Selasa, 17 Juni 2014

Play Of Destiny - Part 2 (Angkuh)

***
"APA? KAMU MAU KE INDONESIA" Terdengar suara seorang wanita menggema di sebuah ruangan

"Iya ma, Rio mau meneruskan bisnis Rio di Jakarta aja."

"Kamu pikir mama bodoh Rio. Gak kamu pasti mau menemui wanita itu kan?Gak, mama tidak mengijinkan

"Tante tenang saja Rio tidak akan menemui gadis yang tante maksud" Dua orang tadi menoleh menghadap ke seorang gadis yang tadi menyahut. Terlihat seorang gadis berdiri dia ambang pintu dengan senyum yang selalu terukir diwajah cantiknya

"Ify" Ucap keduanya kompak

***“Maksud kamu apa?”Tanya Mama Rio


“Iya. Maksud Ify, Rio tidak akan menemui Shilla gadis yang tante maksud. Ify akan memastikanitu” Ujar Ify sambil berjalan mendekati Rio dan mamanya.

Mama Riomenyeringai “ Apa kamu yakin anak saya tidak akan menemui anak sialan itu?”

“MAMA.Gadis itu adik Rio Ma”

“Diam kamu.Masih berani kamu anggap gadis itu adik kamu. Jangan gila Rio, gadis itu hampirmembunuhmu” Bentak Mama Rio

Mendengarkata ‘MEMBUNUH’ yang terucap dari mulut mama Rio membuat Ify merasa bersalah.Bukan, bukan gadis itu yang salah, tapi ia. Lalu mengapa Tante Amanda menuduh anak gadisnya itu yang membunuh.

“Shilla gak pernah berniat membunuh Rio, justru dia menjaga Rio dengan baik. Dia selalu berusaha menjalani tugasnya dengan baik ma. Tolong jangan menuduh Shilla seperti itu” Ucap Rio memohon

Dalam hati Tante Amanda sakit melihat anaknya seperti ini. Ibu mana yang tega memisahkandua anak kandungnya seperti itu. Begitupun ia. Tapi ia telah dibutakan amarah,terselimutkan emosi, wanita itu tak mungkin lagi menarik kata-katanya
Kata-kataitu sudah terlanjur terucap, kata-kata itu sudah tidak bisa lagi menghilang, bahkan berubah arti. Semua sudah terlanjur terjadi. Terkadang ia menangismerutuki semua yang terjadi pada keluarganya. Keluarga yang diimpikannya. Namunlagi wanita itu harus menelan mimpinya karena keegoisannya

“Inilah yangherus dia terima Rio. Dia sudah menjadi pembangkang. Dulu papa kamu berharapbahwa kamu dan adik kamu bisa membawa HalingCorp menjadi perusahaan sukses. Namun apa gadis itu memilih menjadi dokteryang bukan sama sekali impian keluarga Haling”

Rio  terus menerawang apa yang terjadi padakeluarganya. Mamanya benar Shilla telah menghancurkan cita-cita keluarganya,namun apakah cita-cita keluarganya lebih penting dari keutuhan yang seharusnyaterjadi di setiap keluarga?

Ify terdiammelihat percakapan yang terjadi di antara ibu dan anak ini. Ini sudah biasa.Ini bukan lagi hal asing untuknya. Bahkan ia pun memiliki julukan untukkeluarga ini. ‘keluarga drama ‘memang cocok untuk mendeskripsikan arti keluarga ini. Terkadang Ify jera denganapa yang terjadi dengan keluarga ini. Ia mau semua segera berakhir.

“Tan, maaf sepertinya Ify harus balik kerumah sakit. Maaf menganggu. Permisi” Pamit Ify. Ia benar-benar jera dengan keluarga ini.

“Ify tunggu,gue ikut loe”

***
Saat ini Rio danIfy sedang berada di halaman belakang rumah sakit tempat Ify bekerja. Sudah 30menit mereka diam. Seakan tidak ada yang mampu mencairkan waktu yang membeku karena mereka

“Terus apa?”Tanya Ify yang sudah terlebih dulu mencairkan waktu yang mendingin itu.
Riomengernyit saat ia merasa ada yang mengganjal dari pertanyaan gadis disampingnya ini.

“Maksud loe?”Tanya Rio bingung. Membuat Ify mengumpat dalam hati. ‘Dasar bodoh’ 

“Kenapa loe ngikutin gue kesini kalau pada akhirnya loe diamin gue kayak gini. Lebih baikgue masuk-“

“Kenapa loeterus mencampuri urusan keluarga gue. Dari dulu bahkan hingga kini loe selalunempel sama keluarga gue” Tanya Rio yang memotong omongan Ify.

“Berani bayar berapa loe ke gue sampai gue sudi mengurusi keluarga drama loe itu?” Tanya Ify sinis. “Gue melakukan ini semua karena Shilla. Gue mau menebus kesalahan gue ke dia”Ify mengjhela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Dan gue yakinloe bukan orang bodoh yang tidak tau maksud arti kata ‘Menebus Kesalahan’,bahkan gue yakin loe begitu mengerti” Jelas Ify yang menekan kata ‘Menebus kesalahan’ yang ia ucapkan tadi.

Mendengarjawaban Ify tadi membuat Rio menghembuskan nafas kecewa. Bukan ini jawaban yangia inginkan.

“Terus perasaan loe?” Tanya Rio yang membuat Ify tersentak. “Perasaan loe dari 2 tahunlalu apa bukan salah satu alasa?”

“Loe masih mau bahas soal perasaan. Loe punya otak gak sih. Loe ngomong seperti di saatyang tidak tepat. Gila loe” Hardik Ify

“Gue hanyangomong fakta akan apa yang terjadi sama persaan loe. Gue tahu apa yang loerasakan” Ucap Rio dengan nada seperti biasanya. Dingin dan acuh

“Loe gak tau apa-apa soal perasaan gue. Jadi berhenti bersikap seakan loe mengerti apa yanggue rasa” Ucap Ify sambil meninggalkan Rio yang terus memandang nanarpunggungnya.

‘Gue tahu perasaan loe,karena itulah yang juga gue rasakan’ Batin Rio
***Shilla melajukan mobilnya dengan kecepatan stabil. Hari ini ia memutuskan untuk tidak pulang kerumahnya. Ia justru melajukan mobilnya ke arah Bogor. Ia tau pasti Gabriel saat ini mencari keberadaannya, namun tadi sebelum ia meninggalkan rumah sakit, iasudah berpesan pada asistennya untuk menyampaikan bahwa ia pergi ke daerah Bogor dan ia juga berpesan agar asistennya menyampaikan agar Gabriel tak perlu menyusulnya

Saat ini ia sudah berada di perkampungan tujuannya. Ia menepikan mobilnya di lapangan yang biasa di gunakan anak-anak bermain sepak bola. Begitu kakinya menyentuh tanah kampungini matanya terpana. Tidak ada yang berubah, batinnya

Ia pun berjalan menyusuri kampung ini. Ia sangat merindukan kampung ini. Ia sudah lupakapan terakhir ia menginjakkan kaki di sini.

“Teh Shilla.Ini bener kalau ini Teh Shilla” Panggil seorang gadis yang menghentikanlangkahnya. Ia melihat seorang gadis yang masih memakai mukena. Sepertinya gadis itu baru selesai sholat Subuh
“Iya ini Dea? Ya ampu De aku kangen sama kamu” Ujar Shilla dengan mata berbinar. Gadis yang ada di depannya dari dulu tak pernah berubah. Tetap cantik dan bahkan iamelihat gadis ini semakin imut

“Ya allah Teh Shilla. Bener ini teh saya. Teteh apa kabar. Wah saya denger Teh Shilla  sekarang jadi dokter hebat ya?” Tanya Dea denganlogat Sunda khasnya

“Ya kamu tahu aja. Oh ya gimana kabar Bu Inah” Tanya Shilla

“ Baik teh. Teh Shilla mau ketemu Bu Inah?” Tanya Dea. Shilla hanya mengangguk. Shilla pun kembali melangkahkan kakinya. Namun saat ia mau mengangkat kakinya untuk melangkah, langkahnya harus terhenti saat ia mendengar suara baritone memanggilnya

“Shilla”






Visit this page: www.obatkistatradisional.net

                         Diananissa ifc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...