Selasa, 04 November 2014

Love Of Memory (Short Story)


Ify memandang kagum seorang gadis dihadapannya yang berbalut gaun kebaya putih yang tersenyum manis dihadapannya. Gadis itu, Chelsea tersenyum manis di depan Ify. Ia memutar tubuhnya lalu berkata "Bagaimana ma aku cantik gak" yang hanya di balas usapan lembut keibuan dari Ify. Ify merasa kagum dengan kecantikan Chelsea yang begitu mirip dengan seorang dari masa lalunya yang begitu berarti di hidupnya. Tanpa terasa air matanya menetes jatuh ke tangan Chelsea yang sedang mengenggam tangannya

Chelsea tersentak saat tangannya dirasa dijatuhi setetes air. Ia tak menangis lalu, saat ia mendongak menghadap Ify ia tersentak saat melihat setetes air mata membasahi wajah cantik mamanya

"Ma, mama kenapa? kok mama nangis. Katanya mama bahagia?" Tanya Chelsea. Ify yang tersentak mendengar suara lembut Chelsea yang bertanya padanya langsung menghapus air matanya. Lalu Ify menghela nafas lantas tersenyum. Ia pandangi lekat-lekat wajah Chelsea yang memandang heran mamanya. Merasa belum dapat jawaban apapun dari mamanya Chelsea semakin mempererat genggamannya. "Ma. Kenapa jangan buat aku ragu ma"

"Chel mama cuma gak percaya kalau anak yang mama lahirkan dan besarkan sendiri bisa tumbuh menjadi gadis cantik yang membanggakan. Kamu tahu gak kamu itu begitu mirip dengan sahabat mama di masa lalu dia itu gadis yang cantik seperti kamu sayang"

"Siapa ma?" Tanya Chelsea penasaran. Ify tampak menerawang sejenak. Lalu menatap Chelsea setelah itu tersenyum

"Sini duduk sini" Ucap Ify sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Lalu Ify menerawang sejenak
"Dia itu adalah Ashilla. Sahabat mama yang begitu berarti untuk mama"
***
18 Tahun yang lalu...

"Apa? elo ada latihan sekarang Yel. Tapi kan elo udah janji mau temeni gue sama Ify ke rumah Tante Shanti. Ah elo PHP sama kita" Rajuk seorang gadis di hadapan seorang pemuda. Sedangkan gadis lain yang berada diantara mereka hanya memandang mereka gerah

"Sudah lah Shill kita pergi berdua aja. Wajar Iel kan lagi mau mempersiapkan pertandingan lawan SMA 65 bulan depan" Ucap Ify yang sudah bosan melihat pertengkaran Shilla Gabriel yang gak ada henti-hentinya

"Noh denger Ify aja perhatian sama gue. Lagian kan elo sahabat gue mau gak mau ya elo harus terima kesibukan gue. Sudah ah gue mau berangkat dulu, bye"

Shilla mendengus kesal menghadapi kucrut satu itu. Apa-apaan sudah janji juga

"Sahabat elo noh. Kesel gue" Ify hanya geleng-geleng kepala melihat pertengkaran konyol mereka ini

"Gue udah biasa kali Shill liat elo sama Gabriel berantem. Udah makanan sehari-hari gue tuh" Ucap Ify sambil terkikik geli

"Apaan sih elo Fy. Gak lucu tahu" Ucap Shilla sambil melipat tangannya didada

"Hahahaha" Tawa Ify meledak melihat raut wajah Shilla saat ngambek
~~~

"Apa Shill elo udah jadian sama Rio. Wah elo parah nih gak kasih tau kita iya gak Yel?" Tanya Ify ke Gabriel.

Namun yang ditanya hanya diam tanpa menoleh sedikitpun ke Ify atau Shilla. Tatapan Gabriel kosong. Shilla yang menyadari keanehan Gabriel pun meraih tangan Gabriel berniat bertanya apa yang terjadi. Namun tanpa disangka Gabriel justru malah menyentakkan kasar tangan Shilla. Shilla terkejut dengan perlakuan Gabriel terhadapnya. Bukan hanya Shilla, Ify pun sama terkejutnya

"Yel" Ucap Shilla menyebut nama Gabriel lirih

Gabriel yang mendengar ada yang salah dengan nada suara Shilla menoleh. Astaga, apa yang sudah dilakukannya? Gabriel berniat untuk meraih tangan Shilla yang terkulai lemas di samping tubuhnya. Namun sayang Shilla justru bangkit dan pergi meninggalkan Ify dan Gabriel. Gabriel hanya memandan kosong kepergian Shilla

"Elo bodoh Yel" Gabriel mengernyit mendengar kalimat yang baru keluar dari bibir Ify.
"Elo terlalu bodoh karena membiarkan diri elo sakit sendiri. Gue tahu apa yang terjadi sama perasaan elo terhadap Shilla, tapi elo lihat elo justru malah membuat Shilla benci sama diri elo sendiri. Sekarang Shilla telah memilih Rio dan elo harusnya mau menunggu. Bukan bertindak bodoh yang menyakiti hati Shilla tadi" Ucap Ify sinis. Membuat kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Ify mampu merontokkan keping demi keping hati Gabriel

"Fy. Gue harus apa?" Tanya Gabriel lirih. Ify mengalihkan pandangannya. Ia menggeleng

'Lupain Shilla dan lihat gue Yel'

***

"Jadi Om Gabriel itu cinta sama Tante Shilla dan mama justru malah mencintai Om Gabriel gitu?" Tanya Chelsea saat Ify, mamanya telah selesai menerawang masa lalunya. Ify kembali menatap Chelsea saat gadis itu bertanya padanya. Wanita itu tersenyum, lalu mengangguk.

"Dan mama bertahan?" Tanya gadis itu lagi. Kali ini Ify tak menjawab. Ia diam sejenak. Bertahan? Apa iya dia telah bertahan. dan apa sedalam itukah pertahanannya. " Ma apa yang ada di fikiran mama untuk bertahan mencintai laki-laki yang gak pernah mencintai mama"

"Chel saat kamu mencintai seseorang dengan hati kamu sedalam apapun kamu mencoba mencari alasan mengapa kamu mencintai dia yang akan kamu dapat hanya jawaban mengapa kamu rela terluka demi dia" Ujar Ify sambil menatap dalam mata Chelsea. " Dan seberapa dalam kamu mencari alasan untuk pergi tanpa seseorang yang kamu cintai. Kamu hanya akan mendapat satu alasan mengapa kamu bertahan untuk dia. Karena cinta. Dan semua hanya cinta" Chelsea tertegun.

"Apa sedalam itu cinta mama sama Om Gabriel?" Ify hanya tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala Chelsea

~~~
"Shill... Shill tunggu Shill" Ucap Gabriel sambil mengejar Shilla yang terus berlari menghindar dari pemuda itu. Shilla muak. Ia benci sama keadaan ini. Kenapa pemuda itu tetap saja bodoh

"Shill" Gabriel telah berhasil meraih tangan Shilla dan menariknya sehingga tubuh tegapnya tertabrak tubuh mungil Shilla. Gabriel langsung mendekap tubuh itu tak peduli seberapa keras gadis itu meronta minta dilepas. "Maafin gue" Ucap pemuda itu

Shilla menghentikan aksinya meronta dalam tubuh tegap Gabriel. Ia dongakkan kepalanya menatap pemuda itu. "Kenapa Yel? Kenapa selalu gue yang elo ledek. Kenapa selalu gue yang elo salahin. Kenapa selalu gue yang elo..." Omongan Shilla terhenti saat telunjuk Gabriel berada di bibirnya. Shilla menyentuh jari itu, ia genggam jari itu satu persatu hingga menyentuh telapak tangan Gabriel. "Yel apa gue boleh berharap kalau genggaman ini terbalas?"

Gabriel tertegun mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Shilla. Tangan Gabriel yang lain terangkat dan ia tumpukkan tangan itu digenggaman tangannya dan Shilla. Ia eratkan genggaman itu " Justru gue yang terus berharap tangan elo mau meraih tangan gue seperti tadi" Ucap Gabriel sambil menarik Shilla ke pelukannya


Tanpa mereka sadari sepasang mata memandang mereka penuh luka. Pemilik mata itu tahu tangannya tak akan mampu menggapai tangan pemilik pemuda yang sedang mendekap gadis lain di sana

~~~

"Jadi elo bohong bilang kalau elo udah jadian sama Rio. Jahat elo" Shilla hanya tersenyum di ledek Ify saat ia baru saja selesai menceritakan tentang dirinya bersama Gabriel

"Sekarang elo udah jadian sama Gabriel?" Tanya Ify lagi. Shilla tampak berfikir dengan meletakkan telunjuknya di dagunya.

"Gue yakin kok kalo gue memang sudah resmi sama Gabriel" Ify tahu saat ini ia hanya perlu air untuk membasahi kerongkongannya yang kering karena sedari tadi ia banyak meneguk salivanya karena kekhawatirannya terus melandanya. Oh ayolah kenapa Ify begitu munafik untuk menampakkan wajah marah ke arah Shilla.

"Long last  ya Shill" Ucap Ify sambil tersenyum. Shilla balas senyuman Ify

~~~

Saat ini Shilla dan Gabriel sedang menunggu kedatangan Ify yang katanya ingin bertemu dengan mereka. Tak ada yang namanya aksi saling ledek seperti dulu. Hanya keheningan yang terjadi

"Sorry sudah buat kalian nunggu lama" Ucap Ify yang baru datang membuyarkan lamunan mereka (Shilla-Gabriel)

"Gak masalah kok? Ada apa kok suruh kita nunggu elo"

Ify memasukkan tangannya ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah kertas formulir di hadapan Shilla dan Gabriel. Shilla dan Gabriel saling pandang sama-sama tidak mengerti maksud Ify apa

"Jadi gini lho gue diterima di University of  the Arts London jadi gue bakal ambil Fashion Desaign di sana" Ucap Ify bersemangat

"Elo serius?" Tanya Shilla. Ify mengangguk.

"Tapi kan elo udah janji mau kuliah bareng bertiga" Ucap Gabriel. Sejenak Ify ragu. Namun ini sudah menjadi keputusannya

"Kalian tahu gue itu mau jadi desainer terkenal. Dukung lah" Ucap Ify.

"Ya mau gimana lagi itu impian elo kita bisa apa?" Ujar Gabriel
~~~

Saat ini Shilla berada sedang berada di kamar Ify. Tadi Shilla mendapat kiriman e-mail dari Ify agar ia memberesi semua barang Ify agar bisa dikirim ke London. Namun karena keteledorannya ia tak sengaja menjatuhkan sebuah album foto milik Ify. Album itu jatuh dengan posisi terbuka dan sebuah foto ukuran kecil keluar muncul dari album itu. Shilla ambil foto itu betapa terkejutnya ia karena foto itu adalah sebuah foto yang diambil beberapa bulan lalu.

Shilla masih ingat foto itu ada dirinya bersama Ify yang mengapit Gabriel di tengah. Namun kini foto itu terpotong menyisakan Ify dan Gabriel saja. Lalu dimana fotonya. Tak mau ambil pusing dengan foto itu, Shilla  membalikkan foto itu lagi. Ada tulisannya. Dan seketika air matanya menetes karena di foto itu tertera tulisan...

Aku cuma ingin merasakan sekali berdua tanpa Shilla apa boleh??Shilla menangis karena harus mengerti tulisan itu. Dia bukanlah gadis bodoh yang tak mampu mengartikan sebaris kalimat itu. Sakit, sesak apa begini rasanya? Sejak kapan Fy, sejak kapan? Batinnya bertanya. Saat ini yang Shilla rasakan ada aliran kental dengan bau anyir keluar dari hidungnya, kepalanya terasa berat dan

Bruukk... Semua gelap

~~~

Gabriel terus mengenggam tangan Shilla erat ia khawatir sejak pertama kali ia mendapat telpon dari Tante Vina mama Ify yang sedang panik menemukan tubuh Shilla terkulai di bawah ranjang Ify. Ada apa?

"Fy.. Ify"
Gabriel tersentak saat ia mendengar Shilla yang memanggil nama Ify. Ia eratkan lagi genggaman tangan Shilla. Sempurna, mata Shilla terbuka sempurna

"Shill.."

"Yel aku di mana. Aw kenapa kepala aku berat sih"

"Kamu tenang ada aku disini'

Hueekk.. hueek
Shilla langsung memiringkan kepalanya. Ia muntahkan semua yang ada dalam tubuhnya.
Darah? Shilla memuntahkan darah dan saat itu gelap sudah
~~~

Shilla mengerjapkan matanya. Berat. Ada apa ini

"Shilla" Shilla menolehkan kepalanya menghadap Gabriel.

"Yel aku kenapa?" Tanya Shilla sambil menahan sakit


~~~

'Nona Shilla mengalami kanker lambung. Dan Nona Shilla sudah memasuki stadium kritis sehingga kami tidak bisa berbuat apapun. Jadi kita hanya menunggu waktunya saja'Shilla hanya memandang Gabriel kosong di hadapnnya. Haruskah sekarang? Saat ia baru merasakan kebersamaannya bersama Gabriel. Ia tahu apa yang terjadi pada dirinya selama ini bukanlah hal yang biasa, namun ia cuma ingin menghibur dirinya atas ketakutan yang ia alami

Aku cuma ingin merasakan sekali berdua tanpa Shilla apa boleh??

Kembali Shilla harus diingatkan dengan tulisan yang tertulis di foto yang ia temukan di kamar Ify. Mungkinkah ini jawaban? Jawaban? Shilla rasa ia tak pernah menyimpan pertanyaan apapun. Lalu?

"Shill kamu..."

"Yel kamu mau janji kan sama aku gak akan pernah ninggalin aku sampai waktu memberikan alasan yang tepat akan perpisahan kita" Ucap Shilla memotong ucapan Gabriel

"Shill aku.."

"Janji Yel" Entah apa yang dirasakan Gabriel saat ini. Gabriel tak ingin memperjelas perasaannya. Ia takut. Sungguh.

Melihat Shilla memalingkan wajahnya dari Gabriel membuat Gabriel mendesah.Sudahlah mungkin ini yang terbaik
~~~

Detik terus berjalan meninggalkan waktu yang berlalu menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang telah terurai oleh angin yang berlalu. Tak dapat kembali, tak dapat terubah bahkan terganti. Seiring detik yang berlalu mampu merontokkan kekuatan dan ketegaran setiap manusia yang berdiri di atas bumi. Seperti seorang gadis yang sedang duduk sendiri menatap langit yang telah merubah warnanya menjadi jingga. Semua orang akan kagum dengan keindahan langit itu. Seakan itu merupakan objek terbaik, namun tidak untuk gadis itu. Perputaran waktu menjadikan dia lemah.  Andai ia mampu menghentikan detik yang berjalan pasti ia akan...

"Shill. Kamu ngapain. Gak minum obat?" Gadis itu menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Ia pandangi pemuda yang masih saja tetap setia mendampinginya hingga saat ini

"Ngapain minum obat. Kamu sendiri yang bilang kondisi aku kritis. Kankernya gak bakal hilang jadi"

"Shill. Tolong jangan siksa diri kamu begini. Aku mohon" Shilla menggeleng sambil tersenyum. Lalu ia raih tangan pemuda itu ke genggamannya.

"Aku gak merasa tersiksa. Karena aku punya alasan untuk bahagia. Lain kalo kamu ninggalin aku itu baru aku tersiksa" Ucap Shilla sambil tersenyum. Gabriel hanya diam sambil memandangi gadis yang masih saja mengenggam tangannya. Gadis ini semakin kurus. Penyakit sialan itu telah mengambil kekuatan gadisnya. Gabriel harus bisa mempertahankan gadisnya ini. Biarpun ia egois, ia tak perduli. Shilla miliknya

"Yel ambilin kertas dong" Lamunan Gabriel buyar karena suara lembut Shilla memanggilnya

Gabriel beranjak dari duduknya dan menuju laci di samping bed Shilla. Ia ambil dua carik kertas beserta sebuah pulpen dan ia berikan ke Shilla

"Pake apa?" Tanyanya. Shilla tak menjawab. Gadis itu malah sibuk menulis sesuatu di kertas yang Gabriel beri barusan. Tak lama Shilla memberi kertas itu ke Gabriel lengkap dengan amplop biru dan merah. Merah adalah warna kesukaanya sedangkan Biru kesukaan Ify... Apa mungkin?

" Nanti kamu kasih surat itu ke orang yang menyukai warna amplopnya ya sayang" Ucap Shilla sambil tersenyum.

" Shill ini..."

"Yel temeni aku ya. Aku capek mau tidur. Aku tidur dulu ya sayang I Love You" Ucap Shilla sambil merebahkan tubuhnya kembali

~~~

Gabriel mengerjapkan matanya saat ia merasakan dingin yang menyentuh telapak tangannya. Ia lalu tersadar bahwa tangan Shilla yang semalam mengenggan tangannya erat telah melonggar. Ini apa?

"Shill... Shilla" Panggil Gabriel. Namun yang di panggil tak menyahut. Gabriel lalu menolaeh ke layar detak jantung (Apa sih namanya? Lupa ada yang tau gak?) Tiit... Tiit... Tiiiiit. Layar itu hanya menampilkan garis lurus. Gak.. Gak mungkin

"Shill... Shilla.. Shilla bangun sayang hey ayo dong bangun. Ayolah sayang jangan bercanda. Shilla" Gabriel jatuh terduduk. Shilla tak bangun. Shilla tak menyahut.
***
5 Tahun kemudian...

Ify sudah tiba di Jakarta. Ia tak sabar ingin segera bertemu sahabat-sahabatnya. Ia edarkan pandangannya ke seluruh penjuru bandara. Pandang terhenti pada sosok pemuda yang berdiri memunggunginya.

Deg, Astaga Perasaan ini tumbuh lagi. Ify baru sadar rasa ini tak pernah berubah.

"Yel" Gabriel berbalik. Matanya bertemu dngan mata Gabriel.

"Ayo pulang" Ajak Gabriel, Ify hanya terdiam menurut
~~~

"Lho Yel kenapa berhenti di sini?" Tanya Ify. Gabriel hanya diam. Ia turun dari mobil. Ify mengikuti

"Kita ketemu Shilla." Ify mengerutkan dahi. Ketemu Shilla kok di kuburan

Langkah Ify berhenti saat Gabriel juga berhenti di salah satu makam. Mata Ify melebar saat melihat tulisan di nisan makam itu.

ASHILLA ZAHRANTIARA

Duk. Ify jatuh terduduk di samping makam  Shilla. Gak. Gak mungkin. Tolong siapapun katakan kalu ini mimpi

"Ini surat buat elo" Ify mendongakkan kepalanya saat sebuah surat terulur di depaaannya

Fy, Sorry kalau gue gak pamit pergi. Tapi gue mau minta maaf aja kok sama elo sekaligus mengembalikkan apa yang sudah gue ambil dari elo dulu. Gue udah tahu semua. Perasaan elo ke Gabriel. Dan gue kembalikan Gabriel ke elo. Gue titip dia ya maaf gue udah ambil dia dari elo. Menikahlah dan janji buat kalian sama-sama selamanya

"Fy gue sayang sama Shilla. Gue cinta sama dia dan gue akan menikahi elo untuk dia"

Ify tercengang mendengarnya. Apa? Menikah dengan Gabriel. Astaga

Demi elo Shill..

END
~~~
Epilog

Chelsea memandang dua buah makam di depannya. Sungguh ia tak menyangka kenyataan ini mampu membuat dirinya serasa bermimpi

'Kamu tahu laki-laki yang menikahi mama adalah om Gabriel dan maaf ayahmu gak bisa melihat kamu karena ternyata dia lebih mencintai gadis masa lalunya. Mama harap kamu tidak menyesal Chel'

"Halo tante Shilla, kenalin aku Chelsea. Chelsea gak marah kalo ternyata papa lebih memilih tante, bertahan bersama tante, tidak berjuang untuk mencintai mama dan menerima aku. Aku tahu kalau ternyata papa lebih mencintai tante di banding mama, aku gak marah, bahkan membenci tante pun aku gak akan pernah sanggup" Ucap chelsea sambil mengusap nisan shilla, Air matanya pun tak henti menetes.

Chelsea beralih ke makam sebelah shilla. Tertera disana nama seseorang yang ternyata sangat berarti dihidupnya.

"Halo Pa. Gimana pa.Papa bahagia kan ninggalin mama dan memilih bersama tante Shilla. Chelsea gak marah kok, Chelsea bahagia kalo papa bisa damai disana bersama orang yang papa cintai. oh ya pa,Maafin Chelsea ya gak pernah dateng ke makam papa. Sebentar lagi Chelsea mau nikah. Chelsea minta doa restu ya pa. Maafin Chelsea pa. Chelsea sayang sama papa" Ucap Chelsea sambil memeluk nisan atas nama ' Gabriel Stevent Damanik"

"Gabriel Shilla makasih pernah hidup untuk aku. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk melehirkan malaikat kita. Chelsea adalah malaikat kita bertiga. Dan aku berjanji akan menjaganya demi kita"

~~~

Visit this page: www.obatkistatradisional.net

                        Diananissa ifc

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...