***
Rio menatap pada
hamparan laut lepas di hadapannya. Menikmati debur ombak yang pecah pada
hantaman batu karang. Merasakan kedamaian kicauan burung yang singgah untuk
mencari ikan diantara gulungan gelombang di sana. Rio memejamkan matanya saat
angin halus menyapu wajahnya. Sejenak rasa rindu akan kehadiran gadis itu
menyergap batinnya.
Rio membuka matanya
saat sebuah tepukan halus pada pundaknya menyentak kesadarannya. Rio menatap
pada gadis di sampingnya yang kini mengambil tempat sangat dekat dengannya.
Senyum simpul terhias di wajah tampannya. Rio menghembuskan nafasnya. Dan kini
ia secara perlahan mulai menyandarkan kepalanya pada gadis di sampingnya.
“Jadi apa?”
Suara lembut itu
mulai bersuara. Rio menatap Shilla di sampingnya yang masih fokus menatap
hamparan ombak yang saling berkejaran di hadapan keduanya.
“Gue cuma mau
menghabiskan waktu seharian sama adik gue tersayang. Gak papa kan?”
Shilla tersenyum. Kepalanya mengangguk. Shilla
menegakkan tubuhnya sehingga Rio yang menyandarkan kepalanya di pundak Shilla
pun kini menegakkan kepalanya menatap Shilla. Shilla menatap wajah Rio.
Kakaknya yang dulu meninggalkannya dan selalu di rindukannya. Shilla masih tak
percaya di hadapannya saat ini dengan jelas ia bisa menatap kakaknya. Bukan
lagi mimpi seperti yang dulu sering ia lewatkan. Setetes air mata jatuh dari
kedua matanya.
Rio tersentak
melihat kedua cairan yang mulai mengalir di kedua pipi Shilla. Tangan pemuda
itu menangkup wajah Shilla. Menghapus air mata adiknya dengan kedua ibu
jarinya. Rio mengarahkan kepala Shilla mendekat kearahnya. Mencium puncak
kepala Shilla dan memeluk adiknya itu setelah Shilla semakin keras terisak.
“Lo kenapa Shil.
Walaupun gue kesel sama lo karena lo tiba-tiba nangis di hari yang mau gue buat
spesial untuk kita tapi apapun yang terjadi sama lo gue siap dengerin lo. Gue
disini ingin selalu siap ada buat lo. Gue mau nebus kesalahan gue yang hilang
dari lo bertahun-tahun. Jadi apapun yang lo mau dari gue bilang Shill”
Shilla menggelengkan
kepalanya. Tangan Shilla semakin erat melingkarkan tangannya di leher Rio.
Matanya terpejam menikmati kehangatan pelukan seseorang yang selama ini selalu
ia harapkan kehadirannya dulu.
“Gue gak minta
apa-apa dari lo kak..” Shilla menghentikan ucapannya. Gadis itu menghapus air
matanya dan melepas lingkaran tangannya dari leher Rio. Shilla menjauhkan
tubuhnya dari Rio. Gadis itu menatap kakaknya yang masih menunggu lanjutan
kalimatnya.
“Gue minta lo bawa
Ify kembali”
***
“Apa Fy lo mau jadi
dokter di rumah sakit tempat gue?”
Ify menganggukkan
kepalannya. Tangannya masih memegang beberapa dokumen yang di kirim langsung
dari rumah sakitnya di Berlin dulu. “Kenapa? Gak boleh? Biar bagaimanapun rumah
sakit itu tetap punya bokap gue. Gue juga tetap punya hak atas rumah sakit itu.
Lagipula seharusnya tempat gue ya disini”
Cakka tertawa
mendengar ucapan sepupunya yang sontak membuat Ify langsung menatap bingung
kearah Cakka. Pemuda berkulit putih itu mendekat kearah Ify. Menepuk pundak
gadis itu yang dibalas tatapan tajam oleh Ify.
“Ya ya gue tau maksud
lo Fy. Lo tuh gak mau balik ke Berlin karena disana terlalu banyak kenangan lo
sama Rio kan dan yang paling utama. Lo gak bisa jauh dari Rio dan lo masih
berharap cowok itu nyamperin lo dan bawa lo kembali ke dia juga adiknya. Iya
kan?”
Bughh..
Cakka tersentak.
Menatap tumpukan berkas di bawah kakinya yang ia yakini adalah benda yang baru
saja mendarat di wajahnya. Cakka menatap Ify yang berdiri dengan tatapan tajam
kearahnya seakan tatapan itu merupakan ancaman untuknya.
“Lo sembarangan ya
kalo ngomong. Apapun alasan gue itu gak penting buat lo. Lagi pula ini juga
permintaan papa gue karena gue sekarang di Indonesia. Dan satu lagi. Lebih baik
lo jangan pernah mengucapkan nama Rio ataupun Shilla di depan gue. Kalo lo
masih mau hidup tenang”
“Nyatanya lo aja
masih terlalu mudah mengucapkan nama mereka Fy. Itu artinya lo masih belum sepenuhnya
melepaskan diri lo dari bayangan mereka”
Langkah Ify yang
menuju ke kamarnya sontak terhenti. Ify terdiam seakan menunggu lanjutan
kalimat dari sepupunya tersebut.
“Lo gak akan pernah
bisa pergi dari mereka”
Ify membalikkan
tubuhnya. Menatap Cakka yang memperhatikan dirinya. Ify mengalihkan wajahnya
seakan ia tak ingin Cakka membaca apapun pikirannya yang menurutnya mudah
sekali terbaca oleh Cakka. Atau mungkin memang dirinya yang tidak bisa menutupi
apa yang tidak seharusnya ditahui.
“Gue mengenal lo
bukan beberapa menit yang lalu Ify. Bagi gue setebal apapun topeng lo yang lo
yakini topeng terangkuh yang lo miliki. Bagi gue lo tetaplah seorang Ify yang
dulu. Perasa yang rapuh juga wanita angkuh yang sangatlah lemah. Bahkan untuk
berdiri dengan kakinya sendiri pun lo masih butuh pegangan. Iya kan?”
Ya. Ify
membenarkannya. Apapun yang terucap dari Cakka bukanlah sebuah kalimat bermakna
yang semata-mata hanya sebagai penghancur dirinya. Semua merupakan sebuah
kebenaran yang sampai kapanpun tak akan pernah bisa ia tutupi setidaknya di
depan Cakka.
Ify membiarkan
setetes air mata jatuh dari kedua matanya. Ify membiarkan Cakka berjalan
mendekatinya. Ify membiarkan saat Cakka menghapus air matanya dengan kedua jari
pemuda itu dengan lembut. Namun ia tak membiarkan saat pemuda itu beranjak
pergi darinya. Ify langsung menjatuhkan dirinya pada tubuh Cakka. Melingkarkan
erat tangannya pada leher Cakka. Membiarkan tubuhnya hangat dalam pelukan dalam
tubuh tegap sepupunya tersebut.
Cakka mengusap rambut
Ify lembut. Beberapa kali mencium puncak kepala Ify. Berusaha menenangkan
sepupunya yang mulai merontokkan sisi keangkuhan yang sebenarnya hanya berupa
kepalsuan. Cakka melepas lingkaran tangan dari punggung Ify. Menjauhkan tubuh
sepupunya darinya. Lalu dengan lembut mendekatkan kepala gadis itu kearahnya.
Mencium dahi Ify lembut. Cakka melepaskan ciumannya. Menangkupkan kedua
tangannya pada wajah cantik yang nyatanya semakin tirus di hadapannya.
“Fy dengerin gue.
Gue gak pernah minta apapun sama lo. Tapi gue mau lo dengerin gue. Gue mau lo
kembali seperti dulu. Menjadi Ify sepupu gue yang ceria, selalu menjadikan
detiknya sebuah kebahagiaan. Ify yang tidak pernah membiarkan setetes air mata
pun menghapus kebahagiaannya. Ify yang selalu menciptakan warna bukan hanya
untuknya. Tapi untuk semua orang di dekatnya. Gue mau lo seperti itu Fy. Lo
bisa?”
“Apa gue bisa.
Sementara sekarang gue merasa untuk menjadi seorang Ify hanya dengan seperti
ini. Terlalu banyak Kka hal-hal sulit yang bagi gue terlalu bodoh untuk di
hadapi dengan tawa. Tapi gue gak suka air mata. Apa yang harus gue lakuin Kka.
Apa mungkin gue harus kembali ke
masa lalu. Mencoba memilih tidak pernah mengenal
mereka. Ngomong ke gue apa yang bisa gue lakuin?”
Cakka mengangkat
dagu Ify. Mengarahkan gadis itu untuk menatap matanya. Mengetahui keyakinan
yang di cobanya sebagai penguat untuk Ify. Cakka mengusap rambut Ify.
Membiarkan gadis di hadapannya merasakan ketenangan yang ia berikan.
“Lupakan apapun
yang membuat lo lemah Fy. Gue tau lo bisa. Kalo lo ingin menjadi Ify yang saat
ini jadilah Ify yang angkuh. Tidak membiarkan masa lalu menghancurkan
kebahagiaannya. Jadilah Ify yang angkuh yang mau bertahan dengan caranya
sendiri untuk kebahagiaannya. Lo mau lakuin itu?”
Ify menatap Cakka.
Mencari kesungguhan yang pemuda itu ucapkan. Ify menghembuskan nafasnya. Lalu
menghapus air matanya dan mengubah ekspresinya seangkuh mungkin. Menegakkan
kepalanya. Melipat tangannya di dada dan memasang tatapan tajam. Tak lama
senyumnya ia sunggingkan di depan Cakka.
“Gimana ekspresi
gue tadi. Udah pas kan?”
Cakka menggeleng
yang sontak membuat Ify langsung merubah ekspresinya. Ify menatap Cakka bingung
yang membuat pemuda itu tertawa melihat ekspresi Ify yang baru kali ini ia
lihat. Mungkin bukan. Ekspresi yang dulu jauh sebelum segalanya merubah gadis
itu menjadi gadis bertopeng. Dan kini untuk pertama kalinya tawa tulus seorang
kakak muncul dalam diri Cakka.
“Fy.. Ify kalo lo
bukan sepupu gue aja udah gue pacarin lo”
“Kayak gue mau sama
lo aja. Dihh. Oh ya Kka inget besok lo ke rumah sakit harus sama gue. Inget.
Gue tidur dulu. Byee”
Cakka menyentuh
pipinya yang tadi sempat di cium oleh Ify. Cakka menatap punggung Ify yang
perlahan menghilang masuk ke kamarnya. Senyumnya kembali mengembang. Kali ini
Cakka bersumpah ia akan terus menjaga Ify. Ify yang dulu telah kembali dan ia
tidak akan membiarkan Ify kembali pergi.
***
Rio menatap Shilla.
Meyakinkan apa yang baru saja ia dengar. Kalimat yang baru saja di dengarnya
seakan menyentak keras dirinya. Rio bangkit dari duduknya membuat Shilla
mendongak menatap bingung kearahnya.
“Gue gak akan
lakuin itu”
“Kenapa? Lo gak mau
hati lo sakit. Gue tau gimana perasaan kalian. Bukan hanya lo yang cinta sama
Ify. Ify juga cinta sama lo tapi apa dengan cara ini kalian bisa baik-baik
saja. Kak gue tau mungkin sekarang gue egois. Tapi sekali ini aja kak lo
biarkan gue ketemu Ify. Bahkan saat dia bawa lo kembali gue belum mengucapkan
terima kasih”
Rio memejamkan
matanya saat melihat dengusan Shilla juga saat gadis itu memalingkan
pandangannya. Mungkin bisa saja ia melakukannya. Tapi ia tidaklah bodoh. Bisa
saja gadis itu langsung melarikan diri saat melihat dirinya. Dan Rio tidak akan
sanggup lagi melihat gadis itu menjauh darinya secara jelas. Karena ia tahu
hatinya akan semakin berkedut nyeri jika itu terjadi.
“Lupakan Shill.
Lupakan Ify. Dia gak lagi butuh kita”
Shilla bangkit dari
duduknya. Menghadap langsung Rio dan menatap kakaknya dengan tatapan memohon.
Shilla meraih tangan Rio. Mencium tangan itu dengan segala kerendahannya
memohon pada kakaknya.
“Ify itu sahabat
gue kak. Gue berjuang sama dia dulu bareng-bareng hanya untuk menggapai
cita-cita kita sebagai dokter. Hanya Ify yang benar-benar percaya sama gue
setelah lo kak. Bagi gue Ify melebihi apapun dari segalanya. bahkan gue gak
bisa benci sama dia setelah dia pergi ninggalin gue. Karena gue yakin dia akan
kembali dengan memberikan sesuatu yang melebihi apa yang gue inginkan. Termasuk
lo”
Shilla menghapus
air yang mulai jatuh menetes dari kedua matanya. Shilla mendongakkan kepalanya.
Mencoba menghalau air mata yang mulai ingin menyusul membasahi wajahnya.
“Banyak hal yang
ingin gue ucapin sama dia. Rasa sakit yang sudah Ify berikan untuk gue gak
sebanding dengan pengorbanan yang dia berikan. Karena dia gue bisa menjadi
dokter. Karena dia gue jadi mulai percaya dengan apa yang ingin gue capai bahkan
saat mama sendiri pun merendahkan apa yang gue inginkan”
Shilla menghentikan
ucapannya. Lagi ia menghapus air yang membasahi kedua pipinya. Shilla menghembuskan
nafasnya. Mencoba menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
“Satu lagi yang
membuat gue ingin mengucapkan ribuan terima kasih yang gue sendiri pun tahu itu
tidak akan pernah sebanding dengan apa yang dia lakukan untuk hidup gue bahkan
untuk hidup lo sendiri. Gue yakin jantung yang berdetak dalam tubuh lo itu
karena Ify kan kak. Dia yang membuat jantung itu tetap berdetak sementara apa
yang bisa gue lakuin. Gue hanya seorang adik yang hanya mempunyai angan besar
untuk menciptakan kehidupan untuk kakaknya sendiri, namun justru angan itu juga
yang membuat gue hampir kehilangan lo. Gue mohon sekali lagi kak. Gue..”
Rio langsung
menarik Shilla ke pelukannya. Menyembunyikan wajah penuh kesakitan yang di
perlihatkan adiknya yang justru semakin membuat hatinya menganga. Rio
membiarkan kedua matanya meneteskan air di kedua pipinya. Ia biarkan isakan
yang selama ini coba ia pendam pecah seiring tangisan yang sama dengan Shilla.
Yang Rio tahu ia
pun juga menginginkan gadis itu kembali padanya. Yang Rio tahu dirinya juga
menginginkan gadis itu tetap berada pada jangkauan matanya. Setidaknya ia masih
sanggup melihat segalanya yang ada pada gadis itu. Namun yang terjadi justru
gadis itu menghilang. Bahkan tanpa isyarat apapun seketika gadis yang bernama
Ify itu benar-benar pergi darinya.
“Kak kenapa lo gak
ngomong. Lo mengabaikan omongan gue dari tadi hah?”
“Gue gak tau harus
apa. Gue takut Shill Ify lari lagi waktu dia lihat gue. Yang gue tau dia memang
sengaja pergi dari kita termasuk gue”
Shilla menghapus
air matanya. Kemudian kembali ia menatap kakaknya. Shilla mendekatkan wajahnya
pada telinga Rio. Dan mengucapkan sesuatu yang membuat seketika Rio membeku.
“Lo yang terlalu
pengecut untuk mengakui perasaan lo. Lo aja bisa perjuangin gue. Kenapa Ify
gak?”
Shilla memundurkan
tubuhnya lalu berbalik dan meninggalkan Rio yang menatap sendu punggung Shilla
yang memasuki villa tempat menginap mereka.
Rio menghadapkan
tubuhnya lagi pada hamparan laut. Pemuda itu berjalan mendekati batuan curam
yang di bawahnya terdapat laut yang sedang menghempaskan keras airnya memecah
pada batuan karang. Rio menegakkan tubuhnya dan..
“Arghhhhhhh”
***
“Cha” Acha
menghentikan langkahnya. Menegakkan tubuhnya dan menunggu orang yang
memanggilnya itu berada di dekatnya. Senyum angkuh Acha mengembang saat seorang
pemuda berkulit putih dan bermata sipit berdiri di hadapannya.
“Ada apa?” Pemuda
itu menghela nafas kasar. Kepalanya menggeleng dengan tatapan tajam yang menurut
Acha bukan sebuah siratan yang berarti apapun untuknya.
“Gue gak habis
pikir sama isi di otak lo. Hati lo terbuat dari apa sih Cha bisa-bisanya lo
berfikir untuk merebut Gabriel dari Shilla dan otomatis merusak hubungan gue
sama Sivia. Lo tuh perempuan atau bukan sih. Punya hati gak lo”
“Hushhh, shut up.
Lo repot-repot dateng ke apartemen gue cuma mau omongin hal itu aja. Gak
penting banget sih lo. Dengerin gue ya Alvin sepupu gue tersayang. Gue bukannya
ngerebut Gabriel tapi gue berjuang buat miliki orang yang gue cintai. Gue
berjuang untuk kebahagiaan gue sendiri. Dan satu lagi urusan lo sama cewek lo
itu bukan urusan gue”
Alvin mencekal
tangan Acha yang langsung menghentikan langkah gadis itu. Alvin menarik kasar
tangan sepupunya itu agar bisa berhadapan dengannya. Acha menatap sinis Alvin
menunggu apa lagi yang akan pemuda itu sampaikan padanya.
“Gue gak tau apa
yang di pikirkan oleh seorang pemilik aset terbesar dari Rumah Sakit Retama
Hospital yang dimana seluruh dunia pun tahu itu adalah salah satu rumah sakit
terbesar di Asia untuk menuruti kelicikan lo. Mereka semua gak pernah tahu ternyata
Om Tama salah mendidik putri semata wayangnya yang merupakan calon pewaris
seluruh aset Retama Hospital menjadi seorang gadis freak gak berhati kayak lo”
Tawa Acha
seketika menggelegar. Acha menatap
Alvin. Gadis itu menyentuh dagu Alvin menundukkan wajah pemuda itu untuk
menatap ke wajahnya yang hanya sedagu pemuda itu. Acha mendekatkan wajah
cantiknya kearah Alvin. Senyum sinis langsung terukir di wajahnya.
“Peduli apa lo
dengan siapa gue. Karena tanpa harta ini pun gue masih bisa mendapatkan
kebahagiaan gue dengan cara gue sendiri. Karena lo perlu tahu, gue gak secupu
lo Alvin Sindunata Artama”
Acha langsung
menghempaskan wajah Alvin menjauh. Tatapannya masih menyirat tajam pada pemuda
di hadapannya. Acha membalikkan tubuhnya. Namun baru dua langkah ia berjalan,
gadis itu menghentikan langkahnya.
“Satu lagi. Kalo lo
menyesal punya sepupu secerdik gue, gue pun lebih menyesal punya sepupu sepecundang
lo” Acha kembali berjalan keluar dari apartemennya, sedangkan ditempat yang
sama Alvin mematung menatap pintu apartemen Acha yang tertutup. Alvin
mendudukkan dirinya pada sofa marun milik Acha. Menangkupkan kedua tangannya
menutupi wajahnya. Alvin menggosok wajahnya frustasi.
“Apa lagi yang bisa
gue lakuin Vi. Gue gak mau kehilangan lo. Kita belum berjuang bahkan memulai
pun kita belum melakukannya”
***
“Kak, ehmm sekali
lagi gue tanya nih sama lo. Memang lo yakin bener-bener mau nikah sama si cacing
gila itu. Jujur loh kak walaupun gue bilang sama lo gue akan belajar nerima
dia, tapi tetep gue gak bisa bohong. Gue tuh maunya yang jadi kakak ipar gue
itu Shi.. ehm maksudnya siapapun terserah lo yang penting jangan si
cacing-cacing itu”
Sivia menghembuskan
nafasnya. Dalam hati ia bersyukur dapat mengontrol ucapannya agar nama itu
tidak keluar dari bibirnya. Ia mendengus menatap Gabriel yang masih saja
menggubris dirinya.
“Namanya Acha Via.
Sembarangan lo asal ngubah nama dia. Tau kakek di gantung lo”
Gabriel mendongak
membenarkan kemejanya. Menatap pantulan dirinya dalam cermin. Ia mengakui bahwa
dirinya memanglah tampan. Walaupun tidak kekar ataupun berotot, namun wajahnya
pun tak dapat di ragukan.
Sivia bergidik
melihat senyum Gabriel dari cermin. Gadis itu seketika mendengus melihat
ekspresi Gabriel yang jujur ia pun seperti tak lagi mengenal sosok kakaknya
tersebut.
“Kak nanti
istirahat makan siang kita keluar yuk. Kita udah jarang keluar bareng. Boleh
ya”
Gabriel membalikkan
badannya. Berjalan mendekati Sivia yang menatapnya di atas kasurnya. Senyum Gabriel mengembang membuat mata Sivia
seketika berbinar. Senyum Sivia semakin mengembang melihat anggukan di kepala
Gabriel. Seketika gadis itu melompat ke tubuh Gabriel dan memeluk tubuh pemuda
itu.
Gabriel langsung
terduduk di kasurnya akibat terjangan dari adiknya yang secara tiba-tiba
membuatnya belum bersiap menerima terjangan dari tubuh yang lumayan berisi
tersebut.
“Heh sadar diri lo.
Badan gendut aja seenaknya peluk-peluk orang. Gue ketiban badan lo mampus kali
gue. Dasar” Sivia mengusap kepalanya yang baru saja di pukul oleh Gabriel.
Gadis itu mendengus dan membalas pukulan kepalanya dengan cubitannya di
pinggang Gabriel
“Lo aja yang
kerempeng. Buruan kak kita berangkat sekarang. Ntar mampus gue kalo telat. Hari
ini ada ujian”
Gabriel bangkit.
Mengikuti langkah adiknya itu dengan senyum di wajahnya. Mungkin kini gadis
yang akan benar-benar di cintainya hanya mamanya dan adiknya tersebut.
Sementara sang gadis masa lalu yang dulu pernah membuatnya membagi hatinya akan
coba ia redam dan akan ia coba gantikan dengan nama gadis lain yang akan
menjadi kehidupannya kelak.
***
Ify mematut dirinya
di cermin. Senyumnya mengembang menatap bayangan dirinya yang berbalut blouse
fuschia yang di masukkan di dalam skirt ketat berwarna hitam berbatas lututnya.
Mata Ify beralih pada lemarinya yang terdapat jas berwarna putih yang di
gantungkannya pada pintu lemarinya tersebut. Kini senyum Ify semakin
mengembang. Tatapannya pun yang selama ini memperlihatkan keangkuhannya berubah
menjadi berbinar.
“Senyum-senyum
mulu lo. Kapan berangkatnya. Ayo buruan. Jangan di liatin mulu tuh jas. Cepetan
di bawa”
Ify
mengedarkan tatapannya. Menatap seorang pemuda
dengan kemeja polos berwarna abu-abu berdiri di dekat pintu. Ify memutar
matanya sejenak. Akhirnya ia mengangguk dan berjalan menuju lemarinya mengambil
jas yang menggantung di lemari jati tersebut. Memakainya di hadapan Cakka
membuat pemuda itu tak dapat menahan senyumnya untuk menghiasi wajah tampannya.
“Lo selalu cantik kok Fy. Kalo gak cantik mana mungkin Rio sampek
gak jatuh cinta sama lo” Mata Ify sontak melebar mendengar sebuah nama yang baru
di sebut oleh sepupunya tersebut.
“Cakkaaaa” Tawa Cakka sontak menggelegar mendengar rajukan dari
gadis di hadapannya. Cakka berjalan mendekati Ify yang masih merajuk di
tempatnya. Pemuda itu mengulurkan tangannya menyentuh kepala Ify. Mengusap
rambut sepupunya tersebut. Pemuda itu lalu mendekap bahu ify dan menggiring
mengikutinya menuju mobil.
”Udah jangan ngambek yang ada pasien lo pada kabur dokter Ify
Alyssa” Ify mendengus dan menyempatkan mencubit pinggang Cakka membuat pemuda
itu kembali tertawa.
“Kka” Panggil Ify sebelum keduanya memasuki mobil Cakka. Cakka pun
menghenikan tangannya yang akan membuka pintu menunggu Ify melanjutkan
bicaranya.
“Sorry ya dulu gue gak pernah bersikap respect sama lo. Dan thanks
lo mau bantu gue untuk move. Gue harusnya bersyukur punya sepupu tengil macem
lo. Dulu malah gue ketusin”
“Nyesel kan lo. Akhirnya. Ya udah buruan masuk. Hari ini gue ada
jadwal operasi. Buruan”
Ify mendengus. Menatap tajam Cakka yang sudah masuk di mobilnya.
“Baru di baikin balik dah sengaknya. Aishh Om Fadly ngasih apaan sih sama Tante
Aretha sampek punya anak kayak Cakka. Ckckck”
Tinn tinnn
Ify terlonjak. Menatap Cakka yang menyembulkan kepalanya dari
jendela kemudinya. “Ngapain bengong lagi sih. Buruan Fyyyy”
“Iya iya Kka. Gak
sabaran banget sih” Gerutu Ify
***
Bersambung