sama gue aja”
“Ha?
Wah mas gak usah bercanda toh. Kalo saya sekolah di tempat mas saya bayar pake
apa. Gaji saya aja belum tentu cukup” Gabriel tertawa mendengar ucapan Shilla.
Tangannya mengusap rambut Shilla lembut.
“Lo
tenang aja. Gue akan bilang sama mama. Gue yakin mama akan mengijinkan lo
sekolah sama gue, oke. Eitss no comment. Sekarang lo balik ke kamar, besok kan
lo harus bangun siapin sarapan”
Shilla
mengangguk. Ia pun berdiri dan berjalan masuk ke rumah. Senyum mengembang di
wajahnya. Tangannya menyentuh dadanya. Sedari tadi jantungnya tidak berhenti
berdetak ketika bersama Gabriel beberapa detik yang lalu.
Owalah
Shilla, Shilla nanti kamu bisa-bisa jantungan gini terus. Duh duh.. Gusti..
***
Ify
terus memandangi sebuah foto di hadapannya. Senyumnya mengembang. Seorang
pemuda yang beberapa hari lalu baru di kenalnya namun langsung seketika
menambat hatinya. Mungkinkah ia jatuh cinta dengan pemuda itu.
“Kak
Ify” Ify menolehkan pandangannya. Seorang gadis berusia tak jauh darinya
berjalan mendekatinya. Gadis itu langsung mengambil tempat di samping Ify dan
langsung memandangi gadis berusia dua tahun di atasnya itu.
“Nesya”
“Kakak
kenapa kok dari tadi Nesya perhatiin kak Ify senyum-senyum terus. Hayooo kenapa
hayooo” Goda Nesya. Ify menatap Nesya salah tingkah. Dengan jahilnya ia
menyentil hidung gadis itu membuat sang empunya mengerang akibat ulah Ify.
“Iihh Kak Ify”
“Lagian
kamu masih bocah pikirannya. Oh ya Nes gimana si Afi. Dia baik-baik aja?” Tanya
Ify mengalihkan pembicaraan, namun tetap tersirat kekhawatiran.
“Afi
akhir-akhir ini memang sering begitu kak. Kita semua khawatir, apalagi aku.
Tapi ibu bilang sama kita kalo Afi baik-baik aja, tapi Nesya gak percaya. Pasti
ada sesuatu yang ibu sembunyiin”
Nesya
menundukkan kepalanya. Jarinya sibuk memainkan ujung dress selututnya. Ify
langsung menarik gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu ke pelukannya.
Mengusap lembut rambut gadis polos di hadapannya.
“Kamu
jangan gitu Nes. Biar bagaimanapun Bu Ratih itu tetap ibu kalian juga ibu kak
Ify. Apapun yang terjadi kita harus selalu percaya sama beliau. Mungkin memang
benar kalau Afi baik-baik aja. Udah ya jangan nangis”
“Kak,
Nesya belum siap buat ninggalin panti. 15 tahun Nesya besar di sini. Merasakan
bagaimana mempunyai seorang ibu, memiliki banyak saudara dan memiliki kakak
seperti Kak Ify ataupun Kak Rio. Nesya belum siap. Nesya tau waktu Nesya gak
lama lagi di Panti ini. Tiga tahun lagi Nesya akan keluar dari Panti. Menjalani
hidup sebagaimana orang-orang pada umumnya. Jujur kak, Nesya belum siap”
“Nes
siapa bilang kamu harus pergi. Panti ini rumah kamu. Di sini ada keluarga kamu.
Kemana pun kamu pergi, suatu saat nanti kamu pasti akan kembali lagi ke sini.
Di sini lah tempat kamu pulang” Ify menegakkan tubuh Nesya. Tangannya menangkup
wajah gadis itu. Mengusap lembut kulit putih gadis yang ia sayangi sebagai
adiknya tersebut. “Hidup kamu itu ya seperti ini. Bagaimana pun nanti kamu gak
bisa ninggalin hidup kamu yang sekarang. Ngerti”
Nesya
tersenyum. Tangannya meraih tangan Ify di wajahnya. Mengenggam dan mencium
tangan Ify.
“Kak
Ify mau janji apapun yang terjadi jangan tinggalin Nesya ya” Ify tak menjawab,
namun ia hanya menyunggingkan senyumnya pada Nesya membuat gadis itu kembali
menjatuhkan dirinya dalam pelukan Ify
***
Shilla
memelankan langkahnya. Sudah beberapa kali selama ia melangkah gadis itu
membuang nafasnya. Shilla menatap pintu kamar dihadapannya dengan gugup.
“Shill” Shilla terlonjak kaget saat sebuah suara
memanggil namanya. Shilla pun menoleh dan menatap seorang pemuda berdiri di
hadapannya.
“Oh
mas Gabriel saya kira siapa” Ucap Shilla gugup. Gabriel mengusap rambut Shilla
lembut membuat rona merah terpancar di pipi putihnya.
“Lo
ngapain di depan kamar Alvin”
Shilla
menunduk. Tangannya terangkat memperlihatkan sebuah nampan yang berisi susu
putih dan semangkuk sup yang asapnya masih mengepul. Gabriel mengangguk,
tangannya menepuk pundak Shilla membuat gadis itu terlonjak.
“Woo
hati-hati dong. Tuh mangkuk jatuh isinya bisa tumpah di kaki kita loh Shil.
Bahaya, bisa-bisa kita di perban berdua” Ucap Gabriel sambil terkikik membuat
Shilla menundukkan kepalanya malu.
Ceklek.
Gabriel
menghentikan tawanya. Menatap pintu di hadapannya yang terbuka. Seorang pemuda
berwajah datar muncul dari balik pintu tersebut. Gabriel menatap Alvin yang
menatap kearahnya juga Shilla dengan pandangan dingin.
Sementara
Shilla menundukkan kepalanya. Entah apa yang terjadi, tubuhnya mendadak
bergetar. Tiba-tiba hati Shilla meronta ingin sekali menatap pemuda dingin di
hadapannya, namun matanya berdusta. Kini yang terjadi tubuhnya seperti beku tak
mampu hanya untuk sekedar berucap
“Shill,
itu Alvin di depan lo” Bisik Gabriel. Shilla mengangguk namun kepalanya masih
tetap menunduk.
“Mas
i.. ini sarapan buat mas Al.. vin”
Alvin
terdiam di depan kamarnya. Menatap gadis di hadapannya yang sedang menyodorkan
nampan berisi makanannya. Alvin melengos, ia pun mengalihkan pandangannya dan
mulai berjalan meninggalkan Shilla yang terpaku di tempatnya dan Gabriel yang
mendengus melihat sikapnya.
Gabriel
melirik Shilla. Entah apa yang ia rasakan. Melihat sikap Alvin terhadap Shilla
mampu membuat emosinya yang selama ini selalu ia coba pendam seakan meluap tak
tertahan lagi.
“Saya..
saya ke belakang mas. Permisi” Ucapan Shilla sontak membuyarkan lamunannya. Gabriel
menatap punggung Shilla yang makin lama makin menghilang.
“Sebenarnya
lo ini siapa sih Shill. Apa yang lo perbuat terhadap perasaan gue”
Sementara
Shilla, entah apa yang terjadi pada dirinya. Mendapat perlakuan sedingin itu
dari Alvin seakan perasaannya sakit. Sakitnya sungguh bukan sekedar sakit
seperti tersayat. Bukan hanya sakit karena luka berdarah. Sakitnya jauh lebih
sakit dari hatinya yang tertekan oleh sesaknya udara. Shilla menghentikan
langkahnya. Menghapus air mata yang entah sejak kapan terjatuh.
“Kamu
tuh harus sadar Shil. Siapa kamu dan dimana kamu” Batinnya meronta.
***
“Dania”
Dania
menolehkan kepalanya. Seorang wanita paruh baya berdiri di ruangannya. Dania
terpaku melihat wanita tersebut.
“Ibu”
Wanita paruh baya itu tersenyum kearahnya. Bukan sebuah senyum yang dapat
mengundang orang lain untuk membalasnya. Melainkan sebuah senyum yang seakan
mengintimidasi siapapun yang mendapatkannya.
“Kenapa?
kamu kaget saya disini?” Dania menggelengkan kepalanya. Ia berjalan kearah
wanita itu dan mencium tangan wanita yang merupakan mertuanya tersebut.
“Bagaimana
cucu saya? Apa dia baik-baik saja tinggal bersamamu”
“Alvin
baik-baik saja bu. Cuma beberapa hari lalu dia berantem sama Mas Hardi” Ucap
Dania sambil menggiring mertuanya itu duduk pada sofa ruangannya. Lalu berjalan
ke mejanya menuju intercom dan memencet sebuah tombol kecil di sana. “Bawa
secangkir teh hangat tanpa gula ke ruangan saya segera”
“Bagaimana
mereka tidak berantem kalau suamimu itu hanya peduli pada anakmu saja.
Sementara Alvin dia adalah anaknya”
“Alvin
juga anakku bu” Sanggah Dania membuat wanita paruh baya itu mendesis. Romi,
wanita itu menatap menantunya yang tidak menatap kearahnya. Senyum angkuhnya
kembali hadir di wajahnya yang tak lagi muda itu.
“Sampai
kapanpun anakku tetaplah anakku. Bahkan menantuku pun selamanya tetap satu. Aku
heran dengan keputusan Hardi yang menikahimu yang seakan itulah hal terbaik
untuk membunuhku perlahan”
Dania
mendongakkan kepalanya. Menahan air mata yang seakan siap tumpah jika sedetik
saja ia mengedip.
“Aku
gak tau apa salah aku, apa salah Gabriel sehingga ibu dan Alvin gak bisa
menerima aku. Aku mencintai Hardi tulus. Begitu pun Alvin, dia, dia adalah
anakku Bu. Aku menghormati ibu bukan hanya sebatas mertuaku. Ibu adalah ibuku”
Romi
beranjak dari duduknya. Menatap Dania yang sudah menangis di tempatnya. Romi
mengalihkan pandangannya. Lalu perlahan melangkah meninggalkan Dania yang
terisak di tempatnya.
“Bagaimana
bisa aku mempercayaimu jika kamu dan anakmu itu tetap bertahan di sini dengan
gelimangan harta Hardi juga Raina. Jangan lupa Dania. Perusahaan ini adalah
milik menantuku. Dan sampai kapanpun aku tidak akan berbaik hati padamu jika
kamu masih menegakkan tubuhmu di atas kekakuan Raina. Ingat itu”
Dania
merosot dari tempatnya. Terisak dengan perasaan sakit yang sungguh menyiksa
batinnya. Dania tak peduli saat seorang karyawannya melihat dirinya yang hancur.
Biar mereka menyadari bahwa inilah dirinya. Sosok wanita yang mencoba tegar
untuk mempertahan rumah tangga yang ia tahu itu semua berdiri di atas sebuah
kesalahan.
Gabriel
langsung berlari menuju mamanya yang sedang terisak di sofa gading ruangannya.
Gabriel tak perlu berpikir panjang saat melihat tubuh wanita yang di sayanginya
tersebut bergetar di sertai isakan yang begitu membuat hatinya bergetar sakit.
“Sudah
ma cukup. Ada Gabriel disini. Kita lewati semuanya dengan sabar ya ma. Gabriel
yakin Oma tidak akan lama membenci kita. Karena hati oma tetaplah hati seorang
ibu. Dan yang Gabriel tau hati seorang ibu itu lembut melebihi dari kapas.
Seperti hati mama”
Dania
semakin terisak keras membuat Gabriel semakin dalam mendekap ibunya tersebut.
Gabriel menegakkan tubuh Dania. Menangkupkan kedua tangannya pada wajah Dania
yang sudah penuh air mata. Gabriel mengusapkan jarinya pada kedua pipi wanita
yang sangat ia cintai itu.
Dania menatap putranya. Air matanya tak henti
mengalir membasahi wajahnya yang masih terlihat cantik. Sumpah demi apapun
pelukan Gabriel adalah pelukan terhangat yang selalu ia rasakan. Usapan Gabriel
pada wajahnya adalah usapan terlembut yang seakan membuai perasaannya. Rasa
sayangnya pada putra yang ia besarkan penuh cinta seorang diri dari saat
Gabriel berusia 3-17 tahun adalah saat dimana semuanya masih terlihat indah,
hingga pada akhirnya Dania bertemu dengan suaminya saat ini.
“Sekarang
kita pulang ya ma. Mama istirahat di rumah. Biar kerjaan mama Gabriel teruskan di
rumah. Ayo ma”
Gabriel
mengangkat tubuh mamanya. Mengalungkan tangan mamanya pada lehernya. Gabriel
mendekap pinggang mamanya dengan hati-hati. Gabriel sadar bahwa kehadirannya
adalah sebuah kekuatan bagi mamanya. Apapun yang terjadi Gabriel bersumpah, ia
akan terus menjaga mamanya itu. Tak akan ia biarkan siapapun menyentuh apalagi
menyakiti wanita kesayangannya.
***
Rio
memandang wajah Ify dari spion kecil di hadapannya. Rio mendesah, gadis itu
begitu dekat untuk sekedar di pandang namun begitu jauh untuknya meraih hati
gadis yang ia cintai atas kata sahabat itu. Rio dapat merasakan saat ia dengan
mudah dapat memeluk tubuh Ify. Dapat mencium gadis itu. Selalu merasakan
kehangatan tubuhnya. Namun semua itu tak berarti baginya bila ia pun tak dapat
memiliki hati Ify.
“Aryo
Mahesa apa lo denger ucapan gue tadi?” Rio tersentak. Ia menolehkan kepalanya
menatap Ify yang memandangnya tajam di sertai bibir mungil gadis itu yang
mengerucut.
“Eh
apa Fy? Eh iya.. tadi lo ngajak gue ngomong? Apaan sih”
Ify
mencibir mengetahui reaksi Rio terhadapnya. Sumpah demi apapun hatinya
benar-benar dongkol setengah mati saat ia panjang lebar bercerita tapi
ujung-ujungnya lawan bicaranya hanya memasang wajah bodoh bertanya apa yang ia
ucapkan. Rasanya Ify ingin menendang Rio keluar dari mobil pemuda itu. Tapi kalo
di tendang Ify tidak akan memiliki korban crimenya dong. Aishh.
“Gak
itu loh tadi gue lagi ngobrol sama angin. Eh gue oon udah tau angin di ajak
ngobrol, ya udah tuh angin lewat aja di depan gue”
“Apaan
sih Fy. Gak lucu deh. Gue udah serius nanya”
“Liat
noh si Sule kalo mau ngelucu” Jawab ify membuat Rio menggelengkan kepalanya.
Rio mendengus saat ia mengetahui gadis itu justru sibuk mengotak-atik
handphonenya tanpa meliriknya sekalipun.
“Fy
beli ice cream yuk” Sejenak Ify menghentikan kegiatannya. Menatap Rio
memastikan apa yang ia dengar semua bukanlah khayalannya.
“Choco
cream with capuchino sauce bertabur choco chip with double cone” Bisik Rio di
telinga Ify yang membuat gadis itu terdiam dan beberapa kali mengecap lidahnya.
Rio menyeringai melihat reaksi Ify atas ucapannya.
“Rio
kalau sampek lo berhenti di depan rumah gue, gue akan pastikan malam ini tidur
lo gak bakal tenang, ngerti” Ancam Ify membuat Rio terkikik sambil mencubit
hidung mancung Ify membuat gadis itu meronta.
“Asal
lo gak ngambek lagi beb” Ucapnya menggoda Ify yang membuat gadis itu merengut,
tak lama gadis itu tersenyum dengan paksa di kedua sudut bibirnya sambil
mengangguk dan mencubit kedua pipi Rio.
“Gue
gak ngambek kok. hehe” Rio tersenyum dengan sikap Ify terhadapnya. Rio melirik
Ify. Dalam hati ia bersyukur dapat menikmati secara puas wajah indah gadis yang
di cintainya itu.
Kalaupun
dengan mencintai lo tanpa lo tahu pun bisa menjadikan gue alasan lo selalu
bahagia. Gue rela menjalani cinta walaupun hanya setengah hati gue yang
merasakannya. Karena bagi gue mencintai lo sederhana. Ketika dunia seakan
berputar menciptakan suatu keajaiban yang selalu membuat lo tersenyum. Itulah
ingin gue selalu. Mencintai lo sesuka gue tanpa lo tahu namun dapat menikmati
senyum yang hanya untuk gue.
***
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar