Cast: Ashilla Zee, Gabriel Stev, Ify Alyssa, Alvin Jonathan, Rio Stevadit
***
Secret 3
Rio memandang gadis didepannya yang terlihat ketakutan.
"Hey lo gak apa-apa kan?" Tanya pemuda itu. Sedang si gadis perlahan membuka matanya. Lalu ia menatap pemuda yang berdiri didepannya yang juga menatap dirinya. "Heyy" Panggil Rio yang merasa tak nyaman ditatap wanita di depannya. Sedang wanita itu mengerjap, lalu kini ia kembali menatap dirinya sendiri. Dan lihatlah..
Dirinya masih berpijak di tanah..
Huftt, syukurlah. Kini ia kembali sadar. Lalu wanita itu nyengir. "Oh aku gak apa-apa kok mas. masnya ini gimana toh. Mbok yo kalo nyetir itu diliat. Untung saya ini selamat" Rio tersenyum geli melihat tingkah wanita di depannya. "Loh mas kok ketawa toh, memang ada lucu" Rio menggeleng, lalu mengusap kepala wanita di depannya.
"Nggak kok, lo lucu. Oh ya gue Rio" Ucap Rio sambil mengulurkan tangannya. Sedang wanita di depannya menatap tangan Rio yang masih terulur bingung. Melihat kebingungan gadis di depannya membuat Rio tersenyum. "Nama lo siapa"
Eh. Gadis itu terkesiap. Ia mengerjapkan matanya sejenak. Lantas kemabali tersenyum lebar sambil menggaruk belakang telinganya.
"Eum nama saya.. Shi.."
"Den Rio" Rio menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan terlihat wanita paruh baya berdiri di hadapannya, lantas Rio menyunggingkan senyum untuk wanita tersebut
"Eh mbok Natiyem"
"Den Rio mau cari den Alvin ya?" Rio mengangguk sedangkan mbok iyem memasang wajah sedih sambil menunnduk. "Dari dua hari yang lalu Den Alvin belum belum pulang setelah den Alvin berantem sama tuan. Kemaren aja den Alvin gak ikut acara pertemuan keluarga. Yang dateng cuma tuan, nyonya dan Den Gabriel" Rio hanya mengangguk. "Ya udah den mbok masuk dulu
"Eh tunggu mbok.." Mbok Iyem menghentikan langkahnya, sedangkan Rio kembali menoleh ke arah wanita yang tadi sempat ia lupakan.
"Lo cari alamat rumah ini kan. Sama mbok iyem aja ya. Mbok perempuan ini kayaknya cari rumah ini tadi rio hampir nabrak dia, rio titip perempuan ini ya mbok"
Mbok Iyem mengangguk walaupun ia terlihat kebingungan. Sedangkan Rio kembali ke mobilnya dan langsung meninggalkan tempat.
***
Shilla menatap kagum rumah yang ia masuki. Astaga aku masuk surga pikirnya. Eh bukan aku masih hidup jadi gak mungkin ini di surga
"Shilla" Shilla kembali mengerjap saat ia mendengar Mbok Iyem memanggil namanya. "Jadi kamu mau kerja disini toh nduk" Shilla mengangguk. "Tapi kamu masih muda, kamu seharusnya.."
Shilla segera menggeleng sambil menyunggingkan senyum pada wanita paruh baya di depannya.
"Tapi saya butuh pekerjaan ini mbok, untuk.. untuk.. ehm.. almarhum ibu saya"
"Ini ada apa ya" Shilla dan mbok iyem menoleh ke sumber suara, Terlihat di sana seorang wanita berusia 40- an berdiri menatap shilla dan mbok iyem. 'Mbok ini ada apa. Loh dia siapa" Ucap wanita itu sambil menunjuk Shilla yang berdiri di hadapannya. Sedang Shilla yang ditunjuk hanya menundukkan kepala.
"Nuwun sewu nyonya. Dia itu namanya Shilla. Katanya dia mau cari kerja di sini. Gimana nyonya" Ucap mbok Iyem sambil membungkukan badannya.Wanita itu tersenyum lalu mengangguk
"Saya Dania. Selamat datang di keluarga Jonathan" Ucap wanita yang ternyata bernama Dania itu sambil merentangkan tangan menyambut kedatangan Shilla
***
Gabriel menghampiri seorang pemuda yang sedang berdiri sambil merangkul seorang gadis di depan mading. Gabriel menghembuskan nafas sejenak. Apapun yang terjadi ia harus bicara dengan pemuda itu
"Vin" Panggil Gabriel, sedangkan yang di panggil belum menoleh. Gadis yang bersama pemuda itu tadi langsung menyikut pinggang pemuda itu dan menggerakkan dagunya ke arah Gabriel. Pemuda itu berbalik, begitu melihat siapa di dekatnya.
"Huh, ayo Ngel kita pergi" Ucap pemuda itu sambil menarik tangan gadis di depannya, tapi sebelum melangkah Gabriel langsung menahan tangan pemuda itu sebelum bener-bener pergi
"Lo harus pulang Vin" Ucap Gabriel. Alvin, pemuda itu justru malang tersenyum sinis sambil menatap ke arah Gabriel muak. Sedangkan Gabriel tetap dengan tatapan tenamgnya seperti biasa
"Apa lo bilang? Pulang? Hahahaha lo pikir lo siapa, adek gue. Gue gak punya adek sok pahlawan seperti lo" Ucap Alvin sambil menatap tajam Gabriel. Sedangkan Gabriel tak merubah ekspresinya apapun
"Bagaimana lo bisa dianggap sama papa kalo sikap lo seperti ini. Bagaimana lo bisa menjadi anak yang..."
"Hahaha lo mau nyuruh gue seperti lo.Manusia berhati air. Ngalir begitu aja gak mau mencoba yang namanya menikmati hidup. Hidup lo itu terlalu flat. Abu-abu gak berwarna, jadi jangan harap gue bisa tertarik sama hidup lo, mustahil" Ucap Alvin.
Sebentar Alvin menatap gadis di depannya. Ia menoleh sebentar Alvin menatap ke arah Gabriel, setelah itu ia kembali menatap gadis di depannya. Alvin langsung mencium gadis itu tepat di hadapan Gabriel, sementara Gabriel hanya mendengus. Setelah selesai pada aksinya Alvin langsung pergi sambil menarik gadis yang selalu bersamanya. Sebelum benar-benar pergi Alvin berdiri sejenak di hadapan Gabriel. Ia lalu menatap Gabriel remeh. Ia kembali tersenyum dengan pongahnya.
"Begitu baru namanya hidup" Ucap Alvin setelah itu ia benar-benar meninggalkan Gabriel yang menatap punggungnya menjauh
Alvin ta sadar tak selamanya air selalu mengalir tenang. Terkadang air dapat menjadi sebuah monster pencabut nyawa bagi yang lengah. Alvin pun tak pernah tau bahwa abu-abu bukanlah warna datar. Abu-abu adalah warna. Gabriel hanya tersenyum sebelum ia pergi menuju kelasnya.
***
Rio menatap tajam Ify di depannya yang mengernyitkan dahinya bingung. Apa-apaan sih maksud cowok krucut ini, liatin gue kayak mau makan gue aja, begitu batin Ify
"Eh Yo, lo ngapain sih liatin gue gitu" Ucap Ify. Sementara Rio hanya menghembuskan nafas keras.
"Lo kenapa sih kemaren gak angkat telpon gue. Terus lo kenapa tiba-tiba membatalkan rencana kita ke panti. Lo gak biasanya tau gak sih Fy " Ify hanya menggarukkan kepalnya bingung. Kenapa di bahas lagi sih, batim gadis itu gemas.
"Aduh yo, gue.. emhh gue minta maaf deh. Ini itu keluarga temen bokap gue. Gue kan gak berani buat lawan. Ya elo ngerti dong"
"Tau ah" Rio langsung membelakangi Ify sambil memasang wajah sok ngambeknya.
"Kyaa Rio, iihh lo hadep sini kek gitu. Oke deh. Oke gue janji gak gitu lagi, sumpah, Rio ih" Ucap Ify sambil merengek dan menarik-narik lengan Rio.
Sedangkan tanpa Ify sadari Rio sedang terkikikn geli. Berhasil juga ia mengerjai sahabat gadisnya ini. Ify yang merasa di abaikan langsung menarik tubuh Rio kasar sehingga Rio kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke arah Ify. Rio yang berjarak begitu dekat dengan Ify hanya bisa menatap dalam mata lembut milik Ify. Perlahan Rio mendekati wajah Ify. Jarak di antara wajah mereka hampir habis. Ify yang syok dengan tingkah sahabatnya hanya memejamkan matanya
'Tobat Yo, gue ini Ify, sahabat elo' Racau Ify dalam hati. Rio yang melihat Ify memejamkan matanya hanya menggeleng. Bukan. Bukan saatnya. Ini salah kalau ia melakukannya pada Ify, sahabatnya. Rio dengan jahil lalu menyentil dahi Ify agar gadis itu segera sadar.
Tuk. Aww
Ify langsung membuka matanya sambil mengelus dahinya. Sedangkan Rio terbahak-bahak melihat ekspresi Ify.
"Hahaha, lo ngapain merem Fy. wlek" Ucap Rio sambil berlari menjauhi Ify. Sedangkan Ify hanya berkacak pinggang sambil menghentakkan tanah kesal.
"Rioooo" Teriak Ify sambil beranjak meninggalkan tempat dan berlari menyusul Rio.
Lihatlah takdir masih menyimpan kepercayaan itu untuk mereka, namun bagaimana apabila nama lain menyusup diantara persahabatan mereka. Merubah hati salah satu di antaranya. Akankah semuanya tetap sama.
***
Shilla dengan hati-hati membawa segelas susu di tangannya. Ia tak mau susu ini tumpah setetes pun. Gak akan.
"Shillaaa" Ah sial, Mbok Iyem memanggil namanya segala. Gak susu ini untuk tuan muda rumah ini yang sampai saat ini masih belum ia ketahui siapa dan seperti apa orangnya.
"Shillaaaa" Astaga, lagi-lagi Mbok Iyem memanggil namanya. Aduh bagaimana ini. Susunya harus segera sampek ke kamar tuan muda, namun masalahnya ia lupa dimana kamarnya. Tanpa Shilla sadari seorang pemuda berjalan gontai ke arahnya yang masih berjalan amat hati-hati itu.
Brukk, byurrrr.
Astaga tuh kan susunya tumpah yah ini bagaimana.
"Astaga baju gue" Shilla melebarkan matanya begitu mendengar suara bariton di dekatnya. Oh astaga
***
BERSAMBUNG
***
Secret 3
Rio memandang gadis didepannya yang terlihat ketakutan.
"Hey lo gak apa-apa kan?" Tanya pemuda itu. Sedang si gadis perlahan membuka matanya. Lalu ia menatap pemuda yang berdiri didepannya yang juga menatap dirinya. "Heyy" Panggil Rio yang merasa tak nyaman ditatap wanita di depannya. Sedang wanita itu mengerjap, lalu kini ia kembali menatap dirinya sendiri. Dan lihatlah..
Dirinya masih berpijak di tanah..
Huftt, syukurlah. Kini ia kembali sadar. Lalu wanita itu nyengir. "Oh aku gak apa-apa kok mas. masnya ini gimana toh. Mbok yo kalo nyetir itu diliat. Untung saya ini selamat" Rio tersenyum geli melihat tingkah wanita di depannya. "Loh mas kok ketawa toh, memang ada lucu" Rio menggeleng, lalu mengusap kepala wanita di depannya.
"Nggak kok, lo lucu. Oh ya gue Rio" Ucap Rio sambil mengulurkan tangannya. Sedang wanita di depannya menatap tangan Rio yang masih terulur bingung. Melihat kebingungan gadis di depannya membuat Rio tersenyum. "Nama lo siapa"
Eh. Gadis itu terkesiap. Ia mengerjapkan matanya sejenak. Lantas kemabali tersenyum lebar sambil menggaruk belakang telinganya.
"Eum nama saya.. Shi.."
"Den Rio" Rio menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan terlihat wanita paruh baya berdiri di hadapannya, lantas Rio menyunggingkan senyum untuk wanita tersebut
"Eh mbok Natiyem"
"Den Rio mau cari den Alvin ya?" Rio mengangguk sedangkan mbok iyem memasang wajah sedih sambil menunnduk. "Dari dua hari yang lalu Den Alvin belum belum pulang setelah den Alvin berantem sama tuan. Kemaren aja den Alvin gak ikut acara pertemuan keluarga. Yang dateng cuma tuan, nyonya dan Den Gabriel" Rio hanya mengangguk. "Ya udah den mbok masuk dulu
"Eh tunggu mbok.." Mbok Iyem menghentikan langkahnya, sedangkan Rio kembali menoleh ke arah wanita yang tadi sempat ia lupakan.
"Lo cari alamat rumah ini kan. Sama mbok iyem aja ya. Mbok perempuan ini kayaknya cari rumah ini tadi rio hampir nabrak dia, rio titip perempuan ini ya mbok"
Mbok Iyem mengangguk walaupun ia terlihat kebingungan. Sedangkan Rio kembali ke mobilnya dan langsung meninggalkan tempat.
***
Shilla menatap kagum rumah yang ia masuki. Astaga aku masuk surga pikirnya. Eh bukan aku masih hidup jadi gak mungkin ini di surga
"Shilla" Shilla kembali mengerjap saat ia mendengar Mbok Iyem memanggil namanya. "Jadi kamu mau kerja disini toh nduk" Shilla mengangguk. "Tapi kamu masih muda, kamu seharusnya.."
Shilla segera menggeleng sambil menyunggingkan senyum pada wanita paruh baya di depannya.
"Tapi saya butuh pekerjaan ini mbok, untuk.. untuk.. ehm.. almarhum ibu saya"
"Ini ada apa ya" Shilla dan mbok iyem menoleh ke sumber suara, Terlihat di sana seorang wanita berusia 40- an berdiri menatap shilla dan mbok iyem. 'Mbok ini ada apa. Loh dia siapa" Ucap wanita itu sambil menunjuk Shilla yang berdiri di hadapannya. Sedang Shilla yang ditunjuk hanya menundukkan kepala.
"Nuwun sewu nyonya. Dia itu namanya Shilla. Katanya dia mau cari kerja di sini. Gimana nyonya" Ucap mbok Iyem sambil membungkukan badannya.Wanita itu tersenyum lalu mengangguk
"Saya Dania. Selamat datang di keluarga Jonathan" Ucap wanita yang ternyata bernama Dania itu sambil merentangkan tangan menyambut kedatangan Shilla
***
Gabriel menghampiri seorang pemuda yang sedang berdiri sambil merangkul seorang gadis di depan mading. Gabriel menghembuskan nafas sejenak. Apapun yang terjadi ia harus bicara dengan pemuda itu
"Vin" Panggil Gabriel, sedangkan yang di panggil belum menoleh. Gadis yang bersama pemuda itu tadi langsung menyikut pinggang pemuda itu dan menggerakkan dagunya ke arah Gabriel. Pemuda itu berbalik, begitu melihat siapa di dekatnya.
"Huh, ayo Ngel kita pergi" Ucap pemuda itu sambil menarik tangan gadis di depannya, tapi sebelum melangkah Gabriel langsung menahan tangan pemuda itu sebelum bener-bener pergi
"Lo harus pulang Vin" Ucap Gabriel. Alvin, pemuda itu justru malang tersenyum sinis sambil menatap ke arah Gabriel muak. Sedangkan Gabriel tetap dengan tatapan tenamgnya seperti biasa
"Apa lo bilang? Pulang? Hahahaha lo pikir lo siapa, adek gue. Gue gak punya adek sok pahlawan seperti lo" Ucap Alvin sambil menatap tajam Gabriel. Sedangkan Gabriel tak merubah ekspresinya apapun
"Bagaimana lo bisa dianggap sama papa kalo sikap lo seperti ini. Bagaimana lo bisa menjadi anak yang..."
"Hahaha lo mau nyuruh gue seperti lo.Manusia berhati air. Ngalir begitu aja gak mau mencoba yang namanya menikmati hidup. Hidup lo itu terlalu flat. Abu-abu gak berwarna, jadi jangan harap gue bisa tertarik sama hidup lo, mustahil" Ucap Alvin.
Sebentar Alvin menatap gadis di depannya. Ia menoleh sebentar Alvin menatap ke arah Gabriel, setelah itu ia kembali menatap gadis di depannya. Alvin langsung mencium gadis itu tepat di hadapan Gabriel, sementara Gabriel hanya mendengus. Setelah selesai pada aksinya Alvin langsung pergi sambil menarik gadis yang selalu bersamanya. Sebelum benar-benar pergi Alvin berdiri sejenak di hadapan Gabriel. Ia lalu menatap Gabriel remeh. Ia kembali tersenyum dengan pongahnya.
"Begitu baru namanya hidup" Ucap Alvin setelah itu ia benar-benar meninggalkan Gabriel yang menatap punggungnya menjauh
Alvin ta sadar tak selamanya air selalu mengalir tenang. Terkadang air dapat menjadi sebuah monster pencabut nyawa bagi yang lengah. Alvin pun tak pernah tau bahwa abu-abu bukanlah warna datar. Abu-abu adalah warna. Gabriel hanya tersenyum sebelum ia pergi menuju kelasnya.
***
Rio menatap tajam Ify di depannya yang mengernyitkan dahinya bingung. Apa-apaan sih maksud cowok krucut ini, liatin gue kayak mau makan gue aja, begitu batin Ify
"Eh Yo, lo ngapain sih liatin gue gitu" Ucap Ify. Sementara Rio hanya menghembuskan nafas keras.
"Lo kenapa sih kemaren gak angkat telpon gue. Terus lo kenapa tiba-tiba membatalkan rencana kita ke panti. Lo gak biasanya tau gak sih Fy " Ify hanya menggarukkan kepalnya bingung. Kenapa di bahas lagi sih, batim gadis itu gemas.
"Aduh yo, gue.. emhh gue minta maaf deh. Ini itu keluarga temen bokap gue. Gue kan gak berani buat lawan. Ya elo ngerti dong"
"Tau ah" Rio langsung membelakangi Ify sambil memasang wajah sok ngambeknya.
"Kyaa Rio, iihh lo hadep sini kek gitu. Oke deh. Oke gue janji gak gitu lagi, sumpah, Rio ih" Ucap Ify sambil merengek dan menarik-narik lengan Rio.
Sedangkan tanpa Ify sadari Rio sedang terkikikn geli. Berhasil juga ia mengerjai sahabat gadisnya ini. Ify yang merasa di abaikan langsung menarik tubuh Rio kasar sehingga Rio kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke arah Ify. Rio yang berjarak begitu dekat dengan Ify hanya bisa menatap dalam mata lembut milik Ify. Perlahan Rio mendekati wajah Ify. Jarak di antara wajah mereka hampir habis. Ify yang syok dengan tingkah sahabatnya hanya memejamkan matanya
'Tobat Yo, gue ini Ify, sahabat elo' Racau Ify dalam hati. Rio yang melihat Ify memejamkan matanya hanya menggeleng. Bukan. Bukan saatnya. Ini salah kalau ia melakukannya pada Ify, sahabatnya. Rio dengan jahil lalu menyentil dahi Ify agar gadis itu segera sadar.
Tuk. Aww
Ify langsung membuka matanya sambil mengelus dahinya. Sedangkan Rio terbahak-bahak melihat ekspresi Ify.
"Hahaha, lo ngapain merem Fy. wlek" Ucap Rio sambil berlari menjauhi Ify. Sedangkan Ify hanya berkacak pinggang sambil menghentakkan tanah kesal.
"Rioooo" Teriak Ify sambil beranjak meninggalkan tempat dan berlari menyusul Rio.
Lihatlah takdir masih menyimpan kepercayaan itu untuk mereka, namun bagaimana apabila nama lain menyusup diantara persahabatan mereka. Merubah hati salah satu di antaranya. Akankah semuanya tetap sama.
***
Shilla dengan hati-hati membawa segelas susu di tangannya. Ia tak mau susu ini tumpah setetes pun. Gak akan.
"Shillaaa" Ah sial, Mbok Iyem memanggil namanya segala. Gak susu ini untuk tuan muda rumah ini yang sampai saat ini masih belum ia ketahui siapa dan seperti apa orangnya.
"Shillaaaa" Astaga, lagi-lagi Mbok Iyem memanggil namanya. Aduh bagaimana ini. Susunya harus segera sampek ke kamar tuan muda, namun masalahnya ia lupa dimana kamarnya. Tanpa Shilla sadari seorang pemuda berjalan gontai ke arahnya yang masih berjalan amat hati-hati itu.
Brukk, byurrrr.
Astaga tuh kan susunya tumpah yah ini bagaimana.
"Astaga baju gue" Shilla melebarkan matanya begitu mendengar suara bariton di dekatnya. Oh astaga
***
BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar