Minggu, 15 November 2015

Play of Destiny part 11



 
***
Takdir mungkin saat ini sedang meredakan permainannya. Memberikan jeda makhluk tak berkuasa itu kembali berjalan pada jalan yang sesungguhnya. Memberikan pilihan saat keraguan itu datang dan memberikan jalan terang untuk mereka kembali pulang tanpa harus tersandung pada kerikil yang sempat menghadang.

***
Shilla melangkahkan kakinya pada koridor rumah sakit yang masih sepi pengunjung. Hanya beberapa suster dan keluarga pasien yang menginap di sekitar koridor. Tak jarang ia melemparkan senyum saat sapaan menyambut langkahnya.

“Pagi dokter Shilla”

Shilla menghentikan langkahnya. Seorang gadis yang berusia satu tahun lebih muda darinya berdiri di hadapannya sambil tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.

“Pagi Agni” Sapa Shilla. Agni tersenyum mendapat balasan atasannya itu. “Gimana Ag selama saya gak praktek ada hal yang terjadi?” Tanya Shilla sambil berjalan beriringan dengan susternya tersebut. Agni menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

“Sejauh ini saya bisa mengontrol semua Dok. Terlebih lagi Dokter Wijaya sangat membantu selama dokter Shilla tidak bertugas. Pasien pun syukurlah semua dapat beradaptasi tanpa tangan dokter Shilla akhir-akhir ini” Mendengar jawaban dari susternya, Shilla semakin melebarkan senyumnya.

“Tapi dok..”

Shilla menghentikan langkahnya begitu susternya berkata kembali. Shilla menolehkan kepalanya kearah susternya tersebut. Dapat ia lihat susternya tampak sedang memikirkan sesuatu. Shilla terkikik geli melihat raut serius susternya tersebut.

“Ada apa Ag. Apa ada sesuatu”

Agni menganggukkan kepalanya dan mencoba menatap dokternya tersebut. “Tempo hari waktu dokter Shilla tidak ada di tempat ada dua orang yaitu laki-laki dan perempuan mencari dokter. Cuma waktu saya tanya ada keperluan apa mereka tidak menjawab. Katanya mereka tau keberadaan dokter”

Shilla mengernyitkan dahinya. Siapa yang mencarinya? Ada perlu apa pula mereka mencari Shilla? Apa ada sesuatu yang terjadi. Entah apa yang Shilla rasakan hatinya berdegup kencang memikirkannya. Perasaan itu mulai merayapi hatinya. Resah dan rindu.

“Ehmm dok. Saya permisi dulu mau ke ruangan suster” Shilla menganggukkan kepalanya kemudian kembali berjalan namun tanpa di sadarinya tangan mengepal erat di sisi tubuhnya dan keringat dingin mulai mengucur di dahinya.

Langkah Shilla terhenti pada sebuah ruangan yang tertulis “Dr. Gabriel Damanik”. Mata Shilla tak lepas menatap tulisan tersebut. Ia langsung menghapus air mata yang akan turun dari matanya. Ia memejamkan matanya sejenak. Mengatur nafas setelah membuka matanya ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruangannya.

Di dinding yang lain seorang pemuda berjas dokter menatap gadis itu tepat saat gadis itu berdiri di ruangannya. Tatapannya menyendu. Dadanya sungguh sesak. Betapa besar rasa inginnya untuk menarik tubuh itu ke pelukannya. Mencium lembut puncak kepalanya. Menghirup aroma apel yang selalu ia sukai. Sungguh ia merindukannya. Merindukan saat detik berakhir ketika bahagia itu begitu bergempita di dadanya.

Ketika alasan itu membuat aku berhenti memilikimu. Percayalah tak ada satupun alasan yang mampu menguatkanku untuk berhenti mencintaimu. Bahkan saat takdir menyatakan bahwa mencintaimu adalah kesalahan. Namun percayalah penyesalan tidak akan pernah aku ijinkan hadir ketika takdir membiarkanku jatuh dalam cintamu. Meski semuanya berakhir tanpa ujung yang berarti.

***
“Teh Ify ngapain disini. Sudah malem atuh teh. Dingin gak baik untuk kesehatan. Teteh kan dokter masak iya mau sakit. Kasian atuh pasiennya punya dokter yang malah bikin sakit diri sendiri”

Ify tertawa ringan mendengar kalimat yang baru terlontar dari Dea. Kepalanya ia tolehkan menatap gadis berkuncir satu kepang tersebut. Senyum manis ia berikan untuk gadis polos di sampingnya. Ify menggeser tubuhnya dekat dengan Dea. Kemudian meletakkan kepalanya di pundak gadis itu. Dea hanya tersenyum dan merangkul pundak Ify memberikan kehangatan untuk sahabat dari nonanya tersebut.

“Dulu waktu gue kenal lo yang pertama kali mempertemukan lo dengan gue adalah Shilla. Bahkan di tempat ini. Dia memperkenalkan gue dengan cinta yang sesungguhnya. Gue selalu bahagia ketika melihat Shilla dimanja sama bu Inah, bercanda sama lo, main sama anak-anak disini. Gue saat itu mengerti bahwa mencintai itu sederhana. Ketika kita mengerti apa itu ketulusan”

“Teteh dan Teh Shilla adalah orang-orang baik. Bukan seperti orang kota yang sombong bergelimang materi lalu merasa jijik dengan orang-orang kecil seperti kita. Saya senang bisa mengenal kalian yang mau mengerti keadaan kita. Saya sempat bersyukur ibu sempat di pecat oleh keluarga Haling. Karena kalau tidak seperti itu Teh Shilla dan kang Rio tidak akan kemari meminta maaf sama ibu dan saya tidak akan bertemu mereka dan kalau saja itu terjadi saya pun tidak akan bertemu teh Ify”

Ify menegakkan tubuhnya. Menatap tepat pada kedua mata bening Dea. Wajahnya mengusap kedua pipi putih itu dengan wajah yang tersenyum tulus.

“Bagi gue, Shilla dan Rio lo adalah adik kecil yang sangat polos dan harus selalu dijaga. Gue inget saat dulu kita saling berjanji saling menjaga satu sama lain bahkan saat kita berjanji untuk menjaga lo adik kecil kita. Tapi semua itu berakhir karena gue. Gue jahat. Gue bodoh dan..”

“Dan teteh jangan menyalahkan diri sendiri. Saya mohon teh. Semua sudah berakhir. Teh Ify dan kang Rio sudah kembali ke Indonesia untuk menemui teh Shilla. Dan saya yakin Teh Shilla sangat senang.” Ucap Dea dengan senyum merekah di wajahnya membuat Ify mengalihkan pandangannya dan tersenyum pahit.

“Shilla memang harus memaafkan Rio karena Rio adalah kakaknya dan Rio sama sekali gak salah dia adalah korban dari apa yang gue lakukan dulu. Membuat Rio terpisah dari Shilla dan justru gue ikut pergi dari kehidupan Shilla. Shilla gak akan memaafkan gue. Gue bersumpah setelah Rio dan shilla ketemu gue akan pergi menjauh dari mereka”

Dea menggelengkan kepalanya. Gadis itu meraih tangan Ify dan mengenggamnya erat. Ify memandang Dea yang menatapnya dengan pandangan sendu. Matanya terpejam saat ia merasakan usapan lembut di tangannya.

“Teh Ify gak perlu melakukan itu. Saya yakin Teh Shilla akan jauh lebih sedih di bandingkan dulu. Yang dia inginkan bukan hanya kakaknya saja. Tapi sahabatnya dia juga sangat butuhkan”

Ify menatap mata Dea mencari ketulusan di sana. “Lo yakin?”

Dea menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Hidup teh gak selamanya seperti air mengalir di tempat datar. Suatu saat nanti ia akan jatuh ke bawah dan menemukan alur aliran yang baru. Dan yang harus di lakukan oleh air itu adalah mengikuti alurnya sampai ia menemukan hilirnya.” Dea menghentikan ucapannya. Tubuhnya ia dekatkan ke arah ify dan ia rangkul gadis itu

“Sama seperti manusia dalam kehidupan. Suatu saat nanti kita pasti bakal jatuh. Tapi kita harus beradaptasi setelah jatuh itu kita alami. Menjalaninya dan percaya bahwa semua itu adalah bagian yang sudah tertulis di takdir dan setelah itu bahagia itu pasti bakal dateng”

Ify menjatuhkan air matanya. Reflek ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Dea dan menumpahkan tangisnya di sana. Dea mengusap lembut kepala Ify. Ify memejamkan matanya merasakan kehangatan dari pelukan juga lembutnya usapan dari gadis belia di hadapannya. Dea menjauhkan tubuh Ify. Kemudian membingkai wajah tirus itu. Dengan senyum lembut ia mengusap pipi kemerahan Ify. Menghapus air yang meriak di sana.

“Aduh teteh gak usah nangis atuh jelek tau. Liat deh matanya merah terus bengkak. Idungnya juga merah kayak idung badut di pasar malam. Ihhh jelek atuh teh. Kayak monster yang ada di tipi-tipi itu tau Teh. Senyum atuh”

Ify menyunggingkan senyum. Lalu menghapus air matanya. Kemudian tangannya terulur mengusap pipi berisi Dea. Dan dengan isengnya ia mencubit pipi tersebut. Melihat Dea mengaduh dengan tangan yang mengusap pipinya korban cubitan Ify tak lupa juga dengan bibir merengut, melihat reaksi tersebut Ify tertawa lepas bahkan sepertinya lupa bagaimana keresahan yang sempat melingkupi perasaannya tadi.

“Lo mau di cium Daud hah. Mulut lo jangan maju gitu dong de. Itu mengundang Daud dan sebangsanya buat mangsa lo tuh”

“Ihh teteh mah apa tuh. Memang teteh pikir saya makanan di mangsa segala. Ngapain pula sama kang Daud. Saya teh maunya sama Kang Dayat ajalah.Tapi gak papa deh yang penting teh saya bisa liat teteh ketawa lagi. Duh aduh teteh mah geulis. Saya mah gak heran kalo Kang Rio teh klepek-klepek dari dulu sama teteh. Ckckck”

“Apaan sih lo”

“Tuh pipinya teh merah. Uhuk uhuk”

“Deaaa. Lo ya”

Ify langsung menyerang Dea. Menggelitiki pinggang ramping gadis itu sampai gadis itu terjengkit geli hingga terguling di saung tempat mereka tersebut. Tapi satu yang sangat jelas terlihat. Tawa lepas keduanya yang seakan-akan melupakan bagaimana air mata beberapa detik lalu menyesakkan batin satu di antaranya atau bahkan keduanya tanpa tersadari.

Dari pohon kelapa tak jauh dari saung mereka berada Rio mematung menatap mereka. Oh salah lebih tepatnya salah satu gadis di sana. Gadis yang sudah dua tahun menjadi penghuni tetap hatinya begitu pun ia yakini bahwa di hati gadis itu pun tersimpan dirinya. Namun karena keegoisan takdir keinginan hatinya menahan gejolak inginnya untuk memiliki gadis itu.

Rio meringis menatap tawa lepas dari gadis itu. Semuanya kini terlihat kembali di mata Rio. Tawa tulus yang selalu hadir dulu yang entah mengapa justru kini yang selalu ia dapati adalah tawa sinis. Suara lembut yang menggetarkan hatinya malah yang kini sering terdengar adalah suara dingin yang menusuk batinnya. Namun satu yang selalu ia yakini dan ia rasakan tak pernah berubah bahkan dari dulu sekalipun. Rasanya yang ia tau tetap sama besarnya pada gadis itu bahkan yang kini ia sadari rasa itu justru semakin besar dan dalam.

Bahkan saat semua kembali tepat dimata gue. Gue gak tau apa yang pantas gue rasakan. Bahagia atau kehilangan. Gue hanya membutuhkan lo tetap di sisi gue. Membiarkan gue dan perasaan gue yang sudah terlalu bergantung sama lo. Baik atau buruk keadaan lo.

***
Shilla menghentikan kegiatannya saat suara pintu yang di ketuk terdengar di telinganya. Shilla berdehem membuat kode untuk orang di luar sana. Tak lama pintu itu terbuka. Seorang wanita berpakaian putih memasuki ruangannya. Dahi Shilla mengernyit saat ia dapati wajah tak enak suster di hadapannya.

“Ada apa sus. Apa ada pasien yang butuh saya tangani” Tanya Shilla. Suster itu menggelengkan kepalanya. Melangkah maju dan berdiri tepat di samping meja kerja Shilla. Kemudian membungkukan badannya mendekati telinga Shilla.
“Apa?” Shilla terdiam mendadak mendengar bisikan dari suster paruh baya di sebelahnya. Kepalanya ia tolehkan. Memandang tak percaya wajah suster yang berusia lebih tua darinya itu.

Tak lama pintu ruangan Shilla terbuka. Perlahan langkah memasuki ruangannya terdengar di telinganya. Shilla mengeratkan pegangan pada sisi mejanya. Menatap tajam kearah pintunya.

“Shilla” Shilla sontak memejamkan matanya begitu suara baritone yang sudah lama tak ia dengar kembali.

“Ngapain lo kesini”

***
Rio melirik Ify di sampingnya. Berulang kali gadis itu ia lihat menghembuskan nafasnya. Rio tersenyum melihat gadis itu. Tentu saja Ify tak mengetahuinya. Perlahan tangan Rio mengenggam tangan Ify yang mengepal di paha gadis itu. Meremas tangan itu lembut.

Ify menatap kearah tangannya yang di genggam Rio. Matanya terpejam saat pemuda itu meremas tangannya. Ify menatap sendu kearah Rio. Mengabarkan bahwa ia tidak baik-baik saja.

“Apa yang lo takuti” Ucap Rio membuat lagi-lagi Ify menghembuskan nafasnya. Kepalanya menggeleng. Sungguh Ify tidak tau apa yang ia rasakan.

“Gue gak tau”

Rio memutar pundak Ify menghadap kearahnya. Tangannya menyentuh dagu tirus milik Ify. Dan mendongakkan kepala gadis itu agar menatapnya. Ify menatap Rio. Meyakinkan pemuda itu tentang rasa yang melingkupi hatinya. Ia biarkan dahi pemuda itu menyentuh dahi miliknya. Biarkan ia egois saat ini. Hanya pemuda itu yang mampu membuat keresahannya menenang.

Rio terdiam saat ia menyadari reaksi dari gadis di hadapannya. Tidak melawan. Dalam hati Rio bersorak. Ia benar-benar yakin bahwa cintanya pun tidak terlawan oleh gadis itu. Namun ia segera menjauhkan wajahnya begitu ia sadar bahwa bukan saatnya ia terhanyut oleh cintanya.
“Ify yang selama ini gue kenal selalu yakin atas apa yang ia lakukan. Bahkan saat ia bimbang sekalipun. Terbukti saat ia begitu yakin meninggalkan sahabatnya demi laki-laki yang ia cintai. Bukan begitu?”

Sudut bibir Ify terangkat salah satu. Kekehan keluar dari bibirnya. Matanya menatap tajam pemuda yang juga tersenyum miring kearahnya

“Anda terlalu percaya tuan” Ucap Ify sambil melipat tangannya di dada. Rio tertawa kecil melihat ekspresi Ify yang ia kenal selama ia berada di Jerman. Itulah yang selalu membuatnya nyaman.

“Gue selalu senang dengan Ify yang angkuh, terlalu percaya diri, tidak suka di remehkan dan keras di bandingkan Ify yang lemah, terhanyut dengan rasanya dan terlalu takut atas apa yang akan terjadi. Tetaplah menjadi Ify yang gue suka” Ucap Rio lembut sambil menatap tulus kearah Ify. Gadis itu kembali tersenyum angkuh kearah pemuda itu kemudian memukul dada milik Rio dengan kepalan tangannya.

“Dengan senang hati Tuan Haling”

Gue tau ketulusan itu ada. Ketika lo meyakinkan gue dengan keangkuhan lo. Berdiri seakan-akan lo menyatakan hanya lo yang bisa mencintai gue dan hanya gue yang pantas lo cintai. Gue yakin cinta gue pun sama sederhananya seperti lo.

***
“Shilla”

Shilla bangkit dari duduknya. Perlahan melangkahkan kakinya menuju seorang pemuda yang berdiri di ambang pintunya. Menatapnya sendu. Langkah Shilla bergetar. Beningan kaca mulai membungkus kelopak beningnya.

Brukk. Tess

Air matanya tepat jatuh saat lingkupan hangat itu mendekap tubuhnya. Detak jantung keduanya menjadi irama pengiring penyampai rindu untuk mereka. Tumpahan air mata dan isakan menyesakkan menjadi pelengkap kesenduan itu. Keduanya saling menumpahkan rindu yang tak pernah tersampaikan.

“Kak.. Kak Rio”

Rio semakin menenggalamkan kepala Shilla dalam dekapannya. Mengeratkan lingkaran yang ia buat untuk mengukung seseorang yang sangat di rindukkannya. Menyampaikan seberapa dalam rindunya akibat keegoisan yang selalu menahan angannya.

“Aku.. aku kangen kakak”

Shilla memejamkan matanya. Meremas kemeja milik Rio, kakaknya yang begitu ia rindukan dan selalu ia harapkan kehadirannya.

“Kakak juga. Maafin kakak Shilla. Maaf”

Tangis Shilla semakin pecah. Suara baritone yang selalu ia harapkan cepat terlantun di telinganya. Kini semuanya tak lagi seperti angan. Rio melepas pelukannya. Menangkupkan tangannya di kedua pipi tembam Shilla. Menghapus aliran air mata di sana. Sebuah senyum terukir di wajah tampannya.

“Kakak kangen sama kamu. Maafin kakak ya Shil gak pernah berusaha untuk memperjuangkan kamu kembali ke keluarga kita. Tapi di sini bukan hanya kakak berjanji. Tapi kakak akan buktikan kita semua. Kakak, kamu dan mama akan berada di satu atap yang sama. Kamu mau percaya”

Shilla tak menjawab. Namun seulas senyum terukir menghiasi wajahnya. Perlahan tangan kecil milik Shilla menangkup kedua tangan kekar milik Rio. Mengarahkan tangan tersebut mendekat kearah bibirnya. Mengecup tangan tersebut sebagai tanda bakti seorang adik kepada kakaknya.

“Kakak pun tau kan. Aku sayang sama kakak. Kita ini kakak adik mau kita terpisah sejauh manapun darah kita tetap sama. Itulah yang selalu membuat aku tetap percaya kalau kakak akan kembali. Aku gak butuh kakak berjanji apapun. Aku.. aku cuma mau kakak bertahan menjadi kakaknya Ashilla”

Rio tersenyum mendengar ucapan Shilla. Ucapan lembut yang selalu ia rindukan. Rio membungkukan badannya. Mengarahkan puncak kepala Shilla ke wajahnya. Mencium penuh kasih sayang adiknya yang kini telah kembali ia dapatkan. Shilla memejamkan matanya. Merasakan getaran bahagia yang melingkupi dadanya. Sungguh ia bahagia.

***
Ify tersenyum melihat setiap adegan yang tersuguh di hadapannya. Air mata tak henti mengalir di wajahnya. Ingin rasanya ia berlari kemudian menarik gadis tersebut ke pelukannya. Kemudian bertekuk lutut memohon maaf. Namun ketika kesadaran itu kembali ia ingat. Kepalanya ia gelengkan. Perlahan kakinya melangkah mundur. Sebuah senyum masih tertera di wajahnya.

Brukk.

Ify terdiam begitu ia merasakan hantaman pada tubuhnya. Ify membalikkan badannya. Sontak matanya melebar. Tak terkecuali orang yang menabraknya.

“Ify/ Gabriel”

Gabriel mengelengkan kepalanya. Menatap tak percaya gadis mungil di hadapannya. Sementara Ify bergerak gusar di tempatnya.

“Fy kok lo”

“Maaf Yel gue harus pergi”

Ify langsung berlari pergi meninggalkan Gabriel yang menatap punggung ify bingung.

Maaf gue harus kembali menjadi pengecut. Bukan berarti gue takut. Gue mau kembali pada asal gue. Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa bagi kalian. Biarkan gue menanggung kesalahan gue sendiri. Membuat kalian kembali adalah hal terbaik sebagai penebus kesalahan gue. Maaf.. maaf..

***
“Shill lo kangen Ify gak?”

Mendengar nama yang baru saja di sebut kakaknya. Sontak Shilla menegakkan tubuhnya. Menatap tak percaya kakaknya. Shilla menatap mata kakaknya mencari jawaban.

“Dia di sini?” Rio menganggukkan kepalanya. Shilla segera menjauh dari Rio dan berlari menuju luar ruangannya. Kepalanya ia tolehkan untuk mencari objek yang ia butuhkan itu. Shilla kembali membalikkan tubuhnya kearah Rio. Kemudian menggelengkan kepalanya. “Dimana? Dia gak ada kak”

Rio tersentak. Ia langsung berlari menyusul Rio dan segera memutar pandangannya. Oh shit. Nihil. Gadis itu tak terlihat dimana pun.

“Kak Ify kemana kak. Dia gak mungkin pergi lagi kan kak. Dia..”

Shilla memang harus memaafkan Rio karena Rio adalah kakaknya dan Rio sama sekali gak salah dia adalah korban dari apa yang gue lakukan dulu. Membuat Rio terpisah dari Shilla dan justru gue ikut pergi dari kehidupan Shilla. Shilla gak akan memaafkan gue. Gue bersumpah setelah Rio dan shilla ketemu gue akan pergi menjauh dari mereka

Rio menggelengkan kepalanya. Mengusap wajah frustasi. Ia menatap sendu kearah Shilla. Shilla hanya mendesah kecewa saat tatapan tersirat itu ia mengerti.

“Kakak cari Ify dulu. Dia gak bisa pergi gitu aja. Lo diem disini oke.”

Rio langsung berlari meninggalkan Shilla yang menatap punggung Rio lelah. Apa yang terjadi? Kenapa gadis itu harus pergi. Sungguh Shilla sangat merindukannya.

Apapun yang terjadi gue mohon kembali Fy. Gue mohon.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...