Sabtu, 28 November 2015

Play Of Destiny Part 12 (Without You)


***
“Lo pergi sebelum lo ketemu Shilla. Fy lo gak mikir..”

“Hushh stop Cak. Gue gak butuh pendapat lo. Gue cuma numpang tinggal disini sampek papa nyiapin gue tiket balik ke Jerman”

Cakka menggelengkan kepalanya menatap sepupunya tersebut. Entah apa yang gadis itu pikirkan, Cakka pun tak sama sekali mengertinya.

“Lalu gimana sama si putra Haling itu. Apa lo yakin lo bisa tanpa dia dan lupain perasaan lo”

Ify terdiam. Ia bahkan tak berpikir apakah mampu ia melupakan pemuda yang ia cintai selama lima tahun itu. Bodoh. Pertanyaan macam apa itu. Mencintai memang mudah, namun melupakan apakah itu hal yang paling di benci ketika harus mencintai. Dan Ify cukup tau itu.

“Gue mudah melupakan dia. Karena dia bukan berarti apa-apa untuk gue setelah ini. Dan mungkin cinta dia bukan lagi apapun buat gue”

Cakka tersenyum sinis mendengar ucapan Ify. Ia tahu sepupunya tersebut berbohong. Namun Cakka hanya berdesis membuat Ify hanya menatapnya tajam. Cakka pun mengendikkan bahunya. Kemudian melenggang pergi setelah sebelumnya ia sempat mengucapkan kalimat yang mampu membuat Ify membeku.

“Hati seseorang itu cuma satu. Kalo lo mainin terus hati tersebut hingga rusak dan tidak lagi berbentuk. Itu artinya lo gak punya hati. Inget jangan lagi-lagi menyakiti hati mereka. Mereka yang tulus mencintai lo. Gue ke rumah sakit dulu. Silahkan beristirahat nona Alyssa”

***

Gue mudah melupakan dia. Karena dia bukan berarti apa-apa untuk gue setelah ini. Dan mungkin cinta dia bukan lagi apapun buat gue

Rio tak lagi berkutik. Pandangannya kosong tak terarah. Satu yang pemuda itu rasakan. Hatinya. Hati yang semuanya utuh hanya demi gadis itu seperti hilang tak berserak. Semua seakan teredam oleh kalimat yang seakan dengan jelas bahwa semua itu keraguan. Di saat Rio ingin maju menegaskan perasaannya. Justru gadis itu malah menarik dirinya menjauh. Kini pemuda itu benar-benar meragukan keyakinannya bahwa gadis itu juga satu rasa dengannya

Shilla menatap Rio yang sedari tadi berdiam di sampingnya. Pandangan gadis itu sendu melihat seberapa hancur perasaan kakaknya tersebut. Shilla menarik Rio mendekat kearahnya. Kemudian merengkuh tubuh kakaknya tersebut. Ia tahu seberapa hancur hati kakaknya ini. Shilla tak tau apa yang terjadi. Hanya yang dapat ia yakini bahwa hancurnya hati kakaknya seiring dengan perasaan kakaknya tersebut pada sahabatnya. Ify Alyssa.

“Shill. Mulai sekarang kita harus melupakan dia. Kita harus belajar agar terbiasa tanpa dia. Karena pada nyatanya dia gak menginginkan kita di hidup dia Shill. Lo ngerti”

Shilla menutup matanya. Tangannya mengenggam erat tangan milik kakaknya. Perlahan kepalanya mengangguk walau dalam hatinya menjerit keras.

“Kak. Kenapa ya nasib kita sama. Sama-sama mencintai tapi gak bisa memiliki”

Rio tersenyum lirih mendengar pertanyaan Shilla. Ia menegakkan tubuhnya. Menangkupkan telapak tangannya pada kedua pipi Shilla. Rio mengusap pipi halus adiknya yang selalu di rindukannya. Shilla mengenggam tangan Rio. Matanya terpejam menikmati usapan kakaknya tersebut.

“Karena gak selamanya yang terlihat indah adalah yang terbaik kita miliki. Lo ataupun gue pasti bisa lewati semua ini. Kita akan dapati seseorang yang sungguh-sungguh pantas kita miliki. Lo harus yakin itu”

Shilla menjatuhkan tubuhnya pada tubuh tegap Rio. Menumpahkan tangisnya pada pemuda yang kini kembali setelah sekian lama di pisahkan waktu.

“Gue akan siap melewati apapun. Asalkan ada lo yang selalu ada di samping gue. Kak lo janji ya jangan tinggalin gue apapun yang terjadi. Cuma lo yang sekarang gue butuhkan. Dan lo satu-satunya yang gue miliki”

Rio tak menjawab. Namun ia semakin erat memeluk tubuh Shilla di dekapannya. Menjawab dengan tegas bukan dengan ucapan. Namun dengan ungkapan rasa melalui hasrat tubuhnya. Shilla tersenyum di pelukan Rio. Kini ia semakin yakin. Dengan Rio, ia mampu memulai hidup baru dan melupakan semua yang kini telah menghilang. Sahabatnya yang kembali berlari dan cintanya yang berkelana pada takdir yang lain.

***
Semilir angin menerpa wajah cantik Ify. Menarikan rambut sebahu itu akibat permainan lembut sang angin. Ify menatap pada hamparan bangunan di hadapannya yang terlihat kecil di matanya. Senyum pedih tak hentinya menghiasi wajahnya. Tak ada air mata, tak ada pandangan kosong. Hanya tatapan sendu dan helaan nafas sesak yang mengiringinya bertahan disini.

Ify tersentak saat titikan air jatuh pada tangannya. Gadis itu mendongak. Entah bagaimana caranya ia tak menyadari kapas kelabu yang telah membumbung di atasnya siap mengeluarkan tetesan air di bawahnya. Ify kembali memusatkan pandangannya kembali ke depan. Membiarkan perlahan tetesan yang semakin bertambah jumlahnya tersebut mengguyur tubuhnya.

Ify memejamkan matanya. Perlahan kepingan memori mulai menari di otaknya. Membuatnya semakin tenggelam pada hujan yang menyelimuti kesendiriannya.

“Lo lucu ya harusnya tuh lo bawa cewek ke tempat yang romantis kek. Ke pantai kah, dinner romantis di kafe atau danau yang di hiasi lampu-lampu. Lah tapi lo malah bawa gue ke tempat gini. Bangunan kosong, kotor, ya sedikit menyeramkan sih. Apa istimewanya coba”

Rio tertawa mendengar ucapan Ify. Ia menggelengkan kepalanya. Dengan tangan terlipat di dada sambil menyenderkan punggungnya pada salah satu pilar pada bangunan tersebut Rio terkekeh sambil memandangi Ify yang merengut lucu di hadapannya
                                     
“Makanya jangan menilai sesuatu dari tampilan dong. Lo aja yang gak tau seberapa spekta nih tempat. Gue berani jamin lo bakal nagih buat balik kesini lagi”

“Oh ya”

“Yap. Sini deh gue tunjukin”Rio menarik tangan Ify menuju tepi bangunan tersebut. Ify meronta saat pemuda itu menariknya mendekati tepi bangunan. Namun Rio langsung membekap mulut Ify dari belakang. Dan mendekati bibirnya tepat di telinga Ify.

“Tutup mata lo dan setelah lo buka mata, gue jamin lo bakal berterima kasih sama gue”

Perlahan Rio membuka tangannya yang menutupi mata Ify. Dengan hitungan ketiga tepat di telinga Ify. Kedua mata yang terpejam itu perlahan terbuka.

Duarrrr.. Duarrr

Mata Ify berbinar melihat pemandangan di hadapannya. Gadis itu menutup bibirnya. Betapa kagum dirinya melihat ledakan-ledakan warna-warni yang menghiasi langit malam ini. Belum lagi perpaduan lampu jalanan dan bangunan-bangunan yang terlihat kecil lainnya yang menghiasi pandangan matanya.

“Happy Birthday Ify Alyssa”

Ify mematung mendengar kalimat yang lagi-lagi di bisikkan tepat di telinganya oleh pemuda itu. Pemuda yang telah memberikannya malam terindah detik ini. Ify membalikkan tubuhnya dan langsung memeluk Rio yang berdiri di belakangnya. Tangisan yang di sertai senyum terpeta di wajah gadis itu.

Rio tersenyum sambil mengusap rambut Ify. Ia tahu bagaimana perasaan gadis itu dan ia bersyukur gadis itu menerima apa yang ia berikan. Rio melepas pelukannya. Tangannya menyentuh kedua pipi tirus Ify. Menghapus jejak air mata di kedua pipi itu. Ify memejamkan matanya menikmati usapan di wajahnya. Senyum manis masih terukir di wajahnya.

“Makasih Yo” Lirih Ify. Rio tersenyum membalas ucapan Ify. Tangannya mengusap lembut rambut gadis itu.

“Lo suka?”

“Apa ekspresi gue kurang jelas? Gue rasa lo tau jawaban pertanyaan lo kalo lo perhatiin ekspresi gue” Rio menggelengkan kepalanya membuat Ify menautkan alisnya.

“Gue gak mau repot-repot menerka. Gue maunya jawaban pasti dari omongan lo. Ngerti Nona?” Ify mendengus mendengar jawaban Rio. Dengan kesal ia membalikkan tubuhnya ke depan setelah sebelumnya ia mencubit pinggang Rio. “Sakit bego”

“Bodo” Ify berjalan beberapa langkah mendekati tepi bangunan. Perlahan matanya terpejam. Ify menghembuskan nafasnya sejenak. Kemudian ia membuka matanya dan..

“RIOOOO GUE SENENG HARI INI. INI HADIAH TERINDAH DI HARI ULANG TAHUN GUE. THANK YOU SO MUCH BOY. YOU’RE THE BEST FOR ANYTHING. RIOOO GUE SENENG. HUAAAA”

Ify tersenyum setelah mengeluarkan suara sekencang tadi. Perlahan ify memundurkan langkahnya hingga kembali tak berjarak dengan Rio. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan melipat tangannya di dada.

“Ungkapan yang bagus. Lumayanlah. Oke ucapan terima kasih lo gue terima. Sekarang peluk gue” Ify menggelengkan kepalanya. Gadis itu mengendikkan bahunya dan langsung menerjang Rio. Rio terjengkit saat gadis itu sempat-sempatnya mencubit pinggangnya.

“Lo memang cowok yang penuh kejutan. Beruntung gue punya sahabat macam lo dan betapa beruntungnya Shilla punya kakak kayak lo” Rio tersenyum sedikit lirih mendengar ucapan dari gadis di pelukannya itu.

Ya hanya sahabat dan selamanya akan tetap begitu

Ify membuka matanya. Tak ia sadari wajahnya yang basah telah bercampur dengan air matanya. Ia tak peduli dengan dingin yang kembali menerjangnya. Ify tak peduli saat hari beranjak menggelap. Yang ia butuhkan hanyalah waktu terhenti menemaninya melepas rindu akan rasanya yang makin menekan pertahanannya.

“Maafin gue Yo. Gue sudah melanggar janji yang bahkan belum kita ikat sebelumnya. Biarkan gue mencintai lo terus dan gue gak berharap lo bertahan dengan cinta lo”

***
“Apa kak lo mau mengalihkan perusahaan Haling Corp yang di Berlin ke Jakarta. Kak jangan berulah deh. Lo baru dua hari disini. Jangan bikin mama murka”

Rio mengendikkan bahunya. Ia tetap tenggelam pada berkas-berkas di hadapannya tanpa memperhatikan Shilla yang berdiri dengan berkacak tangan pada pinggangnya. Shilla menghembuskan nafasnya merasa ucapannya tak di gubris oleh kakaknya itu.

“Ya elo gak usah khawatir. Segala urusan Haling Corp itu urusan gue. Hak waris yang papa jatuhkan atas Haling Corp atas nama gue. Segala aset Haling Corp itu atas kuasa gue. Jadi mama itu menerima beres segala keuntungan dari perusahaan. Sementara yang menjalankan adalah gue. Jadi itu hak gue mau mengalihkan perusahaan kemana pun”

“Tapi kak..”

“Hushhh. Lo gak ke rumah sakit. Jam berapa ini?” Shilla memanyunkan bibirnya. Ia menjatuhkan dirinya pada sofa yang di bawahnya ada Rio yang sedang fokus dengan laptop dan berkas-berkas yang berserakan pada karpet maupun meja kaca di depan sofa.

“Gue libur”

Rio menghentikan kegiatannya. Melirik sejenak kearah Shilla yang menyenderkan punggungnya pada punggung sofa dengan mata tertutup.

“Berasa bos besar aja lo libur praktek mulu. Tuh rumah sakit gagal buat jadi milik lo. Seenaknya aja lo libur. Di pecat baru tau. Udah untung di kasih praktek sama si Ga..”

Bukkk

Ucapan Rio terhenti begitu hantaman sebuah bantal mendarat pada kepalanya. Rio menatap tajam Shilla yang masih bertahan pada posisi semula tanpa beranjak.

“Nyerocos mulu lo. Urus tuh perusahaan Tuan Haling”

Shilla beranjak. Berjalan menjauhi Rio setelah sempat ia memukul kepala pemuda itu sehingga membuat Rio geram dan membalas Shilla dengan melempar bantal namun sayangnya Shilla sudah berada di tangga menuju kamarnya di lantai dua.

“Shillaaaaa”

***
Sivia menatap Gabriel dari atas ke bawah begitu sebaliknya. Menatap heran penampilan kakaknya yang terlihat santai dengan kaos abu-abu polos dengan di balut jaket coklat yang lengannya di tekuk hingga siku serta celana jins dan sepasang sneakers coklat membalut kakinya.

“Bentar deh kak. Jas dokter lo mana, celana kain putih lo, fantofel dan alat kedokteran mana Kok.. Kok lo pake baju santai amat sih. Lo gak praktek”

Gabriel menggelengkan kepalanya. Tangannya ia masukkan pada saku celana jins-nya dan berjalan menjauhi Sivia setelah sebelumnya ia mengucapkan kalimat yang membuat Sivia menggeram.

“Gue mau jalan sama si Acha”

“Apa? Lo mau jalan sama si monster. Oh my God kak lo yakin?” Gabriel menghentikan langkahnya. Kemudian kepalanya ia anggukkan sebagai jawaban pertanyaan Sivia. Sivia menghela nafas kesal mengetahui jawaban kakaknya.

“Gue ikut”

Gabriel membalikkan tubuhnya. Menautkan alisnya kearah Sivia yang menatapnya tajam.

“Mau rusuh lo. Gak lo anteng di rumah. Jangan ganggu gue. Ngerti” Gabriel langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar rumah. Sivia menegakkan kepalanya dengan tangan terlipat di dada. Senyum licik.. oh salah senyum jahil terukir di wajahnya.

“Siapa bilang gue nurut sama lo kak. Bukan Sivia namanya kalo menyerah. Gak ada yang boleh deketin lo selain Kak shil. Termasuk si monster gila itu” Sivia meniup poninya dan berjalan keluar rumah setelah sebelumnya mengambil sebuah kunci mobilnya

***
Sivia menajamkan pandangannya. Menatap sepasang sejoli yang sedang sibuk melihat bermacam gaun indah yang terpajang di sebuah butik. Tak jarang ia mengernyitkan wajahnya memandang jijik sejoli tersebut. Lebih tepatnya sang gadis yang terkadang terlihat bergelayut manja pada lengan pemuda di sampingnya.

Sivia menundukkan kepalanya. Ia sedikit tersentak saat sebuah kecoa merambati sepatunya. Sivia mengambil kecoa tersebut, kemudian kembali memusatkan pandangan pada sepasang sejoli di sana. Senyum jahil kembali tercipta di wajahnya.

“Eh mas mas. Ehmm mas pegawai toko di sini kan?” Tanya Sivia pada salah seorang Sales Promotion Boy yang bertugas menawarkan brosur baju-baju pada pelanggan yang lewat.

“Iya mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya SPB tersebut. Sivia menganggukkan kepalanya. Ia mendekati bibirnya pada SPB tersebut membisikkan sesuatu. SPB tersebut terlihat menganggukkan kepalanya. Sivia menaruh seekor kecoa yang tadi merambat di sepatunya yang kini telah mati karena di genggam Sivia terlalu kuat kepada SPB tersebut. SPB tersebut meninggalkan Sivia setelah gadis itu menunjukkan sepasang sejoli di sana. tepatnya si gadis manja tersebut. Dan sempat menerima tip dari Sivia.

***
Acha menggelayuti lengan Gabriel dengan manja. Senyumnya terus mengembang semenjak pemuda itu berdiri di depan kamarnya.

“Yel aku mau yang itu deh Yel. Itu kayaknya keren deh kalo aku pake di pertunangan kita. Iya kan?” Gabriel hanya menganggukkan kepalanya.

“Permisi mas mbak. Ada yang bisa saya bantu” Acha dan Gabriel kompak menoleh pada seorang pemuda berseragam yang berdiri dengan senyum ramah di hadapan mereka.

“Nih ini mas saya mau coba baju ini. Tolong ya mas”

Pemuda tersebut tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia menggiring Acha ke ruang ganti untuk mencoba baju dari butik tersebut. Acha masuk pada ruangan tersebut. Belum saja pemuda itu menjauh sebuah teriakan menggema dari ruangan tersebut.

“Huaaaa kecoa sialan. Tolong kecoa tolonggggg” Acha langsung berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan begitu saja baju yang akan ia beli tergeletak di lantai ruang ganti tersebut. Acha langsung berlari ke Gabriel yang menatap heran kearahnya. “Yel kita pergi dari sini”

***
Sivia tertawa puas melihat ekspresi ketakutan Acha. Ia masih ingat rencananya saat ingin mengerjai si Acha.

Mas, nanti mas layani dua orang yang di sana. Terus mas masukin nih kecoa ke kerah baju perempuan yang itu. Nah dia kan nanti pasti ganti baju. Pokoknya mas jalani perintah saya. Masalah tip. Saya akan kasih jadi mas gak usah khawatir.

Sivia kembali berjalan mengendap-endap mengikuti Gabriel kembali yang kini di tarik oleh Acha. Sivia langsung menyembunyikan dirinya pada sebuah pilar di mall tersebut saat keduanya tiba-tiba berhenti. Sivia menyipitkan matanya dan terlihat di sana justru Gabriel yang kini menarik tangan Acha. Sivia menghembuskan nafasnya kesal melihat adegan tersebut.

Sivia memasuki sebuah foodcourt yang sama seperti Gabriel dan Acha. Ia mengawasi keduanya begitu intens. Seorang pelayan menghampiri mereka. Menulis pesanan untuk mereka. Senyum jahil kembali mengembang di wajahnya. Ia pun kembali berjalan setelah pelayan itu kembali ke pantry.

“Mbak. Ini makanan buat pelanggan di meja no 29 ya?”

“Ya mbak. Ada apa ya. Ada yang bisa saya bantu”

Sivia mengembangkan senyumnya. “Ehm saya mau kasih vitamin buat kakak saya. Dia belum minum vitamin. Saya takut nanti kakak saya sakit lagi. Jadi saya mau taruh vitaminnya di makanan dan minumannya. Boleh ya mbak” Pelayan itu menatap Sivia sambil berpikir sedangkan Sivia memasang wajah memohon dengan puppy eyes yang menggoda. Pelayan itu menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Sivia yang bersorak di tempatnya.

Sivia mengalihkan pandangannya mencari sesuatu yang dapat mendukung rencana jahilnya tersebut. Pandangannya terhenti pada beberapa botol tak jauh dari dirinya berada. “Gotcha”

Sivia meraih cuka, bubuk cabe, garam, dan merica bubuk. Semuanya ia masukkan pada orange watermelon dan rice chicken grill di hadapannya. Tentu saja untuk sang gadis di sana. Sivia terkikik geli membayangi yang terjadi jika gadis itu memakan hidangan ala Sivia. “Ulala ini dia masakan ala chef Sivia. ckck. Rasain lo monster. Kuras noh wc sana. hahaha” Sivia memanggil pelayan tadi yang kini kembali dengan hidangan berbeda yang ia yakini milik kakaknya. Dengan tersenyum manis ia menyerahkan kembali racun yang ia buat tadi.

***
Gabriel menggelengkan kepalanya melihat Acha yang sedari tadi bolak-balik kamar mandi di sertai muntah-muntah. Gabriel benar-benar kasihan melihat tubuh lemas Acha yang benar-benar tak lagi berdaya. Gabriel menyipitkan matanya saat pandangannya menangkap seorang gadis yang sepertinya tak asing menurutnya. Lantas ia berdecak kesal menyadari gadis itu.

“Via. Hmm gak salah lagi dia tuh yang dari tadi sabotase si Acha. Ckck keterlaluan. Liat aja lo di rumah Vi”

“Gab. Aduh kita pulang aja yahh. A.. aku mau istirahat” Gabriel mengangguk. Dengan sigap ia langsung memapah tubuh Acha yang lemah.

“Cha apa gak lo ke rumah sakit aja sekalian gue periksa” Acha menggelengkan kepalanya. Ia mencengkeram kuat jaket milik Gabriel.

“Gak usah Gab. Aku istirahat aja. Aku cuma butuh kasur. Aww. Yel sakit perut aku” Gabriel yang bingung dengan keadaan Acha tanpa berbasa-basi ia langsung mengangkat tubuh Acha menuju mobilnya.

“Yang sabar Cha. Gue antar lo ke rumah sakit”

***
Brakk

Sivia terlonjak saat tiba-tiba pintu kamarnya di banting seseorang. Sivia menatap heran kearah pintunya. Di lihat Gabriel berdiri di pintunya dengan tangan yang terlipat di dada. Sivia menatap heran kearah kakaknya tersebut yang menatap tajam kearahnya.
“Apa yang lo lakuin tadi di Mall. Lo budek atau apa sih. Gue suruh diem di rumah apa susahnya” Sivia  mengernyitkan dahinya. Sivia bangkit dari kasurnya. Berjalan pelan ke hadapan Gabriel.

“Gue gak ngelakuin apa-apa. Lo gak liat gue lagi ngapain. Asal nuduh lo”

“Lo fikir lo bisa nipu gue. Lo kan yang bikin Acha sakit? Via”

Sivia menghembuskan nafasnya. Ia berbalik membelakangi Gabriel dan berjalan menuju meja riasnya.

“Memang jelas banget ya itu gue. Yah berarti ketauan deh” Ucap Sivia acuh sambil menyisir rambutnya.

“Apa yang lo lakuin ke Acha Vi. Lo tau dia keracunan setelah gue periksa dia tadi”

“Tapi nyatanya dia masih hidup kan kak. Ya udahlah gak harus lo nyalahin gue. Gue juga ngelakuin ini demi lo”

“TAPI GUE GAK SUKA CARA LO VI” Bentakan Gabriel itu sontak membuat Sivia tersentak. Ia membalikkan tubuhnya kearah Gabriel dan menatap tajam kearah pemuda itu.

“Lo gak suka cara gue. Trus gimana menurut lo dengan cara perempuan gila itu. Merusak hubungan lo dengan Shilla menggunakan kekuasaan, menghancurkan kebahagiaan lo, dan..”

Sivia menutup matanya. Air matanya mulai membumbung di mata sipitnya. Gadis itu berjalan mendekati Gabriel.  “Dan membuat lo hancur dengan kelicikan dia. Gue disini melakukan apa yang dia lakukan terhadap lo. Tapi bedanya gue masih memakai otak dan.. hati”

Gabriel menatap sendu adiknya yang menunduk di hadapannya. Tangannya terulur mengusap rambut adik yang sangat ia sayangi tersebut. “Vi”

Sivia mendongakkan kepalanya. Menatap Gabriel yang menatapnya sendu. Tak disangka air mata yang tadi sempat berakumulasi di matanya kini perlahan keluar menyusuri pipi chubby-nya

“Gue gak mau lo jadi cewek freak yang menggunakan kelicikan untuk dapati apa yang mau lo. Gue gak suka. Gue mau lo tetap jadi Sivia adik gue yang tulus, baik dan rendah hati. Gue mohon Vi berhenti untuk nyakitin Acha. Karena percuma. Rencana lo akan sia-sia. Dan semuanya tidak akan berubah”

“Tapi gue ini adik lo. Gue gak bisa liat kakak gue tersiksa. Sudahlah kak lo gak usah nyakitin diri lo sendiri cuma demi perempuan berhati busuk kayak Acha. Harusnya lo itu berjuang buat Shilla. Gue yakin Shilla masih nunggu lo buat ngeyakinin dia kalo dulu hingga sekarang perasaan lo masih sama”

Gabriel menundukkan kepalanya. Tangannya terkulai lemas di tubuhnya. Gabriel menutup matanya. Menahan keras air matanya agar tidak kembali keluar hanya karena gadis yang ia cintai itu.

“Gue gak bisa. Dia berhak dapet laki-laki yang lebih baik dari gue. Gue sudah memutuskan gue akan menghapus dia dari hidup gue. Gue mohon Vi. Bantu gue. Shilla berhak bahagia dengan kehidupan yang baru” Sivia mengalihkan pandangannya. Sambil menutup air matanya, gadis itu perlahan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk pernyataan Gabriel. Gabriel langsung menarik Sivia ke pelukannya.

Bersamamu adalah anganku. Memilikimu adalah asaku. Namun hidup tanpa bayangmu adalah takdirku.


Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...