***
Ketika mencintai hanya satu hati. Menorehkan rasa bukan untuk terbalaskan. Selalu menjadi alasan saat air mata tak mampu lagi bertahan dan jatuh melukiskan sakit yang tak lagi tertahankan.
***
Pemuda itu menatap gadis di sampingnya. Gadis yang entah sudah berapa lama bertahan menatap segerombolan pemuda yang sedang berlarian merebut sebuah bola yang terus menggelinding dari satu kaki ke kaki yang lain. Pemuda itu mendesah. Kepalanya mendongak menatap langit yang beradu pada kokohnya matahari yang memanasi bumi.
Gadis itu menolehkan kepalanya ke sisi kirinya. Masih sama seperti beberapa jam yang lalu saat pemuda itu mendatangi dirinya dan duduk di bangku yang sama dengannya. Namun gadis itu masih enggan untuk sekedar berucap. Kembali ia menggerakkan kepalanya ke depan. Menatap seorang pemuda yang masih bergumul pada pemuda-pemuda lainnya hanya untuk berebut satu buah bola. Pemuda berkulit putih yang ia tahu telah menjadi penghuni tetap di bagian hatinya. Entah di bagian yang mana. Yang ia tahu bagian itu adalah bagian yang tak terjangkau oleh apapun dan kekal di sana
.
“Fy..” Gadis itu menegakkan tubuhnya. Menatap pemuda di sebelahnya yang tadi menyebut namanya. Kedua alisnya bertaut menunggu kalimat lanjutan dari pemuda di sampingnya
“Sudah siang Fy. Lo gak mau pulang. Dari pagi lo hanya duduk di sini menunggu dan menatap Alvin terus. Lo gak capek”
Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya. Menolehkan kepalanya menghadap pemuda berkulit coklat di sampingnya. Kemudian menggelengkan kepalanya. Cukup. Ia rasa itu adalah jawaban yang mampu mewakili bibirnya berucap.
Rio menghembuskan nafasnya. Ia sudah tau bahwa ini lah yang ia dapat saat bibirnya berani berkata pada gadis di sebelahnya. Gadis yang ia tahu terlalu menutup mata untuk melihat sesuatu yang lebih indah dan nyata untuk ia lihat. Selalu menutup telinga hanya untuk mendengar alunan detakan hati lain untuknya. Tapi pada nyatanya gadis itu terlalu jauh hanya untuk sekedar ia cekal tangannya. Karena gadis itu terlalu lincah bermain pada dunia yang ia ciptakan sendiri.
“Gak ada kata capek untuk dia Yo. Gak akan pernah ada”
Rio memejamkan matanya. Menahan gertakan rasanya yang semakin menyentak menyakitkan di hatinya saat kalimat itu mengalun dari bibir gadis itu. Iya gak akan pernah ada kata capek. Sama seperti dirinya yang tidak akan pernah capek untuk menanti gadis di sebelahnya.
“Ya sudah gue beli minuman sama roti ya. Lo kan daritadi diem terus disini. Gue tahu lo belum makan ataupun minum. Tunggu ya” Gadis itu menganggukkan kepalanya. Matanya menatap punggung Rio yang mulai berjarak darinya
***
“Mas semua dua puluh ribu. Mas.. Halo.. mas”
“Eh iya mbak. Oh berapa mbak”
“Dua puluh ribu mas” Ucap seorang pelayan toko tersebut. Rio langsung mengambil dompetnya dan mengeluarkan dua buah kertas uang sepuluh ribuan. Pelayan itu menerimanya sambil tersenyum ia berlalu setelah sebelumnnya sempat ia membungkukan badannya.
Rio membalikkan tubuhnya. Berjalan ringan keluar dari toko itu sambil membawa sekantong kresek minuman dan makanan untuk Ify. Sambil bersenandung pemuda itu melangkah ringan kearah Ify yang masih sama seperti beberapa menit sebelum ia meninggalkan gadis itu.
Rio menghentikan langkahnya. Diam sejenak menatap gadis yang diam-diam ia cintai itu. Tangannya mengepal menatap gadis itu yang terdiam kaku melihat pandangan seorang pemuda berkulit putih sedang bercengkerama mesra dengan seorang gadis berpipi chubby di salah satu kursi beton di sisi lapangan. Rio memejamkan matanya. Rasa sakit itu kian keras mencubit hatinya. Bolehkan ia berkata bahwa ia saat ini jauh lebih menyedihkan di banding gadis yang menyendiri di sana.
Rio membuka matanya. Menghirup nafas sebanyak mungkin dan mencoba berjalan santai untuk menutupi rasa yang ada di hatinya.
***
Ify menutup matanya erat saat semua terjadi begitu saja di depan matanya. Masih terekam jelas di ingatannya saat pemuda itu berjalan dengan senyum merekah kearah seorang gadis yang langsung menyambut pemuda itu dengan senyum yang sangat manis. Dengan gerakan lembut gadis itu langsung mengusap peluh di dahi pemudanya. Sementara pemuda itu merespon dengan usapan lembut dikepala gadis itu. Sebuah kecupan ringan mendarat indah di dahi gadis bertubuh gempal di sana. Membuat Ify nyaris berteriak.
Tangan Ify yang terkepal di sisi tubuh gadis itu perlahan bergerak. Menyentuh dadanya. Menekan pada rasa yang terus meronta di sana. Ify kembali menatap kearah pasangan pemuda berkulit putih dengan gadis bertubuh gempal di sana. Melihat rajukan manja sang gadis di lengan pemuda itu ingin rasanya Ify menarik rambut gadis itu menjauh dari pemudanya.
“Sudah tau sakit hati masih aja sok kuatin diri liat adegan norak kayak gitu” Ify menegakkan tubuhnya saat suara itu mengisi kekosongan yang ia ciptakan sendiri
“Apa ada yang salah?” Rio menggelengkan kepalanya. Menatap lurus kearah yang sama seperti gadis di sampingnya.
“Kalau lo mau nangis kenapa gak nangis aja. Percuma lo tahan air mata lo itu gak akan merubah semuanya. Alvin akan tetap menjadi Alvin. Begitu juga dengan Via. Mereka tetap akan seperti itu tidak akan pernah berubah menjadi Alvin juga lo”
“Dan percuma juga gue nangis karena semuanya tidak akan merubah apa yang sudah terjadi. Dia gak akan pernah menoleh. Dia gak akan mengerti alasan gue menangis dan dia gak akan mau menghapus air mata gue. Jadi mana yang lebih menyakitkan Rio”
Setidaknya ada gue di sini Fy yang selalu ada untuk lo dan mengerti semua di diri lo.
“Apa cinta butuh mengerti saat ia membutuhkan alasan. Menangis saat lo mencintai seseorang bukan pertanda kelemahan lo untuk bertahan Fy. Menangis berarti menumpahkan rasa yang sudah tidak lagi mampu lo pendam. Gak selamanya cinta sepihak seperti lo itu terus bertahan di dalam kemunafikan. Karena gak selamanya yang tertutupi pantas untuk di simpan. Lo belum makan. Gue beliin roti sama minuman. Lo makan kalo lo masih mau jadi cewek muna”
***
Taukah dia bahwa yang tersakiti jauh lebih sakit saat semua yang ia berikan tak lagi terpandang indah dan berarti. Kesia-siaan yang sudah tak bernilai yang sesungguhnya itu berdasar pada rasa yang telah teredam di hatinya. Sakit itu terasa seperti puluhan jarum yang menancap kokoh di sana. Hati yang selalu indah mengukir namanya
***
Duk duk duk
Suara bola yang beradu pada lantai menggema merdu di ruangan itu. Irama yang menemani kesenduan seorang pemuda berkulit coklat yang begitu tenang memantulkan bola oranye itu. Tak jarang pemuda itu melempar benda tersebut ke sebuah keranjang yang berdiri kokoh di sudut ruangan.
Bughh
Bola itu terpental menjauh dan jatuh kembali tanpa menyentuh lubang di tengahnya. Shit.
“Rio. Lo di sini. Ngapain bolos pelajaran sih. Pak Indra tadi nyariin lo. Karena lo gak ada dia nulis alpha di absen lo. Demen banget lo bolos. Apa sih yang lo dapet dari bolos. Hah? Eh malah diem gue di cuekin lagi. Hey bro denger gak sih gue ngomong”
Rio menghentikan kegiatannya. Melempar bola itu ke sudut ruangan tersebut, meninggalkannya dan berjalan kearah seorang pemuda lainnya yang berdiri di pinggir lapangan sambil melipat tangan di dada. Rio menatap pemuda itu. Kemudian melengos pergi meninggalkan pemuda itu.
“Cukup Vin. Lo jangan cari gue lagi. Gue butuh menenangkan diri” Alvin menepuk pundak Rio. Menghentikan langkah Rio yang sebelumnya ingin ia mulai. Alvin menarik pundak itu. Menghadapkan pemuda berkulit coklat itu ke arahnya.
“Lo kenapa Yo. Kenapa sikap lo jadi seperti ini ke gue. Apa gue ada salah sama lo?”
Rio mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar di sisi tubuhnya. Menahan gejolak emosi yang mulai merambat di dirinya. Alvin menatap kedua tangan Rio yang mengepal itu. Rasa heran muncul di dirinya
“Gue udah kenal lo tujuh tahun Yo. Apa ada alasan untuk lo menyimpan sesuatu yang gak gue tau. Kenapa sikap lo jadi dingin ke gue. Apa gue boleh nanya hal itu ke lo”
Rio menatap Alvin. Matanya menatap tajam kea rah pemuda bermata sipit itu. Alvin yang tidak mengerti tatapan tajam Rio pun mendesah. Ia beranjak pergi meninggalkan sahabatnya itu setelah sebelumnya menepuk pundak sahabat semasa kecilnya dulu
“Apapun yang terjadi sama lo. Gue gak akan pernah nyerah untuk menjadi sahabat lo bro”
Alvin melangkahkan kakinya menjauh. Namun langkahnya sempat terhenti saat ia mendengar kalimat dingin menggema di ruangan basket tersebut
“Berhenti menyakiti Ify kalo lo masih menganggap gue sahabat lo Alvin”
***
Alvin menatap gadis itu diam-diam. Gadis berdagu tirus yang secara tidak langsung membentengi jaraknya dengan sahabatnya. Ify. Nama yang di sebut oleh Rio dengan begitu datar sarat emosi masih terekam jelas di ingatannya. Sesuatu yang sesungguhnya ia sendiri pun tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, Rio dan Ify yang seakan-akan begitu berkaitan erat. Sungguh Alvin tak mengerti hal itu.
“Al..”
Alvin menolehkan kepalanya. Seorang gadis berkulit putih dan berpipi chubby berdiri di sisinya. Menatap heran kearahnya. Gadis itu duduk di bangku kosong di sebelahnya. Menatap lembut tepat di matanya. Alvin memasang senyum terbaik untuk gadis tercintanya itu. Menghalau sedikitnya beban yang sempat menghimpitnya walau hanya sejenak.
“Kamu kenapa Al”
“Gak papa sayang. Kamu gak istirahat hmm?” Sivia menggelengkan kepalanya. Tangannya melingkar di lengan Alvin. Mendekap dengan manja pemuda yang ia cintai itu.
“Gak. Gimana aku mau istirahat. Kamu aku panggil dari tadi gak denger. Kamu liatin apa sih?” Tanya Sivia dengan suara lembut. Alvin tersenyum mendengarnya. Suara lembut yang selalu menjadi candu untuknya. Betapa ia mencintai gadisnya saat ini. Semua.. semua yang ada di diri gadis tersebut.
“Ya udah kita ke kantin aja. Kasian kalo kamu gak makan nanti mama kamu marah lagi sama aku”
Mereka pun beranjak. Melangkah bersama dengan tangan saling bertaut. Diiringi dengan tatapan iri dan kagum dari semua orang termasuk gadis itu. Ify.
Drttt.. drtt.. Drtt
Ify mengambil handphone di sakunya. Sebuah pesan singkat yang langsung membuat matanya melebar. Temuin gue nanti sepulang sekolah di taman belakang. Alvin
***
Diam. Hanya itu yang mereka lakukan sedari tadi. Hanya bunyi desauan angin yang menemani mereka. Detik terus berjalan. Namun sepatah kata pun tak ada yang berani menguar dari bibir mereka. Desahan nafas terus saja menjadi pengisi suara mereka. Debaran jantung dari salah satu diantaranya bagaikan alarm bagi sang pemilik agar semua cepat berakhir, namun apalah guna semua itu. Hanya kebungkaman yang terus mengukung keduanya.
“Fy. Apa kabar?” Ify menegakkan tubuhnya. Suara berat itu menyapa telinganya untuk pertama kalinya. Entah apa yang terjadi pada hatinya. Sorakan kebahagiaan menggema gempita di sana. Bolehkah ia egois sejenak. Ya hanya sejenak. Setidaknya beberapa menit atau bahkan detik ke depan.
“Ya gue baik dan akan selalu baik” Alvin menoleh kearah Ify. Menampilkan senyum manis yang selalu menjadi alasan untuk Ify tetap terlena dalam mimpinya. Hanya itu. Bukankah memang cinta itu sederhana.
“Gue rasa Rio berhasil menjaga lo ya” Ungkap Alvin membuat Ify menatap bingung ke arahnya.
“Kok Rio?”
“Buktinya dia begitu protect menjaga lo. Bahkan dia menjadikan alasan kerenggangan hubungan gue dan dia karena gue menyakiti lo. See”
Ify membeku seketika mendengar ungkapan Alvin. Dalam hati ia merutuk keras pada Rio yang dengan lancangnya ikut campur urusan hatinya.
“Gue gak tau apapun”
Alvin tersenyum di tempatnya. Alvin memandang Ify di sampingnya. Entah apa yang ada di dalam diri gadis itu. Alvin pun tak mengerti. Ada rasa dalam dirinya untuk menelisik lebih jauh tentang gadis di sampingnya. Namun ia sadar ada benteng yang harus ia jaga pertahanannya. Yaitu perasaan yang selalu terpusat pada kekasihnya. Ia tak ingin kehadiran gadis di sampingnya mengalihkan semua yang ia miliki. Kini Alvin rasa semua harus berakhir. Persahabatannya dengan Rio maupun kaitannya dengan dirinya, gadis di sampingnya ataupun Rio.
“Rio bilang ke gue agar berhenti menyakiti lo. Apa lo memang benar-benar tersakiti oleh gue. Katakan aja. Gue tau lo adalah gadis yang baik. Dan lo gak akan pernah mau menyakiti orang lain. Tapi bukan berarti lo harus jadi perempuan munafik hanya untuk menutupi sesuatu yang memang sudah terjadi. Apapun yang berkaitan dengan gue. Gue gak suka hal itu”
Ify meremas kedua telapak tangannya. Taukah kalian apa yang kini Ify rasakan sumpah demi apapun ia takut. Sebuah rasa yang tak pernah ia bayangkan itu ia rasakan saat bersama pemuda yang ia cintai. Sekali lagi Ify merutuki apapun yang kini terjadi. Termasuk kelancangan dari pemuda itu. Rio.
“Memang apa yang lo fikirkan tentang gue. Lo bahkan gak tau apapun tentang gue Alvin. Sementara lo tiba-tiba datang ke hadapan gue. Seakan-akan lo menuntut apa yang gue rasakan agar gue mengatakannya ke lo. Apa lo berhak?”
“Gue berhak jika itu menyangkut tentang gue..”
“Tapi lo gak tau apapun tentang gue bagaimana lo bisa mengerti gue”
Alvin meremas rambutnya. Mengusap kasar wajahnya. Sungguh dalam waktu singkat apa yang ia bayangkan semua musnah hanya karena keras kepala dari gadis yang membuatnya terjebak di sini.
Ify menghembuskan nafasnya kasar. Tak ia sangka saat pertama kalinya ia berbicara dengan pemuda yang selalu ia angankan justru yang terjadi adu mulut penuh emosi menjadi pengisi di antara mereka. Dengan menahan kesal Ify bangkit dari duduknya. Berjalan beberapa langkah meninggalkan Alvin yang masih menangkupkan wajahnya.
“Mau kemana lo?” Ify menghentikan langkahnya begitu suara itu bergumam. Ify memejamkan matanya sekali lagi. Tangannya perlahan menyentuh dadanya. Menekan dalam rasa yang bermenit-menit lalu ia tahan.
“Pulang” Jawabnya dengan suara parau. Alvin menatap langkah kaki Ify yang perlahan menjauh.
“Gue mohon Fy apapun yang gue lakukan sama lo gue minta maaf tapi tolong kembalikan Rio ke gue. Kembalikan dia seperti Rio tujuh tahun yang lalu gue mohon Fy”
Ify yang mendengar ucapan Alvin menutup bibirnya di balik pohon pinus. Menggigit bawah telapak tangannya untuk menahan isaknya keluar. Sungguh Ify tak pernah sadar mencintai Alvin adalah hal tersulit untuknya. Disaat semua yang mulai terjadi saat ini justru kehadirannya lah yang menjadi pusat dari sebuah kesalahan yang terjadi. Benarkah seperti ini cintanya yang hanya satu hati itu. Belum puaskah waktu menghimpitnya dengan berbagai luka di hatinya?
***
Cintanya bukan cinta yang biasa. Bukan cinta yang Tuhan anugerahkan untuk di rasakan kebahagiaannya. Bukan cinta yang hadir untuk di dekap sebagai penyalur kehangatan. Cintanya bukan cinta yang biasa. Cinta itu cinta sendiri. Hanya ia yang memiliki. Hanya ia yang merasakannya dan mungkin hanya ia yang mempertahankannya.
***
Langkah Ify terhenti saat sebuah tangan menarik tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya pada sebuah dada bidang. Ify hafal aroma ini. Dengan aroma musk bercampur water gloss yang seketika membuat siapapun terlena saat menghirupnya. Memberikan ketenangan jiwa yang bergejolak menjadi seirama kembali.
Ify meremas kuat baju yang ia yakini milik Rio. Menumpahkan segala air mata di dada bidang itu. Memperdalam kepalanya mencari kehangatan juga ketenangan. Sungguh yang ia butuhkan hanyalah ketenangan. Dan Ify tak peduli apapun itu tentang siapa dan bagaimana yang menenangkannya.
“Maafin gue Fy”
Tangisan Ify terhenti. Merekam secara baik ucapan yang baru saja bergumam. Ify mendongakkan kepalanya. Menatap Rio yang juga menatap dirinya dengan pandangan yang ia pun tak mengerti. Ify memejamkan matanya saat tangan kokoh itu mengusap lembut matanya yang berair. Ify menikmatinya. Entah apa yang ia rasakan. Perasaan nyaman yang selalu ia bayangkan jika suatu saat nanti bisa berada di posisi yang sama jika bersama Alvin, mungkin. Namun pada nyatanya yang ada di hadapannya, yang menatap dirinya, dan yang merengkuh tubuhnya adalah laki-laki asing yang entah bagaimana caranya bisa masuk kehidupannya. Ify pun tak mengerti dan ia tak ingin mengerti.
“Gue marah sama lo Yo. Gue kecewa” Lirih Ify. Rio yang mendengarnya semakin mengeratkan genggamannya pada bahu Ify. Menatap gadis itu penuh memohon.
“Gue tau dan gue terima semua itu. Gue minta maaf Fy. Gue gak bisa liat lo begini terus tersiksa sama perasaan lo sendiri”
Ify menggelengkan kepalanya. Sambil menundukkan kepalanya ia memejamkan matanya. Menetralisir perasaannya yang ia rasa kacau saat ini.
“Ini perasaan gue Rio. Ini udah pilihan gue. Gue berani mencintai seseorang gue juga harus siap menghadapi resikonya. Cinta yang gue punya bukan cinta biasa. Gue mencintai seseorang tanpa orang itu tau, tanpa orang itu membalasnya. Jadi gue harus siap merasakan bagaimana sakitnya. Dan harus siap menghadapinya. Jadi gue mohon Rio jangan lakukan ini sama gue. Jalani hidup lo yang seharusnya. Jangan anggap gue adalah wanita rapuh. Karena nyatanya gue bisa bertahan sama perasaan gue sendiri. Gue..”
“Hushh. Sudah cukup. Lo sudah cukup untuk bicara lagi. Gue minta maaf. Gue janji gue akan pergi dan gak akan mengusik apapun mengenai jalan hidup lo. Gue janji”
Rio kembali menarik tubuh Ify. Mendekap erat tubuh mungil gadis yang ia cintai sama seperti cinta gadis itu terhadap Alvin. Cinta yang tak biasa. Cinta yang hanya ia yang tahu. Hanya ia yang memilikinya dan dirinyalah yang selalu mempertahankan rasanya sendiri saat sakit melandanya. Rio mengusap lembut rambut gadis itu. Biarkan ia egois. Menuruti ego yang selalu ia tahan saat bersama gadis itu. Mencintai Ify bukanlah sebuah dosa. Jadi ijinkan dia mengambil kesempatan yang hanya sejenak itu saat ini saja.
***
Kehadirannya tak lagi terasa. Masih teringat jelas saat ia memeluk diriku erat. Mengelus lembut rambutku. Masih terasa hingga kini kehangatannya. Namun apa yang terjadi. Saat pelukan itu kian berjarak. Bayangannya perlahan menghilang. Aku mengingatnya saat langkah itu perlahan menjauh. Dan kini aku tak lagi tau dimana ia dan bagaimana keadaanya. Apakah yang terjadi terhadapnya. Sungguh aku tak mengerti dan jujur aku merindukan hadirnya.
***
Ify menatap kursi kosong di sampingnya. Kursi yang ia tahu telah di tinggali pemiliknya beberapa minggu yang lalu. Ify tak tahu apa yang terjadi pada pemuda itu.
Gue janji gue akan pergi dan gak akan mengusik apapun mengenai jalan hidup lo. Gue janji.
Ify tersentak saat sebuah bayangan kalimat terngiang di memorinya. Keringat dingin mengucur di dahinya.
Brakk.
Ify terperanjat. Pintu kelas secara kasar di dobrak oleh seseorang. Seorang pemuda berlari kearah Ify. Ify menautkan alisnya saat pemuda itu berlari dan menghindari hilir mudik siswa lainnya. Ify tergugu. Getaran itu sudah tidak ada lagi. Mungkinkah
“Fy. Rio Fy.. Rio” Tubuh Ify menegang mendengar nama itu. Matanya langsung melirik kearah Alvin. Menatap pemuda itu yang menatapnya panic
“Ri.. Rio kenapa?”
“Dia kecelakaan..” Tubuh Ify kaku seketika. Aliran darah mendadak berhenti saat ini. Oh God apa yang terjadi. Ada apa terhadap dirinya saat ini
***
Cintanya tulus, ada dan nyata. Namun cinta itu menyendiri. Berjuang agar tetap tumbuh dan kekal di sana. Namun ternyata hatinya berdusta. Kini cinta itu telah lelah. Perlahan ia meninggalkan rumahnya dan kini cinta itu tak lagi teraba dan nyata
***
Kedua orang itu mematung. Menatap kosong ke layar flat yang menempel di ruangan itu. Deru nafas memburu mengiringi hening yang mereka ciptakan. Sementara itu gadis lain di sana menutup erat telinganya saat ucapan demi ucapan disana tanpa di sadari menyudutkan keberadaannya.
Alvin menatap sendu sosok pemuda di balik layar itu. Rasa sakit seakan memelintir hatinya. Alvin menutup matanya erat. Memendam lebih dalam lagi air mata yang hampir menumpuk di matanya. Sungguh kalimat itu bagaikan tamparan baginya.
Sementara ia. Gadis yang selalu di sebut di setiap kata sosok di sana. Hatinya menciut. Rasa sakit itu kian menyiksa. Sakit yang ia rasakan kini seperti pengakumulasian rasa sakitnya yang terdahulu.
“Fy apa boleh gue bilang kalau sakit yang gue rasakan lebih sakit dari lo. Sakit saat gue merasakan semua yang gue lakukan dulu untuk lo terasa sia-sia karena gue seperti tersingkir begitu saja hanya karena Alvin”
Ify menegakkan tubuhnya. Air matanya tak henti turun menghiasi wajah tirusnya. Sementara Alvin. Ia mengenggam erat tangan dingin Sivia di sampingnya. Mereka sama-sama menutup mata berharap tidak ada lagi kata-kata kejujuran dari pemuda itu.
“Mungkin dulu gue ingin egois saat pertama kalinya gue melihat lo nangis saat tahu bahwa Alvin jadian sama Sivia. Rasa benci itu perlahan muncul. Gue gak bisa liat orang yang gue cintai sakit secara bertubi-tubi. Maaf bro mungkin gue egois sama lo. Membawa perasaan gue ke persahabatan kita. Tapi gue gak bisa nahan. Rasanya gue mau bunuh lo Vin setiap gue menghapus air mata Ify”
Alvin menundukkan kepalanya. Air mata itu perlahan membasahi kedua pipinya.
Klik. Brak
Ify dan Alvin mendongakkan kepalanya. Menatap Sivia yang terduduk lemah di bawah meja tv sambil mengenggam remote. Alvin bangkit dari duduknya. Berjalan perlahan mendekati kekasihnya yang masih menangis di sana.
“Maaf Vi. Maaf.”
“Fy bilang sama gue seberapa sakit lo selama ini. Seberapa terlukanya lo mencintai Alvin. Jawab gue Fy jawab”
Ify menutup matanya. Isakannya kian mengeras. Tangannya mengepal erat. Rasa sesak itu semakin menghimpitnya. Ify hanya butuh dia. Ify butuh Rio.
“Sudah Vi sudah. Sebaiknya kita pulang. Kamu istirahat ya”
“tapi Al”
“Hushhh. Sudah pulang aja. Via lo gak perlu khawatir lagi. Perasaan gue sama Alvin sudah hilang. Vin bawa Via. Dia butuh istirahat” Alvin mengangguk. Setelah mengangkat tubuh kekasihnya ia berjalan perlahan meninggalkan rumah Ify. Sebelumnya ia sempat menoleh kearah gadis itu. Menatap sebagai tanda mohon maaf dan terima kasih. Perlahan keduanya menghilang
Ify terduduk lemah di tempatnya. Sambil mendekap erat sebuah CD di tangannya, air mata it uterus mengalir. Di iringi dengan isakan lemah yang menyakitkan.
“Lo tau Rio. Gue jatuh cinta sama lo. Lo berhasil menutup mat ague dari Alvin. Tapi apa yang terjadi. Kenapa lo pergi. Lo jahat Rio lo jahat. Disaat lo berhasil membuat gue menoleh kearah lo, justru lo tinggalin gue. Ini hukuman dari lo hah. Jawab gue Yo. Riooo…”
***
Cintanya yang tulus telah menghilang secara nyata. Namun percayalah. Di dalam hatinya rasa itu terus tumbuh dan berkembang disana walau tetap sampai kapanpun cinta itu tak akan pernah teraba. .
END
Ketika mencintai hanya satu hati. Menorehkan rasa bukan untuk terbalaskan. Selalu menjadi alasan saat air mata tak mampu lagi bertahan dan jatuh melukiskan sakit yang tak lagi tertahankan.
***
Pemuda itu menatap gadis di sampingnya. Gadis yang entah sudah berapa lama bertahan menatap segerombolan pemuda yang sedang berlarian merebut sebuah bola yang terus menggelinding dari satu kaki ke kaki yang lain. Pemuda itu mendesah. Kepalanya mendongak menatap langit yang beradu pada kokohnya matahari yang memanasi bumi.
Gadis itu menolehkan kepalanya ke sisi kirinya. Masih sama seperti beberapa jam yang lalu saat pemuda itu mendatangi dirinya dan duduk di bangku yang sama dengannya. Namun gadis itu masih enggan untuk sekedar berucap. Kembali ia menggerakkan kepalanya ke depan. Menatap seorang pemuda yang masih bergumul pada pemuda-pemuda lainnya hanya untuk berebut satu buah bola. Pemuda berkulit putih yang ia tahu telah menjadi penghuni tetap di bagian hatinya. Entah di bagian yang mana. Yang ia tahu bagian itu adalah bagian yang tak terjangkau oleh apapun dan kekal di sana
.
“Fy..” Gadis itu menegakkan tubuhnya. Menatap pemuda di sebelahnya yang tadi menyebut namanya. Kedua alisnya bertaut menunggu kalimat lanjutan dari pemuda di sampingnya
“Sudah siang Fy. Lo gak mau pulang. Dari pagi lo hanya duduk di sini menunggu dan menatap Alvin terus. Lo gak capek”
Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya. Menolehkan kepalanya menghadap pemuda berkulit coklat di sampingnya. Kemudian menggelengkan kepalanya. Cukup. Ia rasa itu adalah jawaban yang mampu mewakili bibirnya berucap.
Rio menghembuskan nafasnya. Ia sudah tau bahwa ini lah yang ia dapat saat bibirnya berani berkata pada gadis di sebelahnya. Gadis yang ia tahu terlalu menutup mata untuk melihat sesuatu yang lebih indah dan nyata untuk ia lihat. Selalu menutup telinga hanya untuk mendengar alunan detakan hati lain untuknya. Tapi pada nyatanya gadis itu terlalu jauh hanya untuk sekedar ia cekal tangannya. Karena gadis itu terlalu lincah bermain pada dunia yang ia ciptakan sendiri.
“Gak ada kata capek untuk dia Yo. Gak akan pernah ada”
Rio memejamkan matanya. Menahan gertakan rasanya yang semakin menyentak menyakitkan di hatinya saat kalimat itu mengalun dari bibir gadis itu. Iya gak akan pernah ada kata capek. Sama seperti dirinya yang tidak akan pernah capek untuk menanti gadis di sebelahnya.
“Ya sudah gue beli minuman sama roti ya. Lo kan daritadi diem terus disini. Gue tahu lo belum makan ataupun minum. Tunggu ya” Gadis itu menganggukkan kepalanya. Matanya menatap punggung Rio yang mulai berjarak darinya
***
“Mas semua dua puluh ribu. Mas.. Halo.. mas”
“Eh iya mbak. Oh berapa mbak”
“Dua puluh ribu mas” Ucap seorang pelayan toko tersebut. Rio langsung mengambil dompetnya dan mengeluarkan dua buah kertas uang sepuluh ribuan. Pelayan itu menerimanya sambil tersenyum ia berlalu setelah sebelumnnya sempat ia membungkukan badannya.
Rio membalikkan tubuhnya. Berjalan ringan keluar dari toko itu sambil membawa sekantong kresek minuman dan makanan untuk Ify. Sambil bersenandung pemuda itu melangkah ringan kearah Ify yang masih sama seperti beberapa menit sebelum ia meninggalkan gadis itu.
Rio menghentikan langkahnya. Diam sejenak menatap gadis yang diam-diam ia cintai itu. Tangannya mengepal menatap gadis itu yang terdiam kaku melihat pandangan seorang pemuda berkulit putih sedang bercengkerama mesra dengan seorang gadis berpipi chubby di salah satu kursi beton di sisi lapangan. Rio memejamkan matanya. Rasa sakit itu kian keras mencubit hatinya. Bolehkan ia berkata bahwa ia saat ini jauh lebih menyedihkan di banding gadis yang menyendiri di sana.
Rio membuka matanya. Menghirup nafas sebanyak mungkin dan mencoba berjalan santai untuk menutupi rasa yang ada di hatinya.
***
Ify menutup matanya erat saat semua terjadi begitu saja di depan matanya. Masih terekam jelas di ingatannya saat pemuda itu berjalan dengan senyum merekah kearah seorang gadis yang langsung menyambut pemuda itu dengan senyum yang sangat manis. Dengan gerakan lembut gadis itu langsung mengusap peluh di dahi pemudanya. Sementara pemuda itu merespon dengan usapan lembut dikepala gadis itu. Sebuah kecupan ringan mendarat indah di dahi gadis bertubuh gempal di sana. Membuat Ify nyaris berteriak.
Tangan Ify yang terkepal di sisi tubuh gadis itu perlahan bergerak. Menyentuh dadanya. Menekan pada rasa yang terus meronta di sana. Ify kembali menatap kearah pasangan pemuda berkulit putih dengan gadis bertubuh gempal di sana. Melihat rajukan manja sang gadis di lengan pemuda itu ingin rasanya Ify menarik rambut gadis itu menjauh dari pemudanya.
“Sudah tau sakit hati masih aja sok kuatin diri liat adegan norak kayak gitu” Ify menegakkan tubuhnya saat suara itu mengisi kekosongan yang ia ciptakan sendiri
“Apa ada yang salah?” Rio menggelengkan kepalanya. Menatap lurus kearah yang sama seperti gadis di sampingnya.
“Kalau lo mau nangis kenapa gak nangis aja. Percuma lo tahan air mata lo itu gak akan merubah semuanya. Alvin akan tetap menjadi Alvin. Begitu juga dengan Via. Mereka tetap akan seperti itu tidak akan pernah berubah menjadi Alvin juga lo”
“Dan percuma juga gue nangis karena semuanya tidak akan merubah apa yang sudah terjadi. Dia gak akan pernah menoleh. Dia gak akan mengerti alasan gue menangis dan dia gak akan mau menghapus air mata gue. Jadi mana yang lebih menyakitkan Rio”
Setidaknya ada gue di sini Fy yang selalu ada untuk lo dan mengerti semua di diri lo.
“Apa cinta butuh mengerti saat ia membutuhkan alasan. Menangis saat lo mencintai seseorang bukan pertanda kelemahan lo untuk bertahan Fy. Menangis berarti menumpahkan rasa yang sudah tidak lagi mampu lo pendam. Gak selamanya cinta sepihak seperti lo itu terus bertahan di dalam kemunafikan. Karena gak selamanya yang tertutupi pantas untuk di simpan. Lo belum makan. Gue beliin roti sama minuman. Lo makan kalo lo masih mau jadi cewek muna”
***
Taukah dia bahwa yang tersakiti jauh lebih sakit saat semua yang ia berikan tak lagi terpandang indah dan berarti. Kesia-siaan yang sudah tak bernilai yang sesungguhnya itu berdasar pada rasa yang telah teredam di hatinya. Sakit itu terasa seperti puluhan jarum yang menancap kokoh di sana. Hati yang selalu indah mengukir namanya
***
Duk duk duk
Suara bola yang beradu pada lantai menggema merdu di ruangan itu. Irama yang menemani kesenduan seorang pemuda berkulit coklat yang begitu tenang memantulkan bola oranye itu. Tak jarang pemuda itu melempar benda tersebut ke sebuah keranjang yang berdiri kokoh di sudut ruangan.
Bughh
Bola itu terpental menjauh dan jatuh kembali tanpa menyentuh lubang di tengahnya. Shit.
“Rio. Lo di sini. Ngapain bolos pelajaran sih. Pak Indra tadi nyariin lo. Karena lo gak ada dia nulis alpha di absen lo. Demen banget lo bolos. Apa sih yang lo dapet dari bolos. Hah? Eh malah diem gue di cuekin lagi. Hey bro denger gak sih gue ngomong”
Rio menghentikan kegiatannya. Melempar bola itu ke sudut ruangan tersebut, meninggalkannya dan berjalan kearah seorang pemuda lainnya yang berdiri di pinggir lapangan sambil melipat tangan di dada. Rio menatap pemuda itu. Kemudian melengos pergi meninggalkan pemuda itu.
“Cukup Vin. Lo jangan cari gue lagi. Gue butuh menenangkan diri” Alvin menepuk pundak Rio. Menghentikan langkah Rio yang sebelumnya ingin ia mulai. Alvin menarik pundak itu. Menghadapkan pemuda berkulit coklat itu ke arahnya.
“Lo kenapa Yo. Kenapa sikap lo jadi seperti ini ke gue. Apa gue ada salah sama lo?”
Rio mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar di sisi tubuhnya. Menahan gejolak emosi yang mulai merambat di dirinya. Alvin menatap kedua tangan Rio yang mengepal itu. Rasa heran muncul di dirinya
“Gue udah kenal lo tujuh tahun Yo. Apa ada alasan untuk lo menyimpan sesuatu yang gak gue tau. Kenapa sikap lo jadi dingin ke gue. Apa gue boleh nanya hal itu ke lo”
Rio menatap Alvin. Matanya menatap tajam kea rah pemuda bermata sipit itu. Alvin yang tidak mengerti tatapan tajam Rio pun mendesah. Ia beranjak pergi meninggalkan sahabatnya itu setelah sebelumnya menepuk pundak sahabat semasa kecilnya dulu
“Apapun yang terjadi sama lo. Gue gak akan pernah nyerah untuk menjadi sahabat lo bro”
Alvin melangkahkan kakinya menjauh. Namun langkahnya sempat terhenti saat ia mendengar kalimat dingin menggema di ruangan basket tersebut
“Berhenti menyakiti Ify kalo lo masih menganggap gue sahabat lo Alvin”
***
Alvin menatap gadis itu diam-diam. Gadis berdagu tirus yang secara tidak langsung membentengi jaraknya dengan sahabatnya. Ify. Nama yang di sebut oleh Rio dengan begitu datar sarat emosi masih terekam jelas di ingatannya. Sesuatu yang sesungguhnya ia sendiri pun tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, Rio dan Ify yang seakan-akan begitu berkaitan erat. Sungguh Alvin tak mengerti hal itu.
“Al..”
Alvin menolehkan kepalanya. Seorang gadis berkulit putih dan berpipi chubby berdiri di sisinya. Menatap heran kearahnya. Gadis itu duduk di bangku kosong di sebelahnya. Menatap lembut tepat di matanya. Alvin memasang senyum terbaik untuk gadis tercintanya itu. Menghalau sedikitnya beban yang sempat menghimpitnya walau hanya sejenak.
“Kamu kenapa Al”
“Gak papa sayang. Kamu gak istirahat hmm?” Sivia menggelengkan kepalanya. Tangannya melingkar di lengan Alvin. Mendekap dengan manja pemuda yang ia cintai itu.
“Gak. Gimana aku mau istirahat. Kamu aku panggil dari tadi gak denger. Kamu liatin apa sih?” Tanya Sivia dengan suara lembut. Alvin tersenyum mendengarnya. Suara lembut yang selalu menjadi candu untuknya. Betapa ia mencintai gadisnya saat ini. Semua.. semua yang ada di diri gadis tersebut.
“Ya udah kita ke kantin aja. Kasian kalo kamu gak makan nanti mama kamu marah lagi sama aku”
Mereka pun beranjak. Melangkah bersama dengan tangan saling bertaut. Diiringi dengan tatapan iri dan kagum dari semua orang termasuk gadis itu. Ify.
Drttt.. drtt.. Drtt
Ify mengambil handphone di sakunya. Sebuah pesan singkat yang langsung membuat matanya melebar. Temuin gue nanti sepulang sekolah di taman belakang. Alvin
***
Diam. Hanya itu yang mereka lakukan sedari tadi. Hanya bunyi desauan angin yang menemani mereka. Detik terus berjalan. Namun sepatah kata pun tak ada yang berani menguar dari bibir mereka. Desahan nafas terus saja menjadi pengisi suara mereka. Debaran jantung dari salah satu diantaranya bagaikan alarm bagi sang pemilik agar semua cepat berakhir, namun apalah guna semua itu. Hanya kebungkaman yang terus mengukung keduanya.
“Fy. Apa kabar?” Ify menegakkan tubuhnya. Suara berat itu menyapa telinganya untuk pertama kalinya. Entah apa yang terjadi pada hatinya. Sorakan kebahagiaan menggema gempita di sana. Bolehkah ia egois sejenak. Ya hanya sejenak. Setidaknya beberapa menit atau bahkan detik ke depan.
“Ya gue baik dan akan selalu baik” Alvin menoleh kearah Ify. Menampilkan senyum manis yang selalu menjadi alasan untuk Ify tetap terlena dalam mimpinya. Hanya itu. Bukankah memang cinta itu sederhana.
“Gue rasa Rio berhasil menjaga lo ya” Ungkap Alvin membuat Ify menatap bingung ke arahnya.
“Kok Rio?”
“Buktinya dia begitu protect menjaga lo. Bahkan dia menjadikan alasan kerenggangan hubungan gue dan dia karena gue menyakiti lo. See”
Ify membeku seketika mendengar ungkapan Alvin. Dalam hati ia merutuk keras pada Rio yang dengan lancangnya ikut campur urusan hatinya.
“Gue gak tau apapun”
Alvin tersenyum di tempatnya. Alvin memandang Ify di sampingnya. Entah apa yang ada di dalam diri gadis itu. Alvin pun tak mengerti. Ada rasa dalam dirinya untuk menelisik lebih jauh tentang gadis di sampingnya. Namun ia sadar ada benteng yang harus ia jaga pertahanannya. Yaitu perasaan yang selalu terpusat pada kekasihnya. Ia tak ingin kehadiran gadis di sampingnya mengalihkan semua yang ia miliki. Kini Alvin rasa semua harus berakhir. Persahabatannya dengan Rio maupun kaitannya dengan dirinya, gadis di sampingnya ataupun Rio.
“Rio bilang ke gue agar berhenti menyakiti lo. Apa lo memang benar-benar tersakiti oleh gue. Katakan aja. Gue tau lo adalah gadis yang baik. Dan lo gak akan pernah mau menyakiti orang lain. Tapi bukan berarti lo harus jadi perempuan munafik hanya untuk menutupi sesuatu yang memang sudah terjadi. Apapun yang berkaitan dengan gue. Gue gak suka hal itu”
Ify meremas kedua telapak tangannya. Taukah kalian apa yang kini Ify rasakan sumpah demi apapun ia takut. Sebuah rasa yang tak pernah ia bayangkan itu ia rasakan saat bersama pemuda yang ia cintai. Sekali lagi Ify merutuki apapun yang kini terjadi. Termasuk kelancangan dari pemuda itu. Rio.
“Memang apa yang lo fikirkan tentang gue. Lo bahkan gak tau apapun tentang gue Alvin. Sementara lo tiba-tiba datang ke hadapan gue. Seakan-akan lo menuntut apa yang gue rasakan agar gue mengatakannya ke lo. Apa lo berhak?”
“Gue berhak jika itu menyangkut tentang gue..”
“Tapi lo gak tau apapun tentang gue bagaimana lo bisa mengerti gue”
Alvin meremas rambutnya. Mengusap kasar wajahnya. Sungguh dalam waktu singkat apa yang ia bayangkan semua musnah hanya karena keras kepala dari gadis yang membuatnya terjebak di sini.
Ify menghembuskan nafasnya kasar. Tak ia sangka saat pertama kalinya ia berbicara dengan pemuda yang selalu ia angankan justru yang terjadi adu mulut penuh emosi menjadi pengisi di antara mereka. Dengan menahan kesal Ify bangkit dari duduknya. Berjalan beberapa langkah meninggalkan Alvin yang masih menangkupkan wajahnya.
“Mau kemana lo?” Ify menghentikan langkahnya begitu suara itu bergumam. Ify memejamkan matanya sekali lagi. Tangannya perlahan menyentuh dadanya. Menekan dalam rasa yang bermenit-menit lalu ia tahan.
“Pulang” Jawabnya dengan suara parau. Alvin menatap langkah kaki Ify yang perlahan menjauh.
“Gue mohon Fy apapun yang gue lakukan sama lo gue minta maaf tapi tolong kembalikan Rio ke gue. Kembalikan dia seperti Rio tujuh tahun yang lalu gue mohon Fy”
Ify yang mendengar ucapan Alvin menutup bibirnya di balik pohon pinus. Menggigit bawah telapak tangannya untuk menahan isaknya keluar. Sungguh Ify tak pernah sadar mencintai Alvin adalah hal tersulit untuknya. Disaat semua yang mulai terjadi saat ini justru kehadirannya lah yang menjadi pusat dari sebuah kesalahan yang terjadi. Benarkah seperti ini cintanya yang hanya satu hati itu. Belum puaskah waktu menghimpitnya dengan berbagai luka di hatinya?
***
Cintanya bukan cinta yang biasa. Bukan cinta yang Tuhan anugerahkan untuk di rasakan kebahagiaannya. Bukan cinta yang hadir untuk di dekap sebagai penyalur kehangatan. Cintanya bukan cinta yang biasa. Cinta itu cinta sendiri. Hanya ia yang memiliki. Hanya ia yang merasakannya dan mungkin hanya ia yang mempertahankannya.
***
Langkah Ify terhenti saat sebuah tangan menarik tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya pada sebuah dada bidang. Ify hafal aroma ini. Dengan aroma musk bercampur water gloss yang seketika membuat siapapun terlena saat menghirupnya. Memberikan ketenangan jiwa yang bergejolak menjadi seirama kembali.
Ify meremas kuat baju yang ia yakini milik Rio. Menumpahkan segala air mata di dada bidang itu. Memperdalam kepalanya mencari kehangatan juga ketenangan. Sungguh yang ia butuhkan hanyalah ketenangan. Dan Ify tak peduli apapun itu tentang siapa dan bagaimana yang menenangkannya.
“Maafin gue Fy”
Tangisan Ify terhenti. Merekam secara baik ucapan yang baru saja bergumam. Ify mendongakkan kepalanya. Menatap Rio yang juga menatap dirinya dengan pandangan yang ia pun tak mengerti. Ify memejamkan matanya saat tangan kokoh itu mengusap lembut matanya yang berair. Ify menikmatinya. Entah apa yang ia rasakan. Perasaan nyaman yang selalu ia bayangkan jika suatu saat nanti bisa berada di posisi yang sama jika bersama Alvin, mungkin. Namun pada nyatanya yang ada di hadapannya, yang menatap dirinya, dan yang merengkuh tubuhnya adalah laki-laki asing yang entah bagaimana caranya bisa masuk kehidupannya. Ify pun tak mengerti dan ia tak ingin mengerti.
“Gue marah sama lo Yo. Gue kecewa” Lirih Ify. Rio yang mendengarnya semakin mengeratkan genggamannya pada bahu Ify. Menatap gadis itu penuh memohon.
“Gue tau dan gue terima semua itu. Gue minta maaf Fy. Gue gak bisa liat lo begini terus tersiksa sama perasaan lo sendiri”
Ify menggelengkan kepalanya. Sambil menundukkan kepalanya ia memejamkan matanya. Menetralisir perasaannya yang ia rasa kacau saat ini.
“Ini perasaan gue Rio. Ini udah pilihan gue. Gue berani mencintai seseorang gue juga harus siap menghadapi resikonya. Cinta yang gue punya bukan cinta biasa. Gue mencintai seseorang tanpa orang itu tau, tanpa orang itu membalasnya. Jadi gue harus siap merasakan bagaimana sakitnya. Dan harus siap menghadapinya. Jadi gue mohon Rio jangan lakukan ini sama gue. Jalani hidup lo yang seharusnya. Jangan anggap gue adalah wanita rapuh. Karena nyatanya gue bisa bertahan sama perasaan gue sendiri. Gue..”
“Hushh. Sudah cukup. Lo sudah cukup untuk bicara lagi. Gue minta maaf. Gue janji gue akan pergi dan gak akan mengusik apapun mengenai jalan hidup lo. Gue janji”
Rio kembali menarik tubuh Ify. Mendekap erat tubuh mungil gadis yang ia cintai sama seperti cinta gadis itu terhadap Alvin. Cinta yang tak biasa. Cinta yang hanya ia yang tahu. Hanya ia yang memilikinya dan dirinyalah yang selalu mempertahankan rasanya sendiri saat sakit melandanya. Rio mengusap lembut rambut gadis itu. Biarkan ia egois. Menuruti ego yang selalu ia tahan saat bersama gadis itu. Mencintai Ify bukanlah sebuah dosa. Jadi ijinkan dia mengambil kesempatan yang hanya sejenak itu saat ini saja.
***
Kehadirannya tak lagi terasa. Masih teringat jelas saat ia memeluk diriku erat. Mengelus lembut rambutku. Masih terasa hingga kini kehangatannya. Namun apa yang terjadi. Saat pelukan itu kian berjarak. Bayangannya perlahan menghilang. Aku mengingatnya saat langkah itu perlahan menjauh. Dan kini aku tak lagi tau dimana ia dan bagaimana keadaanya. Apakah yang terjadi terhadapnya. Sungguh aku tak mengerti dan jujur aku merindukan hadirnya.
***
Ify menatap kursi kosong di sampingnya. Kursi yang ia tahu telah di tinggali pemiliknya beberapa minggu yang lalu. Ify tak tahu apa yang terjadi pada pemuda itu.
Gue janji gue akan pergi dan gak akan mengusik apapun mengenai jalan hidup lo. Gue janji.
Ify tersentak saat sebuah bayangan kalimat terngiang di memorinya. Keringat dingin mengucur di dahinya.
Brakk.
Ify terperanjat. Pintu kelas secara kasar di dobrak oleh seseorang. Seorang pemuda berlari kearah Ify. Ify menautkan alisnya saat pemuda itu berlari dan menghindari hilir mudik siswa lainnya. Ify tergugu. Getaran itu sudah tidak ada lagi. Mungkinkah
“Fy. Rio Fy.. Rio” Tubuh Ify menegang mendengar nama itu. Matanya langsung melirik kearah Alvin. Menatap pemuda itu yang menatapnya panic
“Ri.. Rio kenapa?”
“Dia kecelakaan..” Tubuh Ify kaku seketika. Aliran darah mendadak berhenti saat ini. Oh God apa yang terjadi. Ada apa terhadap dirinya saat ini
***
Cintanya tulus, ada dan nyata. Namun cinta itu menyendiri. Berjuang agar tetap tumbuh dan kekal di sana. Namun ternyata hatinya berdusta. Kini cinta itu telah lelah. Perlahan ia meninggalkan rumahnya dan kini cinta itu tak lagi teraba dan nyata
***
Kedua orang itu mematung. Menatap kosong ke layar flat yang menempel di ruangan itu. Deru nafas memburu mengiringi hening yang mereka ciptakan. Sementara itu gadis lain di sana menutup erat telinganya saat ucapan demi ucapan disana tanpa di sadari menyudutkan keberadaannya.
Alvin menatap sendu sosok pemuda di balik layar itu. Rasa sakit seakan memelintir hatinya. Alvin menutup matanya erat. Memendam lebih dalam lagi air mata yang hampir menumpuk di matanya. Sungguh kalimat itu bagaikan tamparan baginya.
Sementara ia. Gadis yang selalu di sebut di setiap kata sosok di sana. Hatinya menciut. Rasa sakit itu kian menyiksa. Sakit yang ia rasakan kini seperti pengakumulasian rasa sakitnya yang terdahulu.
“Fy apa boleh gue bilang kalau sakit yang gue rasakan lebih sakit dari lo. Sakit saat gue merasakan semua yang gue lakukan dulu untuk lo terasa sia-sia karena gue seperti tersingkir begitu saja hanya karena Alvin”
Ify menegakkan tubuhnya. Air matanya tak henti turun menghiasi wajah tirusnya. Sementara Alvin. Ia mengenggam erat tangan dingin Sivia di sampingnya. Mereka sama-sama menutup mata berharap tidak ada lagi kata-kata kejujuran dari pemuda itu.
“Mungkin dulu gue ingin egois saat pertama kalinya gue melihat lo nangis saat tahu bahwa Alvin jadian sama Sivia. Rasa benci itu perlahan muncul. Gue gak bisa liat orang yang gue cintai sakit secara bertubi-tubi. Maaf bro mungkin gue egois sama lo. Membawa perasaan gue ke persahabatan kita. Tapi gue gak bisa nahan. Rasanya gue mau bunuh lo Vin setiap gue menghapus air mata Ify”
Alvin menundukkan kepalanya. Air mata itu perlahan membasahi kedua pipinya.
Klik. Brak
Ify dan Alvin mendongakkan kepalanya. Menatap Sivia yang terduduk lemah di bawah meja tv sambil mengenggam remote. Alvin bangkit dari duduknya. Berjalan perlahan mendekati kekasihnya yang masih menangis di sana.
“Maaf Vi. Maaf.”
“Fy bilang sama gue seberapa sakit lo selama ini. Seberapa terlukanya lo mencintai Alvin. Jawab gue Fy jawab”
Ify menutup matanya. Isakannya kian mengeras. Tangannya mengepal erat. Rasa sesak itu semakin menghimpitnya. Ify hanya butuh dia. Ify butuh Rio.
“Sudah Vi sudah. Sebaiknya kita pulang. Kamu istirahat ya”
“tapi Al”
“Hushhh. Sudah pulang aja. Via lo gak perlu khawatir lagi. Perasaan gue sama Alvin sudah hilang. Vin bawa Via. Dia butuh istirahat” Alvin mengangguk. Setelah mengangkat tubuh kekasihnya ia berjalan perlahan meninggalkan rumah Ify. Sebelumnya ia sempat menoleh kearah gadis itu. Menatap sebagai tanda mohon maaf dan terima kasih. Perlahan keduanya menghilang
Ify terduduk lemah di tempatnya. Sambil mendekap erat sebuah CD di tangannya, air mata it uterus mengalir. Di iringi dengan isakan lemah yang menyakitkan.
“Lo tau Rio. Gue jatuh cinta sama lo. Lo berhasil menutup mat ague dari Alvin. Tapi apa yang terjadi. Kenapa lo pergi. Lo jahat Rio lo jahat. Disaat lo berhasil membuat gue menoleh kearah lo, justru lo tinggalin gue. Ini hukuman dari lo hah. Jawab gue Yo. Riooo…”
***
Cintanya yang tulus telah menghilang secara nyata. Namun percayalah. Di dalam hatinya rasa itu terus tumbuh dan berkembang disana walau tetap sampai kapanpun cinta itu tak akan pernah teraba. .
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar