***
Takdir
mungkin saat ini sedang meredakan permainannya. Memberikan jeda makhluk tak
berkuasa itu kembali berjalan pada jalan yang sesungguhnya. Memberikan pilihan
saat keraguan itu datang dan memberikan jalan terang untuk mereka kembali
pulang tanpa harus tersandung pada kerikil yang sempat menghadang.
***
Shilla
melangkahkan kakinya pada koridor rumah sakit yang masih sepi pengunjung. Hanya
beberapa suster dan keluarga pasien yang menginap di sekitar koridor. Tak
jarang ia melemparkan senyum saat sapaan menyambut langkahnya.
“Pagi
dokter Shilla”
Shilla
menghentikan langkahnya. Seorang gadis yang berusia satu tahun lebih muda
darinya berdiri di hadapannya sambil tersenyum kemudian menganggukkan
kepalanya.
“Pagi
Agni” Sapa Shilla. Agni tersenyum mendapat balasan atasannya itu. “Gimana Ag
selama saya gak praktek ada hal yang terjadi?” Tanya Shilla sambil berjalan
beriringan dengan susternya tersebut. Agni menggelengkan kepalanya sebagai
jawaban.
“Sejauh
ini saya bisa mengontrol semua Dok. Terlebih lagi Dokter Wijaya sangat membantu
selama dokter Shilla tidak bertugas. Pasien pun syukurlah semua dapat
beradaptasi tanpa tangan dokter Shilla akhir-akhir ini” Mendengar jawaban dari
susternya, Shilla semakin melebarkan senyumnya.
“Tapi
dok..”
Shilla
menghentikan langkahnya begitu susternya berkata kembali. Shilla menolehkan
kepalanya kearah susternya tersebut. Dapat ia lihat susternya tampak sedang
memikirkan sesuatu. Shilla terkikik geli melihat raut serius susternya tersebut.
“Ada
apa Ag. Apa ada sesuatu”
Agni
menganggukkan kepalanya dan mencoba menatap dokternya tersebut. “Tempo hari
waktu dokter Shilla tidak ada di tempat ada dua orang yaitu laki-laki dan
perempuan mencari dokter. Cuma waktu saya tanya ada keperluan apa mereka tidak
menjawab. Katanya mereka tau keberadaan dokter”
Shilla
mengernyitkan dahinya. Siapa yang mencarinya? Ada perlu apa pula mereka mencari
Shilla? Apa ada sesuatu yang terjadi. Entah apa yang Shilla rasakan hatinya
berdegup kencang memikirkannya. Perasaan itu mulai merayapi hatinya. Resah dan
rindu.
“Ehmm
dok. Saya permisi dulu mau ke ruangan suster” Shilla menganggukkan kepalanya
kemudian kembali berjalan namun tanpa di sadarinya tangan mengepal erat di sisi
tubuhnya dan keringat dingin mulai mengucur di dahinya.
Langkah
Shilla terhenti pada sebuah ruangan yang tertulis “Dr. Gabriel Damanik”. Mata
Shilla tak lepas menatap tulisan tersebut. Ia langsung menghapus air mata yang
akan turun dari matanya. Ia memejamkan matanya sejenak. Mengatur nafas setelah
membuka matanya ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruangannya.
Di
dinding yang lain seorang pemuda berjas dokter menatap gadis itu tepat saat
gadis itu berdiri di ruangannya. Tatapannya menyendu. Dadanya sungguh sesak.
Betapa besar rasa inginnya untuk menarik tubuh itu ke pelukannya. Mencium
lembut puncak kepalanya. Menghirup aroma apel yang selalu ia sukai. Sungguh ia
merindukannya. Merindukan saat detik berakhir ketika bahagia itu begitu
bergempita di dadanya.
Ketika
alasan itu membuat aku berhenti memilikimu. Percayalah tak ada satupun alasan
yang mampu menguatkanku untuk berhenti mencintaimu. Bahkan saat takdir
menyatakan bahwa mencintaimu adalah kesalahan. Namun percayalah penyesalan
tidak akan pernah aku ijinkan hadir ketika takdir membiarkanku jatuh dalam
cintamu. Meski semuanya berakhir tanpa ujung yang berarti.
***
“Teh
Ify ngapain disini. Sudah malem atuh teh. Dingin gak baik untuk kesehatan.
Teteh kan dokter masak iya mau sakit. Kasian atuh pasiennya punya dokter yang
malah bikin sakit diri sendiri”
Ify
tertawa ringan mendengar kalimat yang baru terlontar dari Dea. Kepalanya ia
tolehkan menatap gadis berkuncir satu kepang tersebut. Senyum manis ia berikan
untuk gadis polos di sampingnya. Ify menggeser tubuhnya dekat dengan Dea. Kemudian
meletakkan kepalanya di pundak gadis itu. Dea hanya tersenyum dan merangkul
pundak Ify memberikan kehangatan untuk sahabat dari nonanya tersebut.
“Dulu
waktu gue kenal lo yang pertama kali mempertemukan lo dengan gue adalah Shilla.
Bahkan di tempat ini. Dia memperkenalkan gue dengan cinta yang sesungguhnya.
Gue selalu bahagia ketika melihat Shilla dimanja sama bu Inah, bercanda sama
lo, main sama anak-anak disini. Gue saat itu mengerti bahwa mencintai itu
sederhana. Ketika kita mengerti apa itu ketulusan”
“Teteh
dan Teh Shilla adalah orang-orang baik. Bukan seperti orang kota yang sombong
bergelimang materi lalu merasa jijik dengan orang-orang kecil seperti kita.
Saya senang bisa mengenal kalian yang mau mengerti keadaan kita. Saya sempat
bersyukur ibu sempat di pecat oleh keluarga Haling. Karena kalau tidak seperti
itu Teh Shilla dan kang Rio tidak akan kemari meminta maaf sama ibu dan saya
tidak akan bertemu mereka dan kalau saja itu terjadi saya pun tidak akan
bertemu teh Ify”
Ify
menegakkan tubuhnya. Menatap tepat pada kedua mata bening Dea. Wajahnya
mengusap kedua pipi putih itu dengan wajah yang tersenyum tulus.
“Bagi
gue, Shilla dan Rio lo adalah adik kecil yang sangat polos dan harus selalu dijaga.
Gue inget saat dulu kita saling berjanji saling menjaga satu sama lain bahkan
saat kita berjanji untuk menjaga lo adik kecil kita. Tapi semua itu berakhir
karena gue. Gue jahat. Gue bodoh dan..”
“Dan
teteh jangan menyalahkan diri sendiri. Saya mohon teh. Semua sudah berakhir.
Teh Ify dan kang Rio sudah kembali ke Indonesia untuk menemui teh Shilla. Dan
saya yakin Teh Shilla sangat senang.” Ucap Dea dengan senyum merekah di
wajahnya membuat Ify mengalihkan pandangannya dan tersenyum pahit.
“Shilla
memang harus memaafkan Rio karena Rio adalah kakaknya dan Rio sama sekali gak
salah dia adalah korban dari apa yang gue lakukan dulu. Membuat Rio terpisah
dari Shilla dan justru gue ikut pergi dari kehidupan Shilla. Shilla gak akan
memaafkan gue. Gue bersumpah setelah Rio dan shilla ketemu gue akan pergi
menjauh dari mereka”
Dea
menggelengkan kepalanya. Gadis itu meraih tangan Ify dan mengenggamnya erat.
Ify memandang Dea yang menatapnya dengan pandangan sendu. Matanya terpejam saat
ia merasakan usapan lembut di tangannya.
“Teh
Ify gak perlu melakukan itu. Saya yakin Teh Shilla akan jauh lebih sedih di
bandingkan dulu. Yang dia inginkan bukan hanya kakaknya saja. Tapi sahabatnya
dia juga sangat butuhkan”
Ify
menatap mata Dea mencari ketulusan di sana. “Lo yakin?”
Dea
menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Hidup
teh gak selamanya seperti air mengalir di tempat datar. Suatu saat nanti ia
akan jatuh ke bawah dan menemukan alur aliran yang baru. Dan yang harus di
lakukan oleh air itu adalah mengikuti alurnya sampai ia menemukan hilirnya.”
Dea menghentikan ucapannya. Tubuhnya ia dekatkan ke arah ify dan ia rangkul
gadis itu
“Sama
seperti manusia dalam kehidupan. Suatu saat nanti kita pasti bakal jatuh. Tapi
kita harus beradaptasi setelah jatuh itu kita alami. Menjalaninya dan percaya
bahwa semua itu adalah bagian yang sudah tertulis di takdir dan setelah itu
bahagia itu pasti bakal dateng”
Ify
menjatuhkan air matanya. Reflek ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Dea
dan menumpahkan tangisnya di sana. Dea mengusap lembut kepala Ify. Ify memejamkan
matanya merasakan kehangatan dari pelukan juga lembutnya usapan dari gadis
belia di hadapannya. Dea menjauhkan tubuh Ify. Kemudian membingkai wajah tirus
itu. Dengan senyum lembut ia mengusap pipi kemerahan Ify. Menghapus air yang
meriak di sana.
“Aduh
teteh gak usah nangis atuh jelek tau. Liat deh matanya merah terus bengkak.
Idungnya juga merah kayak idung badut di pasar malam. Ihhh jelek atuh teh.
Kayak monster yang ada di tipi-tipi itu tau Teh. Senyum atuh”
Ify
menyunggingkan senyum. Lalu menghapus air matanya. Kemudian tangannya terulur
mengusap pipi berisi Dea. Dan dengan isengnya ia mencubit pipi tersebut.
Melihat Dea mengaduh dengan tangan yang mengusap pipinya korban cubitan Ify tak
lupa juga dengan bibir merengut, melihat reaksi tersebut Ify tertawa lepas
bahkan sepertinya lupa bagaimana keresahan yang sempat melingkupi perasaannya
tadi.
“Lo
mau di cium Daud hah. Mulut lo jangan maju gitu dong de. Itu mengundang Daud
dan sebangsanya buat mangsa lo tuh”
“Ihh
teteh mah apa tuh. Memang teteh pikir saya makanan di mangsa segala. Ngapain
pula sama kang Daud. Saya teh maunya sama Kang Dayat ajalah.Tapi gak papa deh
yang penting teh saya bisa liat teteh ketawa lagi. Duh aduh teteh mah geulis.
Saya mah gak heran kalo Kang Rio teh klepek-klepek dari dulu sama teteh.
Ckckck”
“Apaan
sih lo”
“Tuh
pipinya teh merah. Uhuk uhuk”
“Deaaa.
Lo ya”
Ify
langsung menyerang Dea. Menggelitiki pinggang ramping gadis itu sampai gadis
itu terjengkit geli hingga terguling di saung tempat mereka tersebut. Tapi satu
yang sangat jelas terlihat. Tawa lepas keduanya yang seakan-akan melupakan
bagaimana air mata beberapa detik lalu menyesakkan batin satu di antaranya atau
bahkan keduanya tanpa tersadari.
Dari
pohon kelapa tak jauh dari saung mereka berada Rio mematung menatap mereka. Oh
salah lebih tepatnya salah satu gadis di sana. Gadis yang sudah dua tahun
menjadi penghuni tetap hatinya begitu pun ia yakini bahwa di hati gadis itu pun
tersimpan dirinya. Namun karena keegoisan takdir keinginan hatinya menahan
gejolak inginnya untuk memiliki gadis itu.
Rio
meringis menatap tawa lepas dari gadis itu. Semuanya kini terlihat kembali di
mata Rio. Tawa tulus yang selalu hadir dulu yang entah mengapa justru kini yang
selalu ia dapati adalah tawa sinis. Suara lembut yang menggetarkan hatinya
malah yang kini sering terdengar adalah suara dingin yang menusuk batinnya.
Namun satu yang selalu ia yakini dan ia rasakan tak pernah berubah bahkan dari
dulu sekalipun. Rasanya yang ia tau tetap sama besarnya pada gadis itu bahkan
yang kini ia sadari rasa itu justru semakin besar dan dalam.
Bahkan
saat semua kembali tepat dimata gue. Gue gak tau apa yang pantas gue rasakan.
Bahagia atau kehilangan. Gue hanya membutuhkan lo tetap di sisi gue. Membiarkan
gue dan perasaan gue yang sudah terlalu bergantung sama lo. Baik atau buruk
keadaan lo.
***
Shilla
menghentikan kegiatannya saat suara pintu yang di ketuk terdengar di
telinganya. Shilla berdehem membuat kode untuk orang di luar sana. Tak lama
pintu itu terbuka. Seorang wanita berpakaian putih memasuki ruangannya. Dahi
Shilla mengernyit saat ia dapati wajah tak enak suster di hadapannya.
“Ada
apa sus. Apa ada pasien yang butuh saya tangani” Tanya Shilla. Suster itu
menggelengkan kepalanya. Melangkah maju dan berdiri tepat di samping meja kerja
Shilla. Kemudian membungkukan badannya mendekati telinga Shilla.
“Apa?”
Shilla terdiam mendadak mendengar bisikan dari suster paruh baya di sebelahnya.
Kepalanya ia tolehkan. Memandang tak percaya wajah suster yang berusia lebih
tua darinya itu.
Tak
lama pintu ruangan Shilla terbuka. Perlahan langkah memasuki ruangannya
terdengar di telinganya. Shilla mengeratkan pegangan pada sisi mejanya. Menatap
tajam kearah pintunya.
“Shilla”
Shilla sontak memejamkan matanya begitu suara baritone yang sudah lama tak ia
dengar kembali.
“Ngapain
lo kesini”
***
Rio
melirik Ify di sampingnya. Berulang kali gadis itu ia lihat menghembuskan nafasnya.
Rio tersenyum melihat gadis itu. Tentu saja Ify tak mengetahuinya. Perlahan
tangan Rio mengenggam tangan Ify yang mengepal di paha gadis itu. Meremas
tangan itu lembut.
Ify
menatap kearah tangannya yang di genggam Rio. Matanya terpejam saat pemuda itu
meremas tangannya. Ify menatap sendu kearah Rio. Mengabarkan bahwa ia tidak
baik-baik saja.
“Apa
yang lo takuti” Ucap Rio membuat lagi-lagi Ify menghembuskan nafasnya.
Kepalanya menggeleng. Sungguh Ify tidak tau apa yang ia rasakan.
“Gue
gak tau”
Rio
memutar pundak Ify menghadap kearahnya. Tangannya menyentuh dagu tirus milik
Ify. Dan mendongakkan kepala gadis itu agar menatapnya. Ify menatap Rio.
Meyakinkan pemuda itu tentang rasa yang melingkupi hatinya. Ia biarkan dahi
pemuda itu menyentuh dahi miliknya. Biarkan ia egois saat ini. Hanya pemuda itu
yang mampu membuat keresahannya menenang.
Rio
terdiam saat ia menyadari reaksi dari gadis di hadapannya. Tidak melawan. Dalam
hati Rio bersorak. Ia benar-benar yakin bahwa cintanya pun tidak terlawan oleh
gadis itu. Namun ia segera menjauhkan wajahnya begitu ia sadar bahwa bukan
saatnya ia terhanyut oleh cintanya.
“Ify
yang selama ini gue kenal selalu yakin atas apa yang ia lakukan. Bahkan saat ia
bimbang sekalipun. Terbukti saat ia begitu yakin meninggalkan sahabatnya demi
laki-laki yang ia cintai. Bukan begitu?”
Sudut
bibir Ify terangkat salah satu. Kekehan keluar dari bibirnya. Matanya menatap
tajam pemuda yang juga tersenyum miring kearahnya
“Anda
terlalu percaya tuan” Ucap Ify sambil melipat tangannya di dada. Rio tertawa
kecil melihat ekspresi Ify yang ia kenal selama ia berada di Jerman. Itulah
yang selalu membuatnya nyaman.
“Gue
selalu senang dengan Ify yang angkuh, terlalu percaya diri, tidak suka di
remehkan dan keras di bandingkan Ify yang lemah, terhanyut dengan rasanya dan
terlalu takut atas apa yang akan terjadi. Tetaplah menjadi Ify yang gue suka”
Ucap Rio lembut sambil menatap tulus kearah Ify. Gadis itu kembali tersenyum
angkuh kearah pemuda itu kemudian memukul dada milik Rio dengan kepalan
tangannya.
“Dengan
senang hati Tuan Haling”
Gue
tau ketulusan itu ada. Ketika lo meyakinkan gue dengan keangkuhan lo. Berdiri
seakan-akan lo menyatakan hanya lo yang bisa mencintai gue dan hanya gue yang
pantas lo cintai. Gue yakin cinta gue pun sama sederhananya seperti lo.
***
“Shilla”
Shilla
bangkit dari duduknya. Perlahan melangkahkan kakinya menuju seorang pemuda yang
berdiri di ambang pintunya. Menatapnya sendu. Langkah Shilla bergetar. Beningan
kaca mulai membungkus kelopak beningnya.
Brukk.
Tess
Air
matanya tepat jatuh saat lingkupan hangat itu mendekap tubuhnya. Detak jantung
keduanya menjadi irama pengiring penyampai rindu untuk mereka. Tumpahan air
mata dan isakan menyesakkan menjadi pelengkap kesenduan itu. Keduanya saling
menumpahkan rindu yang tak pernah tersampaikan.
“Kak..
Kak Rio”
Rio
semakin menenggalamkan kepala Shilla dalam dekapannya. Mengeratkan lingkaran
yang ia buat untuk mengukung seseorang yang sangat di rindukkannya.
Menyampaikan seberapa dalam rindunya akibat keegoisan yang selalu menahan
angannya.
“Aku..
aku kangen kakak”
Shilla
memejamkan matanya. Meremas kemeja milik Rio, kakaknya yang begitu ia rindukan
dan selalu ia harapkan kehadirannya.
“Kakak
juga. Maafin kakak Shilla. Maaf”
Tangis
Shilla semakin pecah. Suara baritone yang selalu ia harapkan cepat terlantun di
telinganya. Kini semuanya tak lagi seperti angan. Rio melepas pelukannya.
Menangkupkan tangannya di kedua pipi tembam Shilla. Menghapus aliran air mata
di sana. Sebuah senyum terukir di wajah tampannya.
“Kakak
kangen sama kamu. Maafin kakak ya Shil gak pernah berusaha untuk memperjuangkan
kamu kembali ke keluarga kita. Tapi di sini bukan hanya kakak berjanji. Tapi
kakak akan buktikan kita semua. Kakak, kamu dan mama akan berada di satu atap
yang sama. Kamu mau percaya”
Shilla
tak menjawab. Namun seulas senyum terukir menghiasi wajahnya. Perlahan tangan
kecil milik Shilla menangkup kedua tangan kekar milik Rio. Mengarahkan tangan
tersebut mendekat kearah bibirnya. Mengecup tangan tersebut sebagai tanda bakti
seorang adik kepada kakaknya.
“Kakak
pun tau kan. Aku sayang sama kakak. Kita ini kakak adik mau kita terpisah
sejauh manapun darah kita tetap sama. Itulah yang selalu membuat aku tetap
percaya kalau kakak akan kembali. Aku gak butuh kakak berjanji apapun. Aku..
aku cuma mau kakak bertahan menjadi kakaknya Ashilla”
Rio
tersenyum mendengar ucapan Shilla. Ucapan lembut yang selalu ia rindukan. Rio
membungkukan badannya. Mengarahkan puncak kepala Shilla ke wajahnya. Mencium penuh
kasih sayang adiknya yang kini telah kembali ia dapatkan. Shilla memejamkan
matanya. Merasakan getaran bahagia yang melingkupi dadanya. Sungguh ia bahagia.
***
Ify
tersenyum melihat setiap adegan yang tersuguh di hadapannya. Air mata tak henti
mengalir di wajahnya. Ingin rasanya ia berlari kemudian menarik gadis tersebut
ke pelukannya. Kemudian bertekuk lutut memohon maaf. Namun ketika kesadaran itu
kembali ia ingat. Kepalanya ia gelengkan. Perlahan kakinya melangkah mundur.
Sebuah senyum masih tertera di wajahnya.
Brukk.
Ify
terdiam begitu ia merasakan hantaman pada tubuhnya. Ify membalikkan badannya.
Sontak matanya melebar. Tak terkecuali orang yang menabraknya.
“Ify/
Gabriel”
Gabriel
mengelengkan kepalanya. Menatap tak percaya gadis mungil di hadapannya.
Sementara Ify bergerak gusar di tempatnya.
“Fy
kok lo”
“Maaf
Yel gue harus pergi”
Ify
langsung berlari pergi meninggalkan Gabriel yang menatap punggung ify bingung.
Maaf
gue harus kembali menjadi pengecut. Bukan berarti gue takut. Gue mau kembali
pada asal gue. Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa bagi kalian. Biarkan gue
menanggung kesalahan gue sendiri. Membuat kalian kembali adalah hal terbaik
sebagai penebus kesalahan gue. Maaf.. maaf..
***
“Shill
lo kangen Ify gak?”
Mendengar
nama yang baru saja di sebut kakaknya. Sontak Shilla menegakkan tubuhnya.
Menatap tak percaya kakaknya. Shilla menatap mata kakaknya mencari jawaban.
“Dia
di sini?” Rio menganggukkan kepalanya. Shilla segera menjauh dari Rio dan
berlari menuju luar ruangannya. Kepalanya ia tolehkan untuk mencari objek yang
ia butuhkan itu. Shilla kembali membalikkan tubuhnya kearah Rio. Kemudian
menggelengkan kepalanya. “Dimana? Dia gak ada kak”
Rio
tersentak. Ia langsung berlari menyusul Rio dan segera memutar pandangannya. Oh
shit. Nihil. Gadis itu tak terlihat dimana pun.
“Kak
Ify kemana kak. Dia gak mungkin pergi lagi kan kak. Dia..”
Shilla
memang harus memaafkan Rio karena Rio adalah kakaknya dan Rio sama sekali gak
salah dia adalah korban dari apa yang gue lakukan dulu. Membuat Rio terpisah
dari Shilla dan justru gue ikut pergi dari kehidupan Shilla. Shilla gak akan
memaafkan gue. Gue bersumpah setelah Rio dan shilla ketemu gue akan pergi
menjauh dari mereka
Rio
menggelengkan kepalanya. Mengusap wajah frustasi. Ia menatap sendu kearah
Shilla. Shilla hanya mendesah kecewa saat tatapan tersirat itu ia mengerti.
“Kakak
cari Ify dulu. Dia gak bisa pergi gitu aja. Lo diem disini oke.”
Rio
langsung berlari meninggalkan Shilla yang menatap punggung Rio lelah. Apa yang
terjadi? Kenapa gadis itu harus pergi. Sungguh Shilla sangat merindukannya.
Apapun
yang terjadi gue mohon kembali Fy. Gue mohon.
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar