Selasa, 20 Oktober 2015

Play of Destiny (Kebimbangan)


*** 
Ify menatap punggung Rio yang berjalan beberapa langkah di depannya. Pandangannya tak sedikitpun beralih dari pemuda itu. Rio yang merasa ia berjalan sendiri pun menghentikan langkahnya. Menatap heran di samping kanannya yang kini tidak ada siapapun. Rio membalikkan tubuhnya. Terlihat di sana Ify yang berjalan mematung. Rio menggelengkan kepalanya lalu berjalan kembali kea rah Ify dan meraih tangan gadis itu.

“Lo ngapain bengong hah? Ini tuh Jakarta banyak hal yang akan terjadi kalau lo gak fokus nona” Bisik Rio di telinga Ify membuat tubuh Ify menegang. Ah sial.

“Ishh apa-apaan sih lo. Lo ngapain disini. Bukannya tadi di depan gue?”

“Nah kan ketahuan lo lagi bengong. Ckck lo bukannya mikir kita mau kemana setelah ini juga”
Ify mendengus mendengar kalimat santai dari pemuda di hadapannya. Dengan kesal ia pun langsung menjitak kepala Rio.

Awww

“Lo bukannya terima kasih sama gue udah siapin tiket buat ke Jakarta masih aja ya lo sempat-sempatnya. Ishh”

“Siapa juga yang minta” Mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir Rio sontak membuat langkah Ify terhenti. Dengan mata melotot ia menatap garang Rio yang berjalan santai di depannya. Dengan emosi ia melepas boots-nya dan melempar benda itu kea rah Rio.

Happ. Dengan sigap Rio langsung menangkap boots Ifyyang hampir mendarat mulus di kepalanya. Dengan santai ia pun berjalan ke arah Ify yang masih menatapnya sambil menatapnya tajam. Rio langsung meletakkan sepatunya di bawah kaki Ify sambil berjongkok. Dengan lembut Rio mengangkat kaki Ify dan memasukkannya pada boots milik gadis itu. Ify tertegun melihatnya. Dalam hati ia merutuki dadanya yang terus memberontak di sana.

“Lo lulus sekolah kan. Sepatu itu tempatnya di kaki bukan di kepala nona Alyssa” Ucap Rio sambil berlalu meninggalkan Ify yang masih mematung di tempatnya. Namun lagi-lagi Rio membalikkan tubuhnya saat ia merasakan jalan sendiri lagi. Sambil mendecak kesal ia pun langsung menarik tangan ify mengikutinya.

'lo selalu mudah mainin hati gue Yo. Good job boy'

***
“Teh hati-hati ya di jalan. Nyetirnya jangan ngebut. Bahaya. Lagipula ini udah hampir maghrib nanggung kenapa gak besok aja balik ke Jakartanya”

Shilla tersenyum. Ia mengambil tangan Dea, mengenggam sambil mengelus bermaksud untuk menenangkan gadis itu.

“Aku gak papa kok Dea. Kamu gak usah khawatir aku gak pernah ngebut kok. Begini-begini aku juga masih sayang sama nyawa aku. Kamu gak usah khawatir ya. Lagi pula kalo aku gak cepet balik gimana sama pasien aku hmm. Oh ya aku titip Bu Inah ya”

Dea memanyunkan bibirnya. Dengan berat ia menganggukkan kepalanya. Dea langsung menabrakkan dirinya ke tubuh mungil Shilla. Memeluk erat tubuh gadis yang sudah sangat ia sayangi itu melebihi apapun yang ia punya.

“Teh inget ya. Sesedih apapun teteh saya siap buat selalu ada di sisi teteh. Inget satu hal teh. Kita selalu di hadapkan pilihan saat takdir datang. Menghadapinya atau lari. Tapi teteh sudah memilih yang kedua. Dan alangkah lebih baiknya teteh kembali ke takdir itu dan mencoba menghadapinya. Bisa kan teh?”

Shilla menganggukkan kepalanya. Dengan lembut ia mengusap rambut Dea. Gadis yang selalu ia butuhkan saat waktu kejam menyiksanya.

“Ya udah kalo gitu aku berangkat ya. Aku titip ibu. Bilang sama ibu terimakasih sudah mau nerima aku di saat aku lagi butuh kalian. Ibu juga kamu”

Dea menganggukan kepalanya. Ia langsung memeluk tubuh Shilla sekali lagi. Biarkan. Ia masih ingin memberikan ketenangan untuk nona mudanya yang sangat ia sayang.

“Hati-hati Teh Shilla” Shilla tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu masuk ke mobilnya dan mengemudikan mobilnya dengan tenang

***
”Maaf dokter Shilla hari ini gak masuk. Dia ijin katanya ada urusan di luar kota di desa gitu. Ehmm kalo gak salah di daerah bogor. Kalian ini siapa ya. Apa ada urusan sama dokter Shilla biar saya nanti sampaikan”

Rio menggelengkan kepalanya. Dengan menyunggingkan senyumnya ia mengibaskan tangannya pada seorang suster muda di hadapannya juga Ify.

“Gak usah sus. Saya tau kok itu dimana. Emhh kami bukan siapa-siapa kok. Kami cuma mau ketemu sama dokter Shilla saja. Ada sedikit urusan”

Suster itu menganggukkan kepalanya. Setelah membungkukan badannya, suster muda itu pun mengundurkan diri dari hadapan Rio dan Ify.

Rio menatap Ify. Gadis itu sudah terlihat lelah. Wajar saja setelah tiba di bandara mereka langsung mencari alamat rumah sakit tempat Shilla praktek. Namun yang ada gadis itu sedang tidak di tempat. Rio menghembuskan nafasnya. Rio pun mau mengucapkan sebuah kalimat, namun belum saja kalimat itu terucap sudah terpotong oleh ify yang sudah terlebih dulu berbicara.

“Gak salah lagi pasi dia di rumah Bu Inah. Ya sudah Yo kita langsung ke Bogor sekarang”

“Tapi Fy..”

“No no no. Gak ada penolakan. Kita sudah jauh-jauh ke Jakarta. Gue bahkan mengorbankan pasien gue di Jerman demi shilla. Dan gue gak mau membuang waktu lagi. Ayo Yo. Keburu gak ada waktu lagi”

Rio ingin menolak namun lagi-lagi ify berbicara mengurungkan niat Rio. “Kita sama-sama berjuang demi Shilla Yo. Dan apapun kita harus rela korbankan. Gue bahkan sudah gak perduli apapun lagi sebelum gue lihat Shilla dan meminta maaf sama dia. Gue mohon Yo”

Rio mengurutkan dahinya. Ia pun menghembuskan nafasnya sejenak. Kemudian dengan berat hati ia pun menganggukan kepalanya

***
Shilla menatap lurus kedepan. Riak air menjadi alunan merdu yang menemani kesendiriannya di kolam renang rumahnya. Angin malam dengan lembut menyapu wajahnya, menarikan rambutnya yang ikal di bawah.

Shilla mendongakkan kepalanya ke langit. Tiba-tiba ia di buat tertegun oleh hamparan titik putih di langit kelabu di atasnya. Senyum pedih mengembang di wajahnya. Sekelebat bayangan masa lalu mengusik ketenangannya.

“Aku tuh mau kita itu seperti bintang?” Ucap Gabriel sambil menyandarkan kepala Shilla di pundaknya. Shilla mendongakkan kepalanya menghadap Gabriel. Menautkan kedua alisnya bertanda menuntut kejelasan

“Kamu liat deh mereka tuh kecil-kecil loh. Tapi mereka berkumpul menjadi satu membentuk sebuah cahaya di kegelapan. Dan liat dengan cahaya mereka yang tidak sebanding sama gelapnya langit. Mereka tetep jadi pusat perhatian semua orang bahkan banyak yang berharap untuk hidup mereka sama bintang-bintang itu”

“Seperti kamu kan?” Gabriel tertawa kecil mendengar pertanyaan singkat dari gadisnya. Dengan lembut ia mengusap rambut gadisnya itu dan meletakkan dagunya di puncak kepala Shilla. Dengan lembut Gabriel semakin menarik dalam tubuh mungil Shilla ke tubuh tegap miliknya

“Aku mau cinta kita seperti mereka. Gak perlu sebesar apapun kita saling mencintai, yang aku mau sekecil apapun cinta kita tetep ada kesempurnaan. Yaitu saling percaya, saling jujur dan terakhir saling melengkapi kekurangan. Sama seperti langit malam sama bintang”

“Hemhh”

“Langit yang gelap membutuhkan cahaya dari mereka. Dan bintang yang kecil itu butuh kegelapan agar cahaya mereka terlihat terang”

Mendengar ucapan Gabriel membuat tawa kecil keluar dari bibir Shilla. Gadis itu semakin memperdalam tubuhnya di pelukan pemudanya.

“Aku rasa aku sudah seperti malam kok. Sudah sangat sempurna karena sudah memiliki bintang sendiri. yaitu kamu. Makasih sayang”

Gabriel menganggukkan kepalanya. Dengan lembut ia mencium puncak kepala Shilla. “Aku cinta kamu”

Air mata Shilla mengalir deras. Isakan tangisnya menjadi temannya malam ini. Bayangkan ia baru saja merasa bahwa semua yang di katakan oleh pemuda itu seperti sebuah anugerah yang seketika menjadi bumerang kini

“Ternyata gak selamanya bintang itu setia sama malam. Buktinya bintang hadir tapi mereka terlihat jauh dari malam. Hmmhh kalau tau begini aku gak perlu mengatakan bahwa aku adalah malam yang sempurna. Karena nyatanya malam sudah kehilangan jauh dari bintang. Sama seperti kita”

Shilla menekuk kakinya. Memeluk erat keduanya dan menenggelamkan wajahnya di sana.

“Apa pantas aku katakan bahwa janji kamu kosong. Apa pantas. Pada kenyataannya kamu gak pernah menjanjikan apapun untuk aku tapi sekarang aku seperti merasa menginginkan ucapan kamu di tepati sekarang. Aku butuh kamu Yel. Aku sangat membutuhkan kamu”

***
Dea menatap tak percaya dua sosok pemuda pemudi yang berdiri tepat di hadapannya. Ia tak percaya atas apa yang kini ia lihat. Berulang kali kepalanya ia gelengkan untuk meyakinkan bahwa yang ia lihat memanglah sebuah bayangan. Namun ternyata ia salah. Objek yang ia harapkan bayangkan itu tidak memudar bahkan menghilang. Justru semakin terlihat nyata.

“Saha atuh neng. Kok gak di ajak masuk” Terdengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Di susul suara derap langkah yang semakin mendekat.

“Neng saha? Kok di biarin. Kalian teh.. Astaghfirullah kalian?”

“Aa Rio? Teh Ify?”

Rio menatap ke dua wanita di hadapannya. Dengan senyum ia membungkukan tubuhnya dan mencium tangan seorang wanita paruh baya. Di susul oleh Ify yang melakukan hal sama kemudian di lanjutkan dengan mencium kedua pipi seorang gadis yang berusia dua tahun di bawahnya.

“Nak Rio? Non Ify kalian teh?”

“Malam bu” Ucap Rio sambil menatap lembut kearah Bu Inah. Tiba-tiba tubuh Rio hampir limbung akibat sebuah terjangan tiba-tiba yang langsung mengurung tubuhnya. Di susul suara isakan dari dalam pelukannya. Ify yang melihat Dea menangis di pelukan Rio hanya mampu menutup bibirnya . Menahan tangis yang hampir menyeruak dari kedua matanya.

“Ya allah ini beneran kalian. Ini.. Ini bener Nak Rio. Ya Allah. Ibu gak nyangka kalian”

Ify langsung menabrakkan tubuhnya pada tubuh ringkih Bu Inah. Tangisnya pecah di sana. Bu Inah dengan lembut mendekap penuh kasih sayang gadis. Gadis yang sudah ia anggap anak sama seperti nonanya. Shilla.

“maafin Ify bu sudah jahat selama ini sama Shilla. Ify.. ify sudah”

“Hushh sudah non sudah. Jangan menyalahkan diri sendiri. Semua teh sudah terjadi. Non Shilla sekarang baik-baik saja non. Jadi gak ada yang perlu di khawatirkan”

“tapi bu..”

“Sudah sekarang lebih baik aden sama non masuk ya. Sudah malam. Kita ngobrol di dalam dalam saja”

Ify mengangguk. Ia pun masuk di susul Rio yang berjalan di belakangnya sambil mendekap Dead an sesekali mengusap air mata gadis itu

***
Sivia menatap sendu Gabriel yang terlelap di hadapannya. Isak tangis ia coba tahan. Bagaimana tidak. Kakaknya tidur sambil memeluk foto Shilla. Mendekap erat foto itu seperti sebuah tubuh yang bernyawa. Jujur Sivia takut pada keadaan kakaknya ini.

Drttt.. drtttt.. Drttt..

Sivia meraih handphonenya. Menatap sebuah pesan singkat yang tertera di sana.

From: Kodok sipit

Vi aku tau apa yang terjadi sekarang sama Gabriel. Maaf aku gak bisa ada di sana untuk membantu kamu. Aku bener-bener sibuk. Tapi aku akan usaha gimana agar aku bisa ke Jakarta nemuin kamu sama Gabriel. Dan membantu Gabriel biar gak terpuruk. Tunggu aku ya

Sivia tersenyum miring saat membaca pesan itu. Dengan sigap ia langsung membalas pesan itu.

To: Kodok sipit

Memang apa sih yang bisa kamu lakuin Vin. Sudahlah kamu selesain aja urusan kamu gak usah pikirin aku sama Gabriel. Yang Gabriel mau adalah Shilla kembali. Dan yang gue butuhkan adalah sepupu lo yang licik itu pergi dan gak lagi ngusik hidup keluarga gue.

Send. Sivia langsung bangkit dari tempat tidur Gabriel. Berdiri di dinding depan kamar Gabriel. Merosotkan tubuhnya di sana dan memeluk lutut sebagai penyangga dagunya. Air matanya mengalir deras. Ini yang membuat hati Via semakin sakit. Bukan hanya yang terjadi pada kakaknya. Dirinya pun sama. Kehidupannya secara serentak merusak jalan yang berusaha ia bangun. Kebahagiaannya. Dan semua hilang akibat seseorang.

Acha.

Tangan Via mengepal di atas lututnya. Rasa sakit semakin bertambah bukan hanya akibat dari gadis itu yang merusak kebahagiaan kakaknya. Namun kenyataan yang semakin menyentaknya. Gadis itu memilik hubungan darah dengan pria yang ia cintai kini. Sungguh kini ia merasakan seluruh tubuhnya mati rasa akibat semua sakit yang beradu di sana.

Tangis Via semakin kencang setelah ia merasakan sebuah tangan yang langsung mengunci tubuhnya. Mendekap erat tubuhnya memberikan ketenangan langsung untuknya. Tubuh tegap itu semakin memperdalam pelukannya. Membuat Sivia berangsur menghilang dari sakit yang sempat membelenggunya.

“Sudah Vi. Cup cup cup. Gue gak papa. Gak perlu lo bebani lagi segalanya karena gue. Mulai saat ini gue sudah memutuskan untuk menjalani semua yang sudah terjadi. Termasuk perjodohan gue dengan Acha”

“Tapi kak..”

“Hushhh sudah. Gak perlu lagi lo pikirin itu. Sekarang lebih baik lo pikirkan bagaimana lagi hubungan lo sama Alvin. Jangan di korbankan. Apapun bisa di pertahankan bila ada perjuangan”

Sivia melepas pelukannya dari tubuh Gabriel. Ia menatap tajam mata kakaknya itu. “Kalo bisa di di pertahankan, kenapa lo gak berjuang untuk Shilla” Ucapnya tajam.

Mendengar kalimat dari adiknya membuat Gabriel tertawa. Lebih tepatnya menertawai dirinya sendiri.

“Terkecuali gue. Gak ada lagi yang bisa di pertahankan dari gue ataupun Shilla. Karena toh pada akhirnya sekuat apapun gue menarik Shilla. Dia akan semakin mengulur dirinya menjauh dari gue. Terus apa yang harus bisa gue pertahanin Via. Gak ada”

Via langsung mendekap tubuh tegap kakaknya itu. Menumpahkan seluruh tangisnya di sana. Sedangkan Gabriel. Ia hanya tersenyum miris untuk dirinya sendiri.

‘Memang pada kenyataannya gak ada lagi yang pantas kita pertahankan. Semua gak lagi sama seperti dulu. Bahkan jalan kita pun tak lagi sama’

***
“Semuanya berubah setelah kalian pergi. Non Shilla bukan lagi perempuan yang ibu kenal. Semua berubah. Non Shilla sudah seperti patung hidup. Bernafas tapi tak ada lagi tujuan untuk dia bergerak”

Ify menundukkan kepalanya mendengar ucapan Bu Inah. Seperti itukah yang terjadi setelah semua yang ia lakukan dulu. Ify semakin keras merutuki dirinya.

“Non shilla terlihat sangat hancur sekali. Den Rio yang di bawa paksa oleh Nyonya di tambah lagi non Ify yang pergi tanpa meninggalkan pesan apapun membuat non Shilla sangat terlihat hancur. Ibu sakit ngelihatnya Den. Setiap malam Ibu selalu berdoa supaya non Shilla bisa kembali lagi. Ibu selalu berdoa supaya kalian datang lagi di kehidupan non Shilla. Tapi semuanya teh Cuma harapan kosong”

Rio memejamkan matanya sambil meresapi setiap kata yang keluar dari bibir Bu inah. Entah apa yang terjadi pada hatinya. Mendengar setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu seperti sebuah jarum yang langsung menusuknya.

Rio melirik Ify di sampingnya. Gadis itu kini terlihat berbeda. Gadis itu kembali seperti Ify yang dulu. Terlihat lemah dan rapuh. Dengan lembut Rio menarik tubuh mungil Ify ke pelukannya. Mengusap lembut rambutnya. Menyalurkan kehangatan untuk gadis yang diam- diam ia cintai itu.

“Tapi semua teh berakhir setelah kehadiran Den Gabriel. Saya teh sempet seneng non Shilla bisa kembali bahagia karena dia merasa di cintai kembali. Tapi ternyata semua berubah. Sekarang non Shilla sudah kembali lagi seperti saat kalian pergi. Ibu bener-bener hancur melihatnya. Ibu gak tau lagi apa yang harus ibu lakukan. Ibu sakit melihatnya. Ibu..”

“Bu maafin Ify.. Maafin Ify. Semua terjadi itu karena keegoisan Ify. Ify egois akibat ketakutan Ify. Ify..”

Bu Inah langsung menarik tubuh Ify yang tadi sempat berlutut setelah melepas pelukan Rio. Memeluk erat dan dalam gadis yang merupaka sahabat dari nonanya. Sementara Rio. Pemuda itu mengurut keningnya frustasi. Kini ia dan Ify sudah di Indonesia. Lantas apa yang harus ia lakukan untuk memperjuangkan adiknya kembali ke pelukannya.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...