Rabu, 07 Januari 2015

Play Of Destiny Part 8A


Cast : Mario Stevano, Ashilla Zahrantiara, Alyssa Saufika, Gabriel Stevent

Play Of Destiny Part 8 ( Yang terungkap Takdir)

***
 Berlin, Jerman.

Rio memandang  salju dihadapannya dengan pandangan kosong. Pikirannya entah mengawang kemana. Tak ada lagi yang mampu ia gapai di hidupnya. Semua hancur karena takdir. Takdir sialan yang membuat hidupnya terpecah menjadi sebuah puzzle yang tak terbentuk. Bagaimana ia bisa menyusunnya apabila ia pun tak tahu kemana kepingannya yang lain berada..

"Shilla.." Gumam pemuda itu. "Maafin kakak.. Maaf" Lirih pemuda itu lagi.

Ify menunduk menyembunyikan air mata yang hampir mencair dari kedua matanya. Sakit itu masih ada walau dua tahun berlalu. Pemuda itu tetap rapuh. Pemuda itu butuh kekuatannya. Lalu kemana Ify bisa mencari kekuatan pemuda bodoh itu.

Ify menghembuskan nafas dalam-dalam. Seakan ia membutuhkan seluruh oksigen yang ada. Ify memejamkan mata sejenak. Kembali ia menghembuskan nafas. Setelahnya ia berjalan meninggalkan tempatnya menuju tempat Rio berada. Kembali Ify memejamkan matanya. Dalam hati ia pun terus merapal. Mengungkapkan kalimat ketegaran baginya untuk menghadapi pemuda yang berjarak tiga langkah di depannya.

Ify berhenti melangkah saat tiba-tiba ia mendengar lirihan dari rio

"Gue mau sendiri Fy" Ify mencibir. Ia memicing di balik punggung rio. Melihat pemuda itu tak sama sekali menoleh ke arahnya ia mendengus kasar.

"Lo masih mau diam aja disini? Katanya mau perjuangin Shilla? kakak macem apa lo" Ucap Ify sinis. Rio mendengus.

"Gue capek Fy" Ucap rio lelah

Ify mengendikkan bahunya. Ia tak peduli rio pun menolak kehadirannya. ia duduk di samping rio yang terus menunduk.

"Lo tau gak Fy seberapa mama membenci shilla.Mama selalu menuntut gue dan Shilla jadi anak yang bisa di andalkan untuk jadi penerus perusahaan Haling corp. Tapi sayang Shilla lebih mencintai kedokterannya. Dia selalu mencoba menjadi yang terbaik sebagai seorang dokter. Dia selalu membuktikan kalau dia bisa sembuhin penyakit sialan gue ini. Tapi ternyata karena penyakit ini gue pisah sama dia. Mama membenci dia dan elo pun harus ninggalin dia sendiri"

***

Terlihat seorang wanita yang sudah berumur 40- an namun masih terlihat cantik menatap seorang gadis berusia 17 tahun dengan pandangan murka. Terlihat wanita itu memandang si gadis dengan pandangan penuh amarah. Sedangkan si gadis menatap wanita paruh baya dengan pandangan penuh keyakinan. Walaupun gadis itu tau tubuhnya bergetar menghadapi wanita di hadapannya.

"Ma. Shilla mohon ma. Kasih Shilla kesempatan sekali aja. Shilla gak minta apapun, Shilla cuma minta mama kasih shilla kesempatan. Shilla lakuin ini juga demi kak Rio. Shilla mau Kak Rio sembuh ma"

Wanita itu menatap shilla kembali. Bukan lagi tatapan amarah, namun tatapan itu lebih ke memohon. Shilla memalingkan wajahnya, Entah ia tak sanggup menatap mata mamanya.

"Mama mohon jangan paksa mama."
 

***

Rio menatap shilla yang terlihat gusar di depannya. Rio hanya menggelengkan kepalanya melihat Shilla yang masih dengan emosi di hadapannya,

"Mama itu apaan deh kak. Nyebelin banget. Gue udah sampek mohon-mohon loh. Ihh gue kesel kak. Gue itu pengen mama itu ngerti apa yang gue mau, apa yang selama ini jadi harapan gue. Gue pengen lo sembuh dengan tangan gue sendiri" Ucap shilla dengan bibir mengerucut dan berkacak pinggang.

"Lo sih Shill gue kan udah bilang mama gak bakal setuju. makanya jangan ngeyel gue bilangin. Mama cuma mau kita nerusin perusahaan Shill."

Shilla berhenti mondar-mandir di depan rio. Kini giliran ia menatap Rio sambil memicing mata

"Gue bukan elo kak. Gue punya cita-cita. Dan gue mau raih cita-cita gue. Gue gak bisa harus seperti elo kak. Gue cuma mau hidup sebagai Shilla. Bukan seperti robot yang bisa di kendalikan. Gue mau.."

"STOP SHILL" Ucapan Shilla terhenti saat tiba-tiba Rio membentaknya. Shilla menatap Rio yang juga menatap dirinya dengan pandangan tajam.

"Stop" Ucapan Rio semakin merendah nadanya. " Gue gak suka lo banding-bandingi seperti itu" Rio menatap Shilla yang kini menunduk. "Gue tetep Rio. Kakak lo. Bukan robot seperti yang elo.."

"Bukan gitu kak. Gue bukan nganggep lo robot. Gue.."

"Shill dengerin kakak. Kakak harap kamu mau menuruti keinginan mama. Mama cuma mau kita jadi penerus perusahaan. Mama cuma ingin kita sukses kedepannya" Ucap Rio penuh kelembutan. Ia usap rambut adiknya lembut penuh perhatian. Berharap adiknya mengerti apa yang sebenernya terjadi.

"Dan mama gak mau liat kak rio sembuh. Mama lebih memilih materi di bandingin anaknya yang sakit, kakak mau bilang kalo kak rio rela mati demi harta mama. Iya kak" Ucap Shilla dengan nada bergetar. Ia mencengkeram erat tangan kakaknya. Air mata itu sudah nampak jelas di kedua matanya.

Rio terdiam. Ia tahu bahwa Shilla melawan mamanya demi dirinya. Tapi yang menjadi kakak adalah dirinya bukan Shilla. Ia pun tak mau adiknya berkorban demi dirinya yang tak berguna.

"Kak, Shilla mohon bantu Shilla. Ini juga bukan demi Shilla. Ini demi kakak, demi mama demi keluarga kita. Shilla mohon kak" Rio memejamkan matanya. Entah apa yang ada di pikirannya hingga kepalanya mengangguk. Dan begitu ia membuka mata Shilla langsung memeluk dirinya, hampir membuat tubuhnya terhuyung ke belakang

***

Amanda menatap putranya tak percaya.Wanita elegan itu tak bisa berpikir apa yang sebenarnya ada di pikiran putranya sehingga anak itu memohon padanya. Seharusnya Rio mengerti bahwa ia tak suka di lawan, di bantah. Wanita itu menatap Rio yang juga menatap dirinya dengan memohon. Sama seperti putrinya kemarin. Namun wanita itu tak bisa memungkiri bahwa dirinya lebih menyayangi putranya ini di banding kan putrinya yang lain.

Bukan. Amanda bukan berarti tidak menyayangi Shilla. Wanita itu pun juga menyayangi putri satu-satunya itu. Namun sebuah alasan yang membuat dirinya lebih memberikan kasih sayangnya kepada Rio, putra sulungnya. Pun ia tahu bahwa Shilla bisa mandiri tanpa dirinya. Bahkan putrinya pun bisa melawan perintahnya.

"Ma. Rio mohon. kasih Shilla kepercayaan seperti mama memberikan kepercayaan ke Rio. Ma, Shilla melakukan semua ini pun demi Rio. Jangan meragukan Shilla kalau mama menyayangi Rio. Rio mohon ma" Amanda menatap tangannya yang sekarang di dekap erat oleh Rio. " Kalaupun mama tidak bisa melakukannya demi Shilla sendiri juga untuk mama, setidaknya mama melakukannya demi Rio"

Amanda mengangguk. Benar-benar ia tak percaya pada dirinya yang dengan mudahnya mengambil keputusan yang tak terduga.

"Katakan pada anak itu. Kesempatan hanya sekali. Kalau anak itu tidak bisa membuktikan bahwa dia melakukannya demi kamu. Jangan salahkan mama kalau mama bisa melakukan lebih pada anak itu" 

Rio mengangguk. Dalam hati ia senang mamanya mau mendengar keinginannya. Ah Shilla pasti bahagia atas keputusan mamanya. Rio makin tak sabar melihat senyum kebahagiaan di bibir adiknya

Tanpa Rio dan Amanda sadari. Di balik pintu kamar Amanda, Shilla tersenyum miris lebih kepada dirinya. Ya. Mamanya melakukan semua ini demi kakaknya bukan demi dirinya sendiri

***

Ify menatap Rio yang menunduk. Gadis itu tahu pemuda di sampingnya bukanlah pemuda yang dikenalnya tujuh tahun lalu. Pemuda itu sudah berubah menjadi lebih rapuh. Gadis itu menekan dadanya dalam diam. Sakit. Ya disini sakit. Sakit karena ia terus memasang topeng ketidak pedulian pada pemuda itu. Sakit karena ia harus berpura-pura semuanya masih baik-baik saja. Sakit karena ia harus menekan dalam-dalam rasa yang dulu hampir terungkap. Ify langsung menghampus air matanya yang hampir terjatuh dari kedua matanya.

"Gue benci takdir Fy. Gue benci.." Ify tertawa, Lebih tepatnya menertawai keadaan. Kalau ia bisa, ia ingin merasakan rasa yang sama terhadap takdir. Tapi sayang dirinya tak bisa melakukannya. Ia pun tak dapat berpikir bahwa ini pun bagian takdir.

"Hahaha. Apa lo bilang yo. Benci sama takdir. Apa hak lo" Tanya ify sinis. Lihatlah gadis itu pun masih bisa membohongi dirinya bahwa ia gadis yang memiliki hati yang tebal di hadapan pemuda di sampingnya ini.

"Apa ada yang salah? Kebahagiaan gue ditukar gitu aja dengan kesakitan. Gue menderita sendiri. Gue sulit tertawa lagi seperti dulu. Bahkan gue pun lupa gimana caranya bisa bahagia. lebih baik gue mati Fy kalau pada akhirnya gue kehilangan adik gue satu-satunya. lo tau Shilla adalah kebahagiaan gue. Selama ini gue bertahan pun karena dia"

Ify tak bisa menyangkal apapun. Apa yang di katakan pemuda itu benar. kebahagiaannya adalah adiknya. Namun semua belum benar-benar hilang.

" Lo salah kalo saat ini lo membenci takdir karna itu artinya lo membenci kemungkinan yang tersembunyi dalam takdir. Dan elo gak akan pernah mampu menerima apapun keindahan yang sempat ditukar oleh takdir yo. Jadi gue mohon yo. Jangan membenci hidup lo. Cukup dengan lo perjuangin apa yang seharusnya lo pertahankan" Ucap Ify penuh kelembutan. Bukan seperti Ify yang penuh kemunafikan juga keangkuhan.

Rio terpana mendengar kalimat Ify. Ini Ifynya yang dulu. Ifynya yang dalam diam pun ia harapkan kembali. Rio tersenyum tipis mendengar kelembutan suara Ify kembali ia dengar. Ternyata bukan hanya adiknya saja yang ia rindukan. Gadis yang selalu bersamanya pun juga ternyata ia rindukan. Kelembutan yang dulu Ify miliki.

"Fy" Ify menoleh ke arah ke arah Rio. "Lo mau bantu gue?" Tanya Rio penuh keyakinan. "Gue mohon" Ucap Rio sambil mendekap tangan Ify yang sempat terkulai di pangkuan gadis itu.

"A.. Apa Yo" Ify merutuki dirinya, Ada apa sih dalam diri gadis itu hingga ia menjadi seperti ini. Ahh lo bodoh Fy. Rutuk Ify dalam hati.

Rio menatap dalam mata Ify. Berharap Ify pun percaya bahwa ia sungguh-sungguh.

"Bantu gue fy. Bantu gue untuk mendapatkan apa yang harusnya gue perjuangkan dan bantu gue untuk mempertahankannya"

Bersambung


Visit this page: www.obatkistatradisional.net
                         Diananissa ifc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...