Title: Love Ending
Author: Tria Novita Sari
Cast: Ify Alyssa, Mario Haling, Alvin Sindunata
Genre: Love, sad, NC 16+
Warning!!
Typo di mana-mana, dan hanya di anjurkan buat pembaca di atas 16 tahun karenaada adegan upsy woopsy nya, kalo ada yang bandel gak mau tanggung jawab yak.Byee
***
Ketika cinta itu datang dan menghapus ketidakmungkinan menjadi semestinya
***
Ify menatap langit gelap di atasnya. Taburan bintang menghiasi kelamnya langit itu yang mampu membuat gadis ini mengukir senyum untuk benda-benda kecil di atas sana.
"Heyy"
Ify berbalik mencari asal suara yang memanggilnya
"Heyy, kak Rio" Jawab Ify sambil menyunggingkan senyumnya.
"Kamu ngapain malem-malem di sini, ini dingin loh Fy" Ucap Rio sambil berjalan mendekati Ify dan duduk di sisi gadis itu begitu sampai disamping gadis itu.
Ify kembali tersenyum, pandangannya kembali ia tuju pada benda-benda cantik di atasnya itu.
"Ify kangen sama mama dan cuma ini yang bisa Ify lakuin untuk melihat mama" Ucap Ify masih dengan senyumnya yang membuat gadis itu terlihat sangat cantik selain karena pantulan cahaya bintang-bintang itu.
"Kak Rio sendiri kenapa kesini, tumben. Biasanya kalo kesini pasti papa yang suruh, iya gak?" Lanjut Ify bertanya pada rio sambil menatap Rio yang ternyata sudah menatapnya terlebih dulu
Rio menggeleng lantas mengacak lembut rambut Ify "Aku kangen sama sepupu aku yang paling cantik, manis, baik, dan cerewet ini" Ucap Rio sambil menyeringai jahil ke arah Ify, Ify memukul lengan Rio pelan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Apaan sih kak, awalnya muji, akhirnya ngehina, uhh" Rio kembali mengacak lembut rambut Ify.
"Jadi gimana boleh gak aku peluk sepupu paling bawel tapi cantik ini,hemm" Ify hanya diam membuat otak jahil Rio berkeliaran di otak laki-lakiitu.
Ify tersentak saat tiba-tiba Rio menarik tubuhnya dan akhirnya menubruktubuh kekar milik Rio, dengan masih memasang wajah cemberut perlahan tangan Ifymelingkar di pinggang Rio.
Lihatlah, dua orang yang bahkan memiliki seperempat darah yang sama itu masih tanpa canggung saling merengkuh, tanpa menyadari bahwa ada detakan yang tak wajar dan masih tersembunyi untuk menyadari dua hati itu. Setan itu belum meminta, setan itu masih diam menunggu waktu yang tepat untuk menjalani keegoisannya.
***
Saat kesendirian datang, hanya dia yang membuat setiap detik lebih berwarnamenyingkirkan penatnya waktu karena detik yang terlewat tak berarti
***
Tinn.. tinnn
Ify terlonjak dari lamunannya. Sebuah ferari metalik berhenti di hadapannya. Mata Ify memicing mencoba menembus kaca hitam itu. Perlahan kaca itu terbuka,seorang pemuda dengan kacamata hitamnya melongokkan (?) kepalanya ke jendela pintu kiri mobil. Ify ternganga melihat orang tersebut
"Kak Rio?" Ucap Ify sambil meyakinkan dirinya
"Ayo Fy pulang udah mau hujan" Ucap Rio sedikit keras dari dalam mobil. Tanpa berpikir panjang Ify beranjak dari tempatnya dan duduk tepat disebelah Rio.
Rio meneguk ludahnya melihat apa yang di kenakan Ify saat ini. Entahlah tubuh Rio sedikit mersa panas melihat paha mulus Ify terpampang di matanya. Rio berhenti di pinggir jalan sejenak. Lalu ia melepas jasnya dan menutupi paha Ify, dirinya takut sesuatu terjadi bila ia masih membiarkan sepupunya tak menyadari panas yang menerpanya.
Ify menatap heran Rio yang tiba-tiba menghentikan mobilnya dan melepas jasnya untuk menutupi pahanya.
"Biar bagaimanapun aku laki-laki Fy" Bisik Rio yang membuat tubuh Ify menegang
***
Dengan panik Ify mengompres handuk kecil di kepala Rio, suhu Rio belum juga menurun membuat gadis itu menjadi takut. Saat tiba-tiba Rio mengetuk pintu dengan basah kuyub dan tubuh menggigil dan di tambah dengan wajah yang sangat pucat membuat tubuh Ify merasakan nyeri melihatnya. Seorang laki-laki kuat dan tangguh yang selalu saja membuatnya cemberut karena kejahilannya harus di buat dirinya panik seketika dengan suhu tubuh yang sangat tdak baik-baik saja.
"Kak sudah baikan. Kak Rio istirahat ya. Besok Ify telpon Tante Manda kalo kak Rio sakit dan harus menginap sementara di rumah, pasti tante ngerti iya kan" Rio tak menghiraukan ucapan Ify.
"ya udah kak, Ify ke dapur dulu buat taruh bekas mangkuk bubur, tunggu ya" Belum saja Ify beranjak tiba-tiba tangannya di tarik oleh Rio sehingga membuat tubuhnya terhuyung karena kehilangan keseimbangan.
"Kamu.. disini.. aj.. a Fy.. Temenin A.. ku" Ucap Rio terbata. Perlahan tangan Rio terlepas dari tangan Ify, sebagai gantinya, tangan yang biasanya kokoh itu menangkup wajah Ify, membawa wajah itu mendekat dan merengkuhnya. seakan meminta gadis itu mendengar detakan jantungnya. Setan itu sedikit memberontak saat dengan jelas wajah Ify dapat di lihat oleh mata pekat itu.
"Kak, kak" Ify sedikit tersentak atas perlakuan Rio. Gadis itu tak bisa berontak, ia hanya mampu menagis tanpa tau apa yang harus ditangisi.
"Jangan tinggalin aku fy bahkan saat semuanya harus berubah" Ify terdiam. Rio menghapus air mata Ify. Ify mengenggam tangan Rio dan mendekap tangan itu.
"Apa yang berubah kak" Rio terdiam, ia melep[as rengkuhan tangannya dari Ify dan meraih kepala Ify. Ia mencium dahi Ify lembut.
"Rasa aku Fy"
***
Ify terdiam, ia tak berani menatap mata Rio barang sedetik pun. Sungguh ia takut, takut semuanya semakin merubah apa yang tidak seharusnya terjadi. Rio menatap Ify yang sedari tadi mengalihkan pandangannya. Dalam hati pemuda itu merutuki dirinya sendiri akan kebodohan yang baru saja ia perbuat.
"Maaf Fy" Lirih Rio. Air mata Ify terjatuh. Isakan yang ia pendam akhirnya muncul. Melihat Ify yang terisak membuat Rio mendakati Ify, mencoba menenangkan gadis itu dengan dekapannya. Entahlah apa dekapan apa yang pantas ia sebut saat ini.
Ify merasakan kehangatan di tubuhnya. Ia tahu siapa yang saat ini mendekapnya. Tangan kokoh yang hampir seminggu selalu menyentuhnya, harum tubuh yang tak akan pernah hilang dari ingatannya itu.
"Lepas kak" Ucap Ify sambil berusaha menepis dekapan sepupunya yang mengaku mencintai dirinya sebagai seorang wanita ini.
Rio semakin mengeratkan pelukannya. Biar saja. Sungguh ia sangat membutuhkan pelukan Ify, gadisnya.
Plakkk
Rio merasakan tamparan yang sangat keras di pipinya. Ify menatap telapak tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menampar Rio. Ify menggelengkan kepalanya.
"Kak, kenapa kak rio bodoh, kak rio mau mempermainkan aku, aku sepupu kakak, aku.."
"Tolong percaya Fy. Aku sadar semua ini salah" Ify kembali memalingkan wajahnya.
Rio beranjak dari tempatnya, sebelum ia benar-benar pergi ia menatap Ify, dengan penuh kasih sayang ia mencium puncak kepala Ify, lalu mengusapnya lembut dan pergi meninggalkan Ify yang kembali terisak di tempatnya
'Aku cuma gak mau merubah takdir yang seharusnya kak. darah kita terikat, dan semua ini sangatlah salah kalo kita melakukannya, maaf kak'
***
Sudah tiga hari Rio pergi dari rumah Ify untuk kembali ke rumahnya. Rasanya berbeda, sungguh ia sangat merindukan sosok kakak sepupunya itu, namun entah mengapa semua terasa berbeda ketika saat rasa yang tak seharusnya ada itu hadir di hati Rio.
Drrtttt.. drttttt.. drrttt
Ify merogoh saku cardigannya, di layarnya tertera nama dari keluarga haling. Ada apa keluarga Haling menghubunginya
"Halo"
"Apa? Iya bi, iya Ify kesana sekarang"
"Waalaikumsalam" Ify langsung bergegas mengambil kunci mobilnya dan pergi mengendarai mobilnya dengan khawatir.
***
"Demam den Rio belum mau turun non, bibi khawatir, dari kemaren aden terus manggil nama non Ify" Ify mengangguk, ia kembali menatap Rio yang sedang tertidur.
"Non, non Ify diem sebentar ya, bibi mau belanja sekalian beli obat untuk den Rio" Ify mengangguk.
Sepeninggal Bibi Nurma, Ify hanya berdiam diri. Ia terus mengenggam tangan Rio, setidaknya inilah hal wajar yang masih pantas ia lakukan terhadap kakak sepupunya ini.
"Fy.. Ify" Ify tersentak ketika mendengar namanya di panggil, ia melihat genggaman tangannya semakin mengerat.
Huekkkk
"Kak Rio" Ify langsung bangkit dari tempatnya dengan panik ia mengurus Rio yang sedang muntah-muntah itu.
Setelah Rio selesai dengan muntahannya ia bergegas ke arah lemari baju Rio untuk mengambil baju untuk mengganti baju Rio yang kotor oleh muntahannya. Dengan telaten Ify melepas kaos Rio dan menggantikannya dengan yang baru sampai pada akhirnya tangannya digenggam paksa oleh Rio membuat ia kesakitan
"Kak, lepasin tangan Ify sakit kak" Entah setan apa yang merasuki tubuh Rio sampai pada akhirnya ia terus mendekati wajahnya ke wajah Ify, semakin dekat membuat Ify reflek memejamkan matanya, dengan kasar Rio menarik tubuh Ify dan memutarnya sehingga kini posisi Ify tertidur. Tubuh Ify saat ini bergetar. Sungguh ia takut.
"Gue tau sampai pada akhirnya pun lo balik ke gue" Bisik Rio yang membuat tubuh Ify semakin gemetar. Rio langsung menghapus jaraknya dengan jarak Ify sambil tangannya mengoyak pakaian yang di kenakan Ify, Ify hanya pasrah.
***
3 minggu kemudian
Plakkk
Suara tamparan yang menggema yang begitu terdengar sangat menyakitkan itu telah meruntuhkan pertahanan gadis ini. Gadis yang saat ini sedang berlutut di bawah kaki seorang laki-laki paruh baya yang sedang menatapnya emosi.
"Jawab papa Fy siapa yang menghamili kamu. JAWAB PAPA" Ify semakin terisak. Ia semakin erat memeluk kedua kaki ayahnya.
"Saya" Semua orang termasuk Ify mengalihkan pandangannya ke arah pemuda yang baru memasuki rumah Umari ini. Ayah Ify menatap penuh kemarahan "Maafin saya Om, saya.."
Bughhh
"Kak Rio"
"Kamu.. kamu sudah menghancurkan kepercayaan saya Rio. Kamu"
Bughhhh
Sekali lagi Rio tersungkur dengan darah yang menetes di sudut bibirnya
"Ify pernikahan kamu dengan Alvin Jonathan papa percepat. Bersiap-siaplah minggu depan"
***
Author: Tria Novita Sari
Cast: Ify Alyssa, Mario Haling, Alvin Sindunata
Genre: Love, sad, NC 16+
Warning!!
Typo di mana-mana, dan hanya di anjurkan buat pembaca di atas 16 tahun karenaada adegan upsy woopsy nya, kalo ada yang bandel gak mau tanggung jawab yak.Byee
***
Ketika cinta itu datang dan menghapus ketidakmungkinan menjadi semestinya
***
Ify menatap langit gelap di atasnya. Taburan bintang menghiasi kelamnya langit itu yang mampu membuat gadis ini mengukir senyum untuk benda-benda kecil di atas sana.
"Heyy"
Ify berbalik mencari asal suara yang memanggilnya
"Heyy, kak Rio" Jawab Ify sambil menyunggingkan senyumnya.
"Kamu ngapain malem-malem di sini, ini dingin loh Fy" Ucap Rio sambil berjalan mendekati Ify dan duduk di sisi gadis itu begitu sampai disamping gadis itu.
Ify kembali tersenyum, pandangannya kembali ia tuju pada benda-benda cantik di atasnya itu.
"Ify kangen sama mama dan cuma ini yang bisa Ify lakuin untuk melihat mama" Ucap Ify masih dengan senyumnya yang membuat gadis itu terlihat sangat cantik selain karena pantulan cahaya bintang-bintang itu.
"Kak Rio sendiri kenapa kesini, tumben. Biasanya kalo kesini pasti papa yang suruh, iya gak?" Lanjut Ify bertanya pada rio sambil menatap Rio yang ternyata sudah menatapnya terlebih dulu
Rio menggeleng lantas mengacak lembut rambut Ify "Aku kangen sama sepupu aku yang paling cantik, manis, baik, dan cerewet ini" Ucap Rio sambil menyeringai jahil ke arah Ify, Ify memukul lengan Rio pelan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Apaan sih kak, awalnya muji, akhirnya ngehina, uhh" Rio kembali mengacak lembut rambut Ify.
"Jadi gimana boleh gak aku peluk sepupu paling bawel tapi cantik ini,hemm" Ify hanya diam membuat otak jahil Rio berkeliaran di otak laki-lakiitu.
Ify tersentak saat tiba-tiba Rio menarik tubuhnya dan akhirnya menubruktubuh kekar milik Rio, dengan masih memasang wajah cemberut perlahan tangan Ifymelingkar di pinggang Rio.
Lihatlah, dua orang yang bahkan memiliki seperempat darah yang sama itu masih tanpa canggung saling merengkuh, tanpa menyadari bahwa ada detakan yang tak wajar dan masih tersembunyi untuk menyadari dua hati itu. Setan itu belum meminta, setan itu masih diam menunggu waktu yang tepat untuk menjalani keegoisannya.
***
Saat kesendirian datang, hanya dia yang membuat setiap detik lebih berwarnamenyingkirkan penatnya waktu karena detik yang terlewat tak berarti
***
Tinn.. tinnn
Ify terlonjak dari lamunannya. Sebuah ferari metalik berhenti di hadapannya. Mata Ify memicing mencoba menembus kaca hitam itu. Perlahan kaca itu terbuka,seorang pemuda dengan kacamata hitamnya melongokkan (?) kepalanya ke jendela pintu kiri mobil. Ify ternganga melihat orang tersebut
"Kak Rio?" Ucap Ify sambil meyakinkan dirinya
"Ayo Fy pulang udah mau hujan" Ucap Rio sedikit keras dari dalam mobil. Tanpa berpikir panjang Ify beranjak dari tempatnya dan duduk tepat disebelah Rio.
Rio meneguk ludahnya melihat apa yang di kenakan Ify saat ini. Entahlah tubuh Rio sedikit mersa panas melihat paha mulus Ify terpampang di matanya. Rio berhenti di pinggir jalan sejenak. Lalu ia melepas jasnya dan menutupi paha Ify, dirinya takut sesuatu terjadi bila ia masih membiarkan sepupunya tak menyadari panas yang menerpanya.
Ify menatap heran Rio yang tiba-tiba menghentikan mobilnya dan melepas jasnya untuk menutupi pahanya.
"Biar bagaimanapun aku laki-laki Fy" Bisik Rio yang membuat tubuh Ify menegang
***
Dengan panik Ify mengompres handuk kecil di kepala Rio, suhu Rio belum juga menurun membuat gadis itu menjadi takut. Saat tiba-tiba Rio mengetuk pintu dengan basah kuyub dan tubuh menggigil dan di tambah dengan wajah yang sangat pucat membuat tubuh Ify merasakan nyeri melihatnya. Seorang laki-laki kuat dan tangguh yang selalu saja membuatnya cemberut karena kejahilannya harus di buat dirinya panik seketika dengan suhu tubuh yang sangat tdak baik-baik saja.
"Kak sudah baikan. Kak Rio istirahat ya. Besok Ify telpon Tante Manda kalo kak Rio sakit dan harus menginap sementara di rumah, pasti tante ngerti iya kan" Rio tak menghiraukan ucapan Ify.
"ya udah kak, Ify ke dapur dulu buat taruh bekas mangkuk bubur, tunggu ya" Belum saja Ify beranjak tiba-tiba tangannya di tarik oleh Rio sehingga membuat tubuhnya terhuyung karena kehilangan keseimbangan.
"Kamu.. disini.. aj.. a Fy.. Temenin A.. ku" Ucap Rio terbata. Perlahan tangan Rio terlepas dari tangan Ify, sebagai gantinya, tangan yang biasanya kokoh itu menangkup wajah Ify, membawa wajah itu mendekat dan merengkuhnya. seakan meminta gadis itu mendengar detakan jantungnya. Setan itu sedikit memberontak saat dengan jelas wajah Ify dapat di lihat oleh mata pekat itu.
"Kak, kak" Ify sedikit tersentak atas perlakuan Rio. Gadis itu tak bisa berontak, ia hanya mampu menagis tanpa tau apa yang harus ditangisi.
"Jangan tinggalin aku fy bahkan saat semuanya harus berubah" Ify terdiam. Rio menghapus air mata Ify. Ify mengenggam tangan Rio dan mendekap tangan itu.
"Apa yang berubah kak" Rio terdiam, ia melep[as rengkuhan tangannya dari Ify dan meraih kepala Ify. Ia mencium dahi Ify lembut.
"Rasa aku Fy"
***
Ify terdiam, ia tak berani menatap mata Rio barang sedetik pun. Sungguh ia takut, takut semuanya semakin merubah apa yang tidak seharusnya terjadi. Rio menatap Ify yang sedari tadi mengalihkan pandangannya. Dalam hati pemuda itu merutuki dirinya sendiri akan kebodohan yang baru saja ia perbuat.
"Maaf Fy" Lirih Rio. Air mata Ify terjatuh. Isakan yang ia pendam akhirnya muncul. Melihat Ify yang terisak membuat Rio mendakati Ify, mencoba menenangkan gadis itu dengan dekapannya. Entahlah apa dekapan apa yang pantas ia sebut saat ini.
Ify merasakan kehangatan di tubuhnya. Ia tahu siapa yang saat ini mendekapnya. Tangan kokoh yang hampir seminggu selalu menyentuhnya, harum tubuh yang tak akan pernah hilang dari ingatannya itu.
"Lepas kak" Ucap Ify sambil berusaha menepis dekapan sepupunya yang mengaku mencintai dirinya sebagai seorang wanita ini.
Rio semakin mengeratkan pelukannya. Biar saja. Sungguh ia sangat membutuhkan pelukan Ify, gadisnya.
Plakkk
Rio merasakan tamparan yang sangat keras di pipinya. Ify menatap telapak tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menampar Rio. Ify menggelengkan kepalanya.
"Kak, kenapa kak rio bodoh, kak rio mau mempermainkan aku, aku sepupu kakak, aku.."
"Tolong percaya Fy. Aku sadar semua ini salah" Ify kembali memalingkan wajahnya.
Rio beranjak dari tempatnya, sebelum ia benar-benar pergi ia menatap Ify, dengan penuh kasih sayang ia mencium puncak kepala Ify, lalu mengusapnya lembut dan pergi meninggalkan Ify yang kembali terisak di tempatnya
'Aku cuma gak mau merubah takdir yang seharusnya kak. darah kita terikat, dan semua ini sangatlah salah kalo kita melakukannya, maaf kak'
***
Sudah tiga hari Rio pergi dari rumah Ify untuk kembali ke rumahnya. Rasanya berbeda, sungguh ia sangat merindukan sosok kakak sepupunya itu, namun entah mengapa semua terasa berbeda ketika saat rasa yang tak seharusnya ada itu hadir di hati Rio.
Drrtttt.. drttttt.. drrttt
Ify merogoh saku cardigannya, di layarnya tertera nama dari keluarga haling. Ada apa keluarga Haling menghubunginya
"Halo"
"Apa? Iya bi, iya Ify kesana sekarang"
"Waalaikumsalam" Ify langsung bergegas mengambil kunci mobilnya dan pergi mengendarai mobilnya dengan khawatir.
***
"Demam den Rio belum mau turun non, bibi khawatir, dari kemaren aden terus manggil nama non Ify" Ify mengangguk, ia kembali menatap Rio yang sedang tertidur.
"Non, non Ify diem sebentar ya, bibi mau belanja sekalian beli obat untuk den Rio" Ify mengangguk.
Sepeninggal Bibi Nurma, Ify hanya berdiam diri. Ia terus mengenggam tangan Rio, setidaknya inilah hal wajar yang masih pantas ia lakukan terhadap kakak sepupunya ini.
"Fy.. Ify" Ify tersentak ketika mendengar namanya di panggil, ia melihat genggaman tangannya semakin mengerat.
Huekkkk
"Kak Rio" Ify langsung bangkit dari tempatnya dengan panik ia mengurus Rio yang sedang muntah-muntah itu.
Setelah Rio selesai dengan muntahannya ia bergegas ke arah lemari baju Rio untuk mengambil baju untuk mengganti baju Rio yang kotor oleh muntahannya. Dengan telaten Ify melepas kaos Rio dan menggantikannya dengan yang baru sampai pada akhirnya tangannya digenggam paksa oleh Rio membuat ia kesakitan
"Kak, lepasin tangan Ify sakit kak" Entah setan apa yang merasuki tubuh Rio sampai pada akhirnya ia terus mendekati wajahnya ke wajah Ify, semakin dekat membuat Ify reflek memejamkan matanya, dengan kasar Rio menarik tubuh Ify dan memutarnya sehingga kini posisi Ify tertidur. Tubuh Ify saat ini bergetar. Sungguh ia takut.
"Gue tau sampai pada akhirnya pun lo balik ke gue" Bisik Rio yang membuat tubuh Ify semakin gemetar. Rio langsung menghapus jaraknya dengan jarak Ify sambil tangannya mengoyak pakaian yang di kenakan Ify, Ify hanya pasrah.
***
3 minggu kemudian
Plakkk
Suara tamparan yang menggema yang begitu terdengar sangat menyakitkan itu telah meruntuhkan pertahanan gadis ini. Gadis yang saat ini sedang berlutut di bawah kaki seorang laki-laki paruh baya yang sedang menatapnya emosi.
"Jawab papa Fy siapa yang menghamili kamu. JAWAB PAPA" Ify semakin terisak. Ia semakin erat memeluk kedua kaki ayahnya.
"Saya" Semua orang termasuk Ify mengalihkan pandangannya ke arah pemuda yang baru memasuki rumah Umari ini. Ayah Ify menatap penuh kemarahan "Maafin saya Om, saya.."
Bughhh
"Kak Rio"
"Kamu.. kamu sudah menghancurkan kepercayaan saya Rio. Kamu"
Bughhhh
Sekali lagi Rio tersungkur dengan darah yang menetes di sudut bibirnya
"Ify pernikahan kamu dengan Alvin Jonathan papa percepat. Bersiap-siaplah minggu depan"
***