Sabtu, 09 Januari 2016

Play Of Destiny Part 13 (Rasa Ingin)




***
Rio menatap pada hamparan laut lepas di hadapannya. Menikmati debur ombak yang pecah pada hantaman batu karang. Merasakan kedamaian kicauan burung yang singgah untuk mencari ikan diantara gulungan gelombang di sana. Rio memejamkan matanya saat angin halus menyapu wajahnya. Sejenak rasa rindu akan kehadiran gadis itu menyergap batinnya.

Rio membuka matanya saat sebuah tepukan halus pada pundaknya menyentak kesadarannya. Rio menatap pada gadis di sampingnya yang kini mengambil tempat sangat dekat dengannya. Senyum simpul terhias di wajah tampannya. Rio menghembuskan nafasnya. Dan kini ia secara perlahan mulai menyandarkan kepalanya pada gadis di sampingnya.

“Jadi apa?”

Suara lembut itu mulai bersuara. Rio menatap Shilla di sampingnya yang masih fokus menatap hamparan ombak yang saling berkejaran di hadapan keduanya.

“Gue cuma mau menghabiskan waktu seharian sama adik gue tersayang. Gak papa kan?”

 Shilla tersenyum. Kepalanya mengangguk. Shilla menegakkan tubuhnya sehingga Rio yang menyandarkan kepalanya di pundak Shilla pun kini menegakkan kepalanya menatap Shilla. Shilla menatap wajah Rio. Kakaknya yang dulu meninggalkannya dan selalu di rindukannya. Shilla masih tak percaya di hadapannya saat ini dengan jelas ia bisa menatap kakaknya. Bukan lagi mimpi seperti yang dulu sering ia lewatkan. Setetes air mata jatuh dari kedua matanya.

Rio tersentak melihat kedua cairan yang mulai mengalir di kedua pipi Shilla. Tangan pemuda itu menangkup wajah Shilla. Menghapus air mata adiknya dengan kedua ibu jarinya. Rio mengarahkan kepala Shilla mendekat kearahnya. Mencium puncak kepala Shilla dan memeluk adiknya itu setelah Shilla semakin keras terisak.

“Lo kenapa Shil. Walaupun gue kesel sama lo karena lo tiba-tiba nangis di hari yang mau gue buat spesial untuk kita tapi apapun yang terjadi sama lo gue siap dengerin lo. Gue disini ingin selalu siap ada buat lo. Gue mau nebus kesalahan gue yang hilang dari lo bertahun-tahun. Jadi apapun yang lo mau dari gue bilang Shill”

Shilla menggelengkan kepalanya. Tangan Shilla semakin erat melingkarkan tangannya di leher Rio. Matanya terpejam menikmati kehangatan pelukan seseorang yang selama ini selalu ia harapkan kehadirannya dulu.

“Gue gak minta apa-apa dari lo kak..” Shilla menghentikan ucapannya. Gadis itu menghapus air matanya dan melepas lingkaran tangannya dari leher Rio. Shilla menjauhkan tubuhnya dari Rio. Gadis itu menatap kakaknya yang masih menunggu lanjutan kalimatnya.

“Gue minta lo bawa Ify kembali”

***
“Apa Fy lo mau jadi dokter di rumah sakit tempat gue?”

Ify menganggukkan kepalannya. Tangannya masih memegang beberapa dokumen yang di kirim langsung dari rumah sakitnya di Berlin dulu. “Kenapa? Gak boleh? Biar bagaimanapun rumah sakit itu tetap punya bokap gue. Gue juga tetap punya hak atas rumah sakit itu. Lagipula seharusnya tempat gue ya disini”

Cakka tertawa mendengar ucapan sepupunya yang sontak membuat Ify langsung menatap bingung kearah Cakka. Pemuda berkulit putih itu mendekat kearah Ify. Menepuk pundak gadis itu yang dibalas tatapan tajam oleh Ify.

“Ya ya gue tau maksud lo Fy. Lo tuh gak mau balik ke Berlin karena disana terlalu banyak kenangan lo sama Rio kan dan yang paling utama. Lo gak bisa jauh dari Rio dan lo masih berharap cowok itu nyamperin lo dan bawa lo kembali ke dia juga adiknya. Iya kan?”

Bughh..

Cakka tersentak. Menatap tumpukan berkas di bawah kakinya yang ia yakini adalah benda yang baru saja mendarat di wajahnya. Cakka menatap Ify yang berdiri dengan tatapan tajam kearahnya seakan tatapan itu merupakan ancaman untuknya.

“Lo sembarangan ya kalo ngomong. Apapun alasan gue itu gak penting buat lo. Lagi pula ini juga permintaan papa gue karena gue sekarang di Indonesia. Dan satu lagi. Lebih baik lo jangan pernah mengucapkan nama Rio ataupun Shilla di depan gue. Kalo lo masih mau hidup tenang”

“Nyatanya lo aja masih terlalu mudah mengucapkan nama mereka Fy. Itu artinya lo masih belum sepenuhnya melepaskan diri lo dari bayangan mereka”

Langkah Ify yang menuju ke kamarnya sontak terhenti. Ify terdiam seakan menunggu lanjutan kalimat dari sepupunya tersebut.

“Lo gak akan pernah bisa pergi dari mereka”

Ify membalikkan tubuhnya. Menatap Cakka yang memperhatikan dirinya. Ify mengalihkan wajahnya seakan ia tak ingin Cakka membaca apapun pikirannya yang menurutnya mudah sekali terbaca oleh Cakka. Atau mungkin memang dirinya yang tidak bisa menutupi apa yang tidak seharusnya ditahui.

“Gue mengenal lo bukan beberapa menit yang lalu Ify. Bagi gue setebal apapun topeng lo yang lo yakini topeng terangkuh yang lo miliki. Bagi gue lo tetaplah seorang Ify yang dulu. Perasa yang rapuh juga wanita angkuh yang sangatlah lemah. Bahkan untuk berdiri dengan kakinya sendiri pun lo masih butuh pegangan. Iya kan?”

Ya. Ify membenarkannya. Apapun yang terucap dari Cakka bukanlah sebuah kalimat bermakna yang semata-mata hanya sebagai penghancur dirinya. Semua merupakan sebuah kebenaran yang sampai kapanpun tak akan pernah bisa ia tutupi setidaknya di depan Cakka.

Ify membiarkan setetes air mata jatuh dari kedua matanya. Ify membiarkan Cakka berjalan mendekatinya. Ify membiarkan saat Cakka menghapus air matanya dengan kedua jari pemuda itu dengan lembut. Namun ia tak membiarkan saat pemuda itu beranjak pergi darinya. Ify langsung menjatuhkan dirinya pada tubuh Cakka. Melingkarkan erat tangannya pada leher Cakka. Membiarkan tubuhnya hangat dalam pelukan dalam tubuh tegap sepupunya tersebut.

Cakka mengusap rambut Ify lembut. Beberapa kali mencium puncak kepala Ify. Berusaha menenangkan sepupunya yang mulai merontokkan sisi keangkuhan yang sebenarnya hanya berupa kepalsuan. Cakka melepas lingkaran tangan dari punggung Ify. Menjauhkan tubuh sepupunya darinya. Lalu dengan lembut mendekatkan kepala gadis itu kearahnya. Mencium dahi Ify lembut. Cakka melepaskan ciumannya. Menangkupkan kedua tangannya pada wajah cantik yang nyatanya semakin tirus di hadapannya.

“Fy dengerin gue. Gue gak pernah minta apapun sama lo. Tapi gue mau lo dengerin gue. Gue mau lo kembali seperti dulu. Menjadi Ify sepupu gue yang ceria, selalu menjadikan detiknya sebuah kebahagiaan. Ify yang tidak pernah membiarkan setetes air mata pun menghapus kebahagiaannya. Ify yang selalu menciptakan warna bukan hanya untuknya. Tapi untuk semua orang di dekatnya. Gue mau lo seperti itu Fy. Lo bisa?”

“Apa gue bisa. Sementara sekarang gue merasa untuk menjadi seorang Ify hanya dengan seperti ini. Terlalu banyak Kka hal-hal sulit yang bagi gue terlalu bodoh untuk di hadapi dengan tawa. Tapi gue gak suka air mata. Apa yang harus gue lakuin Kka. Apa mungkin gue harus kembali ke
 masa lalu. Mencoba memilih tidak pernah mengenal mereka. Ngomong ke gue apa yang bisa gue lakuin?”

Cakka mengangkat dagu Ify. Mengarahkan gadis itu untuk menatap matanya. Mengetahui keyakinan yang di cobanya sebagai penguat untuk Ify. Cakka mengusap rambut Ify. Membiarkan gadis di hadapannya merasakan ketenangan yang ia berikan.

“Lupakan apapun yang membuat lo lemah Fy. Gue tau lo bisa. Kalo lo ingin menjadi Ify yang saat ini jadilah Ify yang angkuh. Tidak membiarkan masa lalu menghancurkan kebahagiaannya. Jadilah Ify yang angkuh yang mau bertahan dengan caranya sendiri untuk kebahagiaannya. Lo mau lakuin itu?”

Ify menatap Cakka. Mencari kesungguhan yang pemuda itu ucapkan. Ify menghembuskan nafasnya. Lalu menghapus air matanya dan mengubah ekspresinya seangkuh mungkin. Menegakkan kepalanya. Melipat tangannya di dada dan memasang tatapan tajam. Tak lama senyumnya ia sunggingkan di depan Cakka.

“Gimana ekspresi gue tadi. Udah pas kan?”

Cakka menggeleng yang sontak membuat Ify langsung merubah ekspresinya. Ify menatap Cakka bingung yang membuat pemuda itu tertawa melihat ekspresi Ify yang baru kali ini ia lihat. Mungkin bukan. Ekspresi yang dulu jauh sebelum segalanya merubah gadis itu menjadi gadis bertopeng. Dan kini untuk pertama kalinya tawa tulus seorang kakak muncul dalam diri Cakka.

“Fy.. Ify kalo lo bukan sepupu gue aja udah gue pacarin lo”

“Kayak gue mau sama lo aja. Dihh. Oh ya Kka inget besok lo ke rumah sakit harus sama gue. Inget. Gue tidur dulu. Byee”

Cakka menyentuh pipinya yang tadi sempat di cium oleh Ify. Cakka menatap punggung Ify yang perlahan menghilang masuk ke kamarnya. Senyumnya kembali mengembang. Kali ini Cakka bersumpah ia akan terus menjaga Ify. Ify yang dulu telah kembali dan ia tidak akan membiarkan Ify kembali pergi.

***
Rio menatap Shilla. Meyakinkan apa yang baru saja ia dengar. Kalimat yang baru saja di dengarnya seakan menyentak keras dirinya. Rio bangkit dari duduknya membuat Shilla mendongak menatap bingung kearahnya.

“Gue gak akan lakuin itu”

“Kenapa? Lo gak mau hati lo sakit. Gue tau gimana perasaan kalian. Bukan hanya lo yang cinta sama Ify. Ify juga cinta sama lo tapi apa dengan cara ini kalian bisa baik-baik saja. Kak gue tau mungkin sekarang gue egois. Tapi sekali ini aja kak lo biarkan gue ketemu Ify. Bahkan saat dia bawa lo kembali gue belum mengucapkan terima kasih”

Rio memejamkan matanya saat melihat dengusan Shilla juga saat gadis itu memalingkan pandangannya. Mungkin bisa saja ia melakukannya. Tapi ia tidaklah bodoh. Bisa saja gadis itu langsung melarikan diri saat melihat dirinya. Dan Rio tidak akan sanggup lagi melihat gadis itu menjauh darinya secara jelas. Karena ia tahu hatinya akan semakin berkedut nyeri jika itu terjadi.

“Lupakan Shill. Lupakan Ify. Dia gak lagi butuh kita”

Shilla bangkit dari duduknya. Menghadap langsung Rio dan menatap kakaknya dengan tatapan memohon. Shilla meraih tangan Rio. Mencium tangan itu dengan segala kerendahannya memohon pada kakaknya.

“Ify itu sahabat gue kak. Gue berjuang sama dia dulu bareng-bareng hanya untuk menggapai cita-cita kita sebagai dokter. Hanya Ify yang benar-benar percaya sama gue setelah lo kak. Bagi gue Ify melebihi apapun dari segalanya. bahkan gue gak bisa benci sama dia setelah dia pergi ninggalin gue. Karena gue yakin dia akan kembali dengan memberikan sesuatu yang melebihi apa yang gue inginkan. Termasuk lo”

Shilla menghapus air yang mulai jatuh menetes dari kedua matanya. Shilla mendongakkan kepalanya. Mencoba menghalau air mata yang mulai ingin menyusul membasahi wajahnya.

“Banyak hal yang ingin gue ucapin sama dia. Rasa sakit yang sudah Ify berikan untuk gue gak sebanding dengan pengorbanan yang dia berikan. Karena dia gue bisa menjadi dokter. Karena dia gue jadi mulai percaya dengan apa yang ingin gue capai bahkan saat mama sendiri pun merendahkan apa yang gue inginkan”

Shilla menghentikan ucapannya. Lagi ia menghapus air yang membasahi kedua pipinya. Shilla menghembuskan nafasnya. Mencoba menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.

“Satu lagi yang membuat gue ingin mengucapkan ribuan terima kasih yang gue sendiri pun tahu itu tidak akan pernah sebanding dengan apa yang dia lakukan untuk hidup gue bahkan untuk hidup lo sendiri. Gue yakin jantung yang berdetak dalam tubuh lo itu karena Ify kan kak. Dia yang membuat jantung itu tetap berdetak sementara apa yang bisa gue lakuin. Gue hanya seorang adik yang hanya mempunyai angan besar untuk menciptakan kehidupan untuk kakaknya sendiri, namun justru angan itu juga yang membuat gue hampir kehilangan lo. Gue mohon sekali lagi kak. Gue..”

Rio langsung menarik Shilla ke pelukannya. Menyembunyikan wajah penuh kesakitan yang di perlihatkan adiknya yang justru semakin membuat hatinya menganga. Rio membiarkan kedua matanya meneteskan air di kedua pipinya. Ia biarkan isakan yang selama ini coba ia pendam pecah seiring tangisan yang sama dengan Shilla.

Yang Rio tahu ia pun juga menginginkan gadis itu kembali padanya. Yang Rio tahu dirinya juga menginginkan gadis itu tetap berada pada jangkauan matanya. Setidaknya ia masih sanggup melihat segalanya yang ada pada gadis itu. Namun yang terjadi justru gadis itu menghilang. Bahkan tanpa isyarat apapun seketika gadis yang bernama Ify itu benar-benar pergi darinya.

“Kak kenapa lo gak ngomong. Lo mengabaikan omongan gue dari tadi hah?”

“Gue gak tau harus apa. Gue takut Shill Ify lari lagi waktu dia lihat gue. Yang gue tau dia memang sengaja pergi dari kita termasuk gue”

Shilla menghapus air matanya. Kemudian kembali ia menatap kakaknya. Shilla mendekatkan wajahnya pada telinga Rio. Dan mengucapkan sesuatu yang membuat seketika Rio membeku.

“Lo yang terlalu pengecut untuk mengakui perasaan lo. Lo aja bisa perjuangin gue. Kenapa Ify gak?”

Shilla memundurkan tubuhnya lalu berbalik dan meninggalkan Rio yang menatap sendu punggung Shilla yang memasuki villa tempat menginap mereka.

Rio menghadapkan tubuhnya lagi pada hamparan laut. Pemuda itu berjalan mendekati batuan curam yang di bawahnya terdapat laut yang sedang menghempaskan keras airnya memecah pada batuan karang. Rio menegakkan tubuhnya dan..

“Arghhhhhhh”

***
“Cha” Acha menghentikan langkahnya. Menegakkan tubuhnya dan menunggu orang yang memanggilnya itu berada di dekatnya. Senyum angkuh Acha mengembang saat seorang pemuda berkulit putih dan bermata sipit berdiri di hadapannya.

“Ada apa?” Pemuda itu menghela nafas kasar. Kepalanya menggeleng dengan tatapan tajam yang menurut Acha bukan sebuah siratan yang berarti apapun untuknya.

“Gue gak habis pikir sama isi di otak lo. Hati lo terbuat dari apa sih Cha bisa-bisanya lo berfikir untuk merebut Gabriel dari Shilla dan otomatis merusak hubungan gue sama Sivia. Lo tuh perempuan atau bukan sih. Punya hati gak lo”

“Hushhh, shut up. Lo repot-repot dateng ke apartemen gue cuma mau omongin hal itu aja. Gak penting banget sih lo. Dengerin gue ya Alvin sepupu gue tersayang. Gue bukannya ngerebut Gabriel tapi gue berjuang buat miliki orang yang gue cintai. Gue berjuang untuk kebahagiaan gue sendiri. Dan satu lagi urusan lo sama cewek lo itu bukan urusan gue”

Alvin mencekal tangan Acha yang langsung menghentikan langkah gadis itu. Alvin menarik kasar tangan sepupunya itu agar bisa berhadapan dengannya. Acha menatap sinis Alvin menunggu apa lagi yang akan pemuda itu sampaikan padanya.

“Gue gak tau apa yang di pikirkan oleh seorang pemilik aset terbesar dari Rumah Sakit Retama Hospital yang dimana seluruh dunia pun tahu itu adalah salah satu rumah sakit terbesar di Asia untuk menuruti kelicikan lo. Mereka semua gak pernah tahu ternyata Om Tama salah mendidik putri semata wayangnya yang merupakan calon pewaris seluruh aset Retama Hospital menjadi seorang gadis freak gak berhati kayak lo”

Tawa Acha seketika  menggelegar. Acha menatap Alvin. Gadis itu menyentuh dagu Alvin menundukkan wajah pemuda itu untuk menatap ke wajahnya yang hanya sedagu pemuda itu. Acha mendekatkan wajah cantiknya kearah Alvin. Senyum sinis langsung terukir di wajahnya.

“Peduli apa lo dengan siapa gue. Karena tanpa harta ini pun gue masih bisa mendapatkan kebahagiaan gue dengan cara gue sendiri. Karena lo perlu tahu, gue gak secupu lo Alvin Sindunata Artama”

Acha langsung menghempaskan wajah Alvin menjauh. Tatapannya masih menyirat tajam pada pemuda di hadapannya. Acha membalikkan tubuhnya. Namun baru dua langkah ia berjalan, gadis itu menghentikan langkahnya.

“Satu lagi. Kalo lo menyesal punya sepupu secerdik gue, gue pun lebih menyesal punya sepupu sepecundang lo” Acha kembali berjalan keluar dari apartemennya, sedangkan ditempat yang sama Alvin mematung menatap pintu apartemen Acha yang tertutup. Alvin mendudukkan dirinya pada sofa marun milik Acha. Menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya. Alvin menggosok wajahnya frustasi.

“Apa lagi yang bisa gue lakuin Vi. Gue gak mau kehilangan lo. Kita belum berjuang bahkan memulai pun kita belum melakukannya”

***
“Kak, ehmm sekali lagi gue tanya nih sama lo. Memang lo yakin bener-bener mau nikah sama si cacing gila itu. Jujur loh kak walaupun gue bilang sama lo gue akan belajar nerima dia, tapi tetep gue gak bisa bohong. Gue tuh maunya yang jadi kakak ipar gue itu Shi.. ehm maksudnya siapapun terserah lo yang penting jangan si cacing-cacing itu”

Sivia menghembuskan nafasnya. Dalam hati ia bersyukur dapat mengontrol ucapannya agar nama itu tidak keluar dari bibirnya. Ia mendengus menatap Gabriel yang masih saja menggubris dirinya.

“Namanya Acha Via. Sembarangan lo asal ngubah nama dia. Tau kakek di gantung lo”

Gabriel mendongak membenarkan kemejanya. Menatap pantulan dirinya dalam cermin. Ia mengakui bahwa dirinya memanglah tampan. Walaupun tidak kekar ataupun berotot, namun wajahnya pun tak dapat di ragukan.

Sivia bergidik melihat senyum Gabriel dari cermin. Gadis itu seketika mendengus melihat ekspresi Gabriel yang jujur ia pun seperti tak lagi mengenal sosok kakaknya tersebut.

“Kak nanti istirahat makan siang kita keluar yuk. Kita udah jarang keluar bareng. Boleh ya”

Gabriel membalikkan badannya. Berjalan mendekati Sivia yang menatapnya di atas kasurnya.  Senyum Gabriel mengembang membuat mata Sivia seketika berbinar. Senyum Sivia semakin mengembang melihat anggukan di kepala Gabriel. Seketika gadis itu melompat ke tubuh Gabriel dan memeluk tubuh pemuda itu.

Gabriel langsung terduduk di kasurnya akibat terjangan dari adiknya yang secara tiba-tiba membuatnya belum bersiap menerima terjangan dari tubuh yang lumayan berisi tersebut.

“Heh sadar diri lo. Badan gendut aja seenaknya peluk-peluk orang. Gue ketiban badan lo mampus kali gue. Dasar” Sivia mengusap kepalanya yang baru saja di pukul oleh Gabriel. Gadis itu mendengus dan membalas pukulan kepalanya dengan cubitannya di pinggang Gabriel

“Lo aja yang kerempeng. Buruan kak kita berangkat sekarang. Ntar mampus gue kalo telat. Hari ini ada ujian”

Gabriel bangkit. Mengikuti langkah adiknya itu dengan senyum di wajahnya. Mungkin kini gadis yang akan benar-benar di cintainya hanya mamanya dan adiknya tersebut. Sementara sang gadis masa lalu yang dulu pernah membuatnya membagi hatinya akan coba ia redam dan akan ia coba gantikan dengan nama gadis lain yang akan menjadi kehidupannya kelak.

***
Ify mematut dirinya di cermin. Senyumnya mengembang menatap bayangan dirinya yang berbalut blouse fuschia yang di masukkan di dalam skirt ketat berwarna hitam berbatas lututnya. Mata Ify beralih pada lemarinya yang terdapat jas berwarna putih yang di gantungkannya pada pintu lemarinya tersebut. Kini senyum Ify semakin mengembang. Tatapannya pun yang selama ini memperlihatkan keangkuhannya berubah menjadi berbinar.

“Senyum-senyum mulu lo. Kapan berangkatnya. Ayo buruan. Jangan di liatin mulu tuh jas. Cepetan di bawa”

Ify mengedarkan tatapannya. Menatap seorang pemuda dengan kemeja polos berwarna abu-abu berdiri di dekat pintu. Ify memutar matanya sejenak. Akhirnya ia mengangguk dan berjalan menuju lemarinya mengambil jas yang menggantung di lemari jati tersebut. Memakainya di hadapan Cakka membuat pemuda itu tak dapat menahan senyumnya untuk menghiasi wajah tampannya.

“Lo selalu cantik kok Fy. Kalo gak cantik mana mungkin Rio sampek gak jatuh cinta sama lo” Mata Ify sontak melebar mendengar sebuah nama yang baru di sebut oleh sepupunya tersebut.

“Cakkaaaa” Tawa Cakka sontak menggelegar mendengar rajukan dari gadis di hadapannya. Cakka berjalan mendekati Ify yang masih merajuk di tempatnya. Pemuda itu mengulurkan tangannya menyentuh kepala Ify. Mengusap rambut sepupunya tersebut. Pemuda itu lalu mendekap bahu ify dan menggiring mengikutinya menuju mobil.

”Udah jangan ngambek yang ada pasien lo pada kabur dokter Ify Alyssa” Ify mendengus dan menyempatkan mencubit pinggang Cakka membuat pemuda itu kembali tertawa.

“Kka” Panggil Ify sebelum keduanya memasuki mobil Cakka. Cakka pun menghenikan tangannya yang akan membuka pintu menunggu Ify melanjutkan bicaranya.

“Sorry ya dulu gue gak pernah bersikap respect sama lo. Dan thanks lo mau bantu gue untuk move. Gue harusnya bersyukur punya sepupu tengil macem lo. Dulu malah gue ketusin”

“Nyesel kan lo. Akhirnya. Ya udah buruan masuk. Hari ini gue ada jadwal operasi. Buruan”

Ify mendengus. Menatap tajam Cakka yang sudah masuk di mobilnya. “Baru di baikin balik dah sengaknya. Aishh Om Fadly ngasih apaan sih sama Tante Aretha sampek punya anak kayak Cakka. Ckckck”

Tinn tinnn

Ify terlonjak. Menatap Cakka yang menyembulkan kepalanya dari jendela kemudinya. “Ngapain bengong lagi sih. Buruan Fyyyy”

“Iya iya Kka. Gak sabaran banget sih” Gerutu Ify

***
Bersambung

2 komentar:

Play Of Destiny Part 14 (I Leave You)

Shilla menolehkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang terbuka. Seorang gadis berseragam hijau berdiri di sisi pintunya. Shilla men...