***
“Yiat deh aku cantik kan. Kata tante
Pia anak peyempuan itu pasti cantik. Kayak bunda. Tante Pia biang kayo bunda
itu cantik banget. Kayak aku.” Ucap seorang bocah perempuan berkuncir dua
dengan baju pink mengembang di bawahnya. Bocah tersebut tampak memainkan roknya.
Memutar tubuhnya di hadapan cermin. Memperlihatkan tubuhnya yang mungil
mengibaratkan dirinya bak princess
“Iihhh Ify gak boleh gitu dong. Liat
deh aku. Aku tuh ganteng. Tau gak kata papa aku, aku ini mirip loh sama papa
kamu, namanya sama kayak aku, Rio. Trus aku gak cadel kayak kamu. Wlek Ify
jelek”
Tak mau kalah. Seorang bocah
laki-laki yang berusia sama dengan bocah perempuan itu mengunggulkan dirinya. Merasa
bahwa hanya dirinyalah yang paling sempurna. Tentunya karena fasihnya bocah
tersebut mengucapkan huruf “R” dan “L”.
“Huaaa tante Pia om Apin, Iyo jahat.
Huaaa hiksss hiksss”
“Ify jelek, Ify cadel, Ify jelek,
Ify cadel”
“Loh loh ada apa ini. Loh Ify kok
kamu nangis”
Ify, Sang bocah perempuan itu
mendongakkan kepalanya. Menatap seorang wanita yang berdiri di pintu kamar
bermain mereka. Bocah cantik tersebut lantas berdiri dan berlari kearah wanita
tersebut. Kemudian melingkarkan tangan mungilnya pada pinggang ramping wanita
itu.
Via, wanita itu tersenyum menatap
tingkah lucu bocah cantik di hadapannya. Via mengusap rambut bocah yang
terkuncir lucu tersebut. Lantas membawanya pada gendongannya. Di bawanya Ify
menuju kursi berupa bola raksasa di tengah ruangan yang disana juga berdiri si
bocah laki-laki yang sedari tadi sibuk bermain mobil-mobilan yang di jalankan
pada dinding di kedua tangannya.
“Rio, kamu ngapain Ify kok dia
nangis. Rio hentikan permainan kamu. Liat mama”
Rio bocah tersebut menolehkan
kepalanya. Menolehkan wajahnya pada Via, mamanya. Rio menundukkan kepalanya
melihat raut wajah mamanya yang terlihat marah padanya. Rio mendongakkan
kepalanya saat ia melihat seorang pria yang kini berdiri di pintu ruangan
bermainnya. Rio lantas beranjak dari tempatnya dan berlari menuju pria itu dan
bersembunyi di belakangnya. Tangan mungilnya melingkar di pinggang pria itu.
“Papa. Mama marah-marah. Rio takut”
Ucap bocah tampan tersebut. Pria itu menatap istrinya yang mendekap erat tubuh
mungil sang gadis kecil yang terlihat terisak. Pria tersebut menghela nafas
melihat tatapan yang di isyaratkan oleh istrinya tesebut.
“Vin, bawa Rio kesini” Alvin,
laki-laki tersebut melepaskan rengkuhan mungil di pinggangnya. Membalikkan
tubuhnya dan berlutut di hadapan jagoan kecilnya tersebut. Tangannya mengusap
rambut ikal putranya, kemudian mencubit kedua pipi merah yang mengembung milik
putranya tersebut.
“Ke mama yuk” Rio menggelengkan
kepalanya dengan bibir mengerucut. Tangannya memainkan rambut papanya. Alvin mendekatkan
bibirnya pada telinga Rio, membisikkan sebuah kalimat.
“Kamu katanya jagoan. Jagoan itu
harus berani mengakui kesalahan loh. Harus minta maaf kalo salah. Kamu gak kasian sama Ify.
Memangnya kamu mau mama kamu lebih sayang sama Ify” Rio membulatkan matanya.
Matanya menatap takut kearah mamanya yang menatap kearahnya dan papanya.
Matanya kembali mengarah pada sang papa. Kepalanya menggeleng cepat. Ia
menjauhkan tubuhnya dari papanya dan berlari
kearah mamanya.
“Ify.. Ify maafin Rio. Ify jangan
marah sama Rio. Ify mau main lagi ya sama Rio. Ify cantik kayak bundanya Ify
sama mamanya Rio. Nanti Rio ajarin Ify ngomong R sama L. Ify jangan marah ya”
Ify menegakkan tubuhnya. Menatap
heran bocah laki-laki di hadapannya. Kemudian matanya menatap kearah wanita
yang mendekapnya. Dilihat wanita itu menganggukkan kepalanya. Ify kembali
menatap Rio. Kemudian dengan bibir mengerucut dan tangan yang bersedekap di
dada kepalanya ia palingkan dari Rio.
“Yahhh. Mama papa. Ify marah sama
Rio”
Via menatap Ify di pangkuannya.
Tangannya mengusap lembut rambut halus Ify. Via mendekatkan bibirnya pada wajah
gadis lucu tersebut.
“Sayang dengerin tante ya. Katanya
kamu mau jadi princess. Princess itu bukan pemarah lo. Dia itu pemaaf juga
selalu minta maaf kalo salah. Princess itu cantiknya bukan cuma wajah tapi..”
Via menghentikan kalimatnya. Tangannya meraih tangan mungil Ify. Mengarahkan
tangan mungil itu ke dada gadis kecil di hadapannya. “Hatinya juga harus cantik
sayang”
Ify menatap wajah Via yang tersenyum
di wajah cantik wanita tersebut. Tangan mungilnya meraih wajah Via. Mengelus
pipi wanita itu. Via mengenggam lembut tangan Ify dan mengecupnya penuh sayang.
“Benen tante”
Via menganggukkan kepalanya. Ify
merosot dari pangkuan Via. Berjalan kearah Rio yang memainkan bajunya dengan
kepala menunduk.
“Iyo. Ipi maafin Iyo deh. Ipi juga
mau maen agi sama Iyo”
“Bener”
Ify menganggukkan kepalanya. “Tapi
Iyo janji mau ajain Ipi bian gak cade agi. Janji”
Ify mengajukan kelingkingnya di
hadapan Rio. Rio dengan senyum polosnya menyambut kelingking Ify “Janji”
Via melirik Alvin. Senyumnya
mengembang pada laki-laki yang di cintainya tersebut. Menatap suaminya yang
menatap kearah anaknya dan.. bayangan masa lalunya dulu.
***
Duk duk duk
Suara pantulan bola menggema pada
lapangan yang kini terlihat sepi. Seorang pemuda berkulit putih tampak
menggiring bola berkulit orange itu menuju sebuah keranjang yang berdiri pada
ujung lapangan.
“Yee masuk. Alvin kamu hebat sayang.
Ayo Vin masukin lagi bolanya”
Alvin, pemuda itu menatap ke pinggir
lapangan. Tersenyum pada seorang gadis berdagu tirus yang memandangnya penuh
binar. Alvin melempar bolanya ke sembarang arah. Kemudian berlari kecil kearah
gadis itu yang menatapnya sebal.
“Kok udahan” Tanya gadis itu dengan
suara merajuk. Pemuda itu terkekeh. Mengacak rambut kekasihnya dan menyempatkan
mencium kepala gadis yang ia cintai itu.
“Kamu tega liat aku kecapekan. Liat
nih badan aku udah keringatan Ify sayang. Aku haus. Kamu gimana sih jadi pacar
kok gak peka banget”
Ify menundukkan kepalanya.
Memelintir baju seragamnya. “Maaf deh. Ya udah nih minum. Sini aku bersihin
muka kamu”
Ify mengambil sebuah handuk kecil
pada ransel Alvin di sampingnya. Tangannya dengan lembut mengarahkan handuk
tersebut pada wajah tampan Alvin. Mengusap penuh sayang wajah pemudanya. Alvin
menatap Ify dalam. Senyumnya tak henti mengembang. Menikmati wajah cantik
gadisnya adalah hal yang selalu membuatnya seperti candu. Selalu ingin, ingin
dan terus ingin melakukannya.
Ify semakin menundukkan wajahnya.
Menyembunyikan wajahnya yang memerah karena gugup akibat tatapan intens Alvin.
Ify mendongakkan kepalanya saat Alvin dengan lembut menyentuh dagunya
mengarahkan agar menatapnya lurus kearah pemuda itu. Ify reflek menutup matanya
saat ia merasakan wajah Alvin mendekat kearahnya. Dapat ia rasakan hembusan
hangat menerpa wajahnya. Ify melingkarkan tangannya pada leher pemuda itu.
Hidung mereka saling bersentuhan.
“Ekhem” Mereka tersentak. Ify maupun
Alvin menarik diri mereka masing-masing. Ify menundukkan wajahnya merasa malu
kepergok orang lain sedang, sial. Sementara Alvin menatap tajam orang yang
telah menganggu waktunya tersebut.
“Sorry bro. Bukannya maksud ganggu.
Liat situasi dong. Hehe. Oh ya Fy, lo di cari Via tuh di perpus. Ekhem”
“Riooo, ish sial” Rio, pemuda itu
terkekeh melihat raut kesal sahabatnya. “Awas lo kalo berduaan sama Via gue
ganggu” Rio melirik Alvin. Menggoda sahabatnya tersebut yang hanya mendengus.
“Ehmm Vin aku cari Via dulu ya”
Alvin menganggukkan kepalanya, menatap gadis mungil yang berlari kecil sembari
menundukkan kepalanya.
“Yo, kita one by one. Siapa yang
banyak poinnya. Dia kudu di traktir sepacar-pacarnya”
“Oke siapa takut” Rio langsung
mengambil bola basket dari tangan Alvin dan menggiringnya menuju ring. Alvin
langsung menyusul pemuda itu untuk merebut bola berkulit orange tersebut.
***
Via menatap heran Ify yang sedari
tadi hanya memanyunkan bibirnya dengan omelan kecil yang sedikit mengganggunya.
“Lo kenapa sih Fy. Muka lo duhh “
Ify menatap tajam Via. Tangannya terlipat dengan bibir mengerucut membuat Via
tak tahan untuk tidak terkekeh.
“Lo tuh kalo cari pacar yang bermutu
kek dikit. Apaan gak bersyukur punya pacar kayak lo. Dia selalu gue sama Alvin”
“Rio?” Ify memutar bola matanya.
Mendengus dan menatap kesal kearah sahabatnya tersebut.
“Menurut lo?”
Via menggelengkan kepalanya. Matanya
kembali terfokus pada buku di hadapannya yang sempat ia abaikan.
“Fy, lusa hari anniv kita loh. Lo
inget kan?” Ify menolehkan kepalanya kearah Via. Menautkan alisnya untuk
berpikir. Tak berapa lama kedua mata coklatnya tersebut melebar.
“Astaga gue lupa, yah gue belum
siapin apa-apa buat Alvin. Gimana dong” Via tersenyum mendengar ucapan Ify. Ia
menyingkirkan buku di hadapannya setelah sebelumnya ia lipat pada halaman
terakhir bacaannya.
“Lo kayak gak tau Alvin aja.
Bukannya dari dulu dia selalu ngajak kita berempat duduk di atap gedung, trus
lilin satu di tengah sama snack. Bukannya kita sesederhana itu dari dulu.”
Ify mendesah kecewa. Yang di katakan
sahabatnya sesungguhnya memang benar yang terjadi. Namun apa salah bila hatinya
meminta lebih. Bukan hanya sekedar duduk, membicarakan nostalgia yang indah
namun telah terlewat. Ify jujur dalam hatinya bahwa ia jenuh.
“Arti anniv dalam hubungan kita
masing-masing bukan sekedar senang Fy. Itu adalah kedewasaan dalam hubungan
kita sama pasangan kita. Walaupun sederhana bukan jadi masalah dalam menjalin
hubungan lebih baik lagi. Yang mencintai itu hati bukan ego. Ketika lo
mencintai pasangan lo dengan sederhana, apapun akan mampu lo lewati dengan
sederhana juga. Sana gih sudah di jemput Alvin”
Ify menganggukkan kepalanya. Bangkit
dari tempatnya dan berjalan mendekati Alvin yang berdiri di pintu perpusatakaan
dengan senyum. Ify membalas canggung senyum Alvin. Ia hanya diam ketika pemuda
itu mencium keningnya begitu dirinya telah sampai di hadapan kekasihnya itu.
“Fy kita pulang sekarang ya. Habis
ini aku ada latihan sama anak basket buat pertandingan lusa”
Ify menganggukkan kepalanya.
Senyumnya getir mendengar ucapan lantang kekasihnya. Basket dan dirinya gak
akan bisa sama dalam hidup Alvin. Dan ia cukup tahu akan itu.
***
“Maaf Yo, aku gak bisa pulang bareng
kamu. Aku sama Dea mau ke rumah Agni buat ngurus proposal pertandingan basket
sekolah. Gak papa kan Yo”
“Oh gitu. Ya udah gak papa. Jangan
pulang malem, jangan lupa makan. Maag kamu bahaya kalo kamu lewati semenit aja”
Ucap Rio posesif membuat Via memutar bola matanya. Kepalanya mengangguk. Rio
tersenyum melihat punggung Via yang menjauh.
Rio berjalan meninggalkan koridor
sekolah. Langkahnya sontak terhenti saat ia melihat pintu menuju tangga atap
sekolah terbuka. Entah dorongan darimana langkah Rio dengan ringan berjalan
menaiki satu-satu tangga tersebut. Matanya menangkap seorang gadis di pinggir sana
duduk sambil memandang lurus ke depan.
“Fy”
Ify mengalihkan pandangannya.
Alisnya terangkat saat ia melihat seorang pemuda berdiri di sampingnya. “Rio?”
“Lo ngapain di sini? Sendirian lagi.
Alvin mana? Kok lo gak pulang?” Ify tertawa kecil begitu mendengar rentetan
pertanyaan beruntun dari Rio. Kepalanya menghadap Rio yang kini telah mengambil
posisi sama dengannya. Duduk dengan kaki terjuntai di tepi atap.
“Lo nanya gak mau santai deh. Gue
lagi males pulang. Sepi di rumah. Gue gak sendirian, ada lo tuh. Alvin. Dia
lagi latihan buat pertandingan besok”
Rio menganggukkan kepalanya. Ia
mengalihkan pandangannya ke depan mengikuti arah pandang Ify. Helaan nafas
menghiasi kebungkaman di antara keduanya. Hingga suara deheman membuyarkan
keheningan mereka.
“Besok apa kita bisa merayakan anniv
kita seperti dulu Fy?” Ify menolehkan kepalanya kearah Rio. Kemudian kembali
mengalihkan pandangannya ke semula.
“Apa ada ketidakmungkinan itu Yo”
Lirih Ify. Rio menundukkan kepalanya. Matanya terpejam menikmati terpaan angin
yang mengusap wajahnya. Perlahan kepalanya bergerak kekanan-kiri menjawab
pertanyaan Ify. Ify tersenyum lirih.
Ify memejamkan matanya. Menahan air
matanya yang ia rasa ingin mendesak keluar. Ify segera menghapusnya setelah
setetes berhasil meluncur dari matanya.
“Gue tidak akan menghalau bagaimana
pun waktu itu berjalan Fy. Karena pada nyatanya kita tidak akan pernah
menghentikan permainan takdir. Kalau pada nyatanya semua terhenti atau bahkan
terganti gue ikhlas menjalaninya”
Ify menganggukkan kepalanya. Ia
membiarkan matanya mengalirkan sepasang tetes air yang mengaliri kedua pipinya.
Rio menolehkan matanya menghadap Ify. Menghapus air mata yang mengalir di
wajahnya. Menikmati pahatan sempurna yang berhasil mengasingkan perputaran
waktu dan terhenti tepat di detik saat mata itu tenggelam dalam pandangannya.
***
Via menatap nanar sebuah pesan dari
handphone- nya. Air mata menembus mata cantiknya. Sungguh sakit ia membaca
pesan tersebut. Via memejamkan matanya. Mengeratkan kepalan pada tangannya.
Aku gak maksa
kamu biar bisa dateng kok sayang. Gak papa selesaikan aja tugas kamu. Aku gak
papa sendiri. Ada Ify sama Alvin kok di sini.Happy anniv sayang. Aku sayang
kamu. Love you darling.
“Vi. lo ngapain di sini. Kenapa gak
pulang. Lo gak dateng. Rio pasti nunggu lo”
Via menggelengkan kepalanya.
Tangannya menghapus air mata yang sedari tadi membasahi wajahnya, mengacaukan
perasaannya.
“Lo sendiri ngapain di sini.
Bukannya pertandingan sudah selesai karena lo gak lolos babak selanjutnya.
Bukannya segera kesana. Lo gak kasian sama Ify. Dia pasti nunggu lo”
“Gue tau dia kecewa sama gue. Dan
gue gak mau ngeliat dia makin kecewa kalo gue tiba-tiba dateng dan dia tau kalo
gue gagal. Gue..”
“Apa kita terlalu jahat Vin sama
mereka. Gue sadar kalo kita ini bukan lagi seperti dulu”
“Mereka pasti ngerti” Ucap Alvin
sambil mengusap rambut Via. Memberikan ketenangan untuk gadis itu. Sementara
hatinya sendiri menjerit keras namanya. Nama gadis yang sangat ia cintai
tersebut. Ilfyna Raysa.
***
Rio mengenggam tangan Ify. Mengusap
lembut tangan kekasih sahabatnya tersebut. Memberikan kehangatan untuk tangan
dingin gadis itu. Rio terpaku melihat wajah di hadapannya. Cantik. Rio
tersentak. Detak jantungnya tiba-tiba memburu. Bayangan-bayangan saat Ify
bersama Alvin terputar di otaknya. Sakit, mendadak dadanya sakit.
Gue jatuh cinta sama Ify. Batinnya
bertanya. Matanya terus menatap lekat wajah itu.
“Fy apa lo masih bertahan sama
Alvin?” Ify tersentak. Ia menatap Rio di hadapannya. Memastikan pertanyaan yang
baru saja keluar dari bibir pemuda itu
“Ngapain lo tanya hal itu?”
“Ada celah Fy buat lo dapetin hati
lo yang kosong. Jangan munafik. Mana ada cewek yang tahan pacaran sama cowok
yang cintanya terbagi sama sebuah bola. Apa lo udah gak ada artinya lagi buat
Alvin”
Ify segera menarik kasar tangannya
saat ia merasa begitu mendengar ungkapan Rio yang terdengar merendahkannya. Ia
menggelengkan kepalanya sambil menatap Rio.
“Gue cuma ngomong fakta. Dan lo
harus tau kita ini sama. Dan kita sebaiknya saling melengkapi”
Ify langsung bangkit dari duduknya.
Mengambil tas selempangnya dan berjalan menjauhi Rio. Rio yang di tinggal gadis
itu segera bangkit dan menyusul. Rio mencekal tangan Ify. Menarik tangannya
hingga langkah gadis itu terpaksa terhenti.
“Lo kenapa sih Fy? Apa salah sama
omongan gue. Gue..”
“Gue sudah ada Alvin. Dan harusnya
lo sadar lo itu ada Via” Mendengar ucapan Ify sontak Rio tersenyum, namun bukan
senyum tulus yang selama ini selalu di tampakkan pemuda itu di saat hari
biasanya.
“Alvin? Mana? Bukannya dia lebih
cinta hidupnya dengan basket daripada lo. Fy dengerin gue ya. Gue sayang sama
lo”
Plak
Rio mengusap pipinya yang memanas
akibat tamparan tangan Rio. Ia menatap Ify tak percaya. Sementara Ify sudah
mulai menggenangkan aliran dari mata coklatnya.
“Lo tuh gila Yo. Gue. Akhhh. Lo
punya Via gimana caranya lo bisa sayang sama gue. Gue gak bisa”
“Fy dengerin gue. Kita itu sama. Lo
ataupun gue terabaikan. Apa salahnya kalo kita saling melengkapi. Fy, percuma
kita jalani hubungan kita masing-masing kalo gak ada rasa. Gue tau ini mungkin
salah. Tapi cinta gak akan salah Fy asal lo bisa percaya sama gue”
Ify menggelengkan kepalanya.
Mengalihkan tangan Rio yang menyentuh kedua pipinya. Air matanya kian deras
mengalir di wajahnya.
“Lo sadar dong. Alvin itu sahabat
lo. Gimana caranya bisa lo sayang sama pacar sahabat lo sendiri. Lo picik Rio.
Gue benci sama lo”
Ify langsung pergi meninggalkan Rio,
namun Rio tetap mengejar dan menarik tangan Ify makin keras sehingga gadis itu
terhempas kearahnya. Entah setan apa yang sedang mempengaruhi otak Rio, pemuda
itu langsung mencengkeram tangan Ify. Mendekatkan kepala gadis itu kearahnya
dan langsung menyentuh bibir mungil gadis itu dengan bibirnya secara kasar.
Ify memejamkan matanya erat. Rasanya
bukan hanya bibirnya yang terasa sakit karena gigitan dari Rio yang membuat
robekan di bibirnya hingga berdarah. Hatinya pun sama. Sakit. Terasa begitu
kuat remasan di hatinya membuatnya sesak tak karuan. Air mata kini mengalir
deras di pipinya. Setelah sekian lama Rio melepas bibirnya. Menatap Ify yang
beringsut lemah dengan isakan yang membuatnya sungguh menyesal.
“Fy gu.. gue minta maaf” Ify menatap
tajam Rio.
Plak.
Lagi tamparan mendarat di pipi
pemuda itu. “ Brengsek. Gue benci lo Rio. GUE BENCI LO”
Ify langsung bangkit mendorong Rio
yang ingin mendekatinya lagi. Ia berlari dengan air mata yang deras dan tak
henti mengalir. Tangannya meremas dadanya. Sakit itu kian menyiksa dirinya.
Alvin. Via. Rasanya ia ingin
menenggalamkan dirinya. Mengenyahkan keberadaannya dari dua orang yang ia
sayangi. Sungguh Ify sangat menyesal.
“Maaf.. maaf”
***
“Sayang, kamu kenapa sih kok diem
aja. Kamu sakit. Bilang sama aku. Kita pulang aja ya kalo kamu sakit biar aku
minta ijin ke guru piket”
Ify tetap diam. Pandangannya kosong
menatap ke depan. Tak ia pedulikan keberadaan Alvin yang mengkhawatirkan
dirinya.
“Fy, kamu marah sama aku karena aku
gak bisa dateng tadi malam. Aku minta maaf aku..”
Ucapan Alvin terhenti saat tiba-tiba
Ify memeluknya. Alvin mematung saat tubuh gadis itu bergetar. Disusul dengan
isakan yang semakin membuatnya bingung. Alvin menjauhkan tubuh Ify.
Mencengkeram lembut kedua bahu gadis itu. Tangannya menangkup wajah Ify yang
menunduk. Alvin menyentuh dagu Ify, mengusap wajah tirus itu yang kini telah
banjir oleh aliran air mata
Ify memejamkan matanya. Merasakan
kelembutan usapan tangan Alvin pada wajahnya. Tiba-tiba bayangan itu. Bayangan
yang membuatnya merasakan sakit bukan hanya tubuhnya yang ia siksa semalam
untuk menghilangkan sentuhan laki-laki itu, namun juga hatinya.
Alvin kembali menarik Ify
kepelukannya. Mencium puncak kepala gadis yang ia cintai itu. Sungguh dalam
hatinya ia menjerit sakit melihat air mata yang terus tanpa henti menghiasi
wajah gadisnya. Belum lagi wajah gadis itu yang ia lihat memucat. Di tambah
lingkaran hitam di sekitar wajahnya yang membuat hatinya terasa di sayat-sayat
benda tumpul tiada henti.
“Vin. A.. aku mohon ja.. jangan
tinggal.. tinggalin aku. Aku sayang kamu Vin. Aku mohon ja.. jangan tinggalin
aku apa.. pun yang terjadi”
Alvin mengangguk. Mencium
berkali-kali puncak kepala Ify. Alvin terus mengeratkan pelukannya pada
gadisnya. Membiarkan gadis itu perlahan tertidur di dekapannya.
***
“Kamu suka sama Ify?” Rio menolehkan
pandangannya dari dua sejoli yang saling mendekap di sana. Menatap Via yang
juga menatap kearah pasangan tersebut dengan sendu. Rio mendekati Via menyentuh
tangan gadis itu, namun Via langsung menepisnya.
“Aku..”
“Apa yang terjadi semalam? Kenapa
Ify sampai begitu. Apa yang terjadi Rio. Aku tau ada sesuatu yang kamu
sembunyikan tentang Ify. Iya kan?” Rio menundukkan kepalanya. Tak berani
menatap Via yang ia yakini menatapnya dengan luka.
“Aku liat kejadian semalam”
“Apa?”
***
Via mengendarai mobilnya dengan
kecepatan sedikit di atas rata-rata. Berulang kali matanya tak fokus terbagi
antara jam tangannya juga jalan yang di laluinya. Ia tau ia sudah terlambat.
Biar pun ia dapat cacian dari Ify maupun Rio ia tak peduli. Yang penting
mobilnya segera tiba di tempat yang benar-benar sangat ia inginkan untuk
menginjaknya saat ini.
Mobil Via memasuki kawasan sebuah
cafe. Tempat yang berbeda malam ini untuk merayakan hari spesial hubungannya
dengan kekasihnya. Bukan hanya dirinya dan Rio, namun sahabatnya juga sedang
merayakannya malam ini.
Mobil Via mendadak berhenti saat
matanya menatap seorang gadis yang nampak berjalan terburu-buru keluar cafe. Di
susul seorang pemuda yang begitu ia kenal. Entah apa yang terjadi membuat Via
mengurungkan niatnya untuk turun dan menemui mereka.
Via menurunkan kaca mobilnya.
Beruntung saat ini tempat ini tidak begitu ramai sehingga samar-samar ia bisa
menangkap percakapan dua sepasang di sana. Via memejamkan matanya saat ia
melihat pemuda itu yang tak lain adalah Rio sedang menyetuh wajah Ify. Ia tahu
gadis itu sedang menangis saat ini. Entah apa yang mereka bicarakan namun
melihat reaksi Ify yang langsung menampar Rio, ia yakin ada sesuatu yang salah.
Dua orang itu kembali berdebat, lalu
Ify yang kini pergi namun lagi-lagi Rio menahan gadis itu, menariknya dan..
Air mata Via meluncur membasahi
wajahnya. Dengan jelas ia melihat semua itu. Kekasihnya, pemuda yang sangat ia
cintai mencium dengan kasar bibir sahabatnya. Tangan Via terangkat menyentuh
bibirnya. Bersama Rio, pemuda itu bahkan dirinya selalu menjaga agar apapun
yang mereka miliki tetap utuh. Namun malam ini seakan semua yang telah ia jaga
seakan luruh menghancurkan apa yang ia miliki.
Via menekan dadanya dalam saat ia
melihat tubuh Ify yang beringsut lemah di tanah. Isakannya pecah menemaninya
merasakan kepedihan yang ia dapat saat ini. Via mengalihkan pandangannya saat
Ify berlari melewati mobilnya dengan tangisan yang jujur menyakiti hatinya.
Via menyandarkan tubuhnya pada
sandaran jok mobil. Tangannya meremas frustasi rambutnya. Sungguh seakan
perasaannya luluh tak lagi utuh
***
“Gue tau disini salah gue yang gak
bisa menjaga agar ruang itu ada di antara kita. Tapi apa lo bisa menjaga hati
lo. Trus siapa yang harus di salahkan. Gue? Ya gue memang salah gak bisa
meluangkan waktu sedikit aja untuk lo. Tapi apa pantas apa yang selama ini
usaha untuk gue pertahankan. Cinta kita, hubungan kita juga kepercayaan yang
selama ini kita jaga untuk tetap utuh tiba-tiba hancur hanya karena keegoisan”
Rio meremas rambutnya. Memukul
secara frustasi kepalanya. Mendengar kata per kata yang meluncur dari bibir
kekasihnya yang seakan menghakiminya telak.
“Itu cuma kesalahan. Aku khilaf.
Tolong percaya Vi”
Via terkekeh. Menatap sinis kearah
Rio. Ucapan konyol yang seakan ingin membuatnya merobek dada Rio. Melihat
terbuat dari apa hati yang ada di tubuh pemuda itu.
“Khilaf? Lo bilang khilaf. Kenapa
gak lo perkosa Ify sekalian di depan gue Rio. Kenapa cuma sebatas ini lo
nyakiti gue. Gue gak butuh jawaban dari mulut munafik lo. Kalo memang gue gak
berarti apa-apa buat lo gue akan siap pergi”
“Via” Langkah Via terhenti saat
sesuatu melingkar di pinggangnya. Air mata kini jatuh membasahi kedua pipi
chubbynya. Via memejamkan matanya saat Rio membalikkan tubuhnya menghadap
pemuda itu. Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Via.
Rio menatap gadis di hadapannya.
Gadis yang dulu di cintainya. Gadis yang dulu dengan bangga ia miliki. Dan
gadis yang telah ia khianati oleh egonya.
“Gue minta maaf. Lo adalah gadis
baik. Dan gue gak cukup pantas untuk miliki lo. Tapi lo harus tau gue berhak di
hukum apapun atas kesalahan gue tapi tolong jangan tinggalin gue. Gue mohon Vi”
Via menggelengkan kepalanya.
Menyingkirkan tangan Rio di wajahnya. Kini pandangannya tak lagi setajam tadi,
justru kini terlihat sendu bahkan mengiba.
“Gimana caranya gue gak ninggalin lo
kalo ternyata hati lo gak ada lagi di tempatnya. Gue gak tau apa sefatal ini
kesalahan gue sampek buat lo berpaling. Sumpah demi apapun lo bukan hanya
hancurin kepercayaan gue. Tapi hati gue secara singkat lo buat jadi hilang.
Brengsek lo bener-bener brengsek, lo gak punya hati Rio. Arghh”
Via langsung mendorong Rio hingga
pemuda itu menghantam dinding di dekat mereka. Tak peduli dengan seruan-seruan
yang memanggil namanya. Via tetap pergi menembus gerombolan siswa yang lalu
lalang di hadapannya.
Rio memejamkan matanya saat kata itu
kembali terngiang di telinganya. Dua gadis yang pernah dan kini ada di hatinya
sama-sama mengiangkan kata tersebut. Brengsek. Ia dirinya sadar bahwa seperti
itulah dirinya. Namun adakah salah kalau sudah hati yang meminta. Rio
mengepalkan tangannya. Dengan emosi yang sudah tak lagi tertahan ia memukul dinding di sebelahnya dengan erangan
yang tak tertahan lagi.
***
Di sinilah mereka berada.
Kebungkaman yang hadir di antara mereka seakan menipiskan udara untuk mereka
sekedar menghirup untuk bernafas.Tatapan mereka sama-sama kosong. Wajah mereka
sama-sama kosong dan satu lagi, hati mereka sama-sama hancur.
“Gue putus sama Rio Fy”
Bagai hujaman yang tepat menghunus
hatinya, Ify mematung. Tubuhnyaa seakan kaku tak mampu lagi untuk sekedar
bergerak. Air mata yang baru beberapa jam lalu terhenti mengalir kini mulai
kembali mengairi wajahnya. Isakan kepedihan kembali menjadi lagu yang mengalun
di bibirnya.
“Ma.. Maaf” Lirih Ify. Via
mencengkeram dadanya mendengar suara serak Ify. Via tak tahan lagi, ia langsung
menarik tubuh ringkih Ify ke pelukannya.
“Kenapa lo sekacau ini Fy. Kenapa.
Bahkan lo gak salah di sini. Lo sama sekali gak salah. Lo gak perlu merasa
sekacau ini. Gue gak akan menghakimi lo, karena gue tau Rio yang maksa.”
Kedua gadis itu kembali mengeluarkan
tangisnya. Menyalurkan kekuatan yang sepertinya mereka rasa tidak lagi tersisa
sedikit pun.
“Gue..”
Via melepas pelukannya. Tangannya
mengenggam tangan Ify yang bergetar. Via mengecup tangan sahabatnya itu.
Memberi sebuah keyakinan juga kekuatan.
“Lo cinta sama Rio?” Ify terdiam. Ia
menarik tangannya dari genggaman Via. Via menarik sebelah bibirnya mengetahui
reaksi Ify. Perlahan kepalanya mengangguk mengerti jawaban dari isyarat jawaban
atas pertanyaannya.
“Gue tau lo maupun Rio saling
membutuhkan tanpa kalian sadari. Terutama lo. Perempuan mana yang gak akan
luluh saat ciuman pertamanya di ambil oleh seorang pemuda. Apalagi pemuda itu
bilang kalo dia sayang sama perempuan itu. Lo gak bisa bohong lagi Fy. Mungkin
lo deket sama Rio hanya hitungan hari. Tapi cinta karena kebutuhan bisa aja
datang saat lo baru buka mata lo. Dan gue gak akan pernah melarang jika itu
terjadi”
Via menghentikan ucapannya. Melirik
Ify dari sudut matanya. Via kembali mengalihkan pandangannya saat ia melihat
tatapan kosong terpancar dari mata cantik sahabatnya.
“Tapi satu yang harus lo tau. Lo masih
punya Alvin. Dia yang mencintai lo, dia yang menjaga lo dan dia yang
mempertahankan apa yang lo punya agar tetap terjaga tanpa tersentuh sedikitpun.
Dan lo tau gimana rasanya saat upaya lo tiba-tiba rusak. Hmm ya lo akan tau
bagaimana perasaan gue sekarang. Mantapkan hati lo fy. Hanya Alvin yang menjaga
lo agar tetap terjaga dan utuh sampai kapanpun dan Rio yang selalu menggantikan
posisi saat hati lo kosong. Gue pergi”
Ify menutup matanya. Tak ia biarkan
air mata kembali membasahi wajahnya. Ia sudah lelah. Sungguh. Kini ia harus
memantapkan hatinya. Ify langsung beranjak dan pergi meninggalkan tempatnya
berada.
***
Langkah Ify terhenti saat ia
merasakan sebuah rengkuhan yang melingkar di pinggangnya. Ify menutup matanya
saat aroma itu mengusik penciumannya. Tangannya terkepal. Ify memejamkan
matanya erat. Menghalau air matanya yang kembali ingin mendesak keluar.
“Maaf” Ify mengalihkan pandangannya
saat suara itu menyapa pendengarannya.
“Cukup Yo. Lepas tangan lo” Rio
menggelengkan kepalanya. Tangannya makin mengerat di pinggang Ify membuat Ify
semakin sulit mengeksplor udara agar masuk ke paru-parunya.
“Gak akan sebelum kamu bilang kamu
gak akan tinggalin aku. Aku cinta sama kamu Fy gue cinta”
Rio membalikkan tubuh Ify kearahnya.
Tangannya terulur menangkup wajah tirus Ify. “Bilang sama aku kalo kamu juga
cinta sama aku”
“Gak. Lo terlalu berharap. Gue cuma
cinta sama Alvin. Lo denger. Sekarang lo pergi dari hadapan gue”
Rio mendesis. Menatap tajam kearah
Ify yang memalingkan wajahnya. Tangannya mengarahkan wajah Ify agar menatapnya.
Rio menahan egonya agar tidak melakukan hal keji seperti kejadian malam itu. Ia
gak sanggup. Sungguh ia takkan sanggup melihat raungan kesakitan Ify. Mata
penuh air mata yang menatapnya kecewa. Rio akan pastikan itu adalah hal
terakhir terjadi pada Ify.
“Fy kamu itu cintanya itu sama aku
Ify. Hey dengerin aku. Kita ini saling mencintai. Kamu belum menyadarinya
karena Alvin yang masih di hidup kamu. Aku rela kalo harus nunggu kamu Fy. Yang
penting kamu harus tau kalau kamu cintanya sama aku. Aku rela harus liat kamu
sama Alvin, tapi..”
Plak..
Ucapan Rio terhenti. Lagi-lagi
tangan mulus Ify mendarat di rahang tegasnya. Namun Rio tak peduli seberapa
sakit tamparan Ify yang ia butuhkan hanya gadis yang saat ini ia cintai itu.
Brukk..
Tubuh Rio menegang saat tiba-tiba
tubuhnya di hantam sesuatu. Ia menatap Ify. Gadis itu.. gadis itu memeluknya.
Tangan Rio yang terkulai perlahan terangkat. Melingkarkan tangannya pada
punggung Ify. Rio memejamkan matanya saat mendengar isakan gadis yang kini ia
cintai.
“Lo brengsek Rio. Gue jahat. Kita
breng..”
Cupp
Rio menghentikan ucapan Ify dengan
ciumannya. Pemuda itu mencium lembut bibir gadis yang ia cintai kini. Mendorong
kepala itu agar lebih dalam. Rio memejamkan matanya saat air mata itu kembali
keluar dari mata cantik Ify. Dengan masih bibir yang saling menempel, tangan
Rio dengan lembut mengusap mata Ify.
Ify membalas ciuman Rio. Mendorong
leher Rio agar lebih dalam mencumbunya. Menarik rambut pemuda itu. Biarkan dia egois.
Dirinya tau bahwa ini adalah kesalahan. Membiarkan orang lain menyentuhnya
sementara selama ini orang yang mengisi kehidupannya selalu menjaga dirinya.
Menjaga apapun yang ia miliki tetap utuh dan tak tersentuh.
Rio melepas ciumannya dan kembali menarik
Ify ke pelukannya. Mencium puncak kepala Ify. Ify masih menangis di pelukan
Rio. Mereka seakan lupa di mana kini berada. Tak peduli dengan tatapan jijik,
tatapan sinis dan berbagai cibiran dari orang yang melihatnya. Ify semakin
menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Rio. Meremas seragam pemuda yang baru
ia cintai dengan sadar itu.
***
“Ify..” Ify maupun Rio tersentak dan
melepas pelukan mereka. Mereka mengarahkan pandangannya pada seorang pemuda
yang berdiri di belakang Ify. Tubuh gadis itu bergetar. Hal ini lah yang ia
takutkan.
“Al.. Alvin” Alvin menggelengkan
kepalanya. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal erat pada sisi tubuhnya.
Dengan emosi Alvin menarik tangan Ify membawa gadis itu mendekat kearahnya.
“Hey bro tolong jangan kasar. Ify kesakitan”
Alvin menghentikan kegiatannya.
Menatap tajam Rio yang ingin mendekat kearahnya dan Ify.
“Bullshit”
Bughh
“ALVINNN” Alvin terus memukul wajah
Rio yang sudah tersungkur di tanah. Pemuda itu tak peduli dengan Ify yang terus
meronta. Ia pun menghiraukan gerombolan orang-orang yang kini telah mengumpul
mengitarinya. Dalam benak Alvin membunuh pemuda di hadapannya adalah
keinginannya.
Srett. Plak..
Alvin membeku. Tarikan kasar pada
bahunya di susul sebuah tamparan yang mendarat mulus pada pipinya membuat
hatinya serasa berkedut. Mata sipitnya memandang tak percaya sosok gadis yang
terlihat bergetar memandang tangannya.
“Fy. Kamu..”
Ify beringsut lemah pada kaki Alvin.
Memeluk kaki pemuda itu dengan air mata yang semakin deras mengalir. Hatinya sungguh
sakit melihat apa yang terjadi di detik yang terlalu cepat terjadi. Rancauan
bernada lirih terus keluar dari bibir tipis itu. Membuat keadaan seakan kelu.
“Vin maaf maaf, Vin maafin aku.
Maaf”
Alvin memandang Ify yang memeluk
kakinya. Air mata pemuda itu untuk pertama kalinya mengalir karena gadis itu. Alvin
beringsut di hadapan Ify. Dengan lembut tangannya mengusap pipi Ify penuh oleh
aliran air mata.
Ify langsung lemas merasakan
sentuhan jari-jari Alvin yang lembut. Tubuhnya makin bergetar. Melihat air mata
di wajah Alvin membuat dada Ify terasa sesak. Dengan sisa tenaganya ia langsung
jatuh ke pelukan Alvin. Mendekap erat pemuda yang telah ia sakiti terlalu
dalam.
“Fy apa kamu cinta sama Rio” Ify
memejamkan matanya begitu suara lembut itu terdengar di telinganya. Ify tak
menjawab namun wajahnya semakin ia tenggelamkan pada dada bidang Alvin. Tanganny meremas seragam pemuda itu
yang telah basah oleh keringat.
Alvin tersenyum menyadari kebungkaman
Ify yang justru adalah jawaban talak baginya juga hatinya. “Kenapa? Apa kamu
lupa kemarin kamu nyuruh aku supaya gak tinggalin kamu. Tapi kenapa justru kamu
yang ninggalin aku. Apa sebesar itu kesalahan aku. Apa gak ada arti lagi aku
buat kamu Fy. Fy jawab sayang”
Alvin menggeram. Ify tetap diam dan
terisak di pelukannya. Matanya masih menatap Rio yang menatap kearahnya dan
Ify. Terlihat di sana pancaran kecewa di mata sipitnya itu.
“Sakit Fy rasanya kamu melakukan ini
sama sahabat yang sudah aku anggap adik. Kamu yang sangat aku cintai dan dia..”
“Vin maaf aku mohon maafin aku.
Hukum aku aja Vin jangan kamu ungkapin perasaan kamu. Hukum aku. Aku mohon Vin”
Alvin melepas rengkuhannya.
Menangkupkan tangannya pada kedua pipi tirus Ify. Dahinya ia sentuhkan pada
dahi gadis itu.
“Ya sudah hukuman kamu aku akan
tinggalin kamu. Silahkan pergilah sama Rio. Bukannya ini yang kamu mau”
Ify terdiam. Mendongak menatap
Alvin. Mencari kesungguhan dari mata pemuda itu. “Kamu mau lepas aku”
“Bukannya itu yang kamu mau?” Alvin
melepas tangannya dari wajah Ify. Menjauhkan jaraknya dari gadis itu.
“Vin”
Alvin bangkit berdiri. Berjalan meninggalkan
Ify yang terdiam lemas di tempatnya. Alvin berjalan menghampiri Rio yang
tersungkur lemah akibat pukulannya. Tangannya terulur menunggu tangannya di
sambut pemuda itu.
Rio mendongak. Menatap tangan yang
terulur di hadapannya. Mengetahui itu tangan milik sahabatnya, tangannya
terangkat menyambut tangan milik Alvin.
Kini kedua sahabat itu saling
berhadapan. Rio yang menundukkan kepalanya dan Avin yang menatapnya dengan
tatapan kecewa namun masih tersirat persahabatan. Rio tersentak saat pundaknya
di tepuk oleh seseorang. Matanya menatap Alvin yang tersenyum kearahnya.
“Gue mundur bro. Silahkan bawa ify.
Bahagiakan dia. Jaga dia dan miliki dia dengan baik. Lo beruntung di cintai dia
sehingga dia memilih menghapus gue. Jangan biarkan dia terluka. Sedikit aja gue
liat dia nangis karena lo, jangan salahkan gue jika gue yang akan rebut dia
kembali”
Alvin menarik tangannya. Mundur
perlahan dan berbalik meninggalkan dua orang di belakanganya yang menatapnya
dengan tatapan penyesalan.
Rio segera menyadarkan dirinya.
Menolehkan kepalanya ke Ify yang masih menatap punggung Alvin yang telah
menghilang. Perlahan langkah kaki Rio mendekat ke gadis cantik itu. Menarik
tubuh mungil itu mendekat kearahnya dan mendekap gadis yang di cintainya
“Lupakan dia. Kita jalani takdir
kita yang baru. Jangan bohongi hati kamu Fy. Kamu milik aku”
Ify terdiam. Ia biarkan tubuh pemuda
itu menenggelamkan tubuh mungilnya. Kehangatan perlahan menjalar dari tubuh
gadis itu. Senyum yang entah sudah berapa lama tidak menghiasi wajahnya kini
dengan indah terukir di wajah cantik itu.
“Aku tau perasaan kita berawal dari
kesalahan. Tapi aku mohon Rio yakinkan aku bahwa kamu memang yang terbaik aku
miliki. Bukan hanya dengan sebuah rasa, namun semua yang ada di diri kamu
adalah milik aku”
Rio tak menjawab. Ia justru mencium
puncak kepala gadis itu berkal-kali sebagai jawaban bibirnya. Biarkan kini hatinya
yang menjawab. Tak akan ia biarkan bibirnya berucap. Mengikrarkan dusta-dusta
yang lain yang justru bukan lagi menyakiti hatinya. Justru hati yang lain yang
juga merasakan sakit dari bibirnya nanti.
Saat semua yang nyata perlahan
memudar. Menghilangkan sesuatu yang sesungguhnya indah dan abadi jika di jaga.
Jangan pernah mengelakkan saat takdir mulai menjalankan naskah kehidupannya.
Saat yang indah dan yang nyata itu perlahan memudar dan menghilang. Takdir
telah menggantikannya yang lebih dari segalanya dan ada.
***
Epilog
“Saya terima nikahnya Navia Elsya
dengan mas kawin tersebut tunai”
“Bagaimana saksi”
“Sah”
Suara tepukan tangan dan sorakan
gembira menghiasi ruangan serba putih tersebut. Berbagai ucapan suka cita
menjadi gema pelengkap suasana hangat yang begitu sempurna menjadi sejukan
hati. Seorang gadis yang terbaring lemah dengan masker oksigen dan selang
infuse yang tertancap di tangannya begitu haru melihat suasana yang melegakan
batinnya.
“Fy”
Gadis itu tersentak. Suara bariton
yang begitu ia kenali membuyarkan lamunannya. Ify, gadis itu menatap seorang
pemuda yang berdiri di hadapannya. Senyumnya makin mengembang begitu melihat
sesuatu yang di dekap di tubuh pemuda itu. Tangannya terulur mengusap sesuatu
itu.
“Anak aku” Ucapnya lirih. Semua mata
di ruang itu tertuju pada Ify. Wajah bahagia yang seakan menarik dimensi
seluruh orang yang menatapnya. “Bunda sayang sama kamu nak. Baik-baik sama ayah
ya”
“Fy. Kamu..”
“Alvin, Via selamat ya. Kalian harus
baik-baik. Via jaga kandungan kamu. Dia pasti akan jadi teman yang baik buat
anak aku. Aku yakin bentar lagi dia akan lahir” Ucapan Ify terhenti. Matanya
yang sedari tadi menatap Via yang terus mengusap perutnya yang membesar. Kini
mata Ify beralih pada Alvin yang berdiri di samping Via. Merangkul pinggang
gadis itu walaupun Ify tau mata pemuda itu masih menatapnya dalam seperti dulu.
“Vin kamu harus belajar mencintai
Via. Dia adalah perempuan yang sangat baik. Ingat bayi dalam perut Via adalah
anak kamu. Apapun yang terjadi di masa lalu aku mohon lupakan. Ingat Via dan
anak itu. Mereka sangat butuh kamu”
Kini mata Ify beralih ke sampingnya.
Menatap pemuda yang dengan lembut mnggendong buah hatinya.
“Rio” Rio menatap Ify. Tangannya
yang satu meraih tangan gadis yang setahun lalu telah di nikahinya ini. “Aku
titip anak kita ya. Aku udah capek. Aku pengen istirahat. Yo cintai anak kita
seperti kamu mencintai aku. Janji” Rio menganggukkan kepalanya. Entah apa yang
terjadi kini ia hanya ingin memandangi wajah perempuan yang sangat ia cintai.
Alvin dan Via mendekati ranjang Ify.
Menatap wajah orang yang berarti dalam hidup mereka. Jantung mereka terasa
semakin cepat berdetak. Rasa takut kini perlahan menggerayangi hati
mereka. Perlahan mata Ify tertutup.
Tittttttttttttt
Semua orang dalam ruangan itu
tersentak. Sontak semua manatap layar datar di samping ranjang Ify. Reflek
semua orang di sana terduduk lemas melihat garis lurus terpampang di layar itu.
Orang-orang berbaju putih yang secara spontan mengotak-atik berbagai alat agar bias
merubah garis lurus itu menjadi garis naik turun pun semua hanya meletakkan
secara pasrah alat tersebut ke tempatnya.
Seorang wanita berbaju suster
melangkah mendekati ranjang Ify. Perlahan suster itu menyentuh selimut putih
dan mengangkatnya hingga mendekati leher Ify.
“Jangannn” Tangan wanita itu
terhenti. Menatap Rio yang menggelengkan kepalanya. Perlahan Rio berdiri.
Menatap wajah cantik Ify yang sudah terlelap nyaman. Air mata pemuda itu
mengalir membasahi wajahnya. Tangannya terulur mengusap dahi Ify. Dengan
bergetar Rio mendekati wajah Ify. Mencium bibir gadis yang sangat ia cintai
itu.
“Sayang aku akan kasih nama anak
kita seperti kamu gak papa ya. Biar aku selalu inget kamu sekaligus anak kita.
Biar aku juga kalo inget kamu cukup liat wajah anak kita boleh kan sayang. Liat
deh anak kita mirip banget sama kamu. Dia cantik kayak kamu. Fy aku gak akan
tahan kamu pergi, tapi tolong inget satu hal. Jangan tinggalin aku. Tolong tunggu aku
sampek aku bisa jemput kamu. Mau ya”
Rio tersenyum, saat melihat
lengkungan di bibir gadisnya. Lagi Rio mendekati wajah Ify. Mencium puncak
kepala gadis itu.
Alvin tak mengalihkan pandangannya.
Matanya terus menatap tubuh Ify yang telah kaku. Tak ia pungkiri rasa itu tetap
sama. Hingga kini tak ada secelah pun yang hilang.
Sivia tersenyum miris menatap Alvin
yang baru menjadi suaminya. Pemuda yang dulu dengan kekhilafannya menodai
dirinya dengan emosi di sertai racauan nama sahabatnya. Bahkan hingga benih dalam
rahim Via sudah siap lahir dan cintanya pada pemuda itu telah meluas di dasar
hatinya. Tak ia pungkiri rasa yang melekat dalam hati pemuda itu pada gadis
yang saat ini terbaring kaku dan di peluk erat oleh tubuh pria di sampingnya
itu lah yang sepenuhnya mengisi hati sang suami.
***
“Ma.. mama”
Via terlonjak. Matanya ia alihkan
pada Rio yang menatapnya bingung. “Ada apa sayang”
“Itu tadi Ify di jemput sama ayahnya.
Katanya mau ke makam bundanya Ify. Kata papa, mama ikut gak” Via tersenyum.
Perlahan tangannya terulur. Mengusap rambut ikal putranya.
“Iya deh mama ikut. Kamu kesana
dulu ya. Temui papa sama om Rio. Mama siap-siap dulu.
“Sip mama”
***
17 tahun kemudian..
Seorang gadis berbaju hitam
berjongkok. Menatap gundukan tanah merah yang sudah di penuhi oleh taburan
bunga di hadapannya. Tangannya mengusap sebuah nisan di hadapannya. Senyumnya
tak henti mengembang
“Bunda, bunda tau gak aku dapet
beasiswa di Jerman bun. Aku seneng banget Bun. Oh ya Bun. Bunda tau gak kalo
tadi Rio nembak Ify. Ify terima aja soalnya kalo boleh Ify jujur Ify suka sama
Rio dari jaman SMP dulu. Tapi..”
Ify, Gadis itu menghentikan
ucapannya. Tangannya terulur mencabut rumput-rumput liar yang merusak makam
mamanya “Ayah gak bolehin katanya tunggu Ify sampek lulus kuliah. Nyebelin
kan Bun. Ify ini kan udah dewasa masak kalo ngambil keputusan berdasarkan ayah
dulu. Gak adil kan Bun”
“Oh Ya Bunda aku pulang dulu yah.
Rio udah nunggu aku tuh. Dadah Bund. Jangan lupa datang ke mimpi aku ya Bund.
Aku mau cerita banyak sama Bunda. Bye. Muachhh”
Ify pun bangkit dari jongkoknya.
Perlahan ia melangkah ringan mendekati seorang pemuda yang berdiri di dekat
motor cagiva merah. Setibanya Ify di sana, pemuda itu membalas senyum Ify dan
menyempatkan mencium kening gadis itu.
“Pulang sekarang” Ify mengangguk.
Rio naik ke motornya, di susul Ify yang naik di motornya dan melingkarkan
tangannya di pinggang pemuda itu. Ify menolehkan kepalanya ke makam bundanya
sekali lagi. Senyumnya mengembang saat ia melihat seorang wanita berbaju putih
berdiri di belakang nisan bundanya. Tangannya melambai membalas lambaian wanita
itu terhadapnya.
Kamu terlahir jadi gadis yang
cantik. Makasih Rio kamu sudah membesarkan buah hati kita dengan cinta. Aku
nunggu saat itu tiba. Kamu dan anak kita menjemputku dan kita lewati waktu
bersama.
Sayang bunda janji bunda akan
menemui kamu. Sabar ya sayang, Love You..
End..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar