Minggu, 17 Agustus 2014

Play Of Destiny Part 4 (Berakhir)

Seorang pria paruh baya memandang nanar orang-orang di hadapannya. Lelah, khawatir dan takut terpancar dari wajahnya yang menua.
Hhh. Pria itu menghela nafas. Entah sudah berapa kali helaan itu keluar beradu dengan atmosfir ketegangan diruang itu

"Yah"

Pria itu mengalihkan pandangannya menghadap anaknya yang memanggilnya

"Ada apa kek. Kenapa kakek mengumpulkan kami" Kali ini cucu gadisnya yang berbicara.

Hening.

"Aku mau gadis itu meninggalkan cucuku"

Sesak. Tak ada lagi yang mau menjawab pernyataan pria itu

"Ayah. Apa maksud ayah?"

"Cucuku bisa menyelamatkan kita. Tapi tidak dengan gadis itu. Tak ada bantahan. Bulan depan pertunangan cucuku dan Raissa terjadi. Jadi suruh gadis itu untuk segera pergi"

"Gak bisa gitu kek. Kak Iyel gak mungkin meninggalkan Shilla. Mereka saling mencintai kek"

Pria paruh baya itu menatap tajam kearah cucu gadisnya yang menatap keberatan kearahnya. Raut wajah yang tak lagi muda itu mendadak mengeras. Tatapannya menusukmembuat sepasang suami istri di hadapannya saling mengeratkan jari untuk saling menguatkan dan meyakinkan agar semuanya tak semakin rumit.

"Kamu mau tinggal di jalanan, kamu mau makan nasi dan garam. Kakek sudah katakan jangan membantah. Ini demi keluarga kita. Mengerti Sivia Azizah"

Pria itu bangkit dari duduknya berjalan dengan angkuh meninggalkan ketiga orang di belakangnya yang sesaat menghembuskan nafas kasar mereka dengan mata yang saling terpejam lelah

***
Mobil Shilla baru saja tiba. Baru saja Shilla melangkah untuk masuk tiba-tiba ada yang memanggilnya

"Shill"

Shilla menghentikan langkahnya dan berbalik. Shilla terperangah menatap seorang wanita yang berdiri di belakangnya.

"Tante Nita"

Shilla pun menghampiri Nita yang berdiri di belakangnya. Entah apa yang terjadi. Firasatnya merasakan sesuatu yang mengganjal. Shilla mendadak merasa tak tenang

"Boleh tante bicara sama kamu"

Shilla mengangguk dan membiarkan Nita memasuki rumahnya

***
"Tante kok bisa disini. Apa ada yang bisa Shilla bantu"

Wanita itu menunduk sedih. Haruskah sekarang? Wanita itu menggigit bibirnya. Sementara Shilla terus menatap Nita yang tak sama sekali menatap dirinya.

"Maaf Shill"

Shilla mengerutkan keningnya tak mengerti. Hatinya semakin merasa kegelisahan. Shilla terus menatap Nita yang masih menyembunyikan wajahnya yang mengguratkan kecantikannya

"Kok minta maaf Tan? Ada apa?"

"Tante mohon tinggalkan Gabriel"

Prang

Shilla merasa ada yang pecah dalam dirinya. Tinggalkan Gabriel, dalam mimpi pun Shilla tak sudi melakukannya

Tante Nita hanya memandang nanar Shilla yang terdiam tak berkutik dengan pandangan kosong. Tante Nita semakin merasa bersalah

"Gabriel akan bertunangan bulan depan dan tante, om dan Sivia tidak bisa melakukan apapun"

Shilla masih terdiam. Ia tak mampu lagi melakukan apapun selain menangis dalam diam

"Maaf Shill"

Shilla hanya menunduk mencoba menyembunyikan air matanya walau ia tahu itu percuma

Shilla mengangguk

"Baik"

***

Gabriel memandang kosong hadapannya. Ia tak percaya satu tahunnya bersama Shilla harus berakhir dalam waktu lima menit. Tak di pungkiri, sakit itu terasa berdenyut dihati Gabriel.

Rasa itu udah mati Yel. Gak ada lagi cinta buat kamu

Shit. Omong kosong. Mana mungkin gadis itu mengatakan cinta itu hilang.

Denyut menyakitkan itu bukan hanya milik Gabriel. Shilla juga merasakan sakit yang sama. Tanpa pemuda itu ketahui, hati Shilla lah yang paling berdarah. Kehilangan seseorang yang di cintainya tak hanya itu. Dia juga harus merelakan cintamu di renggut orang lain. Namun apa yang bisa ia lakukan. Ia pun tahu semua tak akan lagi sama bila di paksakan. Shilla beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu tak mampu lagi bertahan

Langkah Shilla terhenti saat ada lilitan tangan yang mengurung pinggangnya.

"Jangan pergi" Pertahanan Shilla benar-benar telah runtuh. Pecah sudah tangisnya. Shilla membiarkan saja ia menangis di hadapan Gabriel. Sejenak saja sebelum semuanya benar-benar berakhir ia ingin merasakan sedetik saja ketulusan cinta pemuda itu sebelum ia kehilangan pemuda itu secara utuh

"Maaf"

***
Ify benar-benar panik melihat keadaan Rio yang kembali merasakan sakit di dadanya

"Kenapa bisa?" Tanya Ify ke siapapun yang ada di dekatnya

"Maaf Non. Den Rio yang pergi tiba-tiba dengan meninggalkan obatnya begitu saja"

"Shilla.. Shilla" Ify terjingkat saat ia mendengar suara Rio yang memanggil Shilla

"Gak ada Shilla di sini"

Rio memegangi dadanya "Sakit Fy. Sakit"

"Ck. Makanya jangan sok kuat"

Bersambung...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...