Kamis, 05 Juni 2014

Play Of Destiny -Part 1 (Hope)


***

 Aku berdiri melawan takdir, bertahan di atas takdir, dan berjalan melewati takdir. Takdir yang telah merubah  hidupku. Merusak kepingan kebahagiaan yang telah ku susun di hidupku. Kalau boleh aku meminta, aku ingin waktu berputar walau harus terjebak dalam kubangan kenangan itu, namun itulah kebahagiaanku...

***

Berlin City, Jerman.

Seorang pemuda terlihat duduk di sebuah taman. Pandangannya kosong, tak ada yang mampu mengartikan pandangan itu. Pemuda itu terdiam tak berkutik bahkan salju kota Berlin pun tak mampu mengerakkan saraf -saraf tubuhnya. terdengar suara langkah kaki mendekatinya, namun pemuda itu tetap tak bergeming. Seorang gadis kini beridiri di hadapannya. Namun tetap tak akan pernah bisa merubah objek pandangan pemuda itu.

"Yo, gue boleh duduk sini?" tanya gadis itu. Pemuda itu tak bergeming, namun tubuh bergeser menandakan gadis itu di persilahkan duduk di sampingnya.

"Ada apa?" Tanya pemuda itu dingin. Gadis itu mencelos. Ini sdudah biasa untuknya, setidaknya semenjak ia memutuskan pindah ke kota ini. " Loe mau apa Fy? Mau nyuruh gue balik. Nggak" Sambung pemuda itu lagi dengan nada yang sama. Gadis itu menghembuskan nafas kasar.

"Loe pikir gue jauh - jauh dari rumah sakit nemui loe cuma untuk itu Yo. Gak, gue kesini cuma ingin memastikan keadaan loe masih dalam keadaan bernafas atau tidak. Yah walau gue tau loe udah punya jantung baru, tapi tetep keadaan loe mengkhawatirkan untuk keadaan cuaca sedingin ini. Yah kalau loe gak mau balik ke apartemen loe, itu terserah, gue cuma mau memastikan keadaan loe aja kok. Oh ya satu lagi, jaga jantung itu karna itu bukan milik loe, itu hanya titipan aja" ucap Ify - gadis itu - panjang lebar. Pemuda di samping menghela nafas kasar. Ify tersenyum, apakah pemuda di sampingnya ini menyerah, begitu fikirnya.

"Gimana keadaan Shilla? Apa dia baik - baik aja?" tanya pemuda itu tetap dengan nada dinginnya.

"Gue percaya Shilla baik - baik aja, karena dia ada Gabriel yang menjaga, loe gak usah khawatir. Gue percaya dia baik-"

"Apa dia benci sama gue? Apa dia masih menganggap gue kakaknya?" tanya Rio lagi, memotong ucapan Ify.

"Gue gak yakin Shilla benci sama loe Yo, biar bagaimana pun Shilla adik loe, dia tetap adik loe, gak akan ada yang bisa merubah itu. Dia-"

"Tapi mama sudah mencoret nama Shilla dari keluarga Haling. Apa mungkin Shilla masih menjadi adik gue?Tanya Rio lagi yang memotong kembali ucapan Ify. Ify memutar bola matanya kesal. Sabar Fy, begitu ucapnya dalam hati.

"Yo sekarang gue mau tanya sama loe, apa nama seseorang bisa merubah status dalam keluarga? Apa nama seseorang mampu memisahkan darah yang sudah menyatu. Gak, gak akan. Sekeras apapun mama loe mencoba untuk menghapus nama Shilla gak akan bisa merubah takdir kalau Shilla adalah adik loe. Anak bungsu dari Amanda dan Zeth Haling, Gak akan. Loe harus percaya sama gue" Ucap Ify panjang lebar di hadapan pemuda di sampingnya ini.

"Jadi loe yakin Shilla gak akan membenci gue?" Tanya Rio lagi. Ify menoleh ke arah Rio, ditatapnya wajah tampan pemuda di sampingnya ini. Dua sudut bibirnya terangkat sempurna saat ia melihat binar yang terpancar dari mata pemuda di sampingnya, walau tak begitu ketara. Ify mengangguk yakin.

Dalam hati Rio tersenyum, sedikit harapan itu muncul. "Ya udah Fy, Minggu depan gue ke Indonesia. Loe mau ikut?" Tanya Rio yang sukses membuat Ify terperangah tak percaya

"Mau banget, tapi gak bisa minggu depan. Lo dualuan aja nanti gue susul loe" Rio mengangguk mengerti. Ia benar- benar berharap saat ini dan ia menggantungkan harapan itu dalam hati di saksikan malam salju Berlin.

***

Jakarta. Indonesia

   Seorang gadis berjas putih baru saja keluar dari sebuah ruangan. Begitu ia keluar ia sudah di serbu pertanyaan dari orang - orang yang mungkin dari tadi menunggunya.

"Dok, bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya seorang wanita paruh baya yang tampak kacau. Mungkin sudah lama wanita itu menangis. Gadis yang panggil Dok tadi tersenyum, tangannya terulur ke samping yang di sampingnya itu adalah sebuah pintu ruangan yang tadi ia lewati. 

"Tenang bu, keadaan pasien sudah kembali baik, ibu liat saja secara langsung keadaan anak ibu, silahkan. Ya sudah bu saya mau permisi kembali ke ruangan saya, terima kasih" Ucap gadis itu seraya pergi meninggalkan orang - orang depan ruangan itu. Gadis itu berjalan melewati koridor rumah sakit dengan senyuman yang terus terukir di wajah cantiknya. Tak jarang ada beberapa suster yang menyapanya ramah, iapun juga dengan senang hati menyapa suster - susternya itu.

"Siang dokter Shilla, senyum mulu dari tadi" terdengar suara baritone yang menyapanya. Ia tersenyum begitu tau siapa yang menyapanya hari ini.

"Siang dokter Gabriel, iya dong aku harus selalu senyum, biar pasien - pasien di sini betah sama dokter - dokter yang praktek di sini. Memangnya kamu yang selalu pasang muka jutek. Makanya pasien kamu banyak yang lari ke aku" Jawab Shilla gadis itu sambil tersenyum jahil.

"ye gitu - gitu memangnya aku pacarnya siapa? Lagian ya aku biar jutek seperti yang kamu bilang barusan tapi aku kan dokter terganteng di rumah sakit ini, buktinya kamu mau sama aku" goda Gabriel tak mau kalah. Shilla manyun di goda seperti itu sama Gabriel.

"iya deh aku ngalah sama kamu, ya udah yuk kita ke kantin aja" ajak Shilla sambil menarik jas dokter milik Gabriel. Gabriel menurut saja di tarik seperti ini oleh Shilla.

"Dasar manja"ledek Gabriel 


***

"APA? KAMU MAU KE INDONESIA" Terdengar suara seorang wanita menggema di sebuah ruangan

"Iya ma, Rio mau meneruskan bisnis Rio di Jakarta aja."

"Kamu pikir mama bodoh Rio. Gak kamu pasti mau menemui wanita itu kan? Gak, mama tidak mengijinkan"

"Tante tenang saja Rio tidak akan menemui gadis yang tante maksud"

Dua orang tadi menoleh menghadap ke seorang gadis yang tadi menyahut. Terlihat seorang gadis berdiri dia ambang pintu dengan senyum yang selalu terukir di wajah cantiknya

"Ify" Ucap Rio dan mamanya kompak

BERSAMBUNG



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...