***
Shilla pun kembali melangkahkan kakinya. Namun saat ia mau mengangkat kakinya untuk melangkah, langkahnya harus terhenti saat ia mendengar suara baritone memanggilnya
“Shilla" Shilla berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Matanya melotot begitu ia tahu bahwa yang memanggilnyaadalah
“Gabriel” Gabriel hanya nyengir di pelototi oleh Shilla seperti itu. Gabriel tahu bahwa sebentar lagi Shilla akan marahpadanya.
“Hehehe, Shilla kamu ngapain kesini?”
“Harusnya aku yang nanya ke kamu ngapain kamu ke sini sayang” Tanya Shilla dengan penekanan kata sayang
“Nyusul kamu lah.” Shilla melengos mendengar jawaban polos yang keluar dari mulut Gabriel. Dea yang tidak mengerti apapun hanya diam sambil memandangi wajah Gabriel yang menurutnya sangat tampan
“Teh Shilla, ini teh siapa. Kasep” Bisik Dea
“Ini? Dia Gabriel. Pacar aku” Kata Shilla. Dea terkejut mendengar ucapan Shilla
“Apa Pacar?” Shilla mengangguk, Gabriel hanya memasang senyum atau mungkin lebih tepatnya cengiran
“Teh Shilla curang. Udah punya pacar. Mana kasep lagi.”
“Bukannya kamu sudah ada Daud” Dea melotot kearah Shilla mendengar nama Daud di sebut
“Ih, Kok Kang Daud sih. Teh Shilla mah gitu”
“Maaf deh gak lagi”
“Udah ah katanya mau ke Bu Inah”
“Iya deh”
***
Plakk
“Dasar anak gak tau diri. Kamu mau membunuh Rio”
“Maaf Ma, Shilla gak sengaja. Gak mungkin shilla mau bunuh kakak Shilla sendiri’
“Omong kosong. Kamu lihat Rio. Lagi-lagi dia masuk ke rumah sakit ini dan lagi ia memakai alat sialan itu. Kamu benar-benar anak tidak tau terima kasih”
“Gak ma, Ini bukan salah Shilla. Kak Rio lupa minum obat yang Shilla kasih sehingga dia…”
“Terus kamu mau salahin Rio. Apa ini namanya dokter professional. Cih, Kamu pembunuh”
“Maaf ma”
"Apa ini yang kamu katakan bisa membuat mama bangga? Apa ini buah dari apa yang telah mama berikan? Mulai sekarang jauhi alat-alat itu dari Rio, mengerti"
“Tapi Ma Kak Rio gak bisa bertahan kalau alat-alat itu dilepas”
“Kamu kira saya tidak bisa menyewa alat yang lebih canggih dan dokter yang lebih hebat dari kamu.?”
“Ma sekali lagi kasih Shilla kesempatan”
“Jauhi Rio”
“Mama!”
Shilla terbangun dari tidurnya saat mimpi itu kembali menggentayangi tidurnya. Air mata Shilla jatuh saat kembali ia teringat kejadian itu. Shilla menggelengkan kepalanya . Gak boleh, ia tidak boleh lagi kembali ke masa lalunya.
“Shilla ada apa” Shilla menghapus air matanya saat ia mendengar suarabaritone menghampirinya.
“Shill. Kamu kenapa. Tadi aku denger kamu…”
“Aku kangen keluargaku Yel” Gabriel melengos mendengar penuturan Shilla.
“Aku tahu kamu udah larang aku untuk ingat itu lagi. Tapi aku gak bisa Yel. Mereka adalah keluargaku aku…”
“Jadi ini alasan kamu kesini. Shill apa aku masih belum bisa bantu kamu untuk melupakan mereka? Jawab Shill”
“Mereka keluarga aku Yel. Bagaimana bisa aku lupain mereka gitu aja. Darah aku mengalir dalam tubuh Kak Rio dan Mama. Aku…”
“Tapi kamu jangan lupa Shill mereka yang nyuruh kamu untuk pergi dari hidup mereka. Mereka yang..” Ucapan Gabriel terhenti saat ia merasa Shilla semakin terisak
“Aku udah nurut sama kamu untuk membuang semua benda yang berhubungan dengan mereka, bahkan aku mau kamu suruh aku untuk pindah dari rumah aku yang dulu. Tapi kamu gak bisa minta aku untuk membuang rasa sayang aku ke mereka. Rasa ini tersimpan di hati aku Yel”
Gabriel mengepalkan tangannya menahan emosi yang sudah meluap dalam dirinya. Selama ini ia lupa bahwa Shilla memiliki masa lalu yang suatu saat bisa muncul kapanpun. Gabriel menarik Shilla kepelukannya.
“Maaf Shill. Aku gak bermaksud untuk buat kamu makin sakit hati. Tolong percaya sama aku. Aku gak akan ninggalin kamu aku janji”
“Dulu mama dan Kak Rio juga janji sama aku buat gak ninggalin aku. Tapi apa yang terjadi mereka bebar-benar ninggalin aku. Bahkan Ify sahabat aku juga ikut pergi. Aku sulit untuk percaya sama siapapun Yel”
“Termasuk aku? Apa kamu gak yakin kalau aku benar-benar mencintai kamu Shill?” Shilla melepas pelukan Gabriel. Diraihnya wajah pemuda itu dengan kedua tangannya
“Aku akan coba percaya sama kamu Yel. Tolong jangan tinggalin aku” Ucap Shilla.
Diluar kamar Shilla Bu Inah menangis mendengar percakapan Shilla dengan Gabriel. Bu Inah tak menyangka bahwa keluarga Haling menjadi seperti ini, terutama Shilla. Ia sangat menyayangi Shilla dan Rio. Bu Inah sudah menganggap mereka seperti anaknya sendiri.
“Ya Allah kuatkan hati Neng Shilla”
***
mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa dicintai
tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
dalam hidupmu, dalam hidupmu
telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
bahagia untukku, bahagia untukku
reff:
ku ingin kau tahu
diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga hujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan izinkan aku
memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja
Prok…Prok…Prok
Ify membalikkan tubuhnya mencarimasal suara tepukan tangan barusan.
“Kenapa berhenti?” Tanya seorang pemuda
“Sejak kapan loe disitu” Tanya Ify ketus. Cakka pemuda itu itu hanya mendengus menghadapi sikap sepupunya itu
“Loe gak bisa lembut ya sama gue. Gue ini sepupu loe. Lebih tua dari loe”
“Ganggu loe” Ucap Ify sambil kembali berbalik ke pianonya tadi
“Buat siapa tuh lagu? Buat Rio ya? Prince Haling loe itu? Cinta dalam hati memang betah loe?” Tanya Cakka bertubi-tubi
“Jangan sok tau loe”
Drtt..Drrttt
Ify mengambil hpnya yang bergetar dikantongnya. ‘Haling home’s’ tertera di layar handphonenya
“APA? Baik saya akan ke sana?”
"Ada apa?" Tanya Cakka
"Biasa keluarga Haling. Loe pasti ngerti"
"Terus loe mau ke sana?"
"Iya" Cakka hanya menggeleng sambil memandangi punggung Ify yang menjauh
Bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar