***
Ify
menatap punggung Rio yang berjalan beberapa langkah di depannya. Pandangannya
tak sedikitpun beralih dari pemuda itu. Rio yang merasa ia berjalan sendiri pun
menghentikan langkahnya. Menatap heran di samping kanannya yang kini tidak ada
siapapun. Rio membalikkan tubuhnya. Terlihat di sana Ify yang berjalan
mematung. Rio menggelengkan kepalanya lalu berjalan kembali kea rah Ify dan
meraih tangan gadis itu.
“Lo
ngapain bengong hah? Ini tuh Jakarta banyak hal yang akan terjadi kalau lo gak
fokus nona” Bisik Rio di telinga Ify membuat tubuh Ify menegang. Ah sial.
“Ishh
apa-apaan sih lo. Lo ngapain disini. Bukannya tadi di depan gue?”
“Nah
kan ketahuan lo lagi bengong. Ckck lo bukannya mikir kita mau kemana setelah
ini juga”
Ify
mendengus mendengar kalimat santai dari pemuda di hadapannya. Dengan kesal ia
pun langsung menjitak kepala Rio.
Awww
“Lo
bukannya terima kasih sama gue udah siapin tiket buat ke Jakarta masih aja ya
lo sempat-sempatnya. Ishh”
“Siapa
juga yang minta” Mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir Rio sontak
membuat langkah Ify terhenti. Dengan mata melotot ia menatap garang Rio yang
berjalan santai di depannya. Dengan emosi ia melepas boots-nya dan melempar
benda itu kea rah Rio.
Happ.
Dengan sigap Rio langsung menangkap boots Ifyyang hampir mendarat mulus di
kepalanya. Dengan santai ia pun berjalan ke arah Ify yang masih menatapnya
sambil menatapnya tajam. Rio langsung meletakkan sepatunya di bawah kaki Ify
sambil berjongkok. Dengan lembut Rio mengangkat kaki Ify dan memasukkannya pada
boots milik gadis itu. Ify tertegun melihatnya. Dalam hati ia merutuki dadanya
yang terus memberontak di sana.
“Lo
lulus sekolah kan. Sepatu itu tempatnya di kaki bukan di kepala nona Alyssa”
Ucap Rio sambil berlalu meninggalkan Ify yang masih mematung di tempatnya.
Namun lagi-lagi Rio membalikkan tubuhnya saat ia merasakan jalan sendiri lagi.
Sambil mendecak kesal ia pun langsung menarik tangan ify mengikutinya.
'lo selalu mudah mainin hati gue Yo. Good job boy'
***
“Teh
hati-hati ya di jalan. Nyetirnya jangan ngebut. Bahaya. Lagipula ini udah
hampir maghrib nanggung kenapa gak besok aja balik ke Jakartanya”
Shilla
tersenyum. Ia mengambil tangan Dea, mengenggam sambil mengelus bermaksud untuk
menenangkan gadis itu.
“Aku
gak papa kok Dea. Kamu gak usah khawatir aku gak pernah ngebut kok.
Begini-begini aku juga masih sayang sama nyawa aku. Kamu gak usah khawatir ya.
Lagi pula kalo aku gak cepet balik gimana sama pasien aku hmm. Oh ya aku titip
Bu Inah ya”
Dea
memanyunkan bibirnya. Dengan berat ia menganggukkan kepalanya. Dea langsung
menabrakkan dirinya ke tubuh mungil Shilla. Memeluk erat tubuh gadis yang sudah
sangat ia sayangi itu melebihi apapun yang ia punya.
“Teh
inget ya. Sesedih apapun teteh saya siap buat selalu ada di sisi teteh. Inget
satu hal teh. Kita selalu di hadapkan pilihan saat takdir datang. Menghadapinya
atau lari. Tapi teteh sudah memilih yang kedua. Dan alangkah lebih baiknya
teteh kembali ke takdir itu dan mencoba menghadapinya. Bisa kan teh?”
Shilla
menganggukkan kepalanya. Dengan lembut ia mengusap rambut Dea. Gadis yang
selalu ia butuhkan saat waktu kejam menyiksanya.
“Ya
udah kalo gitu aku berangkat ya. Aku titip ibu. Bilang sama ibu terimakasih sudah
mau nerima aku di saat aku lagi butuh kalian. Ibu juga kamu”
Dea
menganggukan kepalanya. Ia langsung memeluk tubuh Shilla sekali lagi. Biarkan.
Ia masih ingin memberikan ketenangan untuk nona mudanya yang sangat ia sayang.
“Hati-hati
Teh Shilla” Shilla tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu masuk ke
mobilnya dan mengemudikan mobilnya dengan tenang
***
”Maaf
dokter Shilla hari ini gak masuk. Dia ijin katanya ada urusan di luar kota di
desa gitu. Ehmm kalo gak salah di daerah bogor. Kalian ini siapa ya. Apa ada
urusan sama dokter Shilla biar saya nanti sampaikan”
Rio
menggelengkan kepalanya. Dengan menyunggingkan senyumnya ia mengibaskan
tangannya pada seorang suster muda di hadapannya juga Ify.
“Gak
usah sus. Saya tau kok itu dimana. Emhh kami bukan siapa-siapa kok. Kami cuma
mau ketemu sama dokter Shilla saja. Ada sedikit urusan”
Suster
itu menganggukkan kepalanya. Setelah membungkukan badannya, suster muda itu pun
mengundurkan diri dari hadapan Rio dan Ify.
Rio
menatap Ify. Gadis itu sudah terlihat lelah. Wajar saja setelah tiba di bandara
mereka langsung mencari alamat rumah sakit tempat Shilla praktek. Namun yang
ada gadis itu sedang tidak di tempat. Rio menghembuskan nafasnya. Rio pun mau
mengucapkan sebuah kalimat, namun belum saja kalimat itu terucap sudah
terpotong oleh ify yang sudah terlebih dulu berbicara.
“Gak
salah lagi pasi dia di rumah Bu Inah. Ya sudah Yo kita langsung ke Bogor
sekarang”
“Tapi
Fy..”
“No
no no. Gak ada penolakan. Kita sudah jauh-jauh ke Jakarta. Gue bahkan
mengorbankan pasien gue di Jerman demi shilla. Dan gue gak mau membuang waktu
lagi. Ayo Yo. Keburu gak ada waktu lagi”
Rio
ingin menolak namun lagi-lagi ify berbicara mengurungkan niat Rio. “Kita
sama-sama berjuang demi Shilla Yo. Dan apapun kita harus rela korbankan. Gue
bahkan sudah gak perduli apapun lagi sebelum gue lihat Shilla dan meminta maaf
sama dia. Gue mohon Yo”
Rio
mengurutkan dahinya. Ia pun menghembuskan nafasnya sejenak. Kemudian dengan
berat hati ia pun menganggukan kepalanya
***
Shilla
menatap lurus kedepan. Riak air menjadi alunan merdu yang menemani
kesendiriannya di kolam renang rumahnya. Angin malam dengan lembut menyapu
wajahnya, menarikan rambutnya yang ikal di bawah.
Shilla
mendongakkan kepalanya ke langit. Tiba-tiba ia di buat tertegun oleh hamparan
titik putih di langit kelabu di atasnya. Senyum pedih mengembang di wajahnya.
Sekelebat bayangan masa lalu mengusik ketenangannya.
“Aku tuh mau kita itu
seperti bintang?” Ucap Gabriel sambil menyandarkan kepala Shilla di pundaknya.
Shilla mendongakkan kepalanya menghadap Gabriel. Menautkan kedua alisnya bertanda
menuntut kejelasan
“Kamu
liat deh mereka tuh kecil-kecil loh. Tapi mereka berkumpul menjadi satu
membentuk sebuah cahaya di kegelapan. Dan liat dengan cahaya mereka yang tidak
sebanding sama gelapnya langit. Mereka tetep jadi pusat perhatian semua orang
bahkan banyak yang berharap untuk hidup mereka sama bintang-bintang itu”
“Seperti
kamu kan?” Gabriel tertawa kecil mendengar pertanyaan singkat dari gadisnya. Dengan
lembut ia mengusap rambut gadisnya itu dan meletakkan dagunya di puncak kepala
Shilla. Dengan lembut Gabriel semakin menarik dalam tubuh mungil Shilla ke
tubuh tegap miliknya
“Aku
mau cinta kita seperti mereka. Gak perlu sebesar apapun kita saling mencintai,
yang aku mau sekecil apapun cinta kita tetep ada kesempurnaan. Yaitu saling
percaya, saling jujur dan terakhir saling melengkapi kekurangan. Sama seperti
langit malam sama bintang”
“Hemhh”
“Langit
yang gelap membutuhkan cahaya dari mereka. Dan bintang yang kecil itu butuh
kegelapan agar cahaya mereka terlihat terang”
Mendengar
ucapan Gabriel membuat tawa kecil keluar dari bibir Shilla. Gadis itu semakin
memperdalam tubuhnya di pelukan pemudanya.
“Aku
rasa aku sudah seperti malam kok. Sudah sangat sempurna karena sudah memiliki
bintang sendiri. yaitu kamu. Makasih sayang”
Gabriel
menganggukkan kepalanya. Dengan lembut ia mencium puncak kepala Shilla. “Aku
cinta kamu”
Air mata Shilla mengalir deras. Isakan
tangisnya menjadi temannya malam ini. Bayangkan ia baru saja merasa bahwa semua
yang di katakan oleh pemuda itu seperti sebuah anugerah yang seketika menjadi bumerang
kini
“Ternyata gak selamanya bintang itu
setia sama malam. Buktinya bintang hadir tapi mereka terlihat jauh dari malam.
Hmmhh kalau tau begini aku gak perlu mengatakan bahwa aku adalah malam yang
sempurna. Karena nyatanya malam sudah kehilangan jauh dari bintang. Sama
seperti kita”
Shilla menekuk kakinya. Memeluk erat
keduanya dan menenggelamkan wajahnya di sana.
“Apa pantas aku katakan bahwa janji kamu
kosong. Apa pantas. Pada kenyataannya kamu gak pernah menjanjikan apapun untuk
aku tapi sekarang aku seperti merasa menginginkan ucapan kamu di tepati
sekarang. Aku butuh kamu Yel. Aku sangat membutuhkan kamu”
***
Dea menatap tak percaya dua sosok pemuda
pemudi yang berdiri tepat di hadapannya. Ia tak percaya atas apa yang kini ia
lihat. Berulang kali kepalanya ia gelengkan untuk meyakinkan bahwa yang ia
lihat memanglah sebuah bayangan. Namun ternyata ia salah. Objek yang ia
harapkan bayangkan itu tidak memudar bahkan menghilang. Justru semakin terlihat
nyata.
“Saha atuh neng. Kok gak di ajak masuk”
Terdengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Di susul suara derap
langkah yang semakin mendekat.
“Neng saha? Kok di biarin. Kalian teh..
Astaghfirullah kalian?”
“Aa Rio? Teh Ify?”
Rio menatap ke dua wanita di hadapannya.
Dengan senyum ia membungkukan tubuhnya dan mencium tangan seorang wanita paruh
baya. Di susul oleh Ify yang melakukan hal sama kemudian di lanjutkan dengan
mencium kedua pipi seorang gadis yang berusia dua tahun di bawahnya.
“Nak Rio? Non Ify kalian teh?”
“Malam bu” Ucap Rio sambil menatap
lembut kearah Bu Inah. Tiba-tiba tubuh Rio hampir limbung akibat sebuah
terjangan tiba-tiba yang langsung mengurung tubuhnya. Di susul suara isakan
dari dalam pelukannya. Ify yang melihat Dea menangis di pelukan Rio hanya mampu
menutup bibirnya . Menahan tangis yang hampir menyeruak dari kedua matanya.
“Ya allah ini beneran kalian. Ini.. Ini
bener Nak Rio. Ya Allah. Ibu gak nyangka kalian”
Ify langsung menabrakkan tubuhnya pada
tubuh ringkih Bu Inah. Tangisnya pecah di sana. Bu Inah dengan lembut mendekap
penuh kasih sayang gadis. Gadis yang sudah ia anggap anak sama seperti nonanya.
Shilla.
“maafin Ify bu sudah jahat selama ini
sama Shilla. Ify.. ify sudah”
“Hushh sudah non sudah. Jangan menyalahkan
diri sendiri. Semua teh sudah terjadi. Non Shilla sekarang baik-baik saja non.
Jadi gak ada yang perlu di khawatirkan”
“tapi bu..”
“Sudah sekarang lebih baik aden sama non
masuk ya. Sudah malam. Kita ngobrol di dalam dalam saja”
Ify mengangguk. Ia pun masuk di susul
Rio yang berjalan di belakangnya sambil mendekap Dead an sesekali mengusap air
mata gadis itu
***
Sivia menatap sendu Gabriel yang
terlelap di hadapannya. Isak tangis ia coba tahan. Bagaimana tidak. Kakaknya
tidur sambil memeluk foto Shilla. Mendekap erat foto itu seperti sebuah tubuh
yang bernyawa. Jujur Sivia takut pada keadaan kakaknya ini.
Drttt.. drtttt.. Drttt..
Sivia meraih handphonenya. Menatap
sebuah pesan singkat yang tertera di sana.
From: Kodok sipit
Vi
aku tau apa yang terjadi sekarang sama Gabriel. Maaf aku gak bisa ada di sana
untuk membantu kamu. Aku bener-bener sibuk. Tapi aku akan usaha gimana agar aku
bisa ke Jakarta nemuin kamu sama Gabriel. Dan membantu Gabriel biar gak
terpuruk. Tunggu aku ya
Sivia tersenyum miring saat membaca
pesan itu. Dengan sigap ia langsung membalas pesan itu.
To: Kodok sipit
Memang
apa sih yang bisa kamu lakuin Vin. Sudahlah kamu selesain aja urusan kamu gak
usah pikirin aku sama Gabriel. Yang Gabriel mau adalah Shilla kembali. Dan yang
gue butuhkan adalah sepupu lo yang licik itu pergi dan gak lagi ngusik hidup
keluarga gue.
Send. Sivia langsung bangkit dari tempat
tidur Gabriel. Berdiri di dinding depan kamar Gabriel. Merosotkan tubuhnya di
sana dan memeluk lutut sebagai penyangga dagunya. Air matanya mengalir deras.
Ini yang membuat hati Via semakin sakit. Bukan hanya yang terjadi pada
kakaknya. Dirinya pun sama. Kehidupannya secara serentak merusak jalan yang berusaha ia bangun. Kebahagiaannya. Dan
semua hilang akibat seseorang.
Acha.
Tangan Via mengepal di atas lututnya.
Rasa sakit semakin bertambah bukan hanya akibat dari gadis itu yang merusak
kebahagiaan kakaknya. Namun kenyataan yang semakin menyentaknya. Gadis itu
memilik hubungan darah dengan pria yang ia cintai kini. Sungguh kini ia
merasakan seluruh tubuhnya mati rasa akibat semua sakit yang beradu di sana.
Tangis Via semakin kencang setelah ia
merasakan sebuah tangan yang langsung mengunci tubuhnya. Mendekap erat tubuhnya
memberikan ketenangan langsung untuknya. Tubuh tegap itu semakin memperdalam
pelukannya. Membuat Sivia berangsur menghilang dari sakit yang sempat
membelenggunya.
“Sudah Vi. Cup cup cup. Gue gak papa.
Gak perlu lo bebani lagi segalanya karena gue. Mulai saat ini gue sudah
memutuskan untuk menjalani semua yang sudah terjadi. Termasuk perjodohan gue
dengan Acha”
“Tapi kak..”
“Hushhh sudah. Gak perlu lagi lo pikirin
itu. Sekarang lebih baik lo pikirkan bagaimana lagi hubungan lo sama Alvin. Jangan
di korbankan. Apapun bisa di pertahankan bila ada perjuangan”
Sivia melepas pelukannya dari tubuh
Gabriel. Ia menatap tajam mata kakaknya itu. “Kalo bisa di di pertahankan,
kenapa lo gak berjuang untuk Shilla” Ucapnya tajam.
Mendengar kalimat dari adiknya membuat
Gabriel tertawa. Lebih tepatnya menertawai dirinya sendiri.
“Terkecuali gue. Gak ada lagi yang bisa
di pertahankan dari gue ataupun Shilla. Karena toh pada akhirnya sekuat apapun
gue menarik Shilla. Dia akan semakin mengulur dirinya menjauh dari gue. Terus apa
yang harus bisa gue pertahanin Via. Gak ada”
Via langsung mendekap tubuh tegap
kakaknya itu. Menumpahkan seluruh tangisnya di sana. Sedangkan Gabriel. Ia
hanya tersenyum miris untuk dirinya sendiri.
‘Memang
pada kenyataannya gak ada lagi yang pantas kita pertahankan. Semua gak lagi
sama seperti dulu. Bahkan jalan kita pun tak lagi sama’
***
“Semuanya berubah setelah kalian pergi.
Non Shilla bukan lagi perempuan yang ibu kenal. Semua berubah. Non Shilla sudah
seperti patung hidup. Bernafas tapi tak ada lagi tujuan untuk dia bergerak”
Ify menundukkan kepalanya mendengar
ucapan Bu Inah. Seperti itukah yang terjadi setelah semua yang ia lakukan dulu.
Ify semakin keras merutuki dirinya.
“Non shilla terlihat sangat hancur
sekali. Den Rio yang di bawa paksa oleh Nyonya di tambah lagi non Ify yang
pergi tanpa meninggalkan pesan apapun membuat non Shilla sangat terlihat
hancur. Ibu sakit ngelihatnya Den. Setiap malam Ibu selalu berdoa supaya non
Shilla bisa kembali lagi. Ibu selalu berdoa supaya kalian datang lagi di
kehidupan non Shilla. Tapi semuanya teh Cuma harapan kosong”
Rio memejamkan matanya sambil meresapi
setiap kata yang keluar dari bibir Bu inah. Entah apa yang terjadi pada
hatinya. Mendengar setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu seperti sebuah
jarum yang langsung menusuknya.
Rio melirik Ify di sampingnya. Gadis itu
kini terlihat berbeda. Gadis itu kembali seperti Ify yang dulu. Terlihat lemah
dan rapuh. Dengan lembut Rio menarik tubuh mungil Ify ke pelukannya. Mengusap
lembut rambutnya. Menyalurkan kehangatan untuk gadis yang diam- diam ia cintai
itu.
“Tapi semua teh berakhir setelah
kehadiran Den Gabriel. Saya teh sempet seneng non Shilla bisa kembali bahagia karena
dia merasa di cintai kembali. Tapi ternyata semua berubah. Sekarang non Shilla
sudah kembali lagi seperti saat kalian pergi. Ibu bener-bener hancur
melihatnya. Ibu gak tau lagi apa yang harus ibu lakukan. Ibu sakit melihatnya.
Ibu..”
“Bu maafin Ify.. Maafin Ify. Semua
terjadi itu karena keegoisan Ify. Ify egois akibat ketakutan Ify. Ify..”
Bu Inah langsung menarik tubuh Ify yang
tadi sempat berlutut setelah melepas pelukan Rio. Memeluk erat dan dalam gadis
yang merupaka sahabat dari nonanya. Sementara Rio. Pemuda itu mengurut
keningnya frustasi. Kini ia dan Ify sudah di Indonesia. Lantas apa yang harus
ia lakukan untuk memperjuangkan adiknya kembali ke pelukannya.
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar